Berharap Dalam Gelap

Gelap, hari Sabat waktu itu begitu gelap dan kelam bagi kami, langkah kami terputus. Seolah kami berharap hari esok tidak akan pernah ada lagi. Kami sama sekali terputus dari dunia luar, bersembunyi dalam ruang-ruang gelap di sudut-sudut kota. Seorang yang selama ini telah memberi kami harapan dan kehidupan yang sama sekali baru telah direnggut paksa dari kami. Dia yang telah memberikan hidup bagi banyak orang yang miskin, lemah, dan yang tertindas, telah mati. Ia diperlakukan dengan sangat hina, mati di antara para penjahat, sekalipun semua orang tahu Ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.

Di antara semua orang yang bersedih, akulah yang paling berduka. Di antara semua wanita yang menangis, akulah yang paling terluka. Hatiku begitu tersayat melihat Dia yang lahir dari rahimku dan yang kubesarkan dalam asuhanku, mati dalam penderitaan salib yang begitu pedih. Ia dikhianati oleh sahabat-Nya, disangkali oleh kawan karib-Nya. Mereka semua meninggalkan-Nya, lari bersembunyi. Hanya Yohanes yang menemaniku, melihat hingga napas-Nya terhenti. Sabat itu tidak pernah saya lupakan seumur hidupku.

Dalam kesedihan yang begitu dalam, ingatanku dibawa ke masa tiga puluh tahun silam saat malaikat Tuhan datang menghampiriku dan berkata, “Jangan takut, Maria, sebab engkau berkenan di hati Allah. Engkau akan mengandung dan melahirkan seorang anak, yang harus engkau beri nama Yesus. Ia akan menjadi agung dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Tuhan Allah akan menjadikan Dia raja seperti Raja Daud, nenek moyang-Nya. Dan Ia akan memerintah sebagai raja atas keturunan Yakub selama-lamanya. Kerajaan-Nya tidak akan berakhir.” Aku juga teringat ketika serombongan gembala yang datang dari padang membawa satu berita bahwa Anak yang aku lahirkan itu adalah seorang Juruselamat, Kristus, Tuhan. Bahkan beberapa tahun setelah kelahiran-Nya, para majus datang dari negeri yag jauh hanya untuk mempersembahkan persembahan yang mahal-mahal dan sujud menyembah Yesus. Lalu inikah jawaban dari segala perkara yang kusimpan dalam hatiku sejak lama? Bahwa Ia yang dikatakan akan menjadi Raja yang Agung, yang disebut sebagai Anak Allah Yang Maha Tinggi hidup-Nya berakhir dengan sangat tragis?

Aku tenggelam dalam dukaku, begitu pun dengan mereka, para murid yang telah aku anggap sebagai anak-anakku sendiri, dan orang-orang yang selama ini mengikuti-Nya. Aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan; takut, gelisah, rasa bersalah, putus asa, frustrasi, kecewa, kesedihan yang begitu dalam, semua bercampur aduk dan membatin dalam kami. Petrus adalah yang paling larut dalam rasa bersalahnya karena tiga kali ia telah menyangkali Yesus. Sementara Yohanes adalah salah satu yang paling bersedih sebab dialah yang paling dikasihi oleh Yesus.

Dalam kegelapan dan hancur hati yang menyelimutiku, aku teringat Ia pernah berkata, Anak Manusia memang harus banyak menderita dan ditentang oleh pemimpin-pemimpin dan imam-imam kepala, serta guru-guru agama. Ia akan dibunuh, tetapi pada hari ketiga akan dibangkitkan kembali.. Kalimat yang berkali-kali Ia katakan tetapi yang tidak pernah kami harapkan dan bayangkan sungguh akan terjadi. Aku berharap meski tidak tahu apa yang aku harapkan. Aku menanti tapi itupun aku tak tahu. Harapanku diselimuti oleh pekatnya gelap. Aku menyimpan semua kegelisahan ini dalam hatiku, berharap dan menantikan saat waktunya tiba.      

 

Inilah Yesus Raja Orang Yahudi

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi. Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia. Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja Orang Yahudi.”

