Ketika Kita Telah Memutuskan Mengikuti Iman, Seberapa Jauh Kita Dapat Meninggalkan Logika ?

title

Iman tidak boleh mematikan logika, iman harus membuat logika tahu ada kuasa dan hikmat yang jauh melebihinya, lalu menyembah-Nya.

Meskipun mengikuti kehendak Allah untuk tetap tinggal di Gerar, negeri orang Filistin, namun Ishak tidak sepenuhnya mempercayakan dirinya kepada Allah sekalipun dengan tegas Allah telah berjanji akan melindungi dan memberkatinya (3). Ishak melakukan kesalahan berulang seperti yang pernah dilakukan oleh Abraham, ayahnya (Kej. 12:13). Ia tidak percaya bahwa Allah sanggup melindunginya, karena itu dengan logika berpikirnya yang sesat, ia menyembunyikan separuh kebenaran bahwa Ribka adalah isterinya. Ia berpikir dengan berkata Ribka adalah adiknya, nyawanya akan selamat dan akan tetap hidup di negeri Filistin itu.

Sahabat Alkitab, dalam kehidupan beriman, kita diajar untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah. Dalam situasi tertentu, kita perlu benar-benar menundukkan logika kita pada cara dan kehendak Allah. Memaksakan untuk menggunakan pemikiran sendiri hanya akan membawa pada kesesatan berpikir malah bisa jadi berbuah pada tindakan yang keliru, merugikan diri sendiri, orang lain, dan membawa kita dalam dosa. Seperti yang dilakukan oleh Ishak, dia menyembunyikan separuh kebenaran yang sama artinya dengan berbohong, demi keselamatan pribadinya. Tindakannya itu hampir saja mengorbankan istrinya sendiri. Ketika logika mengajak kita untuk melakukan sebuah tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, moralitas, nilai-nilai kepatutan, dan melanggar hukum, maka tinggalkanlah itu lalu bergantunglah sepenuhnya kepada Allah. Ia paling tahu cara untuk melindungi dan memberkati Anda.

Selamat Pagi. Lebih baik menderita sengsara atau menjadi miskin sekalipun karena mengikuti tuntunan iman kita, daripada berada dalam kebahagiaan semu atau kaya dengan cara yang culas.

Salam Alkitab Untuk Semua

Betapa Menenangkan Mendapat Sebuah Kepastian Ditengah-tengah Ketidakpastian.

title

Janji-Nya adalah "Ya" dan "Amin", mengapa menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengejar perkara yang tidak pasti?

Terjadilah kelaparan di Kanaan, karena itu Ishak pergi ke daerah orang Filistin untuk tinggal sementara di situ, tujuan utamanya adalah dapat pergi ke Mesir, negeri yang terkenal karena kesuburannya, dengan begitu ia dan keluarganya tidak akan menderita kelaparan. Namun Tuhan melarangnya, Ishak harus tetap tinggal di negeri Filistin itu, karena di situlah Tuhan akan menyertai dan memberkatinya, yaitu menepati janji-Nya kepada Abraham, karena semasa hidupnya, Abraham taat kepada firman Tuhan.

Sahabat Alkitab, sekali lagi, apa yang kita pikirkan dapat bertolak belakang dengan pikiran Tuhan. Hitung-hitungan yang kita pakai untuk "meramal" masa depan kita meleset jauh dari yang dikehendaki-Nya. Banyak kali, kita merasa bahwa jalan yang kita lalui adalah jalan buntu, dan memang buntu. Tapi jika Tuhan menginginkan kita untuk tetap berjalan, maka berjalanlah, karena Tuhan mampu untuk mendobrak jalan buntu itu. Ketika Tuhan sudah mengatakan akan menyertai dan memberkati maka percayalah, Ia pasti melakukannya, seberapapun kita merasa bahwa itu berat dan situasi yang serba tidak pasti. karena Tuhan bukan pemberi harapan palsu. Ia memberi jaminan pasti atas setiap yang Ia janjikan bagi kita.

