Jika dulu Tuhan memakai burung gagak untuk memberi makan Elia, maka sekarang Tuhan juga bisa memakai siapa saja untuk menolong kita.
Tidak ada hubungan kekeluargaan atau pun persahabatan antara Paulus dan komandan pasukan yang menangkapnya. Namun komandan itu dengan serta merta memerintahkan dua orang perwiranya untuk membawa Paulus sampai kepada Gubernur Feliks dengan selamat. Tidak tanggung-tanggung, dua ratus prajurit, tujuh puluh tentara berkuda, dan dua ratus tentara bertombak dikerahkannya untuk melindungi perjalanan Paulus, seorang yang ia tangkap karena dianggap membuat keonaran di kota. Tidak kurang dari total empat ratus tujuh puluh tentara terlatih untuk melindungi Paulus dari rencana serangan lebih dari empat puluh orang Yahudi.
Sahabat Alkitab, sungguh ajaib dan tidak terduga cara Allah dalam menolong orang yang dikasihi-Nya. Apa yang tidak pernah dilihat atau didengar oleh manusia, dan tidak pernah pula timbul dalam pikiran manusia, begitulah datangnya pertolongan Allah kita. Waktu-Nya pun selalu tepat. Ia bisa memberikan pertolongan melalui kerabat, namun juga dapat melalui mereka yang sama sekali tidak pernah kita kenal sebelumnya. Allah sanggup untuk membuat kita terpukau dan terpesona dengan cara-Nya bekerja sehingga kita akan berkata, “Sungguh besar Kau Allahku.”
Selamat Pagi. Tiada yang mustahil bagi Tuhan, tiada yang terlalu sulit bagi-Nya, karena itu bersyukurlah dan berharaplah selalu kepada-Nya, Penolong yang satu-satunya itu.
Keberanian memang selalu menuntun kita untuk terus maju ke depan bahkan sekalipun menghadapi hamparan onak, namun hikmat menolong kita untuk menemukan jalan terbaik.
Setelah menerima perintah baru dari Tuhan, Paulus tahu sekarang bahwa waktunya masih panjang dan tidak akan berakhir di Yerusalem. Roma telah menantikan kesaksiannya karena itu ia harus ke sana. Jika sebelumnya kita melihat Paulus yang begitu berani berjalan menemui “kematiannya” karena tidak mengindahkan nasehat Agabus dan jemaat lainnya untuk tidak ke Yerusalem (bnd. 21:4, 10-14), kali ini Paulus lebih bijaksana untuk tidak lagi menantang maut. Ia meminta anak saudara perempuannya itu untuk melaporkan perihal rencana jahat orang Yahudi terhadapnya. Tujuannya adalah agar ia beroleh perlindungan sehingga dapat melaksanakan tugasnya di Roma.
Sahabat Alkitab, mungkin saja kita pernah mengalami situasi seperti yang dialami Paulus, ingin menghadapi sesuatu karena kita berada pada posisi yang benar tapi kemungkinan bisa berdampak buruk terhadap diri sendiri dan orang lain, atau berpikir untuk menghindarinya dengan berbagai pertimbangan yang bisa saja itu yang terbaik. Di sinilah keberanian yang kita miliki perlu disatukan dengan hikmat yang dari Allah, sehingga memberikan hasil akhir yang terbaik. Tuhan ingin kita menyatakan kebenaran dengan berani di tengah dunia namun tetap dilakukan dalam pimpinan-Nya, agar jangan apa yang kita anggap benar ternyata bukan bagian dari kehendak Tuhan.
Selamat Pagi. Teruslah lakukan hal-hal yang benar dengan berani sambil tetap mohon pimpinan Tuhan.
Tuhan tahu kita punya batas kekuatan, oleh karenanya Ia datang dengan memberi keyakinan yang menguatkan kita kembali.