“Tulisan itu apakah bentuk penghormatan ataukah penghinaan?” Aku telah mengikutinya selama lebih dari tiga tahun. Hari itu sangat berbeda dari hari-hari biasanya. Memang bukan untuk pertama kalinya sejak mengikuti Dia nyawaku terancam. Kemanapun aku pergi mengikut Dia bersama dengan sebelas murid lainnya, hatiku selalu merasa was-was. Banyak yang mengikuti kami, orang-orang yang ingin mendengarkan ajaran-Nya, yang simpati, sampai yang terpesona dengan kharisma-Nya. Tetapi diantara orang banyak itu ada juga orang-orang munafik yang ingin mencari celah supaya bisa menangkap, memenjarakan, bahkan membunuh-Nya. Merekalah yang membuatku was-was dan harus berjaga ekstra ketat, kalau-kalau terjadi sesuatu yang tidak kami inginkan, paling tidak aku bisa melindungi-Nya, karena aku memang sangat dekat dengan-Nya, dan akulah yang paling berani di antara semua murid.

Namun hari itu imanku benar-benar tergoncang, aku sangat takut. Ketakutan yang belum pernah aku alami sebelumnya. Mentalku adalah yang paling kuat jika dibandingkan dengan murid-murid lainnya. Maklum, aku dibesarkan dan hidup ditengah badai dan gelombang. Itu sudah mejadi makananku hari-hari, hingga tidak ada lagi yang aku takutkan, bahkan kematian sekalipun. Karena itulah resiko dari pekerjaanku sebagai seorang nelayan.

Aku hanya bisa melihat-Nya dari kejauhan. Lututku bergetar, hatiku sangat sedih, belum lagi rasa malu yang masih kuat menyelimutiku. Pilu sekali melihat penderitaan guru sekaligus sahabat yang sangat saya kasihi. Apalagi saat mata-Nya dengan tatapan yang sangat tajam menatap ke arahku, tidak dapat aku mengangkat kepalaku lagi. Aku ingat tatapan itu. Tatapan mata itu sama ketika untuk pertama kalinya kami bertemu di tepi danau Galilea dan Dia berkata, “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Mana mungkin Ia masih berharap aku menjadi penjala manusia, aku yang telah mengkhianati dan menyangkalinya. Dosaku sudah terlalu besar, Tuhan.

Air mataku mengalir begitu deras, hatiku sakit melihat setiap luka menganga di tubuh-Nya. Ia tergantung di tiang salib seperti seorang penjahat, begitu hina, padahal tidak ada sedikitpun cela pada-Nya. Tidak pantas Ia berada di situ, “Akulah yang harusnya disalibkan.” Namun Ia menerima semuanya itu, hukuman yang harusnya ditimpakan kepadaku ditanggung-Nya. Ia tidak membuka mulut-Nya sama sekali, seperti anak domba yang dibawa ke tempat pembantaian atau seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya. Belum pernah aku melihat seorang manusia seperti Dia.

Tidak! Dia bukan manusia biasa. Ia pastilah seorang nabi sama seperti Musa dan Elia.

“Tidak! Ia jauh melebihi mereka semua.”

Andai saja aku bisa memutar kembali waktu, aku tidak akan pernah menyangkalinya. Aku bahkan akan mengerahkan seluruh kekuatanku untuk melindungi-Nya. Tidak ku biarkan seorang pun menyentuh-Nya, atau sehelai rambut-Nya jatuh ke tanah.

Telah sekian banyak guru-guru yang mengajar di zamanku, namun tidak ada satu pun dari antara mereka yang membuatku tertarik untuk mengikutinya. Yesus berbeda dengan mereka, ketika Ia datang memanggilku, tidak dapat aku berkata tidak meresponi panggilan-Nya. Aku bahkan tidak sempat berpikir bagaimana nanti aku dapat memberi makan keluargaku jika aku tidak lagi menjala ikan. Anehnya bukan hanya aku saja, tetapi juga Andreas saudaraku, serta si kembar Yakobus dan Yohanes, anak Zebedeus, serta merta mengikuti Orang itu. Aneh rasanya, empat orang nelayan mengikuti anak seorang tukang kayu, untuk mengajar. Kami yang bahkan tidak pernah mengikuti pendidikan, apalagi tertarik untuk mendengarkan ajaran dari rabi-rabi Yahudi. Aku sangat yakin, Orang itu juga tidak terdidik.

