Mission Possible. Why Not?

Siapa bilang kaum milenial adalah generasi yang selfish? Siapa bilang kami tidak acuh dengan pelayanan dan kekristenan di Indonesia? Jumat Malam kemarin (14 Sep. 2018) di Lt. 10 Gedung Pusat Alkitab kami membuktikan bahwa kami sangat peduli dengan pelayanan dan orang-orang Kristen yang marginal disekitar kami.
Dalam ibadah syukur akan hadirnya alkitab di bumi Indonesia ini, kami anak-anak muda hadir dari berbagai latar belakang suku, pendidikan, dan gereja, hadir untuk berdoa dan beribadah bersama-sama. Kami larut dalam sukacita merayakan anugerah Tuhan sehingga kami bisa membaca firman-Nya dalam bahasa yang dapat kami mengerti, yaitu bahasa Indonesia.  Namun bukan hanya bersyukur atas apa yang telah kami terima, melalui renungan firman Tuhan yang disampaikan oleh Pdt. Paulus Kariso Rumambi kami juga menyadari bahwa setelah menerima anugerah Allah kami diangkat menjadi kawan sekerja Allah untuk mengerjakan karya besar Allah bagi dunia. Kita diberikan berbagai karunia bukan untuk menonjolkan diri sendiri melainkan untuk membangun kebersamaan. Seperti seorang petani yang menanam benih, ada yang bertugas untuk mengolah tanah, menyiangi, menyiram, memberi pupuk, namun di atas semuanya itu Allah-lah yang memberi pertumbuhan, sebuah misteri kerja ilahi yang melampaui akal manusia.
Rangkaian ibadah Hari Doa Alkitab (HDA) semalam ditutup dengan diskusi bersama dalam kelompok-kelompok kecil yang mana semua kelompok memiliki pandangan dan keinginan yang sama untuk terlibat bersama LAI dalam mendukung program pelayanan dan penyebaran alkitab. Banyak hal yang bisa kami buat, mulai dari menyisihkan sebagian uang saku yang kami miliki, memberi tenaga untuk melakukan presentasi dan kegiatan LAI lainnya, menyebarkan program pelayanan LAI melalui media sosial, dan tidak lupa selalu mendukung dalam doa.
Seperti yang juga disampaikan oleh Bpk. Ulbrits Siahaan bahwa melayani itu harus dimulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, dan dimulai dari saat ini. Beliau adalah teladan hidup bagaimana kesibukan dalam dunia kerja tidak pernah menjadi penghalang dalam melayani. Beliau yang seorang petinggi di salah satu perusahaan ternama di Indonesia memberikan waktu, tenaga, dan dayanya untuk terjun bersama LAI melayani umat Tuhan hingga ke pelosok pedalaman Indonesia dan tidak lagi berpikir untuk diri sendiri melainkan untuk kemuliaan Tuhan.
Tidak ada pelayanan yang tidak mungkin untuk dikerjakan, Allah yang mengangkat kita menjadi kawar sekerja-Nya pasti akan memberikan kemampuan untuk melakukan melakukannya juga. [irvin]

Sumba Timur Surga Yang Tersembunyi

Kabupaten Sumba Timur dengan Ibukota Waingapu merupakan daerah yang menjadi salah satu sasaran distribusi Alkitab Program Satu Dalam Kasih Lembaga Alkitab Indonesia (SDK LAI) 2018. Sumba adalah pulau yang memiliki iklim kering dan musim kemarau yang relatif panjang yaitu 8 bulan, namun Sumba boleh dikatakan sebagai “Surga Tersembunyi” di Tenggara Timur Kepulauan Nusantara dikarenakan topografi perbukitannya yang eksotis dengan bibir pantai yang sangat menawan. Di sela-sela pembagian alkitab Tim LAI sempat mengunjungi beberapa tempat yaitu Bukit Persaudaraan, Bukit Warinding, dan Pantai Walakiri.
Penduduk Sumba Timur mayoritas beragama Kristen dan Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) adalah yang terbesar di sana. Rata-rata mata pencaharian mereka adalah bertani dengan bertumpu pada tanah gersang yang hanya bisa ditanami 1 kali dalam 1 tahun, juga beternak dan nelayan. Sebagaian besar masyarakat Sumba Timur tinggal di pedalaman desa dengan pertimbangan kondisi alam di desa lebih subur dibandingkan di tengah kota. Namun berada di daerah pelosok pedesaan membuat segala sesuatu terbatas bagi mereka termasuk memiliki Alkitab. Oleh karena itu, LAI bekerjasama dengan Sinode GKS untuk menghadirkan Alkitab bagi umat Tuhan di Sumba Timur. Pembagian Alkitab dilakukan di 17 Klasis jemaat GKS dan beberapa denominasi gereja lainnya seperti GSJA, GMII, GBST, GMAHK, GBI, GPdI, dan GKII.
Mengingat luasnya wilayah Sumba Timur maka pembagian alkitab dilakukan dibeberapa titik klasis gereja sebagai perwakilan. Dimulai dari bagian paling selatan Sumba Timur yaitu Klasis Pahunga Lodu yakni di gereja GKS Baing dan berakhir di Klasis Lewa Tidahu di gereja GKS Injung.
Ada 30.000 eksemplar Alkitab dengan berbagi jenis (Alkitab tanpa Kidung Jemaat, Alkitab dengan Kidung Jemaat, Alkitab Anak, Alkitab Edisi Studi, dan Buku Paket Sekolah Minggu) telah dibagikan di Sumba Timur. Harapannya mereka yang telah menerima dapat membaca alkitab, bertemu dengan Allah melalui firman-Nya, dan mengalami hidup baru di dalam Kristus.
Jumlah itu masih belum cukup, namun masih ada kesempatan di hari esok untuk mendukung pengadaan alkitab di sana. Maukah Anda membantu mereka? (Selvi).

