Cepat, Jika Tidak Ingin Tertinggal

Pelatihan Pendeta Berkesinambungan GKMI, Semarang, 18-19 April 2018.

Pengejawantahan Nota Kesepakatan Kerjasama Kemitraan antara Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan Sinode Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) tidak membutuhkan waktu lama untuk diimplementasikan. Hanya dalam hitungan jam, LAI bersama Sinode GKMI langsung mewujudkannya dalam bentuk pelatihan bagi para pendetanya.

Lewat pelatihan yang bertajuk “Appreciative Inquiry” dan “ST Rocket Model Strategic Management” para pendeta GKMI langsung mendapatkan manfaatnya. Adalah Dr. (Cand) Sigit Triyono – Sekretaris Umum LAI yang bertindak sebagai narasumber dalam Pelatihan Pendeta Berkesinambungan GKMI yang diikuti 32 Pendeta di Semarang 18-19 April 2018. Forum ini adalah salah satu perwujudan kemitraan LAI – GKMI.

Adapun metode yang digunakan dalam forum pelatihan ini bukan bersifat “top-down” tapi lebih bersifat “adult learning edutainment” yang sangat mengutamakan partisipatif para pesertanya. Hal ini bisa terlihat dari peran serta seluruh peserta, dimana rata-rata peserta merasakan manfaat untuk selalu berpikir positif, “ vision driven”dan lebih strategis dalam mengelola jemaat.

Salam Alkitab Untuk Semua. []

Menyebarkan Kabar Baik Di Tengah Anak Panti Asuhan

Ratna Harefa – Kawil LAI Medan-(kanan) tengah menyampaikan Firman Tuhan dalam Paskah 2018 PemKot Medan

Anggapan jika selama ini kerjasama kemitraan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan pemerintah selalu identik dengan program kerja Kantor Perwakilan LAI Jayapura berhasil dipatahkan oleh Kantor Perwakilan LAI Medan yang baru saja menggelar Paskah 2018 bersama Pemerintahan Kotamadya Medan.

Dalam rangka kegiatan Paskah tersebut Kantor Perwakilan LAI Medan bersama para mitra pendukungnnya diberikan kesempatan untuk menjadi semacam event organizer dari rangkaian kegiatan Paskah PemKot Medan, dimana yang bertindak sebagai Panitia Paskah adalah PemKot Medan dan Yayasan Surya Kebenaran Indonesia. Adalah Ratna Harefa, Kawil LAI Medan yang bertugas sebagai Pelayan Firman dalam ibadah aksi sosial Paskah tersebut,  Kawil Medan juga memotivasi para anak-anak Panti Asuhan supaya semakin mencintai Alkitab, yang adalah Firman Tuhan. “Di sanalah sebenarnya tersimpan sumber kekuatan, sumber inspirasi, sumber penghiburan, sumber pertolongan jika kita setia dan teruus berpegang kepada janji Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab,” pesan Kawil LAI Medan kepada anak-anak panti.

Selain mewartakan Kabar Baik, Kantor Perwakilan LAI Medan juga memanfaatkan momen Paskah ini untuk menayangkan video perjalanan pembagian Alkitab ke pelosok nusantara. Harapannya bahwa Alkitab yang sudah mereka terima dan miliki janganlah disia-siakan, karena masih banyak umat Tuhan di pelosok tanah air yang belum memiliki Alkitab.

Sebelum mengakhiri seluruh acara tersebut, Tim LAI Medan mengajak seluruh anak-anak Panti Asuhan dan selurh peserta yang hadir untuk terlibat dalam acara permainan. Anak-anak, pengasuh, dan panitia terihat membaur dan menikmati permainan yang disuguhkan oleh Tim LAI Medan. Ada tawa, ada sukacita, ada kebahagian yang terpancar dari setiap wajah anak-anak Panti Asuhan, bahwasannya mereka tidak sendiri, mereka selalu ada di hati.

Untuk itulah setiap tahunnya LAI, melalui Program Penyebaran Paket Buku Rohani Untuk Anak-anak Di Pelosok (Panti Asuhan) selalu mendapat perhatian LAI, sehingga LAI selalu memasukkan program itu ke dalam Buku Pewartaan Kabar Baik Di Indonesia (Buku Program). Tahun ini lewat momen Paskah, LAI lewat Kantor Perwakilan Medan bersinergi dengan PemKot Medan dan Yayasan Surya Kebenaran Indonesia untuk menyebarkan Kabar Baik bagi Anak-anak Panti Asuhan. Semoga kerjasama ini terus berlanjut, sehingga semangat Alkitab Untuk Semua juga bisa berkumandang di seantero Sumatera. Salam Alkitab Untuk Semua. []

Bersinergi Dengan Kerjasama Kemitraan

Penandatangan MOU antara LAI dengan Sinode GKMI

Sekali dayung, dua , tiga pulau terlampaui, kata pepatah itu tepat untuk menggambarkan aktivitas Sekretaris Umum LAI di Jawa Tengah sepanjang hari pada rabu, 18 April 2018. Di mana di tanggal tersebut pada pukul 13.00  telah ditandatangani Nota Kesepakatan – MOU antara Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang wakili oleh Sigit Triyono, selaku  Sekum LAI, dengan Ketua Sinode Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Pdt. Paulus Sugeng di Kantor Sinode GKMI, Semarang.

Adapun butir kesepakatan kerjasama kemitraan tersebut meliputi bidang-bidang penerjemahan, penerbitan, penyebaran, dan penggalangan dukungan. Dalam kesempatan tersebut LAI memberikan terbitan terbarunya Alkitab Hidup Sejahtera Berkeadilan yang diserahkan langsung oleh Bp. Sigit Triyono dan diterima langsung oleh Pdt. Paulus Sugeng. Buah tanda mata tersebut biarlah menjadi bentuk lain dari  perwujudan dukungan GKMI untuk mendukung gerakan Alkitab Untuk Semua, khususnya dalam menyebarkan Alkitab ke seluruh pelosok nusantara.

