Orang Baik Akan Selalu Mendapat Tempat

Tidak pernah orang baik ditolak. Ia akan selalu diterima di mana saja ia datang.

Kebaikan hati Rut meluluhkan hati Naomi yang semula tidak ingin mengajaknya ke Israel. Naomi memandang bahwa kebaikan hati yang dimiliki Rut cukup untuk membuatnya juga diterima oleh orang-orang Israel, terutama keluarganya. Hanya orang yang bak hati yang mau ikut menderita dan mati bersama dengan orang yang ia kasihi.

Sahabat Alkitab, cobalah lihat dalam pergaulan kita, orang-orang baik akan selalu mendapat tempat terbaik di dalamnya. Ia akan menjadi orang yang paling disayangi dari semuanya. Kebaikan hati tidak bisa dipalsukan, karena dengan segera orang akan merasakan perbedaannya. Namun, kita bisa melatih diri untuk berbuat baik. Mulailah dari motivasi awal, ini akan memudahkan tindakan kebaikan itu terjadi.

Selamat Pagi, mari kita melakukan kebaikan kepada orang-orang di sekitar kita, dengan begitu kita dapat mengatakan kepada mereka bahwa Allah itu baik.

Pensiun

Banyak orang yang memasuki masa pensiun dengan rasa pesimis, kurang bergairah, ada rasa khawatir, dan memiliki gejala post power syndrome.

Tapi tidak bagi Ibu Heti Suherti (biasa dipanggil Ibu Herti) yang sudah bekerja selama 38 tahun di Percetakan Lembaga Alkitab Indonesia. Hari ini Ibu Herti secara resmi mengakhiri masa pengabdiannya dengan semangat dan sukacita. Dia masih sangat energik, banyak tertawa dan raut mukanya tidak menunjukkan gejala-gejala seperti yang digambarkan di awal tulisan ini.

Ibu Herti bekerja di LAI sejak tahun 1980 pada usia 16 tahun.  Pada 15 tahun pertama dia bekerja sebagai pembantu Offset Goss (tugas utamanya melakukan pemeliharaan mesin cetak). Selanjutnya dia bertugas di Penjilidan bagian tempel cover Alkitab selama 9 tahun. Berikutnya sebagai petugas koreksi II selama 1 tahun. Kemudian berpindah sebagai petugas Kapital Gasban selama 3 tahun. Terakhir selama 10 tahun Ibu Herti bertugas kembali di Penjilidan bagian tempel cover Alkitab. Rupanya Ibu ini memiliki keterampilan utama dan passion di bidang tempel cover Alkitab.

Siang tadi sebelum saya menyerahkan Surat Keputusan  Pensiun beserta semua hak-haknya, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Ibu Herti atas semua pengabdian yang luar biasa selama 38 tahun. Tidak ada catatan negatif sepanjang 38 tahun Ibu Herti bekerja. Loyalitasnya luar biasa. Catatan menonjol tentang dia yang diberikan kepada saya adalah: saat pertama masuk bekerja di LAI Ibu Herti masih gadis, dan saat ini dia sudah memiliki menantu serta sedang menunggu cucu pertama.

Saya juga menyampaikan bahwa Ibu Herti masih tetap menjadi keluarga LAI, hanya berpindah kamar saja. Sejak 38 tahun lalu sampai kemarin berada di kamar karyawan, mulai hari ini bergeser ke kamar Pensiunan LAI. Saya tekankan bahwa silaturahmi kita yang sudah baik selama ini harus tetap dijaga. Setidaknya kalau LAI mengadakan perayaan Natal Ibu Herti bisa hadir karena para pensiunan LAI selalu diundang untuk hadir.

Salah satu nilai dalam budaya kerja LAI adalah “Tepercaya”. Firman Tuhan yang melandasinya: “Saya senang sekali, sebab kalian dapat dipercayai dalam segala hal.” (2 Korintus 7:16, BIMK).

Tepercaya berarti memiliki integritas dalam segala aspek perilaku dan dapat dipercaya melaksanakan tugas serta tanggungjawab yang dijalankan dalam organisasi.  Tepercaya juga berarti menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran kristiani, etika maupun profesionalisme yang dilandasi kejujuran, keadilan, berani dan bertanggungjawab terhadap tugas serta hasil kerja.

Berdasarkan catatan yang ada, tidak berlebihan bila Ibu Herti dapat disebut sebagai karyawan yang berada dalam kelompok “Tepercaya”. 38 tahun adalah waktu yang tidak pendek. LAI percaya kepadanya dan Ibu Herti tetap percaya kepada LAI sampai masuk dalam masa pensiun.

Pada akhir pertemuan kami tadi siang secara khusus saya mendoakannya agar Tuhan selalu memberikan kesehatan, sukacita, damai sejahtera dan kebijaksanaan untuk menjalani kehidupan selanjutnya bersama keluarga, anak, menantu dan cucunya. Amin.