LAI dan Generasi Milenial

 

 

Sigit Triyono (Sekum LAI) tengah memberikan sambutannya kepada 200-an pemuda-pemudi milenial yang hadir dalam Ibadah Hari Doa Alkitab LAI 2018 di GPA Lt.10 Jl Salemba Raya 12 Jakarta
Tadi malam (14/9/2018) saya memberikan sambutan pada acara kebaktian Hari Doa Alkitab (HDA) untuk kaum Milenial di Gedung Pusat Alkitab Jl Salemba 12 Jakarta Pusat. Sehari sebelumnya saya membawakan satu sesi “sharing” di hadapan peserta Kongres GMKI XXXVI di Bogor, dimana pesertanya adalah para mahasiswa Kristen dari seluruh wilayah Indonesia (ada 93 cabang dan 10 calon cabang GMKI se Indonesia).
 Dua forum di atas dihadiri oleh generasi milenial Kristen dari berbagai interdemoniasi dan interkonfesi  Gereja. Generasi yang sangat sibuk dengan gadget di tangan dan sangat fasih ber-sosial media. Secara umum di dunia ini jumlah anak muda seperti mereka sekitar 30% dari seluruh penduduk dunia. Di Indonesia, dalam beberapa tahun ke depan mereka akan menjadi tulang punggung negara sehubungan dengan “bonus demografi” dimana anak-anak milenial mendominasi angkatan kerja.
Mandat yang diberikan Gereja-gereja di Indonesia kepada Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam hal (1) penerjemahan, (2) produksi dan penerbitan, (3) penyebaran dan, (4) upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat, diharapkan juga dapat menjangkau mereka.  Generasi  milenial atau generasi “zaman now” memiliki pikiran, perkataan dan perilaku yang sungguh berbeda dengan generasi “jadul” seperti saya. Pendekatan yang dilakukan untuk melibatkan mereka dalam arak-arakan bersama di berbagai program layanan LAI juga harus berbeda.
Dari diskusi dan tanya jawab dengan para peserta di dua forum di atas, ternyata aspirasi dan minat mereka untuk dapat terlibat dalam program-program LAI sangat tinggi.  Mereka sangat mengapresiasi terdahap apa yang sudah dilakukan LAI selama 64 tahun melayani umat di Indonesia. Mereka juga bersedia untuk berperan aktif sesuai dengan kapasitas kemudaan mereka terutama dalam penyebaran Alkitab ke pelosok negeri dan upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup.
Mereka juga menyadari bahwa pekerjaan LAI adalah pekerjaan berjangka sangat panjang mengingat peluang penerjemahan Alkitab ke berbagai bahasa daerah masih sangat banyak, juga dalam hal penyebarannya. Untuk itu mereka melontarkan beberapa ide yang dapat membantu LAI melangkah ke depan.
Dalam acara kebaktian HDA dimana peserta diberi kesempatan menyampaikan berbagai usulan dan komitmen, mereka antara lain melontarkan beberapa ide: (1) akan memilih program yang fokus, misalnya menyebarkan sepuluh ribu Alkitab, (2) menggerakkan donatur melalui media sosial untuk pengadaan Alkitab, (3) mengajak komunitas-komunitas muda untuk terlibat dalam pekerjaan ini, (4) ikut aktif dalam pengiriman Alkitab ke pelosok negeri, (5) siap menjadi nara sumber sesuai dengan kompetensinya untuk pekerjaan yang ada hubungannya dengan LAI.
Dari kongres GMKI XXXVI yang dibuka resmi oleh Presiden Joko Widodo, aspirasi yang muncul dari peserta adalah tentang perjuangan mengaktualisasi nilai-nilai Alkitab dalam kehidupan berbangsa di negeri ini. Anggota dan para senior GMKI tetap berjuang mewujudkan nilai-nilai “tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian”, di tengah tantangan keberagaman bangsa Indonesia dan berbagai tantangan kemajuan teknologi. “Ut Omnes Unum Sint” masih tetap menjadi doa bersama tiada henti.
Idiom-idiom di era digital: “Mission possible, why not?”, “F4: Friendship, Fellowship, Food, Fun”  menjadi magnet tersendiri untuk menggandeng generasi milenial. Dengan demikian mereka akan masuk dalam langkah bersama Sejuta Mitra LAI yang terus menghidupi gerakan DWD: Doakan, Wartakan dan Donasikan berkat-berkatNya, untuk mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Salam Alkitab Untuk Semua.
Sigit Triyono (Sekum LAI)

Penyebaran Alkitab Satu Dalam Kasih 2018 Dimulai

Selviana (staf LAI) tengah membagikan Alkitab Anak & Komik Alkitab kepada Anak-anak Sekolah Dasar di Wilayah Sumba Timur, NTT.

Bila anda follow akun Instragramnya Lembaga Alkitab Indonesia dan memerhatikan siaran langsung beberapa hari terakhir, akan tampak tiga personel LAI yang sudah berada di Waingapu ibukota Kabupaten Sumba Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka akan menyebarkan Alkitab-alkitab program Satu Dalam Kasih (SDK) 2018 yang didukung oleh para Mitra LAI. Mereka membawa setidaknya 5.000 Alkitab, 7.500 Alkitab+KJ, dan 17.500 Alkitab Anak untuk disebarkan di gereja-gereja yang ada di wilayah Kabupaten Sumba Timur, NTT.

Tim SDK LAI yang berada di wilayah Sumba Timur ini merupakan gelombang pertama (3-11 September 2019) dari enam gelombang penyebaran Alkitab program SDK ke pelosok negeri yang dicanangkan tahun ini. Gelombang pengiriman berikutnya adalah sebagai berikut: (2) Halmahera Barat, Maluku Utara, 24-30 September 2018; (3) Kabupaten Boven Digoel, Papua, 1-10 Oktober 2018; (4) Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, 12-21 Oktober 2018; (5) Pulau Kei Besar dan Kei Kecil, Maluku, 23-30 Oktober 2018; (6) Karo dan Dairi, Sumatera Utara, 19-28 Nopember 2018.

Kerja keras dalam menggerakkan Mitra LAI pada sementer satu tahun 2018 ini telah membuahkan hasil yang signifikan. Semua ini memungkinkan produk-produk Akitab yang dibutuhkan di enam wilayah di atas siap disebarkan. Solidaritas dari para Mitra LAI meningkat dibandingkan tahun 2018. Peminat untuk ikut dalam “Ekpedisi Alkitab Untuk Semua” khususnya ke Kepulauan Kei Besar dan Kei Kecil, Maluku dan ke Boven Digoel, Papua sangat banyak.

“Ekspedisi Alkitab Untuk Semua” adalah perjalanan ziarah spiritual yang sangat berharga bagi siapa saja yang terlibat dalam mengantar Alkitab ke pelosok negeri. Bagi yang dikunjungi oleh saudara seiman dari Kota besar yang membawa Alkitab yang dirindukan juga merupakan berkat besar tersendiri. Suatu perjumpaan selalu mengubahkan. Pengalaman menunjukkan baik yang menjumpai maupun yang dijumpai sama-sama mengalami perubahan positif dalam iman, pengharapan dan kasih. Betapa tidak, mereka sama-sama dicerahkan dalam suasana haru dan sukacita.
Sebagai contoh bagi siapa saja yang belum pernah datang ke Waingapu, mereka akan menjumpai alam tropis yang cenderung kering. Musim kemarau 8 bulan dan musim hujan hanya 4 bulan. Jenis tumbuhan yang cocok umumnya berupa tanaman keras seperti jati, kelapa dan aren, sementara hewan peliharaan umumnya adalah sapi, kerbau dan kuda yang telah menyesuaikan dengan alam Sumba yang berpadang sabana luas.

