Ambe…Ambe…Tolong Kami Menyeberang

title

Masih seputar pelayanan kami di pedalaman Boven Digoel bersama dengan Lembaga Alkitab Indonesia.

Waktu itu, kami baru menyelesaikan perjalanan dengan jalan kaki menembus hutan pergi pulang ke kampung Yetetkun dari Ninati. Dari Ninati kami harus menyebrang sungai yang airnya lumayan deras. Kembali dari pelayanan ke Yetetkun, hari sudah gelap. Kami sampai di tepi sungai dan ternyata ketinggian air sungai meningkat dibanding pagi tadi ketika kami berangkat. Alat penyeberangan hanyalah rakit, namum tidak ada yang bisa mengoperasikannya karena memang tidak ada orang lagi selain kami. Salah seorang anggota tim pun berteriak minta tolong kepada warga yang tinggal di seberang sungai (wilayah Ninati). "Ambe... Ambe.. Tolong kami menyebrang, bisakah?", demikian teriaknya berulang-ulang. (Ambe: artinya Bapak). Lumayan lama kami menunggu dan anggota tim, namanya Pdt Alon, terus berteriak. Sementara itu nyamuk dan serangga hutan sudah mulai mengerubuti dan menggigit kami. Kurang lebih 30an menit kemudian ada sahutan dari seberang, "yoi...sebentar. Ambil dayung dulu!" Kira-kira 10 menit kemudian, datanglah seseorang dengan nyala bara rokok yang sangat nampak dalam kegelapan. Pdt. Alon kembali berteriak, "Ambe, tolong kami kah?" "Yoi, sebentar dulu!", sahutnya dari seberang tepi sungai.

Orang itu mendayung kole-kole (sampan dari batang pohon yang dipahat dengan ketebalan kurang lebih 5 cm). Begitu sampai di tepi sungai tempat kami berdiri, kami baru tahu bahwa yang menduyung sampan itu adalah seorang ibu. Pdt Alon segera berseru, "Aduh Enang terimakasih mau tolong kami". Enang (Artinya ibu) itu menyahut, "cepat sedikit, air su mulai deras, mama tidak sanggup tarik rakit terlalu berat, jadi mama pakai kole-kole ini". Ia melanjutkan, "yang badan besar naik satu, yang badan kecil bisa dua. Nanti kole-kole terbalik dan tenggelam!" Wow, teriakan si Enang menggetarkan hati kami juga, terbayang arus air mulai deras dan ancaman sampan terbalik.

Pertama yang naik adalah istri saya dan Pdt Alon. Begitu naik ke kole-kole, si Enang berteriak, "langsung duduk, nanti sampan terbalik!" nampak kedua penumpang langsung duduk dan terdiam.

Sekarang giliran saya, kembali si Enang berteriak, "pak pendeta satu orang saja, nanti sampan tenggelam!" Dalam hati saya berpikir, "sebesar apa sih badan saya, sampai-sampai kole-kole bisa tenggelam?" Namun saya tidak berani berdebat, yang terpikir adalah segera sampai ke seberang dan segera lanjut perjalanan ke Tanah Merah. Kembali si Enang berkata, "sudah langsung duduk, pak pendeta. Diam sa di situ" Lengkap sudah kepanikan saya. Dengan sigap si Enang mendayung dan bermanuver mengatasi derasnya arus, dan beberapa saat kemudian kami sudah sampai di seberang sungai. Setelah itu si Enang kembali mendayung untuk menjemput dan menyebrangkan anggota tim yang lainnya sampai semua tiba di seberang. Sekali lagi sebuah pengalaman yang mengubahkan saya.

Dari penyeberangan ini, saya belajar arti percaya bahwa Tuhan menolong tepat pada waktunya. Tepat seperti yang diimani oleh Pemazmur, "Pertolonganku ialah dari TUHAN.... tidak terlelap dan tidak tertidur Panjaga Israel. Tuhanlah penjagamu..." (Maz. 121).

Yang kedua, tentang keseimbangan. Tubuh yang kaku tidak dapat mengikuti akselerasi gerakan kole-kole dan bisa menyebabkan kole-kole terbalik. Bagi saya kole-kole telah mengajarkan agar kita tetap menjaga keseimbangan dalam hidup. Kapan saat harus diam dan kapan saat berkarya. Bukankah Tuhan Yesus juga perlu waktu untuk diam sejenak di tengah karya-Nya? Tuhan pernah mengatakan kepada para murid, "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahat seketika!" (Mark. 6:31).

Terimakasih Tuhan untuk pengalaman iman yang dahsyat ini. Juga tentunya terimakasih Enang yang sudah menjadi tangan Tuhan untuk menyeberangkan kami. [guruh]

LAI Bersinergi Memancarkan Cahaya Hidup

title

Meski peringatan hari “Soempah Pemoeda” yang menggelorakan Roh Persatuan Indonesia jatuh pada hari minggu 28/10/2018, namun Sabtu 27/10/2018 LAI sudah mendahului mempraktikkan Roh Persatuan dalam bentuk diskusi dan membangun sinergi. LAI beserta 12 mitra kerjanya berkumpul bersama mengadakan ‘Sarasehan Pelayanan dan Kesaksian di Era Digital’ untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk sinergi dalam karya bersama di Indonesia.