Menghadapi rentetan kejadian yang begitu berat, bisa saja membuat Paulus mengalami kelelahan fisik maupun psikis. Belum lagi luka-luka yang ia derita akibat pukulan demi pukulan yang diarahkan kepadanya, sudah barang tentu membuatnya begitu kesakitan. Siapakah yang dapat tahan dengan semuanya itu? Tuhan tahu betul pergumulan yang dialami Paulus, karena itu Tuhan datang kepadanya untuk memberikan kekuatan yang baru dan perintah baru. Tuhan berkata, “Kuatkan hatimu! Engkau sudah memberi kesaksianmu mengenai Aku di Yerusalem. Engkau nanti harus memberi kesaksian itu di Roma juga.” Pernyataan dan perintah ini menunjukkan bahwa Tuhan membenarkan, menyetujui, mengapresiasi kesaksian Paulus di Yerusalem, menguatkannya lalu memerintahkan untuk melakukannya lagi. Apa yang pernah dinyatakan Paulus bahwa ia benar dan memiliki hati nurani yang murni di hadapan Allah telah dikonfirmasi oleh Tuhan Yesus.
Sahabat Alkitab, hidup itu memang berat bahkan untuk orang yang melakukan kebenaran sekalipun. Orang mungkin tidak suka dengan itu, lalu dengan berbagai cara mereka mencoba untuk melemahkan kita. Tetapi syukur kepada Allah, dari pengalaman Paulus ini kitavtahu bahwa Allah akan selalu hadir untuk memberikan kita kekuatan yang baru dan semangat yang baru untuk tetap dan terus mengerjakan apa yang sudah kita kerjakan dalam kebenaran.
Selamat Pagi. Mari yakinkan dalam diri kita masing-masing, bahwa dalam setiap tindakan benar yang kita buat, Allah hadir di situ menyetujui, merestui, dan memberikan kekuatan bagi kita.
Pertolongan Tuhan tidak pernah datang terlambat, ketika itu datang maka amanlah dan selamatlah kita.
Posisi Paulus begitu sulit saat itu, ia diperhadapkan kepada Mahkamah Agama dengan tidak ada satu orang pun pembelanya. Pengalaman seperti ini bukan yang pertama bagi Paulus, sudah begitu banyak ia mengalami masa-masa sulit karena Injil yang diberitakannya, dan sepanjang pengalaman itu, ia tidak pernah melihat Allah begitu jauh darinya. Ini terlihat dari pertolongan Allah yang selalu datang tepat pada waktu-Nya, terbukti di hari itu. Saat diperhadapkan dengan banyak tuduhan, ia mengajukan satu pembelaan yang kemudian justru menjadi “senjata” baginya untuk menghadapi sidang itu. Ketika mengungkapkan identitas sebagai seorang farisi dan kepercayaannya terhadap kebangkitan orang mati, Paulus yang tadinya tidak memiliki seorang pembela pun kini justru dibela begitu banyak orang.
Sahabat Alkitab, siapakah yang sanggup untuk membolak-balikkan keadaan seperti pengalaman Paulus selain dari pada Allah? Dalam situasi yang sulit itu, Allah tidak meninggalkan Paulus, Dia hadir dalam hikmat dan dalam pembelaan orang banyak. Allah dapat bekerja di dalam siapa saja dan terhadap situasi apa saja untuk menyatakan pertolongan-Nya bagi kita yang mengharapkannya. Allah juga mampu untuk mengubah tuduhan yang diarahkan kepada kita menjadi senjata yang justru menguatkan dan melindungi kita.
Selamat Pagi. Jangan pernah menjadi kecut hati hanya karena berat dan besarnya beban dan masalah yang kita hadapi, berharaplah kepada Allah dan nantikanlah pertolongan-Nya.
Pagi buta sabtu, 12 Mei 2018 saya pergi dari rumah untuk menunaikan tugas ke Batam, hanya dua hari selepas kejadian kericuhan napi teroris di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Sepanjang sabtu, semua rapat evaluasi dan diskusi yang saya ikuti dalam rangka mengidentifikasi berbagai terobosan bersama mitra penyebaran LAI di Batam berjalan lancar.
