Tuhan, Engkau Tidak Ingin Kami Berputus Asa, Melainkan Hidup Bergairah Dan Berpengharapan . Karena Itu Tolonglah Kami Ya Tuhan

BIMK, Lembaga Alkitab Indonesia,LAI, united bible society, sahabat alkitab, renungan pagi, santapan rohani, warung sate kamu, kasih, suka cita, damai sejahtera, pengharapan, iman, bijak, amsal, pengkhotbah, doa, kehendak tuhan, alkitab berkata, alkitab, ayat alkitab, renungan,  doa, firman tuhan, firman, tuhan, jesus christ,  bible, god, yesus, jesus, kristen, god bless,  christan motivasi, inspirasi, renungan alkitab,  motivasi, mindset, semangat, cinta, tuhan memberkati, kata bijak, amen, gereja, komunikasi, keselamatanku, keselamatan, kisah para rasul, rasul, rasul paulus
Kisah Para Rasul 27 : 21 – 26

Pertolongan TUHAN selalu datang pada waktu yang tepat, tidak pernah sedikit pun terlambat. Kita bersyukur karena tidak pernah ditinggalkan.

Dalam keputusasaan dan kelaparan yang amat karena sebagian besar perbekalan terpaksa harus di buang ke laut, Paulus tampil memberi semangat dan harapan kepada semua awak. Apa yang terjadi mengapa Paulus yang juga sempat berputus asa dapat bangkit kembali? Rupanya malam sebelumnya malaikat Allah datang kepadanya dan berkata bahwa semua orang yang turut dalam pelayaran akan selamat, namun akan terdampar di suatu pulau dan kehilangan kapal. Paulus memberi semangat kepada para awak kapal, karena ia telah menerimanya dari Tuhan.

Sahabat Alkitab, rentetan kejadian buruk ataupun keadaan yang tidak menyenangkan dan menguntungkan sangat mungkin membuat orang menjadi terpuruk, kehilangan semangat, bahkan kehilangan harapan. Itulah saat di mana kita telah sampai pada batas-batas kekuatan sebagai manusia. Syukur kepada Allah, justru di saat kritis seperti itulah Allah datang memberikan pertolongan dan seketika saja bangkitlah kekuatan dan semangat yang baru dalam diri kita. Tuhan mengizinkan kita tertimpa berbagai-bagai persoalan, Dia juga mengizinkan kita berada pada titik terendah kehidupan, dan juga mengizinkan kita terjatuh namun tidak sampai luka parah (Mzm. 37:24, BIMK). Ada saja cara yang dipakai-Nya untuk menolong kita untuk tetap bergairah dan bangkit kembali.

Selamat Pagi. Saat semangat hampir padam dan harapan lenyap, berserulah kepada Tuhan maka Ia akan menjawabnya.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Ajar Kami Tidak Tinggi Hati Saat Nasehat Kami Diikuti, Dan Sebaliknya Tetap Bersukacita Jika Tidak Ada Yang Menurutinya

Rasul, lembaga Alkitab Indonesia, kisah para rasul, renungan kristen,santapan harian
Kisah Para Rasul 27 : 12 – 15

Tugas kita adalah menyampaikan apa yang benar dan yang terbaik untuk dilakukan atau tidak dilakukan, selebihnya adalah pekerjaan dari Allah Roh Kudus.

Saran Paulus ditolak. Maklum saja Paulus memang tidak mempunyai latar belakang sebagai seorang yang tahu tentang ilmu pelayaran. Apalagi pelabuhan yang disarankan oleh Paulus untuk berlabuh tidak baik untuk digunakan saat musim dingin seperti saat itu. Jika yang di posisi Paulus saat itu adalah Petrus ceritanya sudah pasti akan berbeda. Perjalanan akhirnya segera dilanjutkan menuju ke Feniks, cuaca saat itu memang cukup mendukung. Namun, di tengah perjalanan ternyata cuaca tiba-tiba berubah menjadi buruk, sehingga mereka membiarkan kapal itu berjalan mengikuti tiupan arah angin.

Sahabat Alkitab, yang terjadi dalam kisah perjalanan Paulus tadi dapat juga terjadi dalam kehidupan kita. Saran yang kita berikan tidak ditanggapi, sehingga hal buruklah yang terjadi. Pertanyaannya bagi kita adalah bagaimana kita meresponi respon orang terhadap saran atau nasihat kita? Akankah kita marah jika tidak diikuti? ataukah kita jadi tinggi hati ketika dituruti? Dalam situasi seperti Paulus, siapa saja pasti tergoda untuk marah, menggerutu, dan menyalahkan orang lain yang tidak mengikuti nasehat kita atau bisa juga kita malah senang karena orang lain mendapat akibat buruk karena tidak mengikuti saran dan nasehat kita. Janganlah itu terjadi dalam diri kita, marilah untuk selalu belajar rendah hati, sebab memaksakan kehendak juga tidak baik, apalagi jika bersukacita karena kegagalan orang lain.

