Tindakan Baik Bisa Membuat Perbedaan

Satu kebaikan dapat membuat satu perubahan, seribu kebaikan dapat mengubahkan dunia.
Tindakan Lot menyambut orang asing yang datang ke wilayahnya mengingatkan pada tindakan sama yang dilakukan oleh Abraham. Apakah ini adalah budaya masyarakat Ur-Kasdim saat itu, ataukah karakter dan kebaikan hati Abraham dan Lot dalam memperlakukan orang asing. Tetapi apapun itu, kebaikan mereka akan diperhitungkan oleh TUHAN.
Sahabat Alkitab, ada satu bahasa iklan yang dulu mungkin kita sering dengar, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”. Kesan kebaikan yang telah diberikan oleh Lot ternyata menolong hidupnya dan keluarganya dikemudian hari. Allah menghendaki kita berbuat baik (dan benar) terhadap sesama kita manusia, bukan supaya, tetapi karena Tuhan telah terlebih dulu berbuat baik kepada kita. Kebaikan Tuhan inilah yang Ia ingin kita teruskan kepada orang-orang disekitar kita. Tanpa berharap imbalan atau balas jasa, tetapi mungkin saja tindakan baik kita yang dulu akan menjadi satu kebaikan bagi kita, bagi keluarga kita, bagi orang-orang yang kita sayangi, atau bagi keturunan kita dikemudian hari.
Selamat Pagi. Jangan menunda untuk melakukan kebaikan hari ini, karena Bapa di surga melihat penuh cinta kepada mereka yang senang berbuat baik.

Orang Baik Adalah Pelindung Bumi

Bisa saja, karena kebaikan hati satu orang, dan syafaat yang dinaikkannya “meluluhkan” amarah TUHAN sehingga Ia menunda atau bahkan mengurungkan rencana-Nya untuk menghukum.

Syafaat Abraham telah membuat TUHAN mengurungkan rencana-Nya. Keberanian Abraham untuk berdiri di antara ALLAH dan manusia adalah satu tindakan keimaman dan karena sifat altruistis yang dimilikinya, walaupun mungkin bukan semua orang yang ingin ia selamatkan melainkan hanya Lot dan keluarganya. Apapun itu, kebaikan hati Abraham adalah yang dipandang oleh TUHAN.

Sahabat Alkitab, Allah begitu tertarik dengan orang-orang yang baik, yang melakukan kebaikan kepada orang-orang lainnya, apalagi jika dilakukan dengan tulus hati dan tanpa memandang SARA, juga jika itu dilakukan terhadap orang-orang yang kecil dan hina. Allah menjadikannya sahabat. Abraham adalah sahabat Allah oleh karena itu Allah mengindahkannya. Bukan tidak mungkin, Allah juga akan mengindahkan doa-doa kita jika itu tertuju untuk kebaikan orang lain.

Selamat beraktifitas. Jadilah orang baik (dan benar)! Allah berkenan akan Anda.

Terjemahan Baru: Alkitab Baru Karya Anak Bangsa

 

Setelah melalui proses penerjemahan yang panjang, akhirnya tahun 1974 Lembaga Alkitab Indonesia berhasil menerbitkan Alkitab Terjemahan Baru, yakni Alkitab versi resmi dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh sekelompok ahli dari Belanda dan Indonesia. Versi inilah yang digunakan sampai sekarang.

Proyek penerjemahan Terjemahan Baru bahasa Indonesia ini dimulai oleh Lembaga Alkitab Belanda pada tahun 1952, karena sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia kegiatan-kegiatan penerjemahan dan penyebaran Alkitab di Indonesia ditangani oleh Lembaga Alkitab Belanda dan Lembaga Alkitab Inggris. Dengan berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia yang mandiri pada tanggal 9 Februari 1954, maka tanggung jawab proyek ini diserahkan kepada LAI.

Panitia penerjemahannya terdiri dari tenaga-tenaga ahli berasal dari Belanda, Swiss dan Indonesia. Mereka adalah Dr. J.L. Swellengrebel, Dr. C.D. Grijns, P.S. Naipospos, Prof. Dr. J.L. Ch. Abineno, J.P. Siboroetorop, Pdt. Prof. Dr. R. Soedarmo, Dr. Arie de Kuiper, Ds. M.H. Simanungkalit, dan Pdt. O.E. Ch. Wuwungan. Penerjemahan TB dilakukan langsung dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani versi Biblia Hebraica Kittel (Perjanjian Lama) dan bahasa Yunani versi Nestle Aland (Perjanjian Baru).