Minggu pagi saat bersiap menuju GPIB Imanuel Batam untuk sosialisasi program-program LAI, berita pilu pengeboman tiga gereja di Surabaya sungguh menyesakkan dada saya. Namun demikian tugas presentasi di gereja harus tetap dijalankan dengan semangat.
Presentasi berlangsung di bagian menjelang akhir Ibadah sebelum pengutusan dan berkat. Respon jemaat yang hadir (tidak kurang dari 400 orang) sangat positif. Namun suasana sedikit galau setelah seorang Presbiter (Penatua) mengumumkan pentingnya kewaspadaan seluruh jemaat sehubungan dengan kejadian bom meledak di tiga gereja Surabaya. Sebelum doa berkat, Ibu Pendeta juga menambahkan himbauan untuk tidak membagikan gambar-gambar korban melalui media sosial.
Seusai kebaktian, jemaat yang masih bertahan di Gereja diajak untuk mendatangani poster “Mendukung Upaya Penanggulangan Terorisme” bersama jajaran Polri Batam. Sayapun ikut tanda tangan dan meneriakkan deklarasi anti terorisme yang dipublikasikan beberapa media.
Setibanya di kantor LAI Jakarta pagi ini (14 Mei) saya berkoordinasi dengan Satuan Pengamanan Kantor LAI dan PGI untuk meningkatkan penjagaan dan memastikan situasi aman terkendali. Siangnya saya menuju Makassar untuk menunaikan tugas supervisi ke Kantor Perwakilan LAI di Makassar.
Berita memilukan bertambah lagi dengan adanya beberapa bom susulan yang meledak di Surabaya.
Sembari menunggu waktu boarding pesawat, saya mengirim pengumuman dan himbauan kepada seluruh karyawan LAI demikian: “Tetap bekerja tenang, optimis dan waspada. Semua aparat keamanan sudah berjaga. Dua pintu gerbang kantor LAI sementara dibuka separuh dan dilakukan pemeriksaan kepada setiap kendaraan serta tamu yang datang. Saya berkordinasi dengan kantor PGI agar secara bersama meningkatkan kewaspadaan dalam ketenangan dan selalu memohon perlindungan Tuhan. Amin.”
Setibanya di Makassar, Sdr Agus yang menjemput saya di Bandara Sultan Hassanudin Maros juga menyampaikan duka dan sedih atas meledaknya bom di Surabaya. Sungguh terasa semakin sedih, berduka dan pilulah lubuk hati ini. Beberapa sobat di luar negeri mengirim WA simpati dan doa untuk Indonesia.
Dalam benak saya terus bertanya mengapa ada orang yang begitu “mencintai kematian”? Padahal mayoritas orang di planet bumi ini sangat mencintai kehidupan. Segala upaya dilakukan demi keberlangsungan hidupnya (dalam bahasa Jawa – “uruping urip”). Tak terhitung pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya sejak lahir, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa sampai usia lanjut, demi berlanjutnya kehidupan.
Mencintai kematian tentulah melawan kehidupan, dan melawan pengharapan. Pikiran, perkataan dan perilakunya mengarah kepada kematian dan maut. Kesia-siaan adalah upahnya. Kecaman dan kutukan adalah ganjarannya.
Alkitab memberitakan jalan kebenaran dan hidup. Siapa saja yang percaya akan memperoleh terang kehidupan. Itulah pentingnya pemberitaan kabar baik sampai ke ujung bumi, agar semakin banyak manusia yang percaya dan terhindar dari alam kegelapan serta kematian yang terkutuk. Agar semua mencintai kehidupan, bukan kematian. Salam Alkitab Untuk Semua.
Erna Yulianawati (Kadep Komunikasi & Pengembangan Kemitraan LAI), Pdt. Dr. Wardinan S. Lidim (Ketum Sinode GKE), dan Bp. A, Moenir Rony (Bendahara Umum LAI) di Kantor Sinode GKE Banjarmasin
Sejak tahun 2012 Lembaga Alkitab Indonesia terus membangun kemitraan dan jejaringnya, baik dengan Sinode Gereja/Keuskupan maupun dengan Lembaga/Pemerintah. Sampai saat ini tidak kurang ada sekitar 500-an sinode gereja, keuskupan, lembaga, dan pemerintah yang sudah bermitra dengan LAI.