Sebagai tindak lanjut dari beberapa kali diskusi dengan berbagai pihak yang selama ini bergerak secara sendiri-sendiri, maka disepakati untuk duduk bersama, berbagi informasi dan mengidentifikasi bentuk kerjasama yang efektif dari semua mitra dengan komitmen yang sama: “menyebarkan kabar baik di Indonesia.” Diawali kebaktian singkat yang dipimpin Pdt Anwar Tjen, PhD. Kepala Departemen Penerjemahan LAI yang mengajak merenungkan Firman Tuhan tentang perlunya perjumpaan-perjumpaan dalam kerangka menyebarkan kabar baik.
Berikutnya presentasi tentang “Mewujudkan Alkitab Untuk Semua” oleh Sekum LAI, disambung sharing pengalaman dari Ev. Stefan dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Ungaran Jawa Tengah, Pak Agus dari Yayasan Cahaya Hidup, Pak Harry dari Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia, dan Pdt Agus Wiyanto dari Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Jemaat Cempaka Putih.

Setelah presentasi dari lima pihak di atas diperoleh tiga kalimat kunci: (1) Kami memiliki komitmen yang sama: “Menyebarkan Kabar Baik”, (2) Kami tidak sendiri, dan (3) Kami perlu bersinergi. Selanjutnya disepakati untuk menindaklanjuti sarasehan ini dengan bentuk kerjasama konkret di bidang penerbitan pesanan khusus Alkitab, distribusi Alkitab, pewartaan kompetensi masing-masing lembaga kepada Gereja-gereja, dukungan kepada pemulihan korban bencana Sulawesi Tengah, dukungan kepada program “Satu Dalam Kasih”, penerbitan “Alkitab Parenting” serta program “Sejuta Mitra”.

Forum juga menyepakati untuk memperluas jejaring, membuat database lembaga-lembaga mitra dan mengadakan pertemuan secara reguler. Bagaimanapun “roh persatuan” telah terbukti membuahkan sinergitas di antara LAI dengan 12 mitra kerjanya.

Dalam melakukan pelayanan di era digital, LAI memiliki Departemen Pelayanan & Pengembangan Digital yang siap melayani dengan berbagai konten dan aplikasi digital yang didistribusikan melalui website serta berbagai saluran media sosial. Ternyata hal serupa juga dimiliki oleh LPMI yang bahkan siap memberikan pelatihan-pelatihan layanan digital kepada Gereja-gereja. “Video-video pendek kami dapat diunggah secara gratis di YouTube,” kata Pak Harry yang mewakili LPMI.

Meski sarasehan ini memfokuskan kepada era digital, namun Yayasan Cahaya Hidup, GKMI dan GPdI serta LAI mendeteksi masih banyak dibutuhkan berbagai varian produk-produk cetak untuk segmen khusus terutama di daerah desa dan pelosok negeri.

Hal ini juga didukung oleh peserta sarasehan. “Kami akan mendukung distribusi Alkitab ke pelosok negeri yang dilakukan oleh LAI,” kata Pak Johan dari Gereja Reform Injili Indonesia (GRII) yang juga mendukung pemenuhan produk cetak. “Kami bergerak di pelayanan anak, maka tahun depan kami ingin turut berkontribusi dalam ‘launching’ produk Alkitab Parenting LAI,” ungkap Pak David dari Gereja-gereja Baptis Indonesia (GGBI) yang juga menunjukkan dukungannya kepada pengadaan produk cetak. “Kami memiliki tiga produk cetak favorit yang selalu kami distribusikan ke berbagai wilayah negeri,” kata Pak Agus dari YCH.

Forum sarasehan ini menegaskan bahwa LAI adalah milik semua Gereja dari berbagai interdenominasi dan interkonfesi yang berperan sebagai “logistik” Alkitab dan bagian-bagiannya. Sinergitas sangat diperlukan dalam melangkah ke depan. Tantangan di bidang sumberdaya manusia, keuangan dan berbagai peran spesifik akan lebih ringan ditanggung bersama.
Karena sarasehan ini terwujud atas kerjasama LAI dengan Yayasan Cahaya Hidup, maka tidaklah berlebihan bila dikatakan LAI bersinergi memancarkan cahaya hidup. Salam Alkitab Untuk Semua.[]

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Staff LAI is SMART Leadership

title

Masalah pemimpin dan manager kembali mengemuka dalam debat capres di sebuah acara stasiun televisi swasta. Masing-masing Tim Sukses (timses) mengklaim bahwa jagonya adalah pemimpin yang tepat untuk Indonesia masa depan. Masing-masing timses meyakinkan rakyat, bahwa jagoan mereka lahir dari dan berproses bersama rakyat. Bahkan pihak oposisi menyebut capaian yang dilakukan oleh pemerintah merupakan keberhasilan Presiden sebagai manajer bukan Presiden sebagai pemimpin.

Diskursus tentang perbedaan pemimpin dan manajer memang tidak ada habisnya. Salah satu sebabnya adalah satu peran tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa keberadaan peran lain. Pemimpin yang tidak bisa mengelola (to manage) akan gagal dalam kepemimpinannya, sementara manajer yang tidak bisa memimpin (to lead) akan gagal dalam aktivitas manajerialnya. Namun sesungguhnya pemimpin (leader) dan manajer merupakan dua konsep yang berbeda dan terdapat perbedaan diantara keduanya.

Dalam bukunya “On Becoming a Leader”, Warren Bennis menulis tentang perbedaan penting antara pemimpin dan manajer. Menurutnya (1). Pemimpin melakukan inovasi pada organisasi, sedangkan manajer mengelola sebuah. (2). Pemimpin menginspirasi semua orang yang ada dalam organisasi sementara manajer bergantung pada kontrol. (3). Pemimpin bertanya “what” dan “why,” sedangkan manajer bertanya “how”. Meskipun untuk dua fungsi itu mungkin mirip, namun keduanya sangat dibutuhkan oleh sebuah organisasi, sehingga tak salah jika ada anggapan yang menyebut pemimpin dan manajer merupakan sumber daya utama dan aset penting bagi suatu organisasi ataupun perusahaan.

