KKPD LAI Mitra LAI dan para Guru Sekolah Minggu se-Bali dalam rangka sosialisasi Hari Doa Alkitab LAI 2018.
Tak kurang ada sekitar 90 orang guru sekolah minggu dari berbagai denominasi gereja yang hadir dalam acara sosialisasi Hari Doa Alkitab (HDA) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang diadakan di Hotel Sun Boutique, Denpasar, Bali, 25 Juni 2018.
Sosialisasi HDA-LAI ini merupakan program kerja dari Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD) LAI Mitra Bali yang ingin memperkenalkan visi-misi pelayanan LAI sejak dini kepada anak-anak sekolah minggu yang ada di Bali, demikian penjelasan Bpk. Etmon,Ketua KKPD LAI Mitra Bali. Untuk melengkapi para guru sekolah minggu yang hadir, acara didahului dengan pnewartaan Kabar Baik oleh Ibu Vonny dari GBI Rock. Dalam renungannya, beliau mengingatkan, siapapun dapat menjadi mitra Allah yang tepercaya asalkan punya hati yang mau melayani Tuhan, termasuk menjadi pelayanan Tuhan sebagai guru sekolah minggu. Peran guru sekolah minggu tidak kalah pentingnya dengan pendeta, bayangkan jika sejak dini anak-anak sekolah minggu tidak diajar firman Tuhan oleh guru sekolah minggu yang cakap. Untuk itu, sudah menjadi tugas guru sekolah minggu untuk mengasihi anak-anak sekolah minggu dengan menanamkan firman Tuhan sejak dini.
Lewat program HDA Anak LAI ini sebenarnya juga mau mengajak anak-anak di perkotaan untuk mau peduli membantu teman-teman mereka di pedalaman dalam mewujudkan mimpi mereka untuk dapat memiliki Alkitabnya sendiri, khususnya untuk anak-anak yang berbahasa Pakpak Dairi di wilayah Sumatera bagian Utara. Mereka diajak untuk mau menyisihkan uang jajannya ke dalam celengan khusus untuk mendukung program HDA Anak LAI 2018 untuk membantu penerjemahaan Alkitab bahasa Pakpak Dairi formal.
Sukacita dan kebersamaan para guru sekolah minggu sangat terasa, biarpun mereka hanya pelayan anak-anak sekolah minggu namun mereka membawa tanggung jawab sebagai mitra Allah untuk menghadiran Firman Tuhan dalam bahasa Pakpak Dairi. Biarlah lewat celengan dari anak-anak ini, kita juga bisa belajar tentang kebersamaan dan berbagi untuk menjawab panggilan Tuhan ini.
Kiranya pelayanan ini bersama bisa menjadi berkat, khususnya proyek penerjemahan Alkitab bahasa Pakpak Dairi dapat didukung dan terdanai. Salam Alkitab Untuk semua. [Selvi]
Maraknya penggunaan Alkitab digital di berbagai kalangan masyarakat menimbulkan kekhawatiran akan hilangnya Alkitab cetak di masyarakat modern.
Kejadian menarik muncul pada acara Jambore Internasional Terpadu GPdI 2018 yang berlangsung 18-22 Juni 2018 Desa Teep Trans, Amurang Barat, Minahasa Selatan, Sulawesi utara. Acara ini dihadiri 22.000 orang yang mayoritas remaja dan pemuda dari berbagai wilayah Indonesia dan juga dari Negeri Timor Leste.
Pada sesi sesudah saya presentasi, dimana pembicaranya adalah Ps. Justice Coleman dari Gereja Four Square Los Angeles USA, dia mengutip Yohanes 21 yang dibacanya dari Alkitab cetak. Sementara hampir seluruh peserta dengan gadget di tangan menyimaknya dari Alkitab Digital. Tampak bahwa Alkitab cetak masih digunakan, bahkan oleh pembicara yang datang dari negeri yang sangat modern, yaitu Amerika.
Ada sobat aktivis gereja yang mengkhawatirkan dampak buruk dari Alkitab digital dan mengusulkan agar LAI membuat “fatwa” supaya umat Kristen hanya menggunakan Alkitab cetak. Ada juga sobat yang mengusulkan agar PGI dan KWI saja yang membuat “fatwa” larangan penggunaan Alkitab digital. Karena dia menyadari LAI tidak memiliki kewenangan membuat dan mengeluarkan “fatwa” untuk Gereja.
Di sisi lain ada Gereja yang sudah sangat jauh dalam memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan menganjurkan anak-anak remaja untuk mengutip Alkitab digital dalam menjawab beberapa pertanyaan PA yang harus dikirim melalui Whatsapp.
Kehadiran teknologi dapat memberikan peluang dan sekaligus ancaman tergantung dari cara pandang kita.
Saya membayangkan pada waktu ditemukannya mesin cetak sekitar tahun 1450-an oleh Guternberg di Jerman, pastilah menimbulkan pro dan kontra di kalangan tokoh Gereja. Mesin cetak membuka lebar-lebar kesempatan umat untuk membaca sendiri Alkitab, yang pada waktu itu dimonopoli oleh para rohaniawan saja.
Kehadiran teknologi digital memberikan peluang besar dalam penyebaran Firman Tuhan dengan cepat dan efisien ke setiap pengguna HP di seluruh dunia.
Tantangannya tidaklah kecil, karena mazhab gratis menuntut kreativitas tinggi agar dapat menemukan sumber-sumber pembiayaan untuk pelayanan di bidang ini.
Apakah Alkitab cetak akan hilang? Mungkin iya, mungkin tidak.
Data menunjukkan sejak tahun 2015-2017 penyebaran Alkitab cetak memang sedikit menurun. Namun bila ditelusuri penyebabnya ternyata bukan hanya dikarenakan banyak umat yang sudah beralih kepada Alkitab digital (terutama di daerah kota), namun juga karena kurangnya kemampuan dalam distribusi Alkitab cetak ke daerah-daerah pelosok yang masih sangat membutuhkan.
Peluang penerbitan Alkitab cetak juga masih besar. Alkitab adalah buku yang bukan hanya bernilai sebagai sumber pengetahuan, namun juga memiliki nilai “simbol identitas Kristen”.
