Terjemahan Lama: Alkitab Darurat Untuk Indonesia Baru

 

Sebagai negara merdeka dan mengklaim bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, maka  mulai dari para Pemimpin Bangsa sampai seluruh rakyat terus mengkampanyekan Bahasa persatuan ini kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat ini juga bergelora di kalangan tokoh Gereja pada waktu itu, termasuk mereka yang sedang menyiapkan lahirnya Lembaga Alkitab nasional yang mandiri.

Pada tahun 1952 dengan dibantu Lembaga Alkitab Belanda memulai proyek penerjemahan baru untuk Alkitab ke dalam bahasa Indonesia. Persiapan-persiapan untuk membentuk Tim Penerjemahan Alkitab Bahasa Indonesia terus dipersiapkan. Sampai berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia tanggal 9 Februari 1954 Tim Penerjemahan Alkitab Bahasa Indonesia belum terbentuk. Agar pelayanan Gereja dan kehidupan umat kristiani di Indonesia terpelihara, LAI memutuskan untuk menerbitkan terbitan darurat pada tahun 1958, yaitu gabungan Perjanjian Lama Klinkert (1879) dan Perjanjian Baru Bode (1938), atau dikenal kemudian dengan nama Alkitab Terjemahan Lama.

Walaupun Alkitab ini sekarang dikenal sebagai “Terjemahan Lama”, namun nama itu belum digunakan sebelum Terjemahan Baru muncul pada tahun 1974. Istilah “Terjemahan Lama” barulah digunakan mulai tahun 1974 untuk membedakannya dengan Terjemahan Baru. Terjemahan Lama ini bukanlah terjemahan yang paling lama, paling tua atau paling asli dalam bahasa Indonesia, sebab sebelumnya sudah ada belasan terjemahan lainnya dalam bahasa Melayu/Indonesia.[3FQ]

Werner A. Bode: Penerjemah Alkitab Yang Mempersatukan Dua Bangsa

Hampir dua dasawarsa Alkitab terjemahan Klinkert dan Shellabear digunakan oleh Gereja dan umat kristiani di Hindia Belanda, baru pada tahun 1929, Lembaga Alkitab Belanda (NBG), Lembaga Alkitab Inggris (BFBS), dan Lembaga Alkitab Skotlandia (National Bible Society of Scotland) mencapai kata sepakat untuk mengusahakan satu terjemahan baru untuk menggantikan Alkitab terjemahan Leidjecker (1733), Klinkert (1879) dan Shellabear (1912). Ketiga Alkitab tersebut  dipandang sudah tidak sesuai dengan perkembangan situasi geopolitik, yang menginginkan satu Alkitab yang dapat dimengerti di Kepulauan Indonesia dan di Semenanjung Malaka.

Yang mendapat tugas sebagai penerjemah utama adalah Pdt. Werner August Bode, pengajar Teologia pada Sekolah Guru (Normaalschool) di Tomohon, Minahasa. Setelah mendapat tugas menerjemahkan Alkitab, Bode pindah ke Sukabumi, Jawa Barat. Dalam tugas penerjemahannya Bode dibantu oleh A.W. Keiluhu dari Ambon dan Mashohor dari Perak. Mashohor kemudian diganti oleh Abdul Gani. Anggota panitia yang lain adalah William G. Shellabear dan Dr. Hendrik Kraemer. Tugas pertama Tim Penerjemah ini adalah memeriksa terjemahan Alkitab terdahulu, yaitu terjemahan Leijdecker, Klinkert dan Shellabear.

Setelah memeriksa terjemahan Alkitab Leijdecker, Klinkert, dan Shellabear.Tim Bode ini bertugas menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu persatuan. Tim Bode berhasil menerjemahkan Perjanjian Baru. Ternyata usaha menerjemahkan Alkitab dalam bahasa yang dapat dipahami dan diterima di Indonesia dan Semenanjung Malaka itu tidaklah mudah. Daerah Maluku dan Minahasa merasa dialek mereka kurang dipakai dalam terjemahan Bode. Sebaliknya Shellabear merasa bahwa bahasa Bode terlalu Indonesia, tidak seperti bahasa Melayu yang dipakai di Malaka dan Johor. Shellabear juga ingin mempertahankan pemakaian kata Isa Almasih. Walaupun menghadapi banyak tantangan, akhirnya selesailah juga terjemahan Perjanjian Baru pada tahun 1935 dan setelah penelitian dan penyuntingan, Perjanjian Baru ini diterbitkan pada tahun 1938, yaitu 10 tahun setelah Sumpah Pemuda diikrarkan di Jakarta. Penerbitan ini dibiayai oleh Lembaga Alkitab Skotlandia (NBSS).