Selain membangun kemitraan dan jejaring, LAI juga membangun kelompok kerja di seluruh Indonesia. Sampai saat ini ada 30 kelompok kerja, mulai dari Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD), Kelompok Kerja Pembina Anak, sampai dengan Kelompok Kerja Pemuda. Mereka tersebar di setiap kota di setiap pulau di seluruh Indonesia.
Siapa sebenarnya kelompok kerja LAI ini? Mereka adalah pribadi-pribadi yang berasal dari jemaat-jemaat Gereja di suatu tempat dan mau memberi diri dan hatinya untuk membantu penjemaatan dan penggalangan dana program-program LAI, seperti program penerjemahan, penerbitan, dan penyebaran Alkitab, serta program LAI lainnya. Untuk pulau seluas Kalimantan, baru berdiri 3 KKPD yakni di Pontianak, Palangkaraya, dan Tarakan (dibawah koordinasi LAI Perwakilan Makassar). Dalam rangka membangun jejaringnya di Kalimantan, Tim LAI (Erna Yulianawati dan Selviana) bersama KKPD Palangkaraya memperkenalkan visi-misi dan program kerja LAI di gereja-gereja di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Setelah berkomunikasi denga gereja-gereja di Banjarmasin, LAI memcoba berkomunikasi dengan para pemimpin Gereja agar ditempat Injil pertama kali datang di Kalimantan ini juga harus memiliki KKPD Banjarmasin.
Puji Tuhan, niat baik untuk mendirikan KKPD di kota Banjarmasin langsung didukung oleh semua gereja-gereja di Banjarmasin terdiri dari berbagai denominasi ada Gereja Kalimantan Evangelis, Gereja Isa Almasih, Huria Kristen Batak Protestan, Gereja Pentakosta di Indonesia, Gereja Pentakosta Pusat Surabaya, Gereja Bethel Indonesia, Gereja Batak Karo Protestan, Gereja Katolik, dan gereja-gereja lainnya.
Proses komunikasi antara LAI dengan gereja-gereja tersebut sangatlah cepat, baru awal Maret 2018 LAI berkirim surat ke seluruh gereja di Banjarmasin agar diberi kesempatan untuk memperkenalkan visi-misi dan program kerja LAI. Dengan dibantu KKPD Palangkaraya, LAI diberikan kesempatan untuk presentasi di 9 gereja di Banjarmasin dalam ibadah Minggu 13 Mei 2018.
Masih terkait kemitraan dan jejaring, LAI mencoba berkomunikasi dengan Kantor Sinode Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) untuk memperbaharui nota kesepakatan yang sudah dilakukan selama ini. Untuk itu Senin, 14 Mei 2018, mewakili Pengurus LAI, Bp. A. Moenir Rony, S.E., Bendahara Umum LAI melakukan pertemuan dengan Pdt. Dr. Wardinan S. Lidim, M.Th., Ketua Umum Sinode GKE. Mereka melakukan percakapan dan melihat butir-butir kesepakatan tersebut apakah masih relevan dengan kondisi dan situasi saat ini sebelum nota kerjasama antara LAI dengan GKE ditandatangani.
Sambil menunggu penandatanganan nota kesepakatan kerjasama antara LAI dengan GKE, Selasa 15 Mei 2018 mengundang seluruh Hamba Tuhan di seluruh Banjarmasin untuk menghadiri sosialisasi LAI di Gereja Isa Almasih, Banjarmasin. Pada kesempatan ini mewakili Pengurus LAI, Bp. A. Moenir Rony, S.E., Bendahara Umum LAI menjelaskan tentang visi-misi dan program kerja LAI.
