Tuhan, Engkau Merancang Kami Untuk Saling Bergantung. Jadi Tolong Kami Berguna Serta Dapat Diandalkan. Amin.

title

Rabu 31/10/18 (Tit. 3:12-15):

Simbiosis mutualisme. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan keberadaan kita di dunia ini sebagai manusia dan sebagai orang percaya.

Titus diminta untuk membantu Zenas, seorang ahli Taurat, dan juga Apolos. Tujuannya yang terutama adalah agar pekerjaan Tuhan terus dapat dilanjutkan oleh kedua orang itu dan agar kebutuhan mereka dalam perjalanan pemberitaan Injil Kristus terpenuhi. Tidak hanya diminta untuk membantu, Titus juga harus mengajarkan cara hidup yang saling tolong menolong dalam melakukan hal yang baik kepada semua jemaat.

Sahabat Alkitab, Allah tidak pernah merancang manusia untuk menjadi makhluk yang egoistis dan egosentris, melainkan sebagai makhluk sosial dan yang berguna bagi segala makhluk. Kita dipilih oleh Allah untuk diselamatkan juga untuk menjadi berkat bagi banyak orang. Titus yang dalam posisi yang juga memerlukan bantuan diminta untuk membuka diri menolong pekerja Tuhan yang lain. Menolong dan menjadi berguna bagi orang lain tidak boleh dibatasi oleh keterbatasan kita. Dalam hal memberi, tidak perlu menunggu sampai berkelimpahan dulu melainkan belajar memberi sekalipun dalam kekurangan.

Selamat Pagi. Marilah kita melintasi batas-batas diri dalam hal melakukan kebaikan bagi sesama manusia. Seperti Kristus melakukannya bagi kita.

SalamAlkitab Untuk Semua

Komunitas Verbum Domini (KVD) dan LAI

title

“Menjadikan Sabda Allah (Verbum Domini) sebagai sumber terang, hidup dan keselamatan. Itulah visi KVD,” kata dokter Irene Setiadi dalam presentasinya pada perayaan ulang tahun ke-2 KVD 25 Oktober 2018 lalu di Gedung Pusat Alkitab Jakarta. Dokter Irene adalah pencetus, pendiri dan Ketua Umum pertama KVD yang lahir 15 Oktober 2016 juga di Gedung Pusat Alkitab Jakarta. Ibu dokter yang energik ini juga anggota Pengawas Lembaga Alkitab Indonesia periode 2018-2022.

Apa yang dimimpikan KVD di atas didorong oleh harapan umat Katolik di Indonesia akan: (1) Bertambahnya pecinta Sabda Allah, (2) Perlunya wadah bagi pecinta Sabda Allah, (3) Mendukung karya Lembaga Alkitab Indonesa (LAI) dan Lembaga Biblika Indonesia (LBI), (4) Pentingnya kerjasama lintas komunitas, paroki dan keuskupan.
Kepengurusan KVD 2017-2020 terdiri dari: (1) Pembina: Prof.Dr. Martin Harun, OFM. (2) Moderator: RD. DR. Yohanes Subagyo, (3) Tim Pembimbing: RD. DR. Joseph F. Susanto, Hortensio Mandaru, (4) Ketua Umum: dr. Irene Setiadi, (5) Wakil Ketua Umum: Iljas Ridwan, (6) Sekretaris Umum: H. Suwandy Sunaryo, dan (7) Bendahara Umum: Melia Tjen.

Dari tempat pendirian, perayaan ulang tahun dan kepengurusan yang ada tampak sekali KVD sangat dekat dengan LAI. Jelas bahwa ini adalah ekspresi semangat kebersamaan antara umat Kristen Protestan dan umat Katolik. Setidak nya ada empat orang di dalam kepengurusan KVD di atas adalah juga pembina, pengawas, pengurus dan karyawan Lembaga Alkitab Indonesia. Ini menegaskan bahwa LAI adalah lembaga ekumenis interdenominasi dan interkonfesi di Indonesia.

LAI lahir pada 9 Februari 1954 dan pada tahun 1968 Gereja Katolik di Indonesia membuat keputusan yang sangat fenomenal dengan menyatakan Tim Penerjemahan Alkitabnya bergabung bersama Tim Penerjemahan Alkitab LAI. Sejak tahun 1968 itulah semua karya penerjemahan Alkitab LAI dilakukan secara bersama-sama antara tim ahli penerjemahan dari Kristen Protestan dan Katolik.