Setiap orang Kristen selalu akan membutuhkan pengetahuan yang lebih mendalam tentang Alkitab yang dapat distabilo atau diberi tanda khusus. Untuk itu LAI menerbitkan Alkitab tematis, mulai Alkitab Edisi Studi, Alkitab Finansial, dan Alkitab Hidup Sejahtera Berkeadilan. Tahun 2019 akan diterbitkan Alkitab Parenting yang secara khusus membahas tentang pendidikan anak-anak dan keluarga.
Untuk memenuhi kebutuhan “simbol identitas Kristen” LAI juga menerbitkan Alkitab pesanan khusus dengan logo Gereja tertentu, nama lembaga dan atau nama seseorang di sampul mukanya.
Saya menyebut jaman sekarang adalah jaman “co-existence” dimana Alkitab cetak dan digital terus eksis secara paralel. Untuk itu LAI juga sedang mengembangkan produk Alkitab yang dapat digunakan secara manual, dan bila membutuhkan penjelasan ayat per ayat dapat di “link” kan dengan aplikasi digital.
Apapun situasi dan kondisi jaman, Firman Tuhan akan terus tersebar sampai ke ujung bumi. Salam Alkitab Untuk Semua.
Nama saya Eksel, saat ini saya berdomisili di Surabaya dan bekerja pada salah satu perusahaan Asuransi Jiwa dan Kesehatan multinasional
Awal Maret 2016 adalah bagian dalam hidupku yang sangat penting.
Hari itu, sekitar tanggal 04 Maret 2016, saya berangkat ke kantor agak pagi karena ada persekutuan doa. Setelahnya saya merasa tidak enak badan dan oleh beberapa teman menyarankan untuk pulang beristirahat, namun saya memilih untuk pergi ke salah satu fitness center di kota Surabaya dengan pemikiran bahwa sedikit berolahraga akan membuat tubuhku menjadi lebih segar
Seperti biasa sebelum berolahraga saya masuk ke ruang sauna dan tidak menyadari bahwa kondisi tubuh saya yang terasa tidak enak hari itu akibat tekanan darah tinggi. Saya memang memiliki riwayat tekanan darah tinggi tetapi jarang minum obat. Lima belas menit di dalam ruangan sauna membuat saya sangat gerah dan akhirnya keluar untuk mandi air dingin. Sehabis mandi saya sangat kehausan, lalu meminum air dari botol minuman yang saya bawa. Di sinilah saya mulai merasa aneh karena air yang saya minum saya muntahkan kembali dan muncrat tdk terarah. Puji Tuhan saat itu saya masih sempat memghubungi saudara untuk datang memjemput. Singkat cerita perlajan-lahan saya mulai kehilangan kesadaran. Ternyata tensi saya naik hingga 240/120 dan pembuluh darah di kepala bagian kanan sudah pecah sehingga harus dilakukan operasi pembukaan sebagian tengkorak kepala agar darah yang ada dapat di sedot dan tidak merembes semakin banyak ke bagian otak yang lain. Sekitar jam 23.0-05.00 subuh operasi itu berlangsung. Dokter bedah mengatakan hasil operasi bisa saja membuat saya berada antara hidup atau mati, sementara dokter syaraf memvonis tubuh bagian kiri saya akan cacat permanen seumur hidup. Beruntung keluarga dan teman-teman yang hadir saat itu adalah anak-anak Tuhan yang beriman dan menolak setiap kata-kata dokter dalam nama Tuhan Yesus
Setelah operasi saya sama sekali tidak bisa duduk apalagi berdiri. Kaki dan tangan kiri saya lumpuh. Meskipun sedih tapi saya tidak pernah menyesali apa yang terjadi karena saya percaya bahwa jika Tuhan izinkan hal ini maka Dia pasti punya suatu rencana yang besar dan indah dalam hidupku. Itulah pengakuan iman saya, meskipun memang sebagai manusia biasa masih saja ada ketakutan dan kekhawatiran dalam hati
Biaya operasi, obat-obatan dan lain sebagainya yang hampir mencapai 1 milyar ditambah lg biaya hidup untuk diri sendiri dan keluarga yang mencapai puluhan juta perbulannya membuat saya sangat takut dan khawatir. Bagaimana saya bisa bekerja dengan kondisi tubuh yang tidak sempurna? Bersyukur ada Roh Kudus yang dahsyat. Setiap kali rasa takut dan khawatir itu datang, Roh Kudus mendorong saya untuk membaca firman Tuhan dan mendengar lagu pujian pemyembahan. Firman Tuhan itu sungguh hidup, “ya dan amin”, Ia tidak pernah kembali dengan sia-sia. Membaca Alkitab tiap hari membuat saya kuat dan terus yakin akan kasih karunia-Nya. Saya juga percaya bahwa firman Tuhan menyembuhkan. Enam bulan pasca operasi saya sudah bisa berjalan kembali hingga hari ini. Meskipun kaki kiri masih terasa berat dan tangan kiri belum bisa menggenggam namun pemulihan yang terjadi begitu cepat adalah suatu mujizat yang dahsyat. Banyak orang yang mengalami kasus seperti saya akhirnya meninggal dunia atau lumpuh seumur hidup, tapi saya percaya bahwa oleh bilur-bilur-Nya saya sudah disembuhkan (ini adalah pengalaman beriman saya). Firman Tuhan telah mengubah tubuh, jiwa, roh, juga hati dan pikiran saya. Karena firman Tuhan iman saya bertumbuh dan saya melihat begitu banyak mujizat yg terjadi termasuk dalam hal keuangan. Hingga hari ini Tuhan mencukupkan bahkan melebihkan keuangan saya. Tuhan tidak pernah berdusta. Dan Dia tidak pernah membuat saya meminta-minta. Carilah Dia melalui firman-Nya dan hidupmu akan diubahkan
Awal tahun 2018 saya berdoa agar kesembuhan saya disempurnakan. Dan Tuhan ingatkan saya melalui firman-Nya bahwa semua akan indah pada waktunya. Saya juga berdoa agar diberi kesempatan melayani Tuhan yang sesuai dengan kondisi saya. Roh Kudus mengingatkan bahwa saya masih hidup dan kuat karena firman Tuhan. Manusia membutuhkan firman Tuhan, jiwa mereka harus kenyang akan firman. Akhirnya saya memutuskan dalam nama Tuhan Yesus, saya akan membagi 1.000 alkitab di tahun 2018 ini. Mulanya saya tidak tahu bagaimana caranya tapi beberapa bulan kemudian saya membaca di salah satu group whatsapp rohani tentang pelayanan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang salah satunya membagikan alkitab ke daerah-daerah terpencil. Puji Tuhan, inilah jalan yang Tuhan berikan agar saya bisa ambil bagian dalam pelayanan ini
“Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.” (Mazmur 119:105)
Aktivitas layanan tidak dapat dihentikan, meski ada hari-hari libur lebaran. Dengan demikian ada banyak pihak yang harus tetap melayani, walaupun secara resmi pemerintah mengumumkan libur dua hari sebelum, dua hari pada saat, dan dua hari sesudah lebaran. Bahkan dimungkinkan para pekerja menambah lagi libur empat hari, masing-masing bila ditambah cuti dua hari sebelum dan dua hari sesudah libur resmi.
