Tuhan, Manusia Mengharapkan Mujizat Untuk Kesombongan Spiritual Mereka. Tetapi Engkau Melakukannya Untuk Satu Alasan Saja ; Kemuliaan Nama-Mu.

title

Allah dapat memakai "tangan" kita untuk memuliakan nama-Nya, jangan mencuri sedikit pun kemuliaan itu dari pada-Nya!

Yesus tahu bahwa Lazarus telah mati, sebab Dia adalah Allah yang Mahatahu (omni science). Karena itu Dia mengajak murid-murid-Nya ke sana untuk mendemonstrasikan kemahakuasaan-Nya (omni potent), membangkitkan Lazarus dari kematian, dengan begitu mereka akan menjadi semakin percaya kepada-Nya dan memuliakan Allah.

Sahabat Alkitab, Allah memberikan berbagai-bagai karunia rohani kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya, ada karunia yang terlihat begitu biasa seperti karunia melayani dan ada juga yang terlihat begitu wah seperti karunia mengadakan mukjizat (lih. 1 Kor. 12:1-31). Semua karunia itu diberikan Allah agar melaluinya manusia memuliakan Allah, baik oleh manusia yang "melakukannya" maupun mereka yang menerimanya. Allah menghendaki agar ketika karunia itu dinyatakan, manusia menyadari dan mengakui betapa Allah Mahakuasa juga betapa Ia mengasihi manusia. Ini akan menjadi kekuatan bagi manusia dan keyakinan bahwa Allah ada di tengah-tengah umat-Nya. Segala karunia tidak pernah berasal dari manusia karena itu tidak boleh sedikitpun kita menggunakannya untuk memuliakan diri sendiri. Segala kemuliaan harus dikembalikan kepada Allah yang memberikannya.

Selamat Pagi. Berikanlah kepada Allah apa yang menjadi hak Allah, apa itu? Semuanya! Semua yang kita miliki.

Salam Alkitab Untuk Semua

Apakah Yang Harus Kami Perbuat ?

title

(Lukas 3:7-18)
“Setelah menyesali, mengakui, dan bertobat dari dosa-dosaku selama ini, apakah yang harus aku perbuat selanjutnya? Bagaimana agar aku tidak tergoda melakukan dosa itu lagi? Haruskah aku mengurung diriku di dalam kamar dan menjauh dari lingkunganku? Atau haruskah aku pergi ke gunung dan hidup menyendiri di sana agar tidak ada lagi dosa yang dapat menggodaku? Mungkin… aku harus pergi meninggalkan dunia ini dan bertemu dengan Tuhanku agar dosa tidak dapat lagi berkuasa atas tubuhku.”

Dalam penjara yang gelap dan dingin, seorang pemberita Injil menuliskan surat kepada jemaat yang pernah dilayaninya. Ia berkata: “… tujuan hidup saya hanyalah Kristus! Kalaupun saya harus mati maka itulah sebuah keuntungan bagiku. Sebab saya ingin sekali meninggalkan dunia ini untuk pergi tinggal dengan Kristus, sebab itulah yang paling baik; tetapi, untuk kepentinganmu, adalah lebih baik kalau saya tetap tinggal di dunia.” Pemberita Injil itu adalah Paulus, Rasul Yesus Kristus (lih. Fil. 1:21-24, BIMK).
Setelah bertobat dan dibaptis, beberapa orang Yahudi, diantaranya adalah orang Farisi dan Saduki (Mat. 3:7), bertanya kepada Yohanes: “Jika demikian, apakah yang harus kami perbuat?” (10). Sebelumnya Yohanes berkata kepada mereka agar menunjukkan perbuatan-perbuatan sebagai seorang yang telah bertobat, dalam bentuk perubahan hidup. Ia berkata, “Jadi hasilkanlah buah-buah yang sesuai dengan pertobatan…”, karena keberadaan sebagai keturunan Abraham secara jasmani tidak memberikan jaminan bahwa mereka akan selamat. Kehidupan yang tidak berbuah, akan ditebang hingga ke akar-akarnya lalu dibuang ke dalam api. Dalam hal ini Allah menunjukkan keadilan-Nya dengan tidak pandang bulu. Menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya (10), Yohanes memberikan jawaban yang lebih praktis bagi mereka. Barang siapa yang mempunyai dua helai baju, haruslah membagikan kepada orang yang tidak mempunyai, begitu pun dengan makanan (11). Kepada pemungut cukai yang bertobat dan ingin dibaptis, Yohanes melarang mereka untuk menagih pajak melebihi dari seharusnya. Juga kepada para prajurit, ia melarang mereka merampas dan memeras orang lain, mereka harus mencukupkan diri dengan gaji yang mereka terima. Yohanes melanjutkan, Mesias yang mereka nanti-nantikan akan datang untuk memisahkan antara gandum dan sekam. Gandum adalah orang-orang yang mengikuti-Nya dan bertobat, sekam adalah mereka yang tidak mau bertobat dan terus melakukan kejahatan, dank arena itu mereka akan dihukum.

