Sebuah upaya untuk menemukan orang-orang yang telah dipilih oleh Allah dalam fakta sejarah keselamatan, itulah yang harus terus kita kerjakan.
Paulus memiliki keyakinan bahwa Yesus itu adalah Kristus yang telah mati dan yang telah bangkit. Itulah Kabar Baik yang ia terus beritakan agar semakin banyak orang mendengarnya dan menjadi percaya, yaitu mereka yang telah dipilih oleh Allah sebelumnya untuk diselamatkan. Paulus sendiri telah mengalami keselamatan itu, karena itu ia tidak peduli dengan penderitaan yang ia alami demi memberitakan Injil.
Sahabat Alkitab, adakah kita juga memiliki kesadaran dan keyakinan yang sama dengan Paulus bahwa keselamatan yang telah kita terima dari berita Injil yang telah kita dengar, harus diteruskan kepada orang lain juga? Jika kita menyadari betapa pentingnya Injil itu dan bahwa kasih karunia Allah cukup untuk menjangkau semua orang, maka sudah sepantasnya kita tidak pernah berhenti untuk memberitakannya. Dan karena ada begitu banyak orang di luar sana merindukan kasih karunia dan keselamatan dari Allah. Tantangan dalam memberitakan Injil sudah pasti ada, bahkan mungkin sangat berat, namun seberapapun beratnya itu, firman Allah tidak dapat dibatasi. Hikmat dan kuasa Allah akan menyertai pemberita dan berita Injil itu.
Selamat Pagi. Beritakanlah baik atau tidak baik waktunya, dengan tulus seperti merpati namun tetap cerdik seperti ular.
Jumat sore (24 Agustus 2018) saya turut serta bersilaturahmi dengan Presiden Joko Widodo di Graha Oikoumene Jl Salemba 10 Jakarta Pusat. Pertemuan ini adalah bagian dari keinginan Presiden untuk mengunjungi kantor PGI dan bertemu dengan pimpinan PGI, pimpinan Gereja aras nasional dan mitra-mitra PGI. LAI bagian dari mitra PGI. Saat beliau masuk ke ruang pertemuan saya bersalaman dan saya mengucapkan “Selamat datang Pak Presiden.” Dan beliau tersenyum, menatap mata saya dengan ramah serta menggegam erat tangan saya.
Sesudah acara sambutan Ketua PGI, presentasi Pak Presiden, tanya jawab singkat, dan berdoa bersama, acara dilanjutkan dengan sessi foto bersama yang berlangsung sangat heboh. Semua peserta yang mayoritas para pendeta, berjumlah 250an, merangsek ke depan mendekat kepada Presiden dan berdesakan mengambil posisi agar masuk dalam jangkauan kamera. Dua menteri yang ikut dalam kunjungan ini (Mensekkab – Pramono Anung dan Mensesneg – Pratikno) masing-masing menjadi pengatur posisi, dan menjadi juru foto dengan menggunakan kamera HP beliau.
Isi pertemuan sangat berbobot. Semua aspirasi gereja-gereja sudah disampaikan oleh pimpinan PGI dalam pertemuan tertutup selama 30 menit, dan juga disampaikan dalam sambutan Ketua PGI di pertemuan bersama seluruh peserta. Presiden memberikan paparan dengan pertama-tama mengingatkan tentang betapa besarnya negara Indonesia yang memiliki bentangan yang sangat luas, 17.000 pulau, 721 suku bangsa, 1.100 bahasa dan berpenduduk 263 Juta orang. Berikutnya beliau memaparkan hasil-hasil kerja demi keadilan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Beliau juga menyampaikan masih banyak PR yang harus dikerjakan demi kejayaan Indonesia. Disampaikan juga bahwa fokus kerja berikutnya adalah pengembangan sumberdaya manusia Indonesia.
Presiden juga menyampaikan tentang keberadaan masyarakat yang bermacam-macam, ada yang “Lunak. Moderat, Ekstrem dan Keras.” Beliau mengatakan: “Kita biarkan yang lunak dan moderat, dan kita upayakan agar yang ekstrem dan keras menjadi lunak serta moderat.” Akhirnya beliau mengingatkan tentang pentingnya kewaspadaan terhadap Media Sosial. “Saya ini sudah ‘ndableg’ dengan berbagai ‘bully’ yang saya alami bertubi-tubi. Bahkan soal naik sepeda motor pada pembukaan Asian Games-pun saya juga dibully,” ungkapnya sambil tersenyum. Beliau mengingatkan agar Gereja-gereja dapat ikut serta aktif menjadi pengendali penggunaan media sosial yang positif.
