Sungguh merupakan satu anugerah kalau pada Minggu pagi ini LAI mendapatkan dukungan sebesar 45 juta rupiah atau 600 eks Alkitab untuk program Satu Dalam Kasih (SDK) 2018, khususnya kepada umat Tuhan yang ada di wilayah Boven Digoel, Sumba, Karo, dan Pak-pak Dairi.
Dukungan ini diberikan oleh jemaat GKI Kwitang melalui aksi Puasa Paskah yang diwakili oleh Pdt. Litos Panne.
Kiranya semakin banyak umat Tuhan, gereja, dan lembaga-lembaga kristiani yang digerakkan oleh Tuhan untuk mendukung pengadaan Alkitab bagi saudara-saudara kita yang ada di pelosok bumi Nusantara.
“Bagaimana dengan laporan pertanggungjawaban terhadap para penyumbang LAI?” tanya salah seorang Penatua GKI Kebayoran Baru tadi malam (4 Mei 2018) di Ruang rapat Konsistori yang terletak di bagian belakang gedung Gereja.
Saya dan tim dari LAI (Ibu Erna KadepKomMitra, Ibu Johana Kabid Penggalangan Dukungan, dan Ibu Ros Mitra TTYM) diundang oleh Majelis Jemaat GKI Kebayoran Baru untuk presentasi mengenalkan LAI dan semua programnya.
Pertanyaan di awal tulisan ini adalah pertanyaan pertama yang disampaikan sesudah kami presentasi. Sebuah pertanyaan yang sangat penting dan prinsipiil.
Saya menjelaskan bahwa LAI memiliki tiga level pelaporan. Level satu adalah pemberitahuan langsung kepada para penyumbang bahwa dana yang mereka kirim sudah diterima. Level dua adalah laporan tahunan khusus tentang total semua sumbangan yang terkumpul. Level tiga adalah publikasi tahunan laporan aktivitas dan keuangan yang sudah diaudit oleh auditor eksternal yang kredibel.
Secara periodik baik melalui media online maupun media cetak, LAI juga melaporkan realisasi program-program yang didukung oleh para Mitra LAI.
Pada prinsipnya LAI yang sudah berumur 64 tahun memiliki sistem pengelolaan keuangan yang transparans dan akuntabel.
Hanya dengan sistem pengelolaan lembaga yang transparans dan akuntabel, maka kredibilitas LAI dapat terjaga dengan baik.
Sebagai lembaga nirlaba yang selalu membutuhkan kepercayan publik, maka standar-standar mutu juga sudah diterapkan di LAI. Disamping laporan keuangan yang sudah mengikuti standar akuntansi Indonesia, LAI juga mendapatkan sertifikat ISO 9001:1998. Sekarang sedang berproses naik level ke sertifikat ISO 9001:2015 yang mencakup manajemen risiko.
Untuk menjaga budaya transparansi LAI juga selalu menjalin komunikasi dua arah dengan seluruh mitra di 13 kota melalui para pengurus Kelompok Kerja Penggalangan Dukungan LAI.
Teknologi semakin maju dan kehidupan semakin modern, namun nilai-nilai luhur transparansi serta akuntabilitas untuk menjaga kredibilitas lembaga pastilah akan lestari.
Di tengah maraknya kasus korupsi di Indonesia, LAI tak punya pilihan dan harus mendeklarasikan serta mengimplementasikan prinsip-prinsip Good Governance yang meliputi transparansi dan akuntabilitas.
Sahabat yang baik adalah mereka yang percaya dan penuh respek kepada kita. Kepercayaan harus dibangun dan terus dijaga serta dilestarikan. Semakin banyak sahabat pastilah akan semakin banyak pendukung lembaga dan program-program LAI.
Manusia bisa berencana dan berusaha, Tuhanlah yang menentukan semuanya terlaksana atau tidak. Terpujilah Tuhan.