Pertobatan yang ditandai dengan baptisan adalah pintu untuk seseorang dapat hidup dalam pertobatan itu sendiri dengan menghasilkan buahnya. Menjawab pertanyaan tentang apa yang harus diperbuat setelah pertobatan dan baptisan itu, Yohanes tidak meminta mereka untuk melakukan askese (menjauhkan diri dari lingkungan sosial, melakukan pertapaan, dan menyiksa diri dengan puasa yang keras dan ketat) seperti yang dia lakukan dipadang gurun Yudea, melainkan meminta mereka tetap mengerjakan pekerjaan mereka yang semula, kembali kepada kehidupan sosial mereka bermasyarakat dan bekerja, sebagai guru dan pemimpin agama Yahudi, sebagai pemungut cukai, sebagai prajurit, dan sebagai apapun, tetapi dengan jiwa dan roh yang baru. Yaitu hati yang mengasihi sesama manusia yang ditunjukkan dengan kehidupan yang memberi bukan mengambil apalagi merampas, juga dengan penghormatan terhadap keberadaan, kehidupan, dan hak-hak yang melekat pada orang lain. Penghargaan terhadap kemanusiaan ini adalah juga bentuk tindakan penghormatan dan kasih kepada Allah (bnd. Mat. 22:39).
Pertobatan bukanlah langkah akhir, melainkan langkah awal untuk hidup dalam kehidupan yang baru. Seperti seorang yang diwisuda karena telah menyelesaikan pendidikannya, ia tidak berhenti pada prosesi upacara dan pengakuan sebagai seorang sarjana, melainkan melanjutkan kegiatannya dengan bekerja untuk menerapkan apa yang telah ia pelajari, membangun kehidupannya sendiri dan kehidupan masyarakat. Ia telah menjadi pribadi yang baru dengan pengetahuan dan keterampilan yang baru, yang siap untuk didayagunakan bagi kehidupan bersama, sambil terus belajar dan mengembangkan diri di dalamnya.

Dalam penantian kita akan kedatangan Kristus yang kedua kali, hendaklah kita berbuah-buah dalam kebaikan dengan mengerjakan keselamatan dan pertobatan yang telah Allah anugerahkan bagi kita, sama seperti yang juga dikerjakan oleh rasul Paulus, sehingga ketika saat dan masa itu tiba, kita seumpama bulir gandum yang telah bersih, yang dikumpulkan bersama dengan gandum lainnya, untuk dimasukkan ke dalam lumbung-Nya, yaitu Surga.

Tuhan, Engkau Adalah Gunung Batuku, Di dalam-Mu Ketakutan Dan Kekuatiran Tidak Akan Menyentuh Kami.

title

Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah (Mzm. 62:8)

Sebelumnya Yesus berada di Yudea tempat di mana dia menjelaskan tentang diri-Nya kepada beberapa orang Yahudi, di sana mereka hampir melempari-Nya dengan batu karena dianggap menghujat Allah. Kali ini Yesus ingin kembali lagi ke sana, ini jelas mendapat tentangan dari para murid-Nya. Ketakutan mereka sangat beralasan, orang-orang itu bisa kembali menyerang Yesus, mungkin dengan membawa massa yang lebih banyak, dan bukan hanya Yesus saja yang bisa menjadi korbannya, mereka juga. Menjawab ketakutan mereka, Yesus mengatakan bahwa jika mereka melakukan sesuatu yang benar dan berjalan dalam kehendak Tuhan maka mereka akan selalu berada dalam perlindungan Tuhan.

