Penyebaran Alkitab SDK ke Boven Digoel & Solidaritas Sulteng

Tiga buah kendaraan double gardan yang siap menemani Tim SDK LAI menyebarkan Alkitab di pedalaman Boven Digoel, Papua.

title

Pikiran dan hati terpecah antara Sulawesi Tengah dan Boven Digoel. Betapa tidak. Pemulihan kondisi pasca gempa Lombok belum pulih seratus persen, tiba-tiba gempa dahsyat dan tsunami secara mengejutkan melanda Palu dan Donggala. Jadwal pelayanan program penyebaran Alkitab Satu Dalam Kasih (SDK) ketiga 2018 (sesudah Sumba Timur dan Halmahera Barat) yang diarahkan ke Kabupaten Boven Digoel Papua harus tetap dijalankan. Belarasa dan solidaritas kepada para korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah juga harus terus digerakkan demi kemanusiaan.

Perjalanan SDK 30 September - 9 Oktober 2018 sudah dimulai. Perjalanan diawali dengan pesawat besar dari Jakarta-Merauke dan transit di Makassar pada tengah malam. Kemudian sesudah menunggu enam jam di Merauke disambung dengan pesawat kecil menuju Tanah Merah Ibu kota Kabupaten Boven Digoel. Dari Jakarta tanggal 30 September malam dan sampai Tanah Merah tanggal 1 Oktober sore. Sekira 18 jam. Malamnya diadakan acara kebaktian pembukaan SDK di GKI Di Tanah Papua Jemaat Sion Tanah Merah dan dilanjutkan dengan pemberian Alkitab secara simbolik kepada perwakilan 8 denominasi Gereja yang menjadi sasaran penyebaran Alkitab. Acara yang juga dihadiri wakil Pemda Boven Digoel sangatlah mengharukan, karena ada seorang penginjil yang bercerita bahwa umat di daerah penginjilannya sudah menunggu puluhan tahun untuk mendapatkan Alkitab. Puji Tuhan kali ini ada dermawan para mitra LAI yang dikirim Tuhan untuk membawa Alkitab.

Hari ini 2/10/2018 pengiriman Alkitab ke pedalaman Boven Digoel tepatnya ke daerah Nenati yang melewati Timbutka dan Waropko akan ditempuh sekira 5 jam dengan mobil double gardan dan berjalan kaki beberapa kilometer. Kembali besoknya melewati Yetetkun dan lanjut ke Tanah Merah lagi. Perjalanan ke Kouh, Bomakia, dan Fofi akan ditempuh dengan kapal kecil menyusuri sungai Digoel dan dilanjutkan dengan sepeda motor plus berjalan kaki. Dalam perjalanan kali ini Tim terdiri atas 6 orang dari Jakarta dan 2 orang dari Perwakilan Jayapura yang membawa 13.600 Alkitab dan 40 paket buku-buku plus media belajar Sekolah Minggu.

Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan kebangsaan, setelah usai pengiriman semua Alkitab, pada hari terakhir Tim SDK merencanakan untuk mampir ke Rumah Tahanan Bung Hatta yang digunakan pada tahun 1940an di Pinggiran Sungai Digoel. Ada perpaduan nuansa religiusitas, kemanusiaan dan kebangsaan dalam perjalanan SDK kali ini. Medan yang tidak mudah, hati yang terpecah dan kenangan akan perjuangan kemerdekaan Indonesia menjadi bagian perjalanan 10 hari ke wilayah paling timur Indonesia. LAI akan terus mewujudkan "Alkitab Untuk Semua" sampai ke pelosok Nusantara agar FirmanNya hadir bagi setiap orang. Salam Alkitab Untuk Semua. []

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Saya Nyaris Mati, Serasa Jantung Tertinggal Di Udara

Bp. Antonius Siahaan (berkaca mata) dan Andry (memegang kamera) bersama Tim SDK LAI membagikan Alkitab ke Jemaat yang ada di pulau-pulau terpencil di wilayah Halmahera Barat, Maluku Utara yang hanya dapat dijangkau oleh perahu-perahu kecil.

title

Adalah kesaksian Bp. Anton Siahaan, Kepala Departemen Produksi LAI yang sudah bekerja di LAI selama 24 tahun, namun belum pernah satukali pun mengikuti perjalanan pengiriman Alkitab ke pelosok negeri. Maklumlah, karena sejak masuk pertama di LAI pekerjaan yang ditangani selalu di bidang produksi dan percetakan, tidak langsung berhubungan dengan pengiriman Alkitab ke daerah terpencil. Pada tahun 2018 ini, demi kesehatian, antusiasme dan fokus pada pelayanan bersama Bp. Anton berangkat mengikuti perjalanan Tim Satu Dalam Kasih (SDK) dalam rangka pengiriman Alkitab ke pedalaman Halmahera Barat, Maluku Utara.

Jumat pagi lalu (28/9/2018) saat bertemu dengan saya dia langsung berkata: “Pak saya hampir mati dalam perjalanan ke Halmahera Barat 22-27 September kemarin. Saya sungguh sangat bersyukur bisa kembali lagi ke Jakarta dan hari ini bisa masuk kerja.” Saya tersenyum dan sedikit berkelakar: “Jadi sekarang sudah mengalami kebangkitan jiwa ya Pak?”