Paulus mungkin berencana dengan “menjadi seperti” orang Yahudi, melaksanakan ibadat dan adat istiadat Yahudi, agar ia dapat memenangkan orang-orang Yahudi. Para pemimpin jemaat yang lain mungkin juga berpikir dengan meminta Paulus melakukan permintaan mereka, maka Paulus dapat diterima kembali oleh orang-orang Yahudi, untuk menyelamatkan nyawanya. Namun apa yang tidak pernah diduga terjadi, rupanya beberapa orang Yahudi dari Asia yang tidak suka dengan pelayanan Paulus selama ini menggagalkan semuanya. Mereka menghasut orang-orang untuk menangkap Paulus. Kesan yang dibangun oleh Paulus dengan melakukan ibadah penyucian selama tujuh hari ini berakhir dengan anti-klimaks.
Sahabat Alkitab, apa yang hendak dilakukan oleh Paulus adalah hal yang sangat baik, tujuannya untuk memenangkan sebanyak mungkin orang bagi Kristus juga adalah hal yang dikehendaki oleh Allah. Tapi mengapa apa yang baik itu gagal? Dan apa yang dikehendaki oleh Allah tidak terlaksana? Terkadang bukan hasil yang menjadi tujuan utama dari sebuah rencana, tetapi pembelajaran lewat proses yang terjadi di dalamnyalah yang Allah mau kita alami, yaitu bertemu dan mengalami Dia di situ. Rencana baik dan benar yang telah tersusun dengan sempurna pun jika Allah berkehandak lain maka tidak akan terjadi. Dalam hal ini Yesus telah mengajarkan kita dalam doanya, “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat. 26:39, TB).
Selamat Beribadah. Marilah kita belajar untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dalam segala rencana dan kerja yang kita lakukan, sehingga ketika itu terlaksana kita memuji Dia, dan jika tidak terlaksana kita tidak menjadi kecewa, namun tetap memuji dan menyembah Dia. Inilah bentuk penyembahan kita yang terdalam
Dalam pengetahuan yang tidak sempurna ini, kerap membawa kita berada di wilayah abu-abu. Hikmat dari Allah-lah yang memampukan kita untuk memilih yang paling benar di antara yang benar, dan yang terbaik di antara yang baik.
Sepertinya terlihat Paulus sedang berada pada sebuah dilema, ia yang dibeberapa tempat dengan getol menyuarakan agar orang-orang percaya tidak lagi hidup di bawah hukum Taurat, justru saat itu sedang melakukan salah satu bagian dari Hukum Taurat. Atas nasihat dari para pemimpin jemaat, Paulus diminta untuk melakukan ibadah penyucian diri bersama dengan empat orang yang pernah bernazar kepada Allah dan telah menyelesaikannya. Tidak hanya itu, Paulus juga diminta untuk menanggung biaya kurban bakaran bagi keempat orang tersebut. Kedua tindakan itu dimaksudkan juga untuk memberi sebuah kesan bahwa Paulus tidak menentang Hukum Taurat seperti yang selama ini diberitakan tentang dia bahkan menyetujuinya.
Sahabat Alkitab, apa yang terjadi saat itu seperti yang dikatakannya, “Terhadap orang Yahudi, saya berlaku sebagai orang Yahudi supaya saya bisa memenangkan orang Yahudi untuk Kristus. Terhadap orang-orang yang hidup menurut hukum Musa, saya berlaku seolah-olah saya terikat pada hukum itu, walaupun saya sebenarnya tidak terikat padanya. Saya lakukan itu supaya saya bisa menarik mereka menjadi pengikut Kristus” (1 Kor. 9:20, BIMK). Seperti pengalaman Paulus, hikmat Allah akan menuntun kita untuk mengambil sebuah tindakan paling benar dan terbaik dalam keadaan yang paling sulit sekalipun. Hikmat itu akan memuliakan Tuhan, Sang Pemberi hikmat.