Jumlah penduduk Kabupaten Sumba Timur kurang lebih 250.000 jiwa, terdiri atas orang Sumba Timur asli, Sabu, keturunan Tionghoa, Arab, Bugis, Jawa dan penduduk campuran dari wilayah NTT lain. Sebagian besar penduduk di kabupaten ini beragama Kristen Protestan. Selebihnya adalah Islam, Hindu dan Budha. Yang menarik sekitar 39% penduduk Sumba Timur masih beragama tradisional Marapu.

Pengiriman dan penyebaran Alkitab untuk Sumba Timur disalurkan melalui jemaat Gereja-gereja setempat, khususnya Gereja Kristen Sumba (GKS). Hal ini semakin mempererat kerjasama sinergis antara LAI dengan Gereja di berbagai pelosok negeri. Kerjasama yang saling memberdayakan. Dengan diterimanya semua produk LAI yang dikirim, membuat LAI semakin terbuka memberdayakan dirinya untuk umat di wilayah lain yang masih sulit dijangkau. Dengan penyebaran Alkitab tersebut, umat semakin terbuka untuk lebih berdaya dengan membaca, merenungkan, dan menghayati nilai-nilai luhur yang berasal dari Alkitab.

Pekerjaan menyalurkan Alkitab ke pelosok negeri bukan pekerjaan yang mudah. Berawal dari informasi kebutuhan Alkitab dari Gereja-gereja di wilayah pelosok. Kemudian LAI mengadakan survei baik melalui literatur maupun tinjauan lapangan. Tinjauan lapangan dengan menemui para hamba Tuhan dan banyak umat di wilayah sasaran. Mendengar semua pergumulan pelayanannya dan mengobservasi kondisi riil di lapangan. Hasil survei diolah untuk menetapkan wilayah sasaran program SDK. Hasil survei ini bahkan juga sangat bermanfaat sebagai pusat informasi bagi banyak pihak yang akan melakukan pelayanan dan kesaksian di wilayah tersebut.

Sesudah memiliki data-data yang definitif, LAI menerbitkan berbagai format publikasi untuk menggerakkan Mitra-mitra LAI. Para Mitra LAI perlu diyakinkan dengan data-data kebutuhan riil yang ada di lapangan, bukan perkiraan atau prediksi. Bersamaan dengan itu rencana penerbitan Alkitab dan bagian-bagiannya untuk keperluan program SDK sudah masuk dalam agenda bagian produksi dan penerbitan LAI.

Bulan Oktober tahun sebelumnya adalah bulan kick off  program SDK untuk tahun berikutnya. Program SDK tahun 2018 ini sudah dipersiapkan mulai awal 2017. Bahkan mempertimbangkan juga permintaan-permintaan tertunda di tahun 2016. Sebuah perjalanan pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan, ketekunan, akurasi dan kegigihan menghadapi berbagai tantangan.

Pembagian Alkitab program SDK tahun 2018 dimulai, sebentar lagi kick off  program SDK 2019. Program yang akan terus berjalan seturut dengan kebutuhan Alkitab dan bagian-bagiannya di wilayah-wilayah negeri yang sangat sulit dijangkau oleh transportasi dan komunikasi. Juga karena keterbatasan daya beli. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

LAI dan Pendeta Tugas Khusus GBKP

LAI  (Lembaga Alkitab Indonesia) dan GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) telah menandatangani Kesepakatan Kerjasama (MOU) pada bulan Mei 2018 lalu. Dalam Pasal 1, ayat 4.a. tertulis: “LAI dan GBKP sepakat untuk melanjutkan dan mengembangkan kerjasama yang telah terjalin berlandaskan kemitraan yang saling memberdayakan.”

Sebagai tindak lanjut dari MOU di atas, LAI diminta untuk terlibat aktif dalam program pemberdayaan para pendeta di lingkungan GBKP. Pada 3-4 September 2018 Moderamen GBKP menyelenggarakan lokakarya “Kepemimpinan Strategis Kristiani” untuk para Pendeta Tugas Khusus GBKP. Sesuai kompetensi dan pengalaman yang dimiliki, Sekum LAI dipercaya untuk menjadi fasilitator dan narasumber lokakarya yang diselenggarakan di kesejukan kota Kabanjahe tersebut. Bersamaan dengan lokakarya ini, LAI sedang memroses pengiriman 10.000 Alkitab Pesanan Khusus Moderamen GBKP untuk didistribusikan ke jemaat-jemaat GBKP. Sungguh suatu kemitraan yang indah dan sangat sinergis antara LAI dan GBKP.

GBKP memiliki 18 (delapanbelas) Pendeta Tugas Khusus yang diberi tanggung jawab mengelola unit-unit pelayanan GBKP di luar Klasis dan Jemaat (Runggun). Indikator keberhasilan dari masing-masing unit layanan ini sangat berbeda dengan indikator keberhasilan Klasis dan Jemaat. Klasis dan Jemaat lebih menekankan aspek kerohanian warga jemaat GBKP, sedangkan unit Abdi Karya (Percetakan dan Toko Buku) misalnya, indikator keberhasilannya tidak secara langsung berhubungan dengan aspek kerohanian warga jemaat. Begitu juga dengan unit-unit lain seperti unit layanan ODHA HIV/AIDS, unit layanan Lansia, Bank Perkreditan Rakyat, Credit Union, Pusat Pembinaan Warga Gereja, Retreat Center, dll. yang memiliki indikator-indikator keberhasilan yang khas. Disinilah perlunya pengembangan kemampuan menetapkan indikator keberhasilan lembaga dan upaya mencapainya dengan kepemimpinan yang strategis berbasis iman Kristen.

Di awal lokakarya saya mengajak peserta untuk berefleksi tentang ciri-ciri pemimpin yang efektif. Seluruh peserta sepakat bahwa “setiap pemimpin harus memiliki pengaruh positif terhadap lembaga yang dipimpinnya”. Untuk dapat “berpengaruh” maka pemimpin harus: (1) Memiliki visi besar yang mampu menjawab Beban Utama pemangku kepentingan lembaganya, dan harus selalu berorientasi ke masa depan. Pemimpin tidak boleh sekadar menjalankan hal-hal rutin tanpa menghadirkan perubahan positif bagi lembaganya. (2) Mampu mendemostrasikan karakter pribadi yang positif (kebiasaan positif, integritas, dapat dipercaya dan berpikir analitis), (3) Mampu memobilisasi komitmen individu (berbagi peran, optimalisasi potensi), serta (4) Mengembangkan kapasitas organisasi (membangun tim dan mengelola perubahan).