Selamat Pagi. Jadilah penasehat dan pemberi saran yang baik, sebagaimana kita pun pernah menerima nasehat atau saran dari orang lain.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Ajarlah Agar Saat Aku Berada Di Atas, Aku Tidak MelupakanMu

    Kisah para rasul , lembaga Alkitab Indonesia, LAI, bible, renungan harian, renungan, alkitab, alkitab studi, harapan. Iman kasih, suka cita ,damai, saat teduhKisah Para Rasul 27 : 7 – 11

Setiap hari kita perlu belajar. Belajar berharap dan mengingat Tuhan saat sedang berada di bawah, dan belajar bersyukur dan tetap mengingat Tuhan saat sedang berada di puncak kesuksesan hidup.

Sejak berada di tangan pasukan Roma, Paulus mulai mendapat perlakuan yang baik. Pada banyak kesempatan ia diperlakukan istimewa, seperti perlindungan, kebebasan untuk bertemu dengan rekan-rekannya, dan kebebasan untuk berbicara. Bahkan dalam nats pembacaan kita, Paulus sampai memberi saran kepada para awak kapal untuk tidak melanjutkan pelayaran sementara waktu sambil menunggu cuaca baik.

Sahabat Alkitab, ada kalimat bijak yang mengatakan bahwa kehidupan itu seperti roda yang terus berputar, ada kala kita berada di bawah namun ada kalanya juga kita berada di atas. Ada banyak makna yang dapat ditarik dari kalimat tersebut, satu di antaranya adalah agar ketika kita berada di atas puncak kehidupan yang meliputi kuasa, pengaruh, kekuatan, ekonomi, dan sebagainya, kita tidak melupakan siapa yang menolong kita untuk berada di situ. Dan yang pasti, siapa pun manusia yang menolong kita, Tuhan adalah penyebab utamanya. Dialah yang mendesain keberhasilan dan pencapaian kita saat ini.

Selamat Pagi. Marilah selalu mengingat Tuhan pencipta dan Juruselamat kita untuk setiap keberadaan kita hari ini

Salam Alkitab Untuk Semua

Digital Tanpa Sinyal

Pembagian Alkitab bahasa Yali Angguruk kepada umat

“Bagaimana kesan Bapak sesudah tiba dan menginap di Lembah Yali Angguruk ini?” tanya seorang jurnalis gereja yang mewancarai saya pagi sebelum matahari terbit (kamis, 18 Mei) di saat prosesi “bakar batu” menjelang acara peluncuran Alkitab  dalam Bahasa Yali Angguruk, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua.

“Saya benar-benar merasakan di sinilah terjadi paradoks ekstrem, yaitu ‘digital tanpa sinyal’!” jawab saya. Betapa tidak, para Pejabat Pemerintah, Pejabat Gereja, Wartawan, pilot, para turis, juga saya, dan Pdt Anwar Tjen,. Ph.D (Kepala Departemen Penerjemahan LAI) serta Bung Hendrik (staf Pengembangan Digital) semuanya membawa HP dan peralatan serba digital. Tapi ironisnya di lembah Yali Angguruk yang lokasinya terpencil dikepung oleh banyak gunung terjal, belum ada fasilitas listrik PLN dan apalagi sinyal HP.

Saya hadir di Yali Angguruk mewakili LAI atas undangan panitia peluncuran Alkitab bahasa Yali Angguruk (yang selesai diterjemahkan dalam kurun waktu 27 tahun) sekaligus perayaan lahirnya Klasis Yalimo GKI Di Tanah Papua yang ke 57 tahun. Saya tinggal satu malam di Yali Anggruk seperti menemukan suasana masa kecil saya di awal tahun 70an di perkampungan selatan Pulau Jawa. Listrik tidak ada, televisi dan radio belum musim, koran tidak pernah jumpa, jalan raya masih berlumpur dan sering banjir, sehari-hari pergi dengan telanjang kaki, mandi pun juga jarang karena sulit menemukan air bersih.

Saat ini sudah tahun 2018, tapi suasana di perkampungan Pulau Jawa tahun 70an tersebut masih saya jumpai di sini, dan malah lebih parah karena ada beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang masih setengah telanjang. Artinya ada ketertinggalan kemajuan hampir 50 tahun. Saya mendapat ceritera dari berbagai sumber kalau Lembah Yali Angguruk baru dijamah para misionaris pada tahun 1957. Pada tahun 1961 para misionaris bersama masyarakat berhasil membangun lapangan terbang perintis di antara gunung-gunung yang ada. Pada tahun 1963 baru ada satu guru sekolah dasar yang merangkap Guru Injil yang juga didatangkan oleh misionaris. Beliau adalah Onesimur Usior (73 tahun) dari Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua yang saat itu baru berusia 18 tahun dan baru menikah satu minggu.

“Karena syarat untuk dapat dikirim menjadi guru harus sudah lulus sekolah guru dan sudah menikah, maka sesudah lulus sekolah guru dan seminggu sebelum saya berangkat ke Yali Angguruk, saya menikah dulu”, jelas Pak Usior. Dengan adanya isteri yang mendampingi maka dia bisa bekerja lebih tenang dan betah di tempat yang masih sangat sunyi serta terpencil itu. Saat itu dia bekerja bersama Bapak Siegfried Zollner seorang misionaris dari Jerman.