Selamat Pagi. Nyanyikanlah "Tenanglah kini hatiku, Tuhan memimpin langkahku, ditiap saat dan kerja, tetap kurasa tangan-Nya. Tuhanlah yang membimbingku, tanganku dipegang teguh, hatiku berserah penuh, tanganku di pegang teguh." He Leadeth Me, He Leadeth You, He Leadeth Us.

Salam Alkitab Untuk Semua

Pengendalian Diri Adalah Perisai Terluar Dan Sekaligus Terdalam Seorang Pahlawan

title

Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota (Amsal 16:32)

Berburu adalah salah satu pekerjaan yang membutuhkan kesabaran, ketenangan, dan kesiap-siagaan, itu semua adalah bentuk pengendalian diri. Jika tidak sabar, tidak tenang, dan tidak siaga, orang yang berburu bisa kehilangan buruannya atau jika itu binatang buas, bisa jadi dia yang kehilangan nyawanya. Esau adalah seorang pemburu yang cakap (27), karena itu sudah pasti ia memiliki sifat-sifat seperti itu. Tetapi kemudian, sifat-sifat baiknya itu kalah saat berurusan dengan rasa lapar. Dalam keadaan yang sangat lapar (30) ia menjadi tidak sabar, tidak dapat mengendalikan dirinya dari rasa lapar, sehingga dengan menganggap remeh hak kesulungannya, ia rela menukar itu demi makanan, roti dan sebagian sayur kacang merah.

Sahabat Alkitab, pengendalian diri adalah bagian sangat penting dari cara kita menjaga kehidupan kita. Kita diharuskan untuk mampu mengendalikan diri dalam segala hal. Saat kita mampu mengendalikan diri dari kemarahan, maka terhadap keserakahan, hawa nafsu, kesombongan, perkataan kosong, dan lainnya harus juga mampu kita kendalikan. Siapa yang dapat mengandalikan dirinya sepenuhnya lebih berbahagia dari seorang pahlawan yang berhasil menaklukkan sebuah kota. Tetapi siapa yang tidak dapat mengendalikan dirinya, ia akan kehilangan segala yang ia miliki. Iblis akan selalu berusaha untuk mencari kesempatan menyerang titik lemah manusia, namun jika kita mampu mengendalikan diri dan menguasainya sepenuhnya, maka kita dapat menangkis semua serangan itu.

Selamat Beribadah. Segala sesuatu sudah mendekati kesudahannya, sebab itu hendaklah kalian menguasai diri dan waspada, supaya kalian dapat berdoa (1 Ptr. 4:7, BIMK)

Salam Alkitab Untuk Semua

Bahkan Dijalan Yang Benar Sekalipun, Masalah Tetap Tidak Akan Membiarkan Kita Berjalan Dengan Mudah.

title

Dunia ini gudangnya masalah, iman kepada Kristus tidak membebaskan kitanya, tetapi memberikan kekuatan menghadapinya.

Tidak ingin mengulangi apa yang dilakukan olah Abraham, bapaknya, Ishak memilih untuk berharap kepada Tuhan, ia berdoa meminta kepada Tuhan ketika Ribka belum juga memberikannya anak. Lalu Tuhan mengabulkan doanya. Memiliki anak adalah jawaban atas masalahnya tetapi sekaligus juga membuka lembaran masalah yang baru baginya kelak. Sebab anak itu sejak dalam kandungannya sudah berseteru, demikianlah terus terjadi sampai keduanya dewasa dan sampai kepada bangsa-bangsa yang mereka peranakkan (23).

Sahabat Alkitab, bagaimana mungkin jawaban dari masalah adalah masalah? Ya begitulah keadaannya selama kita masih ada di dunia ini. Seperti jawaban atas masalah kesendirian adalah menjalin hubungan (atau pernikahan), namun di dalam hubungan itu jugalah akan menimbulkan masalah. Begitu juga jawaban dari masalah menganggur (tidak bekerja) adalah bekerja atau melakukan pekerjaan, namun bekerja juga akan dipenuhi dengan masalah nantinya. Kita memang hidup dikelilingi oleh masalah, seperti judul film komedi era tahun 1983 "Maju Kena Mundur Kena". Lalu apa yang harus kita lakukan? Pergi dari dunia ini dengna cara kita sendiri? Itu pun adalah masalah. Pergi jauh ke tengah hutan untuk mengasingkan diri? Di situ pun kita akan bertemu masalah. Berjalan di jalan yang benar bersama Tuhan bertemu masalah, apalagi berjalan diluar dari jalan-Nya, semuanya masalah.

