“engkau beroleh kasih karunia”

title

Lukas 1:26-38

Siapakah aku ini Tuhan?
Aku seperti binatang jalang,
tidak ada kesalehan pada diriku.
Aku kehilangan arah tujuan,
dan tak tahu ke mana ku kan pulang.
Aku mendaki naik ke gunung-Mu namun terjatuh aku,
terhempas hingga ke dasar bumi.
Tidak ada daya, harapan juga lenyap,
Hingga kulihat tangan Yang Kuat itu,
Meraih dan membawaku naik.
Dan kudengar suara-Nya berkata, “Kukasihi engkau.”

“Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Dalam keterkejutan, Maria tidak dapat berkata apa-apa mendengar salam dari malaikat Gabriel. Ia hanya dapat bertanya di dalam hati, “apakah arti salam itu?” Sebab di zaman itu, tidak pernah terdengar lagi malaikat Tuhan berbicara kepada manusia. Ketakutan jelas membayangi Maria, sebab siapakah manusia yang dapat tahan berdiri di hadapan hadirat Allah? Karena itu malaikat Gabriel sekali lagi berkata, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus…”

Perkataan malaikat melegakan hati Maria, ia tidak akan mati karena kehadiran malaikat itu, sebaliknya ia beroleh kasih karunia dari Allah.
Berita kelahiran Yesus adalah berita kasih karunia Allah yang begitu besar kepada manusia yang berdosa. Maria yang dalam naturnya sebagai manusia yang tidak sempurna menerima kasih karunia Allah untuk menjadi seorang ibu bagi Sang Juruselamat.
Kasih karunia Allah telah datang kepada segala makhluk, secara khusus kepada manusia yang telah tercemar oleh dosa dan tidak dapat menjangkau Allah dengan usaha apa pun. Allah seperti tangan yang kuat menjangkau manusia yang tidak lagi berdaya oleh karena dosanya, dan telah kehilangan harapan, namun kini beroleh pengharapan yang baru dan pasti di dalam Yesus Kristus.
Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi adalah berita kasih karunia Allah kepada manusia yang diberikan bukan karena kelayakan tetapi karena kemurahan hati Allah.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Kemanakah Aku Bisa Melarikan Diri, Bersembunyi Dan Mendapatkan Keamanan ? Hanya Kepada-Mu Ya Tuhan.

title

Hanya kepada kuasa yang tak terbatas kita beroleh perlindungan dari yang jahat.

Dari rapat para pemimpin agama lahirlah permufakatan jahat untuk menangkap dan membunuh Yesus. Yesus tahu itu dan karena itu untuk beberapa waktu lamanya, Dia tidak menampilkan diri di hadapan masyarakat umum Yahudi dan pergi ke kota Efraim dekat padang gurun. Apakah Yesus berniat melarikan diri dari salib yang jadi tujuan kedatangan-Nya? ataukah Dia takut menghadapi para pemimpin Yahudi itu? Untuk beberapa kesempatan Yesus berkata kepada orang-orang terdekat-Nya, seperti Maria ibunya dan para murid, bahwa waktu atau saat bagi-Nya belum tiba (lih. Yoh. 2:4; 7:6,8). Untuk segala sesuatu ada waktunya. Dalam sisi kemanusiaan Yesus tentu juga mengalami perasaan yang sama dengan manusia ketika diancam hendak dibunuh, seperti rasa cemas, khawatir, dan takut. Ia perlu mengambil waktu tenang bersama Bapa-Nya sebelum Ia tampil kembali untuk melaksanakan tujuan-Nya di kayu salib (bnd. Mat. 4:1-11; 26:36-46).