“Aku haus….”  Ku dengar sayup-sayup suara-Nya, “Oh… tidak, Dia haus, Tuhan.. apa yang harus aku perbuat? Oh Tuhanku… Dia sangat menderita. Darah-Nya terus menetes, sementara luka-luka yang menganga itu terpanggang teriknya matahari”, “ Tapi aku tidak dapat berbuat apa-apa untuk menolong-Nya, begitu banyak tentara Romawi yang menjaga-Nya. Kalau aku nekad menerobos penjagaan itu, aku pasti mati.

“Berapa lama lagi Tuhan, Engkau membiarkan-Nya menderita? Bukankah Engkau yang mengutus-Nya? Mengapa Engkau tidak datang melepaskan-Nya? Engkau pernah berkata dari surga, “Inilah Anak yang Kukasihi”, tapi di manakah bukti kasih-Mu kepada-Nya saat ini?”

Saat itu aku marah kepada Allah, “tapi pantaskah seorang pendosa dan pengkhianat ini marah?” Aku baru menyadari saat itu, ternyata sejak dari jam dua belas siang langit menjadi gelap. “Apakah ini tandanya? Sungguhkah Ia ini Anak Allah?” Kira-kira jam tiga waktu itu, terjadi gempa bumi yang hebat. Aku bahkan terjatuh, hampir saja tertimpa reruntuhan. Pikirku, inilah tanda kedatangan Allah untuk menolong-Nya. Namun saat aku melihat ke arah-Nya, Ia tidak lagi bernyawa, “Yesus mati, guruku telah mati. Oh Tuhanku, Engkau terlambat menyelamatkan-Nya.”

Aku, Petrus, saksi hidup dari peristiwa itu. Saat itu aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang Dia. Tiga tahun aku bersama-Nya, tapi tidak cukup aku mengenal-Nya. Namun hari ini, mataku telah terbuka, tahulah aku bahwa Yesus itu adalah Anak Allah Yang Maha Tinggi, Dia adalah Mesias yang telah dijanjikan Allah. Kematiaan-Nya bukanlah tanda kekalahan, tetapi tanda kemenangan-Nya atas dosa. Ia telah menanggung seluruh dosa dunia, dosa saya dan dosa Anda.

Ia bukanlah manusia biasa, Dia adalah Allah yang menjadi Manusia. Dia juga adalah Raja, namun bukan raja orang Yahudi. Tulisan di atas kayu salib itu bagiku sangat merendahkan-Nya, sebab Dia adalah Raja atas semesta. Dia Yesus.

Supaya Kamu Menjadi Bersih

Sebab itu Ia berdiri, membuka jubah-Nya, dan mengikat anduk pada pinggang-Nya. Sesudah itu Ia menuang air ke dalam sebuah baskom, lalu mulai membasuh kaki pengikut-pengikut-Nya dan mengeringkannya dengan anduk yang terikat di pinggang-Nya. (BIMK, Yohanes 13:4-5)

 

Sehari sebelum Hari Raya Paskah, Yesus mengumpulkan kami untuk mengadakan perjamuan makan. Ini adalah suatu kebiasaan yang terus guru pertahankan untuk mendekatkan kami semuanya. Dengan begitu kami juga bisa berbincang-bincang banyak dengan-Nya, bertukar pikiran, dan membahas banyak hal bersama dalam suasana yang lebih santai. Saya mengakui, Ia adalah guru yang sangat terbuka dan penuh dengan kebijaksanaan. Ia begitu dekat dengan kami, bahkan lebih dari saudara kandung sekalipun. Ia adalah sosok yang penuh kasih dan sangat tegas. Ketegasan-Nya tidak mengurangi sedikit pun kasih-Nya kepada kami dan orang-orang yang ada disekitar-Nya, begitu juga kasih-Nya tidak pernah menutupi ketegasan-Nya. Ketegasan dan pengajaran-Nya yang keras membuat banyak orang mundur dari pada-Nya, tetapi kasih, hikmat, kharisma, dan kebenaran yang diajarkan-Nya menarik semakin banyak orang untuk mengikuti-Nya.

Di Israel saat itu ada cukup banyak guru yang mengajar tentang agama, tapi Ia adalah seorang yang sangat berintegritas. Ia pribadi yang berbeda. Ia melakukan apa yang Ia ajarkan, dan mengajarkan apa yang Ia lakukan, yaitu apa yang telah Ia terima dari Bapa. Dalam pengajaran dan kehidupan-Nya tidak ada sedikitpun cela. Saya adalah saksi dari semuanya itu.