Menurut ceriteranya, menuju ke lokasi pengiriman Alkitab Satu Dalam Kasih ini harus menempuh transportasi udara, laut dan naik turun gunung dengan ojek namun lebih banyak jalan kakinya. “Yang nyaris membuat saya mati adalah saat naik kapal kecil di tengah laut, dihantam ombak sangat tinggi dan membuat tubuh saya terpelanting,” katanya dengan nada serius. “Saat melanjutkan perjalanan di darat yang harus naik ojek, karena kondisi jalan yang sangat sulit, membuat saya lebih banyak jalan kaki,” sambungnya. Saya mendengarkan kesaksiannya dengan setia. “Mujizat terjadi Pak. Saya sama sekali tidak sakit disana. Padahal medannya sangat sulit, makan susah dan tubuh kelelahan,” ungkapnya mantap. Saya melihat mata Pak Anton berbinar semangat.

Kesaksian di atas dilengkapi dengan keterangan saudara Andry dan Caroline staf Departemen Komunikasi dan Kemitraan LAI yang jauh lebih muda dan ikut dalam rombongan. Mereka berdua mengatakan memang perjalanannya tidak mudah. Banyak tantangan dan benar-benar penuh dengan perjuangan. “Pak Anton mula-mula banyak mengeluh, namun akhirnya bisa menerima keadaan dan mengikuti seluruh perjalanan dengan setia,” kata Andry.

“Saat kapal kami dihantam ombak dan kapal terangkat naik lalu turun secara drastis, rasanya jantung saya tertinggal di atas Pak,” kata Caroline dengan serius. “Saat saya masuk ke pedalaman Halmahera Barat, saya sangat sedih. Disana jalanan rusak parah, belum ada listrik, tidak ada sinyal HP dan hidup sangat sederhana. Saya selalu ingat Nomi Pak (staf Perpustakaan dan Museum LAI), karena dia kan dari sana,” sambungnya penuh haru.

Perjalanan pengiriman Alkitab dalam program Satu Dalam Kasih ke pelosok negeri adalah sebuah perjalanan spiritual yang sangat bermakna. Bukan perjalanan “tour and traveling” yang bisa selfa-selfi dan upload makanan enak. Saat kapal diterjang ombak, mana ada yang sempat memotret atau merekam dengan kamera hapenya. Yang dilakukan adalah waspada, bertahan dan berdoa dalam situasi mencekam. Selepas itu pastilah sujud syukur atas semua keajaiban yang terjadi.

Pengalaman perjalanan yang sangat sulit, akan serta merta terobati manakala bertemu dengan sahabat-sahabat di pedalaman yang sudah sangat lama menunggu untuk mendapatkan Alkitab. Sukacita, gairah, semangat, kehangatan dan ketulusan mereka dalam menyambut rombongan sungguh mendatangkan sukacita yang tiada terhingga. Semua kelelahan musnah diganti dengan antusiasme baru yang muncul dalam sanubari.

Tugas LAI dalam mewujudkan Alkitab Untuk Semua ke daerah-daerah yang sulit dijangkau akan terus dijalankan apapun tantangannya. Kemitraan dengan semua Gereja (baik individu maupun lembaga) adalah keharusan demi sinergi dalam arak-arakan bersama menghadirkan kabar baik sampai ke ujung bumi. Pengalaman sudah menunjukkan, semua perjalanan berakhir dengan sangat sukacita baik yang mengirim maupun menerima Alkitab. Penyertaan Roh Kudus sungguh nyata dalam segala tantangan dan kesulitan yang harus dihadapi. Terpujilah namaNya. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

LAI, ACA, dan FKS 2018

Sigit Triyono, Sekum LAI mewakili Pengurus LAI tengah memberikan sambutannya dalam kegiatan Aku Cinta Alkitab 2018 di BPK Penabur International, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 29 September 2018.

title

Sabtu (29/9/2018) adalah hari yang sangat istimewa bagi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Betapa tidak, ada dua acara besar yang sangat mendukung terwujudnya Alkitab Untuk Semua di Indonesia. Acara pertama adalah Aku Cinta Alkitab (ACA) yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Pelayanan Anak (KKPA) LAI bekerjasama dengan Yayasan BPK Penabur yang bertempat di BPK Penabur International School, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kegiatan ACA berisi: (1) Lomba Paduan Suara Anak antar Gereja, (2) Olimpiade Alkitab, dan (3) Pertandingan Futsal For Bible. Total ada sekitar 300 anak usia SD dan SMP di Jakarta dan sekitarnya yang berpartisipasi dalam acara ini.

Diawali kebaktian pembuka dengan kotbah interaktif yang disampaikan oleh Pdt. Obertina Johanis, tampak betapa percaya dirinya anak-anak sekarang. Ketika ditanya mengapa Alkitab perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah? Banyak sekali anak yang angkat tangan untuk mengutarakan pendapatnya. Ketika diberi kesempatan bicara, jawabannya sangat cerdas: “Agar mudah dipahami,” “Karena di dalam Alkitab ada perintah Tuhan.” Luar biasa!!

Ketika ditanya siapa yang sudah punya Alkitab? Hampir semua anak angkat tangan. Pertanyaan dilanjutkan, siapa yang mempunyai lebih dari satu Alkitab? Hampir semua anak mengangkat tangan juga. Ketika ditanya siapa yang mau berbagi Alkitab untuk sahabatnya yang belum punya Alkitab? Lagi-lagi hampir semua anak angkat tangan tanda mau berbagi.