Sahabat Alkitab, kita menyadari bahwa tidak selalu kita berada pada kondisi terbaik dalam diri kita. Kadang kita mampu menghadapi tantangan yang berat, namun kadang juga masalah kecil justru membuat kita goyah. Setiap kita punya batasan diri yang berbeda-beda, dan pada saat mencapai titik terendah itulah kita baru benar-benar merasa membutuhkan pertolongan dari Tuhan. Tuhan mengizinkan itu terjadi agar kita tidak mengandalkan kekuatan sendiri tetapi selalu bersandar kepada-Nya. Dialah tempat perlindungan teraman, gunung batu keselamatan kita. Didekat-Nyalah kita akan mendapatkan kekuatan yang baru untuk menghadapi kerasnya dunia ini.

Selamat Beibadah. Berlarilah kepada Allah, kepada firman-Nya, jika berat tantangan yang menghadang di depanmu.

Salam Alkitab Untuk Semua

“… engkau beroleh kasih karunia”

Adven 4

title

Lukas 1:26-38

Siapakah aku ini Tuhan?
Aku seperti binatang jalang,
tidak ada kesalehan pada diriku.
Aku kehilangan arah tujuan,
dan tak tahu ke mana ku kan pulang.
Aku mendaki naik ke gunung-Mu namun terjatuh aku,
terhempas hingga ke dasar bumi.
Tidak ada daya, harapan juga lenyap,
Hingga kulihat tangan Yang Kuat itu,
Meraih dan membawaku naik.
Dan kudengar suara-Nya berkata, “Kukasihi engkau.”

“Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” Dalam keterkejutan, Maria tidak dapat berkata apa-apa mendengar salam dari malaikat Gabriel. Ia hanya dapat bertanya di dalam hati, “apakah arti salam itu?” Sebab di zaman itu, tidak pernah terdengar lagi malaikat Tuhan berbicara kepada manusia. Ketakutan jelas membayangi Maria, sebab siapakah manusia yang dapat tahan berdiri di hadapan hadirat Allah? Karena itu malaikat Gabriel sekali lagi berkata, “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus…”
Perkataan malaikat melegakan hati Maria, ia tidak akan mati karena kehadiran malaikat itu, sebaliknya ia beroleh kasih karunia dari Allah.
Berita kelahiran Yesus adalah berita kasih karunia Allah yang begitu besar kepada manusia yang berdosa. Maria yang dalam naturnya sebagai manusia yang tidak sempurna menerima kasih karunia Allah untuk menjadi seorang ibu bagi Sang Juruselamat.
Kasih karunia Allah telah datang kepada segala makhluk, secara khusus kepada manusia yang telah tercemar oleh dosa dan tidak dapat menjangkau Allah dengan usaha apa pun. Allah seperti tangan yang kuat menjangkau manusia yang tidak lagi berdaya oleh karena dosanya, dan telah kehilangan harapan, namun kini beroleh pengharapan yang baru dan pasti di dalam Yesus Kristus.
Yesus, Anak Allah Yang Mahatinggi adalah berita kasih karunia Allah kepada manusia yang diberikan bukan karena kelayakan tetapi karena kemurahan hati Allah. []

Tuhan, Hanya Orang-orang Yang Sudah Berhasil Mematikan Dirinya Sendiri Benar-benar Dapat Berjuang Untuk Orang Lain, Seperti Hamba- hamba-Mu Dan Engkau Sendiri.

title

Melakukan sesuatu untuk atau atas nama perbedaannya hanya terletak pada tujuan yaitu "Dia" atau "aku".

Orang-orang Farisi dan imam-imam kepala, yaitu mereka yang memegang peranan dan kepemimpinan dalam masyarakat Yahudi saat itu mengadakan rapat karena peristiwa yang sangat mencolok dilakukan oleh Yesus. Karena peristiwa mukjizat membangkitkan Lazarus dan juga karena mukjizat-mukjizat sebelumnya yang Yesus lakukan, banyak orang Yahudi yang menjadi percaya kepada-Nya dan mengikut Dia. Urgensi rapat itu adalah ketakutan akan semakin banyaknya pengikut Yesus yang mana sebagai akibatnya penguasa Roma akan menghancurkan Rumah Tuhan dan seluruh bangsa Yahudi. Pada dasarnya kekaisaran Roma tidak mencampuri hal yang berhubungan dengan peribadatan dan kepercayaan Yahudi, terkecuali Yesus dan pengikut-Nya bermaksud mengadakan pemberontakan, ini jelas tidak mungkin. Jadi alasan pertamalah yang paling tepat, sebab semakin banyak pengikut Yesus semakin sedikit orang yang mempercayai dan mengikuti mereka, maka semakin menurun juga pengaruh dan kekuasaan mereka di tengah masyarakat Yahudi.

