Berhati-hatilah Sebab Hari Esok Adalah Misteri

Firman Tuhan adalah penerang bagi setiap jalan hidup kita.

Jika hari ini adalah kenyataan, kemarin adalah sejarah, maka besok adalah misteri. Misteri karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Namun masalah utamanya bukan itu, tapi ketika kita menggantungkan hari depan pada prasangka, pada apa yang menurut pertimbangan akal dan mata kita baik.

Sahabat Alkitab, kita harus menyadari bahwa kita tidak mampu untuk melihat masa depan, karena itu kita harus bergantung pada Pribadi yang mencipta masa depan yaitu Tuhan. Karena Dialah yang tahu dan menetapkan masa depan kita. Amsal berkata, “Ada jalan yang kelihatannya lurus, tapi akhirnya jalan itu menuju maut.” Melangkah dengan mengandalkan pikiran sendiri hanya akan membawa pada jalan yang berujung maut, karena pertimbangan akal kita sering keliru. Kita harus kembali kepada firman Tuhan yang menuntun pada jalan yang benar dan kepada hidup.

Selamat Hari Minggu. Percayakanlah masa depanmu kepada Tuhan dan beribadahlah kepada-Nya.

Menyambut Datangnya Raja Damai

mereka mengambil daun-daun palem, dan pergi menyongsong Dia sambil berseru: Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yohanes 12: 13)

Mari kita coba membayangkan seandainya kita berada di sana waktu Yesus memasuki Yerusalem dengan menunggangi seekor keledai, apa yang sangat mungkin kita lakukan saat itu? Dan apa yang melatarbelakangi kita melakukannya?

Ini jelas bukan pertama kalinya, Yesus datang ke kota Yerusalem. Sebagai seorang Yahudi, Yerusalem telah menjadi tempat yang sangat dekat dengan diri-Nya. Di sanalah Yesus beribadah kepada Allah dan di sana jugalah Dia mengajar. Tetapi kedatangan-Nya kali ini menjadi berbeda dan luar biasa ramainya karena orang-orang dengan sangat antusias menyambut-Nya. Ia datang dengan menunggangi seekor keledai betina dan orang banyak itu menyambut-Nya dengan elu-elukan. Mereka berkata, “Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” Tidak hanya itu, orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon (palem) dan menyebarkannya di jalan (Mat. 21: 8 bnd. Yoh. 12: 13). Apa yang motivasi mereka?

Dalam elu-eluan orang banyak itu, keempat Injil memberikan laporan yang berbeda-beda tentang kalimat yang mereka ucapkan:

“Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan,

hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mat. 21:9)

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, diberkatilah Kerajaan yang datang, Kerajaan bapak kita Daud, hosana di tempat yang mahatinggi!” (Mark. 11:10)

“Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam nama Tuhan,

damai sejahtera di sorga dan kemuliaan di tempat yang mahatinggi!” (Luk. 19:38)

“Hosana! Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, Raja Israel!” (Yoh. 12:13)

 

Meskipun begitu tetapi pada intinya ada satu pesan yang sama, yaitu bahwa orang banyak itu berharap bahwa Yesus datang sebagai Mesias yang akan membebaskan Yerusalem dari penjajah Roma. Mereka berharap bahwa Yesus akan memimpin mereka dalam pemberontakan untuk melawan Roma dan mendirikan Kerajaan Israel yang baru (harapan yang besar itu tersirat dalam tindakan mereka yang menghamparkan pakaian mereka di tanah tempat yang akan dilalui oleh Yesus). Itulah sebabnya mereka menyambut Yesus seperti menyambut seorang raja yang datang dengan membawa kemenangan (dalam tradisi Yahudi, daun palem digunakan sebagai simbol kemenangan).

 

Orang banyak itu, termasuk di dalamnya murid-murid Yesus tidak mengerti akan maksud kedatangan Yesus ke kota Yerusalem, sekalipun telah berulang kali Yesus mengisyaratkan akan tujuan dan kematian-Nya (Mat. 7: 53-59; 12: 7-8; Luk. 9: 22; 43b-44; 13: 32-33; 18: 31-33). Kedatangan Yesus dengan menunggang keledai betina juga menjadi satu tanda bahwa Ia datang bukan sebagai pemimpin perang atau pemberontakan, tetapi sebagai Raja yang membawa damai, sebab orang tidak memakai keledai untuk berperang.

 

Sebagian gereja memperingati minggu sebelum paskah sebagai Minggu Palma untuk mengenang peristiwa di hari itu. Jika saat itu orang-orang Israel keliru dalam dalam motivasinya menyambut kedatangan Yesus, apakah hari ini ketika kita memperingatinya sudahkah dengan maksud yang benar?