Siapa saja yang tetap harus melayani di libur lebaran? Mari kita telisik satu persatu. Pertama-tama kita mengingat para petugas yang berhubungan dengan angkutan darat, laut dan udara. Mereka tidak bisa libur, meski sanak keluarganya harus berlebaran. Bahkan pada hari H lebaran, Kereta Api tetap berangkat sesuai jadwal, Pesawat tetap terbang sesuai agenda, Bus dan angkutan kota tetap mengangkut penumpang, Kapal-kapal tetap menyeberangi lautan meski banyak orang sedang menjalankan ibadah.
Yang kedua, kita ketahui bersama para petugas keamanan yang tidak boleh libur. Mulai dari kompleks-kompleks perumahan, pertokoan, perkantoran, jalan raya, pemerintahan, dan objek-objek vital negara, semuanya tidak boleh ditinggal libur para petugas keamanan. Yang ketiga, para petugas yang berhubungan dengan pengadaan dan pengelolaan listrik, air, minyak dan gas yang tetap dikonsumsi meski sedang musim libur lebaran. Mereka semua harus memastikan tetap tersedia dengan cukup pasokan listrik, air, minyak dan gas di rumah-rumah atau di jalan-jalan raya.
Yang keempat, para petugas Rumah Sakit. Meski libur lebaran, orang-orang yang sedang dirawat di rumah sakit tidak boleh serta merta dipulangkan dan boleh dirawat di rumah masing-masing. Yang kelima, para petugas pemadam kebakaran. Mereka harus tetap berjaga, meski libur lebaran bukan berarti kejadian kebakaran bisa diliburkan dulu.
Yang ketujuh, para petugas di bisnis eceran (retail) di pusat-pusat perbelanjaan modern, di dekat perumahan maupun di berbagai Rest Area. Lihat saja, sehari sebelum lebaran mereka tetap melayani konsumen. Tiga jam sesudah sholat idul fitri, semua konter retail sudah siap melayani konsumen dengan semangat dan sukacita. Yang kedelapan, para jurnalis baik cetak maupun non cetak. Mereka tetap setia melaporkan segala kejadian yang terjadi sepanjang libur lebaran. Yang kesembilan, para petugas pemantau mesin-mesin ATM Bank yang harus memastikan mesin ATM berfungsi dan cukup uang di dalamnya. Yang kesepuluh, para petugas hotel dan tempat-tempat rekreasi. Mereka harus tetap setia melayani semua tamu yang menikmati liburannya.
Yang terakhir menurut pengamatan saya adalah para pelayan keagamaan yang harus tetap siaga melayani umatnya sesuai jadwal yang sudah ditetapkan, maupun melayani untuk kejadian-kejadian tidak terduga di saat libur lebaran. Juga pelayanan kerohanian di dunia digital.
Kesebelas bidang pelayanan di atas yang tidak mengenal libur di musim libur lebaran. Mereka bekerja dengan dedikasi dan komitmen yang tinggi. Sudah semestinya kita memberikan apresiasi kepada mereka dengan mendoakannya. Kita juga perlu memberikan ucapan terima kasih secara khusus meski mereka sedang menjalankan kewajiban sesuai pofesinya dan sudah dibayar sesuai dengan hak mereka.
Secara khusus saya ingin memberikan apresiasi kepada para petugas keamanan yang menjaga asset-aset Lembaga Alkitab Indonesia baik di kantor pusat maupun di percetakan dan di kantor perwakilan. Mereka tetap harus bergiliran berjaga sesuai dengan kesepakatan bersama. Saya juga mengapresiasi para staf di bagian digital yang tetap bekerja menulis dan meng-upload renungan harian tanpa memedulikan hari libur. Semua umat membutuhkan tuntunan renungan melalui bacaan Alkitab setiap hari, sepanjang minggu, bulan dan tahun tanpa jeda. Narasi tentang Alkitab harus terus bergaung sepanjang masa.
Doa khusus saya untuk kesehatan, sukacita, damai sejahtera dan kebahagiaan bagi semua tim LAI yang tetap bertugas dan tetap berpikir di hari libur lebaran. Juga secara umum untuk semua pelayan di berbagai bidang yang saya sebutkan di atas, demi tetap berlangsungnya aktivitas kehidupan di sepanjang musim libur lebaran. Diberkatilah semuanya. Salam Alkitab Untuk Semua.
Realitas menunjukkan di Indonesia ada setidaknya 323 Sinode Gereja yang terdaftar di kantor Bimas Kristen Protestan Kementerian Agama RI. Sejak tahun 1950 Dewan Gereja-gereja di Indonesia atau yang sekarang menjadi Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) telah bercita-cita untuk mempersatukan seluruh gereja di dalam suatu gerakan oikumene. Ada begitu banyak tantangan yang tentunya harus dihadapi dua diantaranya adalah perbedaan doktrin dan liturgi gereja.