Sahabat Alkitab, jika telah dikuasai oleh sifat tamak, kita akan menghalalkan segala sesuatu untuk memuaskan yang kita inginkan. Untuk menutupinya, terkadang kita mengatasnamakan hal-hal yang sifatnya rohani keagamaan atau sosial kemanusiaan. Kita memperalat apa saja asalkan semua yang kita mau terlaksana dan terpenuhi. Manusia lain bisa tidak melihat sifat tamak di balik semua yang kita lakukan demi agama atau demi kemanusiaan, tetapi Allah Mahamelihat. Sebelum kita dapat mematikan sifat tamak dan segala keakuan serta pementingan diri sendiri di dalam diri kita, maka apapun yang kita kerjakan akan selalu tercemar oleh sifat-sifat buruk itu, sehingga tidak ada lagi kemurnian dalam tindakan kita. Rasul Paulus berkata dalam Kolose 3:5 (BIMK), "... matikanlah keinginan-keinginan dunia yang merongrong dirimu..."

Selamat Pagi. Pada akhirnya Allah menilai motivasi yang murni dari segala kebaikan yang kita lakukan, jika murni akan dibuatnya semakin berkilau.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Engkau Tidak Mengumbar Mukjizat-Mu Secara Murahan. Berbahagialah Orang Yang Mendapat Anugerah Untuk Mengalami Dan Menyaksikannya.

title

Mukjizat adalah peristiwa ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia (KBBI). Allah mengadakannya agar orang-orang terpesona kepada-Nya lalu menyembah-Nya, bukan menyembah manusia.

Pertanyan mengenai mengapa Yesus datang terlambat dan tidak segera menolong Lazarus yang saat itu tengah sakit masih menjadi pertanyaan besar semua orang saat itu. Pikir mereka, "jika Yesus mengasihi Lazarus seperti yang Ia tunjukkan dengan kesedihan-Nya, mengapa Ia tidak datang segera dan mengadakan mukjizat kesembuhan sekali lagi? Toh, Ia sendiri mengaku berasal dari Allah, maka Ia pasti bisa melakukan mukjizat kapan saja Dia mau. Apa susahnya menyembuhkan orang sakit?" Dalam pikiran Yesus, Ia akan mengadakan mukjizat yang jauh lebih besar dari sebelumnya, sehigga orang-orang akan takjub dengan kuasa Allah, lalu menjadi percaya kepada-Nya. Sukacita dan ketakjuban akan jauh lebih besar dari orang mati yang bangkit daripada orang sakit yang disembuhkan.

Sahabat Alkitab, Allah adalah Ahlinya membuat decak kagum manusia, sejak semula manusia diciptakan tidak terhitung berapa kali Ia telah membuat manusia terpesona dengan keagungan dan kuasa-Nya. Mukjizat demi mukjizat Ia lakukan untuk menarik kita datang kepada-Nya. Ia tidak mengumbar itu dan membuatnya menjadi murahan, manusialah yang melakukannya. Kadang kita mencoba menebak bahwa Allah akan melakukan mukjizat dengan cara-cara yang ada dalam pikiran kita, atau dengan cara yang sudah pernah kita saksikan, tetapi tidak. Allah selalu punya cara yang baru. Ia melakukan sesuatu yang tidak pernah terpikirkan bagi kita, namun ketika itu datang maka sangat besarlah sukacita yang kita alami. Terpujilah Tuhan.

