LAI Berkunjung ke Batam

Hampir sebagian besar Mitra Kerja Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang tergabung dalam Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD) harus melakukan regenerasi para pengurusnya. KKPD Batam contohnya, di mana pengurus sebelumnya telah berhasil menyelesaikan tugas dan tanggungjawabnya serta pelantikan pengurus KKPD LAI Mitra Batam untuk periode 2018-2023. Untuk itulah Pengurus LAI, dhi. Sigit Triyono, Sekretaris Umum LAI datang ke Batam.

Atas nama Pengurus LAI, Sigit Triyono, Sekum LAI, mengucapkan terima kasih kepada Pengurus KKPD LAI Mitra Batam Periode 2013-2018. Pada kesempatan tersebut turut mendampingi Sigit Triyono, Sekum LAI, Kepala Kantor Perwakilan LAI Medan, Ratna Harefa. Dalam pertemuan tersebut dilanjutkan dengan pengembangan rencana kemitraan yang tergabung dalam Gerakan Sejuta Mitra LAI. Semoga dalam waktu 5 tahun akan terkumpul 1 juta mitra LAI.

Dalam kunjungannya ke Batam kali ini, tepat tanggal 17 Agustus 2018 LAI juga diundang sebagai narasumber dalam Forum Konvensi Pendeta-pendeta Gereja Toraja Wilayah IV di Batam. Sekum LAI juga melakukan presentasi visi-misi LAI dan Seminar Penerjemahan Alkitab yang dibawakan oleh Pdt. Anwar Tjen, Ph.D, Kepala Departemen Penerjemahan LAI kepada para pendeta Gereja Toraja Wilayah IV. []

Audiensi LAI ke Bank Indonesia

Untuk menyebarkan semangat Alkitab Untuk Semua, Pengurus LAI terus berupaya menjalin komunikasi kepada sebanyak mungkin mitranya, termasuk dengan pihak Pemerintah. Mewakili Pengurus LAI, Sigit Triyono (Sekum LAI) dan Saefudin (Kadep Penyebaran & Pemasaran LAI) rabu siang, 15 Agustus 2018 beraudiensi dan berdiskusi dengan Dr. Peter Jacobs, Staf Ahli Gubernur Bank Indonesia di Gedung Bank Indonesia  Kebon Sirih lantai 6, Jakarta Pusat.

Dalam pertemuan tersebut Pengurus LAI memberikan Alkitab edisi Finansial kepada Dr. Peter Jacobs. Harapan dari pertemuan tersebut adalah akan ditindaklanjuti dengan program Seminar Alkitab Tematis dan pemesanan serta penyebaran Alkitab pesanan khusus. Kiranya pertemuan tersebut menjadi berkat. []

Kegairahan 4 B di Manado

Sudah menjadi legenda singkatan 3 B yang menjadi daya tarik Kota Manado, yaitu: (1) Bubur Manado, (2) Bunaken, dan (3) Bukit Doa. Ada satu tambahan B yang keempat yang tidak kalah dari 3 B di atas, yaitu “Bible” atau Alkitab.

Bila kita tinggal di Kota Manado dalam sepekan saja maka kita bisa merasakan bahwa masyarakat Kota Manado tidak dapat dipisahkan dari Alkitab. Dari hari minggu sampai hari minggu berikutnya, setiap hari selalu saja ada aktivitas peribadahan yang selalu menggunakan Alkitab, baik di Gereja maupun di rumah-rumah dan kantor-kantor masyarakat Kota Manado.

Ada satu tradisi “Hari Pengucapan” yang semula bagian dari acara Gereja, sekarang sudah menjadi program pemerintah untuk menggairahkan Pariwisata. “Hari Pengucapan” adalah acara dimana semua rumah penduduk menyiapkan makanan, minuman dan oleh-oleh yang dapat dinikmati bersama sanak saudara yang berkunjung ke rumah mereka. Mirip dengan “Thanks Giving Day” di Amerika. Sekarang “Hari Pengucapan” sudah ditetapkan secara bergiliran masing-masing Kabupaten dan Kota oleh Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. Oleh masyarakat Kota Manado khususnya dan Sulut pada umumnya “Hari Pengucapan” dipahami sebagai bagian dari kegiatan peribadahan juga.

Sekarang sedang digalakkan slogan “Sulut Bangkit” oleh Pemerintah Provinsi Sulut dan berbagai unsur masyarakat. Slogan ini ditujukan guna  membangkitkan semangat masyarakat untuk maju, berkembang dan menang dalam persaingan. Upaya dukungan dilakukan oleh masyarakat dengan berbagi aktivitas yang juga dekat dengan Alkitab.

Saat saya bertemu dengan Bapak Ronny Lumempo, Ketua “Full Gospel Business Fellowship” Wilayah Sulut  kemarin (13/8/2018), beliau menceriterakan dengan sangat semangat bahwa ada banyak hal yang harus dilakukan untuk memajukan masyarakat, khususnya generasi muda Sulut. Tantangan sangat besar, terutama dengan adanya gelombang digitalisasi yang sudah merambah sampai ke desa-desa. Pornografi, narkoba dan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan Alkitab sudah banyak merusak generasi muda.

Pak Ronny sangat sukacita saat mendengar bahwa salah satu mandat LAI yang diberikan oleh Gereja-gereja di Indonesia adalah untuk mengupayakan agar Alkitab menjadi pedoman hidup keseharian umat (“Bible Engagement”). “Full Gospel Business Fellowship” wilayah Sulut yang sedang merancang program-program untuk mendukung “Sulut Bangkit” sangat terbuka bekerjasama dengan LAI.