Salam Alkitab Untuk Semua

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Kadang Disana Memang Hanya Ada Tempat Untuk Satu Orang

Ini unik. Tidak ada tempat yang sama untuk lebih dari satu orang. Setiap orang menciptakan sejarahnya masing-masing.

Naomi memberikan pengertian kepada Rut dan Orpa jika mereka terus mengikutinya hingga sampai ke Israel mungkin mereka berdua akan kehilangan kesempatan untuk menikah lagi. Karenanya Orpa memilih untuk pergi tetapi Rut bersikeras untuk tetap bersama dengan Naomi. Akibat yang akan datang dari keputusannya, Rut beroleh kehidupan yang baru bersama dengan Boas.

Sahabat Alkitab, ceritanya akan menjadi berbeda jika Orpa juga ikut pulang bersama-sama dengan Naomi dan Rut. Orpa memilih untuk pergi menemukan kehidupannya sendiri, tidak ada yang salah dengan keputusannya, sebab setiap orang berhak dan bebas untuk memilih. Namun pilihan Rut untuk bersama Naomi memberikan dia tempat yang berbeda, dia menjadi bagian dari sejarah bangsa Israel, dari padanya raja-raja Israel dilahirkan, dan menjadi nenek moyang Yesus Kristus. Allah telah menetapkan satu tempat yang diperuntukkan bagi Rut.

Selamat Pagi, apa yang kita putuskan hari ini menentukan tempat kita di hari esok. Pilihlah yang terbaik, sebab hanya ada satu tempat untuk satu orang.

Ke Digoel Kami ‘kan Kembali

 

Hidup ini adalah kesempatan

Hidup ini untuk melayani Tuhan

Jangan sia-siakan apa yang Tuhan b’ri

Hidup ini harus jadi berkat

 

Lagu yang sedang ngetop ini lamat-lamat mengalun di speedboat yang sedang melaju di Sungai Digoel, sungai terpanjang di Papua dan salah satu di Indonesia. Mengalir ke arah selatan sepanjang 546 km dari hulunya di Pegunungan Jayawijaya, sungai ini memiliki sejumlah kali kecil dan melewati Kabupaten Jayawijaya, Puncak Jaya, Yahukimo, Bintang, Asmat, Mappi, Boven Digoel dan Merauke, sebelum akhirnya bermuara di Laut Arafura.  Sudah dua hari tim LAI berada di Mangga Tiga, salah satu kampung di Distrik Manggelum, Kabupaten Boven Digoel. Kami ingin memastikan bahwa kelompok-kelompok Pembaca Baru Alkitab (PBA) segera dimulai.

PBA itu sendiri adalah program baca tulis berbahan Alkitab bagi buta aksara. LAI menyelenggarakannya sebagai bagian dari cita-cita “Alkitab untuk semua”. Sederhananya, sebelum mereka memiliki Alkitab, kami memberi pelatihan membaca dan menulis. Dengan harapan, mereka akan membaca Alkitab dan pada gilirannya, keterampilan literasi akan menolong mereka dalam kehidupan sehari-hari. Pelatihan bagi tutor yang akan mengajar dan koordinator wilayah yang akan memonitor proses belajar telah terlaksana pada 1-3 Februari 2018. Program ini akan diselenggarakan di Distrik (Kecamatan) Manggelum dan Kombay. Itu sebabnya kami berada di Manggelum.

Hari itu, 8 Februari 2018, akan menjadi hari yang panjang. Pukul 08.00 kami seharusnya sudah akan berangkat ke Bayanggop, kampung di ujung Manggelum, juga ujung dari Kabupaten Boven Digoel. Keberangkatan ditunda karena harus mengajar anak-anak yang telah menunggu tutor dengan antusias. Jumlah mereka lebih banyak dari hari sebelumnya. Sebelum pelajaran dimulai, dengan gembira mereka menyanyikan lagu-lagu yang baru diajarkan sehari sebelumnya. Sambil menggoyangkan badan dan mata berbinar, Baca Kitab Suci, Saya Bukan Pasukan Berjalan, Bapa Abraham, menyeruak di gedung sekolah SD yang sudah beberapa bulan tidak dipakai. Bangunan dalam SD yang sebelumnya tampak muram karena beberapa bangku dan meja rusak, kini sumringah dengan keriangan anak-anak.

