Tuhan, Kepercayaan Yang Tulus Telah Menyelamatkan Kami Dari Rasa Kecewa Ketika Ternyata Bahwa Rencana-Mu Tidak Seperti Yang Kami Harapkan.

title

Iman yang tulus adalah kunci untuk dapat merasakan dan menikmati setiap momen dalam anugerah Tuhan

Dari ayat 22 kita dapat melihat bagaimana rasa kecewa dan iman seorang perempuan yang bernama Marta berada dalam satu frame yang menunjukkan keberadaannnya sebagai seorang manusia biasa tapi sekaligus juga seorang manusia yang rohani. Sebagai manusia biasa ia mengalami perasaan kecewa karena Yesus tidak segera datang menjenguk Lazarus saudara laki-lakinya saat sedang sakit. Ia berharap Yesus menyembuhkan Lazarus saat itu, karena memang selama ini ia telah melihat dan mendengar bagaimana Yesus menyembuhkan banyak orang sakit, tapi belum pernah melihat Yesus membangkitkan orang mati. Sebagai manusia rohani yang beriman kepada Allah, imannya bertumbuh dari rasa kecewa kepada kepercayaan yang besar bahwa apapun yang Yesus minta kepada Allah akan didiberikan-Nya, termasuk membangkitkan saudaranya

Sahabat Alkitab, TUHAN telah berkata, "Pikiran-Ku bukan pikiranmu, dan jalan-Ku bukan jalanmu. Setinggi langit di atas bumi, setinggi itulah pikiran-Ku di atas pikiranmu, dan jalan-Ku di atas jalanmu. (Yes. 55:8-9, BIMK). Dalam keterbatasan pikiran kita memahami segala sesuatu termasuk akan Allah, pikiran dan jalan-jalan-Nya, sangat mungkin terjadi kekecewaan di pihak kita. Karena kita selalu mencoba untuk "mengurung" Allah yang Mahabesar dalam kotak kecil pikiran kita. Namun Allah mengaruniakan kepada kita iman, inilah yang memampukan kita untuk dapat memahami Allah dengan kebesaran-Nya. Tidak serta-merta memang, karena ia (iman) akan bertumbuh dari setiap momen yang kita alami. Di sinilah diperlukan kejujuran, kemurnian, dan ketulusan dalam beriman. Seperti halnya Marta yang bersikap jujur dengan kekecewaannya namun dengan kemurnian dan ketulusan percaya kepada Yesus, sehingga ia tidak tenggelam dalam kekecewaan yang berkepanjangan tetapi bangkit dengan iman yang lebih besar dari sebelumnya

Selamat Pagi. Tetaplah percaya kepada Allah dengan tulus, karena Ia terus bekerja dalam hidup kita untuk mendatangkan kebaikan

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Manusia Mengharapkan Mujizat Untuk Kesombongan Spiritual Mereka. Tetapi Engkau Melakukannya Untuk Satu Alasan Saja ; Kemuliaan Nama-Mu.

title

Allah dapat memakai "tangan" kita untuk memuliakan nama-Nya, jangan mencuri sedikit pun kemuliaan itu dari pada-Nya!

Yesus tahu bahwa Lazarus telah mati, sebab Dia adalah Allah yang Mahatahu (omni science). Karena itu Dia mengajak murid-murid-Nya ke sana untuk mendemonstrasikan kemahakuasaan-Nya (omni potent), membangkitkan Lazarus dari kematian, dengan begitu mereka akan menjadi semakin percaya kepada-Nya dan memuliakan Allah.