Sayang sekali pekerjaan seluruh kitab Perjanjian Lama tertunda, karena berkecamuk Perang Dunia II. Sebagai warganegara Jerman Bode ditawan oleh Belanda. Bode ditawan di Pulau Onroost, Kepulauan Seribu dan kemudian dipindahkan ke Aceh. Dalam tahanan Bode terus menerjemahkan bagian kitab Perjanjian Lama. Ketika tentara Dai Nippon menguasai Indonesia, seluruh tawanan Jerman akan diungsikan ke Inggris. Tapi naas saat berlayar diperairan Kepulauan Nias pesawat terbang Jepang menenggelamkan kapal tersebut, Bode hilang bersama karamnya kapal yang dia tumpangi dan naskah-naskah terjemahan yang dikerjakannya selama di tahanan. Untungnya istri Bode menyimpan salinan naskah kitab Kejadian,  Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan, Yosua, Hakim-hakim, Rut, dan Mazmur. Tahun 1948 oleh Lembaga Alkitab Belanda menerbitkan bagian akhir dari salinan kitab-kitab tersebut.[]

Shellabear: Belajar Bahasa Untuk Menerjemahkan Alkitab Melayu

William Girdlestone Shellabear lahir dari keluarga bangsawan di Inggris. Sepertinya keluarga-keluarga bangsawan di Inggris, pendidikan militer adalah sebuah kewajiban yang harus diikuti, termasuk oleh Shellabear. Setelah lulus dari akedemi militer, tahun 1885 Shellabear ditempatkan menjadi perwira di Gosport, Portsmouth, Inggris. Shellabear juga diperbantukan menjadi salah satu pengajar di London Missionary Society (LMS). Kebenaran di Gosport berdiri LMS, sebuah tempat pelatihan dan pendidikan bagi persiapan menjadi calon penginjil yang akan dikirim ke wilayah-wilayah jajahan, termasuk Hindia Belanda. Di LMS inilah, Shellabear banyak berhubungan dengan calon-calon misionaris LMS, bahkan ia bertemu dengan calon istrinya.

Setelah setahun bertugas di Gosport, Shellabear kemudian ditugaskan ke Singapura sebagai komandan pasukan orang-orang Melayu untuk menjaga keamanan pelabuhan di Singapura. Hampir semua prajuritnya adalah orang Melayu, sehingga Shellabear memerlukan penerjemah. Tidak puas dengan dengan perantara penerjemah, Shellabear belajar Bahasa Melayu dengan seorang pribumi. Sekarang kemampuannya berbahasa Melayu semakin baik. Dengan dibantu beberapa anggota Gereja Methodis, Shellabear mulai menerjemahkan Sepuluh Perintah Allah, Khotbah Yesus Di Bukit, dan beberapa lagu dari Nyanyian Rohani ke dalam Bahasa Melayu.

Tekadnya ingin menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Melayu sudah semakin kuat, dengan tekad bulat di tahun 1890 Shellabear berhenti dari dinas ketentaraannya dan bekerja sebagai seorang misionaris utusan Gereja Methodis dan merintis pendirian percetakan dan penerbitan Alkitab dan buku-buku rohani di Singapura. Percetakan dan telah tumbuh menjadi penerbit yang besar. Pada tahun 1891, percetakan milik Shellabear berhasil mencetak Injil Matius dalam bahasa Melayu dengan memakai aksara Latin. Percetakan tersebut juga mencetak Alkitab dalam pelbagai bahasa, termasuk bahasa Jawa, Bugis, Tionghoa, serta berbagai dialek Tionghoa dalam aksara Latin.

