Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Tuhan

 

Mempercayai Tuhan berarti mempercayai bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang mustahil. Satu-satunya hal yang mustahil adalah kemustahilan itu sendiri.

“Adapun Abraham dan Sara sudah sangat tua, dan Sara sudah mati haid.” Redaksi ini lebih dari cukup untuk menjelaskan mengapa Sara tertawa. Keduanya berada pada posisi “Double Impossibility” Jadi memang sangat mustahil Abraham memiliki keturunan dari Sara. Redaksi tadi dijawab dengan redaksi lain dari salah seorang tamu Abraham dengan pertanyaan retorika, “Adakah sesuatu yang mustahil bagi TUHAN?” Kemustahilan bagi manusia berbanding terbalik dengan kuasa TUHAN semesta alam.

Sahabat Alkitab, jika kita sunguh-sungguh mau melihat kebelakang dan berpikir kembali tentang kehidupan kita di masa lalu maka yang kita dapati adalah kehidupan yang dipenuhi dengan kemustahilan-kemustahilan yang menjadi nyata. Setiap langkah yang kita ambil telah melewati beribu-ribu jalan kemustahilan yang berubah menjadi keniscayaan. Apakah itu karena kita yang melakukannya? Tidak! Bukan! Semua adalah karena Tuhan yang bekerja di dalamnya.

Selamat Pagi. Jangan menertawakan Tuhan, tetapi tertawakanlah kemustahilan itu.

Hi.C. Klinkert: Menjadi Penerjemah Alkitab Karena Istri

Hillebrandus Cornelius Klinkert, adalah pria kelahiran Amsterdam, Belanda tahun 1829. Sebelum menjadi seorang penerjemah Alkitab, Klinkert pernah bekerja sebagai tukang ukur tanah, karyawan pabrik, dan sebagai nahkoda kapal. Pada menjalankan kapalnya menyusur Sungai Rhein, Perancis, ia mengalami kecelakaan yang akhirnya membawanya kembali ke Belanda. Selama pemulihan,ia merasa terpanggil menjadi seorang utusan Injil, maka ia menerima pelatihan di Nederlandsche Zendeling Genootscaph (NZG) di Rotterdam, Belanda.

Setelah mengikuti pelatihan dan bekerja di NZG, baru pada tahun 1856 Klinkert ditugaskan ke Jawa sebagai seorang misionaris Gereja Mennonit Belanda.  Bersama Pdt. Pieter Jansz, seorang penerjemah Alkitab bahasa Jawa dari NZG, Klinkert ditugaskan di Jepara. Pertama-tama ia harus belajar bahasa selama dua tahun lamanya sebelum ia memulai proyek penerjemahan Alkitab.

Selama bertugas di Jepara, Klinkert berkenalan dengan gadis indo, yang kemudian diperistrinya. Istrinya tidak dapat berbicara bahasa Belanda, dan hanya dapat berbicara bahasa jawa dan bahasa Melayu. Hal itu mendorong Klinkert untuk semakin giat mempelajari bahasa Melayu. Ternyata istrinya mengalami kesulitan memahami terjemahan Alkitab Leijdecker yang menggunakan bahasa Melayu tinggi. Hal ini kemudian memotivasi Klinkert untuk menerjemahkan Alkitab.  Klinkert dan istrinya pindah ke Semarang untuk sementara. Di sanalah ia menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam dialek Melayu rendah, khususnya yang dipakai di Semarang. Bahasa yang mereka pakai ialah yang lazim di daerah Semarang pada masa itu. Tahun 1861 keempat Kitab Injil juga dicetak di Semarang. Kemudian tahun 1863 seluruh Kitab Perjanjian Baru dicetak.