Upaya untuk mewujudkan “Alkitab Untuk Semua” adalah tugas semua umat Krsitiani di Indonesia. “Gereja adalah gerakan yang harus nyata bergerak. Kalau Gereja tidak bergerak, namanya hanya gerak-gerik,” kata Romo Subagyo yang juga Pembina LAI dalam sambutannya. “Oleh karenanya, KVD sebagai bagian dari Gereja harus merealisasi gerakan Mencintai, Membaca, dan Mengamalkan Kitab Suci,” sambungnya.

Prof Martin Harun, Pembina KVD yang juga Tim Ahli Penerjemahan LAI menyampaikan lima langkah membaca Sabda Tuhan dan menjadikannya “darah daging” kita: (1) Lectio – baca dan mengerti, (2) Meditatio – merenungkan, (3) Oratio – berdoa dengan Sabda, (4) Contemplatio – berdoa hening, dan (5) Actio – bertindak. Bila ini dilakukan konsiten dan persisten maka akan memiliki dampak yang sangat positif dalam kehidupan umat.

Dalam perayaan ulang tahun kedua ini juga disampaikan kesaksian-kesaksian para anggota KVD, Moderator dan Pembimbing yang mengungkapkan betapa sangat bermanfaatnya menjadi anggota KVD. Bila aktif dalam komunitas ini maka ada lima manfaat yang akan didapat: (1) Kebiasaan membaca FirmanNya setiap hari akan mendekatkan kita dengan Sang Sabda. (2) Bisa menjadi garam dan terang bagi mereka yang mendengar perjalanan iman kita. (3) Iman kita semakin diperkuat dengan membaca perjalanan iman teman-teman lain bagaimana Tuhan bisa menjamah setiap orang dengan caraNya yang berbeda. (4) Jika sudah terbiasa memberikan sharing singkat, kita sudah mempersiapkan diri dengan baik jika suatu hari diminta menjadi pewarta lingkungan/wilayah. (5) Yang terpenting dari semuanya, kita dipakai Tuhan untuk menjadi saksi atas cinta dan kebaikannNya melalui sepenggal tulisan.

Bagaimana caranya mendaftar menjadi anggota Komunitas Verbum Domini? Mudah sekali bisa langsung menghubungi Sekretariat KVD: Wandi 0822 1019 1519 dan Digna 0812 8128 4400. Selamat ulang tahun kedua Komunitas Verbum Domini. Tuhan selalu memberkati. Soli Deo Gloria. Salam Alkitab Untuk Semua.[]

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Ambe…Ambe…Tolong Kami Menyeberang

title

Masih seputar pelayanan kami di pedalaman Boven Digoel bersama dengan Lembaga Alkitab Indonesia.

Waktu itu, kami baru menyelesaikan perjalanan dengan jalan kaki menembus hutan pergi pulang ke kampung Yetetkun dari Ninati. Dari Ninati kami harus menyebrang sungai yang airnya lumayan deras. Kembali dari pelayanan ke Yetetkun, hari sudah gelap. Kami sampai di tepi sungai dan ternyata ketinggian air sungai meningkat dibanding pagi tadi ketika kami berangkat. Alat penyeberangan hanyalah rakit, namum tidak ada yang bisa mengoperasikannya karena memang tidak ada orang lagi selain kami. Salah seorang anggota tim pun berteriak minta tolong kepada warga yang tinggal di seberang sungai (wilayah Ninati). "Ambe... Ambe.. Tolong kami menyebrang, bisakah?", demikian teriaknya berulang-ulang. (Ambe: artinya Bapak). Lumayan lama kami menunggu dan anggota tim, namanya Pdt Alon, terus berteriak. Sementara itu nyamuk dan serangga hutan sudah mulai mengerubuti dan menggigit kami. Kurang lebih 30an menit kemudian ada sahutan dari seberang, "yoi...sebentar. Ambil dayung dulu!" Kira-kira 10 menit kemudian, datanglah seseorang dengan nyala bara rokok yang sangat nampak dalam kegelapan. Pdt. Alon kembali berteriak, "Ambe, tolong kami kah?" "Yoi, sebentar dulu!", sahutnya dari seberang tepi sungai.

Orang itu mendayung kole-kole (sampan dari batang pohon yang dipahat dengan ketebalan kurang lebih 5 cm). Begitu sampai di tepi sungai tempat kami berdiri, kami baru tahu bahwa yang menduyung sampan itu adalah seorang ibu. Pdt Alon segera berseru, "Aduh Enang terimakasih mau tolong kami". Enang (Artinya ibu) itu menyahut, "cepat sedikit, air su mulai deras, mama tidak sanggup tarik rakit terlalu berat, jadi mama pakai kole-kole ini". Ia melanjutkan, "yang badan besar naik satu, yang badan kecil bisa dua. Nanti kole-kole terbalik dan tenggelam!" Wow, teriakan si Enang menggetarkan hati kami juga, terbayang arus air mulai deras dan ancaman sampan terbalik.