“Saat saya datang pada tahun 1963, semua orang di Yali Angguruk tidak ada yang berpakaian”, kata Pak Usior yang sudah pensiun dari Guru sejak 2005 namun hingga saat ini masih aktif sebagai Guru Jemaat di Biak Timur, yang juga hadir di Yali Angguruk untuk menyaksikan peluncuran Alkitab dan Ulang Tahun Klasis Yalimo. Dulu masyarakat di sini masih suka berperang dengan masyarakat lainnya dan saling “memakan” pihak yang kalah. Sesudah mereka mengenal Injil dan dibaptis di tahun 1970 an, maka mereka bisa hidup damai, rukun dan tidak ada lagi peperangan. Namun demikian kemajuan masyarakat disini memang sangat lambat oleh karena lokasi Lembah yang sangat sulit dijangkau kecuali oleh pesawat perintis.

Adalah Bapak Freiderich Tometten, misionaris dari Jerman, Bapak Linus dan Bapak Esau (pengguna bahasa Yali Angguruk) yang menerjemahkan Perjanjian Lama. Juga Bapak Arnold Mohi, Bapak Kornelis Mohi, serta Bapak Tomas Ambolon yang menulis Perjanjian Baru. Pada tahapan akhir pekerjaan penerjemahan Alkitab ini, LAI terlibat dalam mensupervisi semua naskah yang ada untuk diterbitkan dan dicetak pada akhir tahun 2017 serta diluncurkan pada bulan Mei 2018.

Pekerjaan penerjemahan yang memakan waktu 27 tahun menghadirkan sukacita besar bagi masyarakat pengguna bahasa Yali Angguruk di Lembah Yahuli Atas, Tengah dan Bawah dari Lembah Ubahak. Juga dari Lembah Sibi, Pondeng, Hine/Korasarek. Tentu juga masayarat di Apahapsili: Lembah Habiye, Kulet, Pong, Werenggikma dan Lembah Welaek serta Elelim.

Bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhan sangat dimudahkan bila menggunakan bahasa Ibu. Selain itu pelestarian bahasa Ibu juga sangat penting bagi identitas sebuah bangsa. Penerjemahan Alkitab ini adalah sebuah karya maha besar yang mencakup keutuhan hidup sebuah suku bangsa Yali Angguruk. Saya sangat bangga dan terharu dapat hadir dan menjadi bagian yang sangat kecil dalam karya kebersamaan ini. Saya terhenti sejenak dan hampir menangis saat memberikan sambutan.

Acara peluncuran Alkitab dan Ulang Tahun klasis yang diawali dengan prosesi “bakar batu” (memasak ubi-ubian, sayur-sayuran dan puluhan daging babi menggunakan batu-batu yang dibakar) berlangsung sangat meriah. Diiringi berbagai atraksi tarian khas masyarakat Yali, berdoa, menyanyi refleksi dan pembagian Alkitab serta sambutan-sambutan. Acara ini dihadiri oleh ribuan umat anggota GKI Di Tanah Papua, Plt Gubernur Papua dan rombongan, Bupati dan Pimpinan DPRD Yahukimo serta rombongan, Pimpinan Sinode GKI Tanah Papua dan rombongan, para Wartawan, para Turis, tentu juga saya, Pak Anwar dan Bung Hendrik dari LAI.

Digital tanpa sinyal adalah pertanda perjuangan masih sangat panjang. Termasuk perjuangan menerjemahkan, menerbitkan, dan menyebarkan Alkitab ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia.
Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Meluruskan Fakta Yang Dipelintir Tentang Terjemahan LAI

Kampanye yang menolak kata “Allah” dalam Alkitab dilancarkan kalangan tertentu dengan memelintir fakta sesungguhnya tentang sikap pemerintah RI tentang terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI).  Pemerintah RI TIDAK mengintervensi penerjemahan Alkitab dan malah mempercayakan tugas itu kepada LAI. LAI adalah badan hukum yang diakui Negara dan ditunjuk oleh Pemerintah sebagai Lembaga yang berhak dan berwenang untuk menerjemahkan, mencetak dan menyalurkan Kitab Suci/Alkitab (SK Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Kementerian Agama Republik Indonesia Nomor: DJ.III/KEP/HK.00.5/77/2011).

Sejak berdirinya pada tanggal 9 Februari 1954, LAI telah menjadi mitra gereja-gereja di Indonesia dan diberi mandat dalam menerjemahkan, mencetak, dan menerbitkan Alkitab.

Visi pelayanannya yang ekumenis mendapat pengakuan juga dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Karena itu LAI tidak akan menerbitkan terjemahan Alkitab sektarian seperti yang diinginkan kelompok-kelompok yang menolak kata “Allah”, padahal kata itu sudah digunakan sekitar empat abad oleh umat Kristen di nusantara.

Untuk jelasnya, baca penjelasan singkat tentang padanan nama-nama ilahi dalam Alkitab (terlampir)

Salam Alkitab Untuk Semua.

Pdt. Anwar Tjen, PhD, Kepala Departemen Penerjemahan LAI

 

 

Lampiran 1.

Mengapa kata “Allah” dan “TUHAN” dipakai dalam Alkitab kita?