Dalam waktu yang bersamaan, Shellabear bersama Uskup Hose dari Gereja Anglikan dan W.H. Gomes dari The Society for Propagation of the Gospel  ditunjuk oleh Lembaga Alkitab Inggris untuk menjadi Tim Penerjemah Alkitab Bahasa Melayu. Dalam waktu yang tidak terlalu lama Injil Matius diselesaikan oleh Tim Penerjemah ini dan dicetak pada tahun 1897. Pada tahun 1899, penerbitan milik Shellabear ditugaskan kembali dari lembaga Alkitab untuk menjadi penerbitan utama Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu.

Untuk memperbaiki bahasa Melayunya, Shellabear pindah dari Singapura ke Malaka dan banyak bergaul dengan sastrawan dan budaya Melayu. Terjemahan Perjanjian Baru diselesaikannya pada tahun 1904 dan dicetak pada tahun 1910. Menanggapi permintaan Lembaga Alkitab untuk merevisi Perjanjian Lama terjemahan Klinkert, Shellabear membuat terjemahan baru yang diselesaikannya pada tahun 1909 dan diterbitkan dalam huruf Arab (Jawi) pada tahun 1912. Baru pada tahun 1927 – 1929, dicetaklah edisi huruf Latin, satu berdasarkan ejaan bahasa Inggris untuk disebarkan di Semenanjung Malaka, dan yang lain berdasarkan ejaan bahasa Belanda untuk disebarkan di Kepulauan Indonesia. Walau terjemahan Shellabear tidak banyak dipakai di Indonesia, terjemahan ini diterima baik dan merupakan terjemahan yang umum di Semenanjung Malaka dan Singapura.[]

Alkitab Lengkap Untuk Umat Tuhan Berbahasa Melayu

Setelah Klinkert berhasil menyelesaikan terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Melayu rendah. Niatnya mempelajari bahasa Melayu dan menjadi penerjemah Alkitab Bahasa Melayu semakin memenuhi hasratnya. Lembaga Alkitab Belanda melihat dan menilai terjemahan PB Bahasa Melayu yang diterjemahkan Klinkert dan tertarik untuk mempekerjakannya. Baru pada tahun 1863 Lembaga Alkitab Belanda menugaskan Klinkert untuk menerjemahkan Alkitab lengkap dalam Bahasa Melayu. Namun karena bahasa Melayunya dinilai masih terlalu rendah, dan terlalu banyak dipengaruhi oleh dialek Minahasa. Ia diberi kesempatan untuk tinggal di antara orang yang berbahasa Melayu tulen. Maka tahun 1864 berangkatlah Klinkert sekeluarga ke Tanjungpinang, Riau. Selama tinggal di Tanjung Pinang, Klinkert sekeluarga mengalami masa-masa yang sulit, bahkan sampai istrinya meninggal karena TBC. Namun dia diperkaya oleh khasanah budaya dan sastra Melayu. Ini menolongnya tugasnya sebagai penerjemah Alkitab bahasa Melayu.

Pertama-tama adalah kitab Injil Matius yang berselesai diterjemahkan Klinkert, yang kemudian diterbitkan pada tahun 1868. Lalu menyusul kemudian Perjanjian Baru berhasil diselesaikan dan diterbitkan pada tahun 1870. Semua penerjemahan tersebut dikerjakan Klinkert di Negeri Belanda. Setelah PB diterbitkan, kini dia mulai fokus untuk menerjemahkan kitab-kitab Perjanjian Lama. Untuk memperdalam dan menyegarkan bahasanya, Klinkert kembali ke Asia Tenggara dan tinggal di Malaka selama enam bulan. Dan pada tahun 1879, seluruh terjemahan Alkitab lengkap dalam Bahasa Melayu yang ditulis dalam aksara latin berhasil diselesaikannya.

Setelah pekerjaan penerjemahannya selesai pada tahun 1878 di Belanda, Lembaga Alkitab Belanda mengangkatnya sebagai pengajar di Municipal Institute for Education of Civil Servants for the East Indies di Leiden. Pekerjaannya adalah sebagai dosen di Institut tersebut, yang bergabung dengan Universitas Leiden pada tahun 1890, hingga tahun 1904. Ia mengajar bahasa dan literatur Melayu untuk mahasiswa tahun pertama dan kedua. Ia terus mengumpulkan data dan mempublikasikan karya-karya yang berhubungan dengan linguistik.