 

Yesus masuk Yerusalem untuk menggenapi rencana Allah bagi-Nya di atas kayu salib. Yaitu menghadapi penderitaan yang berat dan menyerahkan nyawa-Nya menjadi tebusan dan pendamaian antara Allah dan manusia.  []

Jangan Terus Tinggal Dalam Kesalahan Itu Bodoh

Orang yang jatuh selalu akan berusaha bangun lagi, ia ingin segera mendapatkan pertolongan.

Hidup berkubang dalam dosa bukan tujuan Allah menciptakan dan menyelamatkan kita. Allah tidak ingin kita terus tinggal dalam kesalahan, apalagi setelah kita menerima anugerah keselamatan dari-Nya. Ia ingin kita hidup dalam kebenaran-Nya, karena di luar itu yang ada hanyalah keterikatan dengan masa lalu.

Sahabat Alkitab, kematian Kristus di kayu salib adalah satu-satunya cara yang dapat menarik kita keluar dari kubangan dosa. Karena sekalipun terasa menyenangkan, tetapi terus berada di dalamnya hanya akan membawa kita pada kematian kekal. Karena itu mintalah pengampunan kepada Tuhan dari segala dosa dan sambutlah tangan-Nya yang akan mengangkat kita. Amsal berkata, “Orang bodoh tidak peduli apakah dosanya diampuni atau tidak; orang baik ingin diampuni dosanya.”

Selamat Pagi. Camkanlah ini! Hanya seekor babi yang akan kembali ke kubangan sekalipun ia telah dimandikan bersih oleh tuannya.

Di Tengah Keterbatasan Mereka Belajar Alkitab

 

Pagi ini, Jumat 23 Maret 2018, Museum Alkitab di Gedung Pusat Alkitab , Salemba Raya 12, Jakarta mendapat kunjungan dari murid-murid berkebutuhan khusus dari Hope School SNC Jakarta. Ada sekitar 20 anak dan 20 pendamping dan gurunya yang datang untuk belajar tentang sejarah penerjemahan Alkitab di Indonesia dan melihat koleksi benda-benda Alkitab yang menjadi koleksi Museum Alkitab.

Hope Special Needs Center adalah sebuah pusat pelayanan pendidikan, terapi dan bimbingan individual yang komprehensif kepada anak berkebutuhan khusus dan bermasalah, agar dapat mengembangkan potensi dan sanggup membantu diri sendiri. Kunjungan mereka untuk mengikuti Paket Wisata Alkitab (PWA) merupakan proses belajar agar tidak saja mengembang kemandirian mereka tetapi juga kehidupan rohani mereka juga dibangun.

Hal ini terlihat dengan respon mereka saat petugas museum memberikan penjelasan tentang koleksi-koleksi museum Alkitab. Mereka tetap antusias mendengar penjelasan Costa dan Albert. Sesekali mereka merespon secara spontan apa yang diinformasikan oleh petugas museum. Semoga kunjungan ini akan memberikan informasi tentang sejarah penerjemahan dan benda-benda museum sangat bermanfaat bagi para murid, para pendamping, orang tua dan guru.Di tengah keterbatasan, mereka sangat antusias mendengar dan belajar benda-benda Alkitab. Alkitab tidak saja dipelajari oleh mereka yang berlatar belakang biblika tetapi, juga oleh mereka yang penuh keterbatasan. Inilah wujudnyata Alkitab Untuk Semua. []

Wanita Bijak Adalah Kehidupan Bagi Rumahnya

Perannya jauh lebih besar dari sekedar sumur, dapur, dan kasur (Jawa: Konco Wingking). Karena wanita diciptakan oleh Allah yang hidup.

Pernah mendengar kalimat, “Di balik pria sukses ada wanita hebat di baliknya?” Kalimat itu benar dan bukan hanya isapan jempol belaka. Sejak semula Allah memang telah menciptakan perempuan untuk menjadi penolong yang sepadan bagi laki-laki.

Sahabat Alkitab, dalam kehidupan sebuah rumah tangga pengamsal memberikan nasehat, “Rumah tangga dibangun oleh kebijaksanaan wanita, tapi diruntuhkan oleh kebodohannya.” Pengamsal tidak membesar-besarkan tapi memang wanita punya peran yang sangat penting dalam kehidupan manusia baik sebagai pribadi maupun dalam keluarga. Ia mampu menjadi pendorong untuk kesuksesan suami dan anaknya, pemberi kekuatan saat mereka lemah, dan menjadi tempat yang paling aman dan teduh untuk pulang.