Pengantar

Kata “Allah” masih dipersoalkan oleh sebagian pengguna Alkitab terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Persoalan ini mencuat ke permukaan, karena ada beberapa kelompok yang menolak penggunaan kata “Allah” dan ingin menghidupkan kembali penggunaan nama Yahweh atau Yahwe. Dalam teks Ibrani sebenarnya nama Yahweh atau Yahwe ditulis hanya dengan empat huruf konsonan (YOD-HE-WAW-HE, “YHWH”) tanpa huruf vokal. Tetapi, ada yang bersikeras, keempat huruf ini harus diucapkan. Terjemahan LAI dianggap telah menyimpang, bahkan menyesatkan umat Kristiani di tanah air. Apakah LAI yang dipercaya gereja-gereja untuk menerjemahkan Alkitab telah melakukan kesalahan yang begitu mendasar? Di mana sebenarnya letak persoalannya? Penjelasan berikut bertujuan untuk memaparkan secara singkat pertimbangan-pertimbangan yang melandasi kebijakan LAI dalam persoalan ini.

Mengapa LAI menggunakan kata “Allah”?

Dalam Alkitab Terjemahan Baru (1974) yang digunakan secara luas di tanah air, baik oleh umat Katolik maupun Protestan, kata “Allah” merupakan padanan ‘ELOHIM, ‘ELOAH  dan ‘EL dalam Alkitab Ibrani:

Kej 1:1 “Pada mulanya Allah (‘ELOHIM) menciptakan langit dan bumi”.

Ul 32:17 “Mereka mempersembahkan kurban kepada roh-roh jahat yang  bukan Allah (‘ELOAH).  Mzm 22:2 “Allahku (‘EL), Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

 

Dari segi bahasa, tidak dapat dipungkiri, kata ‘ELOHIM, ‘ELOAH  dan ‘EL berkaitan dengan akar kata ‘L, dewa yang disembah dalam dunia Semit kuno. EL, ILU atau ILAH adalah bentuk-bentuk serumpun yang umum digunakan untuk dewa tertinggi. Umat Israel kuno ternyata memakai istilah yang digunakan oleh bangsa-bangsa sekitarnya. Apakah hal itu berarti bahwa mereka penganut politeisme? Tentu saja, tidak!

Umat Israel kuno memaknai kata-kata itu secara baru. Yang mereka sembah adalah satu-satunya Pencipta langit dan bumi. Proses seperti inilah yang masih terus bergulir ketika firman Tuhan mencapai berbagai bangsa dan budaya di seluruh dunia. Beberapa kelompok yang menolak kata “Allah” memang berpendapat, kata itu tidak boleh hadir dalam Alkitab umat Kristiani. Ada yang memberi alasan bahwa “Allah” adalah nama Tuhan yang disembah umat Muslim. Ada pula yang mengaitkannya dengan dewa-dewi bangsa Arab. Seandainya pendirian ini benar, tentu kata ‘EL, ‘ELOAH dan ‘ELOHIM pun harus dicoret dari Alkitab Ibrani! Lagi pula, beberapa inskripsi yang ditemukan pada abad keenam menunjukkan bahwa kata “Allah” telah digunakan umat Kristiani Ortodoks sebelum lahirnya Islam. Hingga kini, umat Kristiani di negeri seperti Mesir, Irak, Aljazair, Yordania dan Libanon tetap memakai “Allah” dalam Alkitab mereka. Jadi, kata “Allah” tidak dapat diklaim sebagai milik satu agama saja. Kebijakan LAI dalam menerjemahkan ‘ELOHIM, ‘ELOAH  dan ‘EL sama sekali bukan hal baru. Terjemahan Alkitab yang pertama ke dalam bahasa Yunani sekitar abad ketiga seb.M. merupakan contoh tertua yang kita miliki. Terjemahan yang dikenal dengan nama “Septuaginta” dikerjakan di Aleksandria, Mesir, dan ditujukan bagi umat Yahudi berbahasa Yunani. Dalam Kejadian 1:1, misalnya, Septuaginta menggunakan istilah THEOS yang biasa dipakai untuk dewa-dewa Yunani.

Nyatanya, Perjanjian Baru pun memakai kata yang sama, seperti contoh berikut dari Injil Matius: ”Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel” – yang berarti: Allah (THEOS) menyertai kita (1:23). Imanuel yang berasal dari unsur leksikal immanu- („beserta kita‟) dan EL diartikan sebagai „Allah (THEOS) menyertai kita‟. Rasul Paulus juga memakai kata THEOS untuk menyebut Bapa Tuhan Yesus Kristus, seperti dalam contoh berikut: ”Terpujilah Allah (THEOS), Bapa Tuhan kita Yesus Kristus” (2 Kor 1:3). Tentu, THEOS dalam kutipan-kutipan tersebut tidak dipahami sebagai sembahan politeis.

Kata “Allah” dalam sejarah penerjemahan Alkitab di nusantara

Sebelum Alkitab TB-LAI diterbitkan pada tahun 1974, telah ada beberapa Alkitab dalam bahasa Melayu yang merupakan cikal bakal bahasa Indonesia. Injil Matius terjemahan A. C. Ruyl (1629) adalah upaya pertama dalam penerjemahan Alkitab di nusantara. Menariknya, dalam terjemahan perdana ini, kata “Allah” telah digunakan, seperti contoh berikut: “maka angkou memerin‟ja nama Emanuel artin‟ja Allahu (THEOS) ſerta ſegala kita” (Mat 1:23). Terjemahan selanjutnya juga mempertahankan kata “Allah”, antara lain:

  • Terjemahan Kitab Kejadian oleh D. Brouwerius (1662): “Lagi trang itou Alla ſouda bernamma ſeang” (Kej 1:5).
  • Terjemahan M. Leijdecker (1733): “Pada mulanja dedjadikanlah Allah akan ſwarga dan dunja” (Kej 1:1)
  • Terjemahan H.C. Klinkert (1879): “Bahwa-sanja Allah djoega salamatkoe” (Yes 12:2).
  • Terjemahan W.A. Bode (1938): “Maka pada awal pertama adalah Firman, dan Firman itu bersama-sama dengan Allah”.

