Bersiaplah karena Tuhan Pasti Datang

Minggu Adven 1

title

(Lukas 21:25-36)

Entah sudah berapa lama aku mendengar kalimat ini: “Tuhan akan segera datang”, rasanya sudah ribuan kali itu diperdengarkan oleh para pendeta yang berkhotbah. Namun hingga di penghujung tahun 2018 ini, Tuhan rasa-rasanya belum juga datang. Mungkin Dia belum mau datang, atau mungkin juga Dia lupa untuk datang. Selagi Dia belum datang, biarlah aku menikmati hidup ini, melakukan semua kesenanganku, toh Dia belum datang. Mungkin Dia tidak datang.

Akankah Natal tahun ini menjadi berbeda dengan natal tahun-tahun yang lalu? Ataukah tetap sama saja. Ya, hanya berada di seputaran makanan, minuman, pesta, liburan, hura-hura, seremonial, perayaan, dekorasi natal, kembang api, dan diskon. Jika saja kita dapat kembali ke masa di mana Yesus dilahirkan lalu bertanya kepada bayi Yesus apakah Dia suka dengan cara kita merayakan kelahirannya seperti sekarang ini atau kita bertanya kepada Maria dan Yusuf apakah mereka menginginkan semuanya itu, Apakah yang akan mereka katakan?

Kita tidak pernah dapat kembali ke masa lalu, karena kita telah ada di masa kini di hari ini. Maka cobalah kita bertanya kepada Yesus, “Tuhan apakah Engkau menginginkan natal seperti yang kami rayakan selama ini? Maukah nanti Engkau hadir merayakannya bersama dengan kami? Tuhan, jika Engkau benar-benar akan datang kembali, dapatkah kami menyambut-Mu dengan perayaan pesta seperti yang sudah-sudah kami lakukan?”

Atas pertanyaan kita ini, mungkin Tuhan akan menjawab seperti ini (ay. 34-36, BIMK): “Jagalah dirimu, jangan sampai kalian terlalu sibuk berpesta-pesta dan minum minuman keras, atau terlalu memikirkan soal-soal hidupmu, sehingga kalian tidak siap ketika hari itu muncul dengan tiba-tiba. Sebab Hari itu akan datang seperti perangkap pada semua orang di muka bumi ini. Berjaga-jagalah, dan berdoalah selalu supaya kalian kuat mengatasi semua hal yang bakal terjadi dan kalian dapat menghadap Anak Manusia."

Entahkah kita menginginkan kedatangan-Nya atau tidak, entah kita menyambut-Nya atau tidak, Tuhan pasti datang. Ketika Dia datang, bukan hiruk-pikuk pesta yang dicari-Nya, apalagi sekedar makanan dan minuman. Yang dicari-Nya adalah kita. Dia akan datang dalam kemuliaan-Nya, namun sebelum itu deru perang, ketakutan, kecemasan, akan menimpa seluruh bangsa. Karena itu, hendaklah kita berjaga-jaga seperti yang diinginkan-Nya, agar ketika tanda-tanda kedatangan-Nya mulai terjadi kita tidak menjadi takut melainkan dengan penuh semangat dan keberanian kita menghadapinya sebab kita tahu bahwa Penyelamat kita sudah dekat (ay. 28).

Selamat memasuki Minggu Adven pertama.[]

Lilin Adven

Lilin Adven

title

Dalam tradisi kekristenan lilin dan Natal sudah merupakan satu kesatuan yang sukar untuk bisa dipisah lagi. Rasanya kalau kita merayakan Natal tanpa adanya lilin berarti ada sesuatu yang kurang. Sebenarnya tidak ada satu ayat pun dalam Alkitab yang mengkaitkan antara lilin dan Natal. Bagi umat Kristen, lilin itu merupakan simbol dari kelahiran Yesus yang membawakan terang ke dalam dunia ini. Lilin dapat membawa terang untuk melawan kegelapan. Terang selalu menguasai kegelapan dan tidak pernah ditelan oleh kegelapan, betapa pun kecilnya terang itu. Lilin itu ikhlas berkorban membakar dirinya sendiri agar dapat menjadi terang. Tanpa pengorbanan, sulit menjadi terang. Lilin melambangkan keberanian untuk memberikan terang. Mereka yang berada di dalam kegelapan pada suatu saat pasti akan membutuhkan terang.

Umat kristiani sering menyalakan lilin sambil berdoa. Lilin yang menyala melambangkan suatu kurban yang dilakukan sekaligus dengan mempersembahkan doa dan menerima kehendak Tuhan. Lilin dalam dekorasi Lingkaran Adven Krans pada umumnya terdiri dari lima lilin. Setiap minggu yang dilewati dinyalakan satu lilin, selama empat minggu berturut-turut. Simbol warna lilin yang digunakan adalah tiga lilin warna ungu sebagai lambang penyesalan dan pertobatan. Satu lilin merah melambangkan sukacita. Sedangkan lilin besar yang di tengah berwarna putih melambangkan lilin Kristus. Lilin ini baru dinyalakan pada hari Natal.[]

Sumber: Rasid Rachman. Hari Raya Liturgi. (Jakarta: BPK-Gunung Mulia; 2009).