Selamat Pagi. Tetaplah berharap kepada Tuhan dan nikmatilah cara Dia bekerja dan melakukan mujizat demi mujizat dalam kehidupan kita.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Tidak Seharusnya Kami Kecewa Kepada-Mu. Karena Kami Tahu Bahwa Segala Rencana-Mu Adalah Bagi Kebaikan Kami Dan Kemuliaan Nama-Mu.

title

Manusia sangat berpotensi mengecewakan kita, tidak demikian dengan Allah.

Maria juga merasa kecewa dengan kedatangan Yesus yang dianggapnya terlambat. Saudaranya Lazarus telah mati dan telah empat hari lamanya berada dalam kuburan. Pikiran Maria sama dengan Marta, seandainya Yesus datang lebih awal saat Lazarus masih hidup, tentu nyawanya akan tertolong, tapi bagi Maria semua sudah sangat terlambat. Ia menunjukkan kesedihan hatinya yang dalam di hadapan Yesus, ini sekaligus menunjukkan kedekatan hubungannya dengan Yesus.

Sahabat Alkitab, kekecewaan yang ditunjukkan baik oleh Marta maupun Maria menunjukkan keterbatasan pengetahuan mereka akan siapa Yesus sebenarnya, sehingga menimbulkan keterbatasan iman mereka. Hari ini melalui Alkitab kita telah tahu bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allah, Dia adalah Yang Mahakuasa dan Yang Mahakasih. Pengetahuan itu harusnya membentuk iman kita menjadi begitu kokoh sehingga tidak ragu sedikitpun kepada Yesus. Dan percaya segala yang Ia kerjakan adalah baik adanya untuk kita, untuk semua orang, terutama bagi kemuliaan-Nya. Dalam mengekspresikan rasa kekecewaan kita entahkah kepada manusia karena keterbatasannya atau kepada Tuhan karena keterbatasan kita, janganlah sampai kita tenggelam dalam kekecewaan yang dalam apalagi jika jatuh ke dalam dosa.

Selamat Pagi. Kiranya kepercayaan kita kepada Allah semakin teguh, agar apapun yang kita alami tetap kita dapat berkata, "Tuhan itu baik bagiku."

Salam Alkitab Untuk Semua

Pelatihan Dasar Trauma Healing Bagi Korban Bencana Alam di Palu

Trauma Healing Palu

title

Hampir dua bulan setelah gempa bumi dan tsunami meluluhlantakkan Palu dan sekitarnya. Sambil membantu bahan kebutuhan pokok dan Alkitab bagi para warga jemaat yang menjadi pengungsi, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) merasa perlu menyiapkan para pendeta, pimpinan jemaat, dan para guru sekolah minggu untuk menjadi fasilitator “trauma healing” bagi para jemaat, baik orang dewasa dan anak-anak yang menjadi korban bencana alam tersebut.
Dalam mempersiapkan pelatihan tersebut, LAI, melalui Kantor Perwakilannya di Manado menggandeng para Mitra LAI di Palu untuk menyelenggarakan Pelatihan Dasar Trauma Healing yang digelar di Gereja Palu, 21-24 November 2018. Adapun 4 orang para fasilitatornya berasal dari Jakarta, lulusan pelatihan yang diadakan oleh LAI tahun lalu. Sehari sebelumnya para fasilitator mengunjungi dua daerah yang mengalami bencana. Pertama, Balaroa, terjadi liquifaksi, tanah bergeser, terbelah dan menelan ribuan rumah warga dan masih banyak korban/ jenasah yang tidak dapat dievakuasi. Kedua, Talase, daerah pinggir Pantai Tanjung tempat terjadi tsunami yang menyapu bersih daerah tersebut. Kunjungan ke daerah tersebut membuat fasilitator ikut merasakan yang dialami warga sehingga dalam penyampaian materi lebih mendarat, dan menyentuh.

