Renungan Perjalanan Satu Dalam Kasih Ke Digoel

title

Perjumpaan dengan saudara-saudara seiman di enam distrik (Waropko, Nenati, Yetetkun, Kouh, Bomakia, Fovi, & Butiptiri), kabupaten Boven Digoel, Papua selama 9 hari lalu (30 September s/d. 9 Oktober 2018) menjadi sebuah persinggahan penuh makna dalam peziarahan spiritual diri ini. Perjalanan berjam-jam di atas transportasi udara, air dan darat bahkan berjalan kaki berkilo-kilo meter dengan bertelanjang kaki, tidak sama sekali membuat hasrat ini ingin mengeluh dan menyerah.

Teriknya matahari yang membakar kulit, rasa khawatir jika sewaktu-waktu adanya buaya yang muncul ke permukaan sungai dan rasa lelah karena perjalanan panjang, semua tidak berarti ketika melihat banyak umat Tuhan yang bersukacita, menangis haru, bersyukur, memeluk Alkitab yang telah kami bawa sebagai titipan dari jemaat Tuhan yang telah mau berbagi untuk sesamanya.
Ternyata Alkitab yang selama ini bagi sebagian orang dianggap sebagai "barang" biasa dan mudah diperoleh, tidak bagi saudara-saudara kita di pedalaman. Bagi mereka memperoleh Alkitab adalah suatu anugerah dan jawaban atas doa-doa yang mereka panjatkan selama berpuluh-puluh tahun. Mereka menciumi dan memeluk Alkitab yang telah mereka peroleh dengan penuh hormat, sebagai tanda betapa mereka bersyukur bisa mendapatkannya.

Bukan sebagai buku, tetapi sebagai Sabda Tuhan yang diimani dapat memberikan kehidupan.
Bagaimana dengan mu? masihkah?

Ada banyak makna hidup yang mempertajam kehidupan spiritual selama perjalanan itu. Melalui perjumpaan dengan mereka, aku berjumpa dengan Allah yang mau menjumpai umat Nya dalam segala kondisi. Allah yang memanggil setiap umat untuk saling mengasihi, menopang dan berbagi dalam segala kondisi sebagai wujud cinta kasih. Allah yang turut merasa seperti umat Nya.

Terima kasih untuk setiap umat Tuhan yang telah ikut berdoa, mendukung dan berdonasi untuk umat Tuhan di pedalaman melalui Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), kiranya Tuhan menyempurnakan pelayanan bersama ini.[elkahana]

Kelompok Alkitab Saku: Bawalah Alkitab, Bacakanlah, dan Bagikanlah

title

Jika Anda penggemar coklat tentu pasti mengenal nama Cadbury. Adalah John Cadbury yang pada tahun 1824 mendirikan pabrik coklat Cadbury di kota Birmingham, Inggris. Sampai sekarang sudah jutaan orang di dunia pernah menikmati kelezatan coklat Cadbury. Di balik kemasyuran nama Keluarga Cadbury tersebut tidak membuat anak-anak John Cadbury terlena, bahkan salah satu putrinya yang bernama Helen Cadbury menjadi salah satu pewarta Kabar Baik yang terkenal.

Helen Cadbury tidak seperti kebanyakan para ahli waris yang akan mengabdikan hidupnya untuk melanjutkan dan mengembangkan bisnis keluarganya. Helen Cadbury memilih jalan hidup yang berbeda. Dimulai saat Helen berusia 12 tahun, dia menghadiri Ibadah Minggu bersama ayahnya. Di akhir kebaktian, dia menanggapi panggilan Tuhan dan menyerahkan hidupnya kepada Yesus. Sejak itu Helen mulai membawa Alkitab yang berukuran besar ke sekolah, membacakan bagian-bagian tertentu Alkitab kepada teman-teman perempuannya. Karena tidak praktis, kemudian ayahnya menghadiahkan Alkitab kecil sehingga ia dapat membawanya dengan mudah dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.