Ibu Neila mampu membuat wajah anak-anak di Manggelum kembali ceria

Namun, kami harus bergegas ke Bayanggop. Anak-anak ini ditinggal bersama Sdr. Lukas Mariyanto, staf LAI yang ditugaskan khusus di Boven Digoel, dan seorang tutor yang akhirnya bergabung. Dengan Sdr. Fredrik Talo Goro, jam 10.00 kami berangkat menuju Bayanggop karena sudah sepakat untuk bertemu dengan para tutor dan koordinator wilayah di sana. Semalam hujan sehingga sungai banjir dan ini membantu kami tiba di Bayanggop dengan speedboat dalam waktu dua jam saja.

Kampung Bayanggop

Tidak seperti biasanya, tidak banyak yang menyambut kami di Pelabuhan Bayanggop. Rupanya banyak penduduk kampung sedang di Tanah Merah (ibukota Kabupaten Boven Digoel) atau di dusun (lokasi kebun-kebun mereka).

“Tidak ada orang, ibu,” kata seorang tua. “Orang (usia) tua saja dan anak-anak. Dan orang sakit,” tambahnya lagi.

“Kalau begitu kami mau ke gereja saja,” kata saya.

“Kunci gereja tidak ada. Majelis juga tidak ada.”

“Kalau sekolah?” tanya saya lagi.

“Itu bisa, tidak dikunci.”

“Tidak ada (kegiatan di) sekolah. Sudah lama tidak ada. Tidak ada guru to”, tambahnya lagi.

Gereja di Bayanggop

Kami pun menuju sekolah, salah satu calon lokasi belajar kelompok PBA. Karena tidak dipakai maka pelajaran akan berlangsung di pagi hari, baik untuk orang tua maupun anak-anak. Malam hari tidak mungkin belajar karena listrik hanya berasal dari genset. Kalau ada yang bersedia menanggung ongkos “minyak“ (BBM) maka listrik akan menyala untuk seluruh kampung. Tidak ada yang namanya dinyalakan untuk satu atau beberapa rumah saja. Dari sekolah kami menelusuri kampung itu yang adalah pemukiman yang dibangun oleh pemerintah, sehingga praktis seluruh penduduk kampung tinggal dengan jarak yang saling terjangkau satu sama lain. Saat itu, Bayanggop memang sepi dan sunyi. Tidak ada mama-mama (ibu-ibu) yang duduk di pintu rumah, atau bapak-bapak yang asyik mengobrol. Sementara langit begitu biru dan indah, dan di daratan tanaman cabe berbuah lebat, ubi jalar merambat tak malu-malu, dan kangkung tumbuh di berbagai tempat, juga gedi merah yang dibawa dari Papua Nugini (orang di sini biasanya berjalan kami saling mengunjungi dengan kerabat mereka di sana).

Bayanggop pun kami tinggalkan. Di tengah jalan, sebuah long boat mendekat ke arah kami dan orang-orang di dalamnya melambai-lambai. Ternyata mereka adalah tutor dan koordinator wilayah yang mustinya bertemu kami. Sambil minta maaf mereka berjanji kelompok-kelompok Bayanggop akan segera mulai (dan benar demikian). Untuk memastikannya, Sdr. Fredrik akan menemui mereka minggu berikutnya.

Perjalanan ke Mangga Tiga dilanjutkan kembali dan berlangsung lancar. Kami mendarat di perbatasan kampung Kewam dan Manggelum (ibukota distrik). Dua kampung ini bersama Mangga Tiga terletak saling berdekatan. Hanya terpisah oleh sebuah kali kecil. Ada kelompok dewasa yang akan mulai belajar siang itu di Kewam. Sambil menunggu mereka datang, kami berbincang dengan yang sudah hadir. Menurut perkiraan kami, mama-mama ini rata-rata berumur 20-30- tahun. Rata-rata mereka 4 – 6 anak, dan minimal satu di antaranya meninggal. Alasannya: “Karena swanggi datang ambil, saya ada pi (sedang) cuci baju di sungai.” Swanggi tampaknya menjadi alasan untuk banyak hal yang tak bisa mereka jelaskan.

mama-mama sebagai warga belajar tengah memperhatikan penjelasan tutor

Di antara mama-mama ini, ada yang pernah sekolah sampai kelas I-III SD, ada yang tidak sama sekali. Kenapa berhenti atau tidak sekolah, alasannya hampir mirip satu sama lain. Tidak ada guru yang rutin mengajar jadinya malas untuk sekolah. Namun, menurut pengakuan mereka sekarang mereka ingin belajar. “Pace-pace (bapak-bapak) su kasih daftar kami (sudah mendaftarkan mereka)”, katanya berbarengan. Alasannya ingin belajar:

“Sa (saya) mau menyanyi Mazmur”

“Sa mau baca Alkitab”

“Sa mau pake HP to” (sejak Desember 2017 sudah ada sinyal seluler di sana).