Keesokan harinya kegiatan pelatihan yang diikuti oleh 38 orang ini dimulai pada pukul 08.30 WITA yang diawali doa bersama para fasilitator (dilakukan setiap hari). Pembukaan dilakukan oleh Wieske Gerung, Staf Kantor Perwakilan LAI Manado. Kemudian dilanjutkan dengan perkenalan dan penjelasan program Pelatihan Dasar Trauma Healing ini. Ada tiga sessi yang dilalui pada hari pertama ini; 1) Jika Allah Mengasihi Kita, Mengapa Kita Menderita?, 2) Menyembuhkan Hati Yang Terluka, 3) Perjalanan Dukacita. Keterbukaan peserta sudah kami rasakan sejak sessi Pertama, Jika Allah Mengasihi Kita. Mengapa kita menderita. Ada beberapa peserta yang sudah mengungkapkan pengalaman terluka yang tidak selalu dikaitkan dengan bencana yang dialami. Demikian juga pada sessi kedua, ketiga dan, kegiatan meratap dan mendengar. Kegiatan ini dilakukan sekaligus membuka ruang bagi peserta untuk memulihkan diri dengan bercerita dan melatih diri untuk dapat menolong rekannya pulih. Kegiatan pelatihan di hari pertama berlangsung sampai dengan pukul 17.00 WITA.

Hari kedua pelatihan dimulai pukul 08.00 dan ada empat sessi yang diberikan; 1) Melayani Anak-anak, 2) Pelayanan Bagi Hamba Tuhan, 3)Pengampunan, 4) Membawa Luka Pada Salib Yesus. Pada akhir kegiatan peserta diberi kesempatan untuk meratap dan berbagi pengalaman (latihan mendengarkan). Hari kedua pelatihan ini diakhiri sessi sekaligus kebaktian , dengan tema Membawa Luka pada Salib. Peserta diajak untuk mengingat kembali perjalanan luka mereka dan mengingat bahwa Yesus, yang di salib itu ikut menanggung luka, derita, dan dosa manusia. Kegiatan berakhir pada pk 16.30. Ada pengalaman fasilitator untuk mendampingi seorang ibu yang datang ke gereja usai kegiatan dan mencurahkan pengalaman kehilangan suami dan dua orang anak serta orangtuanya. Kesempatan mendengar dan mendoakan menjadi hal yang menggetarkan.

Hari Ketiga Pelatihan Dasar Trauma Healing dimulai pukul 08.00 dan diisi dengan satu sessi, Persiapan Menghadapi Bencana/ Merespon Krisis. Selebihnya diisi dengan Evaluasi, Umpan Balik dan penutup. Pada bagian evaluasi dapat dilihat bahwa peserta memahami apa yang mereka terima mulai dari sessi pertama sampai terakhir. Umpan balik ada beberapa harapan peserta untuk dapat menerapkan apa yang mereka terima, sekaligus harapan untuk dilaksanakan kegiatan lanjutan (lihat lampiran umpan balik). RTL, ada kelompok yang siap melakukan kelompok pemulihan di daerah pelayanannya. Ada juga yang harus menunggu hasil rapat dengan majelis. Para fasilitator mendorong peserta untuk melanjutkan apa yang mereka dapatkan mulai dari lingkup keluarga atau tetangga terdekat, menjadi sahabat yang sama-sama bangkit memulihkan trauma.
Kiranya apa yang dilakukan selama 3 hari ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita, khususnya mereka yang menjadi korban bencana alam di Palu dan sekitarnya ini. [Tim TH]