Lalu bagaimana Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) melihat diskursus ini? Apa ikut salah satu mahzab itu? Atau mengikuti keduanya. Apakah LAI memandang para manajer dan pemimpin-pemimpin unit kerjanya sebagai sebuah aset? Dalam sambutannya Bendahara Umum LAI menyampaikan, ada 2 teori soal kepemimpinan, yaitu pemimpin yang lahir dari pengalaman dan pemimpin yang dipersiapkan. Lewat pelatihan “SMART Leadership” ini, LAI “concern” kepada para manajer dan pemimpinnya dapat mengembangkan kreativitas dan dinamika kepemimpinannya agar dapat terus ditingkatkan , sehingga mereka dapat menjalankan wewenangnya yang muaranya adalah tercapainya tujuan LAI sebagai sebuah organisasi.

Lalu apa yang dimaksud dengan “SMART Leadership” sendiri? Apakah seorang pemimpin semata-mata harus “smart”? Sebenarnya SMART yang dimaksud disini adalah agar tujuan organisasi dapat tercapai, maka seorang pemimpin dalam menjalankan tugas-tugasnya harus meliputi lima unsur ini, yakni: Spesifik, Motivating, Attainable, Relevan, dan Trackable. Jika pemimpin dalam menjalankan tugasnya memiliki kelima unsur ini, maka tujuan organisasi dapat dicapai.
Firman Allah hadir untuk semua orang adalah mimpi besar LAI. Agar mimpi ini dapat dicapai, maka diperlukan visi yang sama dari para pemimpinnya. Untuk itu Pelatihan “SMART Leadership” ini sebagai salah satu media pembelajaran bagi seluruh Kepala Departemen, Kepala Bagian, dan Supervisor yang ada di LAI untuk menyelaraskan visinya dengan visi LAI. Harapannya setelah mengikuti pelatihan ini mereka akan ditingkatkan keterampilan “leadership"nya sehingga dapat membantu tugas-tugas manajerialnya.

Agar dapat berjalan efektif, maka pelatihan yang difasilitasi oleh Josh Lie dari Komunitas Tempo ini dibagi menjadi 2 gelombang, yaitu: gelombang yang dilaksanakan pada Senin, 22 Oktober 2018 dan gelombang kedua, Senin, 29 Oktober 2018. Diharapkan dari pelatihan akan menjadi stimulus untuk melahirkan para pemimpin-pemimpin terbaik yang akan dapat mewujudkan Alkitab Untuk Semua.[]

Alkitab Whitney Houston Dijual Seharga US$ 95.000

title

Saat Whitney Houston harus pindah dari rumah sewaannya di kawasan Newport Beach, Whitney Houston sengaja meninggalkan Alkitab bersama barang-barang lain di dalamnya. Oleh pemiliknya rumah yang pernah disewa oleh Whitney Houston dijual pada tahun 2012. Sebelum menjualnya, pemilik rumah itu (sampai sekarang namanya dirahasiakan) membuang semua barang-barang yang ditinggalkan Whitney Houston, kecuali Alkitab, karena dia pikir ini barang yang "menarik." Dan investasi yang bagus, jika dia menemukan pembeli. Dia akan menjual Alkitab milik Whitney Houston seharga harga US$ 95.000.

Whitney Houston menyewa rumah mewah yang berada di kawasan Newport Beach itu dari 2009-2011. Pemilik rumah menemukan Alkitab dalam kotak bersama dengan beberapa pakaian dan CD milik Whitney setelah pindah rumah.Sebelum menjual Alkitab itu, pemilik rumah mengatakan dia telah menandatangani NDA dan menghubungi agen Whitney Houston tentang barang-barang yang tertinggal, kemudian diberitahu dia bisa menyimpannya.

Alkitab milik Whitney yang dijual melalui “Moments in Time” itu, memiliki tulisan tangan Whitney Houston di atasnya. Ada halaman yang mendokumentasikan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Whitney Houston. Misalnya, di kolom perkawinan, Whitney menuliskan namanya dan Robert B. Brown dan tanggal perkawinan mereka 18 Juli 1992. Di kolom kelahiran, Whitney menuliskan nama putrinya, Bobbi K. Kristina dan tanggal kelahirannya 4 Maret 1993.

Nampaknya Alkitab itu sengaja dicampakkan oleh Whitney Houston bersama kenangan dengan orang yang dicintainya. Seperti kita tahu setelah 14 tahun perkawinan dengan Bobby B. Brown kandas di tengah jalann. Kariernya sebagai Diva musik pop dunia menyurut karena terjerat narkoba. Nasibnya malah berakhir tragis, minum obat-obat penenang campur alkohol dan ditemukan tak bernyawa di bath tub kamar hotel.

Padahal kita tahu, Whitney Houston tumbuh dari penyanyi rohani di Gereja. Dulu Alkitab teman setianya dikala suka dan duka. Kesuksesan sebagai artis yang mendunia membuatnya lupa. Alkitab yang dulu diandalkannya, kini dicampakkan oleh ketenarannya. Kejayaan dan popularitas dunia panggung sangat dekat dengan bermacam godaan, disinilah sebenarnya peran Firman Tuhan sangat dibutuhkannya, bukan hanya sebagai pelarian kejiwaan, namun dapat menjadi pegangan dan tujuan hidup.