Sahabat Alkitab, Allah memberikan berbagai-bagai karunia rohani kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, ada karunia yang terlihat begitu biasa seperti karunia melayani dan ada juga yang terlihat begitu wah seperti karunia mengadakan mukjizat (lih. 1 Kor. 12:1-31). Semua karunia itu diberikan Allah agar melaluinya manusia memuliakan Allah, baik oleh manusia yang "melakukannya" maupun mereka yang menerimanya. Allah menghendaki agar ketika karunia itu dinyatakan, manusia menyadari dan mengakui betapa Allah Mahakuasa juga betapa Ia mengasihi manusia. Ini akan menjadi kekuatan bagi manusia dan keyakinan bahwa Allah ada di tengah-tengah umat-Nya. Segala karunia tidak pernah berasal dari manusia karena itu tidak boleh sedikitpun kita menggunakannya untuk memuliakan diri sendiri. Segala kemuliaan harus dikembalikan kepada Allah yang memberikannya.

Selamat Pagi. Berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah, apa itu? Semuanya! Semua yang kita miliki.

Salam Alkitab Untuk Semua

Apakah Yang Harus Kami Perbuat ?

title

(Lukas 3:7-18)
“Setelah menyesali, mengakui, dan bertobat dari dosa-dosaku selama ini, apakah yang harus aku perbuat selanjutnya? Bagaimana agar aku tidak tergoda melakukan dosa itu lagi? Haruskah aku mengurung diriku di dalam kamar dan menjauh dari lingkunganku? Atau haruskah aku pergi ke gunung dan hidup menyendiri di sana agar tidak ada lagi dosa yang dapat menggodaku? Mungkin… aku harus pergi meninggalkan dunia ini dan bertemu dengan Tuhanku agar dosa tidak dapat lagi berkuasa atas tubuhku.”

Dalam penjara yang gelap dan dingin, seorang pemberita Injil menuliskan surat kepada jemaat yang pernah dilayaninya. Ia berkata: “… tujuan hidup saya hanyalah Kristus! Kalaupun saya harus mati maka itulah sebuah keuntungan bagiku. Sebab saya ingin sekali meninggalkan dunia ini untuk pergi tinggal dengan Kristus, sebab itulah yang paling baik; tetapi, untuk kepentinganmu, adalah lebih baik kalau saya tetap tinggal di dunia.” Pemberita Injil itu adalah Paulus, Rasul Yesus Kristus (lih. Fil. 1:21-24, BIMK).
Setelah bertobat dan dibaptis, beberapa orang Yahudi, diantaranya adalah orang Farisi dan Saduki (Mat. 3:7), bertanya kepada Yohanes: “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” (10). Sebelumnya Yohanes berkata kepada mereka agar menunjukkan perbuatan-perbuatan sebagai seorang yang telah bertobat, dalam bentuk perubahan hidup. Ia berkata, “Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan…”, karena keberadaan sebagai keturunan Abraham secara jasmani tidak memberikan jaminan bahwa mereka akan selamat. Kehidupan yang tidak berbuah, akan ditebang hingga ke akar-akarnya lalu dibuang ke dalam api. Dalam hal ini Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan tidak pandang bulu. Menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya (10), Yohanes memberikan jawaban yang lebih praktis bagi mereka. Barang siapa yang mempunyai dua helai baju, haruslah membagikan kepada orang yang tidak mempunyai, begitu pun dengan makanan (11). Kepada pemungut cukai yang bertobat dan ingin dibaptis, Yohanes melarang mereka untuk menagih pajak melebihi dari seharusnya. Juga kepada para prajurit, ia melarang mereka merampas dan memeras orang lain, mereka harus mencukupkan diri dengan gaji yang mereka terima. Yohanes melanjutkan, Mesias yang mereka nanti-nantikan akan datang untuk memisahkan antara gandum dan sekam. Gandum adalah orang-orang yang mengikuti-Nya dan bertobat, sekam adalah mereka yang tidak mau bertobat dan terus melakukan kejahatan, dank arena itu mereka akan dihukum.