Selamat Pagi. Marilah menjadi wanita bijak, menjadi sebagaimana tujuan Allah menempatkan Anda di sisi seorang pria.

Ibrani, Aram, dan Yunani

Beberapa waktu lalu saya mengikuti Pemahaman Alkitab (PA) berbahasa Inggris khusus kaum Bapak di sebuah gereja di Jakarta Selatan. Narasumbernya orang Amerika dan pesertanya kebanyakan orang Indonesia yang beristerikan perempuan “bule”. Metode yang digunakan ada presentasi dari narasumber dan ada diskusi kelompok. Masing-masing peserta diberi kesempatan mengekspresikan pendapatnya atas topik yang sedang dibahas. Saat saya mengikuti PA tersebut topik yang dibahas adalah Kitab Yesaya yang diadakan 3 jam setiap senin malam dengan durasi selama satu semester (6 bulan). Di beberapa kali diskusi ada beberapa peserta yang “mengeluhkan” hasil terjemahan LAI berbasis membandingkannya dengan terjemahan dalam bahasa Inggris (entah versi yang mana). Mereka selalu mengacu Alkitab berbahasa Inggris namun juga melirik Alkitab terbitan LAI. Karena bagaimanapun bahasa Ibu mereka bahasa Indonesia. Saya sempat menjelaskan bahwa LAI menerjemahkan Alkitab sama sekali bukan dari bahasa Inggris, tapi setia pada teks asli dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani.

Para penerjemah LAI terdiri atas tim ahli senior dengan pendidikan doktoral yang berkaitan dengan teologi dan ketiga bahasa di atas. Dalam pengerjaan penerjemahan selalu melibatkan para mitra yang juga sekumpulan ahli bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah di Nusantara serta selalu melibatkan sebanyak mungkin gereja-gereja di Indonesia. LAI sejak kelahirannya di tahun 1954 tergabung dalam persekutuan United Bible Societies (UBS) yang berkantor pusat di London dan Geneva. Sekarang tidak kurang dari 146 Lembaga Penerjemah di seluruh dunia tergabung dalam UBS. Keanggotaan LAI di dalam UBS memungkinkan adanya standar penerjemahan yang diakui bersama oleh mayoritas lembaga-lembaga penerjemahan Alkitab di planet bumi ini. Menurut Pdt. Anwar Tjen, Ph.D. Kepala Departemen Penerjemahan LAI yang selalu meng up date metode dan ilmu penerjemahan Alkitab, memang ada beberapa kata dalam bahasa Ibrani, Aram dan Yunani yang bisa diterjemahkan berbeda oleh penerjemah yang berlatar belakang bahasa Ibu yang berbeda. Sedikit keperbedaan itu tidak menisbikan fakta bahwa mayoritas hasil penerjemahan Alkitab di seluruh dunia bermakna sama meski dalam bahasa berbeda. Intinya, tidak perlu dibesar-besarkan bila ada perbedaan karena memang fakta yang sama bisa diekspresikan berbeda dalam bahasa yang berbeda. Disinilah pentingnya belajar memahami Alkitab dengan mendengar para ahli bahasa asli Alkitab, bukan hanya bahasa Inggris.

LAI selalu terbuka pada setiap diskusi soal penerjemahan agar semua menjadi terang benderang. []

Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Tongkat Dipergunakan Untuk Mendidik Dalam Kebenaran

Cinta kasih tidak membiarkan kesalahan terjadi berulang-ulang, Allah menghajar Israel karena cinta-Nya yang besar.

Seorang gembala yang baik akan senantiasa menjaga dombanya agar tetap aman. Ia diperlengkapi dengan tongkat yang dapat digunakan untuk menarik kembali jika salah satu dombanya pergi menjauhi kawanan. Tongkat yang sama juga dapat digunakan untuk memukul kaki domba yang sekalipun telah ditarik berulang kali namun tetap ingin pergi. Bagi gembala yang baik, lebih baik bila ia mencederai kaki dombanya agar tidak pergi daripada membiarkannya pergi lalu akhirnya mati dimangsa oleh binatang buas.

Sahabat Alkitab, anak adalah pemberian yang datangnya dari Tuhan yang harus dididik dalam kebenaran. Memberikan reward saat ia berhasil dengan hidupnya, dan memberikan punishment jika ia lalai dan berbuat kesalahan. Karena itu pengamsal berkata, “Tidak memukul anak, berarti tidak cinta kepadanya; kalau cinta, harus berani memukul dia.” Belajar dan mintalah hikmat dari Allah agar kita tahu bagaimana mendidik dalam cinta kasih yang benar.