Sekitar pukul 15.30 WIT, kelompok Kewam mulai belajar dipimpin tutor Mama Yohana. Mereka mengawalinya dengan pelajaran tentang huruf. Beberapa masih ingat huruf-huruf vokal dan konsonan tertentu, seperti b, k, m, dan p. Sambil belajar, ada yang membawa dua anak. Satu digendong sambil disusui, satu lagi balita yang terus merengek ingin juga punya buku tulis. Kami berusaha tidak tampak terganggu. Lebih baik mereka datang sambil membawa anak, daripada tidak datang sama sekali. Rengekannya berhenti setelah mendapat buku tulis dan buku bergambar. Dengan semua keributan itu, mama-mama ini tetap belajar dengan antusias. Sama sekali tidak tampak terganggu,  membuat hati saya terharu dan membatin semoga mereka tak putus asa di tengah jalan. Mengajari orang tua jauh lebih tidak mudah dibanding anak-anak. Bukan hanya daya tangkap yang berkurang, tapi terutama waktu mereka untuk mengulang pelajaran di rumah sering tidak tersedia. Setelah bersama mereka selama hampir 2 jam, kami pun pamit karena harus segera bersiap kembali ke Tanah Merah, ibukota Kabupaten Boven Digoel.  Rencananya, besok siang akan langsung terbang ke Merauke dan kembali ke Jakarta hari berikutnya lagi.

Supaya rencana itu bisa terwujud, waktu perjalanan dari Mangga Tiga ke Tanah Merah harus dipersingkat. Jadi, kami berencana langsung jalan sore itu juga dan beristirahat di Kouh, salah satu distrik tua di Boven Digoel. Ini akan mempersingkat perjalanan besok paginya ke Tanah Merah, yang dapat dicapai sekitar 3 jam dari Kouh. Eloknya, masih akan tersedia cukup waktu memesan tiket untuk penerbangan ke Merauke yang berangkat sekitar pkl. 13.00 WIT. Kalau baru besok paginya berangkat dari Mangga Tiga maka akan tiba di Tanah Merah siang bahkan sore. Tidak akan dapat mengejar penerbangan ke Merauke.  Lebih parah lagi kalau tiba sore, kami mungkin bisa menumpang mobil travel, tapi dengan menyewa seluruh mobil. Itu pun kalau masih ada mobil yang tersedia. Sementara, jika langsung ke Tanah Merah malam itu juga maka akan sangat melelahkan. Kami tetap harus beristirahat dan jalan malam itu lalu beristirahat di Kouh adalah rencana yang ideal. Kami dapat tiba di Jakarta Sabtu, 10 Februari 2018 siang.

Persoalannya, selama ini pengemudi speed boat biasanya tidak pernah bersedia jalan malam karena berbahaya. Banyak kayu hanyut, yang dapat menjungkirkan speedboat, apalagi saat itu sungai sedang banjir. Namun, jurumudi kami hanya berkata, “Dari (terserah) ibu saja”. Akhirnya, setelah berdoa, dengan hati mantap kami pun menuju Tanah Merah. Saat itu,  di speedboat hanya ada Lukas, Adittria Setiawan, jurumudi, dan saya. Biasanya ada asisten jurumudi tapi kali ini tidak.

Tak dinyana, di tengah jalan, oli habis, dan harus membelinya di Kampung Biwage 1, salah satu kampung tempat biasanya orang menginap dalam perjalanan dari dan ke Tanah Merah.  Tak heran, orang-orang di pelabuhan berkata: “Menginap (di) sini sudah, ibu. Besok pagi baru jalan lagi.” Wah, itu berarti bakal menambah waktu perjalanan besoknya. Kami tidak punya kemewahan itu. Setelah dijelaskan, mereka dapat memahami rencana kami dan melepas kami dengan: “Jalan baik ibu. Minyak dan oli su (sudah) cukup sampai Tanah Merah.” Sekitar pukul 21.00 WIT, kami pun kembali mengarungi Sungai Digoel.

Tujuannya masih Kouh. Laju speed boat telah dikurangi demi keamanan. Sepanjang jalan, Lukas dan Adittria bergantian duduk di ujung depan speed boat, memegang senter untuk a.l. memberi kode bagi jurumudi jika ada kayu hanyut, terutama yang besar-besar, sambil memberi penerangan seadanya. Menabrak kayu besar amat berbahaya karena dapat membalikkan speedboat atau melubangi fibernya. Syukurlah, dengan penerangan terbatas ternyata tidak ada satu pun kayu yang kami tabrak. Padahal, bahkan di siang hari pun dengan asisten berpengalaman, menabrak kayu kerap terjadi. Di tengah jalan, hujan datang mengguyur cukup deras.