Rupanya inilah salah satu terjemahan bahasa Melayu Rendah yang paling mengena di hati para pembaca–walaupun mula-mula dikerjakan karena agar sang istri bisa membaca, mengerti dan memahami Firman Tuhan. Terjemahan ini masih terus digunakan hingga pertengahan abad ke-20. Cetakan yang terakhir diterbitkan pada tahun 1949.[3FQ]

Johannes Emde: Penerjemah Firman Tuhan Pertama Dalam Bahasa Melayu Sehari

Ada banyak cara bagi Tuhan, untuk melibatkan kita dalam mewujudkan pekerjaanNya. Ia sering memakai cara-cara yang ajaib dan tak terduga sebelumnya. Seringkali cara Tuhan melampaui logika pikiran manusia. Bahkan tak jarang rencana Tuhan, bertolak belakang dengan rencana yang ditetapkan manusia. Orang-orang seperti Ruyl, Brouwerius dan Leijdecker adalah beberapa tokoh yang dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan penerjemahan Alkitab. Kalau menilik latar belakang ketiganya, tidak ada satupun yang memiliki keahlian di bidang penerjemahan dan biblika. Namun Tuhan memilih mereka untuk melakukan pekerjaan penerjemahan Alkitab di Indonesia.

Adalah Johannes Emde, pria kelahiran Schmillinghausen Jerman ini merupakan anak dari tukang gergaji kayu yang miskin di desanya. Emde bersama dengan enam belas saudaranya hidup dalam kondisi serba sulit dan pas-pasan. Meskipun miskin, ayahnya tidak pernah lupa mendidik mereka dengan ajaran firman Tuhan.

Untuk meringankan beban hidup keluarganya, Emde mencari pekerjaan, bahkan sampai merantau ke Belanda. Di sana ini melakukan pekerjaan secara serabutan asalkan dapat uang untuk makan. Suatu saat ia mendengar bahwa ada peluang untuk mendapatkan pekerjaan di Hindia Belanda (sekarang: Indonesia). Setelah mengumpulkan recehan demi recehan dan diterima bekerja sebagai kelasi kapal, akhirnya menjelang akhir 1802 Emde berlayar ke Batavia. Sesampainya di Batavia, Emde terkena wajib militer dan harus ikut berperang melawan bajak laut di perairan sekitar Banjarmasin. Setelah wajib militernya selesai, Emde kembali ke Jawa dan menetap di Surabaya. Di sana dia bekerja sebagai montir arloji dan menikahi seorang wanita pribumi.

Setelah hari-harinya disibukan dengan pekerjaan sebagai montir Arloji, di hari Minggunya Emde bertindak selaku pemimpin ibadah. Emde dan saudara-saudara seimannya mengajarkan Injil Markus bahasa Jawa terjemahan Bruckner kepada masyarakat di Surabaya. Di samping itu, Emde menghadapi kendala karena sebagian besar jemaatnya tidak paham dengan Alkitab bahasa Melayu yang diterjemahkan Leijdecker. Sedikit demi sedikit mereka menyadurnya kembali dalam kata-kata yang lebih mudah dipahami. Naskah revisi mereka lalu diteliti di Jakarta oleh Pdt.. D. Lenting, seorang pendeta Belanda, dan Walter Henry Medhurst, seorang utusan Injil Inggris.

Dari hasil usaha bersama itu lahir terjemahan Perjanjian Baru lengkap yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 1835. Inilah yang dianggap Perjanjian Baru yang pertama-tama dicetak dalam bahasa Melayu Rendah. Orang-orang Kristen di Surabaya itu bukan hanya menyiapkan terjemahan tersebut melainkan juga membiayainya. Walaupun ada banyak kekurangannya, namun Terjemahan Baru itu cukup laris buktinya pada tahun 1848 persediaannya sudah habis. Perkumpulan Surabaya itu juga menyediakan kitab Mazmur dengan cara yang agak sama seperti yang mereka pakai untuk kitab Perjanjian Baru