Pertobatan yang ditandai dengan baptisan adalah pintu untuk seseorang dapat hidup dalam pertobatan itu sendiri dengan menghasilkan buahnya. Menjawab pertanyaan tentang apa yang harus diperbuat setelah pertobatan dan baptisan itu, Yohanes tidak meminta mereka untuk melakukan askese (menjauhkan diri dari lingkungan sosial, melakukan pertapaan, dan menyiksa diri dengan puasa yang keras dan ketat) seperti yang dia lakukan dipadang gurun Yudea, melainkan meminta mereka tetap mengerjakan pekerjaan mereka yang semula, kembali kepada kehidupan sosial mereka bermasyarakat dan bekerja, sebagai guru dan pemimpin agama Yahudi, sebagai pemungut cukai, sebagai prajurit, dan sebagai apapun, tetapi dengan jiwa dan roh yang baru. Yaitu hati yang mengasihi sesama manusia yang ditunjukkan dengan kehidupan yang memberi bukan mengambil apalagi merampas, juga dengan penghormatan terhadap keberadaan, kehidupan, dan hak-hak yang melekat pada orang lain. Penghargaan terhadap kemanusiaan ini adalah juga bentuk tindakan penghormatan dan kasih kepada Allah (bnd. Mat. 22:39).
Pertobatan bukanlah langkah akhir, melainkan langkah awal untuk hidup dalam kehidupan yang baru. Seperti seorang yang diwisuda karena telah menyelesaikan pendidikannya, ia tidak berhenti pada prosesi upacara dan pengakuan sebagai seorang sarjana, melainkan melanjutkan kegiatannya dengan bekerja untuk menerapkan apa yang telah ia pelajari, membangun kehidupannya sendiri dan kehidupan masyarakat. Ia telah menjadi pribadi yang baru dengan pengetahuan dan keterampilan yang baru, yang siap untuk didayagunakan bagi kehidupan bersama, sambil terus belajar dan mengembangkan diri di dalamnya.

Dalam penantian kita akan kedatangan Kristus yang kedua kali, hendaklah kita berbuah-buah dalam kebaikan dengan mengerjakan keselamatan dan pertobatan yang telah Allah anugerahkan bagi kita, sama seperti yang juga dikerjakan oleh rasul Paulus, sehingga ketika saat dan masa itu tiba, kita seumpama bulir gandum yang telah bersih, yang dikumpulkan bersama dengan gandum lainnya, untuk dimasukkan ke dalam lumbung-Nya, yaitu Surga.

Tuhan, Engkau Adalah Gunung Batuku, Di dalam-Mu Ketakutan Dan Kekuatiran Tidak Akan Menyentuh Kami.

title

Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah (Mzm. 62:8)

Sebelumnya Yesus berada di Yudea tempat di mana dia menjelaskan tentang diri-Nya kepada beberapa orang Yahudi, di sana mereka hampir melempari-Nya dengan batu karena dianggap menghujat Allah. Kali ini Yesus ingin kembali lagi ke sana, ini jelas mendapat tentangan dari para murid-Nya. Ketakutan mereka sangat beralasan, orang-orang itu bisa kembali menyerang Yesus, mungkin dengan membawa massa yang lebih banyak, dan bukan hanya Yesus saja yang bisa menjadi korbannya, mereka juga. Menjawab ketakutan mereka, Yesus mengatakan bahwa jika mereka melakukan sesuatu yang benar dan berjalan dalam kehendak Tuhan maka mereka akan selalu berada dalam perlindungan Tuhan.

Sahabat Alkitab, rasa takut sebenarnya berguna bagi manusia untuk semakin memperlengkapi diri, juga rasa takut akan mendorong manusia untuk bergantung kepada kuasa yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri, yang ilahi, yaitu Tuhan. Namun jika ketakutan itu menjadi berlebihan, justru akan menggerus kepercayaan kepada Tuhan. Inilah yang terjadi pada para murid, sekalipun mereka selalu bersama-sama dengan Yesus, melihat mukjizat-Nya, namun tidak juga benar-benar percaya kepada-Nya. Tuhan seumpama gunung batu, itulah yang diungkapkan leh Daud. Di gunung batulah ia berlindung dari kejaran musuh, dan ia mendapatkan rasa aman. Marilah kita mengimani apa yang Yesus katakan "Orang yang berjalan di waktu siang, tidak tersandung sebab ia melihat terang dunia ini." Berjalan bersama Yesus dalam kebenaran-Nya akan menyelamatkan kita dari bahaya.