Saat saya berjumpa dan berdiskusi dengan Ketua Sinode KGPM (Kerapatan Gereja Protestan Minahasa) Ibu Gembala Pdt  Fetrisia Keke Alling di kantornya, ada tiga hal yang dirasa baru dari LAI. Selama ini pemahamannya tentang LAI “hanya” sebagai penerjemah, penerbit dan penyebar Alkitab ke seluruh Indonesia. Ternyata ada tugas “bible engagement”, “bible advocacy” dan “bible ministry” yang harus diemban juga oleh LAI, dan KGPM sangat terbuka untuk bekerjasama dalam kepedulian yang sama demi umat Gerejanya.

Gereja terbesar di Sulut adalah GMIM (Gereja Masehi Injili Timor). Sudah banyak program LAI yang selalu didukung oleh Gererja ini. Saat saya bertemu dengan Sekretaris Sinode GMIM, Pdt. Evert A.A. Tangel, di tengah-tengah perayaan 90 tahun GMIM Jemaat Paulus di Kota Manado, beliau menegaskan bahwa dukungan GMIM akan tetap konsisten terhadap LAI. KKPD (Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan) Mitra LAI di Manado yang Ketuanya adalah Pendeta Hanny Montolalu yang juga dari GMIM, sudah berkomitmen untuk menyukseskan program Hari Doa Alkitab pada bulan September nanti di semua jemaat GMIM.

Kegairahan terhadap aktivitas yang berhubungan dengan “Bible” atau Alkitab juga terlihat saat bertemu dengan Wakil Kepala Kantor Wilayah Sulut BRI Bapak Edison Tampubolon.  Diceriterakan bahwa karyawan BRI yang beragama Kristen dan Katolik memiliki anggaran pasti yang siap disalurkan untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Alkitab.

Patung Tuhan Yesus memberkati Kota Manado yang menjulang tinggi di bukit menjadi salah satu penanda bahwa Kota Manado tidak dapat dipisahkan dari “Bible” atau Alkitab. Kiranya damai sejahtera selalu tinggal di Kota Manado dan Provinsi Sulawesi Utara. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

 

Inside Out – Verbum Mundo

Semangat “dari dalam keluar” ternyata masih membutuhkan perjuangan tersendiri bagi kebanyakan Gereja di Indonesia. Betapa tidak, bila dilihat dari indikator keuangan, tampak profil anggaran di banyak Gereja, mayoritas pengeluaran uangnya digunakan untuk biaya program-program internal dan pembangunan fisik kompleks Gereja. Masih sangat kecil jumlah anggarannya yang dialokasikan untuk menjalankan program-program kepedulian terhadap sesama, atau komunitas di luar gereja.

Berbasis observasi saya yang selama ini terlibat dalam pelayanan Gereja-gereja dari Padangsidimpuan sampai Merauke, dari Manado sampai Kupang, mayoritas pergumulannya sama dengan gereja dimana saya berjemaat, yaitu masih terus berjuang memenuhi pembiayaan program internal dan pembangunan infrastruktur gerejanya. Persentase anggarannya sangatlah kecil yang ditujukan untuk membiayai program kepedulian terhadap sesama di luar gereja.

Menarik sekali topik-topik bahasan dalam seminar “Verbum Domini” yang diselenggarakan oleh Gereja Katolik St. Yohanes Bosco Paroki Danau Sunter Jakarta Utara pada Sabtu, 11 Agustus 2018. Satu topik bahasan yang bagi saya paling menarik adalah “Verbum Mundo” (Sabda Allah dalam kehidupan sehari-hari). Topik bahasan ini dibawakan di sessi ketiga oleh Bapak Hortensio Mandaru, SSL (Konsultan Penerjemah LAI) sesudah bahasan “Dei Verbum” (Sabda Allah disampaikan) oleh RP. Prof (Em) Martin Harun, OMF., dan “Verbum In Ecclesia” (Sabda Allah dalam Kehidupan Gereja) oleh RD. Carolus Putranto Tri Hidayat (RM. UUT).

Presentasi satu jam Pak Hortensio sangatlah padat. Tapi saya dapat menarik intisarinya, yaitu Gereja didorong untuk mempraktikkan Sabda Allah dengan memberikan perhatian khusus kepada tiga hal: (1) Keadilan, (2) Rekonsiliasi konflik, dan (3) Kasih. Ketiganya bukan hanya ditujukan untuk internal umat, tetapi justru umat diharapkan aktif keluar untuk mewujudkannya bagi sesama – “inside out”.

Tiga wilayah kepedulian di atas sungguh-sungguh mendorong Gereja untuk tidak asyik dengan dirinya sendiri, namun harus peduli kepada kehidupan bersama.  Ekspresi kepedulian ini mengandung implikasi terhadap penyusunan program-program yang tentu tidaklah cukup hanya memperkuat internal gereja, namun harus banyak kepedulian kepada eksternal.

Semangat implementasi Sabda Allah dalam kehidupan sehari-hari sungguh sesuai dengan ajakan mewujudkan “Alkitab Untuk Semua”. Memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh panitia seminar “Verbum Domini”, saya mewakili LAI mempresentasikan langkah konkret “Mewujudkan Alkitab Untuk Semua” dengan menyampaikan informasi tentang empat tugas utama LAI serta ajakan untuk bersama-sama terlibat dalam gerakan DWD (Doakan, Wartakan dan Donasikan Berkat-berkat Tuhan).

Lembaga Alkitab Indonesia yang berdiri pada 9 Februari 1954, menjalankan mandat Gereja-gereja di Indonesia dalam hal: (1) Penerjemahan Alkitab, (2) Produksi dan Penerbitan Alkitab, (3) Penyebaran Alkitab, dan (4) Upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat di Indonesia. Empat tugas ini sejak 1968 sudah dijalankan bersama antara Gereja-gereja Kristen Protestan dan Gereja Katolik di Indonesia. Gereja Katolik di Indonesia adalah Gereja Katolik pertama di dunia yang pada tahun 1968 membuat keputusan menggabungkan Tim Penerjemahan Alkitabnya dengan Tim Penerjemahan LAI dan menghasilkan terjemahan Alkitab ekumene. Sampai saat inipun belum banyak negara yang memiliki “terjemahan Alkitab ekumene” yang digunakan bersama antara Gereja Kristen Protestan dan Gereja Katolik.