Johannes Emde memang bukanlah misionaris yang dikirimkan oleh sebuah lembaga misi. Ia adalah seorang awam yang keberangkatannya ke Jawa Timur tidak didorong oleh keinginan untuk menyebarkan Injil. Kedatangannya ke Hindia Belanda hanyalah untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Namun, bukan harta dunia yang berhasil didapat dan dikumpulkan, tetapi Tuhan telah memakai-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan di Jawa Timur. Di Jawa Timur  Emde ikut mempunyai andil atas berdirinya beberapa gereja, khususnya di Surabaya. Tak salah jika orang di Surabaya menjulukinya “Santo dari Surabaya”.  [3FQ]

Lakukan Segala Pekerjaan Dengan Sukacita

Dengan tidak berbantah dan bersungut-sungut maka apa yang kita kerjakan menjadi lebih ringan serta mendatangkan berkat bagi kita dan orang lain.
Bagaian ini memberi tahu kita tentang ketulusan, semangat dan sukacita Abraham menyambut tamunya. Alkitab menggambarkannya dengan, “Lekas-lekas…”, “Cepatlah…”, “lari…”, “sendiri melayani…” Tidak sedikit yang Abraham hidangkan untuk menjamu para tamunya mulai dari membuat roti bundar, memasak daging pilihan, menyediakan susu dan kepala susu. Bahkan ia sendirilah yang melayani mereka di bawah pohon itu. Abraham melakukan semuanya saat hari sedang panas terik. Abraham sebenarnya punya seribu satu alasan untuk tidak melakukan semuanya itu, atau pun jika ia melakukannya dengan terpaksa tidak mengapa, toh mereka yang datang juga akan segera pergi dan berlalu. Namun Abraham berbeda, dia mengambil pilihan yang “merugikan” ini .
Sahabat Alkitab, melakukan segala pekerjaan dengan bersukacita adalah sebuah pilihan. Sebuah pekerjaan mungkin sangat berat, keadaan mungkin juga tidak mendukung, hasilnya pun mungkin kecil, tetapi ketika kita memilih untuk melakukannya dengan tetap bersukacita maka semuanya akan menjadi sangat berbeda. Firman Tuhan dalam Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Selamat Pagi. Tuhan yang Mahamelihat kiranya memberkati kita yang selalu bekerja dengan sukacita.

Melchior Leijdecker: Penerjemah Alkitab Lengkap Dalam Bahasa Melayu

Seperti umumnya keluarga kelas menengah di Amsterdam, Mechior Leijdecker hidup dalam keluarga yang berada dan serba berkecukupan. Kesempatan ini memungkinkannya untuk mengenyam bangku pendidikan di Universitas ternama di Belanda. Jurusan yang diambilnya adalah pendidikan kedokteran dan pendidikan teologia. Karena kepandaiannya, Leijdecker  mampu menyelesaikan pendidikan keduanya secara cepat. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama dia sudah diangkat menjadi pendeta di Amsterdam.

Pekerjaannya sebagai pendeta jemaat di Amsterdam terpaksa dikorbankan karena dunia militer lebih kuat memanggilnya. Leijdecker mendaftarkan dirinya sebagai pendeta tentara. Oleh tentara Kerajaan Belanda, tahun 1675 Leijdecker ditugaskan ke Hindia Belanda, sebagai pendeta tentara di Jawa Timur. Setelah 3 tahun bertugas di Jawa Timur Leijdecker dipindahkan ke Batavia dan menjadi Pendeta Jemaat berbahasa Melayu di Kampung Tugu, sebuah wilayah di pinggiran Jakarta.

Kampung Tugu di mulai dari kaum ”Mardijkers” yang di bawa sebagai tawanan perang oleh Belanda atas kemenangan mereka dari Melaka dan India selatan yang masa itu di bawah pemerintahan Portugis. Belanda menerima kaum Portugis ini di Batavia dan melepaskan mereka dari perbudakan dengan persyaratan menganut agama Protestan, dan di kenal sebagai “Mardijikers” oleh Belanda. Belanda kemudian memberikan mereka lahan di mana kampung Tugu tumbuh dan dibangunkan sebuah gereja, sekarang kita mengenalnya sebagai Gereja Tugu.