Selepas penandatangan tersebut Tim LAI yang terdiri dari Sekum LAI, Saefudin, Kadep Penyebaran & Pemasaran LAI, dan staf promosi melanjutkan perjalanan dari Semarang ke Salatiga untuk melakukan pertemuan dan penandatanganan Nota Kesepakatan Kerjasama Kemitraan dengan pimpinan Sinode Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) di Kantor Pusat Sinode GKJTU.

Sama seperti penandatangan MOU sebelumnya dengan GKMI,  pada penandatangan tersebut Pengurus LAI diwakili oleh Sigit Triyono, Sekretaris Umum LAI, sedangkan dari Sinode GKJTU langsung diwakili oleh Ketua Sinode GKJTU, Pdt. Heru Purwanta. Penandatangan Nota Kesepakatan tersebut dilakukan sekitar pukul 19.30 WIB.

Sebenarnya kerjasama LAI dengan GKJTU sudah berjalan cukup lama, khususnya di bidang penerjemahan Alkitab. Saat ini LAI dengan gereja-gereja berbahasa Jawa sedang melakukan proyek revisi Kitab Suci bahasa Jawa. Salah satu sinode gereja yang terlibat adalah GKJTU, bahkan Pdt. Daniel Iswanto (GKJTU) bertindak selaku ketua Tim Perevisi Kitab Suci bahasa Jawa. Selain itu kerjasama dalam bidang-bidang lainnya dapat terus diperbaharui, sehingga MOU bukan jadi sekadar macan kertas tetapi menjadi berkat bagi kehidupan bergereja dan berjemaat.

Proses penandatangan kedua MOU antara LAI dengan Sinode gereja tersebut  akan diikuti dengan MOU-MOU berikutnya, baik dengan Sinode Gereja/Keuskupan maupun dengan Yayasan/Lembaga/Pemerintah, karena sejatinya jika ingin Firman Tuhan hadir untuk setiap orang, maka kehadiran LAI harus bisa dirasakan oleh setiap insan. Untuk itu lewat gerakan Alkitab Untuk Semua sebenarnya LAI ingin menyapa dan menjalin kemitraan yang saling bersinergi dengan semua pihak, termasuk Sinode Gereja.

Salam Alkitab Untuk Semua. []

Data Riil

 

Berapa jumlah orang Kristen di Indonesia? Berapa laki-laki, berapa perempuan? Bagaimana tingkat pendidikannya? Tinggal dimana saja mereka? Bagaimana mereka bisa mengenal Tuhan? Berapa frekuensi membaca Alkitab?

Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan lain yang sering diajukan untuk berbagai macam tujuan, baik untuk pelayanan maupun hal lain.

Sudah lama kerinduan tentang data riil orang Kristen di Indonesia dan belum juga terobati.

Dalam dua bulan terakhir saya dipertemukan dengan hamba Tuhan yang memiliki panggilan dan kompetensi di bidang riset. Mereka sudah melakukan riset yang hasilnya dapat digunakan untuk membuat keputusan yang lebih bijaksana dalam melakukan pelayanan terhadap umat Kristen di Indonesia.

Gayung bersambut. Kemarin pagi saya bersama hamba Tuhan tersebut satu meja berdiskusi dengan Dirjen Bimas Kristen Depag di kantor Pak Dirjen. Hasil diskusi disepakati agar saya menjadi host untuk melakukan FGD yg diharapkan mampu mengidentifikasi kebutuhan data2 untuk mendukung layanan lembaga2 keumatan Kristen.

Jadilah saya bertambah PR. Tapi saya semangat dan sukacita. Karena hasil FGD pasti akan sangat berguna untuk mewujudkan Alkitab Untuk Semua.

Bagi semua kolega pengurus lembaga keumatan Kristen. Mohon ditunggu undangan FGD untuk kita jalankan bersama.

Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Bersatu Melalui Lagu

Awal Maret 2018 lalu LAI melaunching secara internal Trio Vocal Group “ALUS” yang anggotanya adalah tiga gadis cantik karyawan LAI: Evi, Caroline dan Marlin dengan organis Yosaba. “ALUS” adalah singkatan dari “Alkitab Untuk Semua”. Tujuan pembentukan kelompok vokal ini adalah untuk mengisi acara-acara internal LAI maupun acara para mitra LAI agar semakin mempererat hubungan persaudaraan dan “tali kasih”. Tentu tujuan paling utama adalah memuliakan nama Tuhan melalui lagu-lagu pujian di berbagai event.

Melalui nyanyian manusia dapat mengekspresikan perasaan dan spiritualitasnya secara mendalam lebih dari kata-kata maupun tulisan. Sukacita, sedih, semangat, bangkit, bersyukur, menyesal, memuja, memuji, memohon, dan lain sebagainya, yang merupakan ungkapan rasa serta spiritualitas seseorang, dapat tersalur melalui nyanyian.

Mulai awal April 2018, seusai doa pagi, karyawan LAI di Gedung Pusat Alkitab Jl Salemba No 12 Jakarta berlatih menyanyikan lagu pemersatu “Alkitab Untuk Semua”. Lagu ini diciptakan pada September 2016 oleh Mitra LAI Medan yaitu St. Drs. S. Maibang, MM. dengan judul “LAI”. Lagu ini khusus dipersembahkan untuk LAI dan sudah pernah dinyanyikan oleh Paduan Suara Mitra LAI di Wilayah Sumatera Utara pada acara perayaan ulang tahun LAI ke 63 di wilayah perwakilan LAI Medan Februari 2017.