Saat saya memberikan sambutan untuk membuka ACA ini, saya menceritakan bahwa Lembaga Alkitab pertama di dunia (Lembaga Alkitab Inggris) yang berdiri 7 Maret 1804, diinspirasi oleh kegigihan gadis kecil berusia 8 tahun bernama Mary Jones. Mary yang tinggal di sebuah desa Peannat di sebelah utara Wales-Inggris, sangat terpukau pada cerita-cerita Alkitab yang dibacakan setiap Minggu di kapel kecil dekat rumahnya. Itu sebabnya ia ingin memiliki Alkitabnya sendiri. Tetapi pada masa itu, harga Alkitab sangatlah mahal, dan ayahnya hanyalah seorang penenun.

Mary menabung selama kurang lebih 7 tahun. Ia menjual kayu bakar, telur ayam, bahkan mencari pekerjaan pada tetangga-tetangganya. Setelah terkumpul cukup uang, Mary berangkat untuk membeli Alkitab. Setelah berjalan sejauh kurang lebih 41 kilometer, Mary yang saat itu berusia 15 tahun mencari rumah Pak Thomas Charles. “Pak, saya mau membeli Alkitab, saya sudah menabung selama 7 tahun, ini uangnya, silahkan hitung,” kata Mary. Setelah mendengar cerita perjuangan Mary yang bekerja keras dan menabung dengan setia untuk dapat membeli sebuah Alkitab, Pak Charles sangat terkesan dan tergerak hatinya. Alkitab yang tinggal satu-satunya, yang sebenarnya sudah ada pemesannya, akhirnya diberikan kepada Mary Jones. Dari kisah inilah Pak Charles Thomas mengajak teman-temannya di London mendirikan Lembaga Alkitab agar dapat menolong Mary-Mary yang lain yang tersebar dimana-mana.

Melalui kegiatan ACA ini diharapkan anak-anak semakin mencintai Alkitabnya dengan selalu membaca, merenungkan dan menerapkan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari. Lebih lanjut melalui kegiatan ini bukan semata-mata mencari kemenangan, tapi terlebih terbangun solidaritas, belarasa untuk membantu orang lain yang belum memiliki Alkitab di pelosok negeri.

Dari Jakarta Utara saya meluncur ke Jakarta Timur, tepatnya Taman Mini Indonesia Indah, dimana sedang berlangsung Festival Kitab Suci (FKS) 2018 yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Jakarta. LAI diberi kesempatan untuk membuka dua booth: (1) pameran produk-produk LAI, dan (2) pameran program Sejuta Mitra LAI. Di samping itu, LAI juga diberi waktu untuk tampil dalam Talkshow bersama dengan tiga pembicara lain yang dimoderatori oleh artis Donna Agnesia.

Acara yang sangat meriah yang dihadiri oleh 2.500-an peserta bertujuan untuk meningkatkan kecintaan umat Katolik terhadap Kitab Suci (Alkitab). Seminar, talkshow, pentas seni dan pameran-pameran menjadi forum sosialisasi pentingnya membaca, merenungkan dan menerapkan ajaran Kitab Suci di kehidupan sehari-hari umat Katolik. LAI diberi kesempatan untuk memperkenalkan jatidirinya sebagai lembaga yang diberi mandat oleh seluruh Gereja Protestan dan Katolik di Indonesia. Meskipun waktunya sangat singkat, kesempatan ini cukup efektif untuk menjelaskan bahwa LAI adalah milik bersama Gereja-Gereja interdemoniasi dan interkonfesi di seluruh Indonesia. Mandat yang diberikan kepada LAI dalam penerjemahan, produksi dan penerbitan, penyebaran serta upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat perlu didukung bersama seluruh umat Katolik dan Protestan di Indonesia. Kesehatian melahirkan sinergitas ekumene. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Sejuta Mitra LAI Dalam Festival Kitab Suci 2018

title

September adalah salah satu bulan penting bagi umat Katolik Indonesia, di mana pada bulan ini mereka merayakan salah satu perayaan besar, yakni Bulan Kitab Suci. Pada bulan ini umat Katolik diajak untuk menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci melalui berbagai cara, sehingga dengan demikian iman mereka semakin tangguh dan teguh dalam menghadapi kerumitan dan kesulitan. Ungkapan syukur akan kehadiran Kitab Suci dalam kehidupan mereka mampu menggerakkan seluruh umat melalui perwakilan komisi-komisi di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Festival Kitab Suci (FKS) 2018 adalah puncak dari seluruh rangkaian perayaan Bulan Kitab Suci 2018.

Perayaan yang diadakan pada Sabtu, 29 September 2018 di Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah, disambut dengan antusias oleh umat Katolik di Jabodetabek. Sejak pukul 07.00 pagi umat Katolik dari berbagai wilayah-wilayah Keuskupan Agung Jakarta. Terlihat jelas sejak sebelum dimulainya acara, kursi-kursi untuk umat/peserta sudah terisi semua, dan proses registrasi hampir semuanya terpenuhi.