Pekerjaan menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Indonesia tidak berhenti saat sesudah terbit di tahun 1974 dengan nama Alkitab Terjemahan Baru (TB). Sesudah lebih dari 30 tahun Alkitab digunakan, ada banyak istilah-istilah dalam suatu bahasa yang berubah makna, ada kata-kata baru yang muncul, dan juga ada perkembangan ilmu penerjemahan Alkitab. Alasan-alasan inilah yang membuat suatu terjemahan Alkitab perlu di revisi (re = kembali; visi = melihat). Saat ini sudah menjelang final revisi terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia yang terbit 1974 dan diharapkan akan selesai tahun 2021. Revisi penerjemahan TB ini juga dikerjakan bersama para ahli penerjemahan Alkitab dari Gereja Katolik dan Gereja-gereja Kristen Protestan.

Masih banyak pekerjaan Penerjemahan Alkitab di Indonesia karena sepanjang LAI ada (64 tahun) baru berhasil menerjemahkan Alkitab yang utuh (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) ke dalam 33 bahasa dari 721 bahasa daerah yang ada di Indonesia. Satu Alkitab utuh membutuhkan waktu penerjemahan sekitar 20 tahun.

Pekerjaan LAI lainnya yaitu: produksi dan penerbitan, penyebaran, serta upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat di Indonesia tidak akan mampu dikerjakan tanpa  topangan para mitra dari berbagai Gereja, baik sebagai individu maupun institusi. Ladang layanan LAI begitu luas, tenaga begitu terbatas. Dari sekitar 27 juta orang Kristen dan Katolik di Indonesia yang tercatat sudah  memberikan dukungan langsung kepada pekerjaan-pekerjaan LAI baru di bawah 100.000 nama individu maupun lembaga.

LAI menargetkan dalam lima tahun ini (2018-2023) mendapatkan satu juta mitra yang akan aktif mendoakan, mewartakan dan mendonasikan berkat-berkatNya demi mewujudkan “Alkitab Untuk Semua”. Untuk mengumpulkan data mitrapun LAI membutuhkan mitra. Sangat diharapkan  Anda yang terpanggil dapat langsung mengontak Ibu Erna di nomor WA: 08128517415. Ini adalah salah satu bentuk “Verbum Mundo” – “inside out” – Sabda Allah dalam kehidupan sehari-hari.

Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Antusiasme Lansia Mewujudkan Alkitab Untuk Semua

“Usia saya 75 tahun, saya akan berangkat ke Pulau Kei Besar dan Kei Kecil Maluku bulan Oktober 2018 nanti untuk mengawal pembagian Alkitab SDK LAI,” kata Ibu Indrawati Ketua KKPD (Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan) LAI Bandung Selasa (7/8) lalu.

Ibu Indrawati tidak hanya semangat mengirim Alkitab untuk saudara-saudara di pelosok negeri yang sangat membutuhkan, tapi juga berjuang menggalang dukungan untuk pengadaan Alkitab tersebut. Salah satu upayanya adalah dengan menyelenggarakan Kebaktian Puji-pujian Kaum Usia Lanjut Gereja-gereja se Kota Bandung.

Ada tujuh kelompok Paduan Suara dan Kelompok Angklung yang hadir dan mengisi puji-pujian. Masing-masing kelompok yang rata-rata beranggotakan 30 personel kaum Lansia membawakan satu lagu pujian. Antusiasme mereka sangat terasa. Betapa tidak, ada seorang Ibu anggota Paduan Suara GKI Guntur yang sudah berusia 97 tahun juga ikut berdiri dan menyanyi. Ada beberapa Ibu yang hadir memakai tongkat, ada juga yang harus dipapah, tapi tetap semangat maju ke depan dan bernyanyi memuji Tuhan.

Dalam acara ini juga dihadirkan Ibu Grace Simon, penyanyi kondang tahun 80an yang tetap prima dan tahun ini berusia 65 tahun, yang berarti juga masuk dalam kategori kaum Lansia. Dia menyanyikan empat lagu dengan penghayatan yang luar biasa dan menggerakkan semua hadirin ikut bernyanyi bersama.

Fisik yang menua bukan halangan kaum lansia terlibat dalam program Satu Dalam Kasih LAI, sebuah program rutin pengadaan dan pengirim Alkitab ke berbagai pelosok negeri. Program ini didukung oleh KKPD-KKPD LAI di berbagai kota, dan salah satunya KKPD Kota Bandung. Tahun 2018 ini  SDK LAI menargetkan pengadaan 125.000 Alkitab untuk 125.000 Jiwa di enam wilayah: Karo-Dairi Sumatera Utara, Sintang-Kalimantan Barat, Halmahera Barat, Pulau Kei Besar dan Kei Kecil – Maluku,  Sumba – NTT, dan Boven Digoel – Papua.

Spirit mewujudkan Alkitab Untuk Semua (ALUS) sungguh menggerakkan kaum Lansia untuk aktif berkontribusi mulai dari pengadaan sampai pengiriman Alkitab ke berbagai wilayah di atas. Pengalaman turut serta mengawal pengiriman Alkitab ke berbagai pelosok negeri, yang masih sangat sulit medannya, tidak menyurutkan tekad kaum Lansia ini. Justru sebaliknaya mereka terbakar semangatnya untuk ikut mengawal lagi tahun ini. Ibu Sonya yang sudah berusia 82 tahun berkata dengan sukacita: “Saya sudah mendapatkan tiket dan biaya untuk ikut ke Pulau Kei Besar dan Kei Kecil Oktober nanti.”