Edisi percobaan karya panitia ini diterbitkan secara bertahan mulai tahun 1959, berbentuk beberapa kitab dalam ukuran saku. Akhirnya setelah dua kali tertunda, proyek penerjemahan ini diselesaikan pada tahun 1970 dan Perjanjian Barunya diterbitkan pada tahun 1971, Perjanjian Lamanya pada tahun 1974.

Karena memang baru, maka terbitan Alkitab itu dinamakan Alkitab Terjemahan Baru, atau disingkat TB, sedangkan terjemahan Alkitab versi Bode-Klinkert yang lebih lama tadi dengan sendirinya disebut sebagai Terjemahan Lama. Jadi, singkatan TB mengacu kepada terjemahan Alkitab yang dibuat oleh Lembaga Alkitab Indonesia dan yang beredar sejak tahun 1975 sampai sekarang. Terjemahan bernama TB itu “formal”, bahkan boleh disebut “harfiah”, sebab bertujuan mempertahankan sejauh mungkin bentuk asli teks Kitab Suci. []

Manusia Hanya Bisa Melihat Tindakan Tapi Hati Tidak

TUHAN tidak pernah salah menjatuhkan hukuman, Ia akan menghukum orang yang bersalah dan membebaskan orang yang benar. TUHAN itu adil, sebab ia mengetahui jalan setiap orang sampai pada apa yang tidak terlihat oleh mata manusia, sebab Dia melihat sampai ke dalam hati.

Abraham melakukan tawar-menawar dengan TUHAN perihal Sodom dan Gomora. Dalam pandangannya tidak mungkin seluruh orang di sana jahat, pasti masih ada yang baik. TUHAN mungkin telah salah mengambil keputusan untuk memusnahkan kedua kota itu. Abraham merasa dialah yang paling tahu tentang orang-orang di Sodom dan Gomora, itulah sebabnya dia berkata, ” Janganlah orang-orang yang tidak bersalah itu dibunuh bersama-sama dengan yang bersalah. Jangan TUHAN! Sebab jika TUHAN melakukannya, orang yang tidak bersalah pasti akan dihukum bersama-sama dengan yang bersalah. Mana mungkin hakim semesta alam semesta bertindak tidak adil!” Abraham mungkin mengingat tindakan baik raja Sodom yang pernah ingin memberinya seluruh harta rampasan perang (Kej. 14:21). Ia lupa bahwa ia sedang berhadapan dengan ALLAH yang tahu dan melihat semuanya.

Sahabat Alkitab, Abraham mewakili sifat manusia pada umumnya. Kita manusia memang hanya dapat melihat orang dari apa yang diperbuatnya, apa yang dikatakannya. Kita tidak dapat melihat apa yang ada dalam pikiran dan hati seseorang sampai semuanya berbuah pada tindakan nyata. Karena itu kitalah yang membutuhkan Tuhan sebagai penasehat kita dan bukan sebaliknya.

Selamat Beribadah, marilah kita datang dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan, Penasehat ajaib kita. Ia yang melihat jauh ke dalam lubuk hati manusia akan memberkati mereka yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya.

Terjemahan Lama: Alkitab Darurat Untuk Indonesia Baru

 

Sebagai negara merdeka dan mengklaim bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, maka  mulai dari para Pemimpin Bangsa sampai seluruh rakyat terus mengkampanyekan Bahasa persatuan ini kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat ini juga bergelora di kalangan tokoh Gereja pada waktu itu, termasuk mereka yang sedang menyiapkan lahirnya Lembaga Alkitab nasional yang mandiri.

Pada tahun 1952 dengan dibantu Lembaga Alkitab Belanda memulai proyek penerjemahan baru untuk Alkitab ke dalam bahasa Indonesia. Persiapan-persiapan untuk membentuk Tim Penerjemahan Alkitab Bahasa Indonesia terus dipersiapkan. Sampai berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia tanggal 9 Februari 1954 Tim Penerjemahan Alkitab Bahasa Indonesia belum terbentuk. Agar pelayanan Gereja dan kehidupan umat kristiani di Indonesia terpelihara, LAI memutuskan untuk menerbitkan terbitan darurat pada tahun 1958, yaitu gabungan Perjanjian Lama Klinkert (1879) dan Perjanjian Baru Bode (1938), atau dikenal kemudian dengan nama Alkitab Terjemahan Lama.