Ahok & Alkitab

title

Gara-gara status facebook seorang Pendeta yang menceriterakan film "A Man Called Ahok" saya jadi teringat PR yang belum selesai. Hasil wawancara saya dengan Pak Ahok bulan lalu di Mako Brimob belum final saya olah menjadi salah satu artikel sebuah buku kesaksian. Saya jadi ingin menonton film tersebut untuk mendapat tambahan informasi tentang Pak Ahok.

Saya berkenalan dengan Pak Ahok sejak 2010 dimana saat itu dia masih sebagai anggota DPR-RI. Saat itu saya dan kawan-kawan di GKI Kwitang Jakarta sedang menyiapkan buku "Berpihak kepada yang tersisih dan terpinggirkan - Mengenang Pdt Dr Daud Palilu" dan menetapkan Pak Ahok sebagai salah satu kontributor tulisan, karena kepedulian dan konsistensinya berjuang untuk rakyat.

Dalam acara peluncuran buku di atas pada 2011 Pak Ahok bilang: "Saya tidak mau basis pemilih saya sebagai politisi hanya mengandalkan anggota Gereja. Saya mau melayani semua, jadi saya harus didukung oleh semua." Buat saya pernyataan itu suatu ekspresi kejujuran dan keberanian. Betapa tidak, biasanya kebanyakan politisi Kristen justru bicara yang menekankan aspek primordialisme untuk mendongkrak popularitasnya.

Kemarin sore (20/11/2018) mumpung sedang libur, saya mencari bioskop yang memutar film "A Man Called Ahok" dan dapat giliran nonton pukul 21.15 WIB. Bagi saya, sesudah menonton film tersebut, manfaat yang didapat adalah bisa menjadi penguat atas banyak informasi yang saya dapat langsung dari Pak Ahok maupun dari tulisannya.

Saya semakin paham bahwa "obsesi" dia masuk ke dunia politik adalah sebuah "panggilan jiwa" yang tak tertahankan demi rakyat. Idiomnya "BTP - Bersih, Transparan dan Profesional" adalah suatu tekad perjuangan demi keadilan dan kesejahteraan bersama.

Dalam film di atas tidak ada sama sekali disinggung soal Alkitab. Bahkan tak tampak simbol-simbol keKristenan sama sekali. Tapi nilai-nilai yang tersurat dalam dialog maupun yang tersirat dalam visual sungguh sangat Alkitabiah, khususnya tentang kasih yang tulus kepada orang kecil.

Saat saya jumpa bulan lalu, secara mendalam Pak Ahok mengungkapkan intensitas dia membaca Alkitab. Sebelum di penjara, dia setidaknya sudah 25 kali selesai membaca Alkitab dari Kejadian sampai Wahyu. Tiap lima tahun dia ganti Alkitab baru karena yang lama sudah habis dicorat-coret.

Terlepas dari ketidaksempurnaan Pak Ahok sebagai manusia biasa, namun dia sudah terbukti berjuang secara total untuk kebaikan negeri ini. Pelajaran dan didikan dari Papanya sangat mendominasi semangat perjuangannya. Kekuatan utamanya diakui datang dari Tuhan yang diungkapkan melalui pembacaan Alkitab secara konsisten.

Apabila Alkitab menjadi pedoman hidup bagi umat Tuhan, maka kekuatan itu sungguh nyata dan terus memberi pengharapan. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Menyampaikan Kabar Baik ke Pedalaman Sintang

title

membagikan Alkitab dukungan Satu Dalam Kasih (SDK) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) kali ini begitu melelahkan buat saya, dibandingkan perjalanan-perjalanan SDK sebelumnya yang pernah saya ikuti. Rasanya tidak ada waktu yang cukup untuk membagikan Firman Tuhan di wilayah Sintang, Kalimantan Barat yang amat luas ini. Tidak kenal pagi, siang, dan malam, Tim SDK LAI terus bergerak membagikan Kabar Baik kepada Gereja-gereja dan umat Kristiani di wilayah pedalaman Sintang.

Meskipun sudah naik mobil, speed boat, sepeda motor, dan jalan kaki tapi perjalanan ini sangat melelahkan bagi saya. Karena kelelahan dan demam, saya terpaksa istirahat 1,5 hari dan menuntaskan perjalanan SDK ke Sintang sampai hari ini, Jumat, 9 November 2018untuk kembali ke Pontianak. Sementara rekan-rekan Tim SDK LAI masih harus menyerahkan dan menyelesaikan administrasi dan besok 10 November baru kembali ke Jakarta.

