Refleksi Boven Digoel

  • 21
    Shares

title

Meskipun saya sudah berada kembali di Jakarta, namum pengalaman pelayanan di pedalaman Boven Digoel masih sangat membekas dalam ingatan.

Suatu kali di sebuah Distrik yang bernama Ninati, tim kami berkunjung ke sebuah sekolah dasar yang diampu oleh sebuah Yayasan Pendidikan Kristiani. Dalam interaksi singkat dengan para murid, kami terkaget dengan sebuah jawaban lantang seorang murid. Waktu itu salah seorang amggota tim SDK LAI melontarkan pertanyaan, "Tuhan Yesus lahir di kota mana?" Suasana segera sepi karena tidak ada seorang anakpun yang menjawab. Tiba-tiba seorang anak mengangkat jari dan berseru dengan lantang, "saya tahu, mama. Jawa Barat!". Jawaban itu tentu membuat semua anggota tim tertawa, namun tidak demikian dengan anak-anak.

Kami baru tahu kemudian, bahwa dengan tidak adanya Alkitab di tangan mereka, maka mereka tidak mempunyai sumber informasi bagi pertumbuhan iman mereka. Bahkan yang memprihatinkan adalah mereka tidak mempunyai kelas Sekolah Minggu. Kalaupun ada, sering 'bolong'-nya daripada ber-isi-nya. Kondisi ini juga terjadi di desa Yetetkun, kurang lebih 5 km sebelum perbatasan PNG.

Dibutuhkan kesehatian bersama agar kehausan akan pembinaan iman di wilayah pedalaman dapat dipenuhi. Bukankah orang yang selalu membaca dan merenungkan firman Tuhan ibarat pohon yang ditanam di tepi aliran sungai? (bdk. Maz. 1). Dibutuhkan kesehatian kita agar Alkitab bisa sampai kepada mereka yang sangat membutuhkan.

Selamat berjuang, Saudaraku. Selamat merenda rencana seminggu ke depan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Salam: Guruh dan keluarga.