Karena sudah dipersembahkan untuk LAI, maka saya minta semua karyawan LAI memanfaatkan lagu ini untuk membangkitkan semangat dan menyatukan langkah bersama. Sesudah berlatih selama dua minggu, sekarang semua sudah merasakan ada aura semangat dan kebersatuan sebelum memulai pekerjaan setiap pagi. Apalagi seusai menyanyi disambung dengan meneriakan yel-yel: “Apa kabar? Selalu Antuasias!!” (3x) “LAI? Alkitab Untuk Semua!!”

Syair lagu pemersatu di atas adalah sebagai berikut:
“Lembaga Alkitab Indonesia
Menyebarkan Alkitab tuk semua
Umat Kristiani ke seluruh penjuru Indonesia sampai ke pedesaan.
Agar dapat bertemu, berinteraksi dengan Tuhan
Serta mengalami hidup baru di dalam Kristus Penebus penolongnya
Itulah visinya doakan dukunglah
LAI MAJU TERUS!”

Irama lagu di atas dinyanyikan dengan nada D = do dan birama 4/4 yang mampu mengskrepresikan keteraturan dan semangat karena memiliki tempo cepat seperti orang berbaris. Dengan sedikit modifikasi dan atas persetujuan penciptanya, bagian akhir lagu ini dibuat lebih menghentak bertenaga (dinamik marcato).

Dengan realitas kebutuhan setiap organisasi (tak terkecuali LAI) agar selalu memiliki semangat, kebersatuan dan kesehatian dalam melangkah, maka menyanyikan secara bersama lagu di atas sungguh mampu membangkitkan antusiasme, sukacita, dan kekompakan.
Minggu-minggu ini LAI sungguh merasakan betapa baiknya Tuhan yang telah mengirimkan banyak sekali bala bantuan melalui orang-orang yang peduli dan mengasihi LAI. Kami semua sangat bersyukur dan semakin optimis, serta lebih bergairah dalam mewujudkan *“Alkitab Untuk Semua.”*

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Satpam dan Anggota DPRD

 

Ada kejadian lucu kemarin pagi. Ini soal Satpam LAI yang berusaha memberikan “layanan ekstra” kepada tamu LAI. Sahabat lama saya sejak kuliah tahun 1980an di Yogyakarta, yang saat ini menjadi anggota DPRD Maluku, datang berkunjung ke kantor LAI. Dia memiliki hati untuk membantu umat di daerah Maluku, khususnya di Pulau KeiBesar dan Kei Kecil.

“Saya tadi diantar Satpam Pak Anies sampai lantai 5. Saya sudah bilang kalau saya sudah janji dengan Sekum LAI, tapi dia tetap kawal saya,” katanya. “Meski kami sama-sama orang Maluku, tapi dia tetap kurang percaya kalau saya kawan lamanya Sekum LAI,” sambungnya. Dia menceriterakan sambil tertawa-tawa karena perlakuan Satpam yang sudah lama dia kenal tapi justru tetap ragu meski dia berkata apa adanya.

“Mungkin karena dia kenal saya sejak saya sering nongkrong di sebelah (Sekretariat Pengurus Pusat GMKI) dan tukang demo, maka dia khawatir Sekum LAI mau diapa-apain sama saya,” katanya dan kamipun tertawa bersama.

Pak Anies, Satpam yang sangat senior, sangat lama bekerja di LAI dan sudah melayani empat Sekum LAI (berarti sudah lebih dari 25 tahun). Dia selalu peduli dengan semua tamu yang datang ke Gedung Pusat Alkitab (GPA). “Saya tahu siapa dia sejak Gedung ini belum ada Pak. Dulu saya sering berurusan dengan anak-anak sebelah, termasuk dia ini,” katanya saat mengantar sahabat saya ini. Meski sudah menjadi anggota DPRD, tetap saja Pak Anies menganggap dia ini aktivis yang bisa macam-macam.

Saya pernah memberikan briefing kepada semua Satpam. Saya katakan bahwa nilai-nilai kerja LAI adalah MITRA: Melayani, Inovasi, Tepercaya dan Kerjasama. Semua Satpam harus menjaga keamanan, namun sekaligus harus tetap dengan semangat melayani. Harus ramah dan sopan kepada semua tamu yang datang.

Rupanya insting Pak Anies sebagai petugas keamanan lebih kuat aspek mengamankannya ketimbang melayani, sehingga dia kawal tamu sampai lantai 5 untuk memastikan semuanya aman. Setelah selesai berdiskusi, saya antar tamu sekaligus sahabat saya ini ke Perpustakaan, Museum Alkitab, dan Bible House untuk melihat-lihat serta belanja-belanja. Dia berjanji akan berkontribusi dalam program pengiriman Alkitab ke Pulau Kei Besar dan Kei Kecil. Lalu diapun belanja Alkitab Finansial dan Alkitab Hidup Sejahtera Berkeadilan. “Alkitab Finansial penting supaya saya tidak korupsi. Alkitab Hidup Sejahtera Berkeadilan membantu saya memberikan pencerahan kepada warga di dapil saya,” katanya dengan mantap.

Saat saya antar dia keluar GPA, di lobby kami bertemu Pak Anies yang sudah siap membukakan pintu dan dengan semangat dia berkata: “Saya tadi terkejut Pak, kenapa dia datang?” Lalu sahabat saya bilang dengan nada becanda: “Saya juga terkejut, kenapa kamu masih hidup?” Kamipun semua tertawa riang.

Inilah jaman now. Satpam tidak takut kepada anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Yang penting endingnya semua happy. Bekerja dengan sukacita. *Salam #AlkitabUntukSemua.*

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Siapa Bilang Aplikasi Alkitab Mematikan Alkitab Cetak?

The Master Bible

Jika kita mencari Alkitab di PlayStore atau AppStore, maka langsung muncul ratusan aplikasi Alkitab yang ditawarkan oleh para pengembang aplikasi, baik pengembang aplikasi yang resmi maupun pengembang aplikasi yang illegal. Dan beberapa aplikasi tersebut beberapa di antaranya diterbitkan oleh dan bekerjasama dengan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Perlu diketahui bahwa pengembang aplikasi Alkitab berbahasa Indonesia yang resmi adalah aplikasi Alkitab yang teksnya bersumber dan mendapat izin dari LAI. Karena banyak dari pengembang tersebut, meskipun mencantumkan copyright LAI sebenarnya teks Alkitab yang tercantum bukan berasal dari teks Alkitab LAI.