Cerita Dari Tenda Pengungsi

LAI Peduli Palu

title

Masih dalam gerakan LAI Peduli Palu, pada tahap II ini, 11-15 Desember 2018 ada 4,100 eksemplar Alkitab dan 10.700 eksemplar buku bacaan anak yang akan dibagikan ke tengah-tengah para pengungsi korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala, dan Sigi. Fokus pendistribusian bantuan pada tahap II ini dikonsentrasikan untuk para korban gempa bumi dan likuifaksi yang ada di kecamatan Kulawi.
Tanggal 11 Desember 2018, setiba di Bandara Mutiara, Palu, tim LAI, yang dipimpin oleh Bp. Sigit Triyono (Sekretaris Umum LAI) ke tenda-tenda pengungsi yang ada di desa Jono, Wisolo, dan Rogo, Kecamatan Sigi untuk mendistribusikan bantuan Alkitab dan Bagian-bagiannya kepada para pengungsi yang berasal dari berbagai denominasi gereja. Sejatinya bantuan akan langsung diserahkan kepada para pengungsi yang ada di ketiga desa di atas, namun karena keterbatasan waktu, tim LAI hanya dapat mendatangi desa Jono saja. Bantuan 140 eksemplar Alkitab untuk para pengungsi diserahkan untuk jemaat Bala Keselamatan (BK) dan diterima langsung oleh Pimpinan Jemaat Bala Keselamatan Jonojindi, Letnan Ferdinand dan 180 eksemplar bacaan untuk anak-anak diserahkan langsung kepada anak-anak pengungsi. Sedangkan bantuan 200 eksemplar Alkitab dan 250 eksemplar buku bacaan anak-anak untuk pengungsi di desa Rogo dan Wisolo diterima secara simbolis oleh Mayor Bambang.
Mengingat terbatasnya waktu (12-15 Desember 2018) bagi Tim LAI untuk mendistribusikan bantuan Alkitab dan bagian-bagian ke seluruh wilayah berdampak bencana yang tersebar di Palu, Dongala, dan Sigi, maka Tim LAI membagi diri menjadi 2 rombongan. Rombongan pertama terdiri dari Alpha Martyanta (LAI), Wati Runtuwene dan Jean Tacoh (KKPD LAI Mitra Palu), Pdt. Merry (Sinode Gereja Protestan Injili di Donggala/GPID) berfokus di wilayah Kabupaten Kulawi, dengan 3 titik lokasi pembagian, yaitu: para pengungsi d desa Salutome, desa Makuhi dan desa Buladangko. Rombongan kedua terdiri dari Ansye Wattimury (LAI Manado), Mayor Santy White (Pimpinan Koprs 1 Bala Keselamatan, Palu) difokuskan untuk membantu para pengungsi yang ada di wilayah Salua dan Siroa.

Yang direncanakan tidak sesuai dengan pelaksanaannya, rombongan Bp. Alpha dan kawan-kawan tidak dapat menuju ke wilayah Kulawi karena jalur menuju desa Salua diterjang banjir bandang, sehingga kendaraan harus antri berjam-jam. Akhirnya diputuskan kembali ke Palu dan pembagian untuk Kulawi akan dilaksanakan tanggal 15 Desember 2018.

Agar dapat tiba di Kulawi sebelum tengah hari, Tim LAI sejak subuh-subuh menyiapkan diri, mengingat ada proyek pengerjaan jalan yang menerapkan sistim buka-tutup jalan. Saat melewati desa Salua, yang beberapa hari lalu terjadi banjir bandang, masih terdapat material bebatuan dan bongkahan kayu-kayu yang terbawa arus di sisi kanan-kiri jalan. Akhirnya Tim LAI tiba di Kulawi pukul 09.00 pagi, dan langsung menuju ke desa Buladangko, di sini LAI menyerahkan 100 eksemplar Alkitab dan 350 bacaan anak-anak. Karena tim harus mengejar waktu sebelum jam 12.00 harus melewati lokasi buka-tutup jalan, maka tim LAI tidak dapat membagikan secara langsung Alkitab dan bacaan anak-anak kepada jemaat di desa Salutome dan desa Makuhi. Tim LAI menitipkan bantuan tersebut kepada jemaat GPID di desa Tangkolowi yang akan mengantarkan bantuan kepada jemaat di kedua desa tersebut.