Menurut saya sebenarnya perjalanan SDK LAI ini menyenangkan, karena kita ada di tengah-tengah alam ciptaan Tuhan yang ada di Bumi Kalimantan. Kita dapat menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Kita dapat langsung bertemu dan bertatap muka dengan jemaat-jemaat Kristiani di pelosok-pelosok wilayah Sintang. Kita juga dapat bertemu dengan para Pendeta yang mempunyai semangat pelayanan yang tinggi, karena disamping mereka harus membangun dan menguatkan jemaatnya, para Pendeta ini juga terpaksa harus berladang sekedar mencukupi kebutuhan hidupnya. Karena memang jemaat-jemaat ini penuh dengan keterbatan, baik ekonomi jemaat maupun penerimaan gereja dari persembahan.

Bagi saya pribadi, perjalanan SDK LAI ini baik untuk penyegaran dan pertumbuhan Rohani. Karena kita bisa bertemu langsung dengan jemaat penerima bantuan Alkitab program SDK LAI yang telah didukung oleh jemaat perkotaan. Kemarin saat kami berkunjung ke Kayan, di daerah Tebidah, banyak jemaat anak-anak, remaja, dan pemuda yang bersekolah di SMP dan SMA. Mereka membantu mengangkat ratusan dus Alkitab untuk sampai ke Gerejanya. Melihat banyaknya orang muda di Kayan ini, Pendeta Hoseas, berkata: “Kalimantan masih terbuka luas kesempatan untuk memberitakan Kabar Baik. Ladang sudah menguning. Kita masih membutuhkan banyak para pekerjanya. Mereka, orang muda inilah calon pekerja-pekerja di Ladang Tuhan, karena Alkitab yang mereka rindukan kini sudah dapat dipelajari.” Inilah secuil kisah perjalanan SDK LAI ini di Sintang. Semoga dapat menjadi berkat bagi kita semua.[Ernanto]

Lembaga Alkitab Indonesia Sebagai Lembaga Pelestari Bahasa Daerah di Indonesia

D0K. ANTARAFOTO

title

Ada dua tugas mulia Lembaga Alkitab Indonesia [LAI] yang merupakan mandat dari negara Republik Indonesia, yaitu: (1) Pembinaan mental spiritual bagi warganegara yang beragama Kristen Protestan dan Katolik, dan (2) Pelestari bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Secara konkret mandat pertama diwujudkan dalam hal penyediaan Alkitab atau Kitab Suci dan bagian-bagiannya yang dibutuhkan dalam setiap pembinaan warga Gereja-gereja di Indonesia.

Dalam hal pelestari bahasa-bahasa daerah di Indonesia tampak jelas dari pekerjaan LAI yang menerjemahkan Alkitab ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia. Selama 64 tahun LAI menjalankan pelayanannya, Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang bahasa aslinya bahasa Aram, Ibrani dan Yunani sudah diterjemahkan ke dalam 33 (tiga puluh tiga) bahasa daerah di Indonesia. Sedangkan untuk Alkitab Perjanjian Baru tanpa Perjanjian Lama, sudah diterjemahkan oleh LAI ke dalam 81 (delapan puluh satu) bahasa daerah di Indonesia.

Menurut survei yang dilakukan LAI, masih ada setidaknya 132 (seratus tiga puluh dua) bahasa daerah yang dapat menjadi prioritas untuk penerjemahan Alkitab karena kebutuhan umat yang mengharapkan dapat membaca, merenungkan, dan menghayati isi Alkitab dalam bahasa ibu mereka. Sedangkan menurut data pemerintah, jumlah bahasa daerah di Indonesia setidaknya berjumlah 742 (tujuh ratus empat puluh dua) bahasa daerah.

Bahasa adalah salah satu ekspresi budaya masyarakat. Pengunaannya secara konsisten dalam komunikasi dan literasi sehari-hari akan menjamin eksistensi bahasa tersebut. Tantangan beratnya, dalam era serba global dan digital, penggunaan bahasa daerah menjadi terdesak oleh bahasa “lain” yang lazim digunakan dalam komunikasi keseharian masyarakat. Semakin banyak generasi muda terutama yang di perkotaan berkomunikasi dengan masyarakat secara heterogen dan tidak menggunakan bahasa daerahnya, maka akan semakin menjauhkan mereka dari bahasa daerahnya.

Salah satu cara melestarikan bahasa-bahasa daerah adalah dengan cara membuat banyak dokumen dalam bahasa-bahasa tersebut. Dengan banyaknya dokumen maka akan tersedia alat yang “tangible” yang dapat digunakan untuk mempelajari bahasa tersebut, selain tentu melalui para penutur bahasa. Di samping itu, penggunaan bahasa daerah dalam ekspresi budaya masyarakat juga akan menjamin lestasinya bahasa tersebut. Misalnya penggunaan bahasa daerah dalam upacara-upacara adat, dalam penamaan-penamaan anak, tempat, makanan, dan benda-benda lain, serta penggunaan secara rutin dalam acara-acara keagamaan. Akan sangat menguatkan lagi apabila juga selalu digunakan dalam proses belajar mengajar di sekolah-sekolah.