Sadar bahwa saat ini, Gereja-gereja masih melihat LAI sebagai satu-satu lembaga yang dipercaya untuk menerjemahkan, menerbitkan, dan mencetak Alkitab di Indonesia, maka LAI terus berupaya menjaga kualitas terjemahan dan produk yang diterbitkannya, sehingga Gereja dan umat Kristiani pengguna Alkitab terbitan LAI benar-benar terlindungi. Untuk menjaga kualitas tersebut salah satunya LAI selalu memperbaharui dan meng-upgrade semua staf-stafnya dengan berbagai program pendidikan dan pelatihan. Dan kali ini staf LAI yang mendapat pelatihan tersebut adalah beberapa konsultan penerjemahan dan staf layanan digital. Mereka selama 3 hari ini, mulai Rabu, 10 April sampai dengan Jumat, 12 April 2018 akan dilatih untuk menciptakan salah satu produk yang mengkawinkan antara Alkitab Cetak dengan Aplikasi Alkitab. Kalau produk ini terbit, maka akan terbantahkan pendapat yang menyebut produk digital akan mematikan produk cetak.

Adalah Reinier de Blois, staf Institute of Computer Assisted Publishing United Bible Societies (ICAP-UBS) datang sebagai narasumber untuk membantu LAI untuk mengembangkan produk digitalnya, melalui aplikasi tersebut. Untuk sementara aplikasi tersebut dinamakan “The Marble” akronim “The Master of Bible” , beliau juga menyebut The Marble = Modular Agreggation of The Resource Bible. Seperti disebut tadi, bahwa aplikasi Marble ini tidak mematikan Alkitab cetak , justru Alkitab cetak tetap dibutuhkan dan menjadi sumber utamanya, sementara aplikasinya akan menampilkan konten-konten berisi artikel-artikel, foto-foto, dan video yang berkaitan dengan informasi di sekitar dunia Alkitab, yang tersimpan dalam setiap kata di Alkitab cetak tersebut. Aplikasi ini akan melengkapi dan memanjakan para pengguna Alkitab dengan informasi, data, dan sumber yang tepercaya. Sementara untuk menyiapkan Alkitab cetak yang dapat dibaca oleh aplikasi Marble, maka harus dilakukan typesetting ulang dan konten-kontennya akan di-mapping kembali, sehingga setiap pada setiap kata di setiap halaman yang dicetak akan dapat dibaca oleh aplikasi Marble ini.

Jika Alkitab ini terbit, maka Alkitab ini akan benar-benar menjadi “Masternya Alkitab” atau menjadi sumber rujukan utama siapa pun untuk menggali Firman Tuhan secara mendalam. Kita doakan, semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama Alkitab tersebut dan aplikasinya bisa secepatnya hadir di PlayStore dan AppStore kita sehingga dapat diunduh secara gratis oleh para pengguna Alkitab dimanapun. Upaya ini menjadi bagian dari strategi LAI dalam rangka menghadirkan Alkitab Untuk Semua.[]

Sejahtera dan Adil

Semua orang ingin hidup sejahtera. Menurut kamus bahasa Indonesia sejahtera memiliki arti aman sentosa dan makmur; selamat (terlepas dari segala macam gangguan). Banyak cara ditempuh untuk mencapai kondisi ini. Lalu cukupkah hidup sejahtera tanpa keadilan? Disinilah diskusi menjadi keharusan dan menuntut pandangan-pandangan yang lebih multifaset serta holistik.

Hari Jumat 6 April 2018 bertempat di Gedung Pusat Alkitab Jakarta telah dilaksanakan diskusi yang membahas aspek di atas di dalam kerangka Bedah Buku: Alkitab Hidup Sejahtera Berkeadilan (AHSB). Acara ini diprakarsasi oleh Lembaga Alkitab Indonesia dan BPK Gunung Mulia Jakarta. Dihadiri tidak kurang dari 200 peserta, ada lima narasumber dihadirkan dan masing-masing memberikan paparan telaah terhadap isu hidup sejahtera dan adil serta isi buku di atas.

Pdt. Anwar Tjen, PhD. Kepala Departemen Penerjemahan LAI memaparkan tentang relevansi terbitnya AHSB yang dilatarbelakangi oleh adanya kesadaran bahwa umat juga perlu dibantu dengan bahan-bahan pelengkap supaya apa yang dibacanya tidak saja dimengerti tetapi juga bisa menyentuh hati, dan mengubah hidupnya. Buku AHSB memberikan tanda warna khusus kepada ribuan ayat yang berhubungan dengan Hidup Sejahtera Berkeadilan.

Pdt. Sylvana Apituley, tenaga ahli utama di Kantor Staf Presiden Republik Indonesia, menyuarakan tentang keadilan dari sisi tafsir feminis. Ada beberapa ayat di dalam Alkitab yang membutuhkan pendekatan tafsir yang lebih berimbang dan tidak didominasi oleh kaum adam.

Dr. Albert Hasibuan, tokoh senior yang sudah malang melintang di berbagai pengabdian kenegaraan, mengungkapkan apresiasinya kepada LAI yang sudah berinovasi dalam penerbitan Alkitab Tematis ini. Dengan adanya Alkitab ini sungguh menunjukkan kepedulian LAI terhadap isu kesejahteraan dan keadilan yang sangat relevan dengan bangsa Indonesia.