Selamat Pagi. Ingatlah ini, menghajar karena cinta dan bukan karena amarah akan menyelamatkan masa depan anak Anda.

Pergaulan yang baik menajamkan kebaikan dalam diri

Mereka yang tinggal di tepi pantai memiliki volume suara yang tinggi, mereka adalah murid yang baik dari debur ombak.

Ketika manusia dilahirkan, ia tidak pernah dapat memilih dilingkungan mana ia akan lahir, tetapi setelah manusia menjadi pribadi yang dewasa, ia dapat memilih untuk tetap di situ, menjadi sama dengan lingkungannya, atau pergi menemukan lingkungan yang baru.

Sahabat Alkitab, Amsal berkata, “Orang yang bergaul dengan orang bijaksana, akan menjadi bijaksana; orang yang bergaul dengan orang bodoh, akan celaka.” Seperti besi menajamkan besi, manusia juga menajamkan sesamanya. Jika kita bergaul dalam lingkungan yang baik maka kita pun akan menjadi baik, karena natur kita adalah selalu ingin menjadi sama dengan lingkungan di mana kita berada. itu bisa berarti tentang karakter, atau budaya yang dianut. Manusia adalah pembelajar yang baik dan peniru yang ulung.

Selamat Pagi. Mari memperhatikan dengan siapa kita bergaul, sebab tidak selamanya kita kuat, pergaulan yang buruk akan semakin menjatuhkan, tetapi pergaulan yang baik akan membangkitkan dan menopang kita.

Proses Checking Revisi Bibel Toba

 

Untuk menghadirkan firman Allah ke dalam bahasa yang mudah dimengerti dan dipahami, maka LAI dalam hal ini Departemen Penerjemahan tidak hanya melakukan penerjemahan tetapi juga melakukan revisi atas terjemahannya.

Revisi dilakukan seiring dengan sifat bahasa yang begitu dinamis, perkembangan ilmu penerjemahan, perkembangan penelitian atas teks-teks sumber, dan perkembangan ilmu tafsir modern.

Saat ini tengah berlangsung proses cheking revisi terjemahan Bibel Toba di Kantor LAI Perwakilan Medan. Tampak dalam gambar adalah orang-orang yang bekerja di dapur penerjemahan;
1. Pdt. Dr. Anwar Tjen (Pembina Penerjemahan dan Ka.Dep. Penerjemahan LAI),
2. Pdt. Dr. Robinson Radjagukguk (Penerjemah),
3. Pdt. H. Simangunsong, BD. (Penerjemah),
4. Pdt. Mangontang Panjaitan, MA. (Penerjemah),
5. Pdt. Firman Sibarani, M.Th. (Penerjemah),
6. Pdt. Rita Purba, S.Th.(Penerjemah), dan
7. Linda Sinaga (Administrator)

Mari kita dukung dalam doa, agar proses revisi penerjemahan untuk Bibel Toba dan beberapa bahasa daerah lainnya dapat berlangsung dalam pimpinan Tuhan.[]

Hiduplah Dengan Tertib Ikuti Aturan Yang Ada

Kebebasan kita adalah kebebasan yang beradap yang berada dalam ruang aturan dan hukum.

Ketika manusia tidak lagi ingin mengikuti hukum Allah, maka ia sedang membawa dirinya dalam perbudakan dosa dan kamatian. Kehidupan ada dalam suatu keberadaan yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Secara fisik kita begitu terikat di dalamnya, begitu juga dengan roh (atau jiwa) kita. Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, maka kita akan menjadi hamba kebenaran. Dan hamba kebenaran adalah hamba yang benar-benar merdeka.

Sahabat Alkitab, Pengamsal berkata, “Orang yang meremehkan ajaran TUHAN, mencelakakan dirinya; orang yang taat kepada hukum Allah akan mendapat upahnya.” Tuhan Yesus sendiri pernah berkata, ” Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.” Di sini kita dapat melihat bahwa Tuhan akan mengganjar orang yang hidup dengan tertib, yang taat kepada hukumnya dengan upah kebaikan, dan ketenangan. Hukum Tuhan itu enak, serta menyenangkan bagi orang yang mengasihi-Nya.

Selamat Pagi. Hukum Allah yang tercermin dalam aturan kehidupan di berbagai lingkungan di mana kita berada akan menjaga kita dari segala kecelakaan. Karena itu, taatilah dan jadilah panutan dalamnya.