Orang Baik Akan Selalu Mendapat Tempat

Tidak pernah orang baik ditolak. Ia akan selalu diterima di mana saja ia datang.

Kebaikan hati Rut meluluhkan hati Naomi yang semula tidak ingin mengajaknya ke Israel. Naomi memandang bahwa kebaikan hati yang dimiliki Rut cukup untuk membuatnya juga diterima oleh orang-orang Israel, terutama keluarganya. Hanya orang yang bak hati yang mau ikut menderita dan mati bersama dengan orang yang ia kasihi.

Sahabat Alkitab, cobalah lihat dalam pergaulan kita, orang-orang baik akan selalu mendapat tempat terbaik di dalamnya. Ia akan menjadi orang yang paling disayangi dari semuanya. Kebaikan hati tidak bisa dipalsukan, karena dengan segera orang akan merasakan perbedaannya. Namun, kita bisa melatih diri untuk berbuat baik. Mulailah dari motivasi awal, ini akan memudahkan tindakan kebaikan itu terjadi.

Selamat Pagi, mari kita melakukan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita, dengan begitu kita dapat mengatakan kepada mereka bahwa Allah itu baik.

Kadang Disana Memang Hanya Ada Tempat Untuk Satu Orang

Ini unik. Tidak ada tempat yang sama untuk lebih dari satu orang. Setiap orang menciptakan sejarahnya masing-masing.

Naomi memberikan pengertian kepada Rut dan Orpa jika mereka terus mengikutinya hingga sampai ke Israel mungkin mereka berdua akan kehilangan kesempatan untuk menikah lagi. Karenanya Orpa memilih untuk pergi tetapi Rut bersikeras untuk tetap bersama dengan Naomi. Akibat yang akan datang dari keputusannya, Rut beroleh kehidupan yang baru bersama dengan Boas.

Sahabat Alkitab, ceritanya akan menjadi berbeda jika Orpa juga ikut pulang bersama-sama dengan Naomi dan Rut. Orpa memilih untuk pergi menemukan kehidupannya sendiri, tidak ada yang salah dengan keputusannya, sebab setiap orang berhak dan bebas untuk memilih. Namun pilihan Rut untuk bersama Naomi memberikan dia tempat yang berbeda, dia menjadi bagian dari sejarah bangsa Israel, dari padanya raja-raja Israel dilahirkan, dan menjadi nenek moyang Yesus Kristus. Allah telah menetapkan satu tempat yang diperuntukkan bagi Rut.

Selamat Pagi, apa yang kita putuskan hari ini menentukan tempat kita di hari esok. Pilihlah yang terbaik, sebab hanya ada satu tempat untuk satu orang.

Bukan Hal Tabu Untuk Berubah

Semua orang pernah keliru dan salah jalan, karena itu jangan malu untuk kembali agar tidak semakin tersesat jauh.

Elimelekh dan Naomi pernah disilaukan oleh kelimpahan Moab hingga meninggalkan tanah perjanjian yang telah ditetapkan oleh Allah agar mereka tinggal di sana. Setelah semua yang terjadi dan ia mendengar bahwa TUHAN telah memberkati Israel, pulanglah ia dengan tidak ingin mengajak kedua menantunya. Ia mungkin malu jika harus menerima cemooh orang Israel di depan mereka.

Sahabat Alkitab, adakah di antara kita yang sama sekali tidak pernah berbuat salah? Jika kita semua pernah bersalah dalam banyak hal, lantas mengapakah kita cenderung menghakimi mereka yang bersalah? Atau, mengapakah kita malu jika harus mengakui bahwa kita bersalah? Apapaun yang ada dalam diri kita yang menghalangi orang lain atau diri kita sendiri untuk berubah, buanglah itu jauh-jauh. Berubah bukanlah hal yang tabu atau memalukan, itu hal yang sangat baik dan dirindukan Tuhan.

Selamat Pagi. Mari berubah oleh pembaharuan budi sehingga kita tahu manakah kehendak Allah, yang baik dan yang sempurna.