Walaupun Alkitab ini sekarang dikenal sebagai “Terjemahan Lama”, namun nama itu belum digunakan sebelum Terjemahan Baru muncul pada tahun 1974. Istilah “Terjemahan Lama” barulah digunakan mulai tahun 1974 untuk membedakannya dengan Terjemahan Baru. Terjemahan Lama ini bukanlah terjemahan yang paling lama, paling tua atau paling asli dalam bahasa Indonesia, sebab sebelumnya sudah ada belasan terjemahan lainnya dalam bahasa Melayu/Indonesia.[3FQ]

Werner A. Bode: Penerjemah Alkitab Yang Mempersatukan Dua Bangsa

Hampir dua dasawarsa Alkitab terjemahan Klinkert dan Shellabear digunakan oleh Gereja dan umat kristiani di Hindia Belanda, baru pada tahun 1929, Lembaga Alkitab Belanda (NBG), Lembaga Alkitab Inggris (BFBS), dan Lembaga Alkitab Skotlandia (National Bible Society of Scotland) mencapai kata sepakat untuk mengusahakan satu terjemahan baru untuk menggantikan Alkitab terjemahan Leidjecker (1733), Klinkert (1879) dan Shellabear (1912). Ketiga Alkitab tersebut  dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi geopolitik, yang menginginkan satu Alkitab yang dapat dimengerti di Kepulauan Indonesia dan di Semenanjung Malaka.

Yang mendapat tugas sebagai penerjemah utama adalah Pdt. Werner August Bode, pengajar Teologia pada Sekolah Guru (Normaalschool) di Tomohon, Minahasa. Setelah mendapat tugas menerjemahkan Alkitab, Bode pindah ke Sukabumi, Jawa Barat. Dalam tugas penerjemahannya Bode dibantu oleh A.W. Keiluhu dari Ambon dan Mashohor dari Perak. Mashohor kemudian diganti oleh Abdul Gani. Anggota panitia yang lain adalah William G. Shellabear dan Dr. Hendrik Kraemer. Tugas pertama Tim Penerjemah ini adalah memeriksa terjemahan Alkitab terdahulu, yaitu terjemahan Leijdecker, Klinkert dan Shellabear.

Setelah memeriksa terjemahan Alkitab Leijdecker, Klinkert, dan Shellabear.Tim Bode ini bertugas menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu persatuan. Tim Bode berhasil menerjemahkan Perjanjian Baru. Ternyata usaha menerjemahkan Alkitab dalam bahasa yang dapat dipahami dan diterima di Indonesia dan Semenanjung Malaka itu tidaklah mudah. Daerah Maluku dan Minahasa merasa dialek mereka kurang dipakai dalam terjemahan Bode. Sebaliknya Shellabear merasa bahwa bahasa Bode terlalu Indonesia, tidak seperti bahasa Melayu yang dipakai di Malaka dan Johor. Shellabear juga ingin mempertahankan pemakaian kata Isa Almasih. Walaupun menghadapi banyak tantangan, akhirnya selesailah juga terjemahan Perjanjian Baru pada tahun 1935 dan setelah penelitian dan penyuntingan, Perjanjian Baru ini diterbitkan pada tahun 1938, yaitu 10 tahun setelah Sumpah Pemuda diikrarkan di Jakarta. Penerbitan ini dibiayai oleh Lembaga Alkitab Skotlandia (NBSS).

Sayang sekali pekerjaan seluruh kitab Perjanjian Lama tertunda, karena berkecamuk Perang Dunia II. Sebagai warganegara Jerman Bode ditawan oleh Belanda. Bode ditawan di Pulau Onroost, Kepulauan Seribu dan kemudian dipindahkan ke Aceh. Dalam tahanan Bode terus menerjemahkan bagian kitab Perjanjian Lama. Ketika tentara Dai Nippon menguasai Indonesia, seluruh tawanan Jerman akan diungsikan ke Inggris. Tapi naas saat berlayar diperairan Kepulauan Nias pesawat terbang Jepang menenggelamkan kapal tersebut, Bode hilang bersama karamnya kapal yang dia tumpangi dan naskah-naskah terjemahan yang dikerjakannya selama di tahanan. Untungnya istri Bode menyimpan salinan naskah kitab Kejadian,  Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut, dan Mazmur. Tahun 1948 oleh Lembaga Alkitab Belanda menerbitkan bagian akhir dari salinan kitab-kitab tersebut.[]

Tuhan Mendengar Keluh Kesah Manusia

Bahkan sebelum mulut mulai berkata-kata, Allah telah mengetahui keluh kesah yang dialami umat manusia, terutama mereka yang lemah dan tertindas. Allah pasti bertindak pada waktu-Nya.

