Berharap Dalam Gelap

Gelap, hari Sabat waktu itu begitu gelap dan kelam bagi kami, langkah kami terputus. Seolah kami berharap hari esok tidak akan pernah ada lagi. Kami sama sekali terputus dari dunia luar, bersembunyi dalam ruang-ruang gelap di sudut-sudut kota. Seorang yang selama ini telah memberi kami harapan dan kehidupan yang sama sekali baru telah direnggut paksa dari kami. Dia yang telah memberikan hidup bagi banyak orang yang miskin, lemah, dan yang tertindas, telah mati. Ia diperlakukan dengan sangat hina, mati di antara para penjahat, sekalipun semua orang tahu Ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.

Di antara semua orang yang bersedih, akulah yang paling berduka. Di antara semua wanita yang menangis, akulah yang paling terluka. Hatiku begitu tersayat melihat Dia yang lahir dari rahimku dan yang kubesarkan dalam asuhanku, mati dalam penderitaan salib yang begitu pedih. Ia dikhianati oleh sahabat-Nya, disangkali oleh kawan karib-Nya. Mereka semua meninggalkan-Nya, lari bersembunyi. Hanya Yohanes yang menemaniku, melihat hingga napas-Nya terhenti. Sabat itu tidak pernah saya lupakan seumur hidupku.

Dalam kesedihan yang begitu dalam, ingatanku dibawa ke masa tiga puluh tahun silam saat malaikat Tuhan datang menghampiriku dan berkata, “Jangan takut, Maria, sebab engkau berkenan di hati Allah. Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak, yang harus engkau beri nama Yesus. Ia akan menjadi agung dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan menjadikan Dia raja seperti Raja Daud, nenek moyang-Nya. Dan Ia akan memerintah sebagai raja atas keturunan Yakub selama-lamanya. Kerajaan-Nya tidak akan berakhir.” Aku juga teringat ketika serombongan gembala yang datang dari padang membawa satu berita bahwa Anak yang aku lahirkan itu adalah seorang Juruselamat, Kristus, Tuhan. Bahkan beberapa tahun setelah kelahiran-Nya, para majus datang dari negeri yag jauh hanya untuk mempersembahkan persembahan yang mahal-mahal dan sujud menyembah Yesus. Lalu inikah jawaban dari segala perkara yang kusimpan dalam hatiku sejak lama? Bahwa Ia yang dikatakan akan menjadi Raja yang Agung, yang disebut sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi hidup-Nya berakhir dengan sangat tragis?

Aku tenggelam dalam dukaku, begitu pun dengan mereka, para murid yang telah aku anggap sebagai anak-anakku sendiri, dan orang-orang yang selama ini mengikuti-Nya. Aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan; takut, gelisah, rasa bersalah, putus asa, frustrasi, kecewa, kesedihan yang begitu dalam, semua bercampur aduk dan membatin dalam kami. Petrus adalah yang paling larut dalam rasa bersalahnya karena tiga kali ia telah menyangkali Yesus. Sementara Yohanes adalah salah satu yang paling bersedih sebab dialah yang paling dikasihi oleh Yesus.

Dalam kegelapan dan hancur hati yang menyelimutiku, aku teringat Ia pernah berkata, Anak Manusia memang harus banyak menderita dan ditentang oleh pemimpin-pemimpin dan imam-imam kepala, serta guru-guru agama. Ia akan dibunuh, tetapi pada hari ketiga akan dibangkitkan kembali.. Kalimat yang berkali-kali Ia katakan tetapi yang tidak pernah kami harapkan dan bayangkan sungguh akan terjadi. Aku berharap meski tidak tahu apa yang aku harapkan. Aku menanti tapi itupun aku tak tahu. Harapanku diselimuti oleh pekatnya gelap. Aku menyimpan semua kegelisahan ini dalam hatiku, berharap dan menantikan saat waktunya tiba.      

 

Inilah Yesus Raja Orang Yahudi

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja Orang Yahudi.”