Pdt. Dr Ronny Mandang, Ketua Umum Persekutuan Persekutuan Gereja Gereja Dan Lembaga Lembaga Injili Indonesia (PGLII), menyatakan bahwa hidup tidak semakin mudah dan untuk itu dibutuhkan fokus kepada Alkitab. Gereja yang tidak fokus lagi terhadap Alkitab maka akan membawa kepada kehancuran. Umat membutuhkan bimbingan dan tuntunan dari Alkitab yang sudah terbukti menghidupkan dan terus bertumbuh dalam iman.

Romo Benny Susetyo, Pr. Rohaniwan Katolik yang aktif di Badan Pembinaan Ideologi Pancasila, mengutarakan pentingnya membaca Alkitab yang dipraktikkan sebagai habitus dalam keseharian. Alkitab yang sekadar hanya dipakai sebagai alat ritual tidak akan memiliki dampak hidup sejahtera berkeadilan.

Di akhir diskusi moderator Pdt. Weinata Sairin, M,Th memberi catatan penutup: (1) Karya inovatif LAI akan terus dilanjutkan dalam bentuk penerbitan Alkitab Edisi Khusus, menyusul Alkitab Edisi Studi, Alkitab Finansial, dan Alkitab Hidup Sejahtera Berkeadilan. Dukungan Gereja2 dan mitra LAI terhadap program LAI amat diharapkan khususnya di bidang dana. (2) Alkitab harus dibaca oleh warga Gereja secara holistik dan komprehensif sehingga makna utama dari setiap bagian Alkitab dapat dipahami dengan baik demi perwujudannya dalam aspek praksis. (3) Alkitab harus menjadi nafas, roh, spirit, acuan, referensi, habitus bagi umat agar perjalanan umat dalam menapaki lorong2 sejarah menuju terminal yang penghabisan, tetap berada dalam kuasa Allah.

Salam Alkitab Untuk Semua

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Pensiun

Banyak orang yang memasuki masa pensiun dengan rasa pesimis, kurang bergairah, ada rasa khawatir, dan memiliki gejala post power syndrome.

Tapi tidak bagi Ibu Heti Suherti (biasa dipanggil Ibu Herti) yang sudah bekerja selama 38 tahun di Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia. Hari ini Ibu Herti secara resmi mengakhiri masa pengabdiannya dengan semangat dan sukacita. Dia masih sangat energik, banyak tertawa dan raut mukanya tidak menunjukkan gejala-gejala seperti yang digambarkan di awal tulisan ini.

Ibu Herti bekerja di LAI sejak tahun 1980 pada usia 16 tahun.  Pada 15 tahun pertama dia bekerja sebagai pembantu Offset Goss (tugas utamanya melakukan pemeliharaan mesin cetak). Selanjutnya dia bertugas di Penjilidan bagian tempel cover Alkitab selama 9 tahun. Berikutnya sebagai petugas koreksi II selama 1 tahun. Kemudian berpindah sebagai petugas Kapital Gasban selama 3 tahun. Terakhir selama 10 tahun Ibu Herti bertugas kembali di Penjilidan bagian tempel cover Alkitab. Rupanya Ibu ini memiliki keterampilan utama dan passion di bidang tempel cover Alkitab.

Siang tadi sebelum saya menyerahkan Surat Keputusan  Pensiun beserta semua hak-haknya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Herti atas semua pengabdian yang luar biasa selama 38 tahun. Tidak ada catatan negatif sepanjang 38 tahun Ibu Herti bekerja. Loyalitasnya luar biasa. Catatan menonjol tentang dia yang diberikan kepada saya adalah: saat pertama masuk bekerja di LAI Ibu Herti masih gadis, dan saat ini dia sudah memiliki menantu serta sedang menunggu cucu pertama.

Saya juga menyampaikan bahwa Ibu Herti masih tetap menjadi keluarga LAI, hanya berpindah kamar saja. Sejak 38 tahun lalu sampai kemarin berada di kamar karyawan, mulai hari ini bergeser ke kamar Pensiunan LAI. Saya tekankan bahwa silaturahmi kita yang sudah baik selama ini harus tetap dijaga. Setidaknya kalau LAI mengadakan perayaan Natal Ibu Herti bisa hadir karena para pensiunan LAI selalu diundang untuk hadir.

Salah satu nilai dalam budaya kerja LAI adalah “Tepercaya”. Firman Tuhan yang melandasinya: “Saya senang sekali, sebab kalian dapat dipercayai dalam segala hal.” (2 Korintus 7:16, BIMK).

Tepercaya berarti memiliki integritas dalam segala aspek perilaku dan dapat dipercaya melaksanakan tugas serta tanggungjawab yang dijalankan dalam organisasi.  Tepercaya juga berarti menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran kristiani, etika maupun profesionalisme yang dilandasi kejujuran, keadilan, berani dan bertanggungjawab terhadap tugas serta hasil kerja.

Berdasarkan catatan yang ada, tidak berlebihan bila Ibu Herti dapat disebut sebagai karyawan yang berada dalam kelompok “Tepercaya”. 38 tahun adalah waktu yang tidak pendek. LAI percaya kepadanya dan Ibu Herti tetap percaya kepada LAI sampai masuk dalam masa pensiun.

Pada akhir pertemuan kami tadi siang secara khusus saya mendoakannya agar Tuhan selalu memberikan kesehatan, sukacita, damai sejahtera dan kebijaksanaan untuk menjalani kehidupan selanjutnya bersama keluarga, anak, menantu dan cucunya. Amin.