Perayaan semakin meriah karena melibatkan beberapa artis terkenal untuk mengungkapkan kesaksian pujiannya. Adalah Donna Agnesia bertindak sebagai pembawa acara yang memandu mulainya acara pagi itu. Dengan didampingi oleh Rocky Pasadena, mereka menjelaskan garis besar tentang kegiatan FKS KAJ, mulai dari mengumumkan hasil kuis dan berbagai acara lainnya yang diadakan sebelum puncak perayaan tersebut.

Undangan yang hadir juga berkesempatan untuk menyaksikan video sambutan mulai dari Mgr. Ig. Suharyo, Ketua Keuskupan Agung Jakarta dan beberapa Imam-imam yang memimpin umat Katolik di Wilayah Keuskupan Agung Jakarta, yang tersebar di 5 wilayah di Jakarta. Di samping itu, turut hadir bersama mereka adalah komunitas-komunitas katolik yang berkaitan dengan penggiat kitab suci (Alkitab).

Pada kesempatan ini Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diundang dan diberikan kesempatan untuk menjelaskan visi-misi dan program kerjanya, melalui Departemen Komunikasi & Pengembangan Kemitraan dan Departemen Penyebaran & Pemasaran yang juga diberikan kesempatan untuk berpameran dan berpromosi. “Semua harus bersinergi. Di sini berbagai komunitas hadir, beberapa adalah penggiat Kitab Suci. Ini pasti akan berdampak bagi LAI. Untuk itu keberadaan LAI dan komunitas penggiat Alkitab sangat diharapkan di sini.“ ujar Bpk Wandi, Anggota Dewan Komisi di Keuskupan Agung Jakarta. Menurut beliau. ada setidaknya 22 komunitas penggiat Alkitab yang ada dan hadir dalam acara FKS 2018 bersama komunitas Katolik lainnya yang ternaung di bawah payung Keuskupan Agung Jakarta. Menurut Bapak Wandi, umat katolik dapat dikatakan jarang untuk membaca Alkitab. Ini menyebabkan timbulnya komunitas-komunitas penggiat dan pencinta Alkitab.

“Bapak, Ibu mari ikut dan dukung Sejuta Mitra LAI...,” seru Selviana Bangun, Staf DepKom LAI saat memperkenalkan program Sejuta Mitra LAI kepada kepada undangan yang hadir. Sejuta Mitra LAI adalah program donasi yang mengajak berbagai macam orang untuk ikut menjadi Mitra Lembaga Alkitab Indonesia. Program ini juga untuk menggalang dana membantu penyebaran Alkitab ke seluruh pelosok negeri, bagi masyarakat pedalaman yang rindu dan haus akan Firman Tuhan, serta mengalami kesulitan untuk mendapatkan Alkitab. Sangatlah tetap apabila program menghadirkan Firman Tuhan bagi semua orang patut digaungkan bahkan dirayakan oleh umat Katolik seluruh Indonesia, karena ini semua erat kaitannya dengan Kitab Suci.

“Kami melihat bahwa Tuhan itu begitu baik untuk kita semua. Ia sangat mengasihi kita dan menyelamatkan kita semua. Jadi, kita perlu melanjutkan kasih Tuhan ini kepada mereka yang membutuhkannya.” ungkap Paulina, salah seorang yang mendatangi booth Sejuta Mitra LAI dan mendaftarkan diri menjadi Mitra LAI. Paulina menjelaskan dengan semangat mengapa ia turut serta menjadi bagian dari program ini. Ada banyak umat lain dengan pemahaman dan mimpi yang sama seperti Sdr. Paulina. Mereka dengan antusias dan gembira mengikuti program Sejuta Mitra LAI. Dan menjadi bagian di dalamnya. Apa yang menjadi kerinduan mereka sama , yaitu menghadirkan Firman Allah, juga membuat seluruh umat di pedalaman negeri ini dapat membaca dan memahami Alkitab beserta isinya.

Sampai pukul 13.00 siangg, sudah lebih dari 50 orang yang mendaftarkan diri sebagai Mitra. Ada pula yang belum mendaftar, namun membawa flyer program Sejuta Mitra pulang untuk dipelajari lebih lanjut. Namun walau begitu, terlihat kebahagiaan di wajah mereka saat memahami tentang program ini.
Festival Kitab Suci Keuskupan Agung Jakarta pagi itu telah mencapai apa yang mereka impikan bagi seluruh umat katolik, yaitu umat lebih rajin membaca serta menjadi penggiat Firman Tuhan. Tetapi, sesungguhnya lebih dari itu. Dengan tidak saja menjadi penggiat, namun juga ikut andil langsung dalam pengadaan Firman Tuhan itu sendiri, sebenarnya dalam acara perayaan ini umat katolik telah menjadi garam bagi sahabat-sahabat di pedalaman yang kesulitan mendapatkan Alkitab. Menjadi Mitra LAI, mereka semua telah melakukan dan menjadi bagian dari visi dari LAI sendiri, “Firman Allah hadir bagi semua orang dalam Bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti.”