Pertama yang naik adalah istri saya dan Pdt Alon. Begitu naik ke kole-kole, si Enang berteriak, "langsung duduk, nanti sampan terbalik!" nampak kedua penumpang langsung duduk dan terdiam.

Sekarang giliran saya, kembali si Enang berteriak, "pak pendeta satu orang saja, nanti sampan tenggelam!" Dalam hati saya berpikir, "sebesar apa sih badan saya, sampai-sampai kole-kole bisa tenggelam?" Namun saya tidak berani berdebat, yang terpikir adalah segera sampai ke seberang dan segera lanjut perjalanan ke Tanah Merah. Kembali si Enang berkata, "sudah langsung duduk, pak pendeta. Diam sa di situ" Lengkap sudah kepanikan saya. Dengan sigap si Enang mendayung dan bermanuver mengatasi derasnya arus, dan beberapa saat kemudian kami sudah sampai di seberang sungai. Setelah itu si Enang kembali mendayung untuk menjemput dan menyebrangkan anggota tim yang lainnya sampai semua tiba di seberang. Sekali lagi sebuah pengalaman yang mengubahkan saya.

Dari penyeberangan ini, saya belajar arti percaya bahwa Tuhan menolong tepat pada waktunya. Tepat seperti yang diimani oleh Pemazmur, "Pertolonganku ialah dari TUHAN.... tidak terlelap dan tidak tertidur Panjaga Israel. Tuhanlah penjagamu..." (Maz. 121).

Yang kedua, tentang keseimbangan. Tubuh yang kaku tidak dapat mengikuti akselerasi gerakan kole-kole dan bisa menyebabkan kole-kole terbalik. Bagi saya kole-kole telah mengajarkan agar kita tetap menjaga keseimbangan dalam hidup. Kapan saat harus diam dan kapan saat berkarya. Bukankah Tuhan Yesus juga perlu waktu untuk diam sejenak di tengah karya-Nya? Tuhan pernah mengatakan kepada para murid, "Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian, dan beristirahat seketika!" (Mark. 6:31).

Terimakasih Tuhan untuk pengalaman iman yang dahsyat ini. Juga tentunya terimakasih Enang yang sudah menjadi tangan Tuhan untuk menyeberangkan kami. [guruh]

LAI Bersinergi Memancarkan Cahaya Hidup

title

Meski peringatan hari “Soempah Pemoeda” yang menggelorakan Roh Persatuan Indonesia jatuh pada hari minggu 28/10/2018, namun Sabtu 27/10/2018 LAI sudah mendahului mempraktikkan Roh Persatuan dalam bentuk diskusi dan membangun sinergi. LAI beserta 12 mitra kerjanya berkumpul bersama mengadakan ‘Sarasehan Pelayanan dan Kesaksian di Era Digital’ untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk sinergi dalam karya bersama di Indonesia.

Sebagai tindak lanjut dari beberapa kali diskusi dengan berbagai pihak yang selama ini bergerak secara sendiri-sendiri, maka disepakati untuk duduk bersama, berbagi informasi dan mengidentifikasi bentuk kerjasama yang efektif dari semua mitra dengan komitmen yang sama: “menyebarkan kabar baik di Indonesia.” Diawali kebaktian singkat yang dipimpin Pdt Anwar Tjen, PhD. Kepala Departemen Penerjemahan LAI yang mengajak merenungkan Firman Tuhan tentang perlunya perjumpaan-perjumpaan dalam kerangka menyebarkan kabar baik.
Berikutnya presentasi tentang “Mewujudkan Alkitab Untuk Semua” oleh Sekum LAI, disambung sharing pengalaman dari Ev. Stefan dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Ungaran Jawa Tengah, Pak Agus dari Yayasan Cahaya Hidup, Pak Harry dari Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia, dan Pdt Agus Wiyanto dari Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Jemaat Cempaka Putih.

Setelah presentasi dari lima pihak di atas diperoleh tiga kalimat kunci: (1) Kami memiliki komitmen yang sama: “Menyebarkan Kabar Baik”, (2) Kami tidak sendiri, dan (3) Kami perlu bersinergi. Selanjutnya disepakati untuk menindaklanjuti sarasehan ini dengan bentuk kerjasama konkret di bidang penerbitan pesanan khusus Alkitab, distribusi Alkitab, pewartaan kompetensi masing-masing lembaga kepada Gereja-gereja, dukungan kepada pemulihan korban bencana Sulawesi Tengah, dukungan kepada program “Satu Dalam Kasih”, penerbitan “Alkitab Parenting” serta program “Sejuta Mitra”.