Setelah kami menyelesaikan makan malam, guru tiba-tiba berdiri di hadapan kami semua, Ia menanggalkan jubah yang dipakai-Nya, lalu mengikat anduk di pinggangnya. Kami semua sangat terkejut, dan hanya bisa saling memandang satu sama lain. Dalam pikiranku, Apa yang hendak dilakukan guru? Ah tidak mungkin, masakan Ia mau membasuh kaki kami? Apa yang guru hendak lakukan saat itu seperti seorang pelayan yang akan membasuh kaki tuannya, sesuatu yang sangat lazim waktu itu. Benar saja, Guru memang mau membasuh kaki kami. Aku adalah orang pertama yang Ia hampiri, sebab akulah yang duduk paling dekat dengan-Nya. Spontan saja aku menarik kakiku, karena tidak mungkin aku membiarkan Guru melakukannya, seharusnya akulah yang melakukan itu pada guru sebagai tanda hormat dan baktiku kepada-Nya. Sebab Dia adalah tuan dan aku pelayan-Nya. Aku menolaknya, tetapi kesungguhan hati-Nya untuk melakukan itu dan cara Ia menatapku membuatku terpaksa membiarkan-Nya membasuh kakiku sampai mengeringkannya. Reaksi murid-murid yang lain juga sama sepertiku, hingga Guru sampai pada kaki Petrus. Tuhan, masakan Tuhan yang membasuh kakiku? kata Petrus. Apa yang Petrus katakan sejujurnya mewakili suara hati kami semua. Ya, dia adalah murid yang paling spontan dalam berbicara, maklum dia adalah seorang dengan karakter sanguin yang memang kerab meledak-ledak dalam merespon sesuatu. Guru menatap kami lalu berkata, Sekarang engkau tidak mengerti apa yang Kulakukan ini, tetapi nanti engkau akan mengerti. Kalau Aku tidak membasuhmu, engkau tidak akan mendapat bagian dalam Aku.

Apakah maksud dari perkataan dan tindakan-Nya itu? Dan Siapakah kami ini sehingga seorang guru seperti-Nya merendahkan diri untuk mencuci kaki kami? Aku dan Yakobus adalah yang suka bermulut besar, Andreas yang pemalu, dan Petrus yang kurang ajar. Ia membasuh Lewi mantan kaki tangan Roma, Natanael dan Tomas yang suka bersikap sinis dan ragu-ragu, dan murid-murid lain yang juga penuh dengan kekurangan.

Tetapi hari ini tahulah aku, sesudah kesusahan besar yang Ia alami, dan setelah kemenangan-Nya atas maut. Bahwa Ia membasuh kaki kami agar kami semua menjadi bersih. Ini adalah lambang atas tindakan agung yang dilakukan-Nya sebagai seorang pelayan, yakni mati di kayu salib untuk dosa-dosa dunia.  Sebab memang kami adalah orang-orang berdosa, dikandung dan diperanakkan dalam dosa dan kehidupan kami pun tidak masuk dalam hitungan orang-orang benar. Kami orang-orang yang patut dimurkai oleh Allah. Namun anugerah-Nya, melalui pencurahan darah-Nya di kayu salib, kami menjadi bersih.

Alkitab dan Disabilitas

Hari minggu 25 Maret lalu, dalam khotbahnya Pdt. Jasin Saragih dari GKPS Pematangsiantar mengungkapkan dalam 3 tahun terakhir bertugas khusus menangani orang-orang penyandang disabilitas. Dia sangat terberkati dengan pekerjaan yang sangat khusus ini, karena dapat memberikan atensi dan kepedulian kepada kaum yang sering dipinggirkan serta kurang dipedulikan.

“Menurut data yang ada, secara umum di dunia ini ada 15% penyandang disabilitas,” kata Pendeta Jasin. Saya jadi memperkirakan jumlah orang Kristen di Indonesia yang menyandang disabilitas tidak kurang dari 3,75 Juta orang (15% x 25 juta orang). Jumlah yang tidak sedikit!