Selamat Beribadah. Marilah kita datang kepada Tuhan, tempat perlindungan kita yang teraman. Beribadahlah kepada-Nya dengan penuh syukur.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Engau Adalah Gembalaku Takan Kekurangan Aku.

title

Gembala yang baik tahu menjawab kebutuhan domba-dombanya, Ia bahkan menjawab kebutuhan yang tidak terucapkan.

Lazarus, Maria, dan Marta adalah tiga bersaudara yang tinggal di Betania, sebuah desa kcil yang berjarak kira-kira 3 km dari sebelah timur Yerusalem. Dalam bahasa Ibrani, nama Lazarus berarti "Allah menolong". Saat itu, Lazarus sedang sakit dan kedua saudara mereka tahu ke mana mereka harus meminta pertolongan. Mereka telah mengenal Yesus dan tahu tentang berbagai mukjizat yang telah dilakukan-Nya, juga tahu tentang kebaikan hati-Nya kepada orang-orang yang lemah, sakit, miskin, dan menderita. Karena itu mereka tidak ragu untuk datang meminta pertolongan kepada Yesus. Mereka memiliki pengharapan dan keyakinan yang besar bahwa Yesus akan menolong dan menyembuhkan Lazarus.

Sahabat Alkitab, dalam Mazmurnya (Mzm. 23), Daud menyapa TUHAN sebagai gembala, ia mengungkapkan bahwa TUHAN bukan hanya sekedar gembala tapi DIA adalah Gembala yang baik yang dalam provedensia-Nya domba-domba-Nya tidak akan berkekurangan, tidak akan pernah merasa tidak aman, tidak akan pernah tersesat. Karena itulah para domba bergantung sepenuhnya kepada Gembala yang baik itu. Maria dan Marta juga menggantungkan kesembuhan Lazarus kepada Yesus. Kebergantungan yang begitu besar seperti itu hanya terjadi bila ada kepercayaan yang besar. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita benar-benar menganggap Allah sebagai gembala hidup kita sehingga kita benar-benar berserah secara penuh dan bulat kepada-Nya? Kiranya tidak ada lagi keraguan sedikitpun dalam diri kita akan Allah. Harta kita boleh sedikit, penghasilan kita tidak seberapa, kekuatan kita mungkin merosot, tapi dalam pemeliharaan Gembala Agung kita akan selalu tenang dan damai.

Selamat Pagi. Sebagai Gembala, Allah telah teruji dari zaman ke zaman, dari generasi ke geneasi, tidak pernah mengecewakan sedikitpun. Percayalah!

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Kesabaran Adalah Salah Satu Kekuatan Yang Engkau Berikan Kepada Kami, Untuk Menghadapi Dunia Yang Bodoh Dan Tinggi Hati.

title

Kebenaran tetap harus dinyatakan apapun resikonya. Tugas kitalah untuk melakukannya.

Kedangkalan pengertian beberapa orang Yahudi akan hukum Taurat membuat mereka tidak mampu untuk mencerna apa yang Yesus katakan. Sekalipun hendak dirajam karena dianggap menghujat Allah, Yesus tetap menjelaskan kebenaran yang dipahami-Nya kepada mereka. Dengan mengutip dari Mazmur 82:6 BIMK, yang berbunyi: "Aku berkata bahwa kamu ilahi kamu sekalian anak-anak Allah Yang Maha Tinggi", Yesus meyakinkan mereka bahwa menyebut diri sebagai ilahi tidak bertentangan dengan Taurat, malahan Allah menganggap semua orang yang menerima firman-Nya sebagai ilahi yaitu anak-anak Allah. Yesus adalah Pilihan dan Utusan Allah, ia melakukan apa yang ditugaskan Allah kepada-Nya, dan itu menunjukkan bahwa Dia dan Allah Bapa adalah satu. Tetapi sekalipun sudah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, mereka tetap tidak mengerti dan percaya.