Empat hal di atas dapat diibaratkan seperti keutuhan manusia: (1) Kepalanya, (2) Badannya, (3) Kaki kanannya, dan (4) Kaki kirinya. Keempatnya harus dalam kondisi prima agar dapat menghasilkan dampak bagi lingkungannya.

Dalam diskusi yang sangat dinamis di kelas, peserta mengungkapkan banyak sekali kendala dan hambatan yang menyebabkan kurang dapat mengoptimalkan kepemimpinannya. Setelah dideteksi, mayoritas kendala-kendalanya berada pada “lingkaran keprihatinan”, dimana disitu terdapat faktor-faktor yang tidak dapat dipengaruhi, melainkan hanya sekadar dapat berprihatin saja. Mengacu pada teori yang dikembangkan Stephen R Covey, saya mengajak semua peserta untuk konsentrasi pada “lingkaran pengaruh”, yaitu faktor-faktor yang dapat dipengaruhi oleh kehadiran kita.

Semua peserta terinspirasi untuk mengembangkan terus “lingkaran pengaruh” ketimbang terbenam dalam “lingkaran keprihatinan” saja. Misalnya dengan mengoptimalkan kewenangan yang diberikan (ketimbang menuntut kewenangan lebih besar), merumuskan Visi besar lembaga (ketimbang menunggu adanya visi dari pihak lain), memanfaatkan peluang-peluang yang ada (ketimbang mengeluhkan banyaknya kendala), membangun kultur kerja yang positif (ketimbang mengeluhkan banyak orang tidak serius bekerja), memberikan perhatian kepada bawahan secara tulus (ketimbang menuntut agar dirinya diperhatikan), memberikan teladan positif (ketimbang menuntut orang lain menjadi teladan), memberikan arahan-arahan solusi berbasis data yang jelas (ketimbang berputar-putar dengan opini tanpa data), dan fokus kepada kinerja (ketimbang fokus kepada kendala).

Dalam diskusi mengembangkan kemampuan menjadi pemimpin yang strategis, disepakatilah agar: (1) selalu berorientasi kepada Visi besar, (2) selalu mampu merumuskan strategi-strategi yang tepat, dan (3) harus menjalankan nilai-nilai bersama yang dapat mendukung keberhasilan lembaga. Visi, Strategi, dan Nilai-nilai adalah tiga kata kunci yang tidak dapat ditawar-tawar dan harus terus ada di benak para pemimpin yang efektif.

Kelas yang sangat dinamis dengan peserta (para Pendeta Tugas Khusus) yang setara dalam kemampuan, pengalaman, dan komitmen membuat hasil pembelajaran sungguh menjadi sangat bermakna. Waktu dua hari bukan sebagai “kronos”, tapi sungguh menjadi “kairos” bagi seluruh peserta dan fasilitator lokakarya. Sinergitas LAI dan GBKP yang saling memberdayakan sudah terwujud dalam lokakarya ini. Puji nama Tuhan. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

LAI dan Kongres GMKI: “Ut Omnes Unum Sint”


Tanggal lahir Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia(GMKI) sama-sama jatuh pada tanggal 9 Februari. GMKI lebih tua 4 tahun karena lahir 9 Februari 1950, sedangkan LAI lahir 9 Februari 1954. Meski lebih tua 4 tahun, sampai saat ini dunia GMKI tetaplah “dunia mahasiswa”. Sedangkan LAI adalah “dunia Alkitab”

Sebagai sesama organisasi Kristen yang menyandang nama Indonesia, yang dilahirkan di era 1950an dalam konteks negeri yang baru merdeka, nafas nasionalisme memberi warna yang sangat dominan. “GMKI jadilah pelopor dari semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia. GMKI jadilah suatu pusat, sekolah latihan (“leerschool”) bagi orang-orang yang mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan dari negara dan bangsa Indonesia. GMKI bukanlah merupakan “gesselschaft”, melainkan ia adalah suatu “gemeinschaft”, persekutuan dalam Kristus Tuhannya, dengan demikian ia berakar baik dalam gereja, maupun dalam nusa dan bangsa Indonesia. Sebagai suatu bagian daripada iman dan roh, ia berdiri di tengah-tengah dua proklamasi: proklamasi kemerdekaan nasional dan proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injil kehidupan, kematian dan kebangkitanNya.” (Dr. Johanes Leimena, 9 Februari 1950, saat pembentukan GMKI).

Dalam perjalanannya, LAI mampu membangun kompleks percetakan Alkitab sendiri. Hal ini didorong dan dijiwai oleh “semangat nasionalisme” dimana semua Alkitab dalam bahasa Indonesia untuk umat kristiani di Indonesia tidak bolah dicetak di luar negeri. Suatu tindakan yang heroik yang membutuhkan upaya sangat keras dan penuh tantangan.

Kredo GMKI Ut Omnes Unum Sint (UOUS) atau supaya semua menjadi satu sesuai dengan doa Tuhan Yesus yang tertera dalam Yohanes 17:21. Kredo ini memberi arti bahwa : “adalah suatu perintah atau pernyataan yang mutlak tentang semua manusia supaya menjadi satu.” Hal ini ditujukan terutama kepada orang–orang yang telah menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Mereka wajib menjadi satu sama seperti Yesus Kristus dengan Bapa-Nya yang adalah satu. Kata kuncinya adalah “satu“. Ini lebih lanjut dimengerti sebagai persatuan, kesatuan (unity).

Lembaga Alkitab Indonesia turut mewujudkan Kredo GMKI dengan bukti: semua Gereja yang terdaftar di Indonesia dalam beragam denominasi dan konfesi sudah menggunakan Alkitab (Kitab Suci) terbitan LAI. Doa Tuhan Yesus terjawab di Indonesia bukan dalam bentuk organisasi Gereja yang bernaung dalam “satu atap”, tetapi menyatu dalam semangat penggunaan Alkitab (Kitab Suci) satu terjemahan dan satu terbitan, yaitu Alkitab LAI.

Tanggal 12-17 September 2018 GMKI menyelenggarakan Kongres ke-36. Salah satu tanda agar eksistensi organisasi seperti GMKI dapat terjaga adalah dengan melaksanakan kongres sebagai kegiatan wajib sesuai periode yang ditetapkan. Melalui kongres akan dilaporkan seluruh implementasi keputusan kongres sebelumnya melalui semua program kerja yang dijalankan. Ajang ini sebagai arena pertanggungjawaban Pengurus Pusat GMKI. Selanjutnya sesudah pertanggungjawaban dilaksanakan, dilanjutkan dengan perumusan program kerja Pengurus Pusat GMKI periode berikutnya. Tentu juga dilahirkan keputusan tentang sikap GMKI menghadapi isu-isu terkini. Pada bagian akhir sebuah kongres, yang paling “seru” adalah pemilihan Pengurus Pusat periode berikutnya.