Empat tahun setelah PGI berdiri yaitu pada tahun 1954 Lembaga Alkitab Indonesia hadir di tengah-tengah umat dan gerakan oikumene tersebut. Sebagai lembaga yang hadir untuk menyediakan kebutuhan umat dan gereja akan alkitab maka LAI mengambil peran yang sangat penting untuk memberi spirit baru yaitu menyediakan satu terjemahan alkitab yang dapat dipakai oleh seluruh gereja dari berbagai interdenominasi, khususnya gereja-gereja protestan. Barulah pada tahun 1968, gereja katolik atas kebesaran hatinya mempercayakan seluruh penerjemahan alkitab kepada LAI dan menerima terjemahan itu untuk juga dipakai oleh gereja-gereja katolik di manapun berada di Indonesia ini. Itulah Alkitab terjemahan Baru 1974 yang kita gunakan sampai saat ini. Sebelumnya gereja katolik telah melakukan penerjemahan sendiri dan telah menyelesaikan seluruhnya, Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Alkitab menjadi simbol kebersatuan umat Kristen dan Katolik di Indonesia. Apapun sinode gerejanya, alkitabnya berasal dari LAI. Tidak bermaksud membesar-besarkan realitas yang ada, namun memang begitulah adanya. Saya pribadi sudah berhubungan intens melalui berbagai forum dengan berbagai Sinode Gereja di Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Bali, Timor, Alor, Sumba, sampai Papua, yang semuanya menggunakan Alkitab terjemahan LAI. Hal ini juga tercatum dalam dokumen LAI yang menyebutkan bahwa Lembaga Aras Gereja Tingkat Nasional (PGI, KWI, PGLII, PGPI, PBI, Bala Keselamatan, GMAHK, dan GOI) semuanya terlibat dalam karya terjemahan Alkitab yang diterbitkan LAI. Itu menunjukkan bahwa mereka menerima dan menggunakan Alkitab terjemahan LAI.
Dengan realitas di atas maka Alkitab di Indonesia dapat menjadi pemersatu yang riil dan melaluinya dapat dikembangkan kepada aspek lain yang sungguh mendukung gerakan oikoumene. Sebagai contoh konkret, dalam tiga bulan terakhir saya keluar masuk Gereja di berbagai wilayah dan denominasi untuk mensosialisasi gerakan “Alkitab Untuk Semua”. Dengan sosialisasi gerakan ini diharapkan semakin banyak gereja dari sinode apapun ikut bergabung dalam arak-arakan dan pelayanan bersama LAI. Hasilnya sungguh sangat luar biasa. Antusias dan rasa solidaritas mereka terwujud dalam komitmen untuk membantu pengadaan Alkitab bagi saudara-saudara seiman di daerah pelosok dan terpencil di Indonesia.
Contoh lain adalah program Pendidikan Alkitab yang diselenggarakan di Gedung Pusat Alkitab (GPA) Jalan Salemba Raya No 12 Jakarta Pusat mendapat sambutan yang “mbludak” dari umat berbagai denominasi gereja. Sekali lagi ini menunjukkan bahwa Alkitab di Indonesia terbukti mampu mempersatukan umat Kristen di akar rumput dalam kerjasama yang nyata.
Masih ada peluang lain yang dapat dikembangkan untuk merealisasi semangat oikoumene di akar rumput, antara lain adalah dengan gerakan Aku Cinta Alkitab (ACA), menjadi Sahabat Alkitab (SA), Ekspedisi Alkitab Untuk Semua, Membaca seluruh alkitab dalam satu tahun, mendukung karya terjemahan Alkitab ke berbagai bahasa daerah, pendidikan alkitab liburan, mendukung gerakan Satu Alkitab untuk setiap kelahiran baru, dan lain sebagainya.
Cita-cita mewujudkan kesatuan gereja di Indonesia ternyata sungguh dapat diwujudkan melalui hal-hal yang konkret dalam keseharian umat Kristen di akar rumput. Baiklah para “elit” gereja melakukan rapat-rapat, diskusi, seminar, lokakarya, konferensi, konsultasi, kongres, musyawarah, dan berbagai forum lain untuk mewujudkan kesatuan gereja di Indonesia. Akan lebih dahsyat lagi bila secara paralel bentuk-bentuk riil ekumenikal berbasis “Alkitab yang sama” dapat terus dikembangkan di seluruh Indonesia. Salam Alkitab Untuk Semua.
“Wah, sekarang terasa lega sekali dan lebih nyaman mencari Alkitab yang kita butuhkan Pak,” kata seorang kolega yang kamis lalu berkunjung ke toko “Bible House” LAI di Jl Salemba Raya 12 Jakarta Pusat. Kolega ini sudah sering berkunjung ke toko sejak lama dan merasakan ada perubahan yang signifikan meskipun belum 100% selesai pekerjaan renovasi dan re-layout toko “Bible House” LAI.
Mengelola toko tidak cukup hanya memajang barang di rak-rak, ditunggui oleh seseorang dan dilayani semua transaksi pembelian. Tidak cukup. Retail is detail. Kita harus masuk ke perkara detail mulai pintu masuk, area pandangan utama, signed, display product, informasi promosi, kelengkapan barang, kebersihan lantai, penerangan ruangan dan rak-rak, posisi display product, kemudahan pencarian barang, kebersihan rak display, penyejuk ruangan, tabung pemadam kebakaran, petunjuk penyelamatan bila keadaan darurat, posisi kasir, kemudahan transaksi, ketersediaan stok barang, keramahan dan kesigapan petugas toko dan praktik melayani dengan prima.
Bulan Maret lalu mulailah dilakukan perubahan-perubahan di toko “Bible House” yang merupakan “wajah” LAI yang selalu dilihat oleh para pengunjung Gedung Pusat Alkitab. Mengacu kepada pendapat dan masukan-masukan dari banyak pengunjung, maka Tim Penyebaran LAI bersatu padu mengupayakan “make up” yang terbaik agar “wajah” LAI tampak cantik dan elok dipandang mata. Terlebih dari itu, pembenahan manajemen toko juga dilakukan dengan serius agar memudahkan pengunjung bertransaksi dan menekan risiko “shrinkage” atau selisih hitung barang.
Meskipun saya pernah bekerja selama 9 tahun di grup retail besar di Jakarta, dan pernah menulis satu buku tentang manajemen retail, namun saya menyadari “up date” kompetensi di bidang pengelolaan toko sangatlah terbatas. Tidak habis akal, saya kontak setidaknya empat orang kolega yang masih aktif berprofesi di bidang bisnis retail. Saya minta mereka memberikan masukan-masukan paling up date untuk membuat toko menjadi atraktif, nyaman, aman dan sangat produktif.
Dapatlah empat masukan yang berupa gambar-gambar dan uraian rinci tentang “lay out” toko yang kekinian. Bersama tim penyebaran LAI kami sintesiskan semua masukan tersebut dan mulailah pertama-tama dengan perubahan display-display barang yang dipercantik. Kemudian kami putuskan untuk merenovasi ruangan secara keseluruhan dan mengubah warna rak-rak pajangan agar lebih cerah. Kami langsung mengundang tiga vendor untuk bersaing membuat proposal pekerjaan renovasi toko. Sesudah dilaksanakan renovasi, awal Juni ini kami sudah menuai perubahan yang sangat signifikan.