Alkitab dalam bahasa daerah sudah terbukti sangat besar kontribusinya dalam melestarikan bahasa-bahasa daerah. Setiap ibadah Gereja, minimal diadakan seminggu sekali, yang menggunakan Alkitab bahasa daerah akan menjadikan umat semakin paham bahasa daerahnya. Bila ini dilakukan secara konsisten maka pengguna bahasa daerah juga akan terus bertambah oleh karena anak-anak, generasi bergenerasi akan tetap paham bahasa daerahnya.

Mandat pelestari bahasa-bahasa daerah ini, disamping mandat pembinaan mental spiritual bangsa, menjadi alasan yang sangat kuat bagi LAI untuk beraudiensi dan kemudian mengundang Bapak Presiden RI untuk hadir dalam acara ulang tahun ke 65 LAI pada tanggal 9 Februari 2019. Dalam acara ulang tahun ini LAI berharap akan mendapatkan pengakuan, syukur-syukur mendapatkan penghargaan dari Pemerintah RI dalam hal pelestari bahasa-bahasa daerah di Indonesia. Puluhan Alkitab dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang merupakan karya terjemahan LAI menjadi bukti yang sangat kuat dan tak terbantahkan.

Keberagaman bangsa Indonesia yang sangat indah yang diekspresikan dalam berbagai macam bahasa daerah menjadi kekayaan yang harus dilestarikan dengan segala daya dan upaya oleh semua pihak. Lembaga Alkitab Indonesia masuk dalam daftar lembaga yang memiliki kepedulian di atas. Ini semua demi kita bersama, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang “Bhinneka Tunggal Ika.” Salam Alkitab Untuk Semua.[]

Sigit Triyono [Sekum LAI]

Keberagaman Yang Menyatukan

title

Perjalanan pendistribusian Alkitab Satu Dalam Kasih (SDK) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) di Kepulauan Kei membawa kesan tersendiri bagi saya. Bagaimana tidak, selain alamnya yang indah, kepulauan Kei juga memiliki nilai keberagaman dan toleransi yang tinggi di antara masyarakatnya.

Pendistribusian Alkitab dilakukan di Kei Kecil (Ur Pulau, Warwut, dan Ohidertawun) dan Kei Besar (Tamangil, Lahairoi Lerohoilim, Ur Ohoimejan, dan Ad). Perjumpaan tim SDK LAI dengan umat Tuhan di Kei Kecil dan Kei Besar sungguh luar biasa. Ada yang istimewa saat kami tiba di sebuah desa bernama Tamangil, kami disambut oleh tarian anak-anak sekolah dasar, bahkan saudara-saudara umat Muslim juga menyambut kedatangan kami. Semua sukacita, semua membaur jadi satu. Tidak ada perbedaan di antara umat Kristiani dan Muslim. Kami merasa diterima seperti layaknya keluarga.

Dalam perjalanan SDK kali ini jumlah peserta atau Tim SDK LAI yang ikut ada sekitar 20 orang. Mereka adalah para Mitra LAI yang berasal dari KKPD LAI Mitra Bandung, KKPD LAI Mitra Jakarta, utusan dari Yayasan BPK Penabur Jakarta, dan beberapa warga gereja di sekitar Jabodetabek, serta staf LAI, baik dari Kantor Pusat maupun Perwakilan LAI Makassar. Tim SDK LAI kali ini datang dari berbagai daerah yang berbeda, usia yang berbeda, bahkan profesi yang berbeda-beda. Namun, satu tujuan kami, yaitu untuk menyampaikan Kabar Baik. Harapan Tim SDK LAI adalah agar Alkitab yang digalang sampai ke tangan saudara-saudara yang benar-benar membutuhkan Firman Tuhan di Kepulauan Kei, sehingga mereka nantinya dapat semakin mengenal Yesus Kristus, Sang Sumber Hidup itu sendiri.

Syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya sepanjang 24-30 Oktober 2018, di mana Tim SDK LAI sudah diberikan kelancaran dalam perjalanan mendistribusikan 11.720 eks Alkitab dan Bagian-bagian hasil dukungan program SDK untuk Gereja-gereja dan jemaat di Kepulauan Kei. Kiranya nama Tuhan Yesus Kristus yang terus menjadi pemersatukan keberagaman kami dalam mewartakan Kabar Baik, sehingga firman Tuhan akan terus tersebar di seluruh pelosok negeri ini. [zegyp]

LAI & 15 Destinasi Wisata Danau Toba

title

Ada desa di pinggir Danau Toba yang bernama Tongging di Kecamatan Merek Kabupaten Karo Sumatera Utara. Sebuah desa yang tenang, sejuk, damai dengan pemandangan pinggir danau yang sangat indah. Seumur-umur saya baru satu kali ini sampai ke Tongging (28-31 Okt 2018) karena ada tugas menindaklanjuti kemitraan yang saling memberdayakan antara LAI dengan GBKP. Suasana desa Tongging sungguh tidak kalah dengan suasana pinggir Danau Victoria di Tanzania Afrika yang juga pernah saya singgahi karena tugas pelayanan Gereja beberapa tahun lalu.

