Persiapan Yang Baik Menjinakkan Segala Kesulitan Di Depan

Mengantisipasi kesulitan dan tantangan yang akan datang di kemudian hari dapat dilakukan dengan melakukan persiapan matang hari ini.
Memulai upacara peribadatan yang telah ditinggalkan selama tujuh puluh tahun menjadi tantangan tersendiri bagi umat Israel, karena itu mereka perlu melihat kembali kepada petunjuk-petunjuk dari hukum Musa tentang tata cara pelaksanaan ibadah. Tantangan ini harus mereka antisipasi dengan persiapan yang sebaik-baiknya, mereka mungkin mempraktekkan kembali bagaimana melaksanakan peraturan ibadah secara detail dan benar, jika tidak maka semua rencana mereka akan gagal. Ibadah tidak akan berjalan dengan hikmat. Hal yang sama juga berlaku dalam pembangunan Bait Allah dan kota Yerusalem. Yang terpenting dalam persiapan ini adalah pelibatan TUHAN di dalam-Nya.
Sahabat Alkitab, jangan karena telah rutin dan telah menjadi kebiasaan sehingga melupakan persiapan dalam mengerjakan sesuatu, apalagi jika itu adalah peribadatan atau kegiatan-kegiatan penting lainnya. Bayangkan jika ada seorang atlet yang akan mengikuti pertandingan tetapi dengan melakukan persiapan yang biasa-biasa saja, maka kemungkinan besar ia akan mengalami kekalahan. Kita butuh persiapan! seperti belajar, latihan ekstra, mengenali kelemahan diri, memetakan tantangan, dan mencari cara pemecahannya, serta yang terpenting adalah penyerahan diri kepada Tuhan.
Selamat Pagi. Mari terus kita mempersiapakan diri, agar besok semuanya dapat berjalan dengan baik.

Orang Yang Menajamkan Orang Mereka Juga Saling Menghidupkan

Saling membantu, saling menolong, dan hidup bersama kebaikan, itulah yang Tuhan kehendaki bagi kita.
Sebuah kehidupan baru sedang dibentuk oleh ALLAH atas umat Israel. Meninggalkan zona nyaman dan memulai dari awal itulah yang sedang dikerjakan secara bersama-sama oleh mereka. Lebih dari empat puluh ribu orang saat itu terdorong oleh euforia spiritual dan nasionalis membangun kota yang telah menjadi puing-puing reruntuhan. Yang terpenting dari itu adalah bagaimana mereka saling membantu, saling menolong, saling berbagi dan memberi sumbangan sukarela untuk membangun Bait Allah dan membangun peradaban mereka kembali.
Sahabat Alkitab, memang manusia tidak dapat hidup sendiri, kita pasti membutuhkan manusia lainnya. Dalam interaksi sosial terjadi begitu banyak hal seperti kerjasama, tolong-menolong, belajar, bertukar pikiran, diskusi, bahkan berkonflik. Semua itu adalah cara untuk membentuk dan mengasah kepribadian satu dengan yang lainnya serta untuk menjaga kelangsungan hidup bersama.
Selamat Pagi. Mari mengambil bagian dalam interaksi yang saling menajamkan dan menghidupkan dengan sesama kita.

Seandainya Manusia Tidak Membeda-bedakan Sesamanya

Ada begitu banyak perbedaan yang telah ditakdirkan, kita tidak bisa menolak atau memperdebatkannya. Syukuri dan terimalah itu sebagai karya Tuhan.
Muncul keinginan untuk memurnikan kembali bangsa Israel berdasarkan silsilah atau garis keturunan. Mereka mengecek kembali garis keturunan tiap-tiap orang, apakah orang-orang tertentu merupakan keturunan Israel murni ataukah campuran, dan untuk jabatan imam apakah berasal dari keturunan Harun atau bukan. Kepada nenek moyang mereka, ALLAH telah menetapkan wilayah tempat tinggal masing-masing sesuai dengan namanya begitu juga untuk jabatan-jabatan khusus, inilah yang ingin dibangkitkan kembali oleh orang-orang Israel yang pulang dari pembuangan. Sehingga bagi mereka yang tidak termasuk di dalamnya tidak diizinkan menempati wilayah atau jabatan tertentu.
Sahabat Alkitab, apakah membeda-bedakan orang lain berdasarkan garis keturunan seperti yang dilakukan oleh bangsa Israel waktu itu dapat kita lakukan saat ini? ataukah berdasarkan SARA? Jawabannya adalah sama sekali tidak. Bagi umat Israel saat itu Allah memiliki tujuannya sendiri. Bagi kita hari ini Tuhan menghendaki agar kita saling mengasihi dan memandang sama setiap orang sebagai ciptaan Tuhan yang mulia. Memperlakukan seseorang berbeda berdasarkan latar belakang yang tidak bisa diubahnya adalah satu tindakan yang merendahkan Allah yang mencipta dengan penuh keanekaragaman.
Selamat Pagi. Setiap manusia adalah unik, spesial, dan berharga karena itu mari kita memperlakukan setiap orang demikian.