“…Saya umat Kristen Protestan. Tapi saya juga membaca kitab-kitab Deutrokanonika. Saya pun senang memahami isinya. Karena sekarang semua sudah tidak ada perbedaan.” ujar Bp. Sigit Triyono, Sekum LAI yang mewakili Pengurus LAI dalam Mini Talkshow – Komunitas Kitab Suci dan mendapat sambutan antusias dari umat yang hadir. Kehadiran LAI hadir dalam FKS 2018 sebagai bagian dari impian akan sinergisitas yang diharapkan oleh kaum penggiat Alkitab dan kaum awam. LAI bukan saja menjaring penggiat tapi juga mereka yang ingin terkait langsung dengan proses penyebaran Alkitab melalui Program Sejuta Mitra LAI. Semoga sinergitas ini terus berlanjuta dan berkembang dalam pelayanan bersama di waktu mendatang. [hizkia]

Tuhan, Ketika Kami Berhenti Menjadi Egois, Maka Saat Itulah Kami Bisa Dengan Tulus Berbuat Baik Bagi Orang Lain.

title

Jangan diketahui oleh tangan kirimu apa yang telah dilakukan oleh tangan kananmu.

Dalam konteks surat Galatia ini kebaikan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah pemberian berupa materi kepada pertama-tama para pengajar yang telah mengajarkan mereka tentang Kristus, kedua kepada saudara seiman mengingat kesusahan yang banyak dialami oleh orang Kristen mula-mula saat itu, lalu melakukan kebaikan juga kepada semua orang tanpa terkecuali. Paulus menganalogikan berbuat baik seperti orang yang menanam. Kebaikan yang terus kita lakukan seolah kita sedang menabur benih, suatu saat kelak benih itu akan bertumbuh dan menghasilkan buah, lalu kita akan menuai hasilnya. Intinya, lakukan kebaikan dengan tidak jemu-jemu, kepada semua orang, dengan tidak mengungkit-ungkit.

Sahabat Alkitab, kita tidak akan pernah mampu untuk melakukan kebaikan kepada orang lain sampai kita berhenti untuk memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Kita hanya mampu untuk memberi saat kita mampu untuk melihat kebutuhan dan kepentingan orang lain di atas dan lebih utama daripada kepentingan diri kita sendiri. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak jemu-jemu berbuat baik kepada orang lain, dan harus didasarkan oleh motivasi yang murni dan tulus, tanpa mengharapkan balasan. Paulus tidak bermaksud dengan mengatakan,"... sekali kelak kita akan menuai hasilnya" bahwa kita harus mengingat atau mengharapkan balasan dari kebaikan yang kita lakukan, melainkan bahwa melakukan kebaikan itu seperti menabur benih di mana suatu hari benih itu akan bertumbuh dan menghasilkan buahnya untuk kita nikmati. Kebaikan akan kembali kepada pemberi tanpa diminta dan diharapkan sekalipun. Sebab Tuhan Mahamelihat, adil, dan penuh kasih.

Selamat Pagi. Marilah kita mulai melakukan kebaikan hari ini dimulai dengan hal yang sederhana; memberi senyum, salam, dan sapa yang ramah dan hangat kepada orang disekitar kita.