Di satu pagi yang cerah 29/10/2018 saat saya berolah raga jalan kaki menyusuri pinggir danau Toba, saya meilhat papan pengumuman dengan judul “Visitor Information”. Terpampang disana sebuah peta yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Karo yang menerangkan tentang “Lake Toba Geopark” dengan 4 “Geoarea” dan 15 “Geosite” yang menghasilkan “Lake Toba Spectacular View”. Begitu luasnya wilayah “Geopark” ini, sehingga keseluruhan wilayahnya bernaung di bawah 7 Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara, yaitu: (1) Kabupaten Tapanuli Utara, (2) Kabupaten Karo, (3) Kabupaten Simalungun, (4) Kabupaten Toba Samosir, (5) Kabupaten Humbang Hasundutan, (6) Kabupaten Samosir, dan (7) Kabupaten Pakpak Dairi.

Dalam hati saya bergumam: “pantaslah Pemerintah Pusat mengalokasikan dana trilyunan rupiah untuk pengembangan wisata di kawasan Danau Toba, ini karena begitu luasnya wilayah ini yang empat tahun lalu masih banyak infrastruktur belum tersedia.” Saat inipun saya lihat pembangunan infrastruktur masih giat dibangun di sana-sini.

Di dalam peta di atas Desa Tongging adalah “Geosite” nomor satu dari 15 “Geosite” yang ada. “Geosite adalah situs sejarah alam yang berhubungan dengan sejarah semesta, bumi dan manusia. Situs ini terbuka untuk kegiatan periwisata. Setiap situs geologi atau situs bentangan alam yang mengandung unsur keragaman geologi penting adalah ‘Geosite’. ‘Geosite’ dapat dijabarkan sebagai singkapan batuan atau bentangan yang menunjukkan nilai tingi sebagai warisan bumi. Situs itu mungkin ditemukan di tempat lain, tetapi secara umum sulit ditemui.” Demikian bunyi keterangan tentang “Geosite” di papan “Visitor Information” desa Tongging.

Saat saya berbincang dengan Pak Dermando Purba pemilik “Anugerah Tongging Hotel” dimana saya dan rombongan GBKP menginap, saya bertanya secara khusus: “Mengapa di kamar hotel ini tidak tersedia Alkitab Pak? Padahal standar internasional setiap hotel mestinya menyediakan Kitab Suci agama apapun sebagai kelengkapan pelayanannya.” Sambil tersennyum Pak Purba yang sudah sepuluh tahun mengelola hotelnya berujar: ”Saya pernah mendengar ada pembagian Alkitab gratis dari Gideon Internasional, tapi katanya diprioritaskan ke Sekolah-sekolah, jadi kami tidak dapat jatah itu.”

Lalu saya tawarkan bantuan untuk menghubungi Gideon International agar dikirim Alkitab cuma-cuma untuk semua kamar hotelnya. Pak Purba dengan semangat mengatakan: “Terima kasih Pak, saya tunggu bantuan Bapak.” Dan tidak lama sesudah saya bincang-bincang dengan Pak Purba, saya langsung Whatshap Pak Ridwan Naftali Koordinator Gideon International. Saya memberitahu tentang kebutuhan Alkitab di “Anugerah Tongging Hotel” lengkap dengan alamat dan peta lokasinya. Alhasil Pak Ridwan akan segera menindaklanjutinya agar segera ada yang mengirim Alkitab kesana.

Dengan akan dibangunnya hotel-hotel dan bertambahnya kunjungan wisatawan di Kawasan Danau Toba yang terdiri atas empat “Geoarea” dan limabelas “Geosite”, maka kebutuhan “supplay” Alkitab untuk diletakkan di setiap kamar Hotel menjadi sangat besar. Ini peluang tak terbantahkan, terutama bagi The Gideon International.

Lembaga Alkitab Indonesia selalu siap mendukung segala upaya distribusi Alkitab di pelosok negeri. Dengan harapan semakin banyak umat akan bertemu dan berinteraksi dengan Allah serta mengalami hidup baru di dalam Kristus. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Membagi Kasih di Kepulauan Kei Kecil dan Kei Besar

title

Ini pertama kali saya mengikuti program SDK LAI (Satu Dalam Kasih) Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Program ini mendistribusikan Alkitab bagi jemaat-jemaat di P. Kei hasil sumbangan donatur. Beberapa kali saya hanya mendengar cerita dari pak Sigit Triyono. Cerita tentunya berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Sebelum berangkat saya tdk pernah mencari tahu bagaimana jemaat Ur Pulau, jemaat Tamangil dan lainnya. Karena berangkat atau tdk masih belum bisa saya pastikan, walaupun saya bertekad untuk ikut tapi kalau bergerak saja sakit apa bisa dengan tekad saja?

