Firman Tuhan Untuk Apahapsili

  • 44
    Shares
Erna Yulianawati, Kadep Komunikasi & Pengembangan Kemitraan LAI (memegang obor) saat Ibadah Peluncuran KBB bahasa Yali Angguruk di Ahapsili, 27 Mei 2018.

 

Seminggu setelah peluncurkan Alkitab bahasa Yali di Yali Angguruk, Papua, 25 Mei 2018 Tim Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) kembali menuju tanah Papua untuk meluncurkan Buku Kabar Baik Bergambar (KBB) bahasa Yali Angguruk dan menyerahkan Alkitab bahasa Yali di Apahapsili, salah satu distrik di Kabupaten Yalimo, Papua.

Apahapsili terletak di lembah yang diapit oleh empat gunung yang mengelilinginya, yakni Gunung Wenahik Pumbukon, Gunung Esin, Gunung Nambuk Poik, dan Gunung Fubuheyu. Selain gunung, wilayah Apahapsili juga diapit oleh 4 aliran sungai besar yang mengelilinginya, yakni: Sungai Habiye, Sungai Wol, Sungai Payerek, dan Sungai Lek. Apahapsili bagaikan Lembah Taman Eden. Namun jika dilihat dari arti kata Aphapsili, maka arti tempat itu sangat bertolak belakang dengan taman eden. Apahapsili dalam bahasa Yali berasal dari 3 suku kata. “Ap” artinya manusia, “Ahap” artinya kulit, dan “Sili” artinya tempat/halaman/lokasi, jadi Apahapsili artinya tempat menguliti kulit manusia. Sangat menyeramkan memang. Namun nama tempat itu hanyalah simbol dari kehidupan suku Yali di masa lalu yang masih primitif dan kanibal. Saat ini suku Yali sudah hidup dalam terang Kristus.

Untuk masuk Apahapsili dari Sentani kami menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan, pesawat kecil berpenumpang 10 orang milik MAF. Dalam pesawat itu selain pilot, kami ber- 9 orang dipimpinan oleh Bp. Nathan Pahabol, selain duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Papua, beliau juga sebagai koordinator peluncuran KBB Yali Angguruk dan penyerahan Alkitab Yali Angguruk. Tak terasa kami sudah mengudara selama 45 menit ketika roda pesawat menyentuh landasan di Apahapsili, di Pegunungan Yalimo.

Kami disambut secara antusias oleh masyarakat Apahapsili yang berasal dari Rayon Jemaat Elelim, Jemaat Apahapsili, 17 bakal jemaat Gereja Kristen Injili di Tanah Papua(GKITP). Selain itu kami disambut oleh Pdt. Yahya Walianggen, Ketua Klasis Yalimo Elelim beserta pengurus klasis, Pdt. Piet Usior, Badan Pekerja Am Wilayah Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Fredrick Tommeten, Koordinator Penerjemah bahasa Yali Angguruk, Ketua Majelis Jemaat GKITP Lachairoi Apahapsili, para guru jemaat, tua-tua adat, dan para penginjil, serta penduduk setempat. Mereka semua menggunakan pakaian adat Humi dan Kem/Salu menyambut kami sambil menari dalam gerak dan nada. Sebagai ucapan selamat datang masyarakat Yali,  penduduk mengalungkan noken di leher kaum ibu dan kalung dari biji rumput hilimbak untuk kaum bapak.

Pagi-pagi benar kami dikejutkan dengan suara yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan oleh kaum laki-laki yang dinyanyikan dari belahan bukit dan suara kaum perempuan yang dinyanyikan dari sudut gunung yang lain yang berasal dari kampung sebelah. Semangat gotong royong juga terlihat dimana penduduk desa tetangga sengaja datang untuk membangunkan tuan rumah agar segera cepat-cepat ambil batu dan rumput untuk acara bakar batu.