Perjalanan mengawal pengiriman Alkitab ke berbagai pelosok negeri sungguh suatu perjalanan ziarah yang sangat kental nuansa spiritualnya. Dengan mengalami berbagai kesulitan menempuh medan yang sulit, dan mendapati antusiasme umat Tuhan yang sudah lama menantikan Alkitab, sungguh sangat menguatkan iman. Kelelahan langsung menghilang. Keluh kesah langsung lenyap. Yang ada hanyalah ucapan syukur atas semua kelimpahan berkat dan anugerah dalam kehidupan.

Dukungan dalam bentuk Doa dari semua pihak sangatlah diharapkan. Doa orang benar dahsyat kuasanya. Mendoakan pemenuhan kebutuhan pengadaan dan pengiriman Alkitab SDK ini sangatlah membantu perwujudan program ini. Banyak orang, termasuk saya, mempunyai pengalaman nyata betapa dahsyatnya kekuatan doa.

Dukungan dalam bentuk Wartakan akan memungkinkan banyak pihak mengenal, menaruh kepedulian dan menggalang kebersamaan untuk berkontribusi dalam program ini. Bulan lalu sesudah mendengar presentasi saya di sebuah gereja di Manado, seorang Ibu mengirimkan gambar brosur SDK LAI kepada saudaranya di New York melalui Whatsapp. Dua minggu kemudian Ibu tersebut datang ke kantor Perwakilan LAI Manado untuk menyerahkan bantuan pengadaan Alkitab SDK dari saudaranya yang di New York itu.

Terakhir dukungan dalam bentuk Donasi untuk membiayai pengadaan dan pengiriman Alkitab SDK LAI. Kisah antusiasme kaum Lansia di atas adalah salah satu contoh upaya konkret mengupayakan dukungan donasi melalui kebaktian puji-pujian. Banyak yang hadir untuk menikmati berbagai pujian sekaligus sukacita memberi donasi untuk pengadaan dan pengiriman Alkitab SDK LAI.

DWD – Doakan, Wartakan dan Donasikan demi terwujudnya Alkitab Untuk Semua telah dijalankan oleh kaum Lansia Gereja-gereja di Kota Bandung dengan sangat antusias. Bagi kita yang belum Lansia mengapa tidak mengikuti jejak mereka? Silakan kontak di WA Ibu Erna 08128517415 untuk keterangan lebih lanjut. Atau langsung donasi ke Nomor Rekening Yayasan Lembaga Alkitab Indonesia BCA: 3423016261.

Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Komunitas Kopi dan Alkitab

Secangkir kopi yang kita sruput hadir melalui proses yang panjang. Untuk menghasilkan kopi yang nikmat harus diperhatikan juga cara menamannya, cara memetik, proses pengeringan dan penggilingannya hingga penyimpan serta penyajian akhirnya. Jika kita lihat dibalik nikmatnya secangkir kopi ada proses rumit dan sulit yang harus dilalui oleh biji kopi hingga menjadi minuman yang dikonsumsi oleh masyarakat dunia dari berbagai golongan.

Ngopi atau minum kopi juga sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Hampir di setiap wilayah Indonesia punya kebiasaan ngopi, sehingga hanya dengan ngopi bareng orang bisa terlihat akrab saling bertukar pengalaman dan berbagi cerita, tanpa memandang latar belakang dan usia.  Melalui kopi banyak hal dapat dilakukan. Mulai dari bertukar gagasan, bertukar informasi, saling membantu, saling memotivasi bahkan sampai rekonsiliasi konflikpun dapat dijalankan sambil ngopi. Ngopi sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup milenial.

Kalau dulu minuman hanya digemari oleh orangtua kita, kini minuman kopi makin digemari kaum muda. Seiring dengan itu banyak anak muda menjadikan kafe-kafe dengan menu utama kopi sebagai tempat nongkrong. Menjamurnya tempat ngopi di beberapa kota besar adalah indikasi kopi asli Indonesia semakin diterima. Dalam dunia perkopian, sebenar hanya dikenal 2 jenis tanaman kopi, yaitu kopi arabika dan kopi robusta. Kedua jenis tanaman kopi ini dibudidaya oleh masyarakat dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia, kemudian kita mengenalnya dengan jenis-jenis kopi seperti: (1) Kopi Arabika Gayo – Aceh, (2) Kopi Robusta Sidikalang – Sumut, (3) Kopi Arabika Flores Bajawa – Flores NTT, (4)  Kopi Lanang – Jawa Timur, (5) Kopi Robusta Merapi, (6) Kopi Robusta Pinogu – Gorontalo, (7) Kopi Rarobang – Maluku, (8)  Kopi Tarutung – Sumut, (9)  Kopi Joss – Yogya, (10) Kopi Malinau – Kalimantan Utara, (11)  Kopi Sibu-Sibu – Maluku, (12) Kopi Arabika Sipirok – Sumut, (13) Kopi Priangan  – Jawa Barat, (14) Kopi Amungme – Papua, (15) Kopi Lahat – Sumatera Selatan, (16) Kopi Lintong – Sumut, (17)  Kopi Luwak – Indonesia, (18) Kopi Manggar – Belitung, (19) Kopi Tamanggung – Jawa Timur, (20) Kopi Besemah – Sumatera Selatan, (21) Kopi Robusta Dampit – Indonesia, (22) Kopi Arabika Kalosi – Sulawesi Selatan, (23) Kopi Lombok – Lombok NTB, (24) Kopi Arabika Malabar – Jawa Barat, (25) Kopi Sasak Liseng – Lombok, (26)  Kopi Solok Selatan – Solok Sumbar, (27) Kopi Jawa – Pulau Jawa, (28)  Kopi Arabika Wamena – Papua, (29) Kopi Arabika Sembalun Sajang – Lombok, (30) Kopi Mandailing – Sumut, (31) Kintamani  – Bali, (32) Kopi Koh Tong – Pematang Siantar Sumut, (33) Kopi Sedap Pematangsiantar – Sumut, (34) Kopi Toraja – Sulawesi Selatan. Beragamnya jenis kopi ini menandakan semakin banyak penggemar kopi dan semakin bertambah produksi kopi di Indonesia.