Selamat Pagi. Bersama Tuhan, masalah adalah cara mendewasakan iman kita, hadapilah karena Tuhan tidak akan pernah tinggalkan.

Salam Alkitab Untuk Semua

Semua Orang Punya Cerita. Mengapa Kita Merasa Seakan Kita Sendiri Yang Memilikinya ?

title

Ada kehidupan lain selain kehidupan kita, yang sama-sama ingin menorehkan cerita bagi dunia.

Tidak banyak diberitakan tentang kehidupan Ismael, anak Abraham dari Hagar, gundiknya. Sebab mereka dipisahkan semasa hidup Abraham dan baru dipersatukan oleh kematiannya (24:9). Ismael memiliki dua belas anak yang nantinya menjadi bapak leluhur dua belas suku bangsa. Usia Ismael juga cukup panjang hingga 137 tahun, menjadi satu bukti bahwa Allah pun menyertainya sekalipun ia hidup terpisah dari keturunan Abraham lainnya.

Sahabat Alkitab, setiap manusia di dunia ini memiliki cerita hidupnya masing-masing, namun kadang kita seolah-olah merasa hidup seorang diri di dunia. Yaitu ketika kita berada di atas angin, kita begitu acuh dengan orang di sekitar, seolah mereka tidak berarti bahkan kita anggap tidak ada. Begitu juga saat kita begitu terpuruk, kita merasa bahwa kitalah manusia yang paling malang di dunia ini, mengasihani diri sendiri, hilang harapan, dan enggan untuk bangkit lagi, padahal masih banyak orang di luar sana yang hidupnya jauh lebih terpuruk daripada kita namun dapat tetap memiliki pengharapan dan berjuang untuk bangkit. Kita harus menyadari dan menghargai adanya kisah kehidupan lain yang sama-sama dihargai, dipelihara dan diberkati oleh Tuhan, sekalipun mereka berbeda dari kita.

Selamat Pagi. Bumi ini untuk dihuni bersama, semua orang punya hak dan kesempatan yang sama untuk menorehkan kisah terbaik mereka. Hargailah dan lakukanlah bersama-sama!

Salam Alkitab Untuk Semua

Manusia-manusia Lahir Dan Mati. Melukis Sebuah Cerita Yang Kita Tidak Tahu Bagaimana Akhirnya.

title

Umur manusia dibatasi oleh waktu, namun cerita hidup yang kita lukiskan tidak akan pernah mati, dikenang sebagai kebanggaan atau mendatangkan malu.

Selama 175 tahun Abraham telah melukis kisah hidupnya. Di dalamnya apa perjalanan panjang kehidupan beriman sebagai sebuah respon atas panggilan Allah baginya. Jatuh dan bangun dalam mempercayai janji Allah menjadi bagian dari lukisan hidupnya. Tatkala dia telah menutup usia, kisah hidupnya tetap menjadi cerita turun temurun, begitu juga dengan iman yang menjadi warisan paling berharga bagi anak cucunya.

Sahabat Alkitab, setiap kita melukiskan kisah hidup yang berbeda-beda. Setiap goresan tinta terlihat dari bagaimana kita menjalani hidup dan apa yang kita kerjakan. Jika kita menabur banyak kebaikan maka yang kita hasilkan adalah cerita yang penuh warna dan akan menjadi kenangan manis yang menguatkan, membanggakan, dan menginspirasi hidup orang lain. Jika yang kita lakukan semata-mata jahat, orang pun akan mengenang kita sebagai pembuat kejahatan, dan sifat jahat itu pun juga akan terwariskan kepada generasi berikutnya. Pilihan ada di tangan kita masing-masing.

Selamat Pagi. Allah menginginkan kita menorehkan kisah yang memberi hidup bagi semua orang dan memuliakan-Nya.