Salam Alkitab Untuk Semua

Hidup Manusia Adalah Perjalanan Panjang Kembali Kepada Allah

Debu kembali menjadi debu, roh akan kembali kepada Allah.

Walau hanya lima ayat, tapi ini adalah perjalanan lebih dari sepuluh tahun bagi Naomi, dan keluarganya. Banyak hal mereka telah alami; menderita kelaparan di tanah perjanjian lalu hidup berkelimpahan di negeri asing. Hidup ditemani suami dan anak-anak, hingga hidup menjanda bersama kedua menantunya yang juga sama dengannya. Naomi telah mengalami pahit manisnya perjuangan, dan telah kenyang dengan asam garam kehidupan.

Sahabat Alkitab, kehidupan yang kita jalani adalah sebuah perjalanan panjang yang berujung pada Allah. Segala upaya dan karya yang kita hasilkan bermuara kepada Allah, apakah memuliakan-Nya atau menghina-Nya. Demikian juga dengan tubuh kita ini akan kembali menjadi butiran debu tak berarti. Roh kita yang asalnya dari Allah juga akan kembali kepada-Nya, ke dalam hangat kasih-Nya atau ke dalam panas amarah-Nya.

Selamat Beribadah. Jika segala sesuatunya akan berujung kepada Allah, lantas mengapakah kita masih terbuai dengan fatamorgana dunia ini? Berjalanlah kembali kepada Allah.

Aku Telah Melihat Kebangkitan-Nya

Malaikat itu berkata kepada wanita-wanita itu, “Janganlah takut! Aku tahu kalian mencari Yesus yang sudah disalibkan itu. Ia tidak ada di sini. Ia sudah bangkit seperti yang sudah dikatakan-Nya dahulu. Mari lihat tempatnya Ia dibaringkan. Sekarang, pergilah cepat-cepat, beritahukan kepada pengikut-pengikut-Nya, ‘Ia sudah bangkit, dan sekarang Ia pergi lebih dahulu dari kalian ke Galilea. Di sana kalian akan melihat Dia!’ Ingatlah apa yang sudah kukatakan kepadamu.”

(Matius 28:5-7)

Pagi-pagi benar, aku dan Maria Ibu Yakobus, juga Salome pergi menjenguk ke kubur guru. Kami ingin membalurinya dengan rempah-rempah dan minyak, sebab saat Ia hendak dikuburkan, kami sama sekali tidak bisa melakukannya karena sebentar lagi memasuki hari Sabat.

Dalam perjalanan ke sana, terjadi gempa bumi yang cukup hebat. Kami pun bergegas, mempercepat langkah kaki ke sana, pikirku, Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan kubur Yesus karena gempa yang hebat itu. Benar sekali, dari kejauhan ada yang tampak aneh, batu penutup kubur telah terguling, kubur itu terbuka. Hatiku semakin was-was, semakin kucepatkan langkahku, dan betapa terkejutnya aku ketika menengok ke dalam, tubuh Yesus tidak ada lagi. Hatiku sangat sedih, tidak cukupkah penderitaan yang guru alami, hingga matinya pun ada orang yang mengambil jasad-Nya. Segera kami berlari pulang dan memberitahukan ini kepada murid-murid yang lain.

Aku kembali lagi ke kubur itu, kali ini bersama Petrus dan beberapa murid lainnya. Kami mencari di dalam dan di luar kuburan itu, tetapi tidak juga kami menemukan jasad-Nya. Siapakah yang tega mencuri jasad guru kami? Petrus dan yang lainnya pergi menyampaikan kepada semua murid tentang hilangnya jasad guru. Hanya aku yang tinggal sendiri, berdiri di depan kuburan itu. Dalam kebingungan dan kesedihanku, aku mendengar suara yang menyapaku, Ibu, mengapa menangis? Lalu aku berkata, Tuhan saya sudah diambil, dan saya tidak tahu Ia ditaruh di mana. Saat itu, aku benar-benar tidak mengenali suara itu, mungkin itu adalah tukang kebun yang berjaga di situ. Lalu aku berkata lagi kepadanya, Pak, kalau Bapak yang memindahkan Dia dari sini, tolong katakan kepada saya di mana Bapak menaruh Dia, supaya saya dapat mengambil-Nya. Maria! Aku mengenali suara yang memanggilku, ini pasti suara guru. Aku segera berbalik dan ingin segera memeluk-Nya, tetapi, Jangan pegang Aku, karena Aku belum naik kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku, dan beritahukanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu.”