“Tulisan itu apakah bentuk penghormatan ataukah penghinaan?” Aku telah mengikutinya selama lebih dari tiga tahun. Hari itu sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Memang bukan untuk pertama kalinya sejak mengikuti Dia nyawaku terancam. Kemanapun aku pergi mengikut Dia bersama dengan sebelas murid lainnya, hatiku selalu merasa was-was. Banyak yang mengikuti kami, orang-orang yang ingin mendengarkan ajaran-Nya, yang simpati, sampai yang terpesona dengan kharisma-Nya. Tetapi diantara orang banyak itu ada juga orang-orang munafik yang ingin mencari celah supaya bisa menangkap, memenjarakan, bahkan membunuh-Nya. Merekalah yang membuatku was-was dan harus berjaga ekstra ketat, kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan, paling tidak aku bisa melindungi-Nya, karena aku memang sangat dekat dengan-Nya, dan akulah yang paling berani di antara semua murid.

Namun hari itu imanku benar-benar tergoncang, aku sangat takut. Ketakutan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Mentalku adalah yang paling kuat jika dibandingkan dengan murid-murid lainnya. Maklum, aku dibesarkan dan hidup ditengah badai dan gelombang. Itu sudah mejadi makananku hari-hari, hingga tidak ada lagi yang aku takutkan, bahkan kematian sekalipun. Karena itulah resiko dari pekerjaanku sebagai seorang nelayan.

Aku hanya bisa melihat-Nya dari kejauhan. Lututku bergetar, hatiku sangat sedih, belum lagi rasa malu yang masih kuat menyelimutiku. Pilu sekali melihat penderitaan guru sekaligus sahabat yang sangat saya kasihi. Apalagi saat mata-Nya dengan tatapan yang sangat tajam menatap ke arahku, tidak dapat aku mengangkat kepalaku lagi. Aku ingat tatapan itu. Tatapan mata itu sama ketika untuk pertama kalinya kami bertemu di tepi danau Galilea dan Dia berkata, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mana mungkin Ia masih berharap aku menjadi penjala manusia, aku yang telah mengkhianati dan menyangkalinya. Dosaku sudah terlalu besar, Tuhan.

Air mataku mengalir begitu deras, hatiku sakit melihat setiap luka menganga di tubuh-Nya. Ia tergantung di tiang salib seperti seorang penjahat, begitu hina, padahal tidak ada sedikitpun cela pada-Nya. Tidak pantas Ia berada di situ, “Akulah yang harusnya disalibkan.” Namun Ia menerima semuanya itu, hukuman yang harusnya ditimpakan kepadaku ditanggung-Nya. Ia tidak membuka mulut-Nya sama sekali, seperti anak domba yang dibawa ke tempat pembantaian atau seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya. Belum pernah aku melihat seorang manusia seperti Dia.

Tidak! Dia bukan manusia biasa. Ia pastilah seorang nabi sama seperti Musa dan Elia.

“Tidak! Ia jauh melebihi mereka semua.”

Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, aku tidak akan pernah menyangkalinya. Aku bahkan akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk melindungi-Nya. Tidak ku biarkan seorang pun menyentuh-Nya, atau sehelai rambut-Nya jatuh ke tanah.

Telah sekian banyak guru-guru yang mengajar di zamanku, namun tidak ada satu pun dari antara mereka yang membuatku tertarik untuk mengikutinya. Yesus berbeda dengan mereka, ketika Ia datang memanggilku, tidak dapat aku berkata tidak meresponi panggilan-Nya. Aku bahkan tidak sempat berpikir bagaimana nanti aku dapat memberi makan keluargaku jika aku tidak lagi menjala ikan. Anehnya bukan hanya aku saja, tetapi juga Andreas saudaraku, serta si kembar Yakobus dan Yohanes, anak Zebedeus, serta merta mengikuti Orang itu. Aneh rasanya, empat orang nelayan mengikuti anak seorang tukang kayu, untuk mengajar. Kami yang bahkan tidak pernah mengikuti pendidikan, apalagi tertarik untuk mendengarkan ajaran dari rabi-rabi Yahudi. Aku sangat yakin, Orang itu juga tidak terdidik.

“Aku haus….”  Ku dengar sayup-sayup suara-Nya, “Oh… tidak, Dia haus, Tuhan.. apa yang harus aku perbuat? Oh Tuhanku… Dia sangat menderita. Darah-Nya terus menetes, sementara luka-luka yang menganga itu terpanggang teriknya matahari”, “ Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong-Nya, begitu banyak tentara Romawi yang menjaga-Nya. Kalau aku nekad menerobos penjagaan itu, aku pasti mati.

“Berapa lama lagi Tuhan, Engkau membiarkan-Nya menderita? Bukankah Engkau yang mengutus-Nya? Mengapa Engkau tidak datang melepaskan-Nya? Engkau pernah berkata dari surga, “Inilah Anak yang Kukasihi”, tapi di manakah bukti kasih-Mu kepada-Nya saat ini?”