Hindari Kegagalan Kedua Dengan Persiapan Yang Lebih Baik

Persiapan yang baik menghasilkan karya yang baik.
Tujuan utama ALLAH memulangkan bangsa Israel adalah untuk memulihkan penyembahan mereka kepada ALLAH. Karena itu dalam rombongan yang pulang ini terdapat rombongan kaum keluarga para imam, kaum keluarga Lewi, dan kaum keluarga para pekerja di Rumah Tuhan. Inilah rombongan orang-orang yang memiliki tanggung jawab utama dalam membangun kembali peribadatan Israel. Mereka harus mempersiapkan dan melakukan semuanya dengan baik. Mulai dari membangun kembali Bait Allah, mempersiapkan perlengkapan ibadah, sampai pada pelaksanaan ibadah itu sendiri. Tanpa itu, maka ibadah tidak akan berlangsung dan umat Israel akan kembali kepada penyembahan kepada ilah lain. Artinya mereka akan kembali gagal hidup beribadah kepada ALLAH.
Sahabat Alkitab, kegagalan adalah pelajaran berharga dari masa lalu dan setiap orang pernah mengalami kegagalan karena ketidaksiapan. Walaupun tidak ada jaminan pasti, tetapi persiapan yang baik dan matang dapat memberikan hasil yang baik dan meminimalisir terulangnya kegagalan. Selebihnya adalah kehendak Tuhan, kita hanya perlu melakukan apa yang menjadi bagian kita. Ini berlaku dalam semua aspek kehidupan seperti dalam pekerjaan, pendidikan, pelayanan, pernikahan dan kehidupan keluarga, peribadatan, dll.
Selamat Pagi. Mari selalu mulai dari persiapan yang kecil, berdoalah mengawali semua aktivitas Anda. Itu adalah persiapan yang terbaik.

Setiap Orang Punya Versinya Sendiri Mengenai Hidup Lebih Baik

Apalah artinya memiliki seisi dunia jika Tuhan tidak menyertai kehidupan kita?
Sesuai dengan perintah Raja Kores (ketetapan TUHAN), maka begitu banyak orang Israel yang kembali ke Israel tanah nenek moyang mereka. “Banyak” menunjukkan begitu besar antusias mereka untuk pulang walaupun sebenarnya sebagian dari mereka adalah generasi baru yang sama sekali belum pernah melihat tanah perjanjian itu. “Banyak” juga menunjukkan sisi lain yaitu “tidak semua” sebab ada sebagian kecil yang ingin tetap tinggal di Babel. Mereka yang pulang ditarik oleh panggilan spiritualitas sebagai umat pilihan TUHAN dan nasionalisme sebagai bangsa Israel, sedangkan mereka yang tinggal karena telah merasa nyaman berada di Babel kembali bagi mereka berarti harus memulai lagi dari nol. Sebagian besar berharap bahwa di tanah nenek moyang merekalah kehidupan akan semakin baik sebagian lagi tidak.
Sahabat Alkitab, setiap kita pasti menginginkan kehidupan yang lebih baik, tidak peduli seperti apa kehidupan kita saat ini. Yang miskin, yang kaya, yang tua, yang muda, yang laki-laki, yang perempuan, yang lajang, yang telah menikah, yang pandai, atau pun yang bodoh, semua menginginkan hidup lebih baik. Ada yang menjadikan kekayaan, jabatan, kekuasaan sebagai ukuran, yang lain lebih melihat kepada suasana dan relasi sosial, ada juga yang menjadikan perasaan hati sebagai ukuran. Semua kita memiliki versi masing-masing. Namun Alkitab memberi kita satu ukuran yang berbeda.  Raja Daud pernah berkata, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku…”
Selamat Pagi. Hidup kita hari ini akan menjadi lebih baik jika Allah hadir di dalam-Nya.

