Apakah Yang Harus Kami Perbuat ?

  • 28
    Shares

title

(Lukas 3:7-18)
“Setelah menyesali, mengakui, dan bertobat dari dosa-dosaku selama ini, apakah yang harus aku perbuat selanjutnya? Bagaimana agar aku tidak tergoda melakukan dosa itu lagi? Haruskah aku mengurung diriku di dalam kamar dan menjauh dari lingkunganku? Atau haruskah aku pergi ke gunung dan hidup menyendiri di sana agar tidak ada lagi dosa yang dapat menggodaku? Mungkin… aku harus pergi meninggalkan dunia ini dan bertemu dengan Tuhanku agar dosa tidak dapat lagi berkuasa atas tubuhku.”

Dalam penjara yang gelap dan dingin, seorang pemberita Injil menuliskan surat kepada jemaat yang pernah dilayaninya. Ia berkata: “… tujuan hidup saya hanyalah Kristus! Kalaupun saya harus mati maka itulah sebuah keuntungan bagiku. Sebab saya ingin sekali meninggalkan dunia ini untuk pergi tinggal dengan Kristus, sebab itulah yang paling baik; tetapi, untuk kepentinganmu, adalah lebih baik kalau saya tetap tinggal di dunia.” Pemberita Injil itu adalah Paulus, Rasul Yesus Kristus (lih. Fil. 1:21-24, BIMK).
Setelah bertobat dan dibaptis, beberapa orang Yahudi, diantaranya adalah orang Farisi dan Saduki (Mat. 3:7), bertanya kepada Yohanes: “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” (10). Sebelumnya Yohanes berkata kepada mereka agar menunjukkan perbuatan-perbuatan sebagai seorang yang telah bertobat, dalam bentuk perubahan hidup. Ia berkata, “Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan…”, karena keberadaan sebagai keturunan Abraham secara jasmani tidak memberikan jaminan bahwa mereka akan selamat. Kehidupan yang tidak berbuah, akan ditebang hingga ke akar-akarnya lalu dibuang ke dalam api. Dalam hal ini Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan tidak pandang bulu. Menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya (10), Yohanes memberikan jawaban yang lebih praktis bagi mereka. Barang siapa yang mempunyai dua helai baju, haruslah membagikan kepada orang yang tidak mempunyai, begitu pun dengan makanan (11). Kepada pemungut cukai yang bertobat dan ingin dibaptis, Yohanes melarang mereka untuk menagih pajak melebihi dari seharusnya. Juga kepada para prajurit, ia melarang mereka merampas dan memeras orang lain, mereka harus mencukupkan diri dengan gaji yang mereka terima. Yohanes melanjutkan, Mesias yang mereka nanti-nantikan akan datang untuk memisahkan antara gandum dan sekam. Gandum adalah orang-orang yang mengikuti-Nya dan bertobat, sekam adalah mereka yang tidak mau bertobat dan terus melakukan kejahatan, dank arena itu mereka akan dihukum.

Pertobatan yang ditandai dengan baptisan adalah pintu untuk seseorang dapat hidup dalam pertobatan itu sendiri dengan menghasilkan buahnya. Menjawab pertanyaan tentang apa yang harus diperbuat setelah pertobatan dan baptisan itu, Yohanes tidak meminta mereka untuk melakukan askese (menjauhkan diri dari lingkungan sosial, melakukan pertapaan, dan menyiksa diri dengan puasa yang keras dan ketat) seperti yang dia lakukan dipadang gurun Yudea, melainkan meminta mereka tetap mengerjakan pekerjaan mereka yang semula, kembali kepada kehidupan sosial mereka bermasyarakat dan bekerja, sebagai guru dan pemimpin agama Yahudi, sebagai pemungut cukai, sebagai prajurit, dan sebagai apapun, tetapi dengan jiwa dan roh yang baru. Yaitu hati yang mengasihi sesama manusia yang ditunjukkan dengan kehidupan yang memberi bukan mengambil apalagi merampas, juga dengan penghormatan terhadap keberadaan, kehidupan, dan hak-hak yang melekat pada orang lain. Penghargaan terhadap kemanusiaan ini adalah juga bentuk tindakan penghormatan dan kasih kepada Allah (bnd. Mat. 22:39).
Pertobatan bukanlah langkah akhir, melainkan langkah awal untuk hidup dalam kehidupan yang baru. Seperti seorang yang diwisuda karena telah menyelesaikan pendidikannya, ia tidak berhenti pada prosesi upacara dan pengakuan sebagai seorang sarjana, melainkan melanjutkan kegiatannya dengan bekerja untuk menerapkan apa yang telah ia pelajari, membangun kehidupannya sendiri dan kehidupan masyarakat. Ia telah menjadi pribadi yang baru dengan pengetahuan dan keterampilan yang baru, yang siap untuk didayagunakan bagi kehidupan bersama, sambil terus belajar dan mengembangkan diri di dalamnya.

Dalam penantian kita akan kedatangan Kristus yang kedua kali, hendaklah kita berbuah-buah dalam kebaikan dengan mengerjakan keselamatan dan pertobatan yang telah Allah anugerahkan bagi kita, sama seperti yang juga dikerjakan oleh rasul Paulus, sehingga ketika saat dan masa itu tiba, kita seumpama bulir gandum yang telah bersih, yang dikumpulkan bersama dengan gandum lainnya, untuk dimasukkan ke dalam lumbung-Nya, yaitu Surga.