Belum sempat aku berbicara dan melihat-Nya dengan lebih jelas, namun Ia tidak ada lagi. Ia menghilang dalam pandanganku begitu saja. Maka pergilah aku menyampaikan tentang apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar kepada semua orang. Guru telah bangkit, Yesusku hidup. Aku telah melihat kebangkitan-Nya dan mendengarkan suara-Nya.

Pada Akhirnya Kesukaan Tuhanlah Yang Menentukan Hidup Kita

Nilai kehidupan manusia ada di tangan TUHAN, jika Ia berkenan, Ia memberkati, jika tidak, Ia memberi hukuman. Tidak ada jalan tengah untuk itu.

Seberapa baikkah kita harus hidup? Seberapa benarkah tindakan dan cara-cara hidup kita? Seberapa murni dan tuluskah hidup beribadah kita? Penilaiannya hanya Tuhan yang tahu, sebab Ia melihat yang tidak terlihat oleh mata manusia, Ia menyelidiki batin manusia. Ia menerima doa orang yang dinilai-Nya baik, Ia mengasihi orang yang berusaha melakukan kehendak-Nya.

Sahabat Alkitab, mari kita mengubah pola pikir kita, jika selama ini kita hidup, bekerja, berkarya, melayani, melakukan ini dan itu hanya untuk menyenangkan hati manusia, kita arahkan kepada Tuhan. Tidak salah jika kita ingin terlihat baik di depan manusia, sebab itulah bentuk kesaksian Kristen kita, tetapi jika motivasi kita hanya berhenti sampai di situ saja, maka perkataan ini tertuju pada kita, “… mereka sudah menerima upahnya.”

Selamat Pagi. Ingatlah satu hal ini “Tuhan menciptakan kita hanya untuk kesenangan-Nya”, karena itu lakukanlah demikian.

Keramahan Seperti Air, Memadamkan Dan Menyejukan

Gelora kobaran api yang membara, seketika redah oleh sejuknya aliran air.

Siapapun bisa dengan mudah menyulut api, tetapi siapakah yang olehnya dapat menaklukkan geram dan kemarahan? Hanya orang-orang yang mampu bertutur dengan ramah yang dapat melakukannya. Siapapun tahu, api tidak dapat dipadamkan dengan api.

Sahabat Alkitab, kadang yang membuat kemarahan menjadi semakin berlipat-lipat adalah karena ketidakmampuan kita untuk menahan ego. Jika sudah begitu muaranya adalah pertikaian, percideraan, bahkan pembunuhan. Kedua pihak akan hangus menjadi arang. Amsal berkata, “Dengan jawaban yang ramah, kemarahan menjadi reda; jawaban yang pedas membangkitkan amarah.” Belajarlah kepada Yesus yang sekalipun tidak berdosa, Ia dihina, diludahi, disesah, disalibkan, namun tetap dapat berkata, “Bapa, ampunilah mereka! Mereka tidak tahu apa yang mereka buat.” Jangan membalas jahat dengan jahat, karena jika kita melakukannya berarti kita sedang membangun lingkaran kejahatan.

Selamat Pagi. Jika ada tokoh yang dari-Nya kita patut belajar tentang keramahan, maka Dia adalah Yesus. Belajarlah pada-Nya, sebab Ia lemah lembut. Kiranya di Jumat yang Agung ini kita kembali merenungkan sengsara Yesus agar kita tahu bagaimana cara mensyukuri pengorbanan-Nya.