Sahabat Alkitab, rasa takut sebenarnya berguna bagi manusia untuk semakin memperlengkapi diri, juga rasa takut akan mendorong manusia untuk bergantung kepada kuasa yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri, yang ilahi, yaitu Tuhan. Namun jika ketakutan itu menjadi berlebihan, justru akan menggerus kepercayaan kepada Tuhan. Inilah yang terjadi pada para murid, sekalipun mereka selalu bersama-sama dengan Yesus, melihat mukjizat-Nya, namun tidak juga benar-benar percaya kepada-Nya. Tuhan seumpama gunung batu, itulah yang diungkapkan leh Daud. Di gunung batulah ia berlindung dari kejaran musuh, dan ia mendapatkan rasa aman. Marilah kita mengimani apa yang Yesus katakan "Orang yang berjalan di waktu siang, tidak tersandung sebab ia melihat terang dunia ini." Berjalan bersama Yesus dalam kebenaran-Nya akan menyelamatkan kita dari bahaya.

Selamat Beribadah. Marilah kita datang kepada Tuhan, tempat perlindungan kita yang teraman. Beribadahlah kepada-Nya dengan penuh syukur.

Salam Alkitab Untuk Semua

Natal LAI: Natal Berbagi

title

Dua minggu terakhir panitia natal LAI sibuk berbagi tugas untuk mengunjungi para pensiunan LAI, keluarga pendiri LAI, dan para mitra LAI di Jabodetabek. Semua ini sebagai ekspresi LAI untuk berbagi sukacita dengan para senior yang sudah berjasa dalam pelayanan dan kesaksian LAI.

Selain kunjungan, panitia juga melakukan Bakti Sosial ke Panti Asuhan/Rumah Singgah Kristen, Panti Werdha Kristen, dan Gereja kecil di Jabodetabek di bulan Desember ini. Tema “Mewujudkan Kepedulian Dengan Menyapa Sesama” diwujudnyatakan melalui perkunjungan-perkunjungan dan bakti sosial di atas.

Semua karyawan berpartisipasi secara nyata dalam berbagai bentuk fisik maupun non fisik sebagai penghayatan atas ucapan syukur Natal. Semua sudah merasakan diberi berkat olehNya, saatnya berbagi berkat. Siapapun sepakat bahwa “memberi lebih membahagiakan ketimbang diberi.” Berbagi sukacita adalah bagian dari memberi.

Semangat berbagi “keluar” sudah menjadi bagian dari pelayanan dan kesaksian LAI. Betapa tidak, tahun 2018 ini LAI sudah membagikan Alkitab dan bagian-bagiannya tidak kurang dari 140.000 exp. ke delapan wilayah pelosok Indonesia, dari Sumatera Utara sampai Papua. Termasuk berbagi untuk para korban bencana di beberapa tempat.

LAI juga berbagi pengetahuan Alkitab melalui program-program seminar, lokakarya, studi-studi, dialog, talkshow, lomba-lomba, paket wisata Alkitab dan Pembarantasan Buta Aksara/Pembaca Baru Alkitab (PBA). Semuanya dilakukan bersama mitra LAI, baik individu maupun lembaga.

Sesuai dengan mandat yang diberikan oleh negara maupun Gereja-gereja di Indonesia, LAI akan terus berbagi kasih sampai ke ujung bumi. LAI juga mengajak semua mitra untuk bersama-sama dalam arak-arakan berbagi kasih ini. Bila semua bersinergi dalam berbagi, maka “Alkitab untuk Semua” semakin terwujud di bumi ini.

Natal LAI sebagai momen untuk menyegarkan semangat berbagi di kalangan internal LAI. Dengan “Natal Berbagi” diharapkan menjadi pembeda dari Natal-natal yang lain yang diselenggarakan oleh Gereja masing-masing karyawan LAI. Dengan perbedaan ini, maka prosesi merayakan Natal 2018 di LAI diikuti dengan lebih bersemangat dan menggairahkan bagi semua keluarga LAI.

Untuk memberi dan berbagi, tidak harus menunggu kaya raya dulu. Bukankah memberi dalam keterbatasan sudah diteladankan oleh Alkitab? Mendoakan, mewartakan dan mendonasikan berkatNya adalah bentuk berbagi yang sangat riil.