Salam Alkitab Untuk Semua

Prospek Alkitab Cetak Di Zaman Now

title

“Mengingat di zaman now banyak yang sudah memakai Alkitab Digital, lalu bagaimana prospek Alkitab cetak?.” Ini adalah pertanyaan berulang yang sering diajukan oleh banyak kolega kepada saya. Saya selalu menjawab dengan tersenyum, karena sesungguhnya sang penanya rata-rata sudah tahu jawabannya. Saya menduga latar belakang pertanyaan kolega-kolega saya di atas adalah: (1) prihatin kepada LAI yang merupakan penerbit Alkitab cetak di era digital ini, (2) ingin konfirmasi atas data-data yang mereka miliki, dan (3) ingin tahu bagaimana langkah-langkah LAI ke depan. Ketiga hal ini merupakan umpan balik yang sangat positif dari para kolega saya untuk kemajuan LAI.
Sesuai dengan data yang dilaporkan oleh Persatuan Perusahaan Grafika Indonesia, proyeksi pertumbuhan industri percetakan pada tahun ini diharapkan bisa mencapai 5%. Secara umum kondisi industri grafika berada dalam tren penurunan karena perkembangan teknologi digital yang menyebabkan koreksi permintaan. Optimisme kenaikan omzet hanya karena ada ajang pemilihan umum serentak tahun ini (mencetak ratusan juta kertas suara). Selebihnya kontribusi kenaikan omzet lebih banyak berasal dari perusahaan-perusahaan percetakan yang bergerak di bidang “packaging” (kemasan).
Lalu bagaimana data yang dimiliki LAI hari ini? Puji Tuhan, LAI sudah memiliki sistem yang memungkinkan melihat data penyebaran produk-produk cetak secara harian (menurut saya teknologi LAI ini sungguh sangat canggih). Posisi data penyebaran hari ini (22.09.2018) adalah: (1) Alkitab Lengkap (PL & PB): 2017 = 580.805; 2018 = 653.949 – Tumbuh 12,6%. (2) Testamen (PB): 2017 = 680.449; 2018= 733.463 – Tumbuh 7,8%. (3) Non Alkitab: 2017 = 57.484; 2018 = 71.721 – Tumbuh 24,8%. Rata-rata pertumbuhan 10,6%.
Dari data di atas LAI mengalami pertumbuhan di atas proyeksi pertumbuhan industri grafika Indonesaia tahun ini yang hanya berharap di angka 5%. Ini merupakan pencapaian LAI yang termasuk istimewa. Apalagi secara umum kondisi industri grafika di Indonesia dan bahkan di dunia berada dalam tren penurunan, karena konsumsi teknologi digital. Pertumbuhan di atas belum merupakan tren, karena baru data sementara dalam sembilan bulan terakhir di tahun 2018. LAI masih terus berupaya dan berdoa dengan sungguh-sungguh agar di akhir tahun data pertumbuhan ini tetap terjaga bahkan berharap bisa melampauinya. Perjuangan ini tidaklah mudah mengingat sejak tahun 2015 sampai 2017 data penyebaran LAI memiliki kecenderungan yang terus menurun.
Keprihatinan para kolega dan konfirmasi data yang dimilikinya sudah terjawab dengan data-data yang dimiliki LAI di atas. Namun pertanyaan: bagaimana langkah-langkah LAI ke depan dalam menyambut konsumsi digital yang akan menggerus produk cetak?
Pertama, seluruh Tim LAI di kantor Pusat, Percetakan dan Perwakilan-perwakilan terus rajin berdoa bersama setiap pagi, terus meningkatkan kesehatian, antusiasme dan terus fokus kepada keberhasilan.
Kedua, LAI tidak akan melawan produk digital. Sejak Juni 2018 secara resmi LAI memiliki Departemen Layanan dan Pengembangan Digital, dan sejak bulan ini sudah mencanangkan diri menjadi “Asia Pacific Digital Development Center” yang akan melayani lembaga-lembaga Alkitab di Asia Pasifik. Tekad yang berani ini, meminjam istilah anak zaman now: “Sungguh keren abis!”
Ketiga, upaya pengembangan produk Alkitab cetak terus digenjot sesuai dengan kebutuhan umat. Dalam waktu dekat akan terbit Alkitab Kelahiran yang dilengkapi dengan aplikasi yang sangat menarik dan fungsional. Aplikasi yang dapat menolong orang tua memonitor kondisi bayinya setiap saat, bahkan setiap detik. Ada ayat-ayat khusus, gambar-gambar istimewa dan berbagai variasi lain yang disediakan demi memberikan perhatian istimewa kepada putra-putri yang baru lahir.
Keempat, memperluas jaringan kemitraan dengan para individu, Gereja-gereja, lembaga-lembaga Kristen, perusahaan-perusahaan, dan bahkan dengan jemaat di luar negeri untuk mengidentifikasi dan berusaha memenuhi kebutuhan mereka di bidang Alkitab cetak. Terpujilah Tuhan, karena banyak sekali orang-orang baik yang dikirim Tuhan untuk membantu LAI. Salam Alkitab Untuk Semua.
Sigit Triyono (Sekum LAI)

Antusiasme GPdI Mendukung Pelayanan LAI

 

“Bagaimana kami Hamba-hamba Tuhan dapat terlibat langsung dalam penyebaran Alkitab ke daerah-daerah terpencil? Mengingat GPdI itu ibarat Bank BRI yang tersebar di pelosok negeri,” tanya Pdt Hesra Sembiring, salah seorang peserta Forum Tatap Muka Nasional (FORTAPNAS) Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) di Ungaran hari ini (19/9/2018).

“Kalau LAI sudah melaksanakan mandat layanan di bidang Alkitab (penerjemahan, produksi dan penerbitan, penyebaran dan upaya agar Alkitab menjadi panduan hidup umat) hemat saya GPdI tidak perlu lagi melakukan duplikasi. Kita harus mendukung LAI dengan memperkuat pelayanannya dan kita kerjakan hal-hal yang belum dilakukan LAI,” ungkap Pak Eko Nugroho, pendiri dan CEO Dreamlight World Media, yang juga salah satu narasumber dalam acara FORTAPNAS GPdI yang dihadiri para Pengurus Biro Media Cetak dan Elektronik GPdI 17 Provinsi.

“Apakah LAI dapat menjadi narasumber untuk sessi-sessi yang berhubungan dengan penerjemahan Alkitab di Sekolah Teologi GPdI di Salatiga?,” tanya Pdt G.A. Panjaitan, MTh. Ketua I Sinode GPdI yang juga Penasihat Panitia FORTAPNAS GPdI.

Pertanyaan dan pernyataan di atas menandakan antuasiasme para pengurus GPdI yang tersebar di 32 Provinsi di Indonesia dalam mendukung layanan LAI. Semangat ini membuat Tim LAI yang hadir di Ungaran (saya, Pdt Anwar Tjen, PhD – Kadep Penerjemahan, Pak Saefudin – Kadep Penyebaran, Sdr Indra dan Sdr Arif – staf Penyebaran) merasa semakin bertambah antusias untuk melangkah ke depan.

Apalagi saat LAI (saya dan Pak Anwar) mengakhiri sesi presentasi dengan mengajukan 4 pertanyaan berhadiah (berhubungan dengan Alkitab dan LAI) mampu dijawab dengan sangat lancar oleh banyak peserta. Pertanda mereka memberikan atensi yang sangat baik terhadap presentasi LAI.

LAI yang melayani seluruh Gereja interdenominasi dan interkonfesi di Indonesia sangat membutuhkan dukungan antusiasme dari seluruh hamba-hamba Tuhan dan jemaat Gereja yang dilayani. Antusiasme dalam hal mendoakan, memberi masukan-masukan, mewartakan, mendonasikan berkatNya dan mendukung aspek-aspek teknis layanan LAI. Semua ini mestinya menjadi suatu keniscayaan, mengingat tugas LAI merupakan mandat yang diberikan oleh seluruh Gereja-gereja di Indonesia.

