Menyambut Datangnya Raja Damai

  • 54
    Shares

mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yohanes 12: 13)

Mari kita coba membayangkan seandainya kita berada di sana waktu Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai, apa yang sangat mungkin kita lakukan saat itu? Dan apa yang melatarbelakangi kita melakukannya?

Ini jelas bukan pertama kalinya, Yesus datang ke kota Yerusalem. Sebagai seorang Yahudi, Yerusalem telah menjadi tempat yang sangat dekat dengan diri-Nya. Di sanalah Yesus beribadah kepada Allah dan di sana jugalah Dia mengajar. Tetapi kedatangan-Nya kali ini menjadi berbeda dan luar biasa ramainya karena orang-orang dengan sangat antusias menyambut-Nya. Ia datang dengan menunggangi seekor keledai betina dan orang banyak itu menyambut-Nya dengan elu-elukan. Mereka berkata, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Tidak hanya itu, orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon (palem) dan menyebarkannya di jalan (Mat. 21: 8 bnd. Yoh. 12: 13). Apa yang motivasi mereka?

Dalam elu-eluan orang banyak itu, keempat Injil memberikan laporan yang berbeda-beda tentang kalimat yang mereka ucapkan:

“Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,

hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat. 21:9)

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mark. 11:10)

“Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan,

damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38)

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh. 12:13)

 

Meskipun begitu tetapi pada intinya ada satu pesan yang sama, yaitu bahwa orang banyak itu berharap bahwa Yesus datang sebagai Mesias yang akan membebaskan Yerusalem dari penjajah Roma. Mereka berharap bahwa Yesus akan memimpin mereka dalam pemberontakan untuk melawan Roma dan mendirikan Kerajaan Israel yang baru (harapan yang besar itu tersirat dalam tindakan mereka yang menghamparkan pakaian mereka di tanah tempat yang akan dilalui oleh Yesus). Itulah sebabnya mereka menyambut Yesus seperti menyambut seorang raja yang datang dengan membawa kemenangan (dalam tradisi Yahudi, daun palem digunakan sebagai simbol kemenangan).

 

Orang banyak itu, termasuk di dalamnya murid-murid Yesus tidak mengerti akan maksud kedatangan Yesus ke kota Yerusalem, sekalipun telah berulang kali Yesus mengisyaratkan akan tujuan dan kematian-Nya (Mat. 7: 53-59; 12: 7-8; Luk. 9: 22; 43b-44; 13: 32-33; 18: 31-33). Kedatangan Yesus dengan menunggang keledai betina juga menjadi satu tanda bahwa Ia datang bukan sebagai pemimpin perang atau pemberontakan, tetapi sebagai Raja yang membawa damai, sebab orang tidak memakai keledai untuk berperang.

 

Sebagian gereja memperingati minggu sebelum paskah sebagai Minggu Palma untuk mengenang peristiwa di hari itu. Jika saat itu orang-orang Israel keliru dalam dalam motivasinya menyambut kedatangan Yesus, apakah hari ini ketika kita memperingatinya sudahkah dengan maksud yang benar?

 

Yesus masuk Yerusalem untuk menggenapi rencana Allah bagi-Nya di atas kayu salib. Yaitu menghadapi penderitaan yang berat dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan dan pendamaian antara Allah dan manusia.  []