Sahabat Alkitab, ada begitu banyak hal yang dapat membuat manusia tidak bisa menerima kebenaran sekalipun itu telah terlihat nyata di depan mata kepala sendiri. Kebodohan, kedegilan, tinggi hati, keras hati, sebagai akibat dari dosa menjadi selubung bagi manusia sehingga baginya kebenaran itu begitu sulit untuk dipahami dan diterima. Yang lebih parah lagi, manusia menjadikan dirinya dan apa yang sedikit diketahuinya dengan tidak sempurna sebagai standar kebenaran. Standar kebenaran diri itulah yang ia pakai untuk melawan kebenaran yang absolut dari Allah. Belajar dari Yesus, kesabaran dan kasih kepada sesama manusia adalah kunci untuk tetap dapat memberitakan kebenaran sekalipun tertolak berkali-kali. Sama seperti Allah telah begitu sabar terhadap kita, menanti sampai kita berbalik kepada-Nya, maka demikianlah juga kita harus melakukannnya kepada sesama.

Selamat Pagi. Jika air saja dapat menghancukan kerasnya batu karang, maka selalu ada harapan untuk memenangkan sesama kita bagi Tuhan.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Tidak Ada Kepercayaan Diri Yang Lebih Menenangkan Dari Pada Kepercayaan Diri Bahwa Engkau Berpihak Kepada Kami.

title

Jika Allah dipihak kita, siapakah yang dapat melawan? Keyakinan ini hanya dapat dikatakan oleh siapa yang hidup berkenan kepada-Nya.

Perkataan Yesus benar-benar mengesalkan hati beberapa Yahudi yang mengikuti-Nya dan yang tadinya begitu penasaran mendengarkan pengakuan Yesus bahwa Dia adalah Mesias (Raja Penyelamat) sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran dan harapan mereka. Namun yang Yesus katakan jauh melebihi ekspektasi mereka sehingga tidak dapat mereka jangkau sebab Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah dengan berkata "Aku dan Bapa adalah satu." Bagi mereka ini adalah bentuk penghujatan terhadap Allah, sebab bagi mereka Allah adalah Allah, tidak mungkin manusia menjadi Allah. Dan itu betul, sebab memang manusia tidak menjadi Allah. Orang-orang itu tidak memahami kebenaran yang tersembunyi bagi mereka karena kedegilan hati mereka, yaitu Allah yang menjadi Manusia. Yesus yang menyampaikan kebenaran tentu tahu bahwa Allah Bapa ada dipihak-Nya.

Sahabat Alkitab, orang yang paling malang adalah orang yang beridiri dalam sebuah kesalahan tetapi merasa sedang hidup dalam kebenaran, apalagi jika berpikir Allah akan membela kesalahan yang dianggapnya benar. Dalam pembacaan kita, Yesus begitu berani menghadapi orang-orang Yahudi yang mau melempari-Nya dengan batu sebab Ia tahu bahwa Ia benar dan Ia menyampaikan kebenaran yang memang harus disampaikan-Nya. Ia tahu bahwa Allah Bapa yang mengutus-Nya berada di pihak-Nya. Kita pun dapat menjadi begitu percaya diri untuk menghadapi orang-orang yang tidak menyenangi pribadi atau tindakan kita oleh karena melakukan kebenaran, kita percaya bahwa Allah ada dipihak kita.