Waktu kini telah menunjukkan pukul 00.30 WIT. Hujan telah berhenti, walau langit masih kelam, sekelam lingkungan sekitar kami, dan bintang tak kunjung muncul. Hampir tidak ada yang bisa menjadi penanda tentang kami kini berada di mana. Bagi saya yang sudah beberapa kali melewati Digoel, perjalanan kami mulai tampak mengkhawatirkan. Sudah 3,5 jam sejak dari Biwage 1. Mestinya kami sudah mendekati bahkan tiba di Kouh. Apalagi sungai sedang banjir dan ini membantu speedboat bergerak mengikuti arus walau dengan kecepatan rendah.  “Ada yang tidak beres“, pikir saya. Saat itulah berawal alunan „Hidup ini adalah kesempatan.” Ketika speedboat kami terantuk batu-batu dan air tampak tidak mengalir, padahal sungai sedang banjir maka lagu-lagu Kidung Jemaat, Nyanyikanlah Nyanyian Baru, dan lagu-lagu lain silih berganti terdengar, dibarengi Mazmur-mazmur serta doa-doa. Mungkin semua koleksi lagu rohani yang saya ketahui sudah dinyanyikan demi menguatkan kami di kegelapan dan ketenangan mencekam Sungai Digoel.

Sekitar pukul 02.30 pagi, tampak cahaya lampu di kejauhan. “Itu Kouh kah?” tanya saya dengan penuh harap. Tak terdengar jawaban selama beberapa detik yang terasa bagai beberapa jam. “Itu sudah”, kata jurumudi kami mantap. Akhirnya! Pelabuhan Kouh menyambut kami dengan cahaya samar-samar dan seadanya.  Masih diperlukan perjuangan untuk mencari tempat menyandarkan speedboat dan naik ke daratan karena air sedang pasang, tapi kami sudah di Kouh!

Malam itu, atau lebih tepat subuh itu, kami menginap di penginapan milik seorang perantau dari Karo. Sederhana tapi terasa menenangkan. Tidur di lantai beralas karpet, tapi tokh masih beratap sehingga terlindungi dari hujan dan angin. Segera kami mengganti baju yang sudah kuyup oleh air hujan, dan membuka bekal makanan kami. Nasi dingin dan daging babi asap terasa begitu nikmat. Saya sebetulnya tidak lapar, tapi amat paham bahwa nutrisi diperlukan agar tidak disambangi malaria. Diet keto (mengurangi asupan karbohidrat) atau diet apapun yang dilakukan orang di Jakarta, tidak akan menolong menghadapi malaria. Setelah beberapa kali ke Manggelum dan Kombay, saya berkesimpulan, untuk mencegah malaria yang mengintai hampir di setiap sudut distrik ini, saya harus makan dengan nutrisi cukup dan dalam porsi yang lebih dari yang biasanya. Sekarang kami telah kenyang dan sudah memakai baju kering. Kini saatnya tidur. Empat orang di ruangan dan karpet yang sama.

Pelabuhan Kouh ketika air sungati Digoel surut

Paginya, 9 Februari 2018, pukul 08.00, kami menuju Tanah Merah dengan speedboat yang sama, dan tiba menjelang pukul 11.00 WIT. Sekitar 30 menit sebelum pelabuhan, sudah ada jaringan telepon, saya pun mengirim SMS memesan tiket ke pengemudi mobil rental yang biasa kami pakai. Syukurlah masih tersedia. Pak Made, begitu namanya, menjemput kami di pelabuhan, mengambil tiket, mampir menitip barang saya di rumah Pdt. Daniel Iha, dan langsung menuju bandara.  Pukul 14.00 WIT hari yang sama kami sudah terbang menuju Merauke. Lusanya, 10 Februari 2018 pagi, dari Merauke kami kembali ke Jakarta dan tiba pukul 12.30 WIB. Dua hari waktu perjalanan kembali ke Jakarta dapat terpangkas karena keputusan meninggalkan Mangga Tiga pada 8 Februari menjelang malam.

Kini, menuju Merauke dengan pesawat, tampak Sungai Digoel berkelak-kelok indah dengan banyak hamparan kehijauan di kedua sisinya. Dan lagu-lagu yang dinyanyikan di sungai itu semalam kembali terngiang jelas di telinga saya. Sungguh, lagu adalah (salah satu) cara Tuhan melawat dan merawat umatnya. Kami merasakan itu. Tentu tak hanya lagu, Mazmur 121 yang juga bisa dinyanyikan masih tak kalah jelasnya:

Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung

Dari manakah akan datang pertolonganku

Pertolonganku ialah dari TUHAN

yang menjadikan langit dan bumi

Ia takkan membiarkan kakumu goyah,

Penjagamu tidak akan terlelap

Seperti para peziarah Yerusalem mendaraskan Mazmur 121 di sepanjang jalan dan itu memberi kekuatan bagi perjalanan mereka, kami pun merasakannya di sungai dan kali-kali di Digoel (agaknya kami sempat terbawa arus ke salah satu kali yang menyebabkan waktu perjalanan ke Kouh lama). Sungai Digoel sudah kami alami di waktu siang, pun di waktu malam. Selain, keindahan yang melahirkan ucapan syukur, rasa takut dan gentar pun tetap ada. Namun, seperti para peziarah Yerusalem dikuatkan dalam perjalanan mereka, kami pun merasakan demikian; bahwa kasih sayang dan penyertaan TUHAN ada di setiap langkah kami, di debur sungai dan kali yang kami arungi, juga di hutan-hutan yang kelak akan kami susuri. Dia yang menolong kami tidak pernah terlelap. Dan seperti para peziarah yang tak kunjung lelah datang ke Bait Allah di Yerusalem, demi umat TUHAN di Manggelum dan Kombay, ke Digoel kami pun masih kan kembali.

 

Neila Henoch-Mamahit

Bukan Hal Tabu Untuk Berubah

Semua orang pernah keliru dan salah jalan, karena itu jangan malu untuk kembali agar tidak semakin tersesat jauh.

Elimelekh dan Naomi pernah disilaukan oleh kelimpahan Moab hingga meninggalkan tanah perjanjian yang telah ditetapkan oleh Allah agar mereka tinggal di sana. Setelah semua yang terjadi dan ia mendengar bahwa TUHAN telah memberkati Israel, pulanglah ia dengan tidak ingin mengajak kedua menantunya. Ia mungkin malu jika harus menerima cemooh orang Israel di depan mereka.

Sahabat Alkitab, adakah di antara kita yang sama sekali tidak pernah berbuat salah? Jika kita semua pernah bersalah dalam banyak hal, lantas mengapakah kita cenderung menghakimi mereka yang bersalah? Atau, mengapakah kita malu jika harus mengakui bahwa kita bersalah? Apapaun yang ada dalam diri kita yang menghalangi orang lain atau diri kita sendiri untuk berubah, buanglah itu jauh-jauh. Berubah bukanlah hal yang tabu atau memalukan, itu hal yang sangat baik dan dirindukan Tuhan.

Selamat Pagi. Mari berubah oleh pembaharuan budi sehingga kita tahu manakah kehendak Allah, yang baik dan yang sempurna.

Salam Alkitab Untuk Semua

Hidup Manusia Adalah Perjalanan Panjang Kembali Kepada Allah

Debu kembali menjadi debu, roh akan kembali kepada Allah.

Walau hanya lima ayat, tapi ini adalah perjalanan lebih dari sepuluh tahun bagi Naomi, dan keluarganya. Banyak hal mereka telah alami; menderita kelaparan di tanah perjanjian lalu hidup berkelimpahan di negeri asing. Hidup ditemani suami dan anak-anak, hingga hidup menjanda bersama kedua menantunya yang juga sama dengannya. Naomi telah mengalami pahit manisnya perjuangan, dan telah kenyang dengan asam garam kehidupan.

Sahabat Alkitab, kehidupan yang kita jalani adalah sebuah perjalanan panjang yang berujung pada Allah. Segala upaya dan karya yang kita hasilkan bermuara kepada Allah, apakah memuliakan-Nya atau menghina-Nya. Demikian juga dengan tubuh kita ini akan kembali menjadi butiran debu tak berarti. Roh kita yang asalnya dari Allah juga akan kembali kepada-Nya, ke dalam hangat kasih-Nya atau ke dalam panas amarah-Nya.

Selamat Beribadah. Jika segala sesuatunya akan berujung kepada Allah, lantas mengapakah kita masih terbuai dengan fatamorgana dunia ini? Berjalanlah kembali kepada Allah.

Aku Telah Melihat Kebangkitan-Nya

Malaikat itu berkata kepada wanita-wanita itu, “Janganlah takut! Aku tahu kalian mencari Yesus yang sudah disalibkan itu. Ia tidak ada di sini. Ia sudah bangkit seperti yang sudah dikatakan-Nya dahulu. Mari lihat tempatnya Ia dibaringkan. Sekarang, pergilah cepat-cepat, beritahukan kepada pengikut-pengikut-Nya, ‘Ia sudah bangkit, dan sekarang Ia pergi lebih dahulu dari kalian ke Galilea. Di sana kalian akan melihat Dia!’ Ingatlah apa yang sudah kukatakan kepadamu.”

(Matius 28:5-7)

Pagi-pagi benar, aku dan Maria Ibu Yakobus, juga Salome pergi menjenguk ke kubur guru. Kami ingin membalurinya dengan rempah-rempah dan minyak, sebab saat Ia hendak dikuburkan, kami sama sekali tidak bisa melakukannya karena sebentar lagi memasuki hari Sabat.