Di samping itu tim LAI menyerahkan 300 eksemplar Alkitab dan 1.000 eksemplar bacaan anak-anak kepada para pengungsi yang berasal dari gereja Toraja, dan bantuan tersebut diserahkan secara simbolis dan diterima langsung oleh Pdt. Sila Pasili di kantor BPS Gereja Toraja wilayah VI. Tim LAI juga menyerahkan bantuan Alkitab dan bagian-bagiannya kepada pengungsi yang berasal dari GSJA, GMPU dan GPSI.

Perjalanan pendistribusian bantuan Alkitab Untuk Palu pada tahap II ini, memberi penegasan bahwa di samping kebutuhan jasmani berupa makanan, minuman, dan tempat tinggal, kebutuhan rohani pun perlu mendapat perhatian agar iman mereka dikuatkan dan pengharapannya ditumbuhkan, khususnya pada tahap pemulihan setelah bencana.

Sebelum bantuan tahap II ini dilaksanakan, bertempat di GPID Koinonia, Palu, LAI bekerjasama dengan The Trauma Healing Institute mengadakan pelatihan Trauma Healing kepada 35 relawan yang berasal dari berbagai denominasi gereja yang ada di Palu pada 22-24 November 2018.
“Kami sangat terpukul dengan keadaan yang ada, dalam waktu singkat kami kehilangan keluarga, rumah, gedung gereja dan saudara-saudara. Dengan kejadian ini kami juga dapat melihat bagaimana saudara seiman di luar Palu, bahu-membahu membantu kami, baik dalam bentuk bantuan Jasmani (dana, makanan, sandang dll) maupun dalam bentuk Rohani (Alkitab dan buku bacaan rohani). Ini sungguh menjadi kekuatan bagi kami untuk bangkit dan membangun kembali.” ungkap Pnt. Herda dari GPID Baludangko, Kulawi.
Rencana pada bulan Januari 2019 yang akan datang, LAI bersama-sama dengan mitra pendukung akan kembali mendistribusikan 3.000 eks Alkitab dan 2.000 eks Alkitab untuk Anak untuk para pengungsi yang ada di wilayah yang belum dapat dijangkau selama ini. Kami sangat mengharapkan dukungan dan doa dari Anda semua. Semoga Tuhan memberkati rencana ini. Salam Alkitab Untuk Semua.[AM]

Tuhan, Bagi Para Pemimpin Engkau Meneladankan Kerelaan Berkorban. Bukan Semangat Mencari Untung Dan Egois.

title

Yesus adalah teladan bagi kepemimpinan, kehambaan, dan pengorbanan yang terangkai menjadi satu kesatuan. Seperti itulah wajah kepemimpinan Kristen yang seharusnya.

Sekali lagi Yesus menggambarkan diri-Nya sebagai gembala yang baik, gembala adalah orang yang menggembalakan domba artinya memimpin domba-domba itu, dan di zaman itu beberapa gembala adalah pemilik dari domba itu sekaligus. Gembala dan pemilik domba adalah orang yang berhak untuk memperoleh keuntungan dari domba gembalaannya. Namun yang Yesus ajarkan bukan bagaimana memperoleh hak itu secara egois, melainkan bagaimana seorang gembala harus berkorban terlebih dahulu bagi domba-dombanya. Gembala harus menjamin keselamatan dombanya dari ancaman maut, yaitu dari serigala yang datang untuk memangsa. Ia harus menjadi orang yang selalu berdiri di depan kawanan domba untuk menghalau serigala, bahkan Ia harus rela terluka atau sekalipun mengorbankan nyawanya demi keselamatan kawanan domba itu.