Sambil penduduk menyiapkan batu, rumput, dan mengolah makanan, kami melaksanakan lokakarya di gedung sekol ah YPK Lachairoi Apahapsili, dimana sebelumnya dimulai ibadah singkat yang dipimpin oleh Bp. Yunus Walilo, seorang Guru Jemaat dan juga menjadi salah satu tim penerjemah bahasa Yali. Sesi pertama diawali dengan penyampaian materi tentang Profil GKITP Klasis Yalimo Elelim dengan tema Sebagai Hasil Pekabaran Injil Selama 54 Tahun. Selanjutnya, Ibu Erna Yulianawati menyampaikan Visi-Misi LAI dan Program Kemitraannya LAI. Kemudian Pdt. F. Tommaten memberikan sesi tentang Asal Usul dan Proses Penerjemahan Alkitab Bahasa Yali. Pada sesi keempat giliran Bp. Nathan Pahabol yang akan menjelaskan Penggunaan Bahasa Yali Angguruk dalam keseharian. Dan pada sesi terakhir dipimpin oleh Pdt. Willem Rumbiak yang akan menjelaskan  Visi Misi GKI di Tanah Papua.

Setelah sepanjang hari berlokakarya, sore itu kamipun diminta untuk mengikuti prosesi Bakar Batu atau Barapen di mana semua makanan yangg terdiri dari babi, sayur-sayuran, ubi-ubian dimasak di dalam kolam yang dibawahnya diletakan batu panas dan kemudian ditutup kembali dengan batu panas yang sudah dibakar berjam-jam.

Hari ketiga di Apahapsili, pagi itu kami masih disambut oleh nyanyian bersahut-sahutan tanda mereka akan menjemput kami dengan tari-tarian dan kegembiraan. Prosesi ibadah peluncuran tepat dimulai pukul 10.00 WIT, yang diawali oleh rombongan para guru jemaat, majelis dan hamba Tuhan dengan pembawa Alkitab yang diangkat seperti “Tabut Perjanjian”. Setibanya di tempat ibadah, tepat di depan gedung Gereja Lachairoi yang lama, “Tabut Perjanjian” diletakkan, dan dilakukan pembakaran obor bambu oleh Pdt. F. Tometten, BP Am Sinode GKI di Tanah Papua, Wakil LAI, dan Ketua Klasis. Ini sebagai simbol terang Kristus terus menyala di Tanah Apahapsili. Ibadah Minggu dimulai dengan puji-pujian bahasa Yali Angguruk dengan pembawa liturgi Ibu Agustina Faluk, Wakil Ketua MJ GKITP Lachairoi dan Pdt. Piet Usior, sebagai Pembawa Firman.

Saat peluncuran Alkitab dan KBB bahasa Yali disampaikan dalam bentuk fragmen oleh Pdt Fredrik Tommeten dan diserahkan bersama oleh wakil LAI kepada Sinode GKI di Tanah Papua. Kemudian oleh Pdt. Daniel Kaigere, S.Si, Sekum GKITP  menyerahkan secara simbolis kepada perwakilan gereja-gereja yang ada di Apahapsili. Diikuti penyerahan oleh LAI, pemerintah, dan klasis. Alkitab dan KBB Yali Angguruk diserahkan kepada orang tua dan anak2 serta para pengasuh. Tuhan luar biasa. Jelas terlihat sukacita dan kegembiraan umat menerima Alkitab dan KBB Yali Angguruk. Dengan gemuruh teriakan dan tarian disambut terang matahari seakan memandang dari langit ikut menyambut Kabar Baik. Antusiasme umat terlihat ketika berhari-hari mereka jalan kaki bahkan sampai 3 hari dari kampung Gilika dan Welare 2 hari perjalanan. Sayangnya umat Tuhan terlalu banyak, sementara Alkitab dan KBB yang ada masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan umat berbahasa Yali. LAI harus terus bergumul agar firman Tuhan terus tersebar sampai wilayah terpencil, semoga banyak jiwa tergerak untuk melihat kerinduan mereka di Apahapsili. Tuhan mampukan kami untuk terus bersaksi dan melayani umat Tuhan untuk Tanah Papua. [ma]