Helen bersama teman-temannya kemudian memutuskan cara yang unik untuk membawa Alkitab mereka. Mereka menjahit saku ke dalam gaun mereka agar bisa dimasukkan Alkitab Perjanjian Baru. Gadis-gadis itu memanggil kelompok mereka The Pocket Testament League. Tahun 1893 kelompok ini memulai pelayanan. Setiap anggota diberikan kartu memberships, setiap anggota berjanji untuk membaca bagian dari Alkitab setiap hari, berdoa, dan membagikan pengalaman iman mereka kepada setiap orang.

Kelompok The Pocket Testament League ini mulai membagikan Alkitab Perjanjian Baru kepada orang-orang yang berjanji mau membacanya. Selama beberapa dekade, The Pocket Testament League telah mengubah jutaan jiwa. Pada Perang Dunia I, para pendeta militer menggunakan Perjanjian Baru berukuran saku. Selama masa Depresi Besar, Perjanjian Baru muncul di YMCA dan di kamp-kamp pemuda Kristen dengan cover yang berwarna-warni. Kelompok The Pocket Testament League juga mendistribusikan Alkitab dalam setiap penyelenggaraan Olimpiade.

Helen Cadbury sudah lama meninggal dunia. Namun ide dan gagasan yang diberikan Tuhan kepadanya terus menjangkau orang di seluruh dunia. Sejauh ini, The Pocket Testament League telah mendistribusikan lebih dari 110 juta Alkitab Perjanjian Baru. Pesannya hingga kini tetap sama, agar semua orang percaya kepada Yesus Kristus. Karena itu, bawalah senantiasa Alkitab lengkap atau Alkitab Perjanjian Baru; baca dan jadilah saksi tentang kuasa firman Allah.[]

[data diolah dari berbagai sumber]

“LAI” Memulihkan Trauma Di Tenda Pengungsian Palu

dok.: KBKK Indonesia

title

Sambil melakukan pendataan kebutuhan Alkitab bagi para pengungsi yang kehilangan Alkitab karena rusak diterjang tsunami dan rusak karena gempa bumi, Senin, 8 Oktober 2018 Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) melalui Yayasan Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) Indonesia menitipkan bantuannya berupa Alkitab dan Bagian-bagiannya untuk disalurkan dan digunakan kepada umat kristiani yang membutuhkannya.

Kegiatan Tim KBKK di Palu pada Selasa, 09 Oktober 2018 menyerahkan langsung bantuan ke sejumlah tenda-tenda pengungsi yang tersebar di seantero Palu. Setelah setengah hari menyusuri tenda-tenda pengungsi, Tim KBKK singgah di gereja Katolik St.Paulus, sempat makan siang di posko dapur umum dan kemudian kembali ke gereja St.Maria, posko Tim KBKK selama masa tanggap darurat di Palu.

Kesibukan di gudang logistik posko St.Maria sangat luar biasa sibuknya. Karena ada beberapa truk-truk yang mengantri untuk pembongkaran bahan batuan yang baru datang, sementara di dalam gudang logistik terdapat aktifitas pengepakan dan pengiriman barang-barang bantuan (berupa: beras, minyak, gula, biskuit, air mineral, barang-barang keperluan mandi, perlengkapan untuk bayi, dll.) dalam bentuk plastik-plastik dan dus-dus yang akan dikirim ke lokasi gereja-gereja yang dipakai untuk menyalurkan bantuan langsung kepada pengungsi yang sejak pagi mengantri untuk mengambil bantuan tersebut. Setiap Kepala Keluarga bisa mengambil satu plastik bantuan. Dan sore hari itu kurang lebih ada 470-an KK yang datang dan dilayani oleh tim logistik yang merupakan relawan yang sebagian besar berasal dari warga gereja.

Sementara itu malam hari di halaman Gereja St. Maria dimanfaatkan oleh salah seorang suster relawan dan seorang misionaris KBKK untuk mengajak anak-anak pengungsi bermain dan bernyanyi serta membaca cerita Alkitab dengan menggunakan buku donasi dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Situasi gempa dan tsunami yang mencekam ini tentunya meninggalkan bekas trauma di hati dan pikiran banyak orang termasuk anak-anak. Di tengah situasi mencekam, penting bagi anak-anak dan orang dewasa untuk mendapat pelayanan pemulihan trauma atau trauma healing.