Kamis lalu Tim Penyebaran berinisiatif mencetak kaos dengan tulisan “Sehati, Antusias, Fokus”. Hari jumatnya dipakai bersama dan menjadi perhatian semua orang yang melihatnya. Banyak pujian dilontarkan dan bahkan ada yang bertanya dimana bisa didapat kaos tersebut? Warna dan model kaosnya terbilang biasa, akan tetapi karena ada tulisan “Sehati, Antusias, Fokus” yang cukup mencolok sehingga banyak orang terinsipirasi.
Gerakan SAF: “Sehati, Antusias dan Fokus” adalah gerakan implementasi nilai-nilai kerja yang konkret dan terukur. Nilai-nilai ini merupakan operasionalisasi nilai-nilai MITRA (Melayani, Inovasi, Tepercaya dan Kerjasama) LAI. Gerakan SAF dalam tiga bulan terakhir sudah membuahkan hasil konkret, yaitu: suasana toko “Bible House” LAI lebih meriah dan membangkitkan hati orang yang datang menjadi bungah serta bergairah.
Sehati terbukti menjamin kerjasama yang sinergis. Dua ditambah dua bisa menghasilkan lebih dari empat, itulah sinergis. Kemampuan yang terbatas akan sangat tertolong dengan kesehatian. Sehati tidak sekadar bersama-sama, namun sungguh akan menciptakan kerjasama. Dengan sehati banyak hal dapat terjawab. Menurut Kamus Bahasa Indonesia, sehati adalah bersatu hati; seia sekata. Sehati dalam praktik kerja berarti selalu “kompak”.
Kata antusias berasal dari Bahasa Yunani: Entheos. En = di dalam, dan Theos = Tuhan. Antusias berarti di dalam Tuhan. Ciri-ciri orang di dalam Tuhan adalah: semangat, sukacita, positif, optimis, bergerak cepat dan penuh inisiatif. Tuhan adalah Roh. Bila Dia ada di dalam kita, dan kita ada di dalam Dia, maka menyatulah kita dengan Tuhan. Akibatnya “api”Nya selalu menyala dalam diri orang yang selalu Antusias.
“Sekali-sekali saya boleh dong tidak Antusias,” kata seorang kolega. Saya katakan kepada kolega tersebut: “Kalau saya sungguh tidak berani tidak Antusias. Karena kalau tidak Antusias berarti tidak ‘di dalam Tuhan’, lalu apa jadinya saya?”
Gerakan SAF yang terakhir adalah Fokus. Kekuatan fokus sudah terbukti. Kertas bisa terbakar bukan oleh karek api. Sinar matahari yang difokuskan dengan lensa yang dapat menumpukkan sinar matahari pada satu fokus, maka akan timbul panas dan dapat membakar kertas tersebut.
Mengatur fokus! Kita perlu mengatur fokus dengan tepat, yakni sesuai dengan tujuan. Dengan begitu, kita mampu mengumpulkan informasi yang berhubungan dengan masalah dan mengesampingkan informasi yang tidak berhubungan dengannya. Baru, setelah itu, kita mampu menemukan solusi permasalahan kita bermodalkan informasi-informasi tersebut.
Salam Alkitab Untuk Semua.
Erna Yulianawati, Kadep Komunikasi & Pengembangan Kemitraan LAI (memegang obor) saat Ibadah Peluncuran KBB bahasa Yali Angguruk di Ahapsili, 27 Mei 2018.
Seminggu setelah peluncurkan Alkitab bahasa Yali di Yali Angguruk, Papua, 25 Mei 2018 Tim Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) kembali menuju tanah Papua untuk meluncurkan Buku Kabar Baik Bergambar (KBB) bahasa Yali Angguruk dan menyerahkan Alkitab bahasa Yali di Apahapsili, salah satu distrik di Kabupaten Yalimo, Papua.
Apahapsili terletak di lembah yang diapit oleh empat gunung yang mengelilinginya, yakni Gunung Wenahik Pumbukon, Gunung Esin, Gunung Nambuk Poik, dan Gunung Fubuheyu. Selain gunung, wilayah Apahapsili juga diapit oleh 4 aliran sungai besar yang mengelilinginya, yakni: Sungai Habiye, Sungai Wol, Sungai Payerek, dan Sungai Lek. Apahapsili bagaikan Lembah Taman Eden. Namun jika dilihat dari arti kata Aphapsili, maka arti tempat itu sangat bertolak belakang dengan taman eden. Apahapsili dalam bahasa Yali berasal dari 3 suku kata. “Ap” artinya manusia, “Ahap” artinya kulit, dan “Sili” artinya tempat/halaman/lokasi, jadi Apahapsili artinya tempat menguliti kulit manusia. Sangat menyeramkan memang. Namun nama tempat itu hanyalah simbol dari kehidupan suku Yali di masa lalu yang masih primitif dan kanibal. Saat ini suku Yali sudah hidup dalam terang Kristus.
Untuk masuk Apahapsili dari Sentani kami menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan, pesawat kecil berpenumpang 10 orang milik MAF. Dalam pesawat itu selain pilot, kami ber- 9 orang dipimpinan oleh Bp. Nathan Pahabol, selain duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Papua, beliau juga sebagai koordinator peluncuran KBB Yali Angguruk dan penyerahan Alkitab Yali Angguruk. Tak terasa kami sudah mengudara selama 45 menit ketika roda pesawat menyentuh landasan di Apahapsili, di Pegunungan Yalimo.
Kami disambut secara antusias oleh masyarakat Apahapsili yang berasal dari Rayon Jemaat Elelim, Jemaat Apahapsili, 17 bakal jemaat Gereja Kristen Injili di Tanah Papua(GKITP). Selain itu kami disambut oleh Pdt. Yahya Walianggen, Ketua Klasis Yalimo Elelim beserta pengurus klasis, Pdt. Piet Usior, Badan Pekerja Am Wilayah Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Fredrick Tommeten, Koordinator Penerjemah bahasa Yali Angguruk, Ketua Majelis Jemaat GKITP Lachairoi Apahapsili, para guru jemaat, tua-tua adat, dan para penginjil, serta penduduk setempat. Mereka semua menggunakan pakaian adat Humi dan Kem/Salu menyambut kami sambil menari dalam gerak dan nada. Sebagai ucapan selamat datang masyarakat Yali, penduduk mengalungkan noken di leher kaum ibu dan kalung dari biji rumput hilimbak untuk kaum bapak.