Disabilitas, atau keterbatasan diri (bahasa Inggris: disability) dapat bersifat fisik, kognitif, mental, sensorik, emosional, perkembangan atau beberapa kombinasi dari ini. Penyandang disabilitas meliputi orang yang mempunyai kelainan fisik dan/atau mental, yang dapat mengganggu atau merupakan rintangan dan hambatan baginya untuk melakukan secara selayaknya.

Klasifikasi disabilitas meliputi (1) Tunanetra, disabilitas fisik – tidak dapat melihat; buta; (2) Tunarungu, disabilitas fisik-tidak dapat mendengar dan/ kurang dalam mendengar; tuli; (3) Tunawicara, disabilitas fisik-tidak dapat berbicara; bisu; (4) Tunadaksa, disabilitas fisik-cacat tubuh; (5) Tunalaras, disabilitas fisik-cacat suara dan nada; (6) Tunalaras, disabilitas mental-sukar mengendalikan emosi dan sosial; (7) Tunagrahita, disabilitas mental-cacat pikiran; lemah daya tangkap; (8) Tunaganda, disabilitas ganda-penderita cacat lebih dari satu kecacatan.

Kaum disabilitas Kristen memiliki kebutuhan yang sama dengan orang Kristen kebanyakan. Mereka membutuhkan eksistensi, relasi dan bertumbuh di dalam Kristus. Tentulah mereka juga memiliki kebutuhan untuk dapat mengakses Alkitab agar hidup mereka berubah lebih baik.

Kaum disabilitas fisik terutama para tunanetra, tunarungu, dan tunawicara pastilah memiliki keterbatasan berinteraksi dengan Alkitab bila menggunakan Alkitab cetak yang standar. Perlu ada Alkitab khusus yang memudahkan mereka berinteraksi dengan Alkitab.

Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sudah lama menerbitkan Alkitab Audio yang dapat diperdengarkan kepada para penyandang disabilitas tunanetra. Juga tersedia bagian-bagian Alkitab dengan huruf Braille yang dapat dibaca dengan sentuhan tangan.

Perserikatan Lembaga-lembaga Penerjemah Alkitab (United Bible Societies – UBS) yang memiliki 146 anggota lembaga penerjemah di dunia sudah dan sedang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa isyarat yang dapat menolong kaum disabilitas tunarungu dan tunawicara.
Di Jepang tercatat ada 320.000 orang penyandang tunarungu dan tunawicara. Sekarang mereka sudah dapat mengakses Alkitab dalam bahasa isyarat, meski belum seluruh isi Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa isyarat yang dimasukkan dalam format Bible Apps.
Tanggal 1 April 2018 yang lalu para penyandang tunarungu dan tunawicara di Armenia juga sudah dapat menikmati DVD yang berisi Alkitab dalam bahasa isyarat. Bahasa Ibu mereka adalah bahasa isyarat.
LAI tentu akan terus berarak-arakan bersama dengan UBS dalam pengembangan penerjemahan Alkitab ke dalam bahasa isyarat. Semua demi aksesabilitas Alkitab oleh para penyandang disabilitas yang bahasa ibunya adalah bahasa isyarat.

“Pekerjaan rumah” LAI begitu banyak dan sangat membutuhkan stamina yang prima untuk “berlari marathon”. LAI tidak mampu sendirian. Dukungan dari semua Mitra sungguh sangat dinantikan.

Sigit Triyono, (Sekum LAI)

Lebih lanjut silakan klik indonesian.bible dan atau kontak Ibu Erna di: 0812.851.7415. Salam “Alkitab Untuk Semua.”

Tak Kenal Maka Tak Sayang

“Saya sudah lama mendengar tentang LAI, namun terus terang saya belum mengenal terlalu dalam mengenai LAI.” Demikian pernyataan Pdt. Jeffry Siauw, Gembala Sidang Gereja Kristus Yesus (GKY) Jemaat Greenville, Jakarta. Selama ini beliau tahu LAI sebagai satu-satunya lembaga yang menerbitkan Alkitab dan mendistribusikannya. Namun tidak lebih dari itu. GKY Greenville jaraknya tidak sampai 15 km dari kantor pusat Lembaga Alkitab Indonesia, di Salemba Jakarta. Jarak sejauh itu hanya setengah jam perjalanan sepeda motor. Ternyata di Jakarta, di jantung pelayanan LAI sendiri masih banyak yang belum mengenal LAI dengan baik. Padahal ungkapan lama mengatakan tak kenal maka tak sayang.