Dan upaya yang dilakukan para relawan tersebut merupakan salah satu bentuk kegiatan “Trauma Healing” bagi anak-anak pengungsi. Bermain, bernyanyi, dan membaca cerita Alkitab adalah salah satu metode teraplay atau play theraphy mengajak anak bermain, menikmati situasi walau dalam situasi yang serba darurat. Karena dengan bermain, bernyanyi, bercerita dan berdoa dapat mengalihkan fokus anak dari situasi yang mencekam sekaligus membuat mental anak menerima situasi yang ia hadapi sekarang.

Dalam tahap rehabilitasi dan pemulihan terhadap korban bencana Palu, Donggala, Sigi dan Parigi Moutong LAI berencanakan akan mendistribusikan bantuannya kepada beberapa titik pengungsian yang saat ini masing dikoordinasikan oleh Gereja-gereja yang ada di 4 wilayah terdampak bencana gempa bumi dan tsunami di wilayah Sulawesi Tengah. Di samping bantuan, LAI juga akan menyelenggarakan pelatihan bagi warga masyarakat yang ingin menjadi fasilitator yang bergiat dalam pelayanan pemulihan trauma. Kebenaran adalah salah satu terbitan LAI khusus berbicara tentang “trauma healing”.

Meskipun LAI belum turun langsung ke lokasi bencana namun terbitannnya sudah digunakan oleh para relawan kemanusiaan untuk membantu anak-anak di pengungsian untuk lepas dari ketakutan, kekhawatiran, dan kegelisahan. Karena bukankah itu fungsi Kabar Baik yang difirmankanNya? []

Peran LAI Dalam Forum Pertemuan SE & E Asia Affinity Group

title

Agar pekerjaan Lembaga Alkitab dapat mencapai pelayanan misinya secara berkelanjutan, keempat belas Lembaga Alkitab yang ada di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur bertemu dalam forum UBS South East Asia & East(SE & E) Asia Mission Affinity Group Annual Meeting di Hong Kong, 9-10 Oktober 2018. Pertemuan ini merupakan implentasi dari amanat UBS Word Assembly di Philadelphia, Amerika Serikat 2016, yang tertuang dalam butir ke-7 dari Philadelphia Promise tentang Achieving Mission Sustainability.

Bunyi butir ke-7 sangat jelas berbicara tentang kerjasama kemitraan Lembaga Alkitab, bahwa untuk mencapai keberlanjutan misi yang lebih besar dan berdampak setiap Lembaga Alkitab yang ada dalam satu kawasan harus saling bermitra dan membentuk kelompok-kelompok dengan fokus dan ketertarikan dalam bidang pelayanan yang sama. Seperti yang dilakukan dalam pertemuan tahunan selama 2 hari di Hong Kong ini, di mana lembaga-lembaga Alkitab di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur bermitra untuk mendukung pelayanan misi bersama secara global dan kerjasama bilateral antar lembaga Alkitab nasional.

Pelayanan misi bersama diwujudkan dalam pelayanan kemanusiaan untuk korban bencana alam gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong. Ke-14 lembaga Alkitab di kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur akan mendukung gerakan kepedulian yang dikoordinir oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).

Di samping itu mereka juga sangat mendukung pelayanan LAI bagi pekerja migran yang ada di Hong Kong, mendampingi proyek penerjemahan Alkitab di Timor Leste dan Papua Nugini. Termasuk juga kerjasama bilateral yang akan dilakukan oleh LAI dan Lembaga Alkitab Singapura, mengingat banyak sekali umat Kristiani asal Indonesia yang bekerja dan studi di Singapura.
Kerjasama inilah buah dari SE & E Asia Mission Affinity Group yang digelar di Hong Kong, 8-9 Oktober 2018. Kiranya pola kerjasama ini dapat mempercepat LAI dalam mewujudkan Alkitab Untuk Semua. []

Bantuan Tahap Pertama LAI Sudah Tiba Di Palu

title

Masa tanggap darurat bencana gempa bumi Palu – Donggala akan berakhir pada 10 Oktober 2018. Artinya evakuasi pencaharian korban penduduk yang hilang akan segera dihentikan. Dan Pemerintah akan fokus merehabilitasi baik perbaikan infrastruktur maupun masalah kemanusiaan.