Seperti tampak pada contoh-contoh di atas, kata “Allah” yang baru belakangan ini dipersoalkan oleh sebagian umat Kristiani telah digunakan selama ratusan tahun dalam terjemahan-terjemahan Alkitab yang beredar di nusantara.   Singkatnya, ketika meneruskan penggunaan kata “Allah”, tim penerjemah LAI mempertimbangkan bobot sejarah maupun proses penerjemahan lintas-budaya yang sudah terlihat dalam Alkitab sendiri.

Apa dasar kebijakan LAI dalam soal “YHWH”?

Harus diakui, asal-usul nama YHWH tidak mudah ditelusuri. Dari segi bahasa, YHWH sering dikaitkan dengan kata HAYAH “ada, menjadi‟, seperti yang terungkap dalam Keluaran 3:14: “Firman Allah (‘ELOHIM) kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.‟ (‘EHYEH ‘ASHER ‘EHYEH). Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU (‘EHYEH) telah mengutus aku kepadamu.‟ ”Maknanya yang persis tidak diketahui lagi, namun ada yang menafsirkannya sebagai kehadiran Tuhan yang senantiasa “ADA‟ menyertai sejarah umat-Nya.   Apa dasar LAI menggunakan kata “TUHAN” (seluruhnya huruf besar) sebagai padanan untuk YHWH? Untuk menjawab ini, kita perlu memperhatikan sejarah. Umat Yahudi sesudah masa pembuangan amat segan menyebut nama sakral YHWH secara langsung oleh karena rasa hormat yang mendalam. Lagi pula, pengucapan YHWH yang persis tidak diketahui lagi. Setiap kali bertemu kata YHWH dalam Alkitab Ibrani, mereka menyebut ‘ADONAY yang berarti “Tuhan‟. Tradisi pengucapan ini juga terlihat jelas dalam Septuaginta yang menggunakan kata KYRIOS (“Tuhan‟) untuk YHWH, seperti contoh berikut: ‘KYRIOS menggembalakan aku, dan aku tidak kekurangan apa pun” (Mzm 23:1).

Ternyata, Yesus dan para rasul mengikuti tradisi yang sama! Sebagai contoh, dalam pencobaan di gurun, Yesus menjawab godaan Iblis dengan kutipan dari Ulangan 6:16: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan (KYRIOS), Allahmu” (Mat 4:7). Dalam kutipan ini tidak ditemukan nama YHWH melainkan KYRIOS. Jika nama YHWH harus ditulis seperti dalam teks Ibrani, mengapa penulis Injil Matius tidak mempertahankannya? Begitu pula, dalam surat-surat rasul Paulus tidak pernah digunakan nama YHWH. Dalam Roma 10:13, misalnya, Paulus mengutip Yoel 2:32: “Barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan (KYRIOS) akan diselamatkan”. Terbukti, kata yang digunakan adalah KYRIOS, bukan YHWH.  Mungkinkah Yesus dan para rasul telah mengikuti suatu tradisi yang “keliru”? Tentu saja, tidak! Para penulis Perjanjian Baru justru mengikuti tradisi umat Yahudi yang menyebut ‟ADONAY (“TUHAN‟) setiap kali bertemu nama YHWH. Karena Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa Yunani, kata KYRIOS dipakai sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mencerminkan tradisi pengucapan YHWH.  Singkatnya, LAI mengikuti teladan Yesus dan umat Kristiani perdana menyangkut pengucapan YHWH. Dalam Alkitab TB-LAI, kata “TUHAN” ditulis dengan huruf besar semua sebagai padanan untuk ‘ADONAY yang mengingatkan tradisi pengucapan itu. Penulisan ini memang  sengaja dibedakan dengan “Tuhan” (hanya huruf pertama besar), padanan untuk ‘ADONAY yang tidak merepresentasi YHWH. Perhatikan contoh berikut: “Sion berkata: “TUHAN (YHWH) telah meninggalkan aku dan Tuhanku (‘ADONAY) telah melupakan aku.‟ ”(Yes 49:14). Pembedaan ini tentu tidak relevan untuk Perjanjian Baru yang tidak mempertahankan penulisan YHWH.  Berbagai terjemahan modern juga mengikuti tradisi yang sama, misalnya, dalam bahasa Inggris: “the LORD” (New Jewish Publication Society Version; New Revised Standard Version, New International Version, New King James Version, Today’s English Version); Jerman: “der HERR” (Einheitsübersetzung; die Bibel nach der Übersetzung Martin Luthers); Belanda: “de HEER” (Nieuwe Bijbelvertaling); Perancis”: “le SEIGNEUR” (Traduction Oecuménique de la Bible).