Selamat Pagi. Ini tidak terjadi dengan sendirinya, bangunlah hubungan yang karib dengan Allah dalam firman-Nya dan dalam setiap doa-doa Anda, agar hikmat-Nya memenuhi seluruh kehidupan Anda.
Tidak ada hasil tanpa usaha. Mereka yang telah berhasil hari ini adalah mereka yang beberapa tahun yang lalu bercucuran keringat dan air mata. Ikutilah teladan upaya mereka.
Akhirnya Paulus dan rombongannya sampai juga di Yerusalem, tempat di mana banyak murid berkumpul. Di situ mereka menumpang di rumah Manason, salah seorang murid dari Siprus. Paulus bertemu dengan Yakobus dan beberapa pemimpin jemaat lainnya, lalu menceritakan karya Allah atas bangsa-bangsa bukan Yahudi melalu pemberitaan Injil yang dilakukannya. Mereka tahu siapa Paulus yang dahulu, namun sekarang apa yang telah dikerjakannya mungkin jauh melebihi yang dikerjakan oleh mereka sendiri. Cerita pelayanan Paulus sudah tentu menginspirasi mereka untuk semakin giat memberitakan Injil Kristus.
Sahabat Alkitab, ketika kita mendengar tentang kisah keberhasilan orang lain dalam pelayanan dan dalam pekerjaannya, maka belajarnya tentang bagaimana perjuangan mereka sebelum ada dalam posisi saat ini. Sebab pasti ada cerita tentang kerja keras, tentang pengorbanan, pantang menyerah, dan mungkin luka dibaliknya. Jadikan kisah itu sebagai cambuk untuk kita terus mengayuh tanpa henti sampai waktu-Nya tiba.
Selamat Pagi. Jika hari ini Anda berpikir untuk berhenti, ingatlah kisah-kisah dibalik keberhasilan orang lain, itu akan membantu Anda untuk tetap berusaha.
Neila G.M. Mamahit (Pimpinan Program PBA LAI) tengah menjelaskan program PBA LAI di Parigi Moutong di RPK FM Jakarta
Media radio sudah cukup lama dipakai Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) untuk menjemaatkan visi-misi dan program kerja LAI. Paling tidak sampai saat ini ada 2 program kerja LAI yang mengudara lewat radio, yakni Program Renungan Radio Gema Nafiri yang disiarkan di hampir 40 stasiun radio di seluruh Indonesia dan Program Radio Interaktif yang hanya mengudara di 2 stasiun radio di Jabodetabek.
Sore ini, 3 Mei 2014, LAI kembali mengudara di Radio Pelita Kasih, 96.3 FM, Jakarta, dalam rangka mengkomunikasikan salah satu program kerjanya,yaitu Program Pembaca Baru Alkitab dengan narasumber ibu Neila G.M. Mamahit, M.Th., Kabid Pendidikan Biblika dan Pimpinan Program PBA LAI.
Dengan dipandu host Daniel Tanamal, ibu Neila G.M. Mamahit, M.Th., diberikan kesempatan seluas-luasnya tentang program PBA LAI. Meskipun program ini sudah dimulai LAI sejak tahun 1975, namun sejak tahun 2005 atau dikenal dengan era baru program PBA, LAI mulai serius menggarapnya. Keseriusan ini ditunjukkan dengan riset awal untuk mencari lokasi mana yang masyarakatnya masih buta huruf, jumlah peserta yang tergolong buta huruf minimal 1.000 orang, tersedianya tutor dan koordinator wilayah, adanya keterlibatan gereja setempat dan dukungan pemerintah daerah.
Meskipun tahun ini dengan dukungan pemerintah daerah Kabupaten Boven Digoel, Papua LAI tengah melaksanakan program PBA di 3 distrik di Kabupaten Boven Digoel, Papua, LAI juga tengah menyiapkan program PBA tahun 2018-2019 yang akan dilaksanakan di 3 Kecamatan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.