Sementara ini penanganan masalah kemanusiaan akan terus berjalan, banyak organisasi kemasyarakatan yang sudah membuka posko kemanusiaannya di Palu, Donggala, dan sekitarnya. Mereka mencoba menyediakan kebutuhan air bersih, pelayanan kesehatan bagi para pengungsi yang tersebar di 140 titik di wilayah Palu dan Donggala.

Sambil menyiapkan rencana kerja dan bujet melalui Proyek Dukung Internasional, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sejak 1 Oktober 2018 sudah membuka Posko LAI Peduli Palu dan mengajak para mitra LAI untuk mau membantu meringankan para pengungsi lewat donasi yang diberikan melalui akun LAI Peduli Palu. Selain itu LAI terus membangun kerjasama dengan para mitranya untuk terus memantau kondisi di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong.

Melalui Tim Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan (KBKK) Jakarta yang berangkat ke Palu, Senin, 8 Oktober 2018, LAI memberikan bantuan berupa 150 eks Alkitab, 80 Komik Alkitab, dan 20 Buku Cerdas Beraktifitas dengan Alkitab. Kebenaran Pengurus Yayasan KBKK yang turun ke lokasi dan membuka Posko di Gereja Katolik St. Maria, Palu juga Pembina LAI, yakni dr. Irene Setiadi. Beliau bersama tim KBKK Jakarta akan melakukan pelayanan pengobatan untuk para pengungsi dan sekaligus membagikan Alkitab dan juga rosario kepada para pengungsi, sebagai ajakan kepada umat yang terdampak gempa/tsunami untuk tetap melekatkan dirinya kepada Sabda Allah dalam duka serta situasi yang sulit ini. []

Kabar Baik Untuk Pekerja Migran di Hong Kong

title

Ada satu kelakar yang saya dapatkan hari ini (7/10/2018) di Hong Kong. Keluarga Pendeta Gereja Indonesian Christian Fellowship (ICF) Sektor Yuen Long setiap malam tidur di atas uang ribuan dolar. Betapa tidak, karena rumah Pastori yang ditinggali keluarga Pendeta tersebut berada di lantai 7 sebuah hunian yang persis di bawahnya ada Kantor “China Bank”. Layaknya hunian di Hong Kong adalah hunian beton yang 3-5 lantai di bawah dipergunakan untuk usaha (toko, kantor, dan area komersil) sedangkan di lantai atasnya adalah hunian yang ukurannya “mungil-mungil” sekira dua kali apartemen tipe studio di Jakarta. “Tidur di atas uang” hanya sekadar imajinasi.

Saya sempat diajak mampir ke Pastori Gereja ICF di atas bersama dengan beberapa jemaat yang semua pekerja Migran Indonesia yang berasal dari berbagai daerah. Mereka bertugas beres-beres Pastori sehabis masak-masak, karena setiap habis kebaktian ada acara fellowship dan makan malam bersama. Persaudaraan yang sangat indah, sukacita, dan kompak dalam kesederhanaan.

Hari ini saya diberi kesempatan untuk presentasi dan memperkenalkan Pelayanan LAI di tengah kebaktian minggu di dua jemaat ICF Pusat di Tin Hau, dan ICF Sektor di Yuen Long. Di ICF Pusat yang hadir sekira 140 orang, dan di Sektor Yuen Long sekira 60 orang. Jemaat yang hampir semuanya para perempuan Pekerja Mingran Indonesia, sangat sukacita karena sudah mendapatkan informasi tentang layanan LAI sampai ke pelosok negeri. “Seumur-umur saya, baik di Indonesia maupun lima tahun bekerja di Hong Kong, baru kali ini saya mendapatkan informasi tentang LAI,” kata seorang pekerja yang berasal dari Manado. “Dan saya sangat bersukacita,” sambungnya.

