
Setiap Orang Punya Versinya Sendiri Mengenai Hidup Lebih Baik




Sekalipun tidak dengan sukacita pemberian tetap jadi berkat bagi yang menerima, tetapi tidak bagi pemberi.
Raja Kores membuat perintah agar orang-orang yang tinggal bersama dengan orang-orang Yahudi memberikan bantuan dalam berbagai bentuk agar mereka dapat kembali ke Yerusalem dan membangun kotanya. Kores sendiri memberikan teladan atas perintah tersebut, ia mengeluarkan semua barang rampasan yang pernah dirampas oleh Nebukadnezar dan diberikan kepada Sesbazar. Masyarakat yang mendapat perintah itu ada yang memberi dengan sukacita tapi mungkin juga ada yang dengan berat hati dan sungut-sungut.
Sahabat Alkitab, hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Inilah prinsip dasar dan utama yang dinyatakan Alkitab dalam memberi, “memberi dengan sukacita.” Memberi bukan karena kewajiban apalagi karena paksakan.
Selamat Pagi. Jangan lupa untuk berbagi hari ini dan lakukanlah dengan penuh sukacita, karena Bapa di surga melihat penuh cinta kepada Anda yang melakukannya.


Bisa saja, karena kebaikan hati satu orang, dan syafaat yang dinaikkannya “meluluhkan” amarah TUHAN sehingga Ia menunda atau bahkan mengurungkan rencana-Nya untuk menghukum.
Syafaat Abraham telah membuat TUHAN mengurungkan rencana-Nya. Keberanian Abraham untuk berdiri di antara ALLAH dan manusia adalah satu tindakan keimaman dan karena sifat altruistis yang dimilikinya, walaupun mungkin bukan semua orang yang ingin ia selamatkan melainkan hanya Lot dan keluarganya. Apapun itu, kebaikan hati Abraham adalah yang dipandang oleh TUHAN.
Sahabat Alkitab, Allah begitu tertarik dengan orang-orang yang baik, yang melakukan kebaikan kepada orang-orang lainnya, apalagi jika dilakukan dengan tulus hati dan tanpa memandang SARA, juga jika itu dilakukan terhadap orang-orang yang kecil dan hina. Allah menjadikannya sahabat. Abraham adalah sahabat Allah oleh karena itu Allah mengindahkannya. Bukan tidak mungkin, Allah juga akan mengindahkan doa-doa kita jika itu tertuju untuk kebaikan orang lain.
Selamat beraktifitas. Jadilah orang baik (dan benar)! Allah berkenan akan Anda.