Allah yang disembah oleh Abraham adalah Allah yang transenden sekaligus Allah yang imanen. Allah itu bertahta di tempat yang Mahatinggi dan disaat yang sama mata dan telinga-Nya selalu terarah kepada umat manusia. Ia melihat sampai ke dalam hati manusia dan mendengar jeritan yang tak tersampaikan. Karena itu Allah turun untuk melihat apakah benar keluh kesah orang-orang tentang Sodom dan Gomora. Sebuah bentuk bahasa antropomorfisme yang dipakai oleh penulis kitab Kejadian untuk menggambarkan betapa dekatnya Allah dengan umat-Nya dan betapa segala keputusan-Nya adalah benar.

Sahabat Alkitab, mungkin kita pernah berpikir mengapa Allah begitu lama menjawab pergumulan doa bahkan jerit tangis umat yang berseru kepada-Nya? Apakah Dia sungguh Allah yang mendengar dan peduli? firman Tuhan telah menjawabnya. Allah mendengar dan bertindak.

Selamat Pagi. Teruslah berdoa dan berharap kepada Allah, sebab Ia sedang menjawab doa kita.

Shellabear: Belajar Bahasa Untuk Menerjemahkan Alkitab Melayu

William Girdlestone Shellabear lahir dari keluarga bangsawan di Inggris. Sepertinya keluarga-keluarga bangsawan di Inggris, pendidikan militer adalah sebuah kewajiban yang harus diikuti, termasuk oleh Shellabear. Setelah lulus dari akedemi militer, tahun 1885 Shellabear ditempatkan menjadi perwira di Gosport, Portsmouth, Inggris. Shellabear juga diperbantukan menjadi salah satu pengajar di London Missionary Society (LMS). Kebenaran di Gosport berdiri LMS, sebuah tempat pelatihan dan pendidikan bagi persiapan menjadi calon penginjil yang akan dikirim ke wilayah-wilayah jajahan, termasuk Hindia Belanda. Di LMS inilah, Shellabear banyak berhubungan dengan calon-calon misionaris LMS, bahkan ia bertemu dengan calon istrinya.

Setelah setahun bertugas di Gosport, Shellabear kemudian ditugaskan ke Singapura sebagai komandan pasukan orang-orang Melayu untuk menjaga keamanan pelabuhan di Singapura. Hampir semua prajuritnya adalah orang Melayu, sehingga Shellabear memerlukan penerjemah. Tidak puas dengan dengan perantara penerjemah, Shellabear belajar Bahasa Melayu dengan seorang pribumi. Sekarang kemampuannya berbahasa Melayu semakin baik. Dengan dibantu beberapa anggota Gereja Methodis, Shellabear mulai menerjemahkan Sepuluh Perintah Allah, Khotbah Yesus Di Bukit, dan beberapa lagu dari Nyanyian Rohani ke dalam Bahasa Melayu.

Tekadnya ingin menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu sudah semakin kuat, dengan tekad bulat di tahun 1890 Shellabear berhenti dari dinas ketentaraannya dan bekerja sebagai seorang misionaris utusan Gereja Methodis dan merintis pendirian percetakan dan penerbitan Alkitab dan buku-buku rohani di Singapura. Percetakan dan telah tumbuh menjadi penerbit yang besar. Pada tahun 1891, percetakan milik Shellabear berhasil mencetak Injil Matius dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Latin. Percetakan tersebut juga mencetak Alkitab dalam pelbagai bahasa, termasuk bahasa Jawa, Bugis, Tionghoa, serta berbagai dialek Tionghoa dalam aksara Latin.

Dalam waktu yang bersamaan, Shellabear bersama Uskup Hose dari Gereja Anglikan dan W.H. Gomes dari The Society for Propagation of the Gospel  ditunjuk oleh Lembaga Alkitab Inggris untuk menjadi Tim Penerjemah Alkitab Bahasa Melayu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Injil Matius diselesaikan oleh Tim Penerjemah ini dan dicetak pada tahun 1897. Pada tahun 1899, penerbitan milik Shellabear ditugaskan kembali dari lembaga Alkitab untuk menjadi penerbitan utama Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu.