Akhirnya di last minute, saya bisa memastikan ikut pergi. Jadi saya tidak bisa membayangkan bagaimana medan pelayanannya di sana. Perjalanan Jakarta-Ambon- Tual sebuah perjalanan yang biasa.

Sesampai di sana sudah malam. Kami dibagi untuk tinggal di beberapa rumah jemaat. Istilah kerennya "live in". Inipun bukan masalah buat saya. Saya bisa menikmati hidup bersama dengan mereka.

Ini perjalanan spiritual.

Perjalanan iman yang tdk bisa didapatkan di tempat lain. Ketika saya disana, justru saya yg banyak diberkati oleh semua yg saya hadapi, yaitu:
1. Masyarakat di sana masih asli, belum terkontaminasi perubahan jaman yang menggilas karakter asli mereka. Kepolosan dan ketulusan mereka saya rasakan.
2. Memberi dari kekurangan mereka. Ini pelajaran kedua yang saya dapatkan. Mereka bukan jemaat yang kaya maka mereka dibantu dalam memiliki alkitab. Tapi mereka menyiapkan makanan yang luar biasa untuk dinikmati bersama jemaat. Mereka memberikan apa yang ada pada mereka. Bukan dari kelebihannya.
3. Belajar dari peserta yang kebanyakan usianya di atas 60 tahun. Saat mau berangkat terselip juga keraguan, mampukah saya? Satu dari peserta yang saya kenal. sudah berusia di atas 60 tahun. Itu yang menguatkan saya untuk semakin bertekad ikut ke sana. Tapi bukan itu saja. Ada peserta yang berusia 82 tahun. Namun semangat mereka dalam melayani luar biasa. Mereka tidak mengeluh dan pantang menyerah dalam menjalani medan pelayanan yang harus ditempuh. Mungkin banyak orang yang memilih pesiar di kota kota besar apalagi dalam usia senja. Tapi mereka memilih ikut mendistribusikan alkitab dengan biaya sendiri. Tidak murah juga biayanya. Nanti ditulisan lainnya saya akan posting tentang beberapa peserta yang menginspirasi saya di FB saya.
4. Sukacita bersama. Melihat mereka antusias mempersiapkan acara, dan bernyanyi dengan sukacita membuat kita yang datang turut bersuka cita. Mereka juga menerima dengan penuh sukacita, itu juga sukacita kami semua.
5. Toleransi yang nyata. Saat kami membagikan di salah satu jemaat Tamangil, kami disambut tarian penyambutan. Yang menari anak anak dari saudara kita kaum muslim. Mereka menari di tengah terik matahari. Bahkan penabuh rebana nya guru mereka yang menggunakan hijab. Sebuah pemandangan yang sudah langka di bumi pertiwi. Yang disambut orang Kristen yang menyambut orang muslim. Luar biasa sekali.

Terima kasih Tuhan yang mengijinkan saya mengikuti perjalanan kali. Terima kasih untuk kesempatan yang Tuhan berikan. Banyak berkat yang luar biasa yang saya terima yang menambah dan menguatkan iman percaya saya.

Mari kita berbagi berkat unt saudara kita. Menengok keluar karena di sana masih banyak yang membutuhkan pertolongan kita.
LAI salah satu lembaga yang bisa kita pakai untuk menyalurkan berkat. Salam Alkitab Untuk Semua.

Jatibening, 31 10 2018

Catur Rini Cahyadiningsih

LAI Peduli Palu: Bantuan Bagi Jemaat Jono Oge

title

20 hari setelah gempa bumi dan tsunami yang menerjang Palu dan sekitarnya, Tim Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), melalui Kantor Perwakilan LAI Manado mulai menyalurkan bantuan yang digalang melalui LAI Peduli Palu Donggala. Dalam tahap pertama ini LAI telah menyalurkan 200 eks Alkitab Sedang, 65 eks Alkitab Sedang, 5.000 eks Kabar Baik Ceria (KBC) Dwi Bahasa, 800 eks Komik Alkitab, 50 eks Kuis Alkitab, 20 eks chalkboard, sembako, susu, pakaian dalam, dan alat-alat sekolah.

Adapun pengiriman semua bantuan-bantuan tersebut selain dikirim lewat bus malam juga dibawa langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan LAI dengan berkendara dari Manado ke Palu. Meskipun di sepanjang perjalanan dari Manado ke Palu selalu dihantui dengan kekhawatiran penjarahan, akhirnya bantuan yang dibawa oleh Tim LAI tiba di Palu dengan selamat.