GMKI sebagai organisasi kader mahasiswa Kristen ditopang terus oleh para seniornya. Topangan dalam bentuk ide-ide, dorongan, jaringan, kesempatan berdialog, tenaga, sampai aspek finansial. Sinergi antara anggota dan Pengurus GMKI dengan para seniornya mencerminkan juga kebersatuan dalam semangat Ut Omnes Unum Sint. Betapa tidak, para senior GMKI (yang sudah aktif di Gerejanya masing-masing) masih banyak yang terus rajin membantu GMKI sebagai ladang pelayanan bersama.

Lembaga Alkitab Indonesia yang memiliki mandat utama: menerjemahkan, memproduksi, menerbitkan, menyerbarkan dan mengupayakan agar Alkitab menjadi pedoman hidup umat, turut mendukung GMKI sebagai organisasi kader yang berbasis pada Alkitab. Sepanjang usia perjalanan LAI, sudah banyak kader GMKI yang terbukti sukses melayani dan memberikan pengaruh signifikan terhadap keberadaan LAI.

Jaman terus berubah. GMKI dan LAI juga perlu terus berubah. GMKI dan LAI harus mempersiapkan diri menyambut masa depan dengan penuh optimis. Titik simpul yang dapat mempertemukan GMKI dan LAI adalah pada aktivitas dan program yang dapat memfasilitasi umat untuk mengakses Alkitab. Titik simpul lain ada pada program yang berhubungan dengan “bible engagement” – Alkitab dipakai sebagai pedoman hidup sehari-hari umat.

GMKI dapat memanfaatkan peluang-peluang di dalam kelas-kelas “pendidikan Alkitab” yang diselenggrakan LAI. Dengan mengikuti kelas-kelas ini maka kualitas kader GMKI akan lebih kompeten dalam penguasaan isi Alkitab dan menerapkannya dalam hidup sehari-hari. Juga para kader GMKI dapat menjadi relawan dalam mewujudkan Alkitab Untuk Semua dengan mendoakan, mewartakan serta mendonasikan berkat-berkatnya ke LAI. Kualitas kader GMKI seharusnya dapat diukur dari kemampuannya dalam mengimplementasikan nilai-nilai Alkitab.

Selamat berkongres ke-36 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Semoga semuanya berjalan lancar, aman dan damai. Semoga semua keputusan kongres GMKI ke-36 dapat semakin membawa GMKI berjaya dan mampu melahirkan kader-kader bertaraf nasional serta internasional berlandaskan nilai-nilai Alkitab. Salam Alkitab Untuk Semua. Salam Ut Omnes Unun Sent.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Jika Gereja Bertumbuh, LAI Siap Disuruh

Tren global Gereja-gereja di dunia tampak berlawanan.  Belahan dunia “bagian utara” yang di masa lalu sangat Kristen, sekarang secara umum Gereja stagnan dan meredup. Di sisi lain belahan dunia di “bagian selatan” yang di masa lalu belum ada Kekristenan, saat ini secara umum Gereja masih terus bertumbuh.

Saat ditanya “Apakah Gereja di negara Anda secara umum bertumbuh?” seluruh peserta dari Asia (Bangladesh, China, Indonesia, Korea, Mongolia, Myanmar, Taiwan, Thailand, dan Vietnam) yang ikut dalam pelatihan “Church Relation Training” di Seoul, 28-30 Agustus 2018, mengangkat tangannya tanda setuju. Ada satu peserta yang tidak mengangkat tangannya, yaitu peserta dari Australia. Fasilitator pelatihan, yang berasal dari Estonia juga tidak mengangkat tangan tanda di negaranya Gereja sudah tidak bertumbuh lagi.

Ada banyak penyebab mengapa Gereja meredup, stagnan atau bertumbuh. Ada faktor internal dan eksternal, secara sendiri-sendiri maupun bersamaan ikut memberikan kontribusi. Di dunia “bagian utara” (Australia masuk di dalamnya karena mayoritas penduduknya berasal dari Eropa) yang secara umum Gereja-gerejanya stagnan dan meredup, terutama disebabkan oleh: “kekayaan” negara dan warga negaranya, semua serba tercukupi, semua masalah hidup sudah terselesaikan, tidak ada lagi rasa takut kepada Tuhan, dan serba mengandalkan akal budi serta kecerdasannya. Dari sisi organisassional Gereja-gereja di “belahan utara” pada umumnya dapat dikatakan terlambat melakukan “perubahan” agar Gereja tetap bertumbuh.

Gereja yang bertumbuh di negara-negara Asia, Afrika dan Amerika secara umum diakibatkan setidaknya oleh sepuluh hal berikut: (1) Pertumbuhan penduduk, (2) Perhatian terhadap generasi muda, (3) Penggunaan teknologi canggih dalam kebaktian minggu, (4) Kemitraan dengan organisasi-organisasi kemasyarakatan, (5) Pendekatan-pendekatan personal, (5) Kaum urban yang membutuhkan layanan Gereja, (6) Perayaan-perayaan Gereja, (7) Pelayanan dan kesaksian Gereja, (8) Penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa ibu, (9) Pendekatan kepada kepala-kepala suku, dan (10) Adanya fasilitas “community center”. Selain sepuluh hal di atas, ada dua faktor lagi yang bisa dikataan kunci utama pertumbuhan Gereja, yaitu: (1) Dasar teologis Gereja, dan (2) Visi Gereja untuk terus bertumbuh.

Lalu apa hubungannya dengan keberadaan lembaga-lembaga Alkitab di dunia ini? Sejak semula, lembaga-lembaga Alkitab di dunia ini didirikan bertujuan untuk membantu Gereja-gereja dalam menyebarkan kabar baik sampai ke ujung bumi. Ada saling ketergantungan antara Gereja-gereja dan lembaga-lembaga Alkitab.  Membantu Gereja-gereja bagi lembaga Alkitab adalah juga berarti membantu dirinya sendiri. Bagaimanapun keadaan Gereja-gereja, baik yang sedang meredup, stagnan maupun bertumbuh, semuanya wajib menjadi subyek untuk dibantu oleh lembaga Alkitab.

Disinilah pentingnya relasi yang akrab antara lembaga Alkitab dengan Gereja-gereja agar dapat mengidentifikasi lebih mendalam kebutuhan masing-masing Gereja yang dapat dipenuhi oleh lembaga-lembaga Alkitab. Selanjutnya perlu ada strategi, program dan aksi-aksi bersama untuk memenuhi berbagai kebutuhan yang ada.