Salam Alkitab Untuk Semua

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Ke Digoel Kami ‘kan Kembali

 

Hidup ini adalah kesempatan

Hidup ini untuk melayani Tuhan

Jangan sia-siakan apa yang Tuhan b’ri

Hidup ini harus jadi berkat

 

Lagu yang sedang ngetop ini lamat-lamat mengalun di speedboat yang sedang melaju di Sungai Digoel, sungai terpanjang di Papua dan salah satu di Indonesia. Mengalir ke arah selatan sepanjang 546 km dari hulunya di Pegunungan Jayawijaya, sungai ini memiliki sejumlah kali kecil dan melewati Kabupaten Jayawijaya, Puncak Jaya, Yahukimo, Bintang, Asmat, Mappi, Boven Digoel dan Merauke, sebelum akhirnya bermuara di Laut Arafura.  Sudah dua hari tim LAI berada di Mangga Tiga, salah satu kampung di Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel. Kami ingin memastikan bahwa kelompok-kelompok Pembaca Baru Alkitab (PBA) segera dimulai.

PBA itu sendiri adalah program baca tulis berbahan Alkitab bagi buta aksara. LAI menyelenggarakannya sebagai bagian dari cita-cita “Alkitab untuk semua”. Sederhananya, sebelum mereka memiliki Alkitab, kami memberi pelatihan membaca dan menulis. Dengan harapan, mereka akan membaca Alkitab dan pada gilirannya, keterampilan literasi akan menolong mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan bagi tutor yang akan mengajar dan koordinator wilayah yang akan memonitor proses belajar telah terlaksana pada 1-3 Februari 2018. Program ini akan diselenggarakan di Distrik (Kecamatan) Manggelum dan Kombay. Itu sebabnya kami berada di Manggelum.

Hari itu, 8 Februari 2018, akan menjadi hari yang panjang. Pukul 08.00 kami seharusnya sudah akan berangkat ke Bayanggop, kampung di ujung Manggelum, juga ujung dari Kabupaten Boven Digoel. Keberangkatan ditunda karena harus mengajar anak-anak yang telah menunggu tutor dengan antusias. Jumlah mereka lebih banyak dari hari sebelumnya. Sebelum pelajaran dimulai, dengan gembira mereka menyanyikan lagu-lagu yang baru diajarkan sehari sebelumnya. Sambil menggoyangkan badan dan mata berbinar, Baca Kitab Suci, Saya Bukan Pasukan Berjalan, Bapa Abraham, menyeruak di gedung sekolah SD yang sudah beberapa bulan tidak dipakai. Bangunan dalam SD yang sebelumnya tampak muram karena beberapa bangku dan meja rusak, kini sumringah dengan keriangan anak-anak.

Ibu Neila mampu membuat wajah anak-anak di Manggelum kembali ceria

Namun, kami harus bergegas ke Bayanggop. Anak-anak ini ditinggal bersama Sdr. Lukas Mariyanto, staf LAI yang ditugaskan khusus di Boven Digoel, dan seorang tutor yang akhirnya bergabung. Dengan Sdr. Fredrik Talo Goro, jam 10.00 kami berangkat menuju Bayanggop karena sudah sepakat untuk bertemu dengan para tutor dan koordinator wilayah di sana. Semalam hujan sehingga sungai banjir dan ini membantu kami tiba di Bayanggop dengan speedboat dalam waktu dua jam saja.

Kampung Bayanggop

Tidak seperti biasanya, tidak banyak yang menyambut kami di Pelabuhan Bayanggop. Rupanya banyak penduduk kampung sedang di Tanah Merah (ibukota Kabupaten Boven Digoel) atau di dusun (lokasi kebun-kebun mereka).

“Tidak ada orang, ibu,” kata seorang tua. “Orang (usia) tua saja dan anak-anak. Dan orang sakit,” tambahnya lagi.

“Kalau begitu kami mau ke gereja saja,” kata saya.

“Kunci gereja tidak ada. Majelis juga tidak ada.”

“Kalau sekolah?” tanya saya lagi.

“Itu bisa, tidak dikunci.”

“Tidak ada (kegiatan di) sekolah. Sudah lama tidak ada. Tidak ada guru to”, tambahnya lagi.

Gereja di Bayanggop

Kami pun menuju sekolah, salah satu calon lokasi belajar kelompok PBA. Karena tidak dipakai maka pelajaran akan berlangsung di pagi hari, baik untuk orang tua maupun anak-anak. Malam hari tidak mungkin belajar karena listrik hanya berasal dari genset. Kalau ada yang bersedia menanggung ongkos “minyak“ (BBM) maka listrik akan menyala untuk seluruh kampung. Tidak ada yang namanya dinyalakan untuk satu atau beberapa rumah saja. Dari sekolah kami menelusuri kampung itu yang adalah pemukiman yang dibangun oleh pemerintah, sehingga praktis seluruh penduduk kampung tinggal dengan jarak yang saling terjangkau satu sama lain. Saat itu, Bayanggop memang sepi dan sunyi. Tidak ada mama-mama (ibu-ibu) yang duduk di pintu rumah, atau bapak-bapak yang asyik mengobrol. Sementara langit begitu biru dan indah, dan di daratan tanaman cabe berbuah lebat, ubi jalar merambat tak malu-malu, dan kangkung tumbuh di berbagai tempat, juga gedi merah yang dibawa dari Papua Nugini (orang di sini biasanya berjalan kami saling mengunjungi dengan kerabat mereka di sana).

Bayanggop pun kami tinggalkan. Di tengah jalan, sebuah long boat mendekat ke arah kami dan orang-orang di dalamnya melambai-lambai. Ternyata mereka adalah tutor dan koordinator wilayah yang mustinya bertemu kami. Sambil minta maaf mereka berjanji kelompok-kelompok Bayanggop akan segera mulai (dan benar demikian). Untuk memastikannya, Sdr. Fredrik akan menemui mereka minggu berikutnya.