Saat itu aku marah kepada Allah, “tapi pantaskah seorang pendosa dan pengkhianat ini marah?” Aku baru menyadari saat itu, ternyata sejak dari jam dua belas siang langit menjadi gelap. “Apakah ini tandanya? Sungguhkah Ia ini Anak Allah?” Kira-kira jam tiga waktu itu, terjadi gempa bumi yang hebat. Aku bahkan terjatuh, hampir saja tertimpa reruntuhan. Pikirku, inilah tanda kedatangan Allah untuk menolong-Nya. Namun saat aku melihat ke arah-Nya, Ia tidak lagi bernyawa, “Yesus mati, guruku telah mati. Oh Tuhanku, Engkau terlambat menyelamatkan-Nya.”

Aku, Petrus, saksi hidup dari peristiwa itu. Saat itu aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Dia. Tiga tahun aku bersama-Nya, tapi tidak cukup aku mengenal-Nya. Namun hari ini, mataku telah terbuka, tahulah aku bahwa Yesus itu adalah Anak Allah Yang Maha Tinggi, Dia adalah Mesias yang telah dijanjikan Allah. Kematiaan-Nya bukanlah tanda kekalahan, tetapi tanda kemenangan-Nya atas dosa. Ia telah menanggung seluruh dosa dunia, dosa saya dan dosa Anda.

Ia bukanlah manusia biasa, Dia adalah Allah yang menjadi Manusia. Dia juga adalah Raja, namun bukan raja orang Yahudi. Tulisan di atas kayu salib itu bagiku sangat merendahkan-Nya, sebab Dia adalah Raja atas semesta. Dia Yesus.

Supaya Kamu Menjadi Bersih

Sebab itu Ia berdiri, membuka jubah-Nya, dan mengikat anduk pada pinggang-Nya. Sesudah itu Ia menuang air ke dalam sebuah baskom, lalu mulai membasuh kaki pengikut-pengikut-Nya dan mengeringkannya dengan anduk yang terikat di pinggang-Nya. (BIMK, Yohanes 13:4-5)

 

Sehari sebelum Hari Raya Paskah, Yesus mengumpulkan kami untuk mengadakan perjamuan makan. Ini adalah suatu kebiasaan yang terus guru pertahankan untuk mendekatkan kami semuanya. Dengan begitu kami juga bisa berbincang-bincang banyak dengan-Nya, bertukar pikiran, dan membahas banyak hal bersama dalam suasana yang lebih santai. Saya mengakui, Ia adalah guru yang sangat terbuka dan penuh dengan kebijaksanaan. Ia begitu dekat dengan kami, bahkan lebih dari saudara kandung sekalipun. Ia adalah sosok yang penuh kasih dan sangat tegas. Ketegasan-Nya tidak mengurangi sedikit pun kasih-Nya kepada kami dan orang-orang yang ada disekitar-Nya, begitu juga kasih-Nya tidak pernah menutupi ketegasan-Nya. Ketegasan dan pengajaran-Nya yang keras membuat banyak orang mundur dari pada-Nya, tetapi kasih, hikmat, kharisma, dan kebenaran yang diajarkan-Nya menarik semakin banyak orang untuk mengikuti-Nya.

Di Israel saat itu ada cukup banyak guru yang mengajar tentang agama, tapi Ia adalah seorang yang sangat berintegritas. Ia pribadi yang berbeda. Ia melakukan apa yang Ia ajarkan, dan mengajarkan apa yang Ia lakukan, yaitu apa yang telah Ia terima dari Bapa. Dalam pengajaran dan kehidupan-Nya tidak ada sedikitpun cela. Saya adalah saksi dari semuanya itu.