Pada saat jemaat mendapatkan brosur Satu Dalam Kasih dan Sejuta Mitra, banyak sekali yang ingin mendapatkan penjelasan lebih detail. Mereka sangat antusias ingin berpartisipasi dalam layanan LAI. Saya mengatakan bagi siapa saja yang ingin menjadi Mitra LAI, silakan dikumpul datanya ke Bapak Pdt Danny yang ada di Pusat, dan ke Ibu Ev. Olvi yang ada di sektor Yuen Long.
Saya menegaskan tugas Mitra LAI adalah DWD – Doakan, Wartakan dan Donasikan BerkatNya untuk mendukung pelayanan mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Setidaknya mendoakan pelayanan LAI setiap pagi, siang dan malam dengan khusuk, itu sudah ekspresi seorang Mitra LAI yang setia.

“Ada kawan pekerja Indonesia yang sering mengajak berdiskusi tentang KeKristenan dengan saya. Di sini kan bebas berdiskusi apa saja. Kalau di Indonesia kan lebih sulit,” Kata Wiwik, pekerja asal Blitar salah satu pekerja yang menemani perjalanan saya dari Tin Hau ke Yuen Long yang butuh satu setengah jam perjalanan. Apa yang diungkapkan Wiwik menandakan adanya keterbukaan untuk saling mengerti dan memahami keyakinan orang lain. Sebuah kondisi yang sangat menggembirakan karena ada peluang dialog antar iman.

Sebagai pekerja yang menjadi tulang punggung keluarga di kampung, baik yang sudah menikah maupun yang belum menikah, persoalan yang dihadapi tidaklah mudah. Bagi yang sudah menikah berpisah dengan suami dan anaknya sangat membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit. Bagi yang belum menikah, rata-rata kesulitan mendapatkan jodoh karena sangat terbatas pergaulannya. “Laki-laki bagi para pekerja Indonesia di Hong Kong ibarat seperti pangeran yang menjadi rebutan,” kata Ruth, pekerja dari Ponorogo, karena saking terbatasnya jumlah pekerja laki-laki di Hong Kong.

Firman Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab sungguh-sungguh menjadi kabar baik bagi para pekerja migran Indonesia karena memberikan kekuatan, penghiburan, dan pengharapan sejati manakala menghadapi berbagai persoalan dan beban hidup berat di negeri orang. Di sisi lain, mereka juga sangat rindu berbagi kabar baik di perantauan maupun berkontribusi bagi saudara-saudaranya di pelosok negeri.

Di hari minggu pekan pertama bulan Oktober 2018 LAI memiliki koordinator Mitra LAI dan calon-calon Mitra LAI di Hong Kong yang siap mendoakan, mewartakan dan mendonasikan berkat-berkatNya bagi perwujudan Alkitab Untuk Semua. Salam Alkitab Untuk Semua.[]

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Mewartakan Kabar Baik Sampai Ke Perbatasan Papua Nugini

title

Di tengah belantara yang belum tersentuh di ujung timur tanah Papua, terletak dusun Yetetkun. Di dusun kecil dan terpencil ini berdiri sebuah Gereja Katolik, di mana seluruh penduduknya beribadah pada Tuhan di dalam bangunan itu. Umat Katolik di Yetetkun dilayani oleh Dewan Paroki Distrik Waropko yang jaraknya setengah hari perjalanan. Dusun Yetetkun adalah dusun terakhir di wilayah Indonesia, jaraknya hanya sekitar 5 kilometer dari perbatasan Papua Nugini. Umat Katolik di dusun Yeyetkun adalah salah satu dari jemaat-jemaat yang ada di Kabupaten Boven Digoel, Papua yang menerima Alkitab dukungan Program Satu Dalam Kasih LAI.

Untuk sampai ke dusun Yetetkun, Tim SDK LAI terdiri dari Tim LAI Jakarta, LAI Perwakilan Jayapura dan Mitra pendukung LAI memulai perjalanan dari kota Tanah Merah menuju Distrik Waropko kemudian dilanjutkan ke Distrik Nenati. Setelah menginap semalam di Nenati, perjalanan ke dusun Yetetkun dilanjutkan dengan jalan kaki sepanjang 6 km menembus ganasnya belantara Papua selatan.

Mengingat perjalanan menembus rimba ini cukup berbahaya sehingga Tim SDK LAI harus dikawal oleh satu regu pasukan tentara bersenjata. Di Nenati ada pos tentara yang menjaga perbatasan. Tentara yang kami jumpai sangat bersahaja dan sangat dekat dengan masyarakat.