Karenanya tepat langkah cepat yang dilakukan pengurus LAI di bulan-bulan awal periode pelayanannya ini. Pengurus mencoba hadir dan pro aktif menyambangi gereja-gereja, lembaga, dan mitra-mitra pelayanan LAI. Seperti juga hari Selasa 27 Maret 2018 yang lalu, LAI bertemu dengan Gembala Sidang GKY Greenville. Dari LAI hadir Pdt. Dr. Aristarchus Sukarto, Ketua Bidang Kemitraan LAI; Andreas Santoso, Ketua Bidang Digital LAI, A. Moenir Ronny, Bendahara Umum LAI; dan Erna Yulianawati, Kepala Departemen Komunikasi dan Pengembangan Mitra LAI.

Mengawali perbincangan pengurus menjelaskan visi, misi dan berbagai program pelayanan LAI terutama dalam empat bidang utama kegiatan LAI: penerjemahan, penerbitan, penyebaran dan kemitraan penggalangan dukungan.

Lebih menekankan lagi, Pdt. Aristarchus menyatakan, kunjungan-kunjungan pengurus ke mitra-mitra pelayanan LAI selain memperkenalkan diri, punya dua tujuan penting. Beliau menyatakan, kunjungan ini dimaksudkan agar kesatuan gereja-gereja yang selama ini menggunakan satu Alkitab bersama terbitan LAI tetap terjaga. Yang berikutnya, gereja sebagai mitra pelayanan LAI diajak untuk turut mendukung pelayanan LAI. Dukungan dapat dinyatakan dalam empat langkah: doa, sumber daya, turut berperan serta mengkomunikasikan pelayanan LAI di tengah jemaat dan mitra lain, dan terakhir mendukung pelayanan LAI lewat dana.

Pdt. Jeffry begitu antusias saat LAI menjelaskan berbagai program kegiatannya, yang ternyata jauh lebih luas daripada yang beliau bayangkan selama ini. Di GKY Greenville setiap bulan April ditetapkan sebagai bulan misi. Beliau akan mencoba mendorong jemaat untuk memberi kesempatan LAI berbagai pelayanan dalam bulan misi pada bulan April mendatang. Diakuinya, antusiasme jemaat GKY Greenville untuk mendukung dan terlibat dalam berbagai kegiatan misi cukup tinggi, namun seringkali kurang terarah karena kurang mendapatkan dukungan informasi yang lengkap.

Sebagai catatan, GKY Greenville boleh dikatakan merupakan jemaat yang cukup besar di Jakarta. Jemaatnya lebih dari 3000 orang. Memiliki 3 orang pendeta dan 9 calon pendeta (full timer). Rata-rata usia warga jemaatnya di bawah 50 tahun, dengan tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Sebagai gereja moderen, antusiasme jemaat dalam terlibat persekutuan dan kegiatan pelayanan juga cukup besar. Mereka memiliki program rutin yang sudah berlangsung bertahun-tahun, yaitu: Gemar Membaca Alkitab (GEMA). Sebuah program rutin membaca Kitab Suci yang dipandu bahan dari gereja, sehingga dalam tiga tahun diharapkan tiap warga selesai membaca seluruh bagian Kitab Suci. Bahkan bahan panduan membaca Kitab Suci tersebut sekarang sudah tersedia pula dalam aplikasi digital Android dan Apple.

Lebih lanjut, Pdt. Jeffry juga menyarankan agar LAI bertemu dengan jajaran pengurus sinode GKY untuk mewujudkan kemitraan yang lebih luas, agar nantinya sinode GKY dapat mendorong gereja-gereja anggotanya untuk bermitra dan mendukung pelayanan LAI.

Pertemuan dengan mitra-mitra baru senantiasa menumbuhkan harapan dan optimisime. Seperti hal nya gereja-gereja dan umat Tuhan mengharapkan layanan yang prima dari LAI, demikian juga LAI masih membutuhkan banyak dukungan dari berbagai pihak gereja-gereja untuk melaksanakan panggilan misinya mewujudkan “Alkitab untuk Semua”. (keb)

Paskah Untuk Yali Papua

 

Momen Paskah mengingatkan betapa beruntungnya kita karena Kristus rela berkorban untuk menyelamatkan kita.