Setelah kami menyelesaikan makan malam, guru tiba-tiba berdiri di hadapan kami semua, Ia menanggalkan jubah yang dipakai-Nya, lalu mengikat anduk di pinggangnya. Kami semua sangat terkejut, dan hanya bisa saling memandang satu sama lain. Dalam pikiranku, Apa yang hendak dilakukan guru? Ah tidak mungkin, masakan Ia mau membasuh kaki kami? Apa yang guru hendak lakukan saat itu seperti seorang pelayan yang akan membasuh kaki tuannya, sesuatu yang sangat lazim waktu itu. Benar saja, Guru memang mau membasuh kaki kami. Aku adalah orang pertama yang Ia hampiri, sebab akulah yang duduk paling dekat dengan-Nya. Spontan saja aku menarik kakiku, karena tidak mungkin aku membiarkan Guru melakukannya, seharusnya akulah yang melakukan itu pada guru sebagai tanda hormat dan baktiku kepada-Nya. Sebab Dia adalah tuan dan aku pelayan-Nya. Aku menolaknya, tetapi kesungguhan hati-Nya untuk melakukan itu dan cara Ia menatapku membuatku terpaksa membiarkan-Nya membasuh kakiku sampai mengeringkannya. Reaksi murid-murid yang lain juga sama sepertiku, hingga Guru sampai pada kaki Petrus. Tuhan, masakan Tuhan yang membasuh kakiku? kata Petrus. Apa yang Petrus katakan sejujurnya mewakili suara hati kami semua. Ya, dia adalah murid yang paling spontan dalam berbicara, maklum dia adalah seorang dengan karakter sanguin yang memang kerab meledak-ledak dalam merespon sesuatu. Guru menatap kami lalu berkata, Sekarang engkau tidak mengerti apa yang Kulakukan ini, tetapi nanti engkau akan mengerti. Kalau Aku tidak membasuhmu, engkau tidak akan mendapat bagian dalam Aku.

Apakah maksud dari perkataan dan tindakan-Nya itu? Dan Siapakah kami ini sehingga seorang guru seperti-Nya merendahkan diri untuk mencuci kaki kami? Aku dan Yakobus adalah yang suka bermulut besar, Andreas yang pemalu, dan Petrus yang kurang ajar. Ia membasuh Lewi mantan kaki tangan Roma, Natanael dan Tomas yang suka bersikap sinis dan ragu-ragu, dan murid-murid lain yang juga penuh dengan kekurangan.

Tetapi hari ini tahulah aku, sesudah kesusahan besar yang Ia alami, dan setelah kemenangan-Nya atas maut. Bahwa Ia membasuh kaki kami agar kami semua menjadi bersih. Ini adalah lambang atas tindakan agung yang dilakukan-Nya sebagai seorang pelayan, yakni mati di kayu salib untuk dosa-dosa dunia.  Sebab memang kami adalah orang-orang berdosa, dikandung dan diperanakkan dalam dosa dan kehidupan kami pun tidak masuk dalam hitungan orang-orang benar. Kami orang-orang yang patut dimurkai oleh Allah. Namun anugerah-Nya, melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib, kami menjadi bersih.

Tak Kenal Maka Tak Sayang

“Saya sudah lama mendengar tentang LAI, namun terus terang saya belum mengenal terlalu dalam mengenai LAI.” Demikian pernyataan Pdt. Jeffry Siauw, Gembala Sidang Gereja Kristus Yesus (GKY) Jemaat Greenville, Jakarta. Selama ini beliau tahu LAI sebagai satu-satunya lembaga yang menerbitkan Alkitab dan mendistribusikannya. Namun tidak lebih dari itu. GKY Greenville jaraknya tidak sampai 15 km dari kantor pusat Lembaga Alkitab Indonesia, di Salemba Jakarta. Jarak sejauh itu hanya setengah jam perjalanan sepeda motor. Ternyata di Jakarta, di jantung pelayanan LAI sendiri masih banyak yang belum mengenal LAI dengan baik. Padahal ungkapan lama mengatakan tak kenal maka tak sayang.

Karenanya tepat langkah cepat yang dilakukan pengurus LAI di bulan-bulan awal periode pelayanannya ini. Pengurus mencoba hadir dan pro aktif menyambangi gereja-gereja, lembaga, dan mitra-mitra pelayanan LAI. Seperti juga hari Selasa 27 Maret 2018 yang lalu, LAI bertemu dengan Gembala Sidang GKY Greenville. Dari LAI hadir Pdt. Dr. Aristarchus Sukarto, Ketua Bidang Kemitraan LAI; Andreas Santoso, Ketua Bidang Digital LAI, A. Moenir Ronny, Bendahara Umum LAI; dan Erna Yulianawati, Kepala Departemen Komunikasi dan Pengembangan Mitra LAI.

Mengawali perbincangan pengurus menjelaskan visi, misi dan berbagai program pelayanan LAI terutama dalam empat bidang utama kegiatan LAI: penerjemahan, penerbitan, penyebaran dan kemitraan penggalangan dukungan.