Bagi saya yang mewakili Lembaga Alkitab Indonesia, kesempatan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga secara ideologis dan praktis. Secara ideologis, LAI berada pada posisi yang sama dengan Gereja-gereja di Indonesia, yakni konsisten mendukung dan setia kepada Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Tentu saja kehadiran saya merupakan bentuk dukungan simbolik sekaligus konkret dalam perjuangan menegakkan empat pilar kebangsaan di atas.
Secara praktis, kehadiran saya di forum ini memberikan manfaat pasti dan konkret terhadap LAI. Setidaknya ada empat manfaat karena bisa bertemu dan berdiskusi dengan beberapa pihak, yaitu: (1) LAI mendapatkan pengkinian data para pemimpin Gereja-gereja anggota PGI dan Gereja aras nasional serta mitra PGI yang hadir, (2) LAI mendapatkan peluang pesanan Alkitab khusus untuk ulang tahun ke-70 salah satu Sinode Gereja, (3) LAI mendapatkan peluang membantu Pengurus Pusat PWKI dalam meningkatkan kecintaan terhadap Alkitab, dan (4) LAI mendapatkan janji bantuan dari salah satu Komisaris BUMN serta penegasan akan ada bantuan dari Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI.
Tentulah LAI juga mendapatkan manfaat “intangible” yang sangat berguna yaitu penguatan jejaring dengan Gereja-gereja di Indonesia. Hal ini sangat penting agar sinergi LAI dengan Gereja-gereja di seluruh Indonesia semakin kuat.
Dapat bertemu dengan Presiden sebuah negara besar seperti Indonesia adalah suatu anugerah tersendiri. Betapa tidak, hanya sedikit orang dari 263 juta orang penduduk Indonesia yang memiliki kesempatan untuk bertemu, bersalaman, bertatap muka dan diberikan senyuman hangat oleh Presiden negerinya. Juga dapat merasakan langsung kesederhanaannya, kerendahan hatinya, keterus-terangannya dan kejenakaannya. Lebih-lebih turut bersama-sama mendukung penyampaian aspirasi dan keprihatinan Gereja-gereja di Indonesia, dan turut mendoakan Presiden secara langsung untuk kejayaan Indonesia.
Saat Presiden Joko Widodo bergegas meninggalkan ruang pertemuan sambil menyalami satu persatu peserta, tiba giliran saya menyalami beliau, saya pegang erat tangan beliau sambil berkata: “Terima kasih Pak Presiden, saya Sigit dari Lembaga Alkitab Indonesia.” Saya tersenyum lebar dan dibalas dengan senyuman serta tatapan mata beliau yang sangat ramah, sambil mengucapkan: “ya, ya, ya.” Setidaknya dengan peristiwa ini Presiden Jokowi sudah kenal LAI.
Sore hari damai di hati. Memiliki makna tersendiri. Silaturahmi dengan Presiden Jokowi. Memberi harap kejayaan negeri. Salam Alkitab Untuk Semua.
“Terus fokus satu titik, hanya itu, titik itu, tetap fokus kita kejar, dan raih bintang.”
Menjadi pengikut Kristus berarti harus turut menderita seperti Kristus, dengan tidak lagi mementingkan diri sendiri dan sibuk dengan urusan sendiri (4), mengikuti aturan main yang Tuhan tetapkan (5), dan melakukannya dengan penuh kerja keras (6), barulah kita dapat menikmati hasil yang telah Tuhan sediakan. Paulus ingin agar Timotius fokus dengan itu semua seperti seorang prajurit, olahragawan, dan petani.
Sahabat Alkitab, menjalani hidup itu berbicara tentang tujuan hidup. Tujuan Tuhan menciptakan dan menyelamatkan kita satu-satunya adalah untuk menyenangkan-Nya, tidak ada tujuan lain. Maka jika kita telah menjadikan itu sebagai benar-benar tujuan kita, tidak ada lagi yang dapat mengganggu dan mengalihkan perhatian kita. Kita akan belajar untuk menyenangkannya, bekerja untuk menyenangkannya, melayani untuk menyenangkannya, menikah untuk menyenangkannya, makan dan minum untuk menyenangkannya, berpikir, berbicara, dan melakukan apapun untuk menyenangkannya, tidak ada lagi kesenangan diri sendiri sebagai tujuan kita. Segala hal lain yang “menyenangkan” diri kita akan diberikan-Nya sebagai hadiah dari kerja keras, ketekuanan, dan kesetiaan kita dalam menggenapi tujuan-Nya.
Selamat Pagi. Hari ini adalah kesembatan baru yang diberikan Tuhan untuk menyenangkan-Nya. Kerjakanlah! Sebab besok kesempatan itu belum tentu datang.
Jika melihat seorang terjatuh, hal yang pantas untuk dilakukan adalah menghampirinya, mengangkatnya, dan menuntunnya untuk kembali berjalan, bukan melihat, menceritakan dan menertawakan kejatuhannya, apalagi meninggalkannya.
Dalam penjara, Paulus menulis suratnya dengan menceritakan pengalaman ditinggalkan oleh orang-orang yang ia layani dan yang melayani bersama dengan dia. Dia ditinggalkan oleh mereka yang dianggapnya sebagai sahabat justru saat dimana ia sangat membutuhkan support dari mereka (15). Alasannya mungkin karena malu atau karena takut dipenjara seperti Paulus. Namun ada satu yang tidak meninggalkannya dan tidak malu dengan keadaannya, yaitu Onesiforus dan keluarganya.
Sahabat Alkitab, siapapun tidak ingin mengalami yang dialami oleh Paulus, ditinggalkan oleh orang terdekat dan yang dipercaya saat kehadiran mereka justru paling dibutuhkan. Mengingat kebelakang, mungkin kita pernah mengalaminya juga, entah pada posisi Paulus yang ditinggalkan atau dalam posisi sebagai yang meninggalkan. Dari kisah ini kita diajarkan betapa keberadaan seorang teman atau sahabat adalah keberadaan yang dapat memberikan sukacita dan kekuatan bagi mereka yang lemah. Sudah sepantasnyalah yang kuat menolong yang lemah, yang benar menuntun yang tersesat dan kehilangan arah. Yesus mengajarkan kita untuk tidak meninggalkan seorang pun melalui doa untuk murid-murid-Nya (Yoh. 18:9), sebab meninggalkan mereka yang membutuhkan kita sama dengan menginginkan kebinasaan mereka.
Selamat Beribadah. Marilah kita berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan kepada sesama dengan menolong dan menguatkan mereka, agar bersama-sama kita beribadah dan memuliakan Allah.
“Asal Tuhan beserta, berada di ujung bahayapun tidak mengapa. Jika Tuhan tidak beserta, berbaring disinggasanapun aku enggan.”
Paulus mengatakan bahwa dirinya mengalami penderitaan dalam memberitakan Kabar Baik, namun dalam penderitaan itu ia tetap percaya kepada Tuhan, imannya sedikitpun tidak goyah. Karena dalam pengalaman imannya ia tahu siapa Allah yang dia percayai, yaitu Allah yang akan dan selalu sanggup menjaga apa yang telah dipercayakan-Nya kepada Paulus sampai Hari Kiamat.
Sahabat Alkitab, setiap orang harus mengalami pengalaman beriman bersama dengan Allah yang sudah pasti tidak sama untuk setiap orang. Pengalaman-pengalaman inilah yang harus kita bagikan kepada orang-orang, bukan supaya mereka mengalami hal yang sama persis dengan kita, melainkan agar mereka dapat memetik makna dan nilai-nilai dari situ dan mengambilnya menjadi pelajaran berharga. Yang pada akhirnya akan membawa mereka untuk semakin rindu mengalami pengalaman pribadi bersama dengan Allah dan mengalami pertumbuhan iman karenanya.
Selamat Pagi. Carilah Allah selama Ia berkenan untuk ditemui, karena tidak ada perjumpaan yang paling berharga selain berjumpa dengan Dia.
Selasa malam (21 Agutus 2018) saya menjadi pembicara di sebuah forum diskusi yang pesertanya kaum Bapak Kristiani di sebuah permukiman Kota Bekasi. Forum diskusi ini bernama Persekutuan Doa Kaum Bapak (PDKB) yang keberadaannya sama sekali tidak berhubungan dengan partai politik di masa lalu (meski memiliki singkatan yang sama).
Kegiatan PDKB berfokus pada diskusi bulanan dengan topik-topik yang berhubungan dengan iman Kristiani dan dengan semangat oikoumene, karena anggotanya berasal dari latar belakang gereja yang beraneka ragam. Berdasarkan kesepakatan dengan pengurus PDKB, selasa malam itu saya membawakan topik Bible Life Cycle yang tentu berhubungan dengan keberadaan layanan Lembaga Alkitab Indonesia.
Sesuai dengan siklus yang menjadi pedoman kerja lembaga-lembaga Alkitab yang tergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab Dunia (United Bible Societies), ada enam tahapan aktivitas yang tidak terputus: (1) Penerjemahan Alkitab, (2) Penerbitan Alkitab, (3) Penyebaran Alkitab, (4) Upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat, (5) Advokasi berbasis Alkitab, dan (6) Pelayanan serta kesaksian Alkitab.
Lembaga Alkitab Indonesia yang sudah berusia 64 tahun di Indonesia menjalankan keenam tahapan aktivitas di atas yang selalu bermitra dengan gereja-gereja interdenominasi dan interkonfesi di Indonesia. Seluruh sinode Gereja Kristen di Indonesia (yang menurut data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama RI ada 323 Sinode Gereja), bersama dengan umat Katolik di Indonesia semuanya menggunakan Alkitab terbitan LAI. Umat Katolik di Indonesia menggunakan Alkitab terbitan LAI oleh karena sejak 1968 proses penerjemahan Alkitab di Indonesia dilakukan bersama-sama oleh seluruh ahli penerjemahan Alkitab Gereja Kristen Protestan dan Gereja Katolik.
Dari tanya jawab, diskusi dan ramah tamah yang berlangsung sampai pukul 23.50 WIB tampak pemahaman mayoritas peserta diskusi terhadap LAI masih sangat terbatas. Bahkan ada satu bapak yang setengah bergurau mengungkapkan kalimat demikian: “Saya pikir selama ini LAI itu punya HKBP.” Saya menjawab bahwa LAI adalah milik semua Gereja di Indonesia, karena semua produk LAI ditujukan untuk membantu seluruh Gereja. Setelah berdiskusi soal penerjemahan, Bapak ini juga menyadari bahwa HKBP selama ini memakai terbitan Alkitab terjemahan bahasa Batak Toba yang sudah berusia sangat tua. Ini berarti HKBP membutuhkan revisi terjemahan Alkitab agar bahasanya dapat lebih dipahami oleh generasi muda.
Sejalan perubahan jaman, terjemahan Alkitab memang membutuhkan revisi secara periodik dari waktu ke waktu. Lazimnya setiap 30-50 tahun terjemahan Alkitab diterbitkan, sudah banyak perubahan yang menuntut adanya revisi terjemahan Alkitab. Ada beberapa alasan mengapa terjemahan Alkitab perlu direvisi, sebagai contoh Alkitab TB (Terjemahan Baru) yang terbit tahun 1974 perlu direvisi. karena: (1) Adanya perkembangan dalam bahasa Indonesia. Ada kata-kata yang sudah usang, berubah arti, kata-kata baru. (2) Adanya perkembangan penelitian teks sumber (Ibrani, Aram, Yunani). Ada penemuan-penemuan baru yang memberikan penguatan kepada metode terjemahan Alkitab. (3) Adanya perkembangan ilmu tafsir (exegese), dan (4) Adanya perkembangan ilmu penerjemahan (science of translating).
Setelah diskusi dan dialog intensif peserta diskusi banyak memberikan masukan dan mengungkapkan ekspektasi yang tinggi terhadap LAI. Misalnya tentang pentingnya LAI mengkomunikasikan lebih gencar kepada gereja-gereja agar lebih banyak umat yang paham tentang berbagai program LAI. Juga masukan tentang pentingnya lebih menjabarkan informasi tentang berbagai pembiayaan yang dibutuhkan agar semakin banyak pihak yang terpanggil mendoakan, mewartakan dan mendonasikan berkat-berkatnya.
Karena Bapak-bapak ini memiliki profesi yang bermacam-macam maka masukan-masukannya untuk LAI sangatlah komprehensif. Mereka juga mengungkapkan ekspektasinya terhadap LAI yang cukup tinggi mengingat keseharian mereka terbiasa dengan standar profesionalisme yang tinggi. Sangat bersyukur dalam 64 tahun pelayanan LAI di Indonesia semua prinsip profesionalisme sudah diterapkan dengan prima. Salah satu tandanya adalah LAI sudah memiliki sertifikat ISO 9000 : 2001, ISO 9001 : 2008 dan sedang berproses dengan ISO 9001 : 2015.
Dengan pemahaman yang lengkap terhadap Bible Life Cycle dan keberadaan LAI, para anggota PDKB yang memiliki jaringan sangat luas ini berpotensi untuk menggerakkan jaringannya dalam mendukung mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Ekspektasi tinggi dibayar dengan dukungan yang tinggi terhadap LAI, sangatlah impas.
Salam Alkitab Untuk Semua.
Aku berkata, “Engkaulah Tuhanku, kebahagiaanku, tak ada yang melebihi Engkau!”
Berada di dalam penjara tentu merupakan hal yang sangat memalukan, jika itu akibat dari perbuatan jahat. Saat menulis suratnya ini, Paulus adalah seorang tawanan, bukan karena perbuatan jahat namun karena kesaksian dan berita Injil yang selalu diwartakannya. Paulus meminta kepada Timotius agar tidak malu karena status Paulus itu, sebab ia tidak melakukan yang jahat di mata Allah, sebaliknya ia meminta Timotius agar meminta kekuatan kepada Tuhan sekalipun harus mengalami hal yang sama, juga jangan malu untuk memberitakan tentang Kristus.
Sahabat Alkitab, adakah diantara kita yang pernah merasa malu karena menyembah kepada Yesus Kristus? Atau pernahkah dalam hidup Anda, Tuhan mempermalukan Anda saat Anda hidup dalam kebenaran-Nya? Sebuah pujian yang disadur dari Mazmur Asaf (Mzm. 73:25-26) berkata, “Selain Kau tiada yang lain, ada padaku di surga. Selain Kau tiada yang lain, yang kuingini di bumi, yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku, habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” merupakan suatu ungkapan bahwa kebanggaan satu-satunya adalah Allah dan ia tidak malu karena itu. Mazmur itu merupakan ungkapan yang sangat jujur dari penulis akan keberadaan Allah dalam hidupnya. Sekalipun dalam keseharian ia melihat orang jahat hidup dalam kenyamanan, sehat, dan seperti tanpa masalah sementara dirinya berada pada posisi sebaliknya. Jangan pernah malu karena Allah, melainkan berbanggalah dan bermegahlah karena Dia, dan jangan pernah berhenti memberitakan nama-Nya.
Selamat Pagi. Jangan pernah malu karena Tuhan dan karena kebenaran yang Anda nyatakan, sebaliknya malulah jika Anda tidak hidup di dalam Dia.
Orang baik dikenang karena kebaikannya, orang jujur dikenang karena kejujurannya. Hiduplah sama seperti apa Anda ingin dikenang.
Ingatan Paulus terhadap Timotius begitu kuat sehingga ia menyebutnya sebagai “anakku yang tercinta”. Ungkapan ini menunjukkan betapa Timotius begitu dikasihi dan dalam setiap ingatan akan dia mengalir ucapan syukur kepada Allah. Apa yang Paulus ingat dari Timotius adalah kesedihan hati yang dirasakan oleh Timotius, juga akan imannya kepada Kristus.
Sahabat Alkitab, sukacita dan syukur yang dinaikkan kepada Allah setiap kali Paulus mengingat Timotius tentu saja karena Timotius telah menorehkan sesuatu yang baik dalam masa-masa bersama dengan Paulus. Setiap kita juga pasti menorehkan banyak kenangan dalam ingatan orang-orang yang dekat dan yang kita kasihi, sebaliknya mereka juga menorehkan kenangan dalam diri kita. Kenangan itu bisa berupa hal yang baik, menyenangkan, yang membawa sukacita, atau yang menyedihkan, melukai hati, atau yang menakutkan. Semua bergantung pada apa yang telah kita lakukan terhadap orang lain. Jika kita ingin kenangan akan diri kita menyukacitakan orang lain maka lakukanlah hal yang baik. Kenangan yang indah itu tidak saja akan berdampak dalam diri kita tetapi mungkin saja akan berdampak juga kepada keturunan-keturunan kita. Jika tidak dapat menorehkan yang baik, paling tidak jangan pernah menorehkan luka.
Selamat Pagi. Marilah kita hidup dengan cara yang baik dan torehkanlah kebaikan itu dalam hidup orang lain, yang membuat orang lain dapat tersenyum sekalipun kita telah tidak ada lagi.
Jika ada sesuatu yang tidak mudah untuk didapatkan, sulit untuk dipertahankan, dan hampir tidak mungkin didapatkan lagi jika telah hilang, maka kepercayaan adalah satu diantaranya.
Ada banyak hal yang telah dipercayakan kepada Timotius, baik oleh para nabi, oleh rasul Paulus sendiri, maupun oleh jemaat yang ia layani. Karunia, keteladanan, ajaran yang benar, kepemimpinan, adalah beberapa diantaranya. Timotius harus menjaganya dengan sekuat tenaga karena sedikit saja kesalahan akan menghancurkan semuanya, baik itu dirinya, ajarannya, maupun jemaat yang ia pimpin sekaligus layani. Membangun itu kembali akan sama sulitnya dengan menggenggam air.
Sahabat Alkitab, dari kesaksian hidup dan pelayanan Paulus serta pengajaran yang diberikannya membawa kita untuk belajar “Menjadi Mitra Allah Yang Terpercaya”, ini sama dengan tema kerja LAI di tahun 2018. Semua manusia hakekatnya adalah pekerja dan pelayan Allah, namun diangkat menjadi mitra yang seolah-olah memiliki kedudukan yang sama dengan-Nya adalah sebuah anugerah yang sangat besar. Kepada kita dinyatakan rahasia Allah, lalu dianggapnya sebagai sahabat, diberikan-Nya berbagai karunia dan talenta, merupakan bagian dari kepercayaan yang Allah berikan kepada kita sebagai mitra-Nya yang tidak semua orang menerimanya. Karena itu haruslah kita sungguh-sungguh bekerja dan berjuang menjaga semuanya itu.
Selamat Pagi. Apapun yang dipercayakan kepada kita hari ini maka kerjakanlah itu dengan sungguh-sungguh dan tidak bersungut-sungut.
Untuk menjadi lebih baik tentu memerlukan proses, dan itu mungkin berarti harus melewati dan atau mengalami apa yang dianggap tidak baik, itulah tantangan.
Paulus menekankan beberapa pesan kepada Timotius; “Berusahalah menjadi orang benar di mata Allah”, “Berjuanglah sungguh-sungguh untuk hidup sebagai orang Kristen…”, dan “Taatilah semua perintah itu secara murni dan tanpa cela…” Tiga kalimat kerja itu menunjukkan bagaimana kerasnya Timotius harus berjuang dan hidup sebagai seorang Kristen dan sekaligus sebagai pemimpin. Sebab jika tidak demikian, maka mungkin saja ia terjatuh dengan mengikuti ajaran palsu atau gaya hidup materialistis orang Efesus. Timotius harus benar-benar dapat menunjukkan bahwa ia adalah seorang Kristen dan pemimpin yang baik kepada jemaat Efesus, dan juga menunjukkan kepada “dunia” Efesus bahwa komunitas yang baru ini hidup dengan cara yang benar dan berkenan sesuai dengan ajaran yang mereka terima.
Sahabat Alkitab, di dalam diri kita melekat identitas sebagai seorang Kristen yang menggerakkan kita untuk hidup sesuai dengan kehendak Kristus, karena memang begitulah sejatinya seorang pengikut atau murid. Karena itu kita tidak dapat lagi hidup sebagaimana yang kita mau melainkan seperti yang Kristus mau. Sebab keberadaan kita dan segala yang kita kerjakan akan dilihat oleh semua orang yang tidak hanya merindukan kehadiran Kristus dalam hidup mereka tetapi juga yang membenci Kristus. Jika hidup kita tidak mencerminkan Kristus, maka mereka yang menantikan-Nya mungkin saja menjadi kecewa dan undur, dan mereka yang membenci-Nya akan semakin jauh dari anugerah-Nya karena kelemahan yang kita tampilkan.
Selamat Pagi. Marilah kita terus berusaha dan berjuang sungguh-sungguh dalam mentati kehendak Allah bagi kita.