Perjalanan ke Mangga Tiga dilanjutkan kembali dan berlangsung lancar. Kami mendarat di perbatasan kampung Kewam dan Manggelum (ibukota distrik). Dua kampung ini bersama Mangga Tiga terletak saling berdekatan. Hanya terpisah oleh sebuah kali kecil. Ada kelompok dewasa yang akan mulai belajar siang itu di Kewam. Sambil menunggu mereka datang, kami berbincang dengan yang sudah hadir. Menurut perkiraan kami, mama-mama ini rata-rata berumur 20-30- tahun. Rata-rata mereka 4 – 6 anak, dan minimal satu di antaranya meninggal. Alasannya: “Karena swanggi datang ambil, saya ada pi (sedang) cuci baju di sungai.” Swanggi tampaknya menjadi alasan untuk banyak hal yang tak bisa mereka jelaskan.

mama-mama sebagai warga belajar tengah memperhatikan penjelasan tutor

Di antara mama-mama ini, ada yang pernah sekolah sampai kelas I-III SD, ada yang tidak sama sekali. Kenapa berhenti atau tidak sekolah, alasannya hampir mirip satu sama lain. Tidak ada guru yang rutin mengajar jadinya malas untuk sekolah. Namun, menurut pengakuan mereka sekarang mereka ingin belajar. “Pace-pace (bapak-bapak) su kasih daftar kami (sudah mendaftarkan mereka)”, katanya berbarengan. Alasannya ingin belajar:

“Sa (saya) mau menyanyi Mazmur”

“Sa mau baca Alkitab”

“Sa mau pake HP to” (sejak Desember 2017 sudah ada sinyal seluler di sana).

Sekitar pukul 15.30 WIT, kelompok Kewam mulai belajar dipimpin tutor Mama Yohana. Mereka mengawalinya dengan pelajaran tentang huruf. Beberapa masih ingat huruf-huruf vokal dan konsonan tertentu, seperti b, k, m, dan p. Sambil belajar, ada yang membawa dua anak. Satu digendong sambil disusui, satu lagi balita yang terus merengek ingin juga punya buku tulis. Kami berusaha tidak tampak terganggu. Lebih baik mereka datang sambil membawa anak, daripada tidak datang sama sekali. Rengekannya berhenti setelah mendapat buku tulis dan buku bergambar. Dengan semua keributan itu, mama-mama ini tetap belajar dengan antusias. Sama sekali tidak tampak terganggu,  membuat hati saya terharu dan membatin semoga mereka tak putus asa di tengah jalan. Mengajari orang tua jauh lebih tidak mudah dibanding anak-anak. Bukan hanya daya tangkap yang berkurang, tapi terutama waktu mereka untuk mengulang pelajaran di rumah sering tidak tersedia. Setelah bersama mereka selama hampir 2 jam, kami pun pamit karena harus segera bersiap kembali ke Tanah Merah, ibukota Kabupaten Boven Digoel.  Rencananya, besok siang akan langsung terbang ke Merauke dan kembali ke Jakarta hari berikutnya lagi.

Supaya rencana itu bisa terwujud, waktu perjalanan dari Mangga Tiga ke Tanah Merah harus dipersingkat. Jadi, kami berencana langsung jalan sore itu juga dan beristirahat di Kouh, salah satu distrik tua di Boven Digoel. Ini akan mempersingkat perjalanan besok paginya ke Tanah Merah, yang dapat dicapai sekitar 3 jam dari Kouh. Eloknya, masih akan tersedia cukup waktu memesan tiket untuk penerbangan ke Merauke yang berangkat sekitar pkl. 13.00 WIT. Kalau baru besok paginya berangkat dari Mangga Tiga maka akan tiba di Tanah Merah siang bahkan sore. Tidak akan dapat mengejar penerbangan ke Merauke.  Lebih parah lagi kalau tiba sore, kami mungkin bisa menumpang mobil travel, tapi dengan menyewa seluruh mobil. Itu pun kalau masih ada mobil yang tersedia. Sementara, jika langsung ke Tanah Merah malam itu juga maka akan sangat melelahkan. Kami tetap harus beristirahat dan jalan malam itu lalu beristirahat di Kouh adalah rencana yang ideal. Kami dapat tiba di Jakarta Sabtu, 10 Februari 2018 siang.

Persoalannya, selama ini pengemudi speed boat biasanya tidak pernah bersedia jalan malam karena berbahaya. Banyak kayu hanyut, yang dapat menjungkirkan speedboat, apalagi saat itu sungai sedang banjir. Namun, jurumudi kami hanya berkata, “Dari (terserah) ibu saja”. Akhirnya, setelah berdoa, dengan hati mantap kami pun menuju Tanah Merah. Saat itu,  di speedboat hanya ada Lukas, Adittria Setiawan, jurumudi, dan saya. Biasanya ada asisten jurumudi tapi kali ini tidak.

Tak dinyana, di tengah jalan, oli habis, dan harus membelinya di Kampung Biwage 1, salah satu kampung tempat biasanya orang menginap dalam perjalanan dari dan ke Tanah Merah.  Tak heran, orang-orang di pelabuhan berkata: “Menginap (di) sini sudah, ibu. Besok pagi baru jalan lagi.” Wah, itu berarti bakal menambah waktu perjalanan besoknya. Kami tidak punya kemewahan itu. Setelah dijelaskan, mereka dapat memahami rencana kami dan melepas kami dengan: “Jalan baik ibu. Minyak dan oli su (sudah) cukup sampai Tanah Merah.” Sekitar pukul 21.00 WIT, kami pun kembali mengarungi Sungai Digoel.

Tujuannya masih Kouh. Laju speed boat telah dikurangi demi keamanan. Sepanjang jalan, Lukas dan Adittria bergantian duduk di ujung depan speed boat, memegang senter untuk a.l. memberi kode bagi jurumudi jika ada kayu hanyut, terutama yang besar-besar, sambil memberi penerangan seadanya. Menabrak kayu besar amat berbahaya karena dapat membalikkan speedboat atau melubangi fibernya. Syukurlah, dengan penerangan terbatas ternyata tidak ada satu pun kayu yang kami tabrak. Padahal, bahkan di siang hari pun dengan asisten berpengalaman, menabrak kayu kerap terjadi. Di tengah jalan, hujan datang mengguyur cukup deras.