Lebih menekankan lagi, Pdt. Aristarchus menyatakan, kunjungan-kunjungan pengurus ke mitra-mitra pelayanan LAI selain memperkenalkan diri, punya dua tujuan penting. Beliau menyatakan, kunjungan ini dimaksudkan agar kesatuan gereja-gereja yang selama ini menggunakan satu Alkitab bersama terbitan LAI tetap terjaga. Yang berikutnya, gereja sebagai mitra pelayanan LAI diajak untuk turut mendukung pelayanan LAI. Dukungan dapat dinyatakan dalam empat langkah: doa, sumber daya, turut berperan serta mengkomunikasikan pelayanan LAI di tengah jemaat dan mitra lain, dan terakhir mendukung pelayanan LAI lewat dana.

Pdt. Jeffry begitu antusias saat LAI menjelaskan berbagai program kegiatannya, yang ternyata jauh lebih luas daripada yang beliau bayangkan selama ini. Di GKY Greenville setiap bulan April ditetapkan sebagai bulan misi. Beliau akan mencoba mendorong jemaat untuk memberi kesempatan LAI berbagai pelayanan dalam bulan misi pada bulan April mendatang. Diakuinya, antusiasme jemaat GKY Greenville untuk mendukung dan terlibat dalam berbagai kegiatan misi cukup tinggi, namun seringkali kurang terarah karena kurang mendapatkan dukungan informasi yang lengkap.

Sebagai catatan, GKY Greenville boleh dikatakan merupakan jemaat yang cukup besar di Jakarta. Jemaatnya lebih dari 3000 orang. Memiliki 3 orang pendeta dan 9 calon pendeta (full timer). Rata-rata usia warga jemaatnya di bawah 50 tahun, dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Sebagai gereja moderen, antusiasme jemaat dalam terlibat persekutuan dan kegiatan pelayanan juga cukup besar. Mereka memiliki program rutin yang sudah berlangsung bertahun-tahun, yaitu: Gemar Membaca Alkitab (GEMA). Sebuah program rutin membaca Kitab Suci yang dipandu bahan dari gereja, sehingga dalam tiga tahun diharapkan tiap warga selesai membaca seluruh bagian Kitab Suci. Bahkan bahan panduan membaca Kitab Suci tersebut sekarang sudah tersedia pula dalam aplikasi digital Android dan Apple.

Lebih lanjut, Pdt. Jeffry juga menyarankan agar LAI bertemu dengan jajaran pengurus sinode GKY untuk mewujudkan kemitraan yang lebih luas, agar nantinya sinode GKY dapat mendorong gereja-gereja anggotanya untuk bermitra dan mendukung pelayanan LAI.

Pertemuan dengan mitra-mitra baru senantiasa menumbuhkan harapan dan optimisime. Seperti hal nya gereja-gereja dan umat Tuhan mengharapkan layanan yang prima dari LAI, demikian juga LAI masih membutuhkan banyak dukungan dari berbagai pihak gereja-gereja untuk melaksanakan panggilan misinya mewujudkan “Alkitab untuk Semua”. (keb)

Pelayanan LAI Di Aksi Paskah BNI 2018

Penuh sukacita dan haru. Kalimat singkat itu sedikit menggambarkan dari campur aduknya suasana hati kami saat melayani anak-anak Panti Asuhan Bersinar bersama dengan Panitia Paskah BNI Pusat dalam acara “BNI Berbagi”.

Bisa berbagi dengan memberikan bingkisan berupa Alkitab, Buku Kabar Baik Bergambar (KBB), Bacaan Anak dan Remaja, dan bingkisan lainnya, cukup membuat kami puas tatkala melihat sukacita mereka. Tidak ketinggalan penampilan drama dengan tema Yesus Sahabatku serta kuis seputar Alkitab dan BNI menjadi isi acara yang kami suguhkan bagi mereka. Ada juga kesaksian pribadi dari Ibu Grace Pong Samma selaku Pimpinan Unit Service Quality BNI Pusat, menjadi pendorong bagi mereka untuk terus maju menghadapi tantangan hidup.