Berbeda dengan iliterasi pada umumnya, program iliterasi LAI atau dikenal dengan nama PBA adalah program pemberantasan buta huruf berbasis Alkitab. Harapannya para peserta selain bisa baca dan tulis nantinya juga bisa dan rajin membaca Alkitab. Program PBA menjadi jembatan untuk menghantar orang belajar mengenal dan memahami Firman Tuhan. Ujungnya agar mereka mengenal Penciptanya dan memperoleh hidup baru.
Semoga lewat talkshow radio di Radio RPK FM sore ini akan banyak orang yang mengenal dan tergerak hatinya untuk mendukung program PBA LAI ini, sehingga akan semakin banyak umat Tuhan yang belum dapat membaca beroleh berkat. Mari doakan dan dukung program PBA LAI ini. Salam Alkitab untuk semua. [keb]
Perlindungan Allah pasti bagi umat-Nya, karena itu sebelum terjadi sesuatu yang buruk, Allah memberikan peringatan dini agar kita lebih waspada.
Saat berada di Kaisarea, Paulus mendapat kunjungan dari seorang nabi bernama Agabus. Ia membawa berita tentang apa yang diterimanya dari Roh Allah bahwa suatu hari kelak Paulus akan ditangkap oleh orang-orang Yahudi lalu diserahkan kepada orang-orang bukan Yahudi. Ini mungkin adalah sebuah peringatan agar Paulus tidak pergi ke kota Yerusalem. Namun, inilah respon Paulus, “Saya sudah siap bukan hanya untuk ditangkap di sana, tetapi juga untuk mati sekalipun karena Tuhan Yesus.” Apakah ini adalah bentuk keberanian Paulus yang muncul dari imannya kepada Allah ataukah sebuah kenekatan dan tindakan yang tidak mempedulikan peringatan dari Allah. Hanya Paulus dan Allah yang tahu.
Sahabat Alkitab, mungkin saja kita pernah mengalami hal yang serupa dengan Paulus. Mendapatkan peringatan sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Peringatan itu bisa datang melalui suara hati, suara orang-orang di sekitar kita, peristiwa yang mendahuluinya, atau apa pun itu. Respon kita terhadap peringatan itu bisa berbeda-beda, ada yang mengindahkannya tapi ada juga yang mengacuhkannya. Apa pun respon kita, tidak pernah membatalkan penyertaan Tuhan bagi kita. Bahkan sekalipun kejadian buruk itu benar-benar terjadi, bahkan hingga merenggut nyawa kita sekalipun, maka di situ pun nyata penyertaan Tuhan. Allah tidak pernah meninggalkan anak-anak kesayangan-Nya.
Selamat Pagi. Tetaplah beriman kepada Allah dan mintalah penyertaan-Nya setiap hari, maka segala jalan kita akan aman dalam pandangan-Nya.
Seluruh peserta UBS Asia Pacific Affinity Alliance Taipei, 26-28 April 2018.
Indonesia adalah negeri keempat terbanyak penduduknya di dunia dan berada di kawasan Asia Pasifik. Dalam masyarakat yang sudah mengglobal, pergumulan Indonesia juga menjadi pergumulan negara-negara di kawasan Asia Pasifik, termasuk pergumulan yang tengah dihadapi oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Mengingat selama ini sudah terjalin sinergisitas di bidang kealkitaban di kawasan ini menjadikan LAI tidak sendirian. Asia Pacific Affinity Alliance (AAA) di bawah United Bible Societies (UBS) adalah forum persekutuan antar lembaga Alkitab yang sudah eksis dan Tuhan pakai untuk memberkati Asia Pasifik.