Bagi LAI membangun relasi yang akrab dengan Gereja-gereja yang begitu banyak jenis denominasi dan konfesinya bukanlah pekerjaan yang mudah.  Salah satu strategi yang dapat dikembangkan dengan masing-masing denominasi dan konfesi Gereja adalah merekrut duta-duta LAI di masing-masing Gereja sebagai wakil LAI di Gereja tersebut. Tugas duta LAI adalah menjadi partner Gereja dalam berdialog, berdiskusi, identifikasi kebutuhan, dan mencari alternatif solusi yang dapat dilakukan bersama antara Gereja dan LAI. Melalui duta-duta LAI ini  maka akan terjadi saling membantu antara LAI dengan Gereja untuk pertumbuhan bersama.

Strategi yang lain adalah selalu membangun komunikasi dengan Gereja-gereja dengan menggunakan jenis saluran komunikasi yang relevan, dalam arti disesuaikan dengan perkembangan teknologi informasi yang dapat dijangkau Gereja-gereja. Profesionalisme dalam pemanfaatan teknologi komunikasi menjadi sesuatu yang wajib. Dengan demikian maka penyebaran informasi terkini tentang segala inisiatif, program, dan aksi-aksi bersama menjadi lebih efisien dan efektif. Selanjutnya diharapkan akan terjadi gerakan bersama yang saling membantu,menumbuhkan dan mengembangkan segala sumber daya yang dimiliki.

Strategi yang sudah, sedang dan akan dijalankan dalam membangun relasi dengan Gereja-gereja adalah memperluas kesepakatan-kesepakatan kerjasama antara LAI dengan Gereja-gereja dan menindaklanjutinya. Ini adalah pekerjaan maha besar mengingat banyaknya jumlah denominasi dan konfesi Gereja di Indonesia (terdaftar 323 sinode Gereja Protestan plus satu Gereja Katolik) yang tersebar di 34 provinsi, 514 Kabupaten dan Kota, serta di berbagai pulau di Indonesia.

Bila Gereja bertumbuh maka LAI selalu akan siap untuk disuruh melayani mereka. Relasi yang baik adalah salah satu keutamaan dalam hidup bersama. Tanpa relasi yang baik, mustahil LAI dan Gereja-gereja dapat bertumbuh dan berkembang bersama. Seperti penggalan syair lagu yang dinyanyikan Mariah Carey di tahun 1990-2000an: “I can’t life, i can’t life anymore…..without you.” Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Belajar dari Lembaga Alkitab Korea

Data jumlah orang Kristen Protestan (P) dan Katolik (K) di Korea Selatan sejak tahun 1985 sampai 2010 tercatat sebagai berikut: 1985 (P=16,1%, K=4,6%); 1995 (P=19,7%, K=6,6%); 2005 (P=18,3%, K=10,9%); 2010 (P=24,0%, K=7,6%). Protestan pernah mengalami penurunan pada tahun 2005, namun naik lagi di tahun 2010. Sedangkan Katolik justru mengalami penurunan cukup signifikan di tahun 2010.

Secara umum bila dijumlahkan persentase orang Kristen (Protestan dan Katolik) di Korea Selatan terus meningkat. Dengan jumlah penduduk 50 jutaan maka orang Kristen (Protestan dan Katolik) di Korea Selatan saat ini sekitar 15,8 Juta orang. Jumlah ini tidak lebih banyak dibanding jumlah orang Kristen dan Katolik di Indonesia yang sekitar 26,3 Juta orang (10% dari penduduk Indonesia). Pertanyaannya, mengapa KBS bisa lebih “wah” dibanding Lembaga Alkitab Indonesia (LAI)?

Hari ini, meski masih berasa letih setelah terbang 7 jam, saya melakukan orientasi di kompleks Ross Memorial Hall milik KBS di pinggir kota Seoul yang berisi (1) Bible Exhibition Hall, (2) Institute for Biblical Text Research, (3) The Center for Bible Education & Culture, (4) Information Resources Center For Biblical Studies, and (5) KBS Warehouse. Kompleks seluas lebih dari 18.000 m2 didedikasikan untuk mengenang Rev. John Ross (1842-1915) misionaris asal Scotland yang membawa kabar baik pertama ke Semenanjung Korea dengan menerjemahkan Injil Markus dalam bahasa Korea dan menerbitkannya pada tahun 1882.

Dari KBS Warehouse yang luasnya lebih dari 2.000 meter persegi bisa dilihat betapa “wah’nya KBS. Semua serba komputerisasi sehingga hanya membutuhkan tenaga kerja 6 orang meski harus menyimpan dan mengirim sekitar 8 (delapan) juta Alkitab dan bagian-bagiannya setiap tahun!! Manajer KBS Warehouse termasuk bertanggung jawab terhadap seluruh kompleks Ross Memorial Hall. Betapa sangat efisiennya mereka. Bible Exhibition Hall, Institute for Biblical Text Research, The Center for Bible Education & Culture, dan Information Resources Center For Biblical Studies, dikelola dengan sangat rapi, efisien dan profesional oleh sangat sedikit tenaga kerja. Semua berbasis teknologi komputerisasi.

Yang lebih “wah” lagi adalah penerbitan dan distribusi Alkitab dan bagian-bagiannya tidak hanya untuk negeri Korea Selatan, namun juga untuk 93 negara di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Latin. Ini menandakan semangat pelayanan dan kesaksian ke luar negeri dari gereja-gereja di Korea Selatan sangat tinggi. Di tahun 2000an tercatat ada 10,646 misionaris dari Korea Selatan pergi ke 156 negara di seluruh dunia. Salah satu hasilnya adalah Alkitab dan bagian-bagiannya di negeri dimana misionaris Korea Selatan berada diterbitkan oleh KBS.

Dari perjalanan sejarahnya KBS juga memiliki perjalanan lebih panjang dibandingkan dengan Lembaga Alkitab Indonesia yang lahir tahun 1954. Korea Bible Society berdiri tahun 1895 dengan nama “Korean Agency of the British and Foreign Bible Society” delapan tahun sesudah mereka menerbitkan Alkitab utuh pertama pada tahun 1887. Kenmure tercatat sebagai Sekretaris Umum pertama “BFBS Korean agency.” Pada tahun 1945 sesudah mengalami banyak kesulitan oleh karena pendudukan Jepang, KBS berdiri meneruskan karya BFBS Korean Agency yang ditutup tahun 1941.