Pada puncak perayaan Natal LAI yang akan diselenggarakan pada 11 Januari 2019, akan ada keunikan tersendiri yang menjadi “magnet” bagi siapapun yang akan diundang hadir. Mari hadir (bila diundang) dan menikmati suasana berbagi yang pasti akan sangat membahagiakan.

Oleh : Sigit Triyono (Sekum LAI)

Salam Alkitab Untuk Semua

Membaca Alkitab Di Pegunungan.

title

Banyak sudah Alkitab disebarkan ke pelosok negeri, tapi masih banyak umat yang tidak bisa baca tulis. Di pegunungan Wilayah Kabupaten Parigi Moutong Sulawesi Tengah adalah salah satunya.

Masih ada lebih kurang 5000 orang anak-anak usia sekolah dan orang tua yang buta aksara. Mereka rajin ke Gereja namun hanya bisa mendengar Firman dari kotbah Pendeta.

LAI bekerjasama dengan Gereja-gerejadi tiga Kecamatan: Tinombo, Palasa, dan Sidoan, Kab. parigi Moutong, menjawab tantangan ini dengan penyelenggaraan program literasi Pembaca Baru Alkitab (PBA = Pemberantasan Buta Aksara).

Hari ini 13/12/2018, di GKST Maranatha Tinombo, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah telah dilakukan pembukaan program PBA dan dilanjutkan pembekalan para Korwil dan Tutor sampai besok 14/12/2018.

Tim yang terlibat dalam pekerjaan ini membutuhkan mental baja, fisik prima dan kreativitas istimewa agar program yang akan diikuti 1.100 peserta bisa berhasil dalam waktu 11 bulan ke depan. Medan layanan yang bergunung-gunung, peserta yang sangat bervariasi usianya, dan fasilitas yang terbatas merupakan tantangan tersendiri.

Untuk menghadapi semua tantangan, maka ada empat hal yang harus dihayati para Koodinator Wilayah dan Tutor, yaitu:

Pertama, tugas ini adalah tugas dari Tuhan. Tidak semua orang diberi kepercayaan untuk mengerjakan pekerjaan Tuhan. Selayaknya kita harus serius dan tidak main-main dengan ini. Kalau menghadapi kesulitan, tidak perlu kecil hati karena Tuhan pasti menguatkan kita.

Kedua, kita semua yang menjadi Korwil dan Tutor sudah menyatakan kesediaan dan kesanggupannya untuk menjalankan tugas ini. Bukan karena paksaan dari siapapun, tapi karena kemauan kita sendiri. Untuk itu kita harus bertanggung jawab atas pilihan ini. Bila ada tantangan dan hambatan pasti semua tidak akan lari dari tanggung jawab.

Ketiga, yang akan kita ajar sesungguhnya anak-anak atau orang tua yang pintar. Buktinya, meski mereka belum bisa baca tulis, tapi mereka semua bisa membaca uang. Mereka tahu mana pecahan uang 100.000, 50.000, 20.000, dan pecahan lain. Berarti sesungguhnya mereka pintar, dan tidak ada alasan untuk pesimis mengajar mereka baca tulis.

Keempat, tugas pekerjaan ini adalah mengantar umat bertemu dengan Tuhan melalui membaca Alkitab. Selayakmya para Korwil dan Tutor membaca Alkitab lebih dulu sebelum mengajar peserta agar bisa bersama-sama memahami Alkitab.

Empat hal di atas saya sampaikan pada saat sessi pembekalan Korwil dan Tutor siang ini. Ketika saya bertanya apa yang akan di dapat oleh para Korwil dan Tutor? Pak Agus, salah seorang Tutor menjawab dengan yakin: "Kami akan diberkati dan menjadi berkat bagi banyak orang." Luar biasa.

Kita semua berdoa agar semakin banyak umat bertemu dengan Tuhan dan mengalami hidup baru sesudah membaca Alkitab.
Oleh Sigit Triyono (Sekum LAI)

Salam Akitab Untuk Semua

Tuhan, Engau Adalah Gembalaku Takan Kekurangan Aku.

title

Gembala yang baik tahu menjawab kebutuhan domba-dombanya, Ia bahkan menjawab kebutuhan yang tidak terucapkan.