Tentu masih banyak lagi kopi-kopi yang lain yang sedang berproses dan akan melegenda. Sebagai contoh, tiga tahun lalu saat singgah di sebuah warung kopi di So’e – Nusa Tenggara Timur dan saya merasakan kopi lokal yang nikmat.  Di So’e yang berudara sejuk sungguh nikmat menyeruput secangkir kopi yang suatu saat nanti, kopi So’e akan mampu berkibar dan menjadi salah satu kopi yang melegenda.

Keberadaan kopi dan komunitas penggemar kopi di Indonesia semakin fenomenal pertumbuhannya. Hal ini mendorong saya terus berpikir untuk menemukan cara yang efektif agar melalui kopi, Alkitab juga bisa disebarkan, dibaca, dan dihayati, serta dipakai sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Pada tahun 2012 LAI bersama para mitranya bergotong-royong berhasil membangun Gedung Pusat Alkitab berlantai 10 di Jalan Salemba Raya No. 12 Jakarta Pusat. Hampir semua lantainya sudah terpakai sebagai tempat kerja, rapat, pertemuan, kebaktian, museum, perpusatakaan Biblika dan toko buku. Masih ada empat ruangan yang tersisa yang dapat dipakai oleh para mitra LAI bila membutuhkan tempat untuk berkantor.  Tentulah dengan kontribusi biaya pemeliharaan gedung dan keamanan.

Satu ruangan yang istimewa adalah di lantai dasar dekat lobby.  Ruangan seluas 118 M2 sangat cocok untuk aktivitas “rendezvous”, perjumpaan, pertemuan, kumpul-kumpul, ngobrol-ngobrol sampai diskusi sambil menikmati kopi panas, hangat atau dingin. Semula ruangan ini digunakan sebagai tempat kerja sementara Tim Departemen Layanan Digital LAI. Oleh karena tempat kerja mereka sudah pindah ke tempat permanen di lantai 6, maka alangkah eloknya bila ruangan ini bisa dimanfaatkan untuk menjangkau para penggemar dan anggota komunitas kopi di Jakarta.

Mungkinkah akan ada “Bible Verse Café” di Salemba Raya nomor 12 Jakarta Pusat? LAI sangat terbuka bekerjasama dengan para mitra agar gagasan ini dapat terwujud. Komunitas kopi di Indonesia yang semakin membesar jumlahnya adalah ladang pelayanan untuk mewartakan Kabar Baik bagi semua. Semangat “Alkitab Untuk Semua” haruslah digelorakan ke semua komunitas yang eksis di negeri ini, termasuk komunitas kopi.

Apabila ada sahabat yang berminat bekerjasama untuk mewujudkan gagasan di atas, silakan dapat berkontak dengan Ibu Johana Kepala Departemen Umum LAI di nomor WA: 0813-1029-0006. Apapun yang kita upayakan kiranya mampu membawa Alkitab semakin tersebar ke ujung bumi, dan nama Tuhan dimuliakan. Haleluya. Salam Alkitab Untuk Semua. []

Sigit Triyono (Sekum LAI)

LAI, Advokasi, dan “Ministry”

Saya pernah ditanya oleh seorang sahabat: “Apakah LAI memiliki program yang dapat membuat Alkitab berada di hati para politisi dan para seniman Kristen? Karena hampir setiap hari mereka terpublikasi sehingga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan masyarakat.” Pertanyaan ini didorong oleh keprihatinan akan banyaknya politisi yang ditangkap KPK dan tidak sedikit yang terlibat narkoba. Juga aktris dan aktor yang dikabarkan kawin cerai serta gemar pesta sabu.

Ada juga pertanyaan dari sahabat saya yang lain: “Apakah ada upaya dari LAI agar Alkitab diterapkan dalam proses perdamaian dan rekonsiliasi konflik? Saya melihat banyak konflik di lingkungan gereja yang tidak kunjung selesai karena semua pihak yang berkonflik tidak memedomani Alkitab.”

Dua pertanyaan di atas adalah pertanyaan yang sangat mendasar, yang menunjukkan adanya kebutuhan riil di kalangan umat Kristiani dimana Alkitab seharusnya menyatu dalam kehidupan umat dan diekspresikan dalam hidup sehari-hari.  Semuanya demi keteladanan dalam hidup dari orang Kristen yang menjunjung nilai-nilai dengan standar moral etik yang tinggi.

Harapan terhadap LAI untuk berperan lebih aktif dalam tugas “menjemaatkan Alkitab” adalah sesuatu yang sangat wajar. Hal ini disebabkan antara lain oleh produk-produk LAI yang sudah digunakan oleh hampir semua denominasi Gereja Protestan dan Katolik di Indonesia.

Cakupan tugas LAI selama ini harus diakui lebih memprioritaskan kepada pemenuhan kebutuhan penerjemahan, produksi, dan penerbitan, serta penyebaran Alkitab di Indonesia. Tentu tidak melupakan tugas “engagement” atau menyatukan Alkitab dalam kehidupan keseharian umat yang semestinya dijalankan lebih banyak oleh gereja-gereja.

Apabila mengacu kepada Siklus Alkitab (Bible Cycle) yang diciptakan oleh United Bible Society (UBS) dimana LAI sebagai salah satu anggotanya, ada 6 tahapan aktivitas Lembaga Alkitab dalam satu siklus, yaitu: (1) Translation (penerjemahan), (2) Publishing (penerbitan), (3) Distribution (penyebaran), (4) Engagement (keterikatan), (5) Advocacy (advokasi), dan (6) Ministry (pelayanan dan kesaksian).