Alkitab yang dicampakkan oleh Whitney Houston, kini bernilai tinggi. Bukan hanya karena harganya yang mahal, tetapi lebih dari itu, di dalamnya sarat terkandung nilai-nilai kehidupan. Jika kita baca di dalamnya, terdapat Kabar Keselamatan, di mana Tuhan tidak akan pernah meninggalkan umatnya sedetik pun, apapun yang dialaminya, karena Dia adalah Tuhan Maha Tahu akan segala kebutuhan anak-anaknya []

Sumber: Dirangkum dari berbagai sumber

LAI Mengantar Anak-Anak Kanayatn Bertemu Tuhannya

title

Tercatat ada 83.184 Desa dan Kelurahan yang tersebar di 34 Provinsi di seluruh Indonesia. Satu dari ribuan desa yang sangat istimewa adalah desa Sidas, Kecamatan Sengah Temila, Kabupaten Landak, Provinsi Kalimantan Barat. Betapa tidak, karena pada Jumat 19 Oktober 2018 di desa ini diluncurkan buku “Kabar Baik Bergambar” dalam bahasa Dayak Kanayatn: “Carita Edo Bagambar”.

Tim penerjemah lokal yang dipimpin oleh Pdt Sungkin Jala, STh. dan di bawah supervisi Konsultan Penerjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), telah berhasil menghadirkan sebuah karya mulia untuk umat Tuhan penutur bahasa Kanayatn dan sekaligus bermakna bagi pelestarian bahasa-bahasa Ibu di Indonesia. Atas dukungan Mitra LAI jemaat GKI dan GKJ se Kota Bandung, buku ini diterbitkan dan dicetak sebanyak 4.000 eksemplar. Buku tidak diperjualbelikan dan khusus dibagikan untuk anak-anak Sekolah Minggu di 9 denominasi Gereja yang ada di Kabupaten Landak.

“Saya menyambut dengan sukacita dan bangga atas terbitnya buku ‘Carita Edo Bagambar’ ini. Ini adalah karya yang sangat dahsyat demi pendidikan iman generasi muda Dayak Kanayatn,” kata Bapak Vincentius, S.Sos. Sekretaris Daerah Kabupaten Landak yang hadir mewakili Bupati. “Karena pentingnya buku ini, maka saya akan mengusulkan agar bisa dicetak ulang untuk dapat digunakan bagi lebih banyak lagi anak-anak di Kabupaten Landak,” sambungnya.

Total jumlah penduduk Kabupaten Landak tidak kurang dari 390.000 orang. Bila 20% nya adalah anak-anak, maka setidaknya ada 78.000 anak disana. Sesuai dengan keterangan Pak Sekda, penduduk yang beragama Katolik dan Kristen Protestan di Kabupaten Landak ada 80%. Berarti ada 62.400 anak Katolik dan Kristen Protestan di sana. Kebutuhan buku “Carita Edo Bagambar” masih sangat banyak demi memenuhi jumlah anak yang ada.

Perjalanan rombongan LAI (saya, Ibu Erna, Ibu Rini, Ibu Samuel dan Sdr Andry) ke desa Sidas membutuhkan waktu setidaknya 10 jam mulai dari “take off” di bandara Soetta Cengkareng pada kamis 18 Oktober 2018 siang. Sesampainya di desa Sidas, dimana hari sudah cukup malam, kami rapat kecil untuk persiapan acara peluncuran buku “Carita Edo Bagambar”. Rapat diadakan di rumah Pdt. Sungkin Jala, S.Th yang masih bersisa bekas-bekas kebanjiran bulan lalu (yang airnya mencapai setinggi satu meter). Sambil menikmati kue “cucur” made in Ibu Pendeta Sungkin dan menyeruput kopi panas, kami sinkronkan ide dan urutan acaranya.

Jumat, 19 Oktober pagi pukul 08.30 WIB saat kami sampai di lokasi peluncuran, ternyata skenario rapat di malam sebelumnya tidak dapat dijalankan. Ini dikarenakan lokasi yang akan digunakan adalah di Gereja Persekutuan Pekabaran Injil Kristus (GPPIK) desa Sidas yang masih dalam proses pembangunan. Sebuah bangunan sementara seluas kurang kebih 150 M2 yang masih berupa tiang-tiang cor semen dengan atap seng dan lantai tanah. Dalam kondisi yang serba darurat, acara yang dimulai dengan ibadah singkat berlangsung dengan hikmat dan dalam suasana sangat sukacita. Tidak kurang dari 20 hamba Tuhan, anggota Tim Penerjemah ditambah dengan puluhan anak sekolah Miggu dan para tamu udangan hadir untuk mensyukuri acara ini.

Seusai acara kebaktian dan peluncuran buku, dilanjutkan dengan penandatangan Kesepakatan Kerjasama (MOU) antara LAI dengan GPPIK Kalbar. Sekum LAI dan Pdt Sugit Sibeon, MDiv. (Ketua Sinode GPPIK) menandatangani naskah MOU disaksikan Sekretaris Daerah Kab. Landak dan Pak Camat Sengah Temila dihadapan peserta yang hadir. Kerjasama ini memperkuat dan mendokumentasikan secara resmi semua kerjasama yang sudah berlangsung antara LAI dengan GPPIK selama ini.