Bangsa Yang Adil Kepada Rakyatnya, Sedang Membesarkan Rakyatnya

Saat hukum dilaksanakan dengan seadil-adilnya, saat itulah Allah akan membesarkan suatu bangsa.

Lihatlah kepada Israel di zaman kepemimpinan Salomo, saat itu Israel mencapai masa keemasannya. Yang diminta Salomo adalah hikmat untuk dapat berlaku adil, ia berkata, “Sebab itu, TUHAN, berikanlah kiranya kepadaku kebijaksanaan yang kuperlukan untuk memerintah umat-Mu ini dengan adil dan untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Kalau tidak demikian, mana mungkin aku dapat memerintah umat-Mu yang besar ini?” Ya, berlaku adil adalah jalan menuju kebesaran dan kejayaan.

Sahabat Alkitab, pengamsal berkata, “Keadilan dan kebaikan mengangkat martabat bangsa, tapi dosa membuat bangsa menjadi hina.” Belajar kepada Salomo, ini tidak hanya berlaku dalam skala yang besar seperti suaut bangsa, tetapi juga pada skala yang kecil; diperusahaan, gereja, termasuk di dalam keluarga. Seorang pemimpin yang berlaku adil sedang membesarkan tempat di mana ia memimpin.

Selamat Pagi. Jika hari ini kita dipercayakan menjadi seorang pemimpin, maka berlakulah seadil-adilnya, dan lihatlah tangan Tuhan bekerja membesarkannya.

Bukan Hanya Jadi Pendengar, Tetapi Pelaku Firman Juga

Pada akhirnya yang dikehendaki Tuhan adalah kita melakukan segala kehendak-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

Menjadi pendengar firman yang setia itu baik, akan menjadi sempurna ketika kita melakukannya juga. Sebab jika hanya mendengar kita belum bisa disebut sebagai seorang murid. Murid akan melakukan apa yang diperintahkan oleh gurunya, dan rewards dari semuanya itu adalah ketentraman, keluarga yang dilindungi, pangkal kebahagiaan, dan suatu jalan untuk menghindari kematian kekal.

Sahabat Alkitab, Rasul Yakobus berkata, “Tunjukkanlah kepada saya bagaimana orang dapat mempunyai iman tanpa perbuatan dan saya akan menunjukkan dengan perbuatan bahwa saya mempunyai iman.” Jadi mula-mula kita mendengar lalu timbullah iman lalu berakhir pada perbuatan. Sebab kita tidak dapat berbuat tanpa mendengar, dan mendengar tanpa berbuat tidak berfaedah apa-apa.

Selamat Pagi. Sebaik-baiknya orang yang mendengarkan firman adalah lebih baik orang yang melakukannya juga.

Katakan Ya Apabila Ya, Dan Tidak Apabila Tidak

Sekalipun sulit dan terdesak, kejujuran tetap jauh lebih baik dari pada perkataan bohong.

Berani jujur kadang tidak mudah, apalagi jika taruhannya adalah karir, atau bahkan nyawa. Saat-saat seperti itu berbohong menjadi pilihan yang paling rasional untuk diambil. Sebab jika harus berkata jujur, mungkin saja kita akan kehilangan hal yang paling berharga.

Sahabat Alkitab, Pengamsal berkata sebaliknya, “Kalau seorang saksi berkata benar, ia menyelamatkan nyawa; kalau ia berbohong, ia mengkhianati sesamanya.” Dalam sebuah kesaksian yang dibutuhkan adalah fakta murni tanpa ada penambahan atau pengurangan sekecil apapun itu. Tuhan Yesus mempertegasnya, “Katakan saja ‘Ya’ atau ‘Tidak’ – lebih dari itu datangnya dari si Iblis.”

Selamat Pagi. Mari terus belajar untuk jujur, terutama dimulai terhadap diri sendiri. Jujur dalam berkata, dalam bertindak, dan jujur terhadap perasaan sendiri.