Sesampainya di Palu Sabtu, 20 Oktober 2018 dengan diantar para Mitra LAI di Palu, Tim LAI berkunjung ke kantor Sinode Gereja Protestan Indonesia di Donggala (GPID) dan langsung diterima oleh Ketua III BPS GPID. Pnt. Uhut Hutapea. Dari Kantor Sinode GPID yang, Tim LAI mendapat data dan informasi bahwa dari jumlah 174 jemaat GPID, ada 129 gedung gereja yang mengalami kerusakan dan 2 buah gedung gereja GPID di Wilayah Petobo dan Jono Oge yang hilang terseret dan tertimbun lumpur akibat liquifaksi.

Esok harinya Minggu, 21 Oktober 2018, Tim LAI berangkat ke Kabupaten Sigi untuk berkunjung ke daerah Pombewe – Sidera di Trans Sidera, untuk memberikan bantuannya kepada para pengungsi yang berasal dari Kampung Jono Oge dan Petobo, kampong yang hilang akibat liquifaksi. Tim LAI beribadah minggu bersama para pengungsi di tenda-tenda pengungsian bersama umat yang merupakan gabungan dari berbagai gereja yang ada di Kabupaten Sigi.

Di kawasan ini, Tim LAI memberikan bantuan kepada pengungsi yang berasal dari GSJA Jono Oge diberikan 20 eks Alkitab dan Komik Alkitab dan GPdI Jono Oge diberikan 45 eks Alkitab, Komik Alkitab , dan KBC. Untuk pengungsi yang berasal dari Bala Keselamatan selain memberikan bantuan sembako, pakaian dalam, Tim LAI juga memberikan 40 eks Alkitab, Komik Alkitab, dan KBC. Sedangkan untuk pengungsi yang berasal dari GPID Jono Oge selain memberikan sembako, Tim LAI memberikan 65 eks Alkitab, Komik Alkitab, dan KBC. Demikian juga LAI memberikan bantuan kepada pengungsi yang berasal dari jemaat Gereja Toraja Jono Oge dengan memberikan sembako dan 20 eks Alkitab dan Komik Alkitab.

Esok harinya Senin, 22 Oktober 2018 sebelum kembali ke Manado, Tim LAI bertemu dengan Pdt. Franky Rewah, M.Th., Ketua Majelis Daerah GPdI, Sulawesi Tengah, di kantor Majelis Daerah GPdI, yang beralamat di Jalan Thamrin, Palu. Di tempat ini LAI menyerahkan bantuan berupa: 75 eks Alkitab, Komik Alkitab, KBC, dan sembako, serta kebutuhan dasar lainnya. Semua jemaat yang dikunjungi menyambut penuh syukur bantuan Alkitab yang dibawa oleh LAI.

Selain mendistribusikan bantuan kepada para pengungsi di Palu dan sekitarnya, Tim LAI juga memperoleh data tentang kondisi gereja yang menjadi korban bencana alam dari Bp. Khaleb Polii, Kabid. Bimas Kristen, Kementerian Agama Sulawesi Tengah. Adapun terdapat sekitar 664 gereja yang rusak akibat bencana gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah, dengan rincian 216 gereja yang rusak di Kabupaten Donggala, 116 gereja yang rusak di Kota Palu, 307 gereja yang rusak di Kabupaten Sigi, dan 25 gereja yang rusak di Kabupaten Parigi Moutong.

Distribusi bantuan belum menjangkau Kabupaten Donggala, Kulawi, Parigi, karena akses yang masih terputus, terbatasnya waktu dan jumlah bantuan yang dibawa. Informasi dari Ketua III BPS GPID Yang perlu mendapat perhatian adalah gereja-gereja di Kabupaten Kulawi, karena sebagian besar bangunan gereja di sana rusak parah dan jemaatnya sangat memerlukan Alkitab. Kulawi adalah daerah pelayanan Bala Keselamatan. Harapannya kunjungan berikutnya daerah-daerah ini dapat dikunjungi dalam penyerahan bantuan pada tahap ke-2 sambil melakukan kegiatan ”Trauma Healing” bagi para pengungsi anak-anak dan orang dewasa yang masih mengalami traumatic akibat bencana alam tersebut.

Dari data-data yang baru terkumpul tersebut, LAI mencoba menawarkan kepada donatur yang terbeban agar dapat membantu meringankan beban hidup umat dan jemaat yang menjadi korban gempa bumi dan tsunami. Biarlah pelayanan LAI Peduli Palu dapat menjadi berkat bagi banyak orang.[]

Komunitas Verbum Domini (KVD) dan LAI

title

“Menjadikan Sabda Allah (Verbum Domini) sebagai sumber terang, hidup dan keselamatan. Itulah visi KVD,” kata dokter Irene Setiadi dalam presentasinya pada perayaan ulang tahun ke-2 KVD 25 Oktober 2018 lalu di Gedung Pusat Alkitab Jakarta. Dokter Irene adalah pencetus, pendiri dan Ketua Umum pertama KVD yang lahir 15 Oktober 2016 juga di Gedung Pusat Alkitab Jakarta. Ibu dokter yang energik ini juga anggota Pengawas Lembaga Alkitab Indonesia periode 2018-2022.