Waktu kini telah menunjukkan pukul 00.30 WIT. Hujan telah berhenti, walau langit masih kelam, sekelam lingkungan sekitar kami, dan bintang tak kunjung muncul. Hampir tidak ada yang bisa menjadi penanda tentang kami kini berada di mana. Bagi saya yang sudah beberapa kali melewati Digoel, perjalanan kami mulai tampak mengkhawatirkan. Sudah 3,5 jam sejak dari Biwage 1. Mestinya kami sudah mendekati bahkan tiba di Kouh. Apalagi sungai sedang banjir dan ini membantu speedboat bergerak mengikuti arus walau dengan kecepatan rendah.  “Ada yang tidak beres“, pikir saya. Saat itulah berawal alunan „Hidup ini adalah kesempatan.” Ketika speedboat kami terantuk batu-batu dan air tampak tidak mengalir, padahal sungai sedang banjir maka lagu-lagu Kidung Jemaat, Nyanyikanlah Nyanyian Baru, dan lagu-lagu lain silih berganti terdengar, dibarengi Mazmur-mazmur serta doa-doa. Mungkin semua koleksi lagu rohani yang saya ketahui sudah dinyanyikan demi menguatkan kami di kegelapan dan ketenangan mencekam Sungai Digoel.

Sekitar pukul 02.30 pagi, tampak cahaya lampu di kejauhan. “Itu Kouh kah?” tanya saya dengan penuh harap. Tak terdengar jawaban selama beberapa detik yang terasa bagai beberapa jam. “Itu sudah”, kata jurumudi kami mantap. Akhirnya! Pelabuhan Kouh menyambut kami dengan cahaya samar-samar dan seadanya.  Masih diperlukan perjuangan untuk mencari tempat menyandarkan speedboat dan naik ke daratan karena air sedang pasang, tapi kami sudah di Kouh!

Malam itu, atau lebih tepat subuh itu, kami menginap di penginapan milik seorang perantau dari Karo. Sederhana tapi terasa menenangkan. Tidur di lantai beralas karpet, tapi tokh masih beratap sehingga terlindungi dari hujan dan angin. Segera kami mengganti baju yang sudah kuyup oleh air hujan, dan membuka bekal makanan kami. Nasi dingin dan daging babi asap terasa begitu nikmat. Saya sebetulnya tidak lapar, tapi amat paham bahwa nutrisi diperlukan agar tidak disambangi malaria. Diet keto (mengurangi asupan karbohidrat) atau diet apapun yang dilakukan orang di Jakarta, tidak akan menolong menghadapi malaria. Setelah beberapa kali ke Manggelum dan Kombay, saya berkesimpulan, untuk mencegah malaria yang mengintai hampir di setiap sudut distrik ini, saya harus makan dengan nutrisi cukup dan dalam porsi yang lebih dari yang biasanya. Sekarang kami telah kenyang dan sudah memakai baju kering. Kini saatnya tidur. Empat orang di ruangan dan karpet yang sama.

Pelabuhan Kouh ketika air sungati Digoel surut

Paginya, 9 Februari 2018, pukul 08.00, kami menuju Tanah Merah dengan speedboat yang sama, dan tiba menjelang pukul 11.00 WIT. Sekitar 30 menit sebelum pelabuhan, sudah ada jaringan telepon, saya pun mengirim SMS memesan tiket ke pengemudi mobil rental yang biasa kami pakai. Syukurlah masih tersedia. Pak Made, begitu namanya, menjemput kami di pelabuhan, mengambil tiket, mampir menitip barang saya di rumah Pdt. Daniel Iha, dan langsung menuju bandara.  Pukul 14.00 WIT hari yang sama kami sudah terbang menuju Merauke. Lusanya, 10 Februari 2018 pagi, dari Merauke kami kembali ke Jakarta dan tiba pukul 12.30 WIB. Dua hari waktu perjalanan kembali ke Jakarta dapat terpangkas karena keputusan meninggalkan Mangga Tiga pada 8 Februari menjelang malam.

Kini, menuju Merauke dengan pesawat, tampak Sungai Digoel berkelak-kelok indah dengan banyak hamparan kehijauan di kedua sisinya. Dan lagu-lagu yang dinyanyikan di sungai itu semalam kembali terngiang jelas di telinga saya. Sungguh, lagu adalah (salah satu) cara Tuhan melawat dan merawat umatnya. Kami merasakan itu. Tentu tak hanya lagu, Mazmur 121 yang juga bisa dinyanyikan masih tak kalah jelasnya:

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung

Dari manakah akan datang pertolonganku

Pertolonganku ialah dari TUHAN

yang menjadikan langit dan bumi

Ia takkan membiarkan kakumu goyah,

Penjagamu tidak akan terlelap

Seperti para peziarah Yerusalem mendaraskan Mazmur 121 di sepanjang jalan dan itu memberi kekuatan bagi perjalanan mereka, kami pun merasakannya di sungai dan kali-kali di Digoel (agaknya kami sempat terbawa arus ke salah satu kali yang menyebabkan waktu perjalanan ke Kouh lama). Sungai Digoel sudah kami alami di waktu siang, pun di waktu malam. Selain, keindahan yang melahirkan ucapan syukur, rasa takut dan gentar pun tetap ada. Namun, seperti para peziarah Yerusalem dikuatkan dalam perjalanan mereka, kami pun merasakan demikian; bahwa kasih sayang dan penyertaan TUHAN ada di setiap langkah kami, di debur sungai dan kali yang kami arungi, juga di hutan-hutan yang kelak akan kami susuri. Dia yang menolong kami tidak pernah terlelap. Dan seperti para peziarah yang tak kunjung lelah datang ke Bait Allah di Yerusalem, demi umat TUHAN di Manggelum dan Kombay, ke Digoel kami pun masih kan kembali.

 

Neila Henoch-Mamahit