Dalam perjalanan ke sana, terjadi gempa bumi yang cukup hebat. Kami pun bergegas, mempercepat langkah kaki ke sana, pikirku, Jangan-jangan terjadi sesuatu dengan kubur Yesus karena gempa yang hebat itu. Benar sekali, dari kejauhan ada yang tampak aneh, batu penutup kubur telah terguling, kubur itu terbuka. Hatiku semakin was-was, semakin kucepatkan langkahku, dan betapa terkejutnya aku ketika menengok ke dalam, tubuh Yesus tidak ada lagi. Hatiku sangat sedih, tidak cukupkah penderitaan yang guru alami, hingga matinya pun ada orang yang mengambil jasad-Nya. Segera kami berlari pulang dan memberitahukan ini kepada murid-murid yang lain.

Aku kembali lagi ke kubur itu, kali ini bersama Petrus dan beberapa murid lainnya. Kami mencari di dalam dan di luar kuburan itu, tetapi tidak juga kami menemukan jasad-Nya. Siapakah yang tega mencuri jasad guru kami? Petrus dan yang lainnya pergi menyampaikan kepada semua murid tentang hilangnya jasad guru. Hanya aku yang tinggal sendiri, berdiri di depan kuburan itu. Dalam kebingungan dan kesedihanku, aku mendengar suara yang menyapaku, Ibu, mengapa menangis? Lalu aku berkata, Tuhan saya sudah diambil, dan saya tidak tahu Ia ditaruh di mana. Saat itu, aku benar-benar tidak mengenali suara itu, mungkin itu adalah tukang kebun yang berjaga di situ. Lalu aku berkata lagi kepadanya, Pak, kalau Bapak yang memindahkan Dia dari sini, tolong katakan kepada saya di mana Bapak menaruh Dia, supaya saya dapat mengambil-Nya. Maria! Aku mengenali suara yang memanggilku, ini pasti suara guru. Aku segera berbalik dan ingin segera memeluk-Nya, tetapi, Jangan pegang Aku, karena Aku belum naik kepada Bapa. Tetapi pergilah kepada saudara-saudara-Ku, dan beritahukanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku naik kepada Bapa-Ku dan Bapamu, Allah-Ku dan Allahmu.”

Belum sempat aku berbicara dan melihat-Nya dengan lebih jelas, namun Ia tidak ada lagi. Ia menghilang dalam pandanganku begitu saja. Maka pergilah aku menyampaikan tentang apa yang aku lihat dan apa yang aku dengar kepada semua orang. Guru telah bangkit, Yesusku hidup. Aku telah melihat kebangkitan-Nya dan mendengarkan suara-Nya.

Pada Akhirnya Kesukaan Tuhanlah Yang Menentukan Hidup Kita

Nilai kehidupan manusia ada di tangan TUHAN, jika Ia berkenan, Ia memberkati, jika tidak, Ia memberi hukuman. Tidak ada jalan tengah untuk itu.

Seberapa baikkah kita harus hidup? Seberapa benarkah tindakan dan cara-cara hidup kita? Seberapa murni dan tuluskah hidup beribadah kita? Penilaiannya hanya Tuhan yang tahu, sebab Ia melihat yang tidak terlihat oleh mata manusia, Ia menyelidiki batin manusia. Ia menerima doa orang yang dinilai-Nya baik, Ia mengasihi orang yang berusaha melakukan kehendak-Nya.

Sahabat Alkitab, mari kita mengubah pola pikir kita, jika selama ini kita hidup, bekerja, berkarya, melayani, melakukan ini dan itu hanya untuk menyenangkan hati manusia, kita arahkan kepada Tuhan. Tidak salah jika kita ingin terlihat baik di depan manusia, sebab itulah bentuk kesaksian Kristen kita, tetapi jika motivasi kita hanya berhenti sampai di situ saja, maka perkataan ini tertuju pada kita, “… mereka sudah menerima upahnya.”

Selamat Pagi. Ingatlah satu hal ini “Tuhan menciptakan kita hanya untuk kesenangan-Nya”, karena itu lakukanlah demikian.

Berharap Dalam Gelap

Gelap, hari Sabat waktu itu begitu gelap dan kelam bagi kami, langkah kami terputus. Seolah kami berharap hari esok tidak akan pernah ada lagi. Kami sama sekali terputus dari dunia luar, bersembunyi dalam ruang-ruang gelap di sudut-sudut kota. Seorang yang selama ini telah memberi kami harapan dan kehidupan yang sama sekali baru telah direnggut paksa dari kami. Dia yang telah memberikan hidup bagi banyak orang yang miskin, lemah, dan yang tertindas, telah mati. Ia diperlakukan dengan sangat hina, mati di antara para penjahat, sekalipun semua orang tahu Ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.