Salam Alkitab Untuk Semua

Sempurna Itu Ketika Rasa Takut Dan Ragu Berubah Menjadi Bahagia Dan Pasti.

title

Apa yang datang dari Tuhan pasti adalah pemberian yang tebaik, tidak perlu meragukan apalagi menyesalkannya

Hamba itu telah berhasil menunaikan tugasnya, tetapi apakah Ishak akan menerima dan menyukai Ribka atau sebaliknya? Pertanyaan itu mungkin tebersit dalam benak hamba itu sehingga memunculkan karagu-raguan atau ketakutan baginya jika Ishak sama sekali menolak gadis itu. Namun setelah mempertemukan keduanya, Ishak memperistri Ribka, ia mencintainya, bahkan ia berbahagia sehingga menghapus rasa dukanya karena kehilangan Sarai, ibunya. Apa yang hamba itu kerjakan tidak sia-sia, Tuhan menjadikannya sempurna karena hamba itu menaruh harapannya kepada Tuhan.

Sahabat Alkitab, ketika kita menaruh percaya pada Tuhan bahwa segala yang ia rancangkan pasti akan berhasil dan apa yang kita rancangkan sesuai dengan kehendak-Nya maka Allah akan mengubah keraguan dan ketakutan kita dalam diri kita menjadi kepastian dan kebahagiaan.

Selamat Pagi. Kepercayaan kita kepada Tuhan tidak akan pernah disia-siakan-Nya, karena itu jangan berhenti untuk percaya dan melakukan kehendak-Nya.

Salam Alkitab Untuk Semua

Dimanakah Sebenarnya Segala Keputusan Terletak ? Pada Tuhan.

title

Manusia mempunyai banyak rencana, tetapi hanya keputusan TUHAN yang terlaksana (Ams. 19:21, BIMK)

Baik Laban, Betuel, Ribka, Ibunya, dan hamba Abraham itu, tahu bahwa apa yang terjadi ini berasal dari TUHAN, karena itu mereka mengikuti apa yang sepenuhnya menjadi keputusan TUHAN. Namun pada ayat 55-58 seperti terjadi tarik-menarik keputusan, mungkin karena perasaan sayang dan tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan Ribka, maka Laban dan Ibunya meminta waktu seminggu atau sepuluh hari untuk dapat menikmati kebersamaan dengan Ribka. Sementara hamba Abraham ingin cepat menyelesaikan tugasnya dan pulang dengan membawa hasil yang diharapkan oleh Abraham. Diakhir, Ribka tampil dengan sebuah keputusan untuk mengikuti hamba Abraham pulang ke Kanaan saat itu juga.

Sahabat Alkitab, dalam pembacaan nas kita melihat bagaimana peran Allah yang begitu besar di dalam semuanya. Mulai dari menuntun hamba itu dalam perjalanan ke Haran, mempertemukannya dengan Ribka di dekat sebuah sumur, menjawab doanya seketika itu juga, dan membuatnya berhasil meyakinkan Laban, Betuel, Istri Betuel, dan Ribka untuk membawa Ribka dan menjadikannya istri Ishak. Keyakinan hamba Abraham bahwa TUHANlah yang membuat perjalanannya berhasil (56) menjadi jawaban mengapa Ribka setuju untuk segera pulang bersamanya, yaitu bahwa TUHAN yang mengatur dan memutuskan semuanya itu. Jika Ia sudah berkehandak maka tidak ada yang dapat menggagalkan-Nya. Jika Tuhan sudah membuka pintu, maka tidak ada yang dapat menutupnya (Why. 3:8). Jika semua terjadi karena keputusan Tuhan maka tidak ada yang kebetulan di dunia ini, dan tidak ada rancangan kecelakaan dari-Nya.

Selamat Pagi. Jika segala yang terjadi adalah kehendak dan keputusan Tuhan, maka bagian kita adalah belajar untuk menerimanya dengan kerendahan hati dan syukur.

Salam Alkitab Untuk Semua

Kalau Sudah Berkehendak, Tuhan Akan Bekerja Lebih Cepat Dari Yang Kita Minta Dan Pikirkan

title

Ia menjawab tepat pada waktu-Nya, bagi kita kadang terasa begitu lama atau bahkan lebih cepat dari yang kita bayangkan.