Di masa tuanya, Klinkert masih meneliti tiap peredaksian terjemahan Alkitabnya, walaupun ia tidak lagi bekerja sepenuh waktu di bidang terjemahan. Bahkan ketika timbul gagasan untuk mencetak Alkitab Klinkert dalam huruf Arab, ia menulis tiap ayat dengan tangannya sendiri, serta menghiasi naskahnya dengan gaya yang khas untuk kitab-kitab suci yang berhuruf Arab. Ia meninggal pada tahun 1913. Terjemahan Klinkert mulai popular digunakan sejak awal abad ke-20 dan dicetak sampai 5.000 eksemplar. Versi Perjanjian Lamanya masih digunakan dalam Alkitab Terjemahan Lama hingga tahun 1974 ketika Lembaga Alkitab Indonesia menerbitkan Alkitab Terjemahan Baru.[3FQ]

 

 

Tidak Ada Yang Mustahil Bagi Tuhan

 

Mempercayai Tuhan berarti mempercayai bahwa tidak ada satu hal pun di dunia ini yang mustahil. Satu-satunya hal yang mustahil adalah kemustahilan itu sendiri.

“Adapun Abraham dan Sara sudah sangat tua, dan Sara sudah mati haid.” Redaksi ini lebih dari cukup untuk menjelaskan mengapa Sara tertawa. Keduanya berada pada posisi “Double Impossibility” Jadi memang sangat mustahil Abraham memiliki keturunan dari Sara. Redaksi tadi dijawab dengan redaksi lain dari salah seorang tamu Abraham dengan pertanyaan retorika, “Adakah sesuatu yang mustahil bagi TUHAN?” Kemustahilan bagi manusia berbanding terbalik dengan kuasa TUHAN semesta alam.

Sahabat Alkitab, jika kita sunguh-sungguh mau melihat kebelakang dan berpikir kembali tentang kehidupan kita di masa lalu maka yang kita dapati adalah kehidupan yang dipenuhi dengan kemustahilan-kemustahilan yang menjadi nyata. Setiap langkah yang kita ambil telah melewati beribu-ribu jalan kemustahilan yang berubah menjadi keniscayaan. Apakah itu karena kita yang melakukannya? Tidak! Bukan! Semua adalah karena Tuhan yang bekerja di dalamnya.

Selamat Pagi. Jangan menertawakan Tuhan, tetapi tertawakanlah kemustahilan itu.

Hi.C. Klinkert: Menjadi Penerjemah Alkitab Karena Istri

Hillebrandus Cornelius Klinkert, adalah pria kelahiran Amsterdam, Belanda tahun 1829. Sebelum menjadi seorang penerjemah Alkitab, Klinkert pernah bekerja sebagai tukang ukur tanah, karyawan pabrik, dan sebagai nahkoda kapal. Pada menjalankan kapalnya menyusur Sungai Rhein, Perancis, ia mengalami kecelakaan yang akhirnya membawanya kembali ke Belanda. Selama pemulihan,ia merasa terpanggil menjadi seorang utusan Injil, maka ia menerima pelatihan di Nederlandsche Zendeling Genootscaph (NZG) di Rotterdam, Belanda.

Setelah mengikuti pelatihan dan bekerja di NZG, baru pada tahun 1856 Klinkert ditugaskan ke Jawa sebagai seorang misionaris Gereja Mennonit Belanda.  Bersama Pdt. Pieter Jansz, seorang penerjemah Alkitab bahasa Jawa dari NZG, Klinkert ditugaskan di Jepara. Pertama-tama ia harus belajar bahasa selama dua tahun lamanya sebelum ia memulai proyek penerjemahan Alkitab.

Selama bertugas di Jepara, Klinkert berkenalan dengan gadis indo, yang kemudian diperistrinya. Istrinya tidak dapat berbicara bahasa Belanda, dan hanya dapat berbicara bahasa jawa dan bahasa Melayu. Hal itu mendorong Klinkert untuk semakin giat mempelajari bahasa Melayu. Ternyata istrinya mengalami kesulitan memahami terjemahan Alkitab Leijdecker yang menggunakan bahasa Melayu tinggi. Hal ini kemudian memotivasi Klinkert untuk menerjemahkan Alkitab.  Klinkert dan istrinya pindah ke Semarang untuk sementara. Di sanalah ia menerjemahkan Perjanjian Baru ke dalam dialek Melayu rendah, khususnya yang dipakai di Semarang. Bahasa yang mereka pakai ialah yang lazim di daerah Semarang pada masa itu. Tahun 1861 keempat Kitab Injil juga dicetak di Semarang. Kemudian tahun 1863 seluruh Kitab Perjanjian Baru dicetak.