Momen Paskah mampu mendorong kita untuk berbagi lebih dari yang biasa.

Pada momen Paskah ini LAI mengajak kita utk menghadirkan Kabar Baik Bergambar dalam bahasa Yali Angguruk untuk anak-anak suku Yali yang tinggal di Kabupaten Yahukimo Papua.

Kebutuhan buku bacaan rohani bagi anak-anak dengan gambar berwarna dan disampaikan dalam bahasa ibu sangat mereka nantikan.

Bukan hanya oleh anak-anak, bahkan para guru Injil dan orang tua juga senang untuk mendapatkannya.

Tanggal 18 Mei 2018 mereka akan menerima buku Kabar Baik Bergambar dalam bahasa Yali Angguruk. Biaya yang masih dibutuhkan untuk pengadaan dan pengiriman buku sebanyak 4.000 eks sebesar Rp 223.997.600,-

*Mari dukung dan salurkan via rekening BCA Virtual Account 12 000 250409 Penerbitan Kabar Baik Yali Angguruk. Info lebih lanjut WA Ibu Erna 0812 85 17415.*

Izgalmas Lehetőségek az Energycasino Platformján

Bevezetés az Energycasino Világába

Az Energycasino hazánk egyik legkedveltebb online kaszinója, amely számos izgalmas bónuszt és promóciót kínál a játékosok számára. Legyen szó az Energy casino no deposit bonus-ról vagy az egyedi Energy casino promocios kod-ról, mindig találni valami újdonságot.

Energycasino Logo

Az Energycasino Előnyei

Az Energycasino belépés egyszerű és gyors folyamat, amely az új játékosok számára is könnyen elérhető bónuszokat kínál. Például az Energycasino 10 free spins tökéletes lehetőséget teremt a kezdéshez. Az Energy casino kifizetés pedig egyszerű és gyors, így a játékosok biztonságos környezetben élvezhetik a nyereményüket.

Bónusz Leírás
Energy casino 30 free spins Ingyenes pörgetések új játékosoknak
Promóciós Kód Exkluzív ajánlatok és kedvezmények használatához

Az egyik legizgalmasabb ajánlat az új játékosok számára az Energy casino 30 nevű bónusz, amely fantasztikus élményt nyújt mindenkinek.

Egyedülálló Élmények

Az Energycasino különféle játékokat kínál, amelyek minden igényt kielégítenek. Legyen szó nyerőgépekről, póker asztalokról vagy éppen rulett székről, az élmény garantált. Az intuitív felület és a folyamatosan megújuló promóciók gondoskodnak arról, hogy a játékosok mindig a legjobb ajánlatokat kapják.

Záró Gondolatok

Összefoglalva, az Energycasino egy verhetetlen választás az online szerencsejáték szerelmeseinek. A bőkezű bónuszok, gyors kifizetések és lenyűgöző játékok tárháza minden játékos vágyát kielégíti. További információkért, valamint a legújabb ajánlatokért ne habozzon körülnézni a kaszinó hivatalos oldalán.

Pelayanan LAI Di Aksi Paskah BNI 2018

Penuh sukacita dan haru. Kalimat singkat itu sedikit menggambarkan dari campur aduknya suasana hati kami saat melayani anak-anak Panti Asuhan Bersinar bersama dengan Panitia Paskah BNI Pusat dalam acara “BNI Berbagi”.

Bisa berbagi dengan memberikan bingkisan berupa Alkitab, Buku Kabar Baik Bergambar (KBB), Bacaan Anak dan Remaja, dan bingkisan lainnya, cukup membuat kami puas tatkala melihat sukacita mereka. Tidak ketinggalan penampilan drama dengan tema Yesus Sahabatku serta kuis seputar Alkitab dan BNI menjadi isi acara yang kami suguhkan bagi mereka. Ada juga kesaksian pribadi dari Ibu Grace Pong Samma selaku Pimpinan Unit Service Quality BNI Pusat, menjadi pendorong bagi mereka untuk terus maju menghadapi tantangan hidup.

Yesus yang mengasihi anak-anak kiranya menyempurnakan pelayanan LAI dan Panitia Paskah BNI Pusat pada Minggu 25 Maret 2018, juga memberkati kemitraan dan pelayanan kami selanjutnya. Amin.[]

Teruslah Bersabar Amarah Hanya Menutup Akal Sehat

Jangan biarkan amarah menguasai hati, karena ia akan menutup akal sehat juga.