Bila anak-anak bertemu Tuhan dengan menggunakan Bahasa Ibunya, maka tentu akan lebih meresap sampai ke hati yang paling dalam. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Seminar Alkitab: Israel Dalam Alkitab & Israel Modern

title

Ketika melihat Negara Israel, sering terjadi kesalahpahaman di kalangan umat kristiani di Indonesia. Mereka memandang Negara Israel (modern) saat ini identik dengan bangsa Israel yang tertulis dalam Alkitab. Banyak pemikiran dan pertanyaan seputar fenomena keabsolutan negara Israel sebagai negara yang dipilih oleh Tuhan secara langsung. Ini berkaitan dengan banyaknya tulisan dalam Akitab sebagai kitab pedoman umat Kristen, dimana Israel yang terdiri dari umat Yahudi dinyatakan sebagai Bangsa Pilihan Allah.

Fenomena ini semakin runyam ketika agama dimasukkan ke dalam konflik yang terjadi di wilayah Gaza, Palestina. Konflik di Gaza berimbas pada konflik di media sosial tanah air, dimana sentimen agama ikut dilibatkan. Kesalahpahaman yang terjadi di kalangan umat Kristiani yang masih percaya bahwa Negara Israel modern dan bangsa Yahudi adalah umat pilihan Allah, sebaliknya di kalangan umat Muslim percaya bahwa Negara Israel dan bangsa Yahudi adalah bangsa yang licik, jahat, dan penuh tipu daya.

Untuk mengurai benang kusut pemahaman tersebut di atas, Sabtu, 13 Oktober 2018 lalu Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) menyelenggarakan seminar Alkitab yang bertajuk: ‘Israel Dalam Alkitab dan Negara Israel Modern: Sebuah Kontinuitas atau Diskontinuitas?’ Adapun narasumber pada seminar tersebut adalah Dr. Paskalis Edwin I Nyoman Paska dan Dr. Budy Munawar-Rachman. Di mana masing-masing narasumber ini mengangkat topik tentang negara Israel dan fenomena-fenomena terkait yang terjadi belakangan dari sudut pandang Alkitab dan Al-Quran.

Seminar yang diadakan di lantai 9 Gedung Pusat Alkitab ini sebenarnya terbuka untuk umum, namun yang hadir sebagian besar Pimpinan Jemaat, Majelis Gereja, dan para mahasiswa, baik teologia maupun umum. Patut diakui telah terjadi kekeliruan pemahaman mengenai negara Israel masa kini dari sudut pandang Muslim maupun Kristiani. Kekeliruan itu memang sedikit banyak terjadi karena pengaruh ajaran dan cerita yang tertulis dalam Kitab Suci kedua agama tersebut.

Dr. Budy Munawar-Rachman mengungkap keberadaan bangsa Yahudi dari sudut pandang Al-Quran, sesungguhnya ada tertulis bahwa pada mulanya baik umat Muslim Arab, Kristen, maupun Yahudi (Israel) pernah hidup berdampingan. Artinya ketiga kaum atau umat Tuhan ini sesungguhnya punya keterkaitan sejarah agama yang kuat. Dalam Al-Quran, disebut di Surah Bani Israil, bahwa Israel adalah bangsa yang kuat, besar, dan memiliki kecerdasan tinggi, namun menjadi terhina karena menyimpang dari ajaran Tuhan dan mengabaikan Janji-janjiNya. Dalam hal ini berarti mereka telah mengkhianati perjanjian mereka sendiri.

Sementara dalam bagian lain diceritakan tentang hubungan dengan umat Yahudi, dinyatakan bahwa pernah terjadi hubungan yang kurang baik di antara mereka. Umat Muslim yang saat itu sedang gencarnya melakukan invasi ke banyak wilayah, sering dikhianati oleh umat Yahudi. Dinyatakan bahwa kaum Yahudi sering memberi bocoran rahasia kepada musuh-musuh kaum Muslim. Hal itu sangat disayangkan oleh mereka. Namun demikian, ada hal penting juga yang harus diketahui, bahwa dalam kitab suci Al-Quran dinyatakan bahwa umat Israel memang pilihan Tuhan.

Dalam sejarah juga pernah dicatat bahwa saat jatuhnya Yerusalem ke tangan Muslim, Patriyah Xoforius yang saat itu menjadi Kaisar Romawi penguasa Yerusalem, sangat takjub melihat Umar Khalifa saat mereka bertemu dan hendak membuat kesepakatan tentang Yerusalem yang sudah jatuh ke tangan kaum Muslim saat itu. Keputusan hasil kesepakatan yang disebut sebagai perjanjian yang disebut sebagai Deklarasi Aelia itu menjadi keputusan besar yang menentukan sejarah Yerusalem hingga hari ini. Sang Khalifah Umar memutuskan membagi Bait Allah di Yerusalem menjadi tiga bagian, untuk umat Kristen, Muslim dan Yahudi. Hal ini dilakukannya atas dasar toleransinya terhadap tiga agama besar yang mendiami tempat itu. Dan hingga saat ini Yerusalem menjadi pusat budaya dari tiga umat beragama tersebut.

Sementara itu, konflik di Timur Tengah, khususnya perkembangan Palestina sekarang ini, golongan Muslim dan Kristen sama-sama mendapatkan diskriminasi dari pemerintahan Negara Israel. Artinya konflik yang terjadi saat ini terjadi di Timur Tengah, khususnya konflik yang terjadi di Palestina bukanlah konflik agama tapi murni persoalan politik. Kondisi ini harus dimengerti secara bijak oleh kedua umat besar di Indonesia, yaitu Islam dan Kristiani. Bukannya justru digoreng menjadi semakin panas karena beberapa kalangan mencampuradukkan politik dengan agama. Mereka juga membawa-bawa berita konflik Palestina - dimana yang mereka ketahui hanya ada umat Muslim di sana - sebagai konflik penindasan terhadap umat Muslim. Ini bisa menyebabkan muncul kebencian yang makin berkelanjutan. Sama halnya dengan umat Muslim di Indonesia yang belum pernah bertemu dengan umat Yahudi, namun memiliki kebencian yang mendalam, begitu juga umat Kristiani di Indonesia banyak yang masih belum memahami bahwa Umat Israel yang menerima perjanjian dengan Tuhan pada zaman Alkitab tidak ada kaitannya dengan Negara Israel Modern yang berdiri sekarang ini.