Untuk memperbaiki bahasa Melayunya, Shellabear pindah dari Singapura ke Malaka dan banyak bergaul dengan sastrawan dan budaya Melayu. Terjemahan Perjanjian Baru diselesaikannya pada tahun 1904 dan dicetak pada tahun 1910. Menanggapi permintaan Lembaga Alkitab untuk merevisi Perjanjian Lama terjemahan Klinkert, Shellabear membuat terjemahan baru yang diselesaikannya pada tahun 1909 dan diterbitkan dalam huruf Arab (Jawi) pada tahun 1912. Baru pada tahun 1927 – 1929, dicetaklah edisi huruf Latin, satu berdasarkan ejaan bahasa Inggris untuk disebarkan di Semenanjung Malaka, dan yang lain berdasarkan ejaan bahasa Belanda untuk disebarkan di Kepulauan Indonesia. Walau terjemahan Shellabear tidak banyak dipakai di Indonesia, terjemahan ini diterima baik dan merupakan terjemahan yang umum di Semenanjung Malaka dan Singapura.[]

Alkitab Lengkap Untuk Umat Tuhan Berbahasa Melayu

Setelah Klinkert berhasil menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu rendah. Niatnya mempelajari bahasa Melayu dan menjadi penerjemah Alkitab Bahasa Melayu semakin memenuhi hasratnya. Lembaga Alkitab Belanda melihat dan menilai terjemahan PB Bahasa Melayu yang diterjemahkan Klinkert dan tertarik untuk mempekerjakannya. Baru pada tahun 1863 Lembaga Alkitab Belanda menugaskan Klinkert untuk menerjemahkan Alkitab lengkap dalam Bahasa Melayu. Namun karena bahasa Melayunya dinilai masih terlalu rendah, dan terlalu banyak dipengaruhi oleh dialek Minahasa. Ia diberi kesempatan untuk tinggal di antara orang yang berbahasa Melayu tulen. Maka tahun 1864 berangkatlah Klinkert sekeluarga ke Tanjungpinang, Riau. Selama tinggal di Tanjung Pinang, Klinkert sekeluarga mengalami masa-masa yang sulit, bahkan sampai istrinya meninggal karena TBC. Namun dia diperkaya oleh khasanah budaya dan sastra Melayu. Ini menolongnya tugasnya sebagai penerjemah Alkitab bahasa Melayu.

Pertama-tama adalah kitab Injil Matius yang berselesai diterjemahkan Klinkert, yang kemudian diterbitkan pada tahun 1868. Lalu menyusul kemudian Perjanjian Baru berhasil diselesaikan dan diterbitkan pada tahun 1870. Semua penerjemahan tersebut dikerjakan Klinkert di Negeri Belanda. Setelah PB diterbitkan, kini dia mulai fokus untuk menerjemahkan kitab-kitab Perjanjian Lama. Untuk memperdalam dan menyegarkan bahasanya, Klinkert kembali ke Asia Tenggara dan tinggal di Malaka selama enam bulan. Dan pada tahun 1879, seluruh terjemahan Alkitab lengkap dalam Bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara latin berhasil diselesaikannya.

Setelah pekerjaan penerjemahannya selesai pada tahun 1878 di Belanda, Lembaga Alkitab Belanda mengangkatnya sebagai pengajar di Municipal Institute for Education of Civil Servants for the East Indies di Leiden. Pekerjaannya adalah sebagai dosen di Institut tersebut, yang bergabung dengan Universitas Leiden pada tahun 1890, hingga tahun 1904. Ia mengajar bahasa dan literatur Melayu untuk mahasiswa tahun pertama dan kedua. Ia terus mengumpulkan data dan mempublikasikan karya-karya yang berhubungan dengan linguistik.

Di masa tuanya, Klinkert masih meneliti tiap peredaksian terjemahan Alkitabnya, walaupun ia tidak lagi bekerja sepenuh waktu di bidang terjemahan. Bahkan ketika timbul gagasan untuk mencetak Alkitab Klinkert dalam huruf Arab, ia menulis tiap ayat dengan tangannya sendiri, serta menghiasi naskahnya dengan gaya yang khas untuk kitab-kitab suci yang berhuruf Arab. Ia meninggal pada tahun 1913. Terjemahan Klinkert mulai popular digunakan sejak awal abad ke-20 dan dicetak sampai 5.000 eksemplar. Versi Perjanjian Lamanya masih digunakan dalam Alkitab Terjemahan Lama hingga tahun 1974 ketika Lembaga Alkitab Indonesia menerbitkan Alkitab Terjemahan Baru.[3FQ]