Pagi-pagi benar kami dikejutkan dengan suara yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan oleh kaum laki-laki yang dinyanyikan dari belahan bukit dan suara kaum perempuan yang dinyanyikan dari sudut gunung yang lain yang berasal dari kampung sebelah. Semangat gotong royong juga terlihat dimana penduduk desa tetangga sengaja datang untuk membangunkan tuan rumah agar segera cepat-cepat ambil batu dan rumput untuk acara bakar batu.
Sambil penduduk menyiapkan batu, rumput, dan mengolah makanan, kami melaksanakan lokakarya di gedung sekol ah YPK Lachairoi Apahapsili, dimana sebelumnya dimulai ibadah singkat yang dipimpin oleh Bp. Yunus Walilo, seorang Guru Jemaat dan juga menjadi salah satu tim penerjemah bahasa Yali. Sesi pertama diawali dengan penyampaian materi tentang Profil GKITP Klasis Yalimo Elelim dengan tema Sebagai Hasil Pekabaran Injil Selama 54 Tahun. Selanjutnya, Ibu Erna Yulianawati menyampaikan Visi-Misi LAI dan Program Kemitraannya LAI. Kemudian Pdt. F. Tommaten memberikan sesi tentang Asal Usul dan Proses Penerjemahan Alkitab Bahasa Yali. Pada sesi keempat giliran Bp. Nathan Pahabol yang akan menjelaskan Penggunaan Bahasa Yali Angguruk dalam keseharian. Dan pada sesi terakhir dipimpin oleh Pdt. Willem Rumbiak yang akan menjelaskan Visi Misi GKI di Tanah Papua.
Setelah sepanjang hari berlokakarya, sore itu kamipun diminta untuk mengikuti prosesi Bakar Batu atau Barapen di mana semua makanan yangg terdiri dari babi, sayur-sayuran, ubi-ubian dimasak di dalam kolam yang dibawahnya diletakan batu panas dan kemudian ditutup kembali dengan batu panas yang sudah dibakar berjam-jam.
Hari ketiga di Apahapsili, pagi itu kami masih disambut oleh nyanyian bersahut-sahutan tanda mereka akan menjemput kami dengan tari-tarian dan kegembiraan. Prosesi ibadah peluncuran tepat dimulai pukul 10.00 WIT, yang diawali oleh rombongan para guru jemaat, majelis dan hamba Tuhan dengan pembawa Alkitab yang diangkat seperti “Tabut Perjanjian”. Setibanya di tempat ibadah, tepat di depan gedung Gereja Lachairoi yang lama, “Tabut Perjanjian” diletakkan, dan dilakukan pembakaran obor bambu oleh Pdt. F. Tometten, BP Am Sinode GKI di Tanah Papua, Wakil LAI, dan Ketua Klasis. Ini sebagai simbol terang Kristus terus menyala di Tanah Apahapsili. Ibadah Minggu dimulai dengan puji-pujian bahasa Yali Angguruk dengan pembawa liturgi Ibu Agustina Faluk, Wakil Ketua MJ GKITP Lachairoi dan Pdt. Piet Usior, sebagai Pembawa Firman.
Saat peluncuran Alkitab dan KBB bahasa Yali disampaikan dalam bentuk fragmen oleh Pdt Fredrik Tommeten dan diserahkan bersama oleh wakil LAI kepada Sinode GKI di Tanah Papua. Kemudian oleh Pdt. Daniel Kaigere, S.Si, Sekum GKITP menyerahkan secara simbolis kepada perwakilan gereja-gereja yang ada di Apahapsili. Diikuti penyerahan oleh LAI, pemerintah, dan klasis. Alkitab dan KBB Yali Angguruk diserahkan kepada orang tua dan anak2 serta para pengasuh. Tuhan luar biasa. Jelas terlihat sukacita dan kegembiraan umat menerima Alkitab dan KBB Yali Angguruk. Dengan gemuruh teriakan dan tarian disambut terang matahari seakan memandang dari langit ikut menyambut Kabar Baik. Antusiasme umat terlihat ketika berhari-hari mereka jalan kaki bahkan sampai 3 hari dari kampung Gilika dan Welare 2 hari perjalanan. Sayangnya umat Tuhan terlalu banyak, sementara Alkitab dan KBB yang ada masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan umat berbahasa Yali. LAI harus terus bergumul agar firman Tuhan terus tersebar sampai wilayah terpencil, semoga banyak jiwa tergerak untuk melihat kerinduan mereka di Apahapsili. Tuhan mampukan kami untuk terus bersaksi dan melayani umat Tuhan untuk Tanah Papua. [ma]
Pdt Dr. I.P. Lambe (Ketua Umum Yayasan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) melantik Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD) LAI Mitra Banjarmasin dan KKPD LAI Mitra Banjar Baru bertempat di Gereja Isa Almasih Hope Banjarmasin, 1 Juni 2018
Tepat dihari lahirnya Pancasila 1 Juni 2018, Pengurus Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) melantik sekaligus dua kepengurusan KKPD yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan, yakni KKPD Banjarmasin dan KKPD Banjar Baru untuk periode kepengurusan 2018 – 2023.
Rasa syukur dan antusiasme para mitra LAI yang tergabung dalam KKPD Banjarmasin dan KKPD Banjar Baru terlihat dalam kehadiran mereka pada ibadah pelatikan di GIA Hope Banjarmasin. Adalah Pdt. Dr. Ishak P. Lambe, Ketua Umum LAI, sendiri yang bertindak selaku pelayan firman dalam ibadah tersebut. Dalam renungannya beliau mencoba menjelaskan peristiwa Pentakosta sehingga semua orang yang hadir bisa berbicara dalam bahasa ibu mereka masing-masing (Kisah Para Rasul 2: 1-16). Dengan turunnya Roh Kudus sebenarnya para murid dipakai Tuhan sebagai alat perpanjangan tangan Tuhan menyampaikan Kabar Baik ke dalam berbagai bahasa agar semua orang mengerti dan memahami. Ini bertolak belakang dengan maksud didirikannya menara Babel yang hanya ingin membuat manusia hebat dan menyamai kebesaran Tuhan. Oleh karena itu, Tuhan tidak ingin manusia binasa, sehingga Tuhan mengacaukan dengan mengubah seluruh bahasa yang satu menjadi berbeda-beda.