Keberadaan kampung Tugu tidak dapat dipisahkan oleh peran Leijdecker, di tengah pekerjaan sebagai pendeta jemaat yang berbahasa Melayu mendorongnya untuk mendalami kosa kata Bahasa Melayu yang pada akhirnya mengantarnya untuk mendalami penerjemahan Alkitab. Leijdecker mulai menerjemahkan beberapa kitab dan hasilnya cukup baik. Pada tahun 1691, atas permintaan majelis gereja di Batavia dan disponsori oleh Kompeni (VOC), ia diminta untuk menerjemahkan Alkitab lengkap ke dalam bahasa Melayu tinggi, yaitu ragam bahasa yang lazim dipakai untuk menulis buku kesusastraan pada masa itu. Dan sejak tahun 1693, ia telah dibebaskan dari pekerjaannya sebagai pendeta supaya dapat mencurahkan seluruh waktunya untuk menerjemahkan Alkitab. Salah satu metode penerjemahan yang mulai diterapkan Leijdecker adalah meneliti naskah-naskah Alkitab dalam bahasa-bahasa aslinya, dan dengan tekun ia mencari kata dan istilah bahasa Melayu yang paling tepat untuk mengalihbahasakan naskah Alkitab.

Namun tahun 1701 sebelum seluruh terjemahan Alkitab selesai dikerjakan, Leijdecker meninggal dunia. Pekerjaan penerjemahan mulai dari Efesus 6: 6 sampai Kitab Wahyu dilanjutkan oleh Pendeta Peter van der Vorm. Setelah seluruh kitab selesai diterjemahkan, Peter van der Vorm dan anggotanya memeriksa ulang Alkitab terjemahan Leijdecker dalam Bahasa Melayu ini, sebelum diterbitkan di Belanda tahun 1733.[3FQ]

Daniel Brouwerius: Pembuka Tabir Gelap Di Nusantara

Brouwerius memang bukan Ruyl. Latar belakangnya sebagai teolog menghantarnya menjadi pendeta. Meskipun sempat menjadi pendeta jemaat di Belanda, Pdt. Daniel Brouwerius ternyata lebih memilih panggilan hatinya untuk melayani jemaat di Hindia Belanda, daerah yang sama sekali belum dikenalnya. Mulanya melayani jemaat di Batavia, lalu menjadi pendeta jemaat di Ambon, kemudian dipindahkan lagi ke Banda. Akhirnya Brouwerius ditarik kembali ke Ambon dan diminta untuk kembali melayani di Belanda. Setelah sepuluh tahun bertugas di Belanda, Brouwerius pindah ke Ternate hingga wafatnya  1673.

Pengalamannya menjadi pendeta jemaat yang kerap pindah ke berbagai tempat di Hindia Belanda mendorongnya untuk melakukan tugas penerjemahan Alkitab. Brouwerius melihat dan merasakan bahwa Hindia Belanda terlalu lama terbungkam, sehingga banyak orang di Hindia Belanda tidak mengenal Firman Tuhan. Untuk itu, Brouwerius terpanggil untuk melakukan tugas penerjemahannya. Kitab Kejadian adalah kitab yang pertama kali diterjemahkan oleh Brouwerius, dan diterbitkan tahun 1662.

Setelah menerjemahkan Kitab Kejadian, Brouwerius mengalihkan perhatian untuk mulai menerjemahan kitab-kitab Perjanjian Baru, khususnya kitab Injil. Dia ingin agar Kabar Keselamatan dari Tuhan Yesus harus segera disebarkan kepada para pribumi berbahasa Melayu. Brouwerius menerjemahkannya langsung dari kitab-kitab berbahasa Yunani, Latin dan Belanda. Akhirnya terjemahan seluruh Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu diselesaikannya dan dicetak di Amsterdam pada tahun 1668.