Tim SDK LAI sangat bersyukur karena para tentara dan warga yang membantu membawa beberapa karung Alkitab, Setelah menyeberangi sungai dan melewati perjalanan berlumpur di tengah hutan kami tiba di dusun Yetetkun, di Yetetkun inilah kami membagikan Alkitab untuk setiap keluarga dan juga komik cerita Alkitab untuk anak anak. Kami juga menyerahkan satu paket bahan pengajaran sekolah minggu. Tak lupa kami memberikan juga Alkitab Edisi Studi untuk membantu pemimpin umat mempersiapkan bahan renungan bagi umat.

Tim SDK LAI selama sembilan hari tanggal 1-9 Oktober 2018 menjelajah wilayah Boven Digoel untuk menyebarkan sekitar 10.000-an Alkitab dan Bagian-bagian dukungan program SDK LAI dan dusun Yetetkun adalah satu dari puluhan lokasi yang disambangi oleh Tim SDK LAI.

Kenapa Tim SDK LAI mau berjerih lelah keluar masuk hutan belantara hanya untuk umat Tuhan di Yetetkun? Sudah menjadi visi LAI untuk menghadirkan Alkitab untuk semua orang. Alkitab memang untuk semua orang, baik dewasa maupun anak-anak, baik di kota sampai pelosok negeri. Kami akan terus melakukan misi ini, karena masih banyak orang yang rindu sekaligus kesulitan mengakses Kabar Baik Firman Tuhan ini, bagaimana dengan anda?.[ori]

Sinergitas LAI dengan Para Mitra di Hong Kong

title

Hari ini 05/10/18 saya diberi kesempatan untuk membawakan sharing Firman Tuhan sekaligus presentasi layanan LAI di hadapan 22 Hamba Tuhan (Pendeta dan Pastor) dalam acara Persekutuan Oikumene (POUK) di Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Hong Kong. Acara ini adalah acara mingguan di setiap hari Jumat siang. Saya berada di Hong Kong tapi serasa berada di Jakarta karena semua yang hadir bersama-sama menyanyi, berdoa, berdiskusi dan ada canda ria dalam bahasa Indonesia.

Menurut keterangan Pengurus POUK di Hong Kong, ada 16-18 denominasi Gereja termasuk Gereja Katolik di Hongkong yang semuanya melayani Buruh Migran Indonesia (BMI). Belum ada data resmi berapa banyak jumlah BMI Kristen dan Katolik di Hong Kong. Kalau masing-masing denominasi Gereja memiliki anggota yang dilayani 200 orang, maka kurang lebih ada 3.600 orang Kristen di Hong Kong. Ini jumlah yang sangat pesimis mengingat jumlah keseluruhan BMI di Hong Kong ada sekira 170.000 orang.

Dalam sharing dan presentasi siang tadi saya mengungkapkan tentang tugas-tugas utama LAI yang kesemuanya mengerucut kepada membantu tugas dan panggilan Gereja-gereja (dalam arti individu dan lembaga). Secara khusus bantuan yang berhubungan dengan Alkitab untuk memperkuat Persekutuan, Pelayanan dan Kesaksian Gereja-gereja sampai ke ujung bumi. Untuk dapat membantu Gereja-gereja, LAI membutuhkan bantuan dari umat percaya dalam bentuk menDoakan, meWartakan, dan menDonasikan (DWD) berkat-berkatNya di dalam gerakan Sejuta Mitra LAI.

Sambutan para hamba Tuhan begitu luar biasa. Mereka akan menindaklanjuti dengan rapat bersama menyusun program tahun 2019 dengan mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi dengan sinergi bersama LAI. Banyak kebutuhan di bidang “Bible Engagement” dan “Bible Ministry” di Hong Kong yang bisa dikerjasamakan dengan LAI.
Pergumulan para BMI Kristen adalah banyak yang pergi bekerja ke Hong Kong tanpa pembekalan khusus dari Gerejanya. Rata-rata mereka bekerja dikontrak 2-3 tahun dan setelah itu banyak yang kembali ke Indonesia. Namun ada banyak juga yang diperpanjang kontraknya beberapa kali karena majikannya cocok. Kebanyakan BMI bekerja mengurus para orang tua dan rumah tangga di Hong Kong. Kebebasan beragama di Hong Kong sangat terjamin sehingga bagi yang Kristen dan Katolik diberi waktu untuk pergi ke Gereja.