Apa yang dimimpikan KVD di atas didorong oleh harapan umat Katolik di Indonesia akan: (1) Bertambahnya pecinta Sabda Allah, (2) Perlunya wadah bagi pecinta Sabda Allah, (3) Mendukung karya Lembaga Alkitab Indonesa (LAI) dan Lembaga Biblika Indonesia (LBI), (4) Pentingnya kerjasama lintas komunitas, paroki dan keuskupan.
Kepengurusan KVD 2017-2020 terdiri dari: (1) Pembina: Prof.Dr. Martin Harun, OFM. (2) Moderator: RD. DR. Yohanes Subagyo, (3) Tim Pembimbing: RD. DR. Joseph F. Susanto, Hortensio Mandaru, (4) Ketua Umum: dr. Irene Setiadi, (5) Wakil Ketua Umum: Iljas Ridwan, (6) Sekretaris Umum: H. Suwandy Sunaryo, dan (7) Bendahara Umum: Melia Tjen.

Dari tempat pendirian, perayaan ulang tahun dan kepengurusan yang ada tampak sekali KVD sangat dekat dengan LAI. Jelas bahwa ini adalah ekspresi semangat kebersamaan antara umat Kristen Protestan dan umat Katolik. Setidak nya ada empat orang di dalam kepengurusan KVD di atas adalah juga pembina, pengawas, pengurus dan karyawan Lembaga Alkitab Indonesia. Ini menegaskan bahwa LAI adalah lembaga ekumenis interdenominasi dan interkonfesi di Indonesia.

LAI lahir pada 9 Februari 1954 dan pada tahun 1968 Gereja Katolik di Indonesia membuat keputusan yang sangat fenomenal dengan menyatakan Tim Penerjemahan Alkitabnya bergabung bersama Tim Penerjemahan Alkitab LAI. Sejak tahun 1968 itulah semua karya penerjemahan Alkitab LAI dilakukan secara bersama-sama antara tim ahli penerjemahan dari Kristen Protestan dan Katolik.

Upaya untuk mewujudkan “Alkitab Untuk Semua” adalah tugas semua umat Krsitiani di Indonesia. “Gereja adalah gerakan yang harus nyata bergerak. Kalau Gereja tidak bergerak, namanya hanya gerak-gerik,” kata Romo Subagyo yang juga Pembina LAI dalam sambutannya. “Oleh karenanya, KVD sebagai bagian dari Gereja harus merealisasi gerakan Mencintai, Membaca, dan Mengamalkan Kitab Suci,” sambungnya.

Prof Martin Harun, Pembina KVD yang juga Tim Ahli Penerjemahan LAI menyampaikan lima langkah membaca Sabda Tuhan dan menjadikannya “darah daging” kita: (1) Lectio – baca dan mengerti, (2) Meditatio – merenungkan, (3) Oratio – berdoa dengan Sabda, (4) Contemplatio – berdoa hening, dan (5) Actio – bertindak. Bila ini dilakukan konsiten dan persisten maka akan memiliki dampak yang sangat positif dalam kehidupan umat.

Dalam perayaan ulang tahun kedua ini juga disampaikan kesaksian-kesaksian para anggota KVD, Moderator dan Pembimbing yang mengungkapkan betapa sangat bermanfaatnya menjadi anggota KVD. Bila aktif dalam komunitas ini maka ada lima manfaat yang akan didapat: (1) Kebiasaan membaca FirmanNya setiap hari akan mendekatkan kita dengan Sang Sabda. (2) Bisa menjadi garam dan terang bagi mereka yang mendengar perjalanan iman kita. (3) Iman kita semakin diperkuat dengan membaca perjalanan iman teman-teman lain bagaimana Tuhan bisa menjamah setiap orang dengan caraNya yang berbeda. (4) Jika sudah terbiasa memberikan sharing singkat, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik jika suatu hari diminta menjadi pewarta lingkungan/wilayah. (5) Yang terpenting dari semuanya, kita dipakai Tuhan untuk menjadi saksi atas cinta dan kebaikannNya melalui sepenggal tulisan.

Bagaimana caranya mendaftar menjadi anggota Komunitas Verbum Domini? Mudah sekali bisa langsung menghubungi Sekretariat KVD: Wandi 0822 1019 1519 dan Digna 0812 8128 4400. Selamat ulang tahun kedua Komunitas Verbum Domini. Tuhan selalu memberkati. Soli Deo Gloria. Salam Alkitab Untuk Semua.[]

Sigit Triyono (Sekum LAI)