Ketika Kita Telah Memutuskan Mengikuti Iman, Seberapa Jauh Kita Dapat Meninggalkan Logika ?

  • 160
    Shares

title

Iman tidak boleh mematikan logika, iman harus membuat logika tahu ada kuasa dan hikmat yang jauh melebihinya, lalu menyembah-Nya.

Meskipun mengikuti kehendak Allah untuk tetap tinggal di Gerar, negeri orang Filistin, namun Ishak tidak sepenuhnya mempercayakan dirinya kepada Allah sekalipun dengan tegas Allah telah berjanji akan melindungi dan memberkatinya (3). Ishak melakukan kesalahan berulang seperti yang pernah dilakukan oleh Abraham, ayahnya (Kej. 12:13). Ia tidak percaya bahwa Allah sanggup melindunginya, karena itu dengan logika berpikirnya yang sesat, ia menyembunyikan separuh kebenaran bahwa Ribka adalah isterinya. Ia berpikir dengan berkata Ribka adalah adiknya, nyawanya akan selamat dan akan tetap hidup di negeri Filistin itu.

Sahabat Alkitab, dalam kehidupan beriman, kita diajar untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah. Dalam situasi tertentu, kita perlu benar-benar menundukkan logika kita pada cara dan kehendak Allah. Memaksakan untuk menggunakan pemikiran sendiri hanya akan membawa pada kesesatan berpikir malah bisa jadi berbuah pada tindakan yang keliru, merugikan diri sendiri, orang lain, dan membawa kita dalam dosa. Seperti yang dilakukan oleh Ishak, dia menyembunyikan separuh kebenaran yang sama artinya dengan berbohong, demi keselamatan pribadinya. Tindakannya itu hampir saja mengorbankan istrinya sendiri. Ketika logika mengajak kita untuk melakukan sebuah tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, moralitas, nilai-nilai kepatutan, dan melanggar hukum, maka tinggalkanlah itu lalu bergantunglah sepenuhnya kepada Allah. Ia paling tahu cara untuk melindungi dan memberkati Anda.

Selamat Pagi. Lebih baik menderita sengsara atau menjadi miskin sekalipun karena mengikuti tuntunan iman kita, daripada berada dalam kebahagiaan semu atau kaya dengan cara yang culas.

Salam Alkitab Untuk Semua