Penutup

Kebijakan LAI mengenai padanan untuk nama-nama ilahi tidak diambil secara simplistis. Berbagai aspek harus dipertimbangkan dengan matang, antara lain:

  • Teks sumber (Ibrani dan Aram untuk Perjanjian Lama; Yunani untuk Perjanjian Baru) dan tafsirannya.
  • Tradisi umat Tuhan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
  • Sejarah pemakaian nama-nama ilahi dalam penerjemahan Alkitab ke dalam berbagai bahasa dan budaya dari zaman ke zaman.
  • Kebijakan yang diikuti tim-tim penerjemahan Alkitab di seluruh dunia, khususnya yang bergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab seDunia (United Bible Societies).
  • Kesepakatan yang diambil bersama dengan gereja-gereja, baik Katolik maupun Protestan, yang menggunakan Alkitab terbitan LAI hingga saat ini. Menjelang penyelesaian Alkitab TB-LAI, misalnya, pada tahun 1968 diadakan konsultasi di Cipayung dengan para pimpinan dan wakil gereja-gereja dari berbagai denominasi. Dalam konsultasi ini, antara lain, disepakati agar kata “Allah” tetap digunakan seperti dalam terjemahan-terjemahan sebelumnya.

LAI tidak pernah berpretensi seolah-olah terjemahannya sudah sempurna dan tidak perlu diperbaiki lagi. Akan tetapi, mengingat proses panjang dan berhati-hati yang ditempuh dalam menerbitkan Alkitab, tuntutan beberapa kelompok yang ingin menyingkirkan atau memulihkan nama tertentu, tidak dapat dituruti begitu saja. Dalam semua proses pengambilan keputusan menyangkut terjemahan Alkitab, berbagai faktor harus dipertimbangkan dengan saksama menyangkut teks-teks sumber, tafsirannya, tradisi penerjemahan sampai dampaknya bagi persekutuan dan kesaksian umat Tuhan bersama-sama, khususnya di tanah air kita.  Akhirnya, dengan penuh kesadaran akan terbatasnya kemampuan manusia di hadapan Allah, kita patut mempersembahkan puji syukur kepada Dia yang telah menyatakan firman yang diilhamkan-Nya untuk mendidik orang dalam kebenaran dan memperlengkapi umat-Nya untuk setiap perbuatan baik (2 Tim 3:16-17). Dialah yang telah mempersiapkan orang-orang untuk menjelmakan firman kebenaran-Nya dalam aneka bahasa dan  budaya dari masa ke masa. Segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! []

Aksi Paskah : Diutus Untuk Memberi

GKI Kwitang

Sungguh merupakan satu anugerah kalau pada Minggu pagi ini LAI mendapatkan dukungan sebesar 45 juta rupiah atau 600 eks Alkitab untuk program Satu Dalam Kasih (SDK) 2018, khususnya kepada umat Tuhan yang ada di wilayah Boven Digoel, Sumba, Karo, dan Pak-pak Dairi.

Dukungan ini diberikan oleh jemaat GKI Kwitang melalui aksi Puasa Paskah yang diwakili oleh Pdt. Litos Panne.

Kiranya semakin banyak umat Tuhan, gereja, dan lembaga-lembaga kristiani yang digerakkan oleh Tuhan untuk mendukung pengadaan Alkitab bagi saudara-saudara kita yang ada di pelosok bumi Nusantara.

Salam Alkitab Untuk Semua

“The UBS Digital Academy”, Memperlengkapi LAI Dalam Melayani Umat Zaman “Now”

Dr. Rainier de Blois salah satu narasumber dalam UBS Digital Academy di Taipei, 23-27 April 2018

Sebagai bagian dari kebersamaan keluarga besar Persekutuan Lembaga-lembaga Alkitab Sedunia atau United Bibles Societies (UBS), Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang diwakili oleh Sekretaris Umumnya, Sigit Triyono hadir dalam workshop The UBS Digital Academy yang berlangsung di Taipei, Taiwan, 23-27 April 2018. Di samping itu ditempat yang sama juga  diselenggarakan ”Asia Affinity Alliance Meeting” yakni pertemuan para Sekum dari lembaga Alkitab yang berada dalam naungan UBS di kawasan Asia, dengan topik bahasannya adalah mensinergikan pelayanan dari setiap lembaga Alkitab yang berada di kawasan Asia, termasuk pelayanan bersama dalam bidang digital.

The UBS Digital Academy ini sebenar wadah bagi setiap Lembaga Alkitab yang ingin mendalami perkembangan teknologi digital untuk mendukung pelayanan lembaga Alkitab dan kaitannya juga dengan strategi bidang digital oleh UBS dalam bidang  menerjemahkan, memproduksi/menerbitkan, menyebarkan, meng-endagement, dan mengadvokasi umat melalui Alkitab. Harapannya, melalui pelatihan yang diadakan oleh akademi ini setiap lembaga Alkitab nasional, khususnya LAI akan semakin dapat mengoptimalkan pemanfaatan media digitalnya dalam mencapai visi-misinya.

Selain diperkenalkan strategi digital UBS, kepada seluruh peserta juga diberikan pemahaman menyeluruh tentang strategi digital UBS dan kaitannya dengan LAI. Di samping itu diperkenalkan juga cara menjalankan kampanye penggalangan dana online sesuai kebutuhan  Lembaga Alkitab masing-masing.