Sama seperti terjemahan Ruyl sebelumnya, terjemahan Brouwerius sulit dipahami dan dimengerti oleh penutur bahasa Melayu di Hindia Belanda. Brouwerius banyak menggunakan kata-kata dan istilah dari bahasa Portugis serta struktur bahasa yang tidak dikenal dalam percakapan sehari-hari. Hadirnya terjemahan Brouwerius adalah dimulainya babak baru proses revisi terhadap sebuah terjemahan Alkitab di Nusantara. Harapannya satu agar Firman Tuhan yang dibaca dan didengar benar-benar dimengerti dan dipahami oleh penuturnya. [3FQ]

Lihatlah, Semua Orang Itu Baik

Cover yang baik belum tentu isinya baik, bisa saja buruk atau mungkin bisa jauh lebih baik. Jangan mudah berprasangka apalagi hingga menghakimi, biarkan semua berjalan apa adanya. Hingga emas membuktikan dirinya sebagai emas bukan sampah.

Abraham membuktikan dirinya bahwa dia adalah seorang yang baik, rendah hati, penuh kasih, sabar, taat, karena itu dia dapat memandang orang lain pun demikian. Tanpa curiga ia menyambut tiga orang yang datang menghampirinya. Dengan berlari Abraham segera menjumpai ketiganya dan bersujud sebagai bentuk kesungguhan permohonan agar mereka mau mampir ke rumahnya. Bukan hanya sekedar untuk singgah tapi Abraham juga melayani mereka bak para raja. Tindakan Abraham ini dikemudian hari menjadi budaya dari bangsa Yahudi dalam memperlakukan orang asing yang datang ke rumah atau ke wilayah mereka.

Sahabat Alkitab, hari ini mudah sekali kita berprasangka buruk terhadap orang lain, apalagi jika orang itu tidak kita kenal atau berpenampilan kurang meyakinkan dalam pandangan kita. Ini terjadi karena memang dunia sedang mengajarkan kita demikian. Semuanya dimulai dari apa yang kita tonton, apa yang kita baca, apa yang kita dengar, dan juga apa yang kita alami sendiri. Namun sahabat, jika kita belajar dan berfokus pada firman Tuhan, maka yang kita dapati adalah Tuhan mengajar kita untuk mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri. Artinya, memperlakukan setiap orang yang kita jumpai dengan sebaik-baiknya, mulai dari pandangan kita tentang mereka sampai pada cara kita berbicara dan berperilaku dengan terhadap mereka. Sesunguhnya cara kita melihat orang lain adalah cerminan dari cara kita melihat diri sendiri.

Selamat Pagi. Lihatlah dan sambutlah semua orang dengan baik, Tuhan yang Mahamelihat dan Mahamengetahui akan menunjukkan kelak siapa mereka sebenarnya.

Albert Cornelisz Ruyl: Pelopor Penerjemahan Alkitab Di Indonesia

Kedatangan Belanda ke Nusantara (Hindia Belanda, sekarang: Indonesia) bukan semata terdorong pencarian rempah-rempah tapi juga kejayaan dan keinginan mewartakan Injil  – dikenal dengan gold, glory, gospel (3G). Untuk tujuan tersebut, Belanda mendirikan VOC – Vereenigde Oost-Indische Compagnie – dan memerintah Cornelis de Houtman untuk memimpin misi VOC ke Hindia Belanda agar hasil bumi dapat sepenuhnya dikelola.

Pada tahun 1600 Albert Cornelisz Ruyl adalah salah satu pegawai VOC yang ditugaskan ke Hindia Belanda. Semangat 3G juga telah tertanam dalam setiap pegawai VOC. Di sela-sela tugas dan pekerjaannya, Ruyl melihat peluang untuk melakukan pewartaan Injil masih terbuka lebar. Namun Firman Tuhan dalam Bahasa Melayu yang dijadikan media utama untuk menyampaikan Kabar Baik kepada penduduk pribumi belum tersedia. Untuk itu, hatinya tersentuh dan tergerak serta menyediakan waktunya untuk melakukan pekerjaan penerjemahan Alkitab. Kitab pertama yang diterjemahkannya adalah Injil Matius.