Forum juga menyepakati untuk memperluas jejaring, membuat database lembaga-lembaga mitra dan mengadakan pertemuan secara reguler. Bagaimanapun “roh persatuan” telah terbukti membuahkan sinergitas di antara LAI dengan 12 mitra kerjanya.

Dalam melakukan pelayanan di era digital, LAI memiliki Departemen Pelayanan & Pengembangan Digital yang siap melayani dengan berbagai konten dan aplikasi digital yang didistribusikan melalui website serta berbagai saluran media sosial. Ternyata hal serupa juga dimiliki oleh LPMI yang bahkan siap memberikan pelatihan-pelatihan layanan digital kepada Gereja-gereja. “Video-video pendek kami dapat diunggah secara gratis di YouTube,” kata Pak Harry yang mewakili LPMI.

Meski sarasehan ini memfokuskan kepada era digital, namun Yayasan Cahaya Hidup, GKMI dan GPdI serta LAI mendeteksi masih banyak dibutuhkan berbagai varian produk-produk cetak untuk segmen khusus terutama di daerah desa dan pelosok negeri.

Hal ini juga didukung oleh peserta sarasehan. “Kami akan mendukung distribusi Alkitab ke pelosok negeri yang dilakukan oleh LAI,” kata Pak Johan dari Gereja Reform Injili Indonesia (GRII) yang juga mendukung pemenuhan produk cetak. “Kami bergerak di pelayanan anak, maka tahun depan kami ingin turut berkontribusi dalam ‘launching’ produk Alkitab Parenting LAI,” ungkap Pak David dari Gereja-gereja Baptis Indonesia (GGBI) yang juga menunjukkan dukungannya kepada pengadaan produk cetak. “Kami memiliki tiga produk cetak favorit yang selalu kami distribusikan ke berbagai wilayah negeri,” kata Pak Agus dari YCH.

Forum sarasehan ini menegaskan bahwa LAI adalah milik semua Gereja dari berbagai interdenominasi dan interkonfesi yang berperan sebagai “logistik” Alkitab dan bagian-bagiannya. Sinergitas sangat diperlukan dalam melangkah ke depan. Tantangan di bidang sumberdaya manusia, keuangan dan berbagai peran spesifik akan lebih ringan ditanggung bersama.
Karena sarasehan ini terwujud atas kerjasama LAI dengan Yayasan Cahaya Hidup, maka tidaklah berlebihan bila dikatakan LAI bersinergi memancarkan cahaya hidup. Salam Alkitab Untuk Semua.[]

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Staff LAI is SMART Leadership

title

Masalah pemimpin dan manager kembali mengemuka dalam debat capres di sebuah acara stasiun televisi swasta. Masing-masing Tim Sukses (timses) mengklaim bahwa jagonya adalah pemimpin yang tepat untuk Indonesia masa depan. Masing-masing timses meyakinkan rakyat, bahwa jagoan mereka lahir dari dan berproses bersama rakyat. Bahkan pihak oposisi menyebut capaian yang dilakukan oleh pemerintah merupakan keberhasilan Presiden sebagai manajer bukan Presiden sebagai pemimpin.

Diskursus tentang perbedaan pemimpin dan manajer memang tidak ada habisnya. Salah satu sebabnya adalah satu peran tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa keberadaan peran lain. Pemimpin yang tidak bisa mengelola (to manage) akan gagal dalam kepemimpinannya, sementara manajer yang tidak bisa memimpin (to lead) akan gagal dalam aktivitas manajerialnya. Namun sesungguhnya pemimpin (leader) dan manajer merupakan dua konsep yang berbeda dan terdapat perbedaan diantara keduanya.

Dalam bukunya “On Becoming a Leader”, Warren Bennis menulis tentang perbedaan penting antara pemimpin dan manajer. Menurutnya (1). Pemimpin melakukan inovasi pada organisasi, sedangkan manajer mengelola sebuah. (2). Pemimpin menginspirasi semua orang yang ada dalam organisasi sementara manajer bergantung pada kontrol. (3). Pemimpin bertanya “what” dan “why,” sedangkan manajer bertanya “how”. Meskipun untuk dua fungsi itu mungkin mirip, namun keduanya sangat dibutuhkan oleh sebuