LAI Bukan Peminta Tapi Justru Membantu Gereja

“Selama ini kalau kami datang ke gereja-gereja seringkali dianggap hanya minta bantuan,” kata salah satu staf di kantor   Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) Perwakilan Medan. Akibat dari anggapan tersebut kebanggaan diri sebagai bagian dari LAI menjadi berkurang, dan semangat untuk menjalin kemitraan dengan gereja-gereja juga ikut terkendala.

Lembaga Alkitab Indonesia yang berdiri sejak 64 tahun yang lalu sungguh-sungguh demi menjalankan mandatnya dalam membantu gereja-gereja dalam hal menyediakan terjemahan Alkitab, penerbitan Alkitab, penyebaran Alkitab, dan mengupayakan keterbacaan Alkitab bagi umat di Indonesia. Dalam  menjalankan mandat ini, tentu LAI harus bermitra dengan semua gereja di Indonesia yang notabene pemberi mandat tersebut.

Bahwa belum semua umat di Indonesia memahami mandat dan tugas LAI, itu adalah PR bersama semua pemangku kepentingan LAI.  Bila sosialisasi visi-misi dan program-program LAI ke gereja-gereja selama ini membawa kesan “minta bantuan” sebenarnya tidaklah mengagetkan. Namun bila kalangan gereja menganggap LAI semata-mata hanya “minta bantuan”, hal itu yang harus diluruskan.

Saya secara khusus mendorong agar semua tim di LAI memusatkan diri dan selalu mengedepankan narasi “semangat membantu gereja”. Saya selalu tegaskan: “Kalau bertemu dengan Majelis Jemaat, Penatua, Diaken, Syamas dan semua aktivis gereja, katakanlah LAI datang dalam rangka membantu gereja.”

Banyak hal yang dapat ditawarkan kepada gereja sebagai bentuk bantuan riil dari LAI: (1) karya-karya terjemahan Alkitab yang sudah mencapai 34 Alkitab utuh (PL dan PB), 79 PB, dan ratusan porsion Alkitab, (2) berbagai bentuk Alkitab baik cetak dengan logo khusus maupun bentuk digital, (3) penyebaran Alkitab ke pelosok negeri, (4) Perpustakaan Biblika sebagai sumber referensi lengkap, (5) Museum Alkitab yang menyediakan artefak sejarah penerjemahan dan benda-benda yang disebutkan dalam Alkitab, (6) Percetakan Alkitab terbesar di Asia Tenggara, (7) Bible House dengan koleksi Alkitab terlengkap di Indonesia, serta (8) Bible School dengan paket-paket pembelajaran A sampai Z yang berhubungan dengan Alkitab.

Semangat LAI membantu gereja akan membangun pemahaman bahwa LAI selalu siap “memberi” bukan hanya meminta. Dan kalaupun LAI meminta, sungguh-sungguh karena LAI membutuhkan dukungan gereja dalam hal DWD – Doakankan LAI, Wartakanlah semua program-program LAI dan Donasikanlah rejeki untuk membantu saudara-saudara di pelosok negeri yang belum mampu membeli Alkitab.

Sebagai lembaga Nirlaba, LAI harus terus membangkan socialpreunership, dimana inovasi dan berbagai terobosan terus digalakkan demi memperluas dukungan dan tetap menjaga kredibilitas dan integritas lembaga. LAI akan terus mempertanggungjawaban semua programnya dengan profesional demi menjaga kepercayaan yang diberikan semua pihak.

LAI akan terus membantu gereja, dan bila gereja merasakan bantuan riil LAI, pastilah gereja juga akan membantu LAI. Bukankah saling membantu adalah ekspresi kasih yang nyata sebagai anak-anak Tuhan.

Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Netralitas Lembaga Alkitab Indonesia

 

(1) Lembaga Alkitab Indonesia memiliki empat tugas utama, yaitu; Menerjemahkan, memproduksi, menerbitkan dan menyebarkan Alkitab dan bagian-bagiannya ke dalam sebanyak mungkin bahasa, dalam beragam bentuk dan media, bagi semua umat di Indonesia.

(2) Penerjemahan yang dilaksanakan oleh LAI selalu setia kepada bahasa asli Alkitab: bahasa Ibrani dan Aram (Perjanjian Lama), serta bahasa Yunani (Perjanjian Baru).

(3) Dalam setiap pekerjaan penerjemahan dan revisi penerjemahan Alkitab, LAI selalu bekerjasama dengan gereja-gereja, baik sebagai individu maupun sebagai sebuah lembaga. Namun demikian LAI tidak berafiliasi kepada doktrin atau ajaran gereja tertentu.

(4) Bahasa manusia berkembang terus dari waktu ke waktu, ada kata-kata yang berubah makna, ada kata-kata yang tidak digunakan lagi, dan ada kata-kata baru yang bertambah. Oleh karenanya terjemahan Alkitab perlu diperbarui (direvisi) untuk setiap generasi.

(5) Alkitab terbitan LAI sejak berdirinya 1954 (64 tahun lalu) sudah digunakan oleh gereja-gereja dari berbagai interdenominasi di Indonesia, termasuk Katolik.

(6) LAI memiliki aset berupa SDM, Percetakan Alkitab, Museum Alkitab, Perpustakaan Biblika, Gedung Pusat Alkitab, Bible House, Bible School dan “kepercayaan” dari gereja-gereja di Indonesia serta 146 lembaga alkitab anggota United Bible Societies (UBS) yang berpusat di London UK.