Lazarus, Maria, dan Marta adalah tiga bersaudara yang tinggal di Betania, sebuah desa kcil yang berjarak kira-kira 3 km dari sebelah timur Yerusalem. Dalam bahasa Ibrani, nama Lazarus berarti "Allah menolong". Saat itu, Lazarus sedang sakit dan kedua saudara mereka tahu ke mana mereka harus meminta pertolongan. Mereka telah mengenal Yesus dan tahu tentang berbagai mukjizat yang telah dilakukan-Nya, juga tahu tentang kebaikan hati-Nya kepada orang-orang yang lemah, sakit, miskin, dan menderita. Karena itu mereka tidak ragu untuk datang meminta pertolongan kepada Yesus. Mereka memiliki pengharapan dan keyakinan yang besar bahwa Yesus akan menolong dan menyembuhkan Lazarus.

Sahabat Alkitab, dalam Mazmurnya (Mzm. 23), Daud menyapa TUHAN sebagai gembala, ia mengungkapkan bahwa TUHAN bukan hanya sekedar gembala tapi DIA adalah Gembala yang baik yang dalam provedensia-Nya domba-domba-Nya tidak akan berkekurangan, tidak akan pernah merasa tidak aman, tidak akan pernah tersesat. Karena itulah para domba bergantung sepenuhnya kepada Gembala yang baik itu. Maria dan Marta juga menggantungkan kesembuhan Lazarus kepada Yesus. Kebergantungan yang begitu besar seperti itu hanya terjadi bila ada kepercayaan yang besar. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita benar-benar menganggap Allah sebagai gembala hidup kita sehingga kita benar-benar berserah secara penuh dan bulat kepada-Nya? Kiranya tidak ada lagi keraguan sedikitpun dalam diri kita akan Allah. Harta kita boleh sedikit, penghasilan kita tidak seberapa, kekuatan kita mungkin merosot, tapi dalam pemeliharaan Gembala Agung kita akan selalu tenang dan damai.

Selamat Pagi. Sebagai Gembala, Allah telah teruji dari zaman ke zaman, dari generasi ke geneasi, tidak pernah mengecewakan sedikitpun. Percayalah!

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Kesabaran Adalah Salah Satu Kekuatan Yang Engkau Berikan Kepada Kami, Untuk Menghadapi Dunia Yang Bodoh Dan Tinggi Hati.

title

Kebenaran tetap harus dinyatakan apapun resikonya. Tugas kitalah untuk melakukannya.

Kedangkalan pengertian beberapa orang Yahudi akan hukum Taurat membuat mereka tidak mampu untuk mencerna apa yang Yesus katakan. Sekalipun hendak dirajam karena dianggap menghujat Allah, Yesus tetap menjelaskan kebenaran yang dipahami-Nya kepada mereka. Dengan mengutip dari Mazmur 82:6 BIMK, yang berbunyi: "Aku berkata bahwa kamu ilahi kamu sekalian anak-anak Allah Yang Maha Tinggi", Yesus meyakinkan mereka bahwa menyebut diri sebagai ilahi tidak bertentangan dengan Taurat, malahan Allah menganggap semua orang yang menerima firman-Nya sebagai ilahi yaitu anak-anak Allah. Yesus adalah Pilihan dan Utusan Allah, ia melakukan apa yang ditugaskan Allah kepada-Nya, dan itu menunjukkan bahwa Dia dan Allah Bapa adalah satu. Tetapi sekalipun sudah menjelaskan dengan sejelas-jelasnya, mereka tetap tidak mengerti dan percaya.

Sahabat Alkitab, ada begitu banyak hal yang dapat membuat manusia tidak bisa menerima kebenaran sekalipun itu telah terlihat nyata di depan mata kepala sendiri. Kebodohan, kedegilan, tinggi hati, keras hati, sebagai akibat dari dosa menjadi selubung bagi manusia sehingga baginya kebenaran itu begitu sulit untuk dipahami dan diterima. Yang lebih parah lagi, manusia menjadikan dirinya dan apa yang sedikit diketahuinya dengan tidak sempurna sebagai standar kebenaran. Standar kebenaran diri itulah yang ia pakai untuk melawan kebenaran yang absolut dari Allah. Belajar dari Yesus, kesabaran dan kasih kepada sesama manusia adalah kunci untuk tetap dapat memberitakan kebenaran sekalipun tertolak berkali-kali. Sama seperti Allah telah begitu sabar terhadap kita, menanti sampai kita berbalik kepada-Nya, maka demikianlah juga kita harus melakukannnya kepada sesama.