Rupanya inilah salah satu terjemahan bahasa Melayu Rendah yang paling mengena di hati para pembaca–walaupun mula-mula dikerjakan karena agar sang istri bisa membaca, mengerti dan memahami Firman Tuhan. Terjemahan ini masih terus digunakan hingga pertengahan abad ke-20. Cetakan yang terakhir diterbitkan pada tahun 1949.[3FQ]

Johannes Emde: Penerjemah Firman Tuhan Pertama Dalam Bahasa Melayu Sehari

Ada banyak cara bagi Tuhan, untuk melibatkan kita dalam mewujudkan pekerjaanNya. Ia sering memakai cara-cara yang ajaib dan tak terduga sebelumnya. Seringkali cara Tuhan melampaui logika pikiran manusia. Bahkan tak jarang rencana Tuhan, bertolak belakang dengan rencana yang ditetapkan manusia. Orang-orang seperti Ruyl, Brouwerius dan Leijdecker adalah beberapa tokoh yang dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan penerjemahan Alkitab. Kalau menilik latar belakang ketiganya, tidak ada satupun yang memiliki keahlian di bidang penerjemahan dan biblika. Namun Tuhan memilih mereka untuk melakukan pekerjaan penerjemahan Alkitab di Indonesia.

Adalah Johannes Emde, pria kelahiran Schmillinghausen Jerman ini merupakan anak dari tukang gergaji kayu yang miskin di desanya. Emde bersama dengan enam belas saudaranya hidup dalam kondisi serba sulit dan pas-pasan. Meskipun miskin, ayahnya tidak pernah lupa mendidik mereka dengan ajaran firman Tuhan.

Untuk meringankan beban hidup keluarganya, Emde mencari pekerjaan, bahkan sampai merantau ke Belanda. Di sana ini melakukan pekerjaan secara serabutan asalkan dapat uang untuk makan. Suatu saat ia mendengar bahwa ada peluang untuk mendapatkan pekerjaan di Hindia Belanda (sekarang: Indonesia). Setelah mengumpulkan recehan demi recehan dan diterima bekerja sebagai kelasi kapal, akhirnya menjelang akhir 1802 Emde berlayar ke Batavia. Sesampainya di Batavia, Emde terkena wajib militer dan harus ikut berperang melawan bajak laut di perairan sekitar Banjarmasin. Setelah wajib militernya selesai, Emde kembali ke Jawa dan menetap di Surabaya. Di sana dia bekerja sebagai montir arloji dan menikahi seorang wanita pribumi.

Setelah hari-harinya disibukan dengan pekerjaan sebagai montir Arloji, di hari Minggunya Emde bertindak selaku pemimpin ibadah. Emde dan saudara-saudara seimannya mengajarkan Injil Markus bahasa Jawa terjemahan Bruckner kepada masyarakat di Surabaya. Di samping itu, Emde menghadapi kendala karena sebagian besar jemaatnya tidak paham dengan Alkitab bahasa Melayu yang diterjemahkan Leijdecker. Sedikit demi sedikit mereka menyadurnya kembali dalam kata-kata yang lebih mudah dipahami. Naskah revisi mereka lalu diteliti di Jakarta oleh Pdt.. D. Lenting, seorang pendeta Belanda, dan Walter Henry Medhurst, seorang utusan Injil Inggris.

Dari hasil usaha bersama itu lahir terjemahan Perjanjian Baru lengkap yang diterbitkan di Jakarta pada tahun 1835. Inilah yang dianggap Perjanjian Baru yang pertama-tama dicetak dalam bahasa Melayu Rendah. Orang-orang Kristen di Surabaya itu bukan hanya menyiapkan terjemahan tersebut melainkan juga membiayainya. Walaupun ada banyak kekurangannya, namun Terjemahan Baru itu cukup laris buktinya pada tahun 1848 persediaannya sudah habis. Perkumpulan Surabaya itu juga menyediakan kitab Mazmur dengan cara yang agak sama seperti yang mereka pakai untuk kitab Perjanjian Baru