(7) Banyak sekali pihak baik individu, kelompok, maupun lembaga dari berbagai kalangan sudah menggunakan aset-aset LAI sesuai dengan kebutuhan mereka tanpa mengganggu kepentingan dan keberadaan LAI, bahkan saling menguntungkan.

(8) Sudah ribuan anak-anak berkunjung dan berinteraksi dengan LAI, tetapi terjemahan LAI tidak kekanak-kanakan. Sudah ribuan perempuan berkunjung dan berinteraksi dengan LAI, tetapi terjemahan LAI tidak condong kepada gerakan feminisme. Sudah ribuan kaum bapak berkunjung dan berinteraksi dengan LAI, tetapi terjemahan LAI tidak maskulin. Pendeknya dalam interaksi dengan siapa pun, terjemahan LAI hanya tunduk kepada makna yang terkandung dalam bahasa-bahasa asli Alkitab.

(9) Secara khusus penggunaan ruangan di Gedung Pusat Alkitab sangat terbuka bagi gereja mana pun sepanjang memiliki izin sebagai lembaga gereja dan bukan pelaku pelanggar hukum. Pengguna gedung tidak ada kaitannya sama sekali dengan penerjemahan, produksi dan penerbitan, penyebaran dan keterbacaan Alkitab bagi umat di Indonesia.

(10) LAI selalu mengupayakan dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati untuk melayani gereja-gereja di Indonesia tanpa memihak kepada doktrin atau ajaran gereja tertentu.

Jakarta, 21 Mei 2018.
Salam Alkitab Untuk Semua

Sigit Triyono ( Sekum LAI)

Gerakan DWD LAI

 

Hari minggu adalah hari presentasi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) ke gereja-gereja oleh pengurus, dan atau staf, serta para mitra KKPDnya. KKPD – Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan LAI. Yang dipresentasikan lazimnya adalah laporan dan ucapan terima kasih atas semua dukungan dari anggota jemaat terhadap program-program LAI tahun lalu.

Mengapa perlu presentasi? Ini adalah salah satu bentuk pertanggungjawaban LAI terhadap semua jemaat sebagai mitra yang sudah mendukung program-program penerjemahan, penerbitan, penyebaran dan keterbacaan Alkitab ke seluruh negeri. Sejak keberadaannya 9 Februari 1954, kemitraan dengan semua Gereja-gereja dan umat kristiani adalah bagian tak terpisahkan dari nafas dan langkah pelayanan LAI.

Presentasi LAI ke gereja-gereja sekaligus adalah cara sosialisasi tugas dan tanggung jawab pelayanan LAI bersama gereja-gereja. Survei internal LAI menunjukkan pengetahuan dan kesadaran anggota jemaat gereja di seluruh Indonesia terhadap LAI masih sangat rendah, di bawah 40%. Ternyata keberadaan 64 tahun LAI di Indonesia bukan jaminan “dikenal” apalagi “disayang” oleh warga jemaat.

Pada umumnya Majelis Gereja memberikan waktu presentasi kepada LAI di dalam kebaktian tidak lebih dari 5 menit. Standar yang biasa dilakukan oleh presenter LAI adalah: (1) Ucapan salam, dan perkenalan singkat identitas presenter (0,5 menit), (2) Memutar video pendek tentang antusiasme warga di pelosok negeri yang sudah mendapatkan bantuan Alkitab (3 menit), serta (3) Menyampaikan penekanan ucapan terima kasih, sekilas tugas utama LAI, program-program LAI tahun ini, dan mohon dukungan terhadap gerakan DWD LAI (1,5 menit).

DWD adalah:
(1) D – Doakan. LAI adalah alat Tuhan untuk menjalankan tugas bersama gereja-gereja dalam hal: penerjemahan Alkitab (ke dalam berbagai bahasa daerah), penerbitan (dalam bentuk cetak dan digital), penyebaran (ke kota-kota, desa-desa, dan ke seluruh daerah pelosok terpencil) serta keterbacaan Alkitab (dengan Pemberantasan Buta Aksara, Huruf Braille, Alkitab Suara). Tugas yang begitu besar, luas dan dalam durasi waktu yang tidak terbatas sangat membutuhkan doa seluruh anggota jemaat di manapun dan kapanpun. LAI berharap minimal di setiap doa syafaat gereja dapat menyelipkan doa untuk tugas dan pelayanan LAI. Dampak doa pastilah dahsyat.
(2) W – Wartakan. Mewartakan keberadaan LAI dengan berbagai program-program yang dijalankan akan sangat menolong LAI. Semakin banyak diwartakan akan semakin banyak umat mengenal LAI. Dengan perkenalan terhadap keberadaan LAI, maka akan tumbuh rasa sayang dan akan mendukung semua pelayanan LAI.
(3) D – Donasikan. Pada akhirnya semua program layanan di bidang Alkitab membutuhkan pembiayaan yang tidak sedikit. Sebagai lembaga nirlaba LAI memiliki harapan yang sangat besar terhadap individu, kelompok, lembaga, dan bahkan pemerintah untuk mendonasikan sebagian pendapatannya untuk mendukung layanan LAI. Semua donasi akan dipertanggungjawabkan penggunaannya dengan transparan, akuntabel dan profesional sesuai Standar Akutansi Indonesia.