Tahun 1612, Ruyl sudah selesai mengalihbahasakan seluruh Kitab Injil Matius ke dalam Bahasa Melayu. Masih butuh waktu untuk mencetak dan menerbitkannya. Ruyl bahkan mendorong rekan-rekan sekerjanya untuk patungan membiayai semua ongkos penerbitannya. Baru pada tahun 1629, setelah tujuh belas tahun terbilah Injil Matius dalam Bahasa Melayu. Menurut catatan Lembaga Alkitab Inggris (BFBS- British Foreign Bible Society): “Injil Matius Ruyl adalah terbitan pertama kali dalam sejarah, bahwa kitab dalam Alkitab yang diterjemahkan dan dicetak dalam sebuah bahasa bukan bahasa Eropa, khusus sebagai sarana pewartaan Injil”. Kemudian Ruyl juga menerjemahkan Kitab Injil Markus, yang dicetak dan diterbitkan di Belanda pada tahun 1638.

Memang belum banyak yang tahu, Ruyl yang menjadi pelopor pekerjaan penerjemahan Alkitab di Indonesia. Dia bukanlah utusan zending. Dia bukanlah penginjil, apalagi pendeta. Dia hanyalah pedagang, yang sangat identik dengan tukang cari utung. Namun untuk pekerjaan ini, Tuhan bisa pakai siapa saja. Ruyl sudah dipakai sebagai alatNya untuk melakukan tugas pewartaan Kabar Baik. Anda pun bisa dipakai Tuhan sebagai alatNya. Tapi apakah kita mau menyambut uluran tanganNya? [3FQ]

Penerjemahan Alkitab Di Nusantara: Dari Ruyl Sampai Terjemahan Baru

Pekerjaan penerjemahan Alkitab di Indonesia sudah berlangsung sejak abad ke-17, ketika seorang pedagang bernama Albert Cornelisz Ruyl menerjemahkan Injil Matius ke dalam Bahasa Melayu yang terbit pada tahun 1629. Setelah selesai menerjemahkan Injil Matius, Ruyl menerjemahkan Injil Markus yang kemudian diterbitkan pada tahun 1638. Kedua Injil itu diterbitkan dengan menggunakan dwibahasa yaitu bahasa Belanda dan Melayu.

Rupanya bahasa yang dipakai oleh Ruyl dianggap sulit dimengerti oleh sebagian penutur bahasa Melayu. Karena itu seorang pendeta asal Belanda, Daniel Brouwerius, memandang perlu untuk melakukan penerjemahan seluruh kitab Perjanjian dalam bahasa Melayu “pasar”. Terjemahan Brouwerius diterbitkan pada tahun 1668. Sumber naskah yang ia pakai adalah kitab-kitab yang berasal dari bahasa Yunani, Latin dan Belanda.

Akhir abad ke-17 mulai terlihat dampak dari keberhasilan pekerjaan zending dan pertumbuhan umat kristiani di Nusantara. Agar iman mereka tetap terpelihara dan Kabar Baik harus terus tersebar, maka muncul keinginan dari gereja-gereja di Batavia untuk menyalin firman Allah ke dalam bahasa Melayu. Harapannya, isi terjemahan Alkitab di kemudian hari dapat menghilangkan teka-teki yang ada di dalamnya. Desakan penerjemahan yang di sponsori oleh VOC ini kemudian dibebankan kepada Dr. Melchior Leijdecker. Tahun 1691 pekerjaan penerjemahan mulai dikerjakan. Sayangnya pengerjaan ini terpaksa berhenti karena Leijdecker meninggal dunia tahun 1701. Penerjemahan kemudian dilanjutkan oleh Pdt. Peter van der Vorm hingga selesai.