Agar sistem website seluruh anggota UBS bisa lebih terintegrasi lagi maka diperkenalkan cara membangun, mengembangkan, dan meluncurkan situs dengan menggunakan alamat domain yang sama dengan menggunakan template situs web .Bible milik UBS.

Di samping itu untuk menjaga keamanan teks-teks terjemahan Alkitab yang tersebar di seluruh lembaga Alkitab di seluruh dunia, juga dipelajari bagaimana cara mengelola dan men-sharing kan teks-teks Alkitab di dalam Digital Bible Library. Di samping itu, setiap akan mendapat pengalaman langsung dari aplikasi Alkitab dan media digital lainnya yang digunakan oleh UBS.

Agar workshop ini dapat berjalan berkesinambungan, maka setiap peserta UBS Digital Academy sudah menjadi bagian dari komunitas belajar untuk berbagi gagasan dan dapat bersama-sama menggunakan sumber daya yang ada. Selepas workshop ini, proses pembelajaran tidak akan berhenti di situ, tetapi juga akan melakukan pelatihan melalui webinar dengan menyediakan kursus online. Harapannya akan terbangun komunitas Alkitab online yang terus berkembang menjawab kebutuhan orang muda yang tengah hidup di zaman yang terus berubah.

Sangatlah tepat LAI mengutus Sekretaris Umumnya, karena sasaran The UBS Digital Academy 2018 ini ditujukan bagi mereka yang membuat keputusan tentang strategi digital LAI. Selain itu akademi ini juga tepat untuk mereka yang bertugas memelihara situs website dan media digital, para admin yang menangani teks-teks Alkitab di Digital Bible Library, dan juga mereka yang bertugas mengumpulkan dana dan berkomunikasi dengan pendukung Anda. Diharapkan Sekum akan mentransferkan kembali pengetahuannya yang didapat di akademi digital UBS kepada pihak-pihak terkait di LAI, sehingga LAI dapat terus mengumandangkan semangat Alkitab Untuk Semua, baik di media sosial maupun media lainnya.[]

LAI Menyediakan Benih, Gereja Yang Menaburkan dan Tuhan Yang Memberi Pertumbuhan

Setelah perjalanan ke Talaud untuk menadatangani Nota Kerjasama Kemitraan dengan Sinode Gereja Kristen Masehi Talaud (Germita), pada tanggal 20 April 2018 Pengurus Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) berkunjung ke Bolaang Mongondow menyapa peserta sidang istimewa Sinode Am Gereja-gereja di Sulawesi  bagian utara dan tengah (SAG), di Desa Bangunan Wuwuk, Mondayag, Bolaang Mongondow Timur.

Sinode Am Gereja (SAG) ini merupakan wadah koordinasi ke-13 Sinode Gereja yang ada di wilayah  Sulawesi  bagian Utara dan Sulawsi bagianTengah (Sulutteng). Pada kesempatan tersebut Pdt. Dr. Ishak P. Lambe, Ketua Umum LAI, mewakili Pengurus LAI menyampaikan keberadaan LAI sebagai lembaga inter denominasi, yang melakukan upaya penerjemahan, pencetakan dan penyebaran Alkitab kepada semua denominasi gereja. “LAI menyediakan benih, gereja yang menaburkan benih tersebut dan Tuhan yang memberi pertumbuhan”, ungkap Pdt. Lambe kepada utusan ke-13 Sinode yang hadir dalam persidangan istimewa tersebut.

Beliau sangat mengharapkan kemitraan yang solid antara LAI dengan Sinode gereja-gereja di wilayah Sulutteng tersebut agar pemberitaan firman Tuhan dapat menjangkau wilayah-wilayah yang sulit.  Untuk memperkokoh kemitraan tersebut perlu diformalkan dalam penandatanganan nota Kesepakatan Kerjasama Kemitraan, khususnya dengan 9 Sinode Gereja lainnya yang ada di wilayah Sulutteng, sedangkan untuk 4 Sinode Gereja yang  telah memiliki Kesepakatan Kerjasama Kemitraan dengan LAI,  Pdt. Lambe menyatakan perlunya LAI  dan Sinode tersebut merealisasikannya dalam kegiatan-kegiatan bersama agar jemaat dapat merasakan manfaatnya. Sambutan Pengurus LAI ditutup dengan memutarkan video kegiatan SDK LAI 2017-2018.