Enam tahapan aktivitas dalam satu siklus di atas diimplementasikan oleh masing-masing anggota UBS (146 negara termasuk LAI) dengan penyesuaian terhadap situasi dan kondisi negerinya. LAI sudah melaksanakan keenam tahapan siklus di atas dengan meringkas menjadi empat tugas utama: (1) Penerjemahan, (2) Produksi dan Penerbitan, (3) Penyebaran, dan (4) Upaya menjadikan Alkitab sebagai panduan kehidupan umat.

Aspirasi umat Kristen yang berkembang saat ini mengarah kepada tuntutan agar LAI memperluas bidang layanannya yang dapat mencakup keenam aktivitas dalam siklus Alkitab secara eksplisit. Aktivitas “Bible Engagement”, “Bible Advocacy” dan “Bible Ministry” perlu diperbanyak program-program yang sesuai kebutuhan umat.

Secara riil di saat saya bertemu dan berdikusi dengan Pengurus Sinode, Pendeta dan aktivis Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Kupang 24-25 Juli 2018 , ada banyak masukan dan pengharapan agar LAI turut aktif dalam: (1) upaya pencegahan kejahatan akibat pornografi melalui internet, (2) pembinaan anak-anak remaja pelaku kejahatan seks akibat pornografi di internet, (3) penanganan korban kejahatan seks di kalangan anak-anak, (4) penerjemahan Alkitab ke dalam “bahasa gaul” remaja dan pemuda di kota-kota, (5) membuat kemasan cerita-cerita Alkitab dengan gaya anak muda, (6) memulihkan relasi-relasi antar lembaga pelayanan gereja, dan (7) membantu program-program Pekabaran Injil di jemaat-jemaat.

Kebutuhan gereja secara individu maupun secara lembaga yang berhubungan dengan Alkitab masih sangat terbuka untuk dikerjasamakan dengan LAI. Lagi-lagi semua ini adalah peluang besar bagi LAI, sekaligus menantang LAI agar segera menambah kapasitas, kapabilitas dan profesionalitas yang benar-benar mumpuni.

Memasuki semester dua tahun 2018 LAI sudah ancang-ancang membuat rencana strategis dan program-program tahun 2019. Penguatan layanan LAI berbasis siklus Alkitab (Bible Cycle) akan sangat memperkuat dan memperluas layanan LAI terhadap umat di Indonesia. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Roadshow Kemitraan LAI di Kupang

Mengunjungi para mitra Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang tersebar di seluruh pelosok tanah air adalah bagian dari koordinasi antara LAI dengan mitranya agar upaya menghadirkan Alkitab Untuk Semua dapat terwujud. Kehadiran LAI ke Kupang, Nusa Tenggara Timur untuk bertemu dengan Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan (KKPD) LAI Mitra Kupang, selain untuk berkoordinasi juga untuk membekali KKPD Kupang agar dapat menjalankan beberapa program kegiatan yang direncanakan, seperti Pendanaan Penerbitan Kabar Baik Bergambar (KBB) bahasa Hawu (Sabu), sosialisasi Hari Doa Alkitab  Anak-anak, dan Seminar.

Dalam pertemuan pertama dengan Panitia Penggalangan Dana KBB bahasa Sabu dihasilkan kesepakatan, bahwa akan dilakukan sosialisasi visi-visi LAI dan Penerbitan KBB bahasa Sabu kepada seluruh orang asal  Sabu yang ada di seluruh wilayah di Indonesa agar kerinduan anak-anak Sabu dapat membaca dan memahami Firman Tuhan dalam bahasa ibunya. Harapannya melalui rencana penerbitan perdana 5.000 eks. KBB dalam bahasa Sabu, komunitas Sabu yang tersebar di berbagai daerah akan terpanggil dan mau mendukung penerbitan KBB bahasa Sabu ini.

Setelah bertemu dengan KKPD Kupang dan Panitia Penggalangan Dana Penerbitan KBB bahasa Sabu, LAI melanjutkan pertemuannya dengan para pengasuh/kakak-kakak pelayanan anak remaja (PAR)  sekolah minggu Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) yang ada di kota Kupang untuk sosialisasi Hari Doa Alkitab Anak-anak. Ada sekitar 51 guru sekolah minggu yang hadir dalam pertemuan itu. Mereka sangat  antusias mendengar materi bahan ajar yang disampaikan oleh staf LAI. Materi ajar tidak saja disampai dalam bentuk buku tapi juga disertai dengan peragaan. Selain memberikan materi dan alat peraga, para guru sekolah minggu juga ditugaskan mensosialisasikan aksi celengan ke anak-anak sekolah minggu yang hasilnya untuk membantu pengadaan Alkitab terjemahan Bahasa Pakpak Dairi.

Selain bertemu dengan KKPD Kupang dan para guru sekolah minggu GMIT, kehadiran LAI di Kupang juga dirasakan oleh GMIT di Kupang lewat seminar Manajemen Strategis Lembaga Gereja. Seminar yang dihadiri 115 orang, yang terdiri dari Pendeta dan Penatua GMIT se Kupang ini bertujuan agar masing-masing gereja GMIT di Kupang dapat menumbuhkan dan mengembangkan lembaga berbasis manajemen strategis. Pertemuan ini menumbuhkan semangat para hamba Tuhan untuk berbenah diri agar pelayanan gereja ke umat semakin baik lagi. Malam harinya KKPD Kupang mengadakan Malam Penggalangan Dukungan dengan mengundang berbagai  individu yang tergerak hati untuk mendukung dan mendoakan pelayanan LAI dalam membagikan Kabar Baik di pelosok Nusantara.