Harapannya jika nota kesepakatan dengan GKE ditandatangani dan KKPD Banjarmasin resmi berdiri, maka tugas menghadirkan Alkitab untuk Semua akan semakin jelas arahnya, sehingga Alkitab dan Bagian-bagiannya yang disebarkan benar-benar tepat sasaran. Karena sejatinya kehadiran LAI adalah untuk membantu dan mendukung gereja-gereja dan umat kristiani di Indonesia dalam melaksanakan tugas persekutuan, kesaksian, dan pelayanannya.[Selvi]
Kita hidup di atas keyakinan. Ini yang memberi kita kekuatan untuk bertindak benar sebab kita yakin bahwa Allah dipihak kita.
Dalam pembelaannya di depan Mahkamah Agama, Paulus mengatakan bahwa sampai pada hari di mana dia berdiri, ia mempunyai keyakinan bahwa hati nuraninya bersih di hadapan Allah. Ia yakin bahwa ia tidak bersalah atas keyakinannya dan atas ajaran yang ia beritakan. Keyakinan Paulus bukan tanpa alasan, sebab Yesus sendirilah yang mengaruniakan semua itu kepadanya, dan juga dari begitu banyak pengalaman yang telah ia lalui selama memberitakan Injil Kristus.
Sahabat Alkitab, boleh saja kita yakin atas apa yang kita pikirkan, atas apa yang kita katakan, dan atas apa yang kita lakukan asalkan kita benar-benar menyadari dan tahu betul-betul bawa semuanya itu berasal dari Allah. Bagaimana cara menyelidikinya? Sudah tentu dari firman Tuhan dan dari buah yang dihasilkannya. Jika buahnya sudah seturut dengan firman Tuhan maka keyakinan kita memiliki dasar yang kuat, namun jika buahnya tidak sesuai dengan firman Tuhan atau tidak berbuah sama sekali berarti kita sedang bediri di atas sebuah keyakinan yang keliru, cepat-cepatlah angkat kaki dari situ. Hati nurani hanya bisa diandalkan jika kita memiliki hidup yang bergaul karib dengan Allah.
Selamat Pagi. Sebuah keyakinan yang berdiri di atas kebenaran firman Tuhan, tidak akan pernah goyah dan beranjak sekalipun ada seribu orang yang menyerangnya. Karena Tuhan yang akan menjadi pembelanya.
Yakin bahwa Allah memilih kita, yakin bahwa kita diselamatkan, yakin bahwa kita masuk surga, dan seribu keyakinan lainnya.
Hanya jika itu sejalan dengan kehendak Tuhan, barulah apa yang kita inginkan, harapkan dan doakan dapat terwujud.
Sepertinya ada harapan Paulus akan dibebaskan sebab ketika mereka tahu bahwa Paulus adalah warga negara Roma, para tentara dan komandan yang hendak menyiksa Paulus menjadi takut, lalu segera undur. Status kewarganegaraan yang disandangnya sejak lahir membuat Paulus sedikit berada di atas angin. Tetapi ternyata itu tidak membuatnya dilepaskan begitu saja. Paulus masih harus menghadap Mahkamah Agama, ini tidak mudah.
Sahabat Alkitab, setiap orang pasti memiliki harapan-harapan di dalam dirinya. Di antara semua harapan itu, ada yang dapat terwujud namun tidak jarang juga harus berakhir dengan kekecewaan. Kekecewaan menjadi bertambah besar ketika kita berada pada posisi yang tidak menyenangkan. Berharap kepada Allah, namun tidak kunjung terjawab bahkan mungkin menjadi semakin sulit. Akhirnya kita marah, kita melihat Tuhan begitu jahat, hingga kita mengutuki atau meninggalkan-Nya. Tahukah kita satu kebenaran ini; bahwa Allah tidak pernah punya kewajiban untuk menjawab semua permintaan, harapan, dan doa kita? Jika Dia menjawabnya, maka itu berarti apa yang kita inginkan sesuai dengan kehendak-Nya. Atau yang lebih tepatnya adalah Dia ingin mengerjakan sesuatu dalam hidup kita, lalu menaruh itu di dalam hati kita, lalu Dia menggerakkan kita untuk meminta kepada-Nya, kemudian menjawabnya karena memang Dialah yang menghendaki itu terjadi.