Setelah melalui proses penerjemahan yang panjang, akhirnya tahun 1974 Lembaga Alkitab Indonesia berhasil menerbitkan Alkitab Terjemahan Baru, yakni Alkitab versi resmi dalam bahasa Indonesia yang dikerjakan oleh sekelompok ahli dari Belanda dan Indonesia. Versi inilah yang digunakan sampai sekarang.
Proyek penerjemahan Terjemahan Baru bahasa Indonesia ini dimulai oleh Lembaga Alkitab Belanda pada tahun 1952, karena sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia kegiatan-kegiatan penerjemahan dan penyebaran Alkitab di Indonesia ditangani oleh Lembaga Alkitab Belanda dan Lembaga Alkitab Inggris. Dengan berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia yang mandiri pada tanggal 9 Februari 1954, maka tanggung jawab proyek ini diserahkan kepada LAI.
Panitia penerjemahannya terdiri dari tenaga-tenaga ahli berasal dari Belanda, Swiss dan Indonesia. Mereka adalah Dr. J.L. Swellengrebel, Dr. C.D. Grijns, P.S. Naipospos, Prof. Dr. J.L. Ch. Abineno, J.P. Siboroetorop, Pdt. Prof. Dr. R. Soedarmo, Dr. Arie de Kuiper, Ds. M.H. Simanungkalit, dan Pdt. O.E. Ch. Wuwungan. Penerjemahan TB dilakukan langsung dari bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani versi Biblia Hebraica Kittel (Perjanjian Lama) dan bahasa Yunani versi Nestle Aland (Perjanjian Baru).
Edisi percobaan karya panitia ini diterbitkan secara bertahan mulai tahun 1959, berbentuk beberapa kitab dalam ukuran saku. Akhirnya setelah dua kali tertunda, proyek penerjemahan ini diselesaikan pada tahun 1970 dan Perjanjian Barunya diterbitkan pada tahun 1971, Perjanjian Lamanya pada tahun 1974.
Karena memang baru, maka terbitan Alkitab itu dinamakan Alkitab Terjemahan Baru, atau disingkat TB, sedangkan terjemahan Alkitab versi Bode-Klinkert yang lebih lama tadi dengan sendirinya disebut sebagai Terjemahan Lama. Jadi, singkatan TB mengacu kepada terjemahan Alkitab yang dibuat oleh Lembaga Alkitab Indonesia dan yang beredar sejak tahun 1975 sampai sekarang. Terjemahan bernama TB itu “formal”, bahkan boleh disebut “harfiah”, sebab bertujuan mempertahankan sejauh mungkin bentuk asli teks Kitab Suci. []
TUHAN tidak pernah salah menjatuhkan hukuman, Ia akan menghukum orang yang bersalah dan membebaskan orang yang benar. TUHAN itu adil, sebab ia mengetahui jalan setiap orang sampai pada apa yang tidak terlihat oleh mata manusia, sebab Dia melihat sampai ke dalam hati.
Abraham melakukan tawar-menawar dengan TUHAN perihal Sodom dan Gomora. Dalam pandangannya tidak mungkin seluruh orang di sana jahat, pasti masih ada yang baik. TUHAN mungkin telah salah mengambil keputusan untuk memusnahkan kedua kota itu. Abraham merasa dialah yang paling tahu tentang orang-orang di Sodom dan Gomora, itulah sebabnya dia berkata, ” Janganlah orang-orang yang tidak bersalah itu dibunuh bersama-sama dengan yang bersalah. Jangan TUHAN! Sebab jika TUHAN melakukannya, orang yang tidak bersalah pasti akan dihukum bersama-sama dengan yang bersalah. Mana mungkin hakim semesta alam semesta bertindak tidak adil!” Abraham mungkin mengingat tindakan baik raja Sodom yang pernah ingin memberinya seluruh harta rampasan perang (Kej. 14:21). Ia lupa bahwa ia sedang berhadapan dengan ALLAH yang tahu dan melihat semuanya.
Sahabat Alkitab, Abraham mewakili sifat manusia pada umumnya. Kita manusia memang hanya dapat melihat orang dari apa yang diperbuatnya, apa yang dikatakannya. Kita tidak dapat melihat apa yang ada dalam pikiran dan hati seseorang sampai semuanya berbuah pada tindakan nyata. Karena itu kitalah yang membutuhkan Tuhan sebagai penasehat kita dan bukan sebaliknya.
Selamat Beribadah, marilah kita datang dengan penuh penyerahan diri kepada Tuhan, Penasehat ajaib kita. Ia yang melihat jauh ke dalam lubuk hati manusia akan memberkati mereka yang sungguh-sungguh beribadah kepada-Nya.

Sebagai negara merdeka dan mengklaim bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, maka mulai dari para Pemimpin Bangsa sampai seluruh rakyat terus mengkampanyekan Bahasa persatuan ini kehidupan berbangsa dan bernegara. Semangat ini juga bergelora di kalangan tokoh Gereja pada waktu itu, termasuk mereka yang sedang menyiapkan lahirnya Lembaga Alkitab nasional yang mandiri.
Pada tahun 1952 dengan dibantu Lembaga Alkitab Belanda memulai proyek penerjemahan baru untuk Alkitab ke dalam bahasa Indonesia. Persiapan-persiapan untuk membentuk Tim Penerjemahan Alkitab Bahasa Indonesia terus dipersiapkan. Sampai berdirinya Lembaga Alkitab Indonesia tanggal 9 Februari 1954 Tim Penerjemahan Alkitab Bahasa Indonesia belum terbentuk. Agar pelayanan Gereja dan kehidupan umat kristiani di Indonesia terpelihara, LAI memutuskan untuk menerbitkan terbitan darurat pada tahun 1958, yaitu gabungan Perjanjian Lama Klinkert (1879) dan Perjanjian Baru Bode (1938), atau dikenal kemudian dengan nama Alkitab Terjemahan Lama.
Walaupun Alkitab ini sekarang dikenal sebagai “Terjemahan Lama”, namun nama itu belum digunakan sebelum Terjemahan Baru muncul pada tahun 1974. Istilah “Terjemahan Lama” barulah digunakan mulai tahun 1974 untuk membedakannya dengan Terjemahan Baru. Terjemahan Lama ini bukanlah terjemahan yang paling lama, paling tua atau paling asli dalam bahasa Indonesia, sebab sebelumnya sudah ada belasan terjemahan lainnya dalam bahasa Melayu/Indonesia.[3FQ]