Ada beberapa masukan yang dapat dicatat dari hasil pertemuan LAI, baik saat berdikusi dengan Pengurus Sinode, Pendeta dan aktivis  GMIT maupun KKPD Kupang selam 2 hari ini. Masukan dan harapannya agar LAI juga turut aktif dalam: (1) upaya pencegahan kejahatan akibat pornografi melalui internet, (2) pembinaan anak-anak remaja pelaku kejahatan seks akibat pornografi di internet, (3) penanganan korban kejahatan seks di kalangan anak-anak, (4) penerjemahan Alkitab ke dalam “bahasa gaul” remaja dan pemuda di kota-kota, (5) membuat kemasan cerita-cerita Alkitab dengan gaya anak muda, (6) memulihkan relasi-relasi antar lembaga pelayanan gereja, dan (7) membantu program-program Pekabaran Injil di jemaat-jemaat.

Semua masukan dan harapan tersebut bukan saja menjadi perhatian LAI tapi menjadi keprihatinan kita bersama. LAI tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus terus bermitra dengan gereja dan lembaga gerejawi, ataupun pemerintah. Kebutuhan gereja, baik secara individu maupun secara lembaga yang berhubungan dengan Alkitab masih sangat terbuka untuk dikerjasamakan dengan LAI. Lagi-lagi semua ini adalah peluang besar bagi LAI, sekaligus menantang LAI agar segera menambah kapasitas, kapabilitas dan profesionalitas yang benar-benar mumpuni. Salam Alkitab Untuk Semua. [Selvi]

Pergumulan Umat Kristiani di Vietnam dalam Menghadirkan Alkitab Untuk Semua

Peserta “Catholic Affinity Group” dari 11 utusan Lembaga Alkitab Asia Pasifik & UBS bertemu dengan Romo Kardinal Pierre Nguyen Van Nhon, Pimpinan Gereja Katolik di Hanoi

Meskipun paham sosialisme atau komunisme mati dan sudah lama ditinggalkan para penganutnya di dunia, namun Vietnam adalah salah satu negara di dunia yang masih menerapkan paham komunisme dalam sistem politiknya. Pemerintah Vietnam sangat membatasi pertumbuhan umat Kristennya, namun Negara masih memberikan ruang kepada 7 persen penganut Katolik dan 2 persen penganut Protestan untuk beribadah. Pergumulan yang dialami umat Kristen di negeri yang jumlah total penduduknya berjumlah 91,7 juta jiwa ini mirip dengan Indonesia, dalam arti Gereja di Vietnam mendapat tantangan besar justru dari luar gereja, terutama tekanan dari Pemerintah.

Pemerintah Vietnam lewat pengurus Partai Komunisnya terus bergiat merekrut anggota baru, terutama dari para penganut Katolik. Di daerah pedesaan banyak umat Katolik yang bergabung dengan Partai Komunis karena diberi insentif uang untuk datang ke gereja yang dikelola pengurus Partai Komunis. Di gereja ini mereka menyanyikan lagu-lagu pujian, sementara di latar belakang ada spanduk logo partai, lambing komunisme, dan bendera Vietnam. Beribadatan ini dihadiri pula oleh pejabat pemerintah setempat, para pengurus partai komunis dan sejumlah pejabat polisi berseragam. Para pejabat tersebut menyebut komunitas Katolik ini ‘Paroki Katolik Damai’ atau gereja Pemerintah.

Melihat kenyataan ini pemerintah ‘sepertinya ingin menjauhkan umat Katolik dari gereja dan bergabung ke gereja yang dikelola pemerintah’.Jika pemerintahan yang lalu ‘selalu mengawasi pemeluk agama, terutama Katolik dan Protestan’ dan ‘menganggap agama sebagai alat kapitalis’,maka dengan dihidupkannya gereja yang dikelola Negara, pemerintah ingin menunjukkan bahwa pemerintah tidak menerapkan diskriminasi terhadap pemeluk agama tapi terus gencar mempromosikan ideologi komunisme kepada para umat Kristiani, khususnya penganut Katolik. Itulah sebabnya Gereja Katolik di Vietnam terpecah: “Gereja Pemerintah” dan “Gereja Vatikan”. Akan tetapi jumlah umat “Gereja Pemerintah” jauh lebih sedikit dibandingkan “Gereja Vatikan.” Bapa Kardinal Pierre Nguyen Van Nhon di Hanoi mampu mempertahankan independensi dan sikap kritis terhadap pemerintah serta tetap setia kepada Vatikan.

Persoalan lain muncul ketika Pemerintah tidak memberikan izin kepada Kardinal baru di Saigon yang dicalonkan menggantikan Kardinal yang sudah pensiun dan tidak menjabat lagi sebagai pemimpin Gereja Katolik di Saigon. Padahal Gereja Katolik di Vietnam dipimpin oleh dua orang Kardinal yang masing-masing memimpin Gereja Katolik di Saigon dan Gereja Katolik di Hanoi, tetapi hanya Kardinal di Hanoi yang “diizinkan” oleh pemerintah untuk memimpin Gereja Katolik di Hanoi.

Kontrol ketat pemerintah juga membuat keberadaan “Lembaga Alkitab Vietnam” masih berbentuk perusahaan (berbisnis di bidang Alkitab). Karena bentuknya perusahaan komersil, maka pemerintah Vietnam memberikan ijin operasi karena (mungkin) lebih mudah mengontrol keberadaannya. Salah satu akibat dari kontrol ketat ini adalah upaya menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa di Vietnam masih terkatung-katung. Entah kapan akan selesai tidak ada yang tahu, karena masih menghadapi tantangan soal pengakuan dari Gereja dan terutama dari Pemerintah.  Kontrol ketat dari Pemerintah juga kami rasakan selama persidangan di Vietnam, di mana seluruh peserta sidang selalu diingatkan oleh panitia agar sangat berhati-hati dengan dokumen dan identitas yang berhubungan dengan acara rapat ini. Bahkan setiap istirahat makan siang di restoran hotel tempat kami bersidang, “name tag” kami pun perlu dilepas agar tidak terbaca identitas kami masing-masing oleh orang lain.