"Belum lagi saya selesai mengucapkan doa itu di dalam hati..." Mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya bahwa apa yang akan ia kerjakan akan terlaksana begitu mudahnya, rasa-rasanya ia sendiri belum berbuat apa-apa. Semua terjadi dalam sekejab mata saja, tanpa usaha yang berarti. Padahal sebelumnya ia sempat berpikir bahwa usaha pencarian itu akan menemui hambatan atau gagal sama sekali (24:5). Tuhan menunjukkan jalan-Nya dan kehendak-Nya atas hamba itu, atas Abraham, Ishak, dan atas Israel nantinya.

Sahabat Alkitab, apa yang ada dalam pikiran kita ketika membaca ayat 45 dalam pembacaan nas alkitab di atas? Mustahilkah? Lalu bagaimana perasaan kita yang telah berdoa bertahun-tahun atau berpuluh tahun namun belum juga menerima jawaban dari Tuhan? Kecewakah kita? Atau kita merasa ada ketidakadilan yang dilakukan Allah? Mengapa Dia menjawab doa orang lain begitu cepat sementara doa kita seakan tidak "tersentuh" oleh-Nya. Tuhan adalah Allah, Ia memiliki kehendak dan waktu-Nya sendiri, Ia bukan pesuruh kita, dan tidak satupun manusia yang dapat mendikte Allah untuk melakukan sesuatu sesuai keinginannya, sekalipun kita mengklaim dengan mengutip ayat-ayat alkitab. Allah ada pribadi yang otonom dan berotoritas. Karena itu saat kita berdoa biarkanlah segala sesuatu terjadi sesuai dengan kehendak-Nya seperti yang Yesus ajarkan dalam Doa Bapa Kami "Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga" (Mat. 6:10), dan dalam doa-Nya di Taman Getsemani "... tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi" (Luk. 22:42).

Selamat pagi. Bersyukurlah saat jawaban-Nya "terlalu cepat" dan sekalipun terasa "terlalu lambat".

Salam Alkitab Untuk Semua

Seperti Hamba Abraham Itu. Dalam Segala Kesemrawutan Kehidupan Dunia, Mari Kita Bertanya Pada Diri Kita Sendiri : Siapakah Aku ?

title

Bertanyalah kepada pribadi yang tepat, yang memiliki seluruh jawaban atas segala sesuatu.

Dalam ketidaktahuan, ketidakpastian, dan atas segala kemungkinan-kemungkinan terburuk yang dapat saja terjadi, hamba Abraham bertanya kepada tuannya "Bagaimana jika gadis itu tidak mau ikut dengan saya?" Pertanyaan ini sekaligus juga menjadi pengakuan akan keterbatasannya sebagai manusia yang tidak dapat mengendalikan segala sesuatu dan juga tidak dapat memaksakan kehendaknya kepada siapapun gadis yang hendak dicarinya itu. Ia tidak berkuasa untuk itu karena dia hanyalah seorang hamba, sebuah pengakuan dan sadar diri akan keberadaannya.

Sahabat Alkitab, "Siapakah Aku? Siapakah Anda? Siapakah Kita?" pertanyaan-pertanyaan ini dapat kita tanyakan sebagai refleksi tatkala kita menghadapi semrawut dan galaunya dunia. Lalu kita bertanya lagi, "Mengapa aku ada di sini? Mengapa aku ditempatkan di sini?" Jika tidak kita temukan jawabannya, maka bertanyalah demikian: "Siapakah aku Tuhan? Mengapakah aku ada di sini Tuhan?" Niscaya kita mendapat jawabannya. Bukan hanya jawaban atas pertanyaan itu yang akan kita temukan, tetapi juga bagaimana kita harus bersikap dan apa yang harus kita lakukan di tengah segala kesemrawutan dan kegalauan yang tidak dapat kita ubah ataupun kendalikan.

Selamat Beribadah. Pakailah waktu ini untuk merenung dan berefleksi untuk menemukan diri kita yang sejati.

Salam Alkitab Untuk Semua