Selamat Pagi. Jangan takut kepada manusia jika kita percaya Allah ada di pihak kita, dan ukurannya adalh firman Tuhan.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Berikanlah Kepada Kami Hati Yang Melimpah-limpah Dengan Iman, Sehingga Kami Menjadi Kekasih Yang Senantiasa Melekat Kepada-Mu.

title

Mempercayai apa yang berada di atas logika manusia, mempercayakan diri kepada kuasa yang melebihi kuasa manusia, terus percaya walau belum (tidak) melihat, dan tetap percaya sekalipun hanya sendiri. Itulah iman.

Beberapa orang Yahudi datang kepada Yesus dengan dipenuhi rasa penasaran dan keragu-raguan atas siapa Yesus. Mereka memang telah melihat dan mendengar Yesus melakukan beberapa mukjizat, namun bagi mereka itu belum cukup untuk menjawab apa yang mereka inginkan. Mereka meminta Yesus untuk mengatakan dengan jelas dan terang bahwa Dia adalah Sang Mesias yang mereka nanti-nantikan (Yesus memang belum pernah mengatakan secara terbuka kepada banyak orang bahwa Ia adalah Mesias hanya kepada perempuan Samaria dalam sebuah percakapan yang sangat pribadi (lih. Yoh. 4:26)). Kedatangan mereka hanya untuk memuaskan pikiran mereka yang dangkal dan tertutup, serta kebutaan hati mereka.

Sahabat Alkitab, iman kepada Yesus sebagai Penyelamat adalah anugerah dan kasih karunia dari Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tidak diberikan oleh dunia, dan tidak dapat kita temukan dengan pikiran kita, sekeras apapun kita mencarinya. Ada yang membaca begitu banyak buku dan Alkitab namun tidak juga menemukannya. Ada yang telah menerima begitu banyak tanda namun tetap tidak memilikinya. Karena iman adalah anugerah, maka mintalah itu kepada Sang Pemberi yaitu Allah, mintalah juga hati yang terbuka agar ketika Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, kita dapat menerima-Nya dan menjadi percaya. Berbahagialah jika hari ini kita masuk ke dalam bagian dari orang-orang yang percaya kepada Yesus dan menantikan kedatangan-Nya kembali, karena kita mendapat kasih Allah. Allah akan menjaga iman itu tetap ada dalam hidup kita sampai kedatangan-Nya kembali.

Selamat Pagi. Jika hari ini Anda masih dipenuhi dengan keraguan akan Dia, mintalah dengan sungguh-sungguh iman kepada Allah, dan rasakan perbedaannya dalam hidup Anda.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Kebenaran Sekalipun Tidak Bisa Diterima Semua Orang. Tolong Kami Untuk Selalu Berada Diantara Orang-orang Yang Menerimanya

title

Kebenaran tidak hadir untuk memuaskan semua orang, ia hadir untuk memisahkan antara orang yang mau mengikutinya dengan yang tidak.

Apa yang dikatakan oleh Yesus telah menjadi kontroversi dan menimbulkan perbedatan di antara mereka, orang-orang Yahudi. Analogi tentang pencuri, gembala, dan domba, serta tentang menyerahkan nyawa dan mengambilnya kembali yang dikatakan oleh Yesus mungkin sangat mengesalkan hati beberapa dari mereka sehingga berkata bahwa Yesus kerasukan setan, yang lain berkata bahwa Yesus gila. Namun orang-orang yang melihat kuasa yang dilakukan Yesus yang belum pernah terjadi sebelumnya dan keyakinan bahwa mujizat memelekkan mata orang buta tidak mungkin dilakukan dengan kuasa setan, merekalah bagian dari orang-orang yang cenderung membela Yesus.