Di samping menyampaikan gerakan DWD di atas, LAI juga menawarkan bantuan terhadap gereja-gereja di bidang yang berhubungan dengan Alkitab. LAI bisa mendukung tiap gereja yang memiliki program “pekan atau bulan Misi” dengan aksi yang berhubungan dengan Alkitab. LAI juga dapat mendukung gereja yang sedang berulang tahun untuk menerbitkan Alkitab edisi ulang tahun gereja. LAI juga dapat mendukung gereja untuk menerbitkan Alkitab edisi kelahiran, Baptis, Sidhi, Pernikahan dan atau ulang tahun pernikahan anggota jemaat.

Bahkan dalam pelaksanaan kebaktian gereja, LAI menyediakan diri untuk mengisi sebagai “pelayan firman” dalam momen-momen khusus yang berhubungan dengan “pentingnya membaca Alkitab bagi jemaat”. LAI juga siap membantu gereja sebagai narasumber tentang “penerjemahan Alkitab” dan berbagai isu yang berhubungan dengan Alkitab.
LAI juga memiliki kelompok Vokal “Trio ALUS” dan “VG Selaras” yang siap dipanggil gereja-gereja untuk mengisi acara-acara perayaan gerejawi. Di Perwakilan LAI Jayapura “VG Bible Voice” siap melayani gereja-gereja di Kota Jayapura dan sekitarnya.

Di Gedung Pusat Alkitab (GPA) Jalan Salemba 12 Jakarta Pusat LAI memiliki Museum Alkitab, Perpustakaan Biblika, Bible House dan Bible School. Dari A sampai Z tentang Alkitab ada di GPA. Semuanya siap membantu gereja-gereja.
Prinsip “LAI MEMBANTU GEREJA” sangat penting dan wajib untuk terus dijalankan. Hal ini seturut dengan tugas panggilan LAI yang memang untuk mendukung gereja-gereja sebagai “mitra setia membina iman” anggota jemaat. Gerakan DWD LAI adalah bagian dari prinsip di atas. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

 

Digital Tanpa Sinyal

Pembagian Alkitab bahasa Yali Angguruk kepada umat

“Bagaimana kesan Bapak sesudah tiba dan menginap di Lembah Yali Angguruk ini?” tanya seorang jurnalis gereja yang mewancarai saya pagi sebelum matahari terbit (kamis, 18 Mei) di saat prosesi “bakar batu” menjelang acara peluncuran Alkitab  dalam Bahasa Yali Angguruk, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua.

“Saya benar-benar merasakan di sinilah terjadi paradoks ekstrem, yaitu ‘digital tanpa sinyal’!” jawab saya. Betapa tidak, para Pejabat Pemerintah, Pejabat Gereja, Wartawan, pilot, para turis, juga saya, dan Pdt Anwar Tjen,. Ph.D (Kepala Departemen Penerjemahan LAI) serta Bung Hendrik (staf Pengembangan Digital) semuanya membawa HP dan peralatan serba digital. Tapi ironisnya di lembah Yali Angguruk yang lokasinya terpencil dikepung oleh banyak gunung terjal, belum ada fasilitas listrik PLN dan apalagi sinyal HP.

Saya hadir di Yali Angguruk mewakili LAI atas undangan panitia peluncuran Alkitab bahasa Yali Angguruk (yang selesai diterjemahkan dalam kurun waktu 27 tahun) sekaligus perayaan lahirnya Klasis Yalimo GKI Di Tanah Papua yang ke 57 tahun. Saya tinggal satu malam di Yali Anggruk seperti menemukan suasana masa kecil saya di awal tahun 70an di perkampungan selatan Pulau Jawa. Listrik tidak ada, televisi dan radio belum musim, koran tidak pernah jumpa, jalan raya masih berlumpur dan sering banjir, sehari-hari pergi dengan telanjang kaki, mandi pun juga jarang karena sulit menemukan air bersih.

Saat ini sudah tahun 2018, tapi suasana di perkampungan Pulau Jawa tahun 70an tersebut masih saya jumpai di sini, dan malah lebih parah karena ada beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang masih setengah telanjang. Artinya ada ketertinggalan kemajuan hampir 50 tahun. Saya mendapat ceritera dari berbagai sumber kalau Lembah Yali Angguruk baru dijamah para misionaris pada tahun 1957. Pada tahun 1961 para misionaris bersama masyarakat berhasil membangun lapangan terbang perintis di antara gunung-gunung yang ada. Pada tahun 1963 baru ada satu guru sekolah dasar yang merangkap Guru Injil yang juga didatangkan oleh misionaris. Beliau adalah Onesimur Usior (73 tahun) dari Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua yang saat itu baru berusia 18 tahun dan baru menikah satu minggu.

“Karena syarat untuk dapat dikirim menjadi guru harus sudah lulus sekolah guru dan sudah menikah, maka sesudah lulus sekolah guru dan seminggu sebelum saya berangkat ke Yali Angguruk, saya menikah dulu”, jelas Pak Usior. Dengan adanya isteri yang mendampingi maka dia bisa bekerja lebih tenang dan betah di tempat yang masih sangat sunyi serta terpencil itu. Saat itu dia bekerja bersama Bapak Siegfried Zollner seorang misionaris dari Jerman.