Perjalanan yang lebih panjang, pengalaman yang lebih banyak, keberadaan ekonomi negara yang lebih makmur, semangat pelayanan dan kesaksian para misionaris Korea Selatan ke berbagai negeri, semuanya memberikan kontribusi signifikan bagi kemajuan KBS sehingga mampu mencapai kemajuan yang “wah” saat ini.
Pelajaran yang dapat dipetik dari KBS agar LAI lebih hebat dalam berkarya melayani umat di Indonesia dan dunia adalah: (1) Etos kerja yang harus terus menerus meningkat agar semakin efisien dan efektif, (2) Penggunaan teknologi terkini, (3) Pemanfaatan peluang-peluang sejalan dengan perkembangan kemakmuran negara, dan (4) Mendorong pelayanan serta kesaksian para misionaris ke berbagai negeri.

LAI tidak bisa sendirian melakukan pelayanan di bidang penerjemahan, produksi dan penerbitan, penyebaran serta upaya agar Alkitab menjadi pedoman hidup sehari-hari umat. Sinergi dengan seluruh denominasi dan konfensi Gereja-gereja di Indonesia adalah suatu keharusan.

Itulah mengapa saya diutus LAI untuk datang dan belajar dari KBS sekaligus mengikuti sesi-sesi pembelajaran “UBS Church Relations” yang berlangsung 28-30 Agustus 2018 ini. Sub topik yang dibahas adalah: (1) Church Relation in the Bible Societies, (2) The Bible in the Christian Traditions, (3) The Major Trends and Development in Churhes, (4) How Can Bible Societies Help the Churches (5) ) How The Churches Can Help the Bible Societies, (6) Bible Society Communications With Churches, (7) Creating a Local Church Relation Strategy.

Dalam perebutan medali emas Asian Games, Indonesia masih sedikit di bawah Korea Selatan, namun semakin mendekatinya. Dalam hal kualitas layanan Alkitab, pastinya Indonesia akan mampu mendekatinya juga. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Presiden Jokowi Kenal LAI

 

Sumber: TajukTimur.com

Jumat sore (24 Agustus 2018) saya turut serta bersilaturahmi dengan Presiden Joko Widodo di Graha Oikoumene Jl Salemba 10 Jakarta Pusat. Pertemuan ini adalah bagian dari keinginan Presiden untuk mengunjungi kantor PGI dan bertemu dengan pimpinan PGI, pimpinan Gereja aras nasional dan mitra-mitra PGI. LAI bagian dari mitra PGI. Saat beliau masuk ke ruang pertemuan saya bersalaman dan saya mengucapkan “Selamat datang Pak Presiden.” Dan beliau tersenyum, menatap mata saya dengan ramah serta menggegam erat tangan saya.

Sesudah acara sambutan Ketua PGI, presentasi Pak Presiden, tanya jawab singkat, dan berdoa bersama, acara dilanjutkan dengan sessi foto bersama yang berlangsung sangat heboh. Semua peserta yang mayoritas para pendeta, berjumlah 250an, merangsek ke depan mendekat kepada Presiden dan berdesakan mengambil posisi agar masuk dalam jangkauan kamera. Dua menteri yang ikut dalam kunjungan ini (Mensekkab – Pramono Anung dan Mensesneg – Pratikno) masing-masing menjadi pengatur posisi, dan menjadi juru foto dengan menggunakan kamera HP beliau.

Isi pertemuan sangat berbobot. Semua aspirasi gereja-gereja sudah disampaikan oleh pimpinan PGI dalam pertemuan tertutup selama 30 menit, dan juga disampaikan dalam sambutan Ketua PGI di pertemuan bersama seluruh peserta. Presiden memberikan paparan dengan pertama-tama mengingatkan tentang betapa besarnya negara Indonesia yang memiliki bentangan yang sangat luas, 17.000 pulau, 721 suku bangsa, 1.100 bahasa dan berpenduduk 263 Juta orang. Berikutnya beliau memaparkan hasil-hasil kerja demi keadilan dan kesejahteraan bangsa Indonesia. Beliau juga menyampaikan masih banyak PR yang harus dikerjakan demi kejayaan Indonesia. Disampaikan juga bahwa fokus kerja berikutnya adalah pengembangan sumberdaya manusia Indonesia.

Presiden juga menyampaikan tentang keberadaan masyarakat yang bermacam-macam, ada yang “Lunak. Moderat, Ekstrem dan Keras.” Beliau mengatakan: “Kita biarkan yang lunak dan moderat, dan kita upayakan agar yang ekstrem dan keras menjadi lunak serta moderat.”  Akhirnya beliau mengingatkan tentang pentingnya kewaspadaan terhadap Media Sosial. “Saya ini sudah ‘ndableg’ dengan berbagai ‘bully’ yang saya alami bertubi-tubi. Bahkan soal naik sepeda motor pada pembukaan Asian Games-pun saya juga dibully,” ungkapnya sambil tersenyum. Beliau mengingatkan agar Gereja-gereja dapat ikut serta aktif menjadi pengendali penggunaan media sosial yang positif.

Bagi saya yang mewakili Lembaga Alkitab Indonesia, kesempatan ini merupakan kesempatan yang sangat berharga secara ideologis dan praktis. Secara ideologis, LAI berada pada posisi yang sama dengan Gereja-gereja di Indonesia, yakni konsisten mendukung dan setia kepada Pancasila, UUD 45, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika. Tentu saja kehadiran saya merupakan bentuk dukungan simbolik sekaligus konkret dalam perjuangan menegakkan empat pilar kebangsaan di atas.

Secara praktis, kehadiran saya di forum ini memberikan manfaat pasti dan konkret terhadap LAI. Setidaknya ada empat manfaat karena bisa bertemu dan berdiskusi dengan beberapa pihak, yaitu: (1) LAI mendapatkan pengkinian data para pemimpin Gereja-gereja anggota PGI dan Gereja aras nasional serta mitra PGI yang hadir, (2) LAI mendapatkan peluang pesanan Alkitab khusus untuk ulang tahun ke-70 salah satu Sinode Gereja, (3) LAI mendapatkan peluang membantu Pengurus Pusat PWKI dalam meningkatkan kecintaan terhadap Alkitab, dan (4) LAI mendapatkan janji bantuan dari salah satu Komisaris BUMN serta penegasan akan ada bantuan dari Dirjen Bimas Kristen Kementerian Agama RI.

Tentulah LAI juga mendapatkan manfaat “intangible” yang sangat berguna yaitu penguatan jejaring dengan Gereja-gereja di Indonesia. Hal ini sangat penting agar sinergi LAI dengan Gereja-gereja di seluruh Indonesia semakin kuat.