Tahun 1727 seluruh hasil terjemahan Leijdekker sebelumnya diperiksa dan dikoreksi ulang oleh van der Vorm bersama anggota timnya, setelah VOC menolak hasil penerjemahan Pdt. Francois Valentine yang menerjemahkan Alkitab dalam Bahasa Melayu Ambon. Tahun 1733 Alkitab terjemahan Leijdecker Bahasa Melayu dengan huruf latin diterbitkan di Belanda. Kemudian tahun 1758, Alkitab tersebut diterbitkan juga di Batavia tetapi dengan menggunakan huruf Jawi (arab gundul).

Teks terjemahan Leijdekker telah menjadi terjemahan standar yang dipakai di Indonesia sampai tahun 1916. Proyek penerjemahan Leijdekker merupakan pekerjaan penerjemahan pertama yang dilakukan oleh sebuah tim, dengan tidak hanya memakai naskah Alkitab berbahasa Belanda tapi juga menggunakan bahasa-bahasa asli Alkitab dan bahasa-bahasa lainnya.

Sama seperti beberapa terjemahan Alkitab sebelumnya, terjemahan Leijdecker ini memiliki dua kekurangan. Pertama, terjemahan ini banyak meminjam kata dari bahasa Arab dan Persia yang masih asing bagi banyak orang Melayu saat itu, kecuali mereka yang memiliki pendidikan agama Islam. Kedua, terjemahannya masih menggunakan tata bahasa yang buruk dan tidak adanya idiom yang tepat.

Terjemahan Leijdecker ini dirasa tidak cukup baik, karena penggunaan bahasanya yang digunakan tampak sangat tidak alami, tidak wajar, dan sulit dimengerti. Sehingga banyak umat ingin menggantinya, mulai dari yang hanya merevisi sampai mereka yang ingin menggantinya dengan terjemahan yang baru. Tahun 1817 Perjanjian Baru terjemahan Leijdekker yang direvisi oleh Robert Hutchings telah dicetak di Serampore oleh Lembaga Alkitab Inggris “British Foreign Bible Society” (BFBS). Kemudian tahun 1821, terjemahan Alkitab Leijdecker lengkap yang sudah direvisi oleh BFBS dicetak, dan didistribusikan di Penang. Namun dalam terjemahan tersebut masih terdapat kata-kata, idiom dan ejaan Jawi yang tidak sesuai dengan bahasa Melayu. Tahun 1835 terbit Perjanjian Baru edisi bahasa Melayu rendah berdasarkan dialek Surabaya yang diterjemahkan oleh Johanes Emde.

Pada tahun 1863, Cornelius Klinkert ditugaskan oleh Lembaga Alkitab Belanda “XXX” untuk merevisi terjemahan Alkitab Leijdecker dan mempersiapkan terjemahan Alkitab yang baru dalam bahasa Melayu “tinggi”. Namun, ada keluhan dari para misionaris di Semenanjung Malaysia bahwa terjemahan Klinkert terlalu dipengaruhi oleh dialek Minahasa yang tidak biasa bagi para pembaca Melayu di Melaka dan Singapura.

Tahun 1890 sebuah komite dibentuk untuk merevisi Alkitab dalam bahasa Melayu, yang terdiri dari Uskup Hose, W.H. Gomes dan W. G. Shellabear, seorang tentara yang menjadi misionaris.  Tahun 1900, W. G. Shellabear dipekerjakan oleh Lembaga Alkitab Belanda dan mulai menerjemahkan Alkitab. Bagi Shellabear, hasil penerjemahannya  dengan memakai huruf Jawi adalah sesuatu yang baru terutama untuk orang Melayu. Tahun 1912 Alkitab terjemahan Shellabear dalam naskah Jawi itu diterbitkan. Terjemahan Ini pada dasarnya merupakan revisi terjemahan Klinkert dalam bahasa Melayu “tinggi”.

Tahun 1924, W.G. Shellabear memprakarsai pertemuan antara Lembaga Alkitab Inggris dan Lembaga Alkitab Belanda yang menghasilkan sebuah keputusan bahwa umat kristiani di Semenanjung Malaya dan orang Melayu di Hindia Belanda harus mempunyai Alkitab yang sama.