Selamat Pagi. Jika air saja dapat menghancukan kerasnya batu karang, maka selalu ada harapan untuk memenangkan sesama kita bagi Tuhan.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Tidak Ada Kepercayaan Diri Yang Lebih Menenangkan Dari Pada Kepercayaan Diri Bahwa Engkau Berpihak Kepada Kami.

title

Jika Allah dipihak kita, siapakah yang dapat melawan? Keyakinan ini hanya dapat dikatakan oleh siapa yang hidup berkenan kepada-Nya.

Perkataan Yesus benar-benar mengesalkan hati beberapa Yahudi yang mengikuti-Nya dan yang tadinya begitu penasaran mendengarkan pengakuan Yesus bahwa Dia adalah Mesias (Raja Penyelamat) sesuai dengan apa yang ada dalam pikiran dan harapan mereka. Namun yang Yesus katakan jauh melebihi ekspektasi mereka sehingga tidak dapat mereka jangkau sebab Yesus menyamakan diri-Nya dengan Allah dengan berkata "Aku dan Bapa adalah satu." Bagi mereka ini adalah bentuk penghujatan terhadap Allah, sebab bagi mereka Allah adalah Allah, tidak mungkin manusia menjadi Allah. Dan itu betul, sebab memang manusia tidak menjadi Allah. Orang-orang itu tidak memahami kebenaran yang tersembunyi bagi mereka karena kedegilan hati mereka, yaitu Allah yang menjadi Manusia. Yesus yang menyampaikan kebenaran tentu tahu bahwa Allah Bapa ada dipihak-Nya.

Sahabat Alkitab, orang yang paling malang adalah orang yang beridiri dalam sebuah kesalahan tetapi merasa sedang hidup dalam kebenaran, apalagi jika berpikir Allah akan membela kesalahan yang dianggapnya benar. Dalam pembacaan kita, Yesus begitu berani menghadapi orang-orang Yahudi yang mau melempari-Nya dengan batu sebab Ia tahu bahwa Ia benar dan Ia menyampaikan kebenaran yang memang harus disampaikan-Nya. Ia tahu bahwa Allah Bapa yang mengutus-Nya berada di pihak-Nya. Kita pun dapat menjadi begitu percaya diri untuk menghadapi orang-orang yang tidak menyenangi pribadi atau tindakan kita oleh karena melakukan kebenaran, kita percaya bahwa Allah ada dipihak kita.

Selamat Pagi. Jangan takut kepada manusia jika kita percaya Allah ada di pihak kita, dan ukurannya adalh firman Tuhan.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Berikanlah Kepada Kami Hati Yang Melimpah-limpah Dengan Iman, Sehingga Kami Menjadi Kekasih Yang Senantiasa Melekat Kepada-Mu.

title

Mempercayai apa yang berada di atas logika manusia, mempercayakan diri kepada kuasa yang melebihi kuasa manusia, terus percaya walau belum (tidak) melihat, dan tetap percaya sekalipun hanya sendiri. Itulah iman.

Beberapa orang Yahudi datang kepada Yesus dengan dipenuhi rasa penasaran dan keragu-raguan atas siapa Yesus. Mereka memang telah melihat dan mendengar Yesus melakukan beberapa mukjizat, namun bagi mereka itu belum cukup untuk menjawab apa yang mereka inginkan. Mereka meminta Yesus untuk mengatakan dengan jelas dan terang bahwa Dia adalah Sang Mesias yang mereka nanti-nantikan (Yesus memang belum pernah mengatakan secara terbuka kepada banyak orang bahwa Ia adalah Mesias hanya kepada perempuan Samaria dalam sebuah percakapan yang sangat pribadi (lih. Yoh. 4:26)). Kedatangan mereka hanya untuk memuaskan pikiran mereka yang dangkal dan tertutup, serta kebutaan hati mereka.