Di antara semua orang yang bersedih, akulah yang paling berduka. Di antara semua wanita yang menangis, akulah yang paling terluka. Hatiku begitu tersayat melihat Dia yang lahir dari rahimku dan yang kubesarkan dalam asuhanku, mati dalam penderitaan salib yang begitu pedih. Ia dikhianati oleh sahabat-Nya, disangkali oleh kawan karib-Nya. Mereka semua meninggalkan-Nya, lari bersembunyi. Hanya Yohanes yang menemaniku, melihat hingga napas-Nya terhenti. Sabat itu tidak pernah saya lupakan seumur hidupku.

Dalam kesedihan yang begitu dalam, ingatanku dibawa ke masa tiga puluh tahun silam saat malaikat Tuhan datang menghampiriku dan berkata, “Jangan takut, Maria, sebab engkau berkenan di hati Allah. Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak, yang harus engkau beri nama Yesus. Ia akan menjadi agung dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan menjadikan Dia raja seperti Raja Daud, nenek moyang-Nya. Dan Ia akan memerintah sebagai raja atas keturunan Yakub selama-lamanya. Kerajaan-Nya tidak akan berakhir.” Aku juga teringat ketika serombongan gembala yang datang dari padang membawa satu berita bahwa Anak yang aku lahirkan itu adalah seorang Juruselamat, Kristus, Tuhan. Bahkan beberapa tahun setelah kelahiran-Nya, para majus datang dari negeri yag jauh hanya untuk mempersembahkan persembahan yang mahal-mahal dan sujud menyembah Yesus. Lalu inikah jawaban dari segala perkara yang kusimpan dalam hatiku sejak lama? Bahwa Ia yang dikatakan akan menjadi Raja yang Agung, yang disebut sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi hidup-Nya berakhir dengan sangat tragis?

Aku tenggelam dalam dukaku, begitu pun dengan mereka, para murid yang telah aku anggap sebagai anak-anakku sendiri, dan orang-orang yang selama ini mengikuti-Nya. Aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan; takut, gelisah, rasa bersalah, putus asa, frustrasi, kecewa, kesedihan yang begitu dalam, semua bercampur aduk dan membatin dalam kami. Petrus adalah yang paling larut dalam rasa bersalahnya karena tiga kali ia telah menyangkali Yesus. Sementara Yohanes adalah salah satu yang paling bersedih sebab dialah yang paling dikasihi oleh Yesus.

Dalam kegelapan dan hancur hati yang menyelimutiku, aku teringat Ia pernah berkata, Anak Manusia memang harus banyak menderita dan ditentang oleh pemimpin-pemimpin dan imam-imam kepala, serta guru-guru agama. Ia akan dibunuh, tetapi pada hari ketiga akan dibangkitkan kembali.. Kalimat yang berkali-kali Ia katakan tetapi yang tidak pernah kami harapkan dan bayangkan sungguh akan terjadi. Aku berharap meski tidak tahu apa yang aku harapkan. Aku menanti tapi itupun aku tak tahu. Harapanku diselimuti oleh pekatnya gelap. Aku menyimpan semua kegelisahan ini dalam hatiku, berharap dan menantikan saat waktunya tiba.      

 

Keramahan Seperti Air, Memadamkan Dan Menyejukan

Gelora kobaran api yang membara, seketika redah oleh sejuknya aliran air.

Siapapun bisa dengan mudah menyulut api, tetapi siapakah yang olehnya dapat menaklukkan geram dan kemarahan? Hanya orang-orang yang mampu bertutur dengan ramah yang dapat melakukannya. Siapapun tahu, api tidak dapat dipadamkan dengan api.

Sahabat Alkitab, kadang yang membuat kemarahan menjadi semakin berlipat-lipat adalah karena ketidakmampuan kita untuk menahan ego. Jika sudah begitu muaranya adalah pertikaian, percideraan, bahkan pembunuhan. Kedua pihak akan hangus menjadi arang. Amsal berkata, “Dengan jawaban yang ramah, kemarahan menjadi reda; jawaban yang pedas membangkitkan amarah.” Belajarlah kepada Yesus yang sekalipun tidak berdosa, Ia dihina, diludahi, disesah, disalibkan, namun tetap dapat berkata, “Bapa, ampunilah mereka! Mereka tidak tahu apa yang mereka buat.” Jangan membalas jahat dengan jahat, karena jika kita melakukannya berarti kita sedang membangun lingkaran kejahatan.

Selamat Pagi. Jika ada tokoh yang dari-Nya kita patut belajar tentang keramahan, maka Dia adalah Yesus. Belajarlah pada-Nya, sebab Ia lemah lembut. Kiranya di Jumat yang Agung ini kita kembali merenungkan sengsara Yesus agar kita tahu bagaimana cara mensyukuri pengorbanan-Nya.