Dengan antusiasme yang sama, maka pertanyaan Pdt Hesra Sembiring di atas saya jawab dengan semangat: “Sangat bisa Pak, dan dengan senang hati LAI menyambut partisipasi dan kontribusi para hamba Tuhan GPdI untuk bersama-sama menyebarkan Alkitab di pelosok negeri. Aspek teknisnya kita bisa diskusikan lebih lanjut.”

Saya juga menyampaikan persetujuan serta apresiasi kepada Bapak Eko Nugroho atas ide dan dukungan yang sangat luar biasa kepada LAI. Kelanjutan MOU yang sudah ditandatangani beberapa bulan lalu antara LAI dengan Dreamlight World Media semakin kongkret dan terukur. Sedang dijalankan bersama berbagai bentuk program di bidang penerbitan buku, pendidikan Alkitab, pengembangan aplikasi-aplikasi dan pembuatan program-program televisi.

Permintaan Pdt G.A. Panjaitan di atas, langsung kami jadwalkan di awal November 2018 dimana Pdt Anwar Tjen akan memberikan seminar setengah hari tentang penerjemahan Alkitab di STT Salatiga. Respon yang cepat, dan kongkret dalam semangat saling memberdayakan.

Bila antusiasme dalam level yang sama juga melanda Gereja-gereja lain di Indonesia dalam kemitraan dengan LAI, maka dahsyatlah dampak yang akan dituai bagi perwujudan Alkitab Untuk Semua di negeri ini. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Tuhan, Engkau Memberikan Hikmat Agar Orang Tidak Disesatkan Oleh Tipu Daya Kejahatan. Tolong Kami Membuka Hati Menerima Hikmat-Mu.

Galatia 4:21-26

Jika buku adalah jendela dunia, maka hikmat Tuhan adalah cakrawala maya.

Kepada mereka yang ingin hidup dalam hukum Taurat dan kepada pengajar palsu itu Paulus mengungkapkan suatu kebenaran yang tersembunyi bagi mereka. Dengan mengambil alegori Sara dan Hagar, Paulus menjelaskan bahwa siapa yang hidup di bawah hukum Taurat ia sama dengan keturunan Hagar yaitu Ismail, keturunan dari seorang hamba, diperanakkan oleh karena kemauan manusia. Sedang mereka yang hidup karena janji atau kasih karunia Allah adalah keturunan orang merdeka, keturunan Sara, dilambangkan sebagai Yerusalem sorgawi. Paulus tidak ingin jemaat Galatia itu teperdaya hingga membawa diri mereka sendiri menjadi seorang hamba padahal mereka telah dimerdekakan oleh Kristus.

Sahabat Alkitab, tidak belajar memang membuat orang menjadi bodoh, tidak berpengetahuan, dangkal, kurang awas, sehingga mudah sekali tertipu. Hari ini kita melihat begitu banyaknya orang Kristen yang mudah sekali terbawa oleh arus pengajaran baru yang tidak berpijak pada pengertian yang benar dari firman Tuhan, sementara yang memberi pengajaranpun demikian, mereka tidak benar-benar memahami apa yang mereka ajarkan, maka istilah yang tepat untuk itu adalah “Orang buta menuntun orang buta” atau “Orang bisu mengajar orang tuli berbicara”. Satu-satunya cara untuk memberantas kebodohan itu adalah dengan belajar pada sumber yang otentik dan terpercaya, serta bersikap kritis untuk segala pengajaran yang didengarkan.

Selamat Pagi. Hikmat Tuhan tidak datang kepada mereka yang berpangku tangan dan berdiam diri saja, tetapi kepada mereka yang mau membuka dan mempelajari firman-Nya dengan tekun, teliti di bawah pimpinan Roh Kudus.

Salam Alkitab Untuk Semua

 

Tuhan, Tidak Ada Yang Lebih MembuatMu Bersedih Daripada Kesenangan Kami Terhadap Kenikmatan Dosa. Ampunilah dan Bimbinglah Kami Untuk Meninggalkannya.

 

Galatia. 4:17-20

Kita ini adalah umat pilihan Allah, diselamatkan bukan untuk hidup bebas dalam dosa melainkan untuk menyenangkan Allah.

Paulus menunjukkan betapa ia begitu bersedih dan menderita karena keadaan jemaat Galatia. Ia menyamakan dirinya dengan seorang ibu yang sedang menderita sakit bersalin. Penderitaan yang ia alami akan terus terjadi jika sifat-sifat Kristus belum juga tertanam dalam diri mereka. Bagaimanapun juga Paulus adalah orang yang menanam benih iman dalam jemaat itu, sehingga wajar jika ia bersedih karena mereka telah melupakan itu.

Sahabat Alkitab, siapapun dalam posisi Paulus pasti akan bersedih jika orang yang kita kasihi dan ajari tentang kebenaran tidak lagi mengindahkannya. Terlebih lagi Tuhan, Dia jauh lebih bersedih karena anak-anak yang ditebus dengan hidup-Nya sendiri kembali dan tetap menikmati dosa masa lalunya. Tuhan tidak menghendaki kita hidup lagi dalam perbudakan dosa, Dia ingin kita hidup bebas dan merdeka.