Sahabat Alkitab, sejak dahulu, yaitu sejak dosa mulai masuk ke dalam sejarah kehidupan manusia, dunia telah terbagi menjadi dua, yaitu antara orang-orang yang mau mengikuti kebenaran dan mereka yang tidak. Yesus adalah Kebenaran sebab Dia adalah Allah, dan kedatangan-Nya ke dalam dunia memang untuk membawa pemisahan di antara manusia (Mat. 10:34 bnd. Ibr. 4:12; Why. 1:16; 2:12). Kita yang percaya kepada Yesus, juga harus membawa pemisahan itu. Konsekuensi dari itu pasti ada, menjadi pribadi yang kontoversial dan ditolak dari lingkungan yang mengerjakan ketidakbenaran adalah bagian dari itu. Namun marilah kita tetap berdiri pada kebenaran karena memilih untuk takut kepada Allah daripada kepada manusia seperti yang dilakukan oleh Rasul Petrus dan rasul-rasul lainnya (Kis. 5:29).

Selamat Pagi. Marilah kita berani menerima segala konsekuensi dari melakukan kebenaran, karena Allah ada dipihak kita dan Ia menyediakan Penolong bagi kita.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Bagi Para Pemimpin Engkau Meneladankan Kerelaan Berkorban. Bukan Semangat Mencari Untung Dan Egois.

title

Yesus adalah teladan bagi kepemimpinan, kehambaan, dan pengorbanan yang terangkai menjadi satu kesatuan. Seperti itulah wajah kepemimpinan Kristen yang seharusnya.

Sekali lagi Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik, gembala adalah orang yang menggembalakan domba artinya memimpin domba-domba itu, dan di zaman itu beberapa gembala adalah pemilik dari domba itu sekaligus. Gembala dan pemilik domba adalah orang yang berhak untuk memperoleh keuntungan dari domba gembalaannya. Namun yang Yesus ajarkan bukan bagaimana memperoleh hak itu secara egois, melainkan bagaimana seorang gembala harus berkorban terlebih dahulu bagi domba-dombanya. Gembala harus menjamin keselamatan dombanya dari ancaman maut, yaitu dari serigala yang datang untuk memangsa. Ia harus menjadi orang yang selalu berdiri di depan kawanan domba untuk menghalau serigala, bahkan Ia harus rela terluka atau sekalipun mengorbankan nyawanya demi keselamatan kawanan domba itu.

Sahabat Alkitab, kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan hamba, dan tidak ada hamba yang tidak berkorban. Itulah teladan Kristus bagi kita, bagi setiap orang yang ingin menjadi pemimpin atas umat Tuhan. Analogi gembala domba adalah yang paling tepat untuk menggambarkan kepemimpinan Kristen. Seorang gembala rela untuk meninggalkan kenyamanan rumahnya untuk menikmati dinginnya udara malam demi menjaga dombanya - Ini tentang pengorbanan akan kenyamanan dan gaya hidup. Jika pemimpin Kristen berada dalam kenyamanan, kekayaan, dan kejaayaan sementara yang dipimpinnya berada di sisi sebaliknya, itu bukanlah pemimpin Kristen; Gembala selalu berjalan paling depan untuk menuntun dan membawa dombanya ke tempat yang aman untuk makan dan minum - Ini tentang kebutuhan hidup. Jika pemimpin Kristen hidup dalam berkelimpahan sementara yang dipimpinnya berada dalam kekurangan, itu bukanlah pemimpin Kristen. Jika domba dalam bahaya, ia akan ada di situ untuk melindungi hingga titik darah penghabisan - Ini tentang tanggung jawab melindugi. Jika pemimpin Kristen lebih sering cuci tangan dan melimpahkan kesalahan kepada yang dipimpinnya, itu juga bukanlah kepemimpinan Kristen. Tidak ada domba yang berkorban, gembalalah yang harus berkorban. Demikianlah teladan Kristus bagi kita semua. Jangan mengambil sistem kepemimpinan dunia lalu mnerapkannya dalam kepemimpinan Kristen, sebaliknyalah yang harus terjadi.

Selamat Pagi. Barangsiapa diantaramu ingin menjadi pemimpin, hendaklah dia menjadi pelayan bagi semua.

Salam Alkitab Untuk Semua