Dapat bertemu dengan Presiden sebuah negara besar seperti Indonesia adalah suatu anugerah tersendiri. Betapa tidak, hanya sedikit orang dari 263 juta orang penduduk Indonesia yang memiliki kesempatan untuk bertemu, bersalaman, bertatap muka dan diberikan senyuman hangat oleh Presiden negerinya. Juga dapat merasakan langsung kesederhanaannya, kerendahan hatinya, keterus-terangannya dan kejenakaannya.  Lebih-lebih turut bersama-sama mendukung penyampaian aspirasi dan keprihatinan Gereja-gereja di Indonesia, dan turut mendoakan Presiden secara langsung untuk kejayaan Indonesia.

Saat Presiden Joko Widodo bergegas meninggalkan ruang pertemuan sambil menyalami satu persatu peserta, tiba giliran saya menyalami beliau, saya pegang erat tangan beliau sambil berkata: “Terima kasih Pak Presiden, saya Sigit dari Lembaga Alkitab Indonesia.”  Saya tersenyum lebar dan dibalas dengan senyuman serta tatapan mata beliau yang sangat ramah, sambil mengucapkan: “ya, ya, ya.” Setidaknya dengan peristiwa ini Presiden Jokowi sudah kenal LAI.

Sore hari damai di hati. Memiliki makna tersendiri. Silaturahmi dengan Presiden Jokowi. Memberi harap kejayaan negeri. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Ekspektasi Tinggi Terhadap LAI

Selasa malam (21 Agutus 2018) saya menjadi pembicara di sebuah forum diskusi yang pesertanya kaum Bapak Kristiani di sebuah permukiman Kota Bekasi. Forum diskusi ini bernama Persekutuan Doa Kaum Bapak (PDKB) yang keberadaannya sama sekali tidak berhubungan dengan partai politik di masa lalu (meski memiliki singkatan yang sama).

Kegiatan PDKB berfokus pada diskusi bulanan dengan topik-topik yang berhubungan dengan iman Kristiani dan dengan semangat oikoumene, karena anggotanya berasal dari latar belakang gereja yang beraneka ragam. Berdasarkan kesepakatan dengan pengurus PDKB, selasa malam itu saya membawakan topik Bible Life Cycle yang tentu berhubungan dengan keberadaan layanan Lembaga Alkitab Indonesia.

Sesuai dengan siklus yang menjadi pedoman kerja lembaga-lembaga Alkitab yang tergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab Dunia (United Bible Societies), ada enam tahapan aktivitas yang tidak terputus: (1) Penerjemahan Alkitab, (2) Penerbitan Alkitab, (3) Penyebaran Alkitab, (4) Upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat, (5) Advokasi berbasis Alkitab, dan (6) Pelayanan serta kesaksian Alkitab.

Lembaga Alkitab Indonesia yang sudah berusia 64 tahun di Indonesia menjalankan keenam tahapan aktivitas di atas yang selalu bermitra dengan gereja-gereja interdenominasi dan interkonfesi di Indonesia. Seluruh sinode Gereja Kristen di Indonesia (yang menurut data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama RI ada 323 Sinode Gereja), bersama dengan umat Katolik di Indonesia semuanya menggunakan Alkitab terbitan LAI. Umat Katolik di Indonesia menggunakan Alkitab terbitan LAI oleh karena sejak 1968 proses penerjemahan Alkitab di Indonesia dilakukan bersama-sama oleh seluruh ahli penerjemahan Alkitab Gereja Kristen Protestan dan Gereja Katolik.

Dari tanya jawab, diskusi dan ramah tamah yang berlangsung sampai pukul 23.50 WIB tampak pemahaman mayoritas peserta diskusi terhadap LAI masih sangat terbatas. Bahkan ada satu bapak yang setengah bergurau mengungkapkan kalimat demikian: “Saya pikir selama ini LAI itu punya HKBP.” Saya menjawab bahwa LAI adalah milik semua Gereja di Indonesia, karena semua produk LAI ditujukan untuk membantu seluruh Gereja. Setelah berdiskusi soal penerjemahan, Bapak ini juga menyadari bahwa HKBP selama ini memakai terbitan Alkitab terjemahan bahasa Batak Toba yang sudah berusia sangat tua. Ini berarti HKBP membutuhkan revisi terjemahan Alkitab agar bahasanya dapat lebih dipahami oleh generasi muda.

Sejalan perubahan jaman, terjemahan Alkitab memang membutuhkan revisi secara periodik dari waktu ke waktu. Lazimnya setiap 30-50 tahun terjemahan Alkitab diterbitkan, sudah banyak perubahan yang menuntut adanya revisi terjemahan Alkitab. Ada beberapa alasan mengapa terjemahan Alkitab perlu direvisi, sebagai contoh Alkitab TB (Terjemahan Baru) yang terbit tahun 1974 perlu direvisi. karena: (1) Adanya perkembangan dalam bahasa Indonesia. Ada kata-kata yang sudah usang, berubah arti, kata-kata baru. (2) Adanya perkembangan penelitian teks sumber (Ibrani, Aram, Yunani). Ada penemuan-penemuan baru yang memberikan penguatan kepada metode terjemahan Alkitab. (3) Adanya perkembangan ilmu tafsir (exegese), dan (4) Adanya perkembangan ilmu penerjemahan (science of translating).

Setelah diskusi dan dialog intensif peserta diskusi banyak memberikan masukan dan mengungkapkan ekspektasi yang tinggi terhadap LAI. Misalnya tentang pentingnya LAI mengkomunikasikan lebih gencar kepada gereja-gereja agar lebih banyak umat yang paham tentang berbagai program LAI. Juga masukan tentang pentingnya lebih menjabarkan informasi tentang berbagai pembiayaan yang dibutuhkan agar semakin banyak pihak yang terpanggil mendoakan, mewartakan dan mendonasikan berkat-berkatnya.

Karena Bapak-bapak ini memiliki profesi yang bermacam-macam maka masukan-masukannya untuk LAI sangatlah komprehensif. Mereka juga mengungkapkan ekspektasinya terhadap LAI yang cukup tinggi mengingat keseharian mereka terbiasa dengan standar profesionalisme yang tinggi. Sangat bersyukur dalam 64 tahun pelayanan LAI di Indonesia semua prinsip profesionalisme sudah diterapkan dengan prima. Salah satu tandanya adalah LAI sudah memiliki sertifikat ISO 9000 : 2001, ISO 9001 : 2008 dan sedang berproses dengan ISO 9001 : 2015.

Dengan pemahaman yang lengkap terhadap Bible Life Cycle dan keberadaan LAI, para anggota PDKB yang memiliki jaringan sangat luas ini berpotensi untuk menggerakkan jaringannya dalam mendukung mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Ekspektasi tinggi dibayar dengan dukungan yang tinggi terhadap LAI, sangatlah impas.
Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)