Selamat Pagi. Jika kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan, masakan kita mau membuat-Nya bersedih dengan menukar kekekalan hanya karena kenikmatan sesaat?

Salam Alkitab Untuk Semua

 

Pengunjung Paket Wisata Alkitab Melonjak

Data pengunjung peserta Paket Wisata Alkitab (PWA) yang datang berkunjung ke Perpustakaan dan Museum Alkitab, Bible House dan Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia sejak Januari sampai akhir Agustus 2018 mengalami peningkatan jika dibandingkan data pengunjung PWA para periode yang sama tahun 2017. Ada kenaikan 50,3%, di mana tercatat data pengunjung PWA 2018 sebanyak 6.318 orang, sedangkan data pengunjung pada Januari sampai akhir Agustus tahun 2017 sebanyak 4.203 orang. Ini bisalah dikatakan lonjakan atau  booming. Suatu pencapaian yang luar biasa dan membuat hati sangat bersukacita. Suatu keberhasilan kerja yang dapat memicu antusiasme tim kerja untuk berlari lebih cepat ke masa depan.
Tentu kenaikan pengunjung PWA yang sangat signifikan di atas merupakan keberhasilan kolektif sebuah tim kerja yang solid. Tim kerja dari berbagai departemen di LAI sudah bersinergi dalam hal: mendoakan, mempromosikan, menerima surat permintaan kunjungan, mengatur jadwal agar tidak bentrok antar rombongan, membalas surat yang dilengkapi dengan jadwal yang sudah ditentukan, mempersiapkan kondisi prima tempat-tempat yang akan dikunjungi, dan menyambut pengunjung dengan ramah, komunikatif serta penuh antusias. Tim juga selalu menyiapkan kuis serta hadiah-hadiah khusus untuk menyemarakkan suasana kunjungan sambil belajar Alkitab. Pengunjung yang terdiri dari beragam usia (dari usia anak sekolah minggu sampai Lansia) selalu antusias berebut hadiah.
Paket Wisata Alkitab terdiri atas: (1) Wisata ke Museum Alkitab, (2) Wisata ke Perpustakaan Biblika, (3) Wisata ke Bible House dan (4) Wisata ke percetakan Alkitab.  Nomor (1), (2) dan (3) berlokasi di Jl Salemba 12 Jakarta Pusat. Sedangkan nomor (4) berlokasi di Nanggewer, Kabupaten Bogor. Perjalanan wisata ini membutuhkan waktu satu hari. Sessi pagi sampai makan siang menjelajahi nomor (1) sampai (3). Kemudian sesudah makan siang pengunjung dapat melanjutkan ke Nanggewer (sekira satu jam perjalanan) untuk melihat proses pencetakan Alkitab dari kertas kosong sampai berbentuk buku dengan berbagai ukuran.
Tujuan dibukanya program PWA ini antara lain adalah agar pengunjung dapat mengenal dan memahami: (1) betapa penting penerjemahan Alkitab ke berbagai bahasa, (2) sejarah perjalanan penerjemahan Alkitab sejak mula-mula sampai ke dalam bahasa-bahasa yang ada di Indonesia, (3) proses penerjemahan, produksi, penerbitan dan penyebaran Alkitab yang membutuhkan waktu, tenaga, kompetensi serta berbagai sumberdaya yang tidak sedikit, (4) benda-benda penting dan memiliki makna khusus yang disebutkan dalam Alkitab, serta (5) tugas-tugas pelayanan lembaga Alkitab Indonesia yang diamanatkan oleh Gereja-gereja di Indonesia.
Melalui program PWA ini diharapkan semakin banyak umat yang mencintai Alkitabnya dan menjadikan nilai-nilai dalam Alkitab sebagai pedoman hidup keseharian. Diharapkan juga dapat bertumbuh suatu kesadaran untuk bersolidaritas terhadap banyak umat yang sangat membutuhkan Alkitab dalam bahasa daerahnya, namun karena berbagai keterbatasan mereka belum mendapatkannya.
Museum Alkitab, Perpustakaan Biblika dan Bible House di Salemba Raya 12 yang diresmikan sejak tahun 2012 terus diupayakan pengkinian (up to date) terhadap isi dan penampilannya. Begitu juga dengan Percetakan Alkitab di Nanggewer Kabupaten Bogor bersama dengan departemen LAI yang lain.  Salah satu bukti adanya pengkinian adalah awal September tahun ini LAI resmi memperoleh Sertifikat ISO 9001:2015, yang berarti sistem manajemen mutunya telah berstandar internasional terbaru. Berbagai program pembenahan terus dilakukan agar seluruh pemangku kepentingan LAI semakin semangat mengikuti program PWA.
LAI selalu mendengar masukan-masukan pengunjung demi penyempurnaan program PWA ini. Salah satu masukan adalah LAI perlu mengembangkan PWA dengan menciptakan “paket program PWA dilanjutkan kunjungan ke lokasi-lokasi asli yang berhubungan langsung dengan sejarah naskah-naskah Alkitab.”  Meskipun akan membawa konsekuensi perlunya tenaga dan pembiayaan khusus, namun bila memang cukup banyak peminat yang ingin mendalami lebih detail tentang Alkitab, suatu saat ide ini pastilah akan terwujud. Salam Alkitab Untuk Semua.[]
Sigit Triyono (Sekum LAI)