Johannes Emde memang bukanlah misionaris yang dikirimkan oleh sebuah lembaga misi. Ia adalah seorang awam yang keberangkatannya ke Jawa Timur tidak didorong oleh keinginan untuk menyebarkan Injil. Kedatangannya ke Hindia Belanda hanyalah untuk mengubah hidupnya menjadi lebih baik. Namun, bukan harta dunia yang berhasil didapat dan dikumpulkan, tetapi Tuhan telah memakai-Nya untuk menjadi perpanjangan tangan Tuhan di Jawa Timur. Di Jawa Timur  Emde ikut mempunyai andil atas berdirinya beberapa gereja, khususnya di Surabaya. Tak salah jika orang di Surabaya menjulukinya “Santo dari Surabaya”.  [3FQ]

Lakukan Segala Pekerjaan Dengan Sukacita

Dengan tidak berbantah dan bersungut-sungut maka apa yang kita kerjakan menjadi lebih ringan serta mendatangkan berkat bagi kita dan orang lain.
Bagaian ini memberi tahu kita tentang ketulusan, semangat dan sukacita Abraham menyambut tamunya. Alkitab menggambarkannya dengan, “Lekas-lekas…”, “Cepatlah…”, “lari…”, “sendiri melayani…” Tidak sedikit yang Abraham hidangkan untuk menjamu para tamunya mulai dari membuat roti bundar, memasak daging pilihan, menyediakan susu dan kepala susu. Bahkan ia sendirilah yang melayani mereka di bawah pohon itu. Abraham melakukan semuanya saat hari sedang panas terik. Abraham sebenarnya punya seribu satu alasan untuk tidak melakukan semuanya itu, atau pun jika ia melakukannya dengan terpaksa tidak mengapa, toh mereka yang datang juga akan segera pergi dan berlalu. Namun Abraham berbeda, dia mengambil pilihan yang “merugikan” ini .
Sahabat Alkitab, melakukan segala pekerjaan dengan bersukacita adalah sebuah pilihan. Sebuah pekerjaan mungkin sangat berat, keadaan mungkin juga tidak mendukung, hasilnya pun mungkin kecil, tetapi ketika kita memilih untuk melakukannya dengan tetap bersukacita maka semuanya akan menjadi sangat berbeda. Firman Tuhan dalam Kolose 3:23, “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Selamat Pagi. Tuhan yang Mahamelihat kiranya memberkati kita yang selalu bekerja dengan sukacita.

Melchior Leijdecker: Penerjemah Alkitab Lengkap Dalam Bahasa Melayu

Seperti umumnya keluarga kelas menengah di Amsterdam, Mechior Leijdecker hidup dalam keluarga yang berada dan serba berkecukupan. Kesempatan ini memungkinkannya untuk mengenyam bangku pendidikan di Universitas ternama di Belanda. Jurusan yang diambilnya adalah pendidikan kedokteran dan pendidikan teologia. Karena kepandaiannya, Leijdecker  mampu menyelesaikan pendidikan keduanya secara cepat. Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama dia sudah diangkat menjadi pendeta di Amsterdam.

Pekerjaannya sebagai pendeta jemaat di Amsterdam terpaksa dikorbankan karena dunia militer lebih kuat memanggilnya. Leijdecker mendaftarkan dirinya sebagai pendeta tentara. Oleh tentara Kerajaan Belanda, tahun 1675 Leijdecker ditugaskan ke Hindia Belanda, sebagai pendeta tentara di Jawa Timur. Setelah 3 tahun bertugas di Jawa Timur Leijdecker dipindahkan ke Batavia dan menjadi Pendeta Jemaat berbahasa Melayu di Kampung Tugu, sebuah wilayah di pinggiran Jakarta.

Kampung Tugu di mulai dari kaum ”Mardijkers” yang di bawa sebagai tawanan perang oleh Belanda atas kemenangan mereka dari Melaka dan India selatan yang masa itu di bawah pemerintahan Portugis. Belanda menerima kaum Portugis ini di Batavia dan melepaskan mereka dari perbudakan dengan persyaratan menganut agama Protestan, dan di kenal sebagai “Mardijikers” oleh Belanda. Belanda kemudian memberikan mereka lahan di mana kampung Tugu tumbuh dan dibangunkan sebuah gereja, sekarang kita mengenalnya sebagai Gereja Tugu.