Akhirnya ada beberapa kesimpulan yang bisa dicatat dari Seminar Alkitab yang dilaksanakan pada Sabtu, 13 Oktober 2018 lalu. Pertama yaitu, Israel modern tidak ada kaitannya dengan Israel yang menjadi umat Allah dalam Alkitab. Kedua adalah, Israel bukan lagi umat terjanji, karena perjanjian mereka dengan Tuhan telah gagal karena mereka melanggar ketetapan Tuhan dan tidak setia. Berikutnya, bahwa konflik Timur Tengah murni persoalan politik dan bukanlah konflik agama. Ada banyak juga orang Kristen, bahkan Yahudi yang tinggal di Palestina yang juga tertindas dan menderita akibat perang yang berkelanjutan. Dan terakhir, Israel yang tertulis dalam Alkitab sebagai Umat Perjanjian adalah bukan lagi yang berasal dari keturunan Abraham secara darah dan daging, tetapi mereka yang setia pada Firman Tuhan dan Ketetapan-ketetapanNya. Mereka yang mengikut Kristus secara setia.

Ada hal penting yang diungkap Dr. Paskalis Edwin I Nyoman Paska, yang mengatakan,” …Tidak perlu ada negara atau jumlah yang banyak untuk menentukan diri menjadi umat Tuhan. Dengan jumlah yang sedikit, namun dapat menjadi Terang dan Garam bagi lingkungan kita berada, sesungguhnya kita sudah menjadi Umat Pilihan Tuhan”. [hizkia]

Abraham Lincoln: Alkitab Hadiah Terbaik Tuhan Kepada Manusia

Abraham Lincoln sedang membacakan Alkitab kepada Tad, putranya.

title

Adalah George Washington yang pertama kali menggunakan Alkitab ketika disumpah menjadi Presiden Amerika Serikat pertama pada tahun 1789. Meskipun bukan suatu keharusan menggunakan Alkitab saat sumpah jabatan menjadi Presiden, namun kebiasaan ini diikuti oleh presiden-presiden Amerika berikutnya. Nampaknya peran Alkitab digunakan sebagai saksi terotoritatif, bahwa mereka yang dilantik bukan hanya bertanggung jawab kepada Negara melainkan lebih dari itu juga bertanggungjawab kepada Tuhan.

Ada beberapa Presiden Amerika saat dilantik menggunakan Alkitab yang sama. Salah satunya adalah Alkitab milik Abraham Lincoln, selain digunakan oleh Abraham Lincoln sendiri yang dilantik sebagai Presiden Amerikan Serikat ke-16 pada tahun 1861, Alkitab tersebut juga dipakai oleh Barrack Obama yang dilantik sebagai Presiden pada 2009 dan 2013 dan Donald Trump yang dilantik pada 2017.

Alkitab milik Abraham Lincoln yang kini tersimpan di Perpustakaan Kongres sudah sangat tua usianya. Oleh Mary Lincoln, janda Robert Todd Lincoln (putra Abraham Lincoln) Alkitab ini diwariskan untuk masyarakat Amerika Serikat. Bahkan menurut Mark Dimunation, Kepala Bagian Buku Langka dan Koleksi Khusus Perpustakaan Kongres Amerika Serikat, Alkitab tersebut sering dipamerkan ke seluruh Amerika Serikat, khususnya saat berdiskusi membicarakan tentang Abraham Lincoln.

Bukan tanpa alasan Alkitab milik Abraham Lincon terus dipamerkan ke seluruh negeri. Bangsa Amerika ingin Alkitab ini dijadikan sumber inspirasi bagi rakyat Amerika untuk dapat mendaraskan nilai-nilai Alkitabiah, sebagaimana Abraham Lincoln selalu menjadikan Alkitab sebagai sumber inspirasi dalam membangun fundamental bagi demokrasi di Amerika Serikat seperti sekarang ini.

Diinspirasi oleh nilai-nilai Alkitabiah, Abraham Lincoln berhasil mempersatukan dua kubu yang bertikai akibat perang saudara atau dikenal dengan Perang Saudara, menjadi pelopor bagi semangat emansipasi, mengeluarkan kebijakan untuk menghapus perbudakan, dan menerbitkan undang-undang untuk mampu mengatasi ketimpangan antara orang kaya dan miskin, serta karya-karya Abraham Lincoln lainnya. Hingga kini belum ada satu pun Presiden Amerika Serikat yang mampu menyaingi prestasi Abraham Lincoln.

Semua prestasi tersebut tidak lepas dari sikap hidup Abraham Lincoln yang selalu mengandalkan Tuhan, menyerahkan semua pergumulannya dalam doa, dan kebiasaannya membaca Alkitabnya. Jika kita membaca buku-buku sejarah tentang Abraham Lincoln bahwa semua pemikiran, keputusan, dan kebijaksanaan sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai Alkitabiah, sehingga muncul pernyataan Abraham Lincoln yang sangat terkenal tentang kesannya terhadap Alkitab.