Peristiwa Pentakosta menjadi semangat berdirinya Lembaga Alkitab di muka bumi. Tujuannya agar Firman Tuhan diterjemahkan ke sebanyak mungkin bahasa sehingga setiap orang bisa membaca, mengerti, dan memahami Kabar Baik. Hal itu tertuang dalam visi-misi pelayananan lembaga Alkitab di manapun, termasuk juga visi-misi LAI. Agar Firman Tuhan sampai ke seluruh umat Tuhan LAI perlu bermitra dan bersinergi dengan seluruh Gereja dan umat Tuhan. LAI menyiapkan benih (lewat Alkitab yang diterjemahkan, diproduksi dan disebarkan). Gereja menaburkan benih (pelayanan Penginjilan), dan Tuhan yang menumbuhkan firman (Hidup Baru). Untuk itu LAI dan umat Tuhan harus bekerjasama mempererat pelayanan bersama.
Setelah ibadah pelantikan dilanjutkan dengan sambutan-sambutan berturut-turut oleh Pdt. Dr. Wardinan, Penasehat KKPD Banjarmasin dan Ketua Sinode GKE, mengucapkan terimakasih dipercayakan sebagai penasehat dan akan mengajak seluruh umat Tuhan di Banjarmasin untuk bergabung dalam KKPD agar dapat memberikan dampak besar bagi pekabaran injil ke pelosok Indonesia.
Hal yang sama juga disampaikan oleh Pdt. Oktapianus, Penasehat KKPD Banjar Baru yang akan mengajak semua umat untuk bergerak bersama-sama ambil bagian dalam penyebaran Kabar Baik di Indonesia. Demikian juga dengan Gereja Katolik yang juga sudah terlibat dalam pelayanan ini sebagai KKPD LAI mitra Banjarmasin. Dan selanjutnya Pdt. Effendi, Ketua KKPD Banjarmasin dan Pdt. Andi, Ketua KKPD Banjar Baru secara bersamaan berdiri mengucapkan banyak terimakasih untuk dukungan yang diberikan dan akan mulai bergerak aktif mengumpulkan anggota dan akan menggelar rapat perdana untuk memulai pelayanan KKPD Banjarmasin dan KKPD Banjar Baru.
Menutup sambutannya, Pdt. Ishak P. Lambe mengulang kembali visi LAI sambil menceritakan sejarah pelayanan LAI hingga saat ini, termasuk program-program, produk-produk, sampai isu-isu di sekitar penerjemahan Alkitab. Melalui info singkat ini Pengurus LAI dhi. diwakili oleh Ketua Umum LAI berharap kepada semua mitra LAI, termasuk KKPD Banjarmasin dan KKPD Banjar Baru bisa bersinergi mendukung pewartaan Kabar Baik sehingga kehadiran Alkitab bisa dirasakan oleh semua orang di Nusantara. [Selviana]
Isu larangan wisatawan Indonesia pergi ke Israel ramai jadi perbincangan, travel agent wisata religi tentu kena dampaknya langsung. Kabar wisatawan Indonesia dilarang masuk ke Israel mulai tanggal 9 Juni 2018, membuat resah para travel agent dan calon wisatawan rohani, karena mereka tidak boleh berziarah ke Betlehem dan Yerusalem, serta tempat-tempat yang memiliki situs-situs Alkitab.
Dalam salah satu postingan di Facebook, ada seorang sahabat yang sangat bijaksana mencoba menawarkan jalan keluar untuk mengobati “keresahan” tersebut. Cara bijaksananya adalah: “Silakan mengunjungi Museum Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Jl. Salemba nomor 12 Jakarta Pusat.”
Saya sangat bersukacita dengan ide di atas. Betapa tidak, di Gedung Pusat Alkitab (Kantor LAI) yang beroperasi sejak tahun 2012 memiliki Museum Alkitab yang sangat lengkap dan siap menerima kunjungan siapa saja secara pribadi maupun rombongan melalui Paket Wisata Alkitab (PWA) LAI.
Koleksi Museum Alkitab LAI, antara lain adalah: (1) Naskah-naskah yang berkaitan dengan sejarah penulisan Alkitab, penerjemahan Alkitab di Eropa dan nusantara (dari bahasa Melayu hingga bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah), bahkan ada juga Alkitab edisi Studi ukuran terbesar di dunia. (2) Koleksi benda-benda yang disebutkan di Alkitab atau yang berhubungan dengan budaya masyarakat di masa lalu bahkan sampai saat ini, misalnya buah ara, biji sesawi, sangkakala, mahkota duri, replika tabut perjanjian, roti tidak beragi, dll.
Dengan mengikuti PWA pengunjung akan mendapat informasi bagaimana Alkitab sampai di tangan kita, proses singkat penerjemahan Alkitab, tour di Bible House dengan diskon 20% untuk pembelian produk LAI. Melalui PWA juga dapat melihat secara langsung proses pencetakan Alkitab di percetakan Alkitab terbesar di Asia Tenggara. PWA ini dapat diikuti berbagai kalangan mulai dari TK hingga lansia. LAI juga menyediakan “story teller” yang handal dan selalu antusias menerangkan semua isi museum dan percetakan LAI.
Sangat menarik bukan? Sebagai informasi, tahun 2017 pengunjung yang datang ke Museum LAI berjumlah tidak kurang dari 12.500 orang. Pengunjung berasal dari berbagai rombongan dan individu yang datang dari Jabotabek dan berbagai daerah lain, bahkan ada yang dari luar negeri. Musim liburan sekolah di bulan Juni 2018 sudah ada 25 rombongan yang menulis surat akan berkunjung ke Museum LAI dengan peserta sekitar 1.500 orang.
“Saya baru tahu kalau di kantor LAI ada Museum Alkitab yang begitu lengkap. Sebaiknya semua anak sekolah difasilitasi untuk berkunjung ke sini agar mendapatkan pengalaman riil gambaran perjalanan sejarah penerjemahan Alkitab dan mengenal benda-benda yang disebutkan di Alkitab,” kata seorang pengunjung Museum LAI yang sudah pernah melanglang buana ke luar negeri. “Saya sangat terkesan dengan percetakan Alkitab yang ternyata tidak mudah karena harus melalui berbagai proses rumit,” ungkap seorang pemuda gereja sesudah berkunjung ke Percetakan LAI di Nanggewer Bogor.