Sebenarnya ada sekira 30.000 penduduk Indonesia non BMI yang sudah tinggal dan menetap di Hong Kong. Mereka sudah sangat mapan kehidupannya, bagi yang Kristen dan Katolik mereka berjemaat di Gereja-gereja lokal. Ada banyak juga para mahasiswa Kristen dan Katolik Indonesia yang studi di berbagai Universitas Hong Kong. Sayangnya semangat melayani dan berskasi para “orang Kristen mapan” ini kepada BMI kurang dirasakan eksistensinya.

Di Lembaga Alkitab Hong Kong ada Departemen yang khusus melayani bidang “Bible Minsitry”, namun khusus ditujukan kepada penduduk di “China Mainland.” Mereka terkejut saat saya berceritera ada ribuan orang Kristen Indonesia di Hong Kong yang membutuhkan pelayanan khusus. Ada buku portion terbitan Lembaga Alkitab Hong Kong berbahasa Indonesia yang stoknya masih ribuan jumlahnya yang akhirnya ditawarkan untuk disebarkan ke BMI. Puji Tuhan.

Mensinergikan semua potensi lembaga Kristen yang memiliki tugas yang sama dalam pelayanan dan kesaksian bagi seluruh umat di Hong Kong sangatlah mendesak. LAI akan menggandeng Lembaga Alkitab Hong Kong, Persekutuan Oikumene Hong Kong, Jemaat-jemaat di Hong Kong, karyawan Kristen di KJRI Hong Kong, Persekutuan Kristen Antar Universitas, dan berbagai lembaga lain serta para dermawan di Jakarta untuk berarak-arakan bersama dalam pelayanan dan kesaksian di Hong Kong.

Hari ini adalah momentum untuk memulai sinergitas LAI dengan semua Mitra di Hong Kong. Tuhan akan menolong anak-anakNya yang giat melayaniNya melalui pelayanan terhadap semua umat sampai ke ujung bumi. Amin. Salam Alkitab Untuk Semua.[]

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Mari Belajar Dari Bapak Edward Setiawan

title

"Terkadang malaikat tak bersayap tak cemerlang tak rupawan.” Baru saja Tuhan menolong pelayanan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam menyebarkan Firman Tuhan hingga ke pedalaman melalui Malaikat-Nya yang sudah berumur, sederhana namun penuh hikmat dan kebijaksanaan.

"Saya Edward Setiawan pak" suara itu yang saya dengar pertama kali. "Saya ingin mendukung pengadaan Alkitab sampai ke pedesaan" dan pembicaraan kami berlanjut seputar Program Satu Dalam Kasih (SDK) sampai akhirnya beliau mengeluarkan dukungan yang berjumlah Rp. 1.500.000,- untuk Program SDK 2018. Saya memberanikan diri untuk bertanya, "Maaf pak, Ini dukungan atas nama Gereja atau Pribadi ? " Dengan suara perlahan beliau menjawab "Ini dari Pribadi saya Mas. Maaf Mas saya harus segera pamit, mau menjemput ke 3 cucu saya yang sekolah," lanjutnya. Seketika saya tersentak, melihat sang Malaikat ini membalik jaket hitamnya yang ternyata jaket Ojek Online, dan dengan spontan saya bertanya, "Bapak pengemudi Ojek Online Pak ?" "Iya Mas",  jawabnya sambil memasuki Lift dan berpamitan untuk menjemput cucu-cucu yang dikasihinya.

Segera kembali ke meja kerja dan saat menginput nama beliau, ternyata nama Edward Setiawan sudah tercatat dalam Customer Relation Management (CRM) dengan alamat yang sama dan jumlah dukungan yang tidak jauh berbeda di tahun 2017.  Pak Edward Setiawan adalah satu dari ribuan mitra LAI yang selama ini setia mendukung penyebaran Alkitab kepada umat Tuhan sampai pelosok-pelosok Nusantara. Tanpa dukungan orang seperti pak Edward Setiawan mimpi-mimpi dan harapan umat Tuhan di pedalaman takkan mungkin terwujud.