“Mengenai Kitab Besar ini, aku hanya mengatakan, ini adalah pemberian terbaik yang sudah diberikan Tuhan kepada manusia. Semua kebaikan yang diberikan Juruslamat kepada dunia dikomunikasikan melalui buku ini. Semua hal yang paling diinginkan bagi kesejahteraan manusia, untuk saat ini dan selanjutnya, bisa ditemukan di dalamnya.”

Meskipun Abraham Lincoln dikenal sebagai pribadi yang baik hati, jujur, dan berani berjuang untuk perdamaian, emansipasi/persamaan hak, penghapusan perbudakan dan pejuang kemanusiaan, namun beliau harus tewas saat menyaksikan pertunjukan di Ford’s Theater, Washington D.C diterjang peluru panas John Wilkes Booth aktor panggung yang tidak setuju dengan perdamaian dan berakhirnya Perang Saudara.

Ada harga mahal yang harus dibayar oleh para pengikut Kristus yang ingin secara konsisten menerapkan nilai-nilai Alkitabiah dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Abraham Lincoln tahu resiko itu, namun dia terus setia berjalan di jalan dan bersama Tuhan. Abraham Lincoln adalah salah satu teladan iman bagi kita yang selalu mengandalkan Tuhan dan FirmanNya selama hidupnya. []

Sumber: dirangkum dari www.abrahamlincolnsclassroom.org

Manny Pacquiao: Firman Tuhan Pelita Bagiku

title

Siapa tak kenal “Packman” julukan bagi petinju kidal asal Filipna yang bernama lengkap Emmanuel Dapidran Pacquiao atau biasa dipanggil Manny. Manny Pacquiao adalah juara dunia tinju profesional asal Filipina. Pacquiao adalah petinju dari benua Asia pertama yang berhasil meraih gelar juara tinju profesional di enam kelas yang berbeda.

Adalah Freddie Roach pelatih tinju yang menemukan Manny Pacquiao dari jalanan. Karena sejak usia 14 tahun, Manny sudah hidup sebagai anak jalannya. Untuk dapat bertahan hidup dan akibat kerasnya hidup di jalanan, Manny sudah sejak muda menceburkan diri menjadi petinju profesional.

Hingga suatu malam, Manny tidur di alas kardusnya dan bermimpi bertemu dengan 2 malaikat dan mendengar suara Tuhan. Sejak saat itu perlahan-lahan kehidupannya berubah total, ia mulai suka membaca Alkitab. Kebiasaannya membaca Alkitab terus ditekuninya hingga sekarang.

Kemana pun Manny pergi selalu membawa dan membaca Alkitab. Baik itu di rumah, saat perjalanan dengan mobil, di dalam pesawat terbang, dan dimana pun dia berada Alkitab tidak pernah luput dari tangannya.

Saat Manny diwawancarai Rick Warren dalam salah satu ibadahnya, Manny sanggup menghafal dan mengutip 50 ayat Alkitab di luar kepala. Ketika Rick Warren bertanya kepada Manny, “seberapa pentingkah Firman Tuhan bagi Anda?” Manny menjawab, bahwa hanya percaya dan doa saja tidaklah cukup, seperti tertulis dalam firmanNya Yakobus 2: 19-20, Lukas 6: 46, dan Matius 7: 21). Dikatakannya, bahwa kita juga harus melakukan Firman Tuhan lewat perbuatan kita, sebab iman tanpa perubatan adalah kosong.

Menurut Manny sebenarnya cita-cita hidupnya bukanlah menjadi petinju, tetapi tujuan utamanya adalah memberitakan Firman Tuhan dan menjadi Saksi Kristus dimana pun dia berada. Manny membangun sebuah gedung gereja “The Word for Everyone” di Santos City, Filipina yang sanggup menampung 5.000 orang dengan dana US$ 6,7 juta yang berasal dari koceknya sendiri.

Manny Pacquiao adalah pengikut Kristus yang taat seperti yang ditulis di dalam Alkitab. Saat Manny membaca ayat demi ayat Alkitab, ia tidak hanya sekedar menempatkannya di dalam pikiran tetapi ia juga mengaplikasikannya di dalam kehidupan sehari-hari. Karena baginya, Firman Tuhan adalah pelita bagi jalannya. []

Refleksi Boven Digoel

title

Meskipun saya sudah berada kembali di Jakarta, namum pengalaman pelayanan di pedalaman Boven Digoel masih sangat membekas dalam ingatan.

Suatu kali di sebuah Distrik yang bernama Ninati, tim kami berkunjung ke sebuah sekolah dasar yang diampu oleh sebuah Yayasan Pendidikan Kristiani. Dalam interaksi singkat dengan para murid, kami terkaget dengan sebuah jawaban lantang seorang murid. Waktu itu salah seorang amggota tim SDK LAI melontarkan pertanyaan, "Tuhan Yesus lahir di kota mana?" Suasana segera sepi karena tidak ada seorang anakpun yang menjawab. Tiba-tiba seorang anak mengangkat jari dan berseru dengan lantang, "saya tahu, mama. Jawa Barat!". Jawaban itu tentu membuat semua anggota tim tertawa, namun tidak demikian dengan anak-anak.

Kami baru tahu kemudian, bahwa dengan tidak adanya Alkitab di tangan mereka, maka mereka tidak mempunyai sumber informasi bagi pertumbuhan iman mereka. Bahkan yang memprihatinkan adalah mereka tidak mempunyai kelas Sekolah Minggu. Kalaupun ada, sering 'bolong'-nya daripada ber-isi-nya. Kondisi ini juga terjadi di desa Yetetkun, kurang lebih 5 km sebelum perbatasan PNG.