Yesus yang mengasihi anak-anak kiranya menyempurnakan pelayanan LAI dan Panitia Paskah BNI Pusat pada Minggu 25 Maret 2018, juga memberkati kemitraan dan pelayanan kami selanjutnya. Amin.[]

Menyambut Datangnya Raja Damai

mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yohanes 12: 13)

Mari kita coba membayangkan seandainya kita berada di sana waktu Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai, apa yang sangat mungkin kita lakukan saat itu? Dan apa yang melatarbelakangi kita melakukannya?

Ini jelas bukan pertama kalinya, Yesus datang ke kota Yerusalem. Sebagai seorang Yahudi, Yerusalem telah menjadi tempat yang sangat dekat dengan diri-Nya. Di sanalah Yesus beribadah kepada Allah dan di sana jugalah Dia mengajar. Tetapi kedatangan-Nya kali ini menjadi berbeda dan luar biasa ramainya karena orang-orang dengan sangat antusias menyambut-Nya. Ia datang dengan menunggangi seekor keledai betina dan orang banyak itu menyambut-Nya dengan elu-elukan. Mereka berkata, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Tidak hanya itu, orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon (palem) dan menyebarkannya di jalan (Mat. 21: 8 bnd. Yoh. 12: 13). Apa yang motivasi mereka?

Dalam elu-eluan orang banyak itu, keempat Injil memberikan laporan yang berbeda-beda tentang kalimat yang mereka ucapkan:

“Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,

hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat. 21:9)

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mark. 11:10)

“Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan,

damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38)

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh. 12:13)

 

Meskipun begitu tetapi pada intinya ada satu pesan yang sama, yaitu bahwa orang banyak itu berharap bahwa Yesus datang sebagai Mesias yang akan membebaskan Yerusalem dari penjajah Roma. Mereka berharap bahwa Yesus akan memimpin mereka dalam pemberontakan untuk melawan Roma dan mendirikan Kerajaan Israel yang baru (harapan yang besar itu tersirat dalam tindakan mereka yang menghamparkan pakaian mereka di tanah tempat yang akan dilalui oleh Yesus). Itulah sebabnya mereka menyambut Yesus seperti menyambut seorang raja yang datang dengan membawa kemenangan (dalam tradisi Yahudi, daun palem digunakan sebagai simbol kemenangan).

 

Orang banyak itu, termasuk di dalamnya murid-murid Yesus tidak mengerti akan maksud kedatangan Yesus ke kota Yerusalem, sekalipun telah berulang kali Yesus mengisyaratkan akan tujuan dan kematian-Nya (Mat. 7: 53-59; 12: 7-8; Luk. 9: 22; 43b-44; 13: 32-33; 18: 31-33). Kedatangan Yesus dengan menunggang keledai betina juga menjadi satu tanda bahwa Ia datang bukan sebagai pemimpin perang atau pemberontakan, tetapi sebagai Raja yang membawa damai, sebab orang tidak memakai keledai untuk berperang.

 

Sebagian gereja memperingati minggu sebelum paskah sebagai Minggu Palma untuk mengenang peristiwa di hari itu. Jika saat itu orang-orang Israel keliru dalam dalam motivasinya menyambut kedatangan Yesus, apakah hari ini ketika kita memperingatinya sudahkah dengan maksud yang benar?

 

Yesus masuk Yerusalem untuk menggenapi rencana Allah bagi-Nya di atas kayu salib. Yaitu menghadapi penderitaan yang berat dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan dan pendamaian antara Allah dan manusia.  []

Di Tengah Keterbatasan Mereka Belajar Alkitab

 

Pagi ini, Jumat 23 Maret 2018, Museum Alkitab di Gedung Pusat Alkitab , Salemba Raya 12, Jakarta mendapat kunjungan dari murid-murid berkebutuhan khusus dari Hope School SNC Jakarta. Ada sekitar 20 anak dan 20 pendamping dan gurunya yang datang untuk belajar tentang sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia dan melihat koleksi benda-benda Alkitab yang menjadi koleksi Museum Alkitab.

Hope Special Needs Center adalah sebuah pusat pelayanan pendidikan, terapi dan bimbingan individual yang komprehensif kepada anak berkebutuhan khusus dan bermasalah, agar dapat mengembangkan potensi dan sanggup membantu diri sendiri. Kunjungan mereka untuk mengikuti Paket Wisata Alkitab (PWA) merupakan proses belajar agar tidak saja mengembang kemandirian mereka tetapi juga kehidupan rohani mereka juga dibangun.