Kemudian tahun 1929, Lembaga Alkitab Inggris, Lembaga Alkitab Scotlandia, dan Lembaga Alkitab Belanda membentuk tim penerjemahan Alkitab di bawah pimpinan Pdt. Werner Bode untuk mempersiapkan edisi baru Alkitab Melayu, berdasarkan tiga versi yaitu Shellabear, Klinkert, dan Leijdekker. Salah satu anggota tim ini adalah seorang Melayu Perak bernama Mashohor bin Kulop Endut, yang telah membantu Shellabear menyelesaikan terjemahan Alkitabnya. Tim Bode ini bertugas menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu persatuan, dan berhasil menerjemahkan Perjanjian Baru serta menyediakan konsep terjemahan sejumlah kitab Perjanjian Lama.

Tahun 1954 Lembaga Alkitab Indonesia berdiri. Sambil menantikan selesainya terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia, maka pada tahun 1958 diterbitkan Alkitab Terjemahan Lama yang merupakan gabungan Perjanjian Lama Klinkert dan Perjanjian Baru Bode.

Setelah proses penerjemahan yang panjang, akhirnya tahun 1974 Lembaga Alkitab Indonesia berhasil menerbitkan Alkitab Terjemahan Baru, yakni Alkitab versi resmi dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh sekelompok ahli dari Belanda dan Indonesia. Versi inilah yang digunakan sampai sekarang. []

Mengapa Terjemahan Alkitab Perlu Direvisi?

Seringkali orang salah kaprah memahami perlunya revisi terhadap sebuah terjemahan Alkitab. Perlu ditegaskan bahwa terjemahan Alkitab perlu dilakukan revisi terus menerus, sehingga pesan Alkitab akan sampai kepada para penutur pada jamannya. Untuk menghindari salah pengertian, bahwa yang direvisi bukanlah salinan naskah-naskah bahasa asli Alkitab. Autograph  tidak pernah direvisi, yang direvisi hanyalah terjemahan Alkitabnya.

Setiap naskah terjemahan Alkitab, baik dalam bahasa Inggris maupun dalam bahasa lain-lain perlu dilakukan revisi-revisi. Demikian juga terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia yang naskahnya diterjemahkan dan diterbitkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Terjemahan Alkitab tersebut dikenal dengan Alkitab Terjemahan Baru yang terbit tahun 1974.

Mengapa Alkitab Terjemahan Baru perlu direvisi? Hal ini dikarenakan pada saat Alkitab ini diterjemahkan pada akhir tahun 1950-an ada beberapa kosakata yang masih asing dan sulit untuk diterjemahkan, sehingga sulit dipahami oleh penuturnya yang hidup pada dasawarsa setelah proses penerjemahan dilakukan. Kemajuan ilmu penerjemahan dan perkembangan studi biblika semakin menolong Tim Penerjemahan untuk menghasilkan naskah penerjemahan yang lebih akurat, sehingga akan membantu dalam memahami Alkitab seutuhnya. Alasan kedua adalah karena bahasa itu senantiasa berubah dan berkembang. Bahasa apapun itu terus berubah, mengalami perubahan dan perkembangan. Contohnya kata “gerombolan”. Kata “Gerombolan” jaman dulu tidak punya konotasi buruk. namun sekarang sering kali digunakan untuk menyebutkan suatu kelompok dalam konotasi yang jelek (untuk penjahat).

Untuk itu, versi-versi terjemahan Alkitab harus mengikuti kaidah dan kecocokan bahasa pada masanya. Karena perkembangan bahasa dan keterbatasan suatu bahasa, maka revisi terjemahan Alkitab harus terus dilakukan, sehingga terjemahan yang dihasilkan semakin akurat dengan arti yang sesungguhnya. Hal inilah yang menjadi tujuan dari diadakannya sebuah revisi terhadap terjemahan Alkitab.[]