Begitu banyak kejahatan terjadi karena amarah yang tidak pernah padam. Kain dan Habel contohnya. Kemarahan kain yang menyala-nyala membuat dia gelap mata, sehingga tidak dapat lagi melihat siapa saudaranya. Kemarahannya baru terpuaskan ketika telah berbuah kematian.
Sahabat Alkitab, Allah telah memberi kita kuasa untuk menaklukkan diri sendiri, karena dialah musuh terbesar kita. Bukan tidak boleh marah sama sekali, tetapi awaslah jangan sampai kemarahan membuat kita menjadi terlihat bodoh. Karena ketika kemarahan telah berkuasa, ia menutup sama sekali hati dan pikiran. Bersabarlah, dan bersabarlah. Kuasailah diri ketika hendak marah.

Selamat Pagi. Mari memulai hari ini dengan menyerahkan hati dan pikiran kita kepada Tuhan, sehingga hanya Dialah yang menguasainya, bukan amarah..

Menyambut Datangnya Raja Damai

mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yohanes 12: 13)

Mari kita coba membayangkan seandainya kita berada di sana waktu Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai, apa yang sangat mungkin kita lakukan saat itu? Dan apa yang melatarbelakangi kita melakukannya?

Ini jelas bukan pertama kalinya, Yesus datang ke kota Yerusalem. Sebagai seorang Yahudi, Yerusalem telah menjadi tempat yang sangat dekat dengan diri-Nya. Di sanalah Yesus beribadah kepada Allah dan di sana jugalah Dia mengajar. Tetapi kedatangan-Nya kali ini menjadi berbeda dan luar biasa ramainya karena orang-orang dengan sangat antusias menyambut-Nya. Ia datang dengan menunggangi seekor keledai betina dan orang banyak itu menyambut-Nya dengan elu-elukan. Mereka berkata, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Tidak hanya itu, orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon (palem) dan menyebarkannya di jalan (Mat. 21: 8 bnd. Yoh. 12: 13). Apa yang motivasi mereka?

Dalam elu-eluan orang banyak itu, keempat Injil memberikan laporan yang berbeda-beda tentang kalimat yang mereka ucapkan:

“Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,

hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat. 21:9)

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mark. 11:10)

“Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan,

damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38)

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh. 12:13)

 

Meskipun begitu tetapi pada intinya ada satu pesan yang sama, yaitu bahwa orang banyak itu berharap bahwa Yesus datang sebagai Mesias yang akan membebaskan Yerusalem dari penjajah Roma. Mereka berharap bahwa Yesus akan memimpin mereka dalam pemberontakan untuk melawan Roma dan mendirikan Kerajaan Israel yang baru (harapan yang besar itu tersirat dalam tindakan mereka yang menghamparkan pakaian mereka di tanah tempat yang akan dilalui oleh Yesus). Itulah sebabnya mereka menyambut Yesus seperti menyambut seorang raja yang datang dengan membawa kemenangan (dalam tradisi Yahudi, daun palem digunakan sebagai simbol kemenangan).

 

Orang banyak itu, termasuk di dalamnya murid-murid Yesus tidak mengerti akan maksud kedatangan Yesus ke kota Yerusalem, sekalipun telah berulang kali Yesus mengisyaratkan akan tujuan dan kematian-Nya (Mat. 7: 53-59; 12: 7-8; Luk. 9: 22; 43b-44; 13: 32-33; 18: 31-33). Kedatangan Yesus dengan menunggang keledai betina juga menjadi satu tanda bahwa Ia datang bukan sebagai pemimpin perang atau pemberontakan, tetapi sebagai Raja yang membawa damai, sebab orang tidak memakai keledai untuk berperang.

 

Sebagian gereja memperingati minggu sebelum paskah sebagai Minggu Palma untuk mengenang peristiwa di hari itu. Jika saat itu orang-orang Israel keliru dalam dalam motivasinya menyambut kedatangan Yesus, apakah hari ini ketika kita memperingatinya sudahkah dengan maksud yang benar?

 

Yesus masuk Yerusalem untuk menggenapi rencana Allah bagi-Nya di atas kayu salib. Yaitu menghadapi penderitaan yang berat dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan dan pendamaian antara Allah dan manusia.  []