Sahabat Alkitab, iman kepada Yesus sebagai Penyelamat adalah anugerah dan kasih karunia dari Allah, yang Dia berikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tidak diberikan oleh dunia, dan tidak dapat kita temukan dengan pikiran kita, sekeras apapun kita mencarinya. Ada yang membaca begitu banyak buku dan Alkitab namun tidak juga menemukannya. Ada yang telah menerima begitu banyak tanda namun tetap tidak memilikinya. Karena iman adalah anugerah, maka mintalah itu kepada Sang Pemberi yaitu Allah, mintalah juga hati yang terbuka agar ketika Allah menyatakan diri-Nya kepada kita, kita dapat menerima-Nya dan menjadi percaya. Berbahagialah jika hari ini kita masuk ke dalam bagian dari orang-orang yang percaya kepada Yesus dan menantikan kedatangan-Nya kembali, karena kita mendapat kasih Allah. Allah akan menjaga iman itu tetap ada dalam hidup kita sampai kedatangan-Nya kembali.

Selamat Pagi. Jika hari ini Anda masih dipenuhi dengan keraguan akan Dia, mintalah dengan sungguh-sungguh iman kepada Allah, dan rasakan perbedaannya dalam hidup Anda.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Bagi Para Pemimpin Engkau Meneladankan Kerelaan Berkorban. Bukan Semangat Mencari Untung Dan Egois.

title

Yesus adalah teladan bagi kepemimpinan, kehambaan, dan pengorbanan yang terangkai menjadi satu kesatuan. Seperti itulah wajah kepemimpinan Kristen yang seharusnya.

Sekali lagi Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik, gembala adalah orang yang menggembalakan domba artinya memimpin domba-domba itu, dan di zaman itu beberapa gembala adalah pemilik dari domba itu sekaligus. Gembala dan pemilik domba adalah orang yang berhak untuk memperoleh keuntungan dari domba gembalaannya. Namun yang Yesus ajarkan bukan bagaimana memperoleh hak itu secara egois, melainkan bagaimana seorang gembala harus berkorban terlebih dahulu bagi domba-dombanya. Gembala harus menjamin keselamatan dombanya dari ancaman maut, yaitu dari serigala yang datang untuk memangsa. Ia harus menjadi orang yang selalu berdiri di depan kawanan domba untuk menghalau serigala, bahkan Ia harus rela terluka atau sekalipun mengorbankan nyawanya demi keselamatan kawanan domba itu.

Sahabat Alkitab, kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan hamba, dan tidak ada hamba yang tidak berkorban. Itulah teladan Kristus bagi kita, bagi setiap orang yang ingin menjadi pemimpin atas umat Tuhan. Analogi gembala domba adalah yang paling tepat untuk menggambarkan kepemimpinan Kristen. Seorang gembala rela untuk meninggalkan kenyamanan rumahnya untuk menikmati dinginnya udara malam demi menjaga dombanya - Ini tentang pengorbanan akan kenyamanan dan gaya hidup. Jika pemimpin Kristen berada dalam kenyamanan, kekayaan, dan kejaayaan sementara yang dipimpinnya berada di sisi sebaliknya, itu bukanlah pemimpin Kristen; Gembala selalu berjalan paling depan untuk menuntun dan membawa dombanya ke tempat yang aman untuk makan dan minum - Ini tentang kebutuhan hidup. Jika pemimpin Kristen hidup dalam berkelimpahan sementara yang dipimpinnya berada dalam kekurangan, itu bukanlah pemimpin Kristen. Jika domba dalam bahaya, ia akan ada di situ untuk melindungi hingga titik darah penghabisan - Ini tentang tanggung jawab melindugi. Jika pemimpin Kristen lebih sering cuci tangan dan melimpahkan kesalahan kepada yang dipimpinnya, itu juga bukanlah kepemimpinan Kristen. Tidak ada domba yang berkorban, gembalalah yang harus berkorban. Demikianlah teladan Kristus bagi kita semua. Jangan mengambil sistem kepemimpinan dunia lalu mnerapkannya dalam kepemimpinan Kristen, sebaliknyalah yang harus terjadi.

Selamat Pagi. Barangsiapa diantaramu ingin menjadi pemimpin, hendaklah dia menjadi pelayan bagi semua.

Salam Alkitab Untuk Semua