“Saat saya datang pada tahun 1963, semua orang di Yali Angguruk tidak ada yang berpakaian”, kata Pak Usior yang sudah pensiun dari Guru sejak 2005 namun hingga saat ini masih aktif sebagai Guru Jemaat di Biak Timur, yang juga hadir di Yali Angguruk untuk menyaksikan peluncuran Alkitab dan Ulang Tahun Klasis Yalimo. Dulu masyarakat di sini masih suka berperang dengan masyarakat lainnya dan saling “memakan” pihak yang kalah. Sesudah mereka mengenal Injil dan dibaptis di tahun 1970 an, maka mereka bisa hidup damai, rukun dan tidak ada lagi peperangan. Namun demikian kemajuan masyarakat disini memang sangat lambat oleh karena lokasi Lembah yang sangat sulit dijangkau kecuali oleh pesawat perintis.

Adalah Bapak Freiderich Tometten, misionaris dari Jerman, Bapak Linus dan Bapak Esau (pengguna bahasa Yali Angguruk) yang menerjemahkan Perjanjian Lama. Juga Bapak Arnold Mohi, Bapak Kornelis Mohi, serta Bapak Tomas Ambolon yang menulis Perjanjian Baru. Pada tahapan akhir pekerjaan penerjemahan Alkitab ini, LAI terlibat dalam mensupervisi semua naskah yang ada untuk diterbitkan dan dicetak pada akhir tahun 2017 serta diluncurkan pada bulan Mei 2018.

Pekerjaan penerjemahan yang memakan waktu 27 tahun menghadirkan sukacita besar bagi masyarakat pengguna bahasa Yali Angguruk di Lembah Yahuli Atas, Tengah dan Bawah dari Lembah Ubahak. Juga dari Lembah Sibi, Pondeng, Hine/Korasarek. Tentu juga masayarat di Apahapsili: Lembah Habiye, Kulet, Pong, Werenggikma dan Lembah Welaek serta Elelim.

Bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhan sangat dimudahkan bila menggunakan bahasa Ibu. Selain itu pelestarian bahasa Ibu juga sangat penting bagi identitas sebuah bangsa. Penerjemahan Alkitab ini adalah sebuah karya maha besar yang mencakup keutuhan hidup sebuah suku bangsa Yali Angguruk. Saya sangat bangga dan terharu dapat hadir dan menjadi bagian yang sangat kecil dalam karya kebersamaan ini. Saya terhenti sejenak dan hampir menangis saat memberikan sambutan.

Acara peluncuran Alkitab dan Ulang Tahun klasis yang diawali dengan prosesi “bakar batu” (memasak ubi-ubian, sayur-sayuran dan puluhan daging babi menggunakan batu-batu yang dibakar) berlangsung sangat meriah. Diiringi berbagai atraksi tarian khas masyarakat Yali, berdoa, menyanyi refleksi dan pembagian Alkitab serta sambutan-sambutan. Acara ini dihadiri oleh ribuan umat anggota GKI Di Tanah Papua, Plt Gubernur Papua dan rombongan, Bupati dan Pimpinan DPRD Yahukimo serta rombongan, Pimpinan Sinode GKI Tanah Papua dan rombongan, para Wartawan, para Turis, tentu juga saya, Pak Anwar dan Bung Hendrik dari LAI.

Digital tanpa sinyal adalah pertanda perjuangan masih sangat panjang. Termasuk perjuangan menerjemahkan, menerbitkan, dan menyebarkan Alkitab ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia.
Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Rawatlah Kehidupan Bukan Kematian

Pagi buta sabtu, 12 Mei 2018 saya pergi dari rumah untuk menunaikan tugas ke Batam, hanya dua hari selepas kejadian kericuhan napi teroris di Rutan Salemba Cabang Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Sepanjang sabtu, semua rapat evaluasi dan diskusi yang saya ikuti dalam rangka mengidentifikasi berbagai terobosan bersama mitra penyebaran LAI di Batam berjalan lancar.

Minggu pagi saat bersiap menuju GPIB Imanuel Batam untuk sosialisasi program-program LAI, berita pilu pengeboman tiga gereja di Surabaya sungguh menyesakkan dada saya. Namun demikian tugas presentasi di gereja harus tetap dijalankan dengan semangat.

Presentasi berlangsung di bagian menjelang akhir Ibadah sebelum pengutusan dan berkat. Respon jemaat yang hadir (tidak kurang dari 400 orang) sangat positif. Namun suasana sedikit galau setelah seorang Presbiter (Penatua) mengumumkan pentingnya kewaspadaan seluruh jemaat sehubungan dengan kejadian bom meledak di tiga gereja Surabaya. Sebelum doa berkat, Ibu Pendeta juga menambahkan himbauan untuk tidak membagikan gambar-gambar korban melalui media sosial.

Seusai kebaktian, jemaat yang masih bertahan di Gereja diajak untuk mendatangani poster “Mendukung Upaya Penanggulangan Terorisme” bersama jajaran Polri Batam. Sayapun ikut tanda tangan dan meneriakkan deklarasi anti terorisme yang dipublikasikan beberapa media.

Setibanya di kantor LAI Jakarta pagi ini (14 Mei) saya berkoordinasi dengan Satuan Pengamanan Kantor LAI dan PGI untuk meningkatkan penjagaan dan memastikan situasi aman terkendali. Siangnya saya menuju Makassar untuk menunaikan tugas supervisi ke Kantor Perwakilan LAI di Makassar.
Berita memilukan bertambah lagi dengan adanya beberapa bom susulan yang meledak di Surabaya.

Sembari menunggu waktu boarding pesawat, saya mengirim pengumuman dan himbauan kepada seluruh karyawan LAI demikian: “Tetap bekerja tenang, optimis dan waspada. Semua aparat keamanan sudah berjaga. Dua pintu gerbang kantor LAI sementara dibuka separuh dan dilakukan pemeriksaan kepada setiap kendaraan serta tamu yang datang. Saya berkordinasi dengan kantor PGI agar secara bersama meningkatkan kewaspadaan dalam ketenangan dan selalu memohon perlindungan Tuhan. Amin.”