Sebuah Kesempatan Selalu Diiringi Serentetan Tanggung Jawab

Setelah kesempatan itu datang, selanjutnya adalah bekerja agar kesempatan itu tidak menjadi percuma.
Orang-orang yang pulang dari pembuangan ini kembali ke kota mereka masing-masing dengan dipimpin oleh Zerubabel, Yesua, Nehemia, Seraya, Reelaya, Mordekhai, Bilsan, Mispar, Bigwai, Rehum, dan Baana. Kepulangan ini bukan tanpa tujuan atau tanggung jawab. Kepulangan ini berarti mereka harus meninggalkan zona nyaman di Babel dan mengambil tanggung jawab besar, yaitu membangun kembali kota-kota mereka. Pekerjaan yang besar dimulai.
Sahabat Alkitab, banyak kali kesempatan itu harus diraih dengan kerja keras. Jika untuk memperolehnya saja sudah tidak mudah apalagi saat telah diraih, ada banyak tanggung jawab dan kerja yang mengikutinya. Hidup adalah sebuah kesempatan, begitu juga dengan bekerja, melayani, memperoleh pendidikan, dan banyak lainnya.
Selamat berakhir pekan. Selagi masih ada kesempatan maril kita bekerja, sebab akan datang saatnya semua akan diambil dari kita.

Jangan Pernah Memberi Tanpa Sukacita

Sekalipun tidak dengan sukacita pemberian tetap jadi berkat bagi yang menerima, tetapi tidak bagi pemberi.

Raja Kores membuat perintah agar orang-orang yang tinggal bersama dengan orang-orang Yahudi memberikan bantuan dalam berbagai bentuk agar mereka dapat kembali ke Yerusalem dan membangun kotanya. Kores sendiri memberikan teladan atas perintah tersebut, ia mengeluarkan semua barang rampasan yang pernah dirampas oleh Nebukadnezar dan diberikan kepada Sesbazar. Masyarakat yang mendapat perintah itu ada yang memberi dengan sukacita tapi mungkin juga ada yang dengan berat hati dan sungut-sungut.

Sahabat Alkitab, hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Inilah prinsip dasar dan utama yang dinyatakan Alkitab dalam memberi, “memberi dengan sukacita.” Memberi bukan karena kewajiban apalagi karena paksakan.

Selamat Pagi. Jangan lupa untuk berbagi hari ini dan lakukanlah dengan penuh sukacita, karena Bapa di surga melihat penuh cinta kepada Anda yang melakukannya.

Kesempatan Kedua Datang Setelah Orang Benar-Benar Siap

Jika kesempatan pertama telah lewat, jangan berputus asa. Tetaplah selalu siap sedia, manakala kesempatan kedua datang, baik atau tidak baik waktunya.
Ezra mengawali pulangnya bangsa Israel ke Yerusalem. Tepat di tahun pertama pemerintahan Kores, raja Persia. Kesempatan itu terjadi atas penentuan & kehendak TUHAN yang telah berjanji kepada umat-Nya. Waktu dan cara berada ditangan kedaulatan TUHAN. Dalam migrasi ini sangat mungkin ada orang Israel yang tertinggal dengan berbagai alasan, karena itu TUHAN, melalui Kores, memberikan kesempatan kedua kepada mereka untuk pulang disertai dengan bantuan dari tetangga di sekitarnya.
Sahabat Alkitab, Yesus pernah berpesan kepada murid-murid-Nya agar mereka selalu berjaga-jaga dan berdoa. Perintah ini bukan tanpa alasan sebab waktu dan kesempatan memang tidak pernah menunggu, manusialah yang harus selalu siap apa pun keadaannya. Saat Yesus datang untuk kedua kalinya, Ia akan datang seperti seorang pencuri. Hanya orang yang selalu menantikan-Nya dengan setialah yang akan bertemu dengan-Nya.
Selamat Pagi. Jangan buang waktu dengan percuma, berdoa dan lakukanlah yang baik sambil terus menantikan Tuhan.