Forum rapat tahunan AAA (yang keenam) di Taipei, 26-28 April 2018 dihadiri oleh 18 dari 21 Negara Anggota (minus Papua Nugini, Sri Lanka dan Selandia Baru). Rapat tiga hari yang sangat padat ini telah berhasil melakukan pembahasan secara marathon untuk persoalan seperti (1) mengidentifikasi masalah dan mencari solusi yang dihadapi di masing-masing anggota AAA, (2) diskusi tentang kemitraan bersama dalam pelayanan Alkitab untuk Republik Rakyat Cina (RRC), (3) berbagi pengalaman di bidang penerjemahan, produksi, dan distribusi Alkitab, serta (4) berbagi ide untuk melangkah bersama ke depan.
Saya mencatat setidaknya ada empat pergumulan bersama dan utama yang terus membutuhkan sinergisitas di antara anggota AAA, yaitu: (1) Pekerjaan Penerjemahan Alkitab. Hampir semua anggota AAA masih terus melakukan penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai macam bahasa, bahkan sudah berkembang sampai ke bahasa isyarat. (2) Pengembangan Digital. Semua anggota AAA masih terus berupaya menjalankan visi-misi lembaga Alkitab melalui media digital di tengah masyarakat yang sedang berubah. (3) Keterbacaan Alkitab. Jumlah umat Kristen dan Katolik di semua negara anggota AAA adalah minoritas di masing-masing negaranya. Upaya untuk memastikan Alkitab dibaca, direnungkan dan dihayati oleh umat sangatlah penting sehingga melalui upaya ini diharapkan akan memberi dampak signifikan bagi negerinya masing-masing. (4) Pengelolaan dan kepeminpinan lembaga. Adanya kasus anggota AAA yang dihentikan sementara keanggotaannya dari UBS memerlukan solidaritas konkret dari angggota AAA yang lain.
Forum rapat telah menyetujui empat catatan pergumulan di atas dan merekomendasikan agar Global Management Team – United Bible Societies (GMT-UBS) menindaklanjuti lewat dukungan program-program konkret. Di samping itu, masing-masing peserta juga sepakat untuk melanjutkan komunikasi yang intens sebagai tindaklanjut dan konsekuensi menjalankan keempat rekomendasi di atas.
Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti forum rapat tahunan ini, saya sangat tertolong dalam memahami masing-masing lembaga Alkitab se-Asia Pasifik dan berbagai peluang serta tantangan yang dihadapinya. Saya juga banyak belajar tentang perjuangan yang tidak mudah dalam melayani umat. Secara khusus saya belajar bagaimana Lembaga Alkitab Australia terus berjuang menghadirkan Kabar Baik bagi Gereja dan umat kristiani di benua Kanguru, meskipun kenyataannya jumlah umat kristiani di Australia sedang mengalami penurunan dari 74% di tahun 1991 menjadi 52%, di tahun 2017 lalu.
Rapat tahunan ini sungguh sangat menolong saya memberikan ide-ide jalan keluar dari berbagai pergumulan internal serta memperkokoh komitmen bersama di kawasan Asia Pasifik. Dinamika dan terkadang perdebatan dalam rapat membuat saya semakin dikuatkan dalam menjalankan tugas dan tanggung jawab pelayanan yang tidak mudah.
Di sela-sela rapat saya juga memperoleh kesempatan untuk menjalin persahabatan dengan para Sekretaris Umum dari lembaga-lembaga Alkitab Asia-Pasifik, yaitu: Australia, Banglades, Kamboja, Hongkong, India, Jepang, Korea, Laos, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Pakistan, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam. Lewat forum ini saya juga berkenalan dengan Presiden UBS serta anggota GMT dan tentu dengan panitia lokal Taiwan Bible Society. Indahnya persaudaraan untuk saling berbagi demi karya-karya terindah di bumi ini. Salam Alkitab Untuk Semua.
Sama seperti kepada Elia dan Paulus, Allah tidak pernah membiarkan kita mengerjakan Amanat itu seorang diri, ada begitu banyak orang telah disiapkan-Nya untuk kita bekerja sama.