Setibanya di Makassar, Sdr Agus yang menjemput saya di Bandara Sultan Hassanudin Maros juga menyampaikan duka dan sedih atas meledaknya bom di Surabaya. Sungguh terasa semakin sedih, berduka dan pilulah lubuk hati ini. Beberapa sobat di luar negeri mengirim WA simpati dan doa untuk Indonesia.

Dalam benak saya terus bertanya mengapa ada orang yang begitu “mencintai kematian”? Padahal mayoritas orang di planet bumi ini sangat mencintai kehidupan. Segala upaya dilakukan demi keberlangsungan hidupnya (dalam bahasa Jawa – “uruping urip”). Tak terhitung pengorbanan tenaga, waktu, dan biaya sejak lahir, anak-anak, remaja, pemuda, dewasa sampai usia lanjut, demi berlanjutnya kehidupan.

Mencintai kematian tentulah melawan kehidupan, dan melawan pengharapan. Pikiran, perkataan dan perilakunya mengarah kepada kematian dan maut. Kesia-siaan adalah upahnya. Kecaman dan kutukan adalah ganjarannya.

Alkitab memberitakan jalan kebenaran dan hidup. Siapa saja yang percaya akan memperoleh terang kehidupan. Itulah pentingnya pemberitaan kabar baik sampai ke ujung bumi, agar semakin banyak manusia yang percaya dan terhindar dari alam kegelapan serta kematian yang terkutuk. Agar semua mencintai kehidupan, bukan kematian. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono, Sekum LAI

Visi Misi LAI Di Tempat Injil Pertama Di Kalimantan

Erna Yulianawati (Kadep Komunikasi & Pengembangan Kemitraan LAI), Pdt. Dr. Wardinan S. Lidim (Ketum Sinode GKE), dan Bp. A, Moenir Rony (Bendahara Umum LAI) di Kantor Sinode GKE Banjarmasin

Sejak tahun 2012 Lembaga Alkitab Indonesia terus membangun kemitraan dan jejaringnya, baik dengan Sinode Gereja/Keuskupan maupun dengan Lembaga/Pemerintah. Sampai saat ini tidak kurang ada sekitar 500-an sinode gereja, keuskupan, lembaga, dan pemerintah yang sudah bermitra dengan LAI.

Selain membangun kemitraan dan jejaring, LAI juga membangun kelompok kerja di seluruh Indonesia. Sampai saat ini ada 30 kelompok kerja, mulai dari Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD), Kelompok Kerja Pembina Anak, sampai dengan Kelompok Kerja Pemuda. Mereka tersebar di setiap kota di setiap pulau di seluruh Indonesia.

Siapa sebenarnya kelompok kerja LAI ini? Mereka adalah pribadi-pribadi yang berasal dari jemaat-jemaat Gereja di suatu tempat dan mau memberi diri dan hatinya untuk membantu penjemaatan dan penggalangan dana program-program LAI, seperti program penerjemahan, penerbitan, dan penyebaran Alkitab, serta program LAI lainnya. Untuk pulau seluas Kalimantan, baru berdiri 3 KKPD yakni di Pontianak, Palangkaraya, dan Tarakan (dibawah koordinasi LAI Perwakilan Makassar). Dalam rangka membangun jejaringnya di Kalimantan, Tim LAI (Erna Yulianawati dan Selviana) bersama KKPD Palangkaraya memperkenalkan visi-misi dan program kerja LAI di gereja-gereja di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Setelah berkomunikasi denga gereja-gereja di Banjarmasin, LAI memcoba berkomunikasi dengan para pemimpin Gereja agar ditempat Injil pertama kali datang di Kalimantan ini juga harus memiliki KKPD Banjarmasin.

Puji Tuhan, niat baik untuk mendirikan KKPD di kota Banjarmasin langsung didukung oleh semua gereja-gereja di Banjarmasin terdiri dari berbagai denominasi ada Gereja Kalimantan Evangelis, Gereja Isa Almasih,  Huria Kristen Batak Protestan, Gereja Pentakosta di Indonesia, Gereja Pentakosta Pusat Surabaya, Gereja Bethel Indonesia, Gereja Batak Karo Protestan, Gereja Katolik, dan gereja-gereja lainnya.

Proses komunikasi antara LAI dengan gereja-gereja tersebut sangatlah cepat, baru awal Maret 2018 LAI  berkirim surat ke seluruh gereja di Banjarmasin agar diberi kesempatan untuk memperkenalkan visi-misi dan program kerja LAI. Dengan dibantu KKPD Palangkaraya, LAI diberikan kesempatan untuk presentasi di 9 gereja di Banjarmasin dalam ibadah Minggu 13 Mei 2018.

Masih terkait kemitraan dan jejaring, LAI mencoba berkomunikasi dengan Kantor Sinode Gereja Kalimantan Evangelis (GKE) untuk memperbaharui nota kesepakatan yang sudah dilakukan selama ini. Untuk itu Senin, 14 Mei 2018, mewakili Pengurus LAI, Bp. A. Moenir Rony, S.E., Bendahara Umum LAI melakukan pertemuan dengan Pdt. Dr. Wardinan S. Lidim, M.Th., Ketua Umum Sinode GKE. Mereka melakukan percakapan dan melihat butir-butir kesepakatan tersebut apakah masih relevan dengan kondisi dan situasi saat ini sebelum nota kerjasama antara LAI dengan GKE ditandatangani.