Hari ini saya belajar tentang kesetiaan, kesabaran dan ketekunan, serta berharap kepada Tuhan dari Pak Edward Setiawan. Jangan pernah berharap kepada manusia. Tetapi berdirilah teguh dalam kerja keras dan pengharapan kepada Tuhan Yesus Kristus. Semoga kesaksian ini bermanfaat. Tetap semangat teman-teman.[2prasetyo]

 

Penyebaran Alkitab SDK ke Boven Digoel & Solidaritas Sulteng

Tiga buah kendaraan double gardan yang siap menemani Tim SDK LAI menyebarkan Alkitab di pedalaman Boven Digoel, Papua.

title

Pikiran dan hati terpecah antara Sulawesi Tengah dan Boven Digoel. Betapa tidak. Pemulihan kondisi pasca gempa Lombok belum pulih seratus persen, tiba-tiba gempa dahsyat dan tsunami secara mengejutkan melanda Palu dan Donggala. Jadwal pelayanan program penyebaran Alkitab Satu Dalam Kasih (SDK) ketiga 2018 (sesudah Sumba Timur dan Halmahera Barat) yang diarahkan ke Kabupaten Boven Digoel Papua harus tetap dijalankan. Belarasa dan solidaritas kepada para korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah juga harus terus digerakkan demi kemanusiaan.

Perjalanan SDK 30 September - 9 Oktober 2018 sudah dimulai. Perjalanan diawali dengan pesawat besar dari Jakarta-Merauke dan transit di Makassar pada tengah malam. Kemudian sesudah menunggu enam jam di Merauke disambung dengan pesawat kecil menuju Tanah Merah Ibu kota Kabupaten Boven Digoel. Dari Jakarta tanggal 30 September malam dan sampai Tanah Merah tanggal 1 Oktober sore. Sekira 18 jam. Malamnya diadakan acara kebaktian pembukaan SDK di GKI Di Tanah Papua Jemaat Sion Tanah Merah dan dilanjutkan dengan pemberian Alkitab secara simbolik kepada perwakilan 8 denominasi Gereja yang menjadi sasaran penyebaran Alkitab. Acara yang juga dihadiri wakil Pemda Boven Digoel sangatlah mengharukan, karena ada seorang penginjil yang bercerita bahwa umat di daerah penginjilannya sudah menunggu puluhan tahun untuk mendapatkan Alkitab. Puji Tuhan kali ini ada dermawan para mitra LAI yang dikirim Tuhan untuk membawa Alkitab.

Hari ini 2/10/2018 pengiriman Alkitab ke pedalaman Boven Digoel tepatnya ke daerah Nenati yang melewati Timbutka dan Waropko akan ditempuh sekira 5 jam dengan mobil double gardan dan berjalan kaki beberapa kilometer. Kembali besoknya melewati Yetetkun dan lanjut ke Tanah Merah lagi. Perjalanan ke Kouh, Bomakia, dan Fofi akan ditempuh dengan kapal kecil menyusuri sungai Digoel dan dilanjutkan dengan sepeda motor plus berjalan kaki. Dalam perjalanan kali ini Tim terdiri atas 6 orang dari Jakarta dan 2 orang dari Perwakilan Jayapura yang membawa 13.600 Alkitab dan 40 paket buku-buku plus media belajar Sekolah Minggu.

Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan kebangsaan, setelah usai pengiriman semua Alkitab, pada hari terakhir Tim SDK merencanakan untuk mampir ke Rumah Tahanan Bung Hatta yang digunakan pada tahun 1940an di Pinggiran Sungai Digoel. Ada perpaduan nuansa religiusitas, kemanusiaan dan kebangsaan dalam perjalanan SDK kali ini. Medan yang tidak mudah, hati yang terpecah dan kenangan akan perjuangan kemerdekaan Indonesia menjadi bagian perjalanan 10 hari ke wilayah paling timur Indonesia. LAI akan terus mewujudkan "Alkitab Untuk Semua" sampai ke pelosok Nusantara agar FirmanNya hadir bagi setiap orang. Salam Alkitab Untuk Semua. []

Sigit Triyono (Sekum LAI)