Hal ini terlihat dengan respon mereka saat petugas museum memberikan penjelasan tentang koleksi-koleksi museum Alkitab. Mereka tetap antusias mendengar penjelasan Costa dan Albert. Sesekali mereka merespon secara spontan apa yang diinformasikan oleh petugas museum. Semoga kunjungan ini akan memberikan informasi tentang sejarah penerjemahan dan benda-benda museum sangat bermanfaat bagi para murid, para pendamping, orang tua dan guru.Di tengah keterbatasan, mereka sangat antusias mendengar dan belajar benda-benda Alkitab. Alkitab tidak saja dipelajari oleh mereka yang berlatar belakang biblika tetapi, juga oleh mereka yang penuh keterbatasan. Inilah wujudnyata Alkitab Untuk Semua. []

Ibrani, Aram, dan Yunani

Beberapa waktu lalu saya mengikuti Pemahaman Alkitab (PA) berbahasa Inggris khusus kaum Bapak di sebuah gereja di Jakarta Selatan. Narasumbernya orang Amerika dan pesertanya kebanyakan orang Indonesia yang beristerikan perempuan “bule”. Metode yang digunakan ada presentasi dari narasumber dan ada diskusi kelompok. Masing-masing peserta diberi kesempatan mengekspresikan pendapatnya atas topik yang sedang dibahas. Saat saya mengikuti PA tersebut topik yang dibahas adalah Kitab Yesaya yang diadakan 3 jam setiap senin malam dengan durasi selama satu semester (6 bulan). Di beberapa kali diskusi ada beberapa peserta yang “mengeluhkan” hasil terjemahan LAI berbasis membandingkannya dengan terjemahan dalam bahasa Inggris (entah versi yang mana). Mereka selalu mengacu Alkitab berbahasa Inggris namun juga melirik Alkitab terbitan LAI. Karena bagaimanapun bahasa Ibu mereka bahasa Indonesia. Saya sempat menjelaskan bahwa LAI menerjemahkan Alkitab sama sekali bukan dari bahasa Inggris, tapi setia pada teks asli dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani.

Para penerjemah LAI terdiri atas tim ahli senior dengan pendidikan doktoral yang berkaitan dengan teologi dan ketiga bahasa di atas. Dalam pengerjaan penerjemahan selalu melibatkan para mitra yang juga sekumpulan ahli bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah di Nusantara serta selalu melibatkan sebanyak mungkin gereja-gereja di Indonesia. LAI sejak kelahirannya di tahun 1954 tergabung dalam persekutuan United Bible Societies (UBS) yang berkantor pusat di London dan Geneva. Sekarang tidak kurang dari 146 Lembaga Penerjemah di seluruh dunia tergabung dalam UBS. Keanggotaan LAI di dalam UBS memungkinkan adanya standar penerjemahan yang diakui bersama oleh mayoritas lembaga-lembaga penerjemahan Alkitab di planet bumi ini. Menurut Pdt. Anwar Tjen, Ph.D. Kepala Departemen Penerjemahan LAI yang selalu meng up date metode dan ilmu penerjemahan Alkitab, memang ada beberapa kata dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani yang bisa diterjemahkan berbeda oleh penerjemah yang berlatar belakang bahasa Ibu yang berbeda. Sedikit keperbedaan itu tidak menisbikan fakta bahwa mayoritas hasil penerjemahan Alkitab di seluruh dunia bermakna sama meski dalam bahasa berbeda. Intinya, tidak perlu dibesar-besarkan bila ada perbedaan karena memang fakta yang sama bisa diekspresikan berbeda dalam bahasa yang berbeda. Disinilah pentingnya belajar memahami Alkitab dengan mendengar para ahli bahasa asli Alkitab, bukan hanya bahasa Inggris.

LAI selalu terbuka pada setiap diskusi soal penerjemahan agar semua menjadi terang benderang. []

Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Walaupun Tuli & Bisu Bukan Halangan Untuk Memuji Tuhan

Dalam rangka pertukaran Paduan Suara gereja-gereja pendukung Program Satu Dalam Kasih (SDK) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam ibadah minggu 18 Maret 2018  di GKI Layur menerima persembahan pujian dari Vokal Grup  Komisi Tunarungu GKI Pinangsia.

Kelompok Vokal grup ini luar biasa, seluruh penyanyi adalah tidak dapat mendengar. Namun dengan segala keterbatasannya mereka tetap memuji dan memuliakan Tuhan Semesta Alam. Dengan segala keterbatasan suaranya mereka memuji dengan bahasa isyarat. Tak mampu berbicara dan mendengar tak jadi penghalang dalam memuji Tuhan. Justru inilah kelebihan mereka.