Sambil menunggu penandatanganan nota kesepakatan kerjasama antara LAI dengan GKE,  Selasa 15 Mei 2018 mengundang seluruh Hamba Tuhan di seluruh Banjarmasin untuk menghadiri sosialisasi LAI di Gereja Isa Almasih, Banjarmasin. Pada kesempatan ini mewakili Pengurus LAI, Bp. A. Moenir Rony, S.E., Bendahara Umum LAI menjelaskan tentang visi-misi dan program kerja LAI.

Harapannya jika nota kesepakatan dengan GKE ditandatangani dan KKPD Banjarmasin resmi berdiri, maka tugas menghadirkan Alkitab untuk Semua akan semakin jelas arahnya, sehingga Alkitab dan Bagian-bagiannya yang disebarkan benar-benar tepat sasaran. Karena sejatinya kehadiran LAI adalah untuk membantu dan mendukung gereja-gereja dan umat kristiani di Indonesia dalam melaksanakan tugas persekutuan, kesaksian, dan pelayanannya.[Selvi]

Membangun Kemitraan Untuk Menghadirkan Kabar Baik

 

Sharing sedikit, hari ini saya dan rekan saya “@sprocskryntha” di utus mewakili Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) untuk menghadiri “All Saints Outreach Seminar” di Gereja Anglikan Indonesia. Ada 19 perwakilan Lembaga Kristiani yang ikut juga dalam seminar ini.

Lembaga yang hadirpun beragam ada yang fokus kepada penerjemahan Alkitab bahasa suku, bantuan kepada korban pasca bencana, perlindungan anak, pelayanan kampus dan masih banyak lagi.

Melalui seminar ini saya sadar bahwa ladang pelayanan ini sangat luas sekali. Misi Allah terlalu besar, luas dan sulit tanpa kerjasama yang efektif umat Allah. Kemitraan menjadi hal yang penting untuk dapat menghadirkan Kerajaan Allah dalam dunia ini. Kita tidak bisa bergerak sendiri kita perlu untuk saling menopang dan bergandengan satu sama lain untuk mewujudkannya.

Berkembangnya Kerajaan Allah seharusnya dipahami sebagai tiadanya permasalahan yang ditimbulkan akibat perbedaan SARA, kelas ekonomi. Perbedaan itu seharusnya menjadi komponen-komponen yang menyatukan tubuh Kristus untuk bekerja bersama-sama bagi Kerajaan Allah. Salam Alkitab Untuk Semua.

Caroline Marlissa

Meluruskan Fakta Yang Dipelintir Tentang Terjemahan LAI

Kampanye yang menolak kata “Allah” dalam Alkitab dilancarkan kalangan tertentu dengan memelintir fakta sesungguhnya tentang sikap pemerintah RI tentang terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).  Pemerintah RI TIDAK mengintervensi penerjemahan Alkitab dan malah mempercayakan tugas itu kepada LAI. LAI adalah badan hukum yang diakui Negara dan ditunjuk oleh Pemerintah sebagai Lembaga yang berhak dan berwenang untuk menerjemahkan, mencetak dan menyalurkan Kitab Suci/Alkitab (SK Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor: DJ.III/KEP/HK.00.5/77/2011).

Sejak berdirinya pada tanggal 9 Februari 1954, LAI telah menjadi mitra gereja-gereja di Indonesia dan diberi mandat dalam menerjemahkan, mencetak, dan menerbitkan Alkitab.

Visi pelayanannya yang ekumenis mendapat pengakuan juga dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Karena itu LAI tidak akan menerbitkan terjemahan Alkitab sektarian seperti yang diinginkan kelompok-kelompok yang menolak kata “Allah”, padahal kata itu sudah digunakan sekitar empat abad oleh umat Kristen di nusantara.

Untuk jelasnya, baca penjelasan singkat tentang padanan nama-nama ilahi dalam Alkitab (terlampir)

Salam Alkitab Untuk Semua.

Pdt. Anwar Tjen, PhD, Kepala Departemen Penerjemahan LAI

 

 

Lampiran 1.

Mengapa kata “Allah” dan “TUHAN” dipakai dalam Alkitab kita?

Pengantar

Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesatkan umat Kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya? Penjelasan berikut bertujuan untuk memaparkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang melandasi kebijakan LAI dalam persoalan ini.

Mengapa LAI menggunakan kata “Allah”?

Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik maupun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ‘ELOHIM, ‘ELOAH  dan ‘EL dalam Alkitab Ibrani:

Kej 1:1 “Pada mulanya Allah (‘ELOHIM) menciptakan langit dan bumi”.

Ul 32:17 “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang  bukan Allah (‘ELOAH).  Mzm 22:2 “Allahku (‘EL), Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

 

Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ‘ELOHIM, ‘ELOAH  dan ‘EL berkaitan dengan akar kata ‘L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak!

Umat Israel kuno memaknai kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia. Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang berpendapat, kata itu tidak boleh hadir dalam Alkitab umat Kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengaitkannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu kata ‘EL, ‘ELOAH dan ‘ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat Kristiani Ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat Kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania dan Libanon tetap memakai “Allah” dalam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja. Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ‘ELOHIM, ‘ELOAH  dan ‘EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga seb.M. merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta menggunakan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani.

Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut dari Injil Matius: ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah (THEOS) menyertai kita (1:23). Imanuel yang berasal dari unsur leksikal immanu- („beserta kita‟) dan EL diartikan sebagai „Allah (THEOS) menyertai kita‟. Rasul Paulus juga memakai kata THEOS untuk menyebut Bapa Tuhan Yesus Kristus, seperti dalam contoh berikut: ”Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan-kutipan tersebut tidak dipahami sebagai sembahan politeis.

Kata “Allah” dalam sejarah penerjemahan Alkitab di nusantara

Sebelum Alkitab TB-LAI diterbitkan pada tahun 1974, telah ada beberapa Alkitab dalam bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Injil Matius terjemahan A. C. Ruyl (1629) adalah upaya pertama dalam penerjemahan Alkitab di nusantara. Menariknya, dalam terjemahan perdana ini, kata “Allah” telah digunakan, seperti contoh berikut: “maka angkou memerin‟ja nama Emanuel artin‟ja Allahu (THEOS) ſerta ſegala kita” (Mat 1:23). Terjemahan selanjutnya juga mempertahankan kata “Allah”, antara lain:

  • Terjemahan Kitab Kejadian oleh D. Brouwerius (1662): “Lagi trang itou Alla ſouda bernamma ſeang” (Kej 1:5).
  • Terjemahan M. Leijdecker (1733): “Pada mulanja dedjadikanlah Allah akan ſwarga dan dunja” (Kej 1:1)
  • Terjemahan H.C. Klinkert (1879): “Bahwa-sanja Allah djoega salamatkoe” (Yes 12:2).
  • Terjemahan W.A. Bode (1938): “Maka pada awal pertama adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah”.

Seperti tampak pada contoh-contoh di atas, kata “Allah” yang baru belakangan ini dipersoalkan oleh sebagian umat Kristiani telah digunakan selama ratusan tahun dalam terjemahan-terjemahan Alkitab yang beredar di nusantara.   Singkatnya, ketika meneruskan penggunaan kata “Allah”, tim penerjemah LAI mempertimbangkan bobot sejarah maupun proses penerjemahan lintas-budaya yang sudah terlihat dalam Alkitab sendiri.

Apa dasar kebijakan LAI dalam soal “YHWH”?

Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH “ada, menjadi‟, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (‘ELOHIM) kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.‟ (‘EHYEH ‘ASHER ‘EHYEH). Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (‘EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.‟ ”Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa “ADA‟ menyertai sejarah umat-Nya.   Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah. Umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menyebut nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ‘ADONAY yang berarti “Tuhan‟. Tradisi pengucapan ini juga terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (“Tuhan‟) untuk YHWH, seperti contoh berikut: ‘KYRIOS menggembalakan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm 23:1).

Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pencobaan di gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.  Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? Tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ‟ADONAY (“TUHAN‟) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.  Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat Kristiani perdana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mengingatkan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang  sengaja dibedakan dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ‘ADONAY yang tidak merepresentasi YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: “TUHAN (YHWH) telah meninggalkan aku dan Tuhanku (‘ADONAY) telah melupakan aku.‟ ”(Yes 49:14). Pembedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian Baru yang tidak mempertahankan penulisan YHWH.  Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (Einheitsübersetzung; die Bibel nach der Übersetzung Martin Luthers); Belanda: “de HEER” (Nieuwe Bijbelvertaling); Perancis”: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecuménique de la Bible).

Penutup

Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:

  • Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjanjian Baru) dan tafsirannya.
  • Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  • Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman.
  • Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab seDunia (United Bible Societies).
  • Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik maupun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pimpinan dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.

LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampaknya bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.  Akhirnya, dengan penuh kesadaran akan terbatasnya kemampuan manusia di hadapan Allah, kita patut mempersembahkan puji syukur kepada Dia yang telah menyatakan firman yang diilhamkan-Nya untuk mendidik orang dalam kebenaran dan memperlengkapi umat-Nya untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:16-17). Dialah yang telah mempersiapkan orang-orang untuk menjelmakan firman kebenaran-Nya dalam aneka bahasa dan  budaya dari masa ke masa. Segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! []

Pemahaman dan Toleransi

Sabtu, 5 Mei 2018 saya menyimak betul apa yang disampaikan dengan tulus dan lugas oleh Sdr Wawan, Ketua Jakatarub (Jaringan Kerja Antar Umat Beragama Bandung) dalam Seminar Mardiko Indonesia di GKI Maulana Yusuf Bandung.

“Bagi saya, toleransi dan saling memahami tidak akan terjadi bila tidak saling mengenal. Jadi berkenalan dulu, bersahabat dulu, baru bisa bicara saling memahami dan tumbuh toleransi,” Kata Kang Wawan menggambarkan hubungan harmonis antaragama.

“Kalau sudah saling kenal, saling bersahabat, jangankan toleransi, pinjam duitpun kita juga bisa,” sambungnya dengan jenaka.

Hari ini (8 Mei) saya bersama Tim pimpinan Percetakan LAI (Pak Anton, Bu Lydia, dan Bu Dewi) berkunjung dan bersilaturahim ke rumah Bapak Saiful Ketua Rukun Warga lingkungan Nanggewer.

Tujuan utamanya adalah berkenalan karena saya adalah anggota Pengurus Yayasan LAI yang baru dan belum pernah berjumpa dengan Ketua RW tersebut. Kedua, saya ingin mendengar aspirasinya sehubungan dengan keberadaan percetakan LAI di wilayah yang beliau pimpin. Ketiga, mempererat kerjasama dan kebersamaan yang selama ini sudah terjalin baik.