Tindakan Baik Bisa Membuat Perbedaan

Satu kebaikan dapat membuat satu perubahan, seribu kebaikan dapat mengubahkan dunia.
Tindakan Lot menyambut orang asing yang datang ke wilayahnya mengingatkan pada tindakan sama yang dilakukan oleh Abraham. Apakah ini adalah budaya masyarakat Ur-Kasdim saat itu, ataukah karakter dan kebaikan hati Abraham dan Lot dalam memperlakukan orang asing. Tetapi apapun itu, kebaikan mereka akan diperhitungkan oleh TUHAN.
Sahabat Alkitab, ada satu bahasa iklan yang dulu mungkin kita sering dengar, “Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda”. Kesan kebaikan yang telah diberikan oleh Lot ternyata menolong hidupnya dan keluarganya dikemudian hari. Allah menghendaki kita berbuat baik (dan benar) terhadap sesama kita manusia, bukan supaya, tetapi karena Tuhan telah terlebih dulu berbuat baik kepada kita. Kebaikan Tuhan inilah yang Ia ingin kita teruskan kepada orang-orang disekitar kita. Tanpa berharap imbalan atau balas jasa, tetapi mungkin saja tindakan baik kita yang dulu akan menjadi satu kebaikan bagi kita, bagi keluarga kita, bagi orang-orang yang kita sayangi, atau bagi keturunan kita dikemudian hari.
Selamat Pagi. Jangan menunda untuk melakukan kebaikan hari ini, karena Bapa di surga melihat penuh cinta kepada mereka yang senang berbuat baik.

Terjemahan Baru: Alkitab Baru Karya Anak Bangsa

 

Setelah melalui proses penerjemahan yang panjang, akhirnya tahun 1974 Lembaga Alkitab Indonesia berhasil menerbitkan Alkitab Terjemahan Baru, yakni Alkitab versi resmi dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh sekelompok ahli dari Belanda dan Indonesia. Versi inilah yang digunakan sampai sekarang.

Proyek penerjemahan Terjemahan Baru bahasa Indonesia ini dimulai oleh Lembaga Alkitab Belanda pada tahun 1952, karena sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia kegiatan-kegiatan penerjemahan dan penyebaran Alkitab di Indonesia ditangani oleh Lembaga Alkitab Belanda dan Lembaga Alkitab Inggris. Dengan berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia yang mandiri pada tanggal 9 Februari 1954, maka tanggung jawab proyek ini diserahkan kepada LAI.

Panitia penerjemahannya terdiri dari tenaga-tenaga ahli berasal dari Belanda, Swiss dan Indonesia. Mereka adalah Dr. J.L. Swellengrebel, Dr. C.D. Grijns, P.S. Naipospos, Prof. Dr. J.L. Ch. Abineno, J.P. Siboroetorop, Pdt. Prof. Dr. R. Soedarmo, Dr. Arie de Kuiper, Ds. M.H. Simanungkalit, dan Pdt. O.E. Ch. Wuwungan. Penerjemahan TB dilakukan langsung dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani versi Biblia Hebraica Kittel (Perjanjian Lama) dan bahasa Yunani versi Nestle Aland (Perjanjian Baru).

Edisi percobaan karya panitia ini diterbitkan secara bertahan mulai tahun 1959, berbentuk beberapa kitab dalam ukuran saku. Akhirnya setelah dua kali tertunda, proyek penerjemahan ini diselesaikan pada tahun 1970 dan Perjanjian Barunya diterbitkan pada tahun 1971, Perjanjian Lamanya pada tahun 1974.

Karena memang baru, maka terbitan Alkitab itu dinamakan Alkitab Terjemahan Baru, atau disingkat TB, sedangkan terjemahan Alkitab versi Bode-Klinkert yang lebih lama tadi dengan sendirinya disebut sebagai Terjemahan Lama. Jadi, singkatan TB mengacu kepada terjemahan Alkitab yang dibuat oleh Lembaga Alkitab Indonesia dan yang beredar sejak tahun 1975 sampai sekarang. Terjemahan bernama TB itu “formal”, bahkan boleh disebut “harfiah”, sebab bertujuan mempertahankan sejauh mungkin bentuk asli teks Kitab Suci. []