Pendeknya tidak perlu “resah dan gelisah” bila terpaksa tidak bisa lagi pergi ke Israel. Datang saja mengikuti Paket Wisata Alkitab di LAI yang dapat memberikan pengalaman unik dan bahkan dapat menguatkan iman kita. Dengan mengikuti Paket Wisata Alkitab diharapkan peserta dapat semakin mencintai Alkitab, artinya Alkitab akan semakin sering dibaca, dihayati dan diekspresikan dengan positif dalam kehidupan sehari-hari oleh semakin banyak umat di Indonesia. Hal ini seturut dengan semangat Alkitab Untuk Semua yang tengah digalakkan LAI.
Jika Anda ingin ikut Paket Wisata Alkitab LAI. ingat waktunya mulai dari hari Senin sampai dengan Sabtu, pukul 09.00-16.00 WIB. Info lebih lanjut silakan kontak: Bambang (0857 8215 1235) atau Costaria (0821 7996 9892), Bidang Perpustakaan dan Museum, Departemen Penerjemahan LAI, Jl Salemba Raya No. 12 Jakarta 10430.
“Bagaimana caranya agar murid-murid di sekolah saya bisa mendapatkan Alkitab, mengingat sekolah kami belum ada anggaran pengadaan Alkitab?”, tanya seorang Ibu Guru peserta pembinaan Moria GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) di Sukamakmur, Sibolangit, Sumatera Utara, 26 Mei 2018 lalu.
Pertanyaan yang sama juga pernah diajukan sahabat saya, seorang Guru di Wonosari Daerah Istimewa Yogyakarta sekira dua bulan yang lalu. Begitu juga dengan seorang teman persekutuan di Jakarta yang menanyakan ikhwal yang sama: pengadaan Alkitab untuk sekolahnya. Seingat saya ada lebih dari empat orang yang pernah bertanya kepada saya tentang pengadaan Alkitab di sekolah almamaternya.
Saya selalu menjawab dengan ucapan terima kasih atas kepedulian terhadap adik-adik kelas di sekolahnya, khususnya dalam hal pentingnya pengadaan Alkitab bagi mereka. Kemudian saya kemukakan bahwa empat tugas utama Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) adalah menerjemahkan Alkitab, memproduksi Alkitab, menyebarkan Alkitab, dan mengupayakan keterbacaan Alkitab di seluruh Indonesia. Pengadaan Alkitab di sekolah-sekolah adalah tugas LAI dalam hal penyebaran Alkitab dan keterbacaan Alkitab.
Untuk menjalankan empat tugas utamanya LAI selalu bermitra dengan Gereja, dalam arti individu-individu dan lembaga-lembaga. LAI setiap tahun membagikan Alkitab ke berbagai wilayah, terutama wilayah yang sangat sulit dijangkau, dan masyarakatnya memiliki daya beli yang sangat rendah. Tahun ini secara khusus LAI akan membagikan 125.000 Alkitab untuk 125.000 Jiwa di enam wilayah di Indonesia: (1) Karo dan Dairi, Sumatera Utara, (2) Sintang, Kalimantan Utara, (3) Halmahera Barat, Maluku Utara, (4) Kei Besar dan Kei Kecil, Maluku Tenggara, (5) Sumba, Nusa Tenggara Timur, dan (6) Boven Digoel, Papua.
Untuk menentukan sasaran bantuan Alkitab, LAI menempuh dua cara: (1) menjawab surat-surat resmi permintaan dari umat di pelosok negeri melalui Gerejanya, dan (2) hasil survei internal LAI yang menyimpulkan bahwa umat dan Gereja tersebut memang harus dibantu karena berbagai keterbatasannya.
Dari mana datangnya biaya untuk pengadaan dan penyaluran 125.000 Alkitab di atas? Dari semua mitra LAI yang memiliki komitmen dan tergerak mendonasikan rejekinya. Kapan akan dikirim Alkitab-Alkitab tersebut? Seperti biasa LAI menjadwalkan di semester dua atau menjelang Natal. Karena di semester satu Tim LAI bekerja keras untuk mengumpulkan dana dari para mitra dan mencetak Alkitab sesuai jumlah yang dibutuhkan.
LAI juga terbuka terhadap keterlibatan mitra LAI dalam pembagian Alkitab ke daerah terpencil dalam program “Ekspedisi Alkitab Untuk Semua”. Dimana mitra LAI bersedia memberikan donasi khusus dan membiayai dirinya sendiri sampai ke tempat tujuan. Mengacu kepada pengalaman sebelumnya, program ini sudah terbukti memberikan makna spiritual yang sangat istimewa bagi mitra LAI yang pernah ikut program ini. “Ekspedisi Alkitab Untuk Semua” bukan rekreasi, tetapi sungguh suatu perjalanan ziarah iman (pilgrimage of faith).
Kembali kepada kebutuhan pengadaan Alkitab untuk sekolah-sekolah. Setiap kali menjawab pertanyaan para sahabat bagaimana cara pengadaan Alkitab di sekolah almamaternya, saya mengajukan usulan untuk menggerakkan para alumni sekolah tersebut yang sudah “berhasil” dalam hidupnya. Kekuatan alumni sangat luar biasa. Terbukti banyak sekali para alumni yang mampu menyelenggarakan acara reuni di tempat-tempat “mahal”, bahkan ada yang setiap tahun reunian.
Ada baiknya pihak sekolah mengundang secara khusus para alumni yang beragama Kristen dan Katolik untuk bersama-sama temu kangen, reuni dan secara khusus menggalang dukungan pengadaan Alkitab untuk adik-adik kelasnya. Kalau hanya pengadaan 1000 atau 5000 Alkitab untuk satu sekolah, para alumnus pastilah sangat mampu.
“Ah, benar juga kata Bapak. Ada beberapa alumnus sekolah kami yang sudah jadi direktur perusahaan besar. Kami akan kontak mereka untuk membantu adik-adik kelasnya,” kata Ibu Guru peserta pembinaan Moria GBKP di Sukamakmur, Sibolangit, Sumatera Utara dengan antusias.