Keberadaan kampung Tugu tidak dapat dipisahkan oleh peran Leijdecker, di tengah pekerjaan sebagai pendeta jemaat yang berbahasa Melayu mendorongnya untuk mendalami kosa kata Bahasa Melayu yang pada akhirnya mengantarnya untuk mendalami penerjemahan Alkitab. Leijdecker mulai menerjemahkan beberapa kitab dan hasilnya cukup baik. Pada tahun 1691, atas permintaan majelis gereja di Batavia dan disponsori oleh Kompeni (VOC), ia diminta untuk menerjemahkan Alkitab lengkap ke dalam bahasa Melayu tinggi, yaitu ragam bahasa yang lazim dipakai untuk menulis buku kesusastraan pada masa itu. Dan sejak tahun 1693, ia telah dibebaskan dari pekerjaannya sebagai pendeta supaya dapat mencurahkan seluruh waktunya untuk menerjemahkan Alkitab. Salah satu metode penerjemahan yang mulai diterapkan Leijdecker adalah meneliti naskah-naskah Alkitab dalam bahasa-bahasa aslinya, dan dengan tekun ia mencari kata dan istilah bahasa Melayu yang paling tepat untuk mengalihbahasakan naskah Alkitab.

Namun tahun 1701 sebelum seluruh terjemahan Alkitab selesai dikerjakan, Leijdecker meninggal dunia. Pekerjaan penerjemahan mulai dari Efesus 6: 6 sampai Kitab Wahyu dilanjutkan oleh Pendeta Peter van der Vorm. Setelah seluruh kitab selesai diterjemahkan, Peter van der Vorm dan anggotanya memeriksa ulang Alkitab terjemahan Leijdecker dalam Bahasa Melayu ini, sebelum diterbitkan di Belanda tahun 1733.[3FQ]

Bizzo,Bizzo Casino,Bizzo kaszino — praktyczny przewodnik startowy

Bizzo Casino ekran

Co zrobić przed rejestracją

Zamiast tracić czas na porównywanie opinii w ciemno, sprawdź szybko pięć rzeczy: licencję, metody płatności, dostępność obsługi klienta, warunki bonusu i limit wypłat. To minimalne zabezpieczenia, które oddzielają legalne kasyna od podejrzanych ofert. Zwróć uwagę na zapisy o wymogu obrotu (wagering) i ograniczenia gier przy bonusach — nie wszystkie promocyjne środki można wykorzystać w slocie z najlepszym RTP.

Praktyczny plan pierwszych 30 dni

  1. Dzień 1: Zarejestruj konto i zweryfikuj dokumenty od razu — to przyspieszy wypłaty.
  2. Dzień 2–7: Zrób mały depozyt testowy (np. 10–20 PLN) i sprawdź szybkość płatności i obsługę klienta.
  3. Tydzień 2: Przeczytaj regulamin bonusu i policz, czy wymóg obrotu jest realistyczny. Jeśli nie — odpuść ofertę.
  4. Tydzień 3–4: Zwiększ depozyty tylko o ile trzymasz się ustalonego budżetu i stosuj zasadę 2% bankrollu na jedną sesję.

Najczęstsze błędy i jak ich uniknąć

  • Branie każdego bonusu bez sprawdzenia warunków — konsekwencją mogą być zablokowane wypłaty.
  • Gra „na odrobienie” po serii przegranych — ustal limit porażek i trzymaj się go.
  • Używanie niezweryfikowanych metod płatności — wybieraj znane portfele i karty.

Jeśli szukasz miejsca do przetestowania, sprawdź stronę dedykowaną platformie, np. Bizzo kaszino — tylko raz kliknij, by przejść do źródła, a potem stosuj powyższe kroki. Pamiętaj: kasyno ma być rozrywką, nie źródłem dochodu.

Na koniec — krótka lista kontrolna przed wypłatą: 1) weryfikacja konta zakończona; 2) obrót bonusu spełniony; 3) metoda wypłaty zgodna z wpłatą; 4) limity dzienne do zaakceptowania. To zapobiega opóźnieniom i odmowom. Powodzenia i graj odpowiedzialnie!