Selamat Pagi. Kekecewaan pada batas tertentu adalah sangat manusiawi, tapi kita harus segera meninggalkannya, karena Allah punya rencana yang lebih baik dari semua yang dapat kita pikirkan dan inginkan.
Ketenangan hati menjernihkan pikiran, dan dari pikiran yang jernih akan keluar perkataan dan tindakan yang benar.
Keadaan ini tentu bukan hal yang mengejutkan bagi Paulus. Sebagai seorang farisi yang pernah begitu membenci Kristus, ia sudah bisa memprediksi apa reaksi yang akan timbul dari setiap perkataannya. Walaupun demikian ia tetap melakukannya, bukan karena tidak berhikmat, tetapi karena kepercayaannya kepada Allah yang begitu besar. Inilah yang membuat Paulus begitu tenang dan melakukannya bukan dengan hikmatnya sendiri tetapi hikmat yang dari Allah. Saat ia hendak di dera oleh para tentara Roma, ia masih mampu untuk menyatakan haknya. Dalam ayat 25 sesungguhnya ia ingin berkata, “Saya adalah warga negara Roma, Anda tidak berhak untuk menghukum saya tanpa proses peradilan. Saya bisa menuntut Anda.”
Sahabat Alkitab, situasi-situasi sulit dan genting bisa membuat kita begitu kacau, kalut, sampai melakukan tindakan yang tidak lagi terkontrol. Jika sudah seperti itu maka mudah sekali bagi orang-orang atau si jahat untuk menghancurkan iman dan hidup kita. Tetapi syukur kepada Allah, dalam situasi yang begitu tidak pasti di mana badai kehidupan melanda, kita diberikannya pegangan dan sandaran yang aman dan pasti. Jika kita berseru dalam nama-Nya, Allah akan hadir memberikan ketenangan batin dan pertolongan bagi kita. Allah akan menghantarkan kita berlayar melewati badai-badai itu hingga kita dapat sampai ke tepian dengan selamat. Di sana kita akan melihat bahwa Tuhanlah satu-satunya tempat perlindungan yang aman.
Selamat Beribadah. Bersandarlah kepada Tuhan, dan bukan kepada pengertian kita sendiri. Allah dalam hikmat-Nya yang akan membela kita dalam segala perkara. Memampukan kita untuk berpikir, berkata dan bertindak benar dalam situasi yang sulit.
Sharing sedikit, hari ini saya dan rekan saya “@sprocskryntha” di utus mewakili Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) untuk menghadiri “All Saints Outreach Seminar” di Gereja Anglikan Indonesia. Ada 19 perwakilan Lembaga Kristiani yang ikut juga dalam seminar ini.
Lembaga yang hadirpun beragam ada yang fokus kepada penerjemahan Alkitab bahasa suku, bantuan kepada korban pasca bencana, perlindungan anak, pelayanan kampus dan masih banyak lagi.
Melalui seminar ini saya sadar bahwa ladang pelayanan ini sangat luas sekali. Misi Allah terlalu besar, luas dan sulit tanpa kerjasama yang efektif umat Allah. Kemitraan menjadi hal yang penting untuk dapat menghadirkan Kerajaan Allah dalam dunia ini. Kita tidak bisa bergerak sendiri kita perlu untuk saling menopang dan bergandengan satu sama lain untuk mewujudkannya.
Berkembangnya Kerajaan Allah seharusnya dipahami sebagai tiadanya permasalahan yang ditimbulkan akibat perbedaan SARA, kelas ekonomi. Perbedaan itu seharusnya menjadi komponen-komponen yang menyatukan tubuh Kristus untuk bekerja bersama-sama bagi Kerajaan Allah. Salam Alkitab Untuk Semua.