Semoga LAI dapat menghadirkan Alkitab Untuk Semua di wilayah Sulutteng. [aw]

Tuhan, Engkau Membalas Dan Menolong Hingga Tuntas, Betapa Kami Bangga Dan Bersyukur

BIMK, digital, Indonesianbiblesociety, Renunganharian, RenungankristianiSaatteduhBacagaliKitabrutCeritaalkitabRencanaTuhanHatiHambaKeberhasilanNaomiBoasTerpujilah TuhanAlkitab DigitalAlkitab Edisi StudiAlkitab finansialAlkitab UntukSemuaAlkitabkhususAlkitab Elektronik, Ayat emas alkitab, Ayat faforit, Penjanjian lama, Roti hidup, Bersyukur, studialkitabmelayaniTuhanmelayanisesamasurgaketaatanharapanimankasihsuka citalemahlembutkesabaranquoteofthedayqotdomkorang mudakatolikmudikaekatolikgembira renungan malamrenungan pagisaat teduhnasihat alkitabkuayat hafalan alkitabayatrenunganberbagikesaksian kebenaranalkitabkukabarbaikrenunganharianfirman allahsantapanrohaniallah, hikmatibadah suarakebenaranhaleluyagpibgkigmimterantuhan yesustuhan yesus baik, allah bapa, yesus kristus kristiani, prayer, berdoa, living bread, roti hidup kabar baik , kerajaan, kekasih tuhan worship, jesus loves you, jesus saves, jesusmy savior follow jesus, tanya alkitab, anak muda kristen,god 1st, son of god, healing, healthy soullifes tyle, vsco, holy bible, dailyverses, love proverbs firman tuhanhari ini, verse,bible verses,
1 Samuel 2 : 1 – 5

Ia mengerjakan apa yang telah dimulai-Nya, dan menyelesaikan itu hingga akhir.

Inilah bentuk sukacita Hana yang diungkapkannya lewat doa. Ia menyadari bahwa apa yang diperolehnya hanya ada karena pemberian Tuhan. Sebuah pemberian yang menggembirakan hati dan menyenangkan jiwanya (2:1). Bagaimana tidak, ia yang dahulu “kelaparan” sekarang puas karena cukup makanan. Ia yang mandul kini boleh berbangga karena dari padanya lahir seorang anak laki-laki. Kebanggaannya itu ia ungkapkan seperti melahirkan tujuh anak laki-laki. Pemberian Allah menghapus segala kesusahannya.

Sahabat Alkitab, betapa kita bersyukur bahwa kita menyembah kepada Allah yang tidak pernah tinggal diam ketika anak-anak-Nya menghadapi pergumulan dan kesusahan hidup. Allah kita adalah Allah yang bertindak, yang aktif, dan yang hidup. Allah bukan manusia yang meninggalkan pekerjaannya tatkala ia tidak mampu lagi. Allah bahkan akan membuat musuh-musuh kita menjadi malu karena celaan dan kesusahan yang telah dirancangkannya.

Selamat Pagi. Hari ini tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersyukur kepada Allah dan berbangga atas pekerjaan tangan-Nya dalam hidup kita. Sekalipun mata kita belum melihatnya tetapi iman kita telah menerimanya.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Bukan Uang Atau Korban Bakaran, Melainkan Kesetiaan & Ketaatan Yang Engkau Mau

Samuel disapih, Nazar Hana, LAI, Lembaga Alkitab Indonesia, Bacaan Alkitab Harian, Daily Scriptures Reading; Bibles; Alkitab; Firman Tuhan, Firman Allah
1 Samuel 1: 24-28

Allah tidak pernah menjadi miskin hingga Ia meminta persembahanmu. Allah inginkan kesetiaan dan ketaatanmu kepada-Nya, supaya kamu hidup penuh damai sejahtera

Hana telah bernazar bahwa jika Allah mengabulkan doanya, ia akan mempersembahkan anak itu untuk menjadi nazir Allah (6:11). Allah menjawab doa Hana, diberikan kepadanya seorang anak laki-laki yang diberinya nama Samuel, sebab katanya, “Aku telah memintanya dari Tuhan.” Sudah pasti Hana sangat bersukacita, Tuhan menghapuskan aibnya. Penantian bertahun-tahun lamanya akhirnya terjawab. Apakah Hana larut dalam sukacita dan melupakan janjinya? Bisa saja itu terjadi. Tentu tidak mudah merelakan anaknya itu untuk dipersembahkan kepad Tuhan, lagi pula tidak ada seorang pun yang mendengar nazarnya waktu itu. Yang tahu hanya dirinya dengan Tuhan saja. Bisa saja Hana tergoda untuk ingkar dengan berbagai pertimbangan rasional dan emosional di dalamnya. Namun inilah Hana, dia tidak menyayangkan anaknya, melainkan menepati apa yang pernah dinazarkannya

Sahabat Alkitab, sadar atau tidak, mungkin kita pernah menganggap bahwa Allah itu adalah Allah yang miskin. Kita berpikir bahwa Allah membutuhkan uang kita atau segala materi yang kita punyai, sehingga yang kita lakukan adalah datang kepada-Nya dengan membawa persembahan dan bukan penyembahan. Sikap tubuh kita beribadah kepadanya tetapi hati kita tidak. Kita melakukan banyak kegiatan pelayanan, tetapi hidup kita tidak pernah melayani dan menghambakan diri kepada-Nya. Samuelkah yang diinginkan Tuhan dari Hana? BUKAN, – sebab Tuhan tidak pernah kekurangan orang untuk Dia pakai melayani-Nya – melainkan ketaatan dan kesetiaan Hana kepada-Nyalah yang Allah inginkan. Tuhan menginginkan hal yang sama dari kita, yaitu kesetiaan dan ketaatan yang tidak berkompromi

Selamat Pagi. Sambutlah hari ini dengan penuh sukacita dan pengharapan, dan belajarlah untuk menjadi hamba yang taat dan setia

Salam Alkitab Untuk Semua