United Bible Societies (UBS) khususnya perwakilan Lembaga-lembaga Alkitab yang ada di kawasan Asia Pasifik. Pada persidangkan “Catholic Affinity Group” kali ini ada  11 negara Asia Pasifik yang tergabung dalam pertemuan di Hanoi, 17-18 Juli 2018 untuk membahas berbagai tantangan dan peluang yang ada di Asia Pasifik sehubungan dengan optimalisasi pelayanan Lembaga Alkitab untuk umat Katolik. Bahkan masih ada beberapa Lembaga Alkitab di kawasan Asia Pasifik yang belum memiliki pengurus maupun karyawan dari unsur Gereja Katolik. Akibatnya banyak peluang pelayanan Alkitab kepada umat Katolik kurang dapat dimanfaatkan dengan baik.

Sebagai contoh, sejak dua tahun terakhir secara global, Gereja Katolik menekankan perhatian kepada kaum muda.  Hal ini didorong oleh data keberadaan 30% penduduk dunia yang berusia di bawah 18 tahun. Sesungguhnya mereka juga sangat membutuhkan layanan dari Lembaga Alkitab agar lebih cinta dan menyatu dengan Alkitab dalam keseharian hidup. Perhatian kepada kaum muda ini kurang dimanfaatkan oleh Lembaga-lembaga Alkitab sehingga sangat sedikit program-program yang paralel dan seazas dengan semangat di atas.

Produk-produk yang khusus untuk memenuhi kebutuhan kaum muda haruslah segera dikembangkan oleh Lembaga-lembaga Alkitab. Proses kerja yang selalu melibatkan banyak pihak (terutama Gereja Katolik lokal) perlu selalu dioptimalkan. Selanjutnya kegiatan-kegiatan promosi harus memakai cara-cara “zaman now” agar kaum muda Katolik bersemangat dalam upaya menyatu dengan Alkitab.

Setelah dua hari mengikuti persidangan yang sangat padat ini, pekerjaan rumah Lembaga Alkitab Indonesia bertambah lagi. Hal ini menandakan bahwa peluang bertambah banyak demi mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Terpujilah Tuhan. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Dari Sedikit Pasti Menjadi Bukit

Ada seorang Mitra LAI yang sangat setia mendukung pelayanan LAI dengan tindakan konkret dan konsisten. Saya tidak akan menyebutkan namanya, karena beliau tidak berkenan. Tapi saya perlu membagikan dalam bentuk tulisan ini sebagai inspirasi bagi kita semua betapa bergunanya komitmen konkret disertai dengan konsistensi tindakan.

Ada salah satu pekerjaan penerjemahan Alkitab bahasa daerah tertentu yang membutuhkan donasi tidak sedikit karena baru dimulai tahun 2017. Seperti biasa untuk menggalang dukungan, LAI menerbitkan buku “Dukungan Bagi Kabar Baik di Indonesia 2018” yang berisi (1) Proyek Penerjemahan, (2) Proyek Penerbitan, (3) Program Pembaca Baru Alkitab, (4) Penyebaran melalui Satu Dalam Kasih, dan (5) Pengembangan Layanan Digital. Informasi-informasi dalam buku ini juga sudah diviralkan melalui berbagai media sosial resmi LAI.

Tergerak oleh tulisan dan informasi yang mengisahkan adanya proyek penerjemahan Alkitab ke dalam “bahasa Ibu”nya, Mitra LAI ini memutuskan untuk memberikan donasi rutin yang berasal dari perpuluhan dari setiap honor mengajarnya. Dia tahu total dana yang dibutuhkan untuk proyek penerjemahan Alkitab “bahasa ibu”nya, yang akan memakan waktu paling cepat 8 (delapan) tahun,  sebesar Rp. 3.419.204.539,30 (Hampir Tiga Setengah Milyar Rupiah).  Dari hasil usaha dana yang dilakukan LAI tahun lalu untuk proyek penerjemahan ini baru terkumpul Rp. 369.734.307,- sehingga kekurangan yang harus dipenuhi masih sebesar Rp. 3.049.470.232,30. Bila rata-rata setahun usaha dana yang terkumpul sekitar tiga ratus juta rupiah, sedangkan kebutuhannya sekitar tiga setengah milyar rupiah, maka setidaknya dibutuhkan waktu sepuluh tahun untuk memenuhi seluruh kebutuhan dana tersebut.

Terus terang semula saya tidak menaruh perhatian khusus terhadap tekad Mitra LAI di atas yang akan memberikan sepersepuluh dari setiap honor mengajarnya (beliau seorang pembicara publik senior). Tapi setelah beberapa kali ada pemberitahuan melalui WA bukti transfernya ke LAI, barulah saya paham betul bahwa tekad tersebut memang sangat serius. Dalam satu minggu saya kadang mendapatkan pemberitahuan melalui WA dua kali transfer ke LAI. Itu pertanda dalam minggu tersebut beliau sudah menjadi pembicara di dua tempat.

Komitmen dan konsistensi Mitra LAI ini pasti akan berdampak sangat luar biasa terhadap usaha dana LAI. Betapa tidak, bila perpuluhan ditransfer ke LAI satu bulan rata-rata empat kali, maka dalam satu tahun akan terkumpul dana yang tidak sedikit. Apalagi bila komitmen serta konsistensi semacam ini diikuti oleh 1.000 Mitra LAI saja, maka pengumpulan dana Rp. 3,5 Milyar tidak perlu membutuhkan waktu sepuluh tahun.

Setelah mendoakan dan mewartakan layanan Lembaga Alkitab Indonesia, mendonasikan berkat-berkatnya adalah bentuk komitmen Mitra LAI yang akan sangat berdampak dalam mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Tradisi sepuluh persen dari setiap pendapatan diberikan untuk karya-karya bagi umat Tuhan di Indonesia sungguh sangat dahsyat manfaatnya. Pastilah dari sedikit akan menjadi “bukit” di LAI, selanjutnya akan menjadi “gunung” untuk Indonesia. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)