Kami disambut sangat hangat dan penuh semangat. Pak Saiful menceriterakan bahwa hubungannya dengan percetakan LAI (yang dia selalu sebut “Alkitab”) adalah meneruskan wasiat Bapaknya yang adalah Kepala Desa Nanggewer sampai tahun 1999. Bapaknya ikut aktif mendukung dan menjaga pembangunan “Alkitab” agar dapat mendukung kemajuan desanya.

“Alhamdulilah, selama ini hubungan ‘Alkitab’ dengan warga selalu baik-baik dan aman, ” katanya dengan senyum ramah.

Saya menyampaikan banyak terima kasih atas hubungan yang harmonis dan keamanan yang terjaga baik. Saya juga sampaikan bahwa LAI bukanlah perusahaan tapi Yayasan yang memiliki tugas untuk mendukung hidup keagamaan sesama warga negara Indonesia.

Pak Saiful sangat bisa memahami Dan mengharapkan ‘Alkitab’ turut memberi perhatian bagi warganya, terutama kaum Lansia dan Dhuafa. Kami katakan pasti kami akan mengusahakan sesuai kemampuan LAI.

Kami juga ngobrol soal-soal lain mulai cucunya sampai soal Pilkada. Singkatnya kami sangat akrab dan penuh canda.

Indahnya kebersamaan dalam keberagaman. Bhineka Tunggal Ika memang luar biasa. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI) Continue reading

KKPD Kabanjahe, Mitra LAI menyebarkan Alkitab Untuk Semua

 

Menolong umat Tuhan yang belum memiliki Alkitab, melatarbelakangi semangat pembentukan kembali Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) mitra Kabanjahe. Pada tahun 2001, KKPD Kabanjahe pernah aktif mendukung pelayanan LAI menghadirkan Kabar Baik bagi umat Tuhan, baik melalui Alkitab dan bagian-bagiannya, maupun melalui terjemahan Alkitab dalam berbagai bahasa daerah. Karena berbagai kesibukan, kegiatan KKPD Kabanjahe beberapa tahun terakhir kurang kelihatan riaknya meskipun beberapa pengurus tetap terlibat dalam mendukung dan mensosialisasikan program-program LAI.

Tanggal 29 April 2018, menjadi babak baru dengan semangat baru bagi kepengurusan KKPD Kabanjahe periode 2018-2023, karena di hari tersebut, Pengurus KKPD Kabanjahe dengan nama-nama berikut, resmi dilantik oleh Ketua LAI Pdt. R. Radjagukguk di GBKP Simpang VI Kabanjahe.

Ketua                           : St. Drs. Rasden Boang Manalu, M.Th

Wakil Ketua               : Dk. Khristiani Ginting

Sekretaris                  : Pdt. Suenita Sinulingga, M.Th

Wakil sekretaris       : Ev. Bernard Kurnia P. Pangaribuan

Bendahara                 : St. Nurmala Herawaty Hutabarat

Anggota                      :

  1. Pdt. Rosmalia Barus, S.Th
  2. St. Kamel Manihuruk
  3. St. Kurnia P. Hutapea, SH
  4. Pt. Murta Ginting
  5. Hartalina Sembiring, BA
  6. Pdt. Liza Selvina Tarigan
  7. Ir. Nesti Saragih

Seolah tidak ingin membuang-buang waktu, selesai acara pelantikan, KKPD Kabanjahe melaksanakan rapat perdana membahas program LAI yang akan didukung tahun ini dan strategi-strategi serta kegiatan yang akan dilakukan untuk mensosialisasikannya kepada sebanyak mungkin orang. Dalam buku Kabar Baik untuk Indonesia 2018, tertuang dengan rinci program-program LAI yang dilaksanakan tahun ini, yakni:

  • Program Penerjemahan dan penerbitan Alkitab dalam beberapa bahasa daerah seperti bahasa Kodi (NTT), bahasa Pakpak (Sumut), bahasa Yali Ninia (Papua), bahasa Kalumpang (Sulbar), bahasa Sabu (NTT) dan bahasa Enggano (Bengkulu);
  • Program Pembaca Baru Alkitab yang dilaksanakan di Parigi Moutong (Sulteng) untuk umat yang buta huruf sehingga tidak terhalang membaca Alkitab;
  • Program Satu Dalam Kasih (SDK) untuk mendukung pengadaan Alkitab bagi jemaat yang memiliki keterbatasan ekonomi maupun letak geografis sehingga tidak mampu memiliki Alkitabnya sendiri.
  • Program pengembangan layanan digital, untuk menjangkau pemberitaan kabar baik bagi umat di perkotaan yang sehari-hari telah akrab dengan dunia teknologi komunikasi digital.

 

Di antara beberapa program tersebut, KKPD Kabanjahe tahun ini mengupayakan pengadaan Alkitab bagi umat Tuhan di daerah Karo dan Dairi melalui program Satu Dalam Kasih. Semangat baru terlihat jelas melalui komitmen dari para pengurus yang memulai gerakan janji iman setiap bulan. Di samping kegiatan lainnya, para pengurus mengharapkan aksi janji iman ini kiranya mengetuk hati anak-anak Tuhan lainnya untuk ikut terlibat. Mari hadirkan Alkitab untuk semua. Tuhan kiranya menolong dan memberkati setiap orang yang membukakan hati dalam pekerjaan-Nya (rh)