Dibutuhkan kesehatian bersama agar kehausan akan pembinaan iman di wilayah pedalaman dapat dipenuhi. Bukankah orang yang selalu membaca dan merenungkan firman Tuhan ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran sungai? (bdk. Maz. 1). Dibutuhkan kesehatian kita agar Alkitab bisa sampai kepada mereka yang sangat membutuhkan.

Selamat berjuang, Saudaraku. Selamat merenda rencana seminggu ke depan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Salam: Guruh dan keluarga.

Prinsip-Prinsip Alkitab Menjadi Sumber Kesuksesan Colgate Palmolive

title

Jika mendengar nama Colgate, benak kita pasti akan langsung berpikir tentang pasta gigi. Adalah William Colgate lahir 25 januari 1783 di kota Kent, Inggris. Ayahnya, Robert Colgate meskipun hanya petani ia menentang kolonialisasi yang lakukan Inggris di benua Afrika dan Asia. Karena sikap politiknya memaksa keluarga Colgate meninggalkan Inggris dan menetap di tanah perkebunan di Hartford, Maryland, Amerika Serikat.

Setelah menetap di Amerika Serikat ayah William Colgate memulai usaha pembuatan sabun dan lilin. William Colgate membantu usaha orangtuanya dan belajar dengan cepat. William Colgate tumbuh sebagai interprener muda, namun usaha yang dirintisnya kembali jatuh.

Meski gagal dua kali, namun William Colgate tidak menyerah. Dari kegagalannya ia mendapatkan pelajaran berharga. Seorang temannya menasihati William Colgate, "Berikan hatimu bagi Kristus. Berilah kepada Kristus apa yang menjadi milik Nya. Buatlah sabun dengan jujur. Berikan persembahanmu dengan jujur...dan engkau akan menjadi pembuat sabun ternama di New York."

Saat William mempelajari Alkitab, ia begitu tertarik dengan ayat dalam Kejadian 28:20-22, "Lalu bernazarlah Yakub: "Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka Tuhan akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepadaMu." William Colgate terus memegang perintah Tuhan seperti yang terdapat dalam kitab Amsal, yaitu memperhatikan perintah, meski perintah itu datang dari mereka yang gagal (Amsal 24:30-32).

Kemudian William Colgate bekerja pada perusahaan sabun, namun tahun 1806 perusahaan tempatnya bekerja kembali gulung tikar. Namun William Colgate tidak patah arang, ia mencoba menjalankan perusahaan tersebut. Ia mencoba menghubungi para penyalurnya di kota lain. Ia memulai merintis bisnis sabunnya kembali.

Dan mujizat terjadi. William Colgate dan perusahaannya dalam waktu 6 bulan sudah berhasil membuat produk-produk baru dengan bahan kanji. Segera, perusahaan itu mampu memproduksi sabun tangan, sabun toilet, dan sabun cukur. Meskipun William Colgate sangat sibuk dalam pengembangan usaha, ia tidak mengabaikan waktu-waktu pribadinya dengan Tuhan. Kesuksesan William Colgate dicapai karena ia mengikuti prinsip-prinsip Alkitab. Seperti Yakub yang berjanji untuk memberi persembahan sulung kepada Tuhan, Colgate juga membuat janji yang sama. Sepuluh persen dari keuntungan Colgate dengan setia diberikan kepada Tuhan.

Tidak lama, William Colgate segera menjadi salah satu pengusaha ternama di New York. Bisnis itu bukanlah satu-satunya yang bertumbuh dan berhasil. Tahun 1811 William Colgate menikahi Mary Gilbert dan dari pernikahannya lahir 11 anak. William Colgate bahkan menamai anaknya berdasarkan nama Alkitab. Ini menggambarkan cara pandang Alkitab dalam setiap aspek hidup mereka. Keluarga ini setia beribadah dan membaca Alkitab bersama.

Selain itu William Colgate sangat aktif dalam bermacam kegiatan sosial yang diadakan di gerejanya. Dia juga meyumbangkan banyak dana untuk lembaga pendidikan, termasuk Madison College, Hamilton, New York. Karena kemurahan hatinya, sekolah itu kini berganti nama menjadi Colgate University. Dia juga adalah pendukung aktif kegiatan misionaris. Pada tahun 1816, Colgate memegang peranan penting dalam mengelola American Bible Society dan American and Foreign Bible Society. Dia juga melayani sebagai pengurus American Tract Society.

Selagi bisnisnya terus berkembang dan diberkati Tuhan, William Colgate memerintahkan akuntannya untuk meningkatkan jumlah persembahannya, dari 20 persen menjadi 30 persen. Ketika dia terus berkomitmen untuk memberi, perusahaannya menjadi semakin diberkati Tuhan.

Saat ini, Colgate Palmolive adalah salah satu perusahaan tertua di Amerika. Produknya telah berkembang tidak hanya sabun untuk memenuhi kebutuhan perorangan saja, tetapi juga digunakan untuk bahan baku pabrik dan untuk perawatan hewan peliharaan. Merk-nya telah dikenal di seluruh dunia seperti Colgate, Palmolive, Speed-Stick, Fab, Murphy, Ajax, dan Irish Spring. Perusahaannya dinobatkan oleh majalah Fortune sebagai salah satu dari 500 perusahaan paling sukses di Amerika. Angka penjualan revenue-nya mencapai US$ 9 miliar dan cabangnya telah berada di 221 negara di seluruh dunia.

Keberhasilan William Colgate adalah sebuah kesaksian tentang apa yang Tuhan sanggup kerjakan bagi mereka yang setia mengejar mimpinya dan berkomitmen untuk mengenal Tuhan, pribadi yang sanggup memenuhi mimpi-mimpinya.[]