Sahabat Alkitab, kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan hamba, dan tidak ada hamba yang tidak berkorban. Itulah teladan Kristus bagi kita, bagi setiap orang yang ingin menjadi pemimpin atas umat Tuhan. Analogi gembala domba adalah yang paling tepat untuk menggambarkan kepemimpinan Kristen. Seorang gembala rela untuk meninggalkan kenyamanan rumahnya untuk menikmati dinginnya udara malam demi menjaga dombanya - Ini tentang pengorbanan akan kenyamanan dan gaya hidup. Jika pemimpin Kristen berada dalam kenyamanan, kekayaan, dan kejaayaan sementara yang dipimpinnya berada di sisi sebaliknya, itu bukanlah pemimpin Kristen; Gembala selalu berjalan paling depan untuk menuntun dan membawa dombanya ke tempat yang aman untuk makan dan minum - Ini tentang kebutuhan hidup. Jika pemimpin Kristen hidup dalam berkelimpahan sementara yang dipimpinnya berada dalam kekurangan, itu bukanlah pemimpin Kristen. Jika domba dalam bahaya, ia akan ada di situ untuk melindungi hingga titik darah penghabisan - Ini tentang tanggung jawab melindugi. Jika pemimpin Kristen lebih sering cuci tangan dan melimpahkan kesalahan kepada yang dipimpinnya, itu juga bukanlah kepemimpinan Kristen. Tidak ada domba yang berkorban, gembalalah yang harus berkorban. Demikianlah teladan Kristus bagi kita semua. Jangan mengambil sistem kepemimpinan dunia lalu mnerapkannya dalam kepemimpinan Kristen, sebaliknyalah yang harus terjadi.

Selamat Pagi. Barangsiapa diantaramu ingin menjadi pemimpin, hendaklah dia menjadi pelayan bagi semua.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Manusia Mencari Kehidupan Yang Berlimpah Dengan Kenikmatan. Tetapi Yang Ada Pada-Mu Adalah Kehidupan Yang Melimpah-limpah Dengan Kebaikan

title

Hanya yang mempunyai yang dapat memberi. Yesus adalah sumber kehidupan dan segala yang baik, karena itu hanya Dia yang dapat memberikannya.

Yesus menjelaskan tentang perumpamaan yang telah disampaikan-Nya. Yang Yesus maksudkan sebagai pencuri adalah semua yang datang sebelum Dia, yaitu orang-orang yang menjadi pengajar Taurat kepada umat namun ajarannya justru menjauhkan mereka dari kasih karunia Allah. Sementara gembala domba adalah Yesus sendiri, melalui Dia domba-domba akan selamat dan mendapatkan makanan, mereka memiliki hidup dan memilikinya dalam kelimpahan. Kelimpahan yang digambarkan oleh Yohanes adalah tentang kehidupan rohani bukan berhubungan dengan materi.

Sahabat Alkitab, kepada kita domba-domba-Nya, Yesus Sang Gembala Agung menjanjikan kehidupan yang penuh kelimpahan. Dia adalah gembala yang baik, yang memberikan kepada kita rasa aman, Ia memberikan firman-Nya sebagai makanan bagi kehidupan rohani kita, Ia bahkan memberikan hidup-Nya untuk memberikan kepada kita keselamatan. Yesus tidak pernah menjanjikan kenikmatan hidup dunia kepada kita, malahan siapa yang ingin mengikuti_nya harus meninggalkan itu semua. Yesus tidak ingin kita menjadi terikat dengan kesenangan dunia, karena kita ini bukan berasal dari dunia melainkan dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Dunia ini memang menawarkan banyak kesenangan dan kenikmatan untuk kita, namun semua itu justru akan menjauhkan kita dari Allah dan merampas kehidupan kita. Yang dunia berikan adalah kenikmatan yang membawa maut. Tidak ada orang yang hidup dalam kenikmatan dunia yang akan memiliki hidup yang sejati.

Selamat Beribadah. Jika Allah adalah sumber hidup dan Ia telah memberikannya bagi kita, mengapakah kita mau melepaskan itu dan menggantinya dengan maut?

Salam Alkitab Untuk Semua