Luar biasa kiranya program SDK LAI terus dipakai Tuhan untuk menunjukkan karya Tuhan. Kiranya ini menginspirasi dan menjadi berkat.[]

Layanan “Extraordinary” Tuntutan Zaman Now

 

Jumat 16 Maret 2018 pukul 21.54 WIB seusai mengikuti kebaktian POUK di kompleks perumahan saya ada empat misscalls di hp saya. Keempatnya meminta saya untuk memastikan berapapun Alkitab pesanan khusus Panitia Sidang Sinode GMIM 2018 yang sudah siap dapat segera dibawa ke Bandara Soekarno Hatta (Soetta) Cengkareng. Ya segera!! Karena ada bantuan fasilitas Cargo Lion Air yang siap membawa Alkitab-Alkitab tersebut ke Manado pada 17 Maret 2013 pukul 03.00 WIB dinihari. Saya tidak sempat lagi bersosialisasi dengan sahabat-sahabat sepersekutuan seusai kebaktian, tapi langsung kontak semua pihak di LAI yang memungkinkan Alkitab pesanan khusus tersebut dapat dikirim segera. Bila mengikuti dokumen kesepakatan antara Panitia Sidang Sinode GMIM dan LAI, sebenarnya baru tanggal 20 Maret 2018 Alkitab pesanan khusus tersebut wajib dikirim.

Karena permintaan yang begitu mendesak dan penting agar pengiriman Alkitab-alkitab ini dilakukan segera, dan demi semangat “Alkitab Untuk Semua”, maka segala upaya harus saya lakukan untuk memenuhi tenggat waktu Cargo Lion Air di Bandara Soetta. Saya harus mengorbankan waktu istirahat beberapa teman di LAI. Saya berdiskusi dengan Kepala Departemen Penyebaran LAI Pak Saefudin untuk memastikan barang bisa keluar dan terjamin aman sampai ke Bandara Soetta. Ternyata menyelesaikan pekerjaan mendesak dan penting tidaklah sederhana. Kepala Departemen yang bertanggungjawab atas gudang sedang cuti keluar kota. Mengontak karyawan yang ditunjuk mewakili sang Kepala Departemen malam-malam juga tidak mudah. Maklumlah sudah larut malam dan dalam suasana akhir pekan. Terpaksa saya tulis sms ke beberapa nomor telepon agar sang penanggung jawab gudang telepon saya. Setengah jam kemudian Penanggungjawab gudang LAI di Nanggewer Bogor Mas Kriswanto menelepon saya dengan suara yang tampak baru bangun tidur. Saya minta maaf kepadanya karena harus direpotkan untuk mengeluarkan Alkitab pesanan khusus Panitia Sidang Sinode GMIM dan segera dikirim ke Bandara Soetta. Puji Tuhan Mas Kris bilang: “Siap pak, saya segera ke Nanggewer!” Secara paralel Pak Saefudin mengontak bagian Ekspedisi yaitu Mas Agus dan Mas Arif untuk menyiapkan kendaraan plus drivernya. Singkat cerita pada dini hari pukul 00.56 WIB Sabtu 17 Maret 2018 sebanyak 1.750 Alkitab Pesanan Khusus Panitia Sidang Sinode GMIM 2018 berhasil dibawa menuju Bandara Soetta. Mas Arpan dan Mas Medi yang mengendarai mobil menuju bandara.

Pagi ini, sambil mengikuti ibadah peneguhan dan pemberkatan nikah Pendeta Gereja saya, saya kontak satu persatu semua teman2 yang terlibat dalam pekerjaan yang extraordinary ini. Secara khusus saya sampaikan banyak terima kasih atas semua kerja keras dan dedikasi yang diberikan demi melayani gereja-gereja di Indonesia dan demi “Alkitab Untuk Semua”. Layanan extraordinary adalah tuntutan “zaman now” yang iramanya serba cepat namun tetap dituntut harus cermat. Melayani adalah nilai kerja yang pertama di LAI yang disingkat MITRA (Melayani, Inovasi, Tepercaya dan kerjasamA). Layanan extraordinary adalah contoh konkret penerapan nilai kerja pertama di atas.

Salam Alkitab Untuk Semua

Sigit Triyono (Sekum LAI)