Setelah dari Tirus, Paulus dan rombongannya melanjutkan perjalanan hingga sampai di Ptolemais. Di situ ia bertemu dengan sesama orang percaya dan tinggal sehari dengan mereka. Perjalanannya kemudian dilanjutkan ke Kaisarea, di situ pun ia bertemu dengan orang percaya lainnya, namanya Filipus, dia adalah salah satu dari tujuh orang yang dipilih oleh para rasul untuk melayani meja, sama seperti Stefanus. Di Kaisarea, Filipus juga memberitakan Injil Kristus bersama dengan empat anak gadisnya. Pertemuan dengan orang-orang ini, tentu membuat Paulus menjadi semakin yakin bahwa ia tidak sendiri, sekalipun nantinya ia akan ditangkap dan dibunuh, ada banyak orang yang akan melanjutkan penyebaran Injil. Mereka adalah semangat baru bagi Paulus.
Sahabat Alkitab, kita tidak sendiri. Allah tidak pernah kekurangan orang untuk melayani-Nya. Jika saat ini anda merasa sendiri dalam melakukan pelayanan, maka mintalah kepada Tuhan untuk mengirimkan orang-orang yang sevisi dengan anda, agar pelayanan menyebarkan firman Tuhan semakin maju dan tersebar luas. Kehadiran mereka juga akan menjadi penyemangat untuk terus bekerja dan melayani Tuhan. Yang menjadi kendala adalah ketika kita merasa bahwa mereka yang Tuhan kirim untuk membantu, kita anggap sebagai pesaing. Itu keliru!
Selamat Pagi. Berdua itu lebih baik, apalagi jika bertiga, berempat, dan seterusnya. Sebab ladang pelayanan ini begitu luas untuk dikerjakan hanya oleh satu orang. Temukan mereka, bekerjasama, dan saling menguatkanlah!
Apresiasi diberikan atas kerja dan karya yang teruji, selanjutnya jadikan itu sebagai semangat untuk berbuat lebih baik lagi, bukan sebagai tujuan akhir.
Ini adalah salah satu kisah tentang perjalanan panjang Paulus untuk memberitakan Yesus dan sebuah perjalanan untuk menjadi satu di dalam kematian Kristus. Dari Efesus, Paulus dan rombongannya singgah di beberapa tempat, seperti Pulau Kos, Pulau Rodos, Pelabuhan Patara, dan di Tirus. Selama satu minggu ia di situ untuk mengunjungi orang-orang yang telah percaya kepada Yesus. Saat mereka hendak melanjutkan perjalanan, mereka diantar oleh orang-orang percaya di Tirus hingga ke luar kota. Sebuah tindakan penghargaan terhadap seorang yang dihormati atau disenangi karena apa yang dilakukannya. Mungkin sekali selama satu minggu itu, Paulus melakukan pengajaran terhadap mereka yang ada di situ dan memperkuat iman percaya mereka.
Sahabat Alkitab, bersyukur kita punya Allah yang tahu bagaimana mengapresiasi setiap pelayanan dan kerja yang kita lakukan. Orang yang melakukannya dengan setia, tulus, tanpa pamrih, profesional, dan jujur akan dibalas-Nya dengan kebaikan. Apa, bagaimana cara, dan kapan apresiasi itu diberikan bergantung pada kehendak Tuhan. Karena itu biarlah apresiasi datang sebagai pemberian yang membangkitkan gairah bukan mengejarnya sebagai tujuan akhir yang membuat kita terhenti dan berpuas diri, apalagi menyombongkan diri.
Selamat Pagi. Marilah kita terus berkarya selagi hari masih siang, dengan tidak jemu-jemu melakukannya hingga hari Tuhan tiba. Tuhan yang akan membalas menurut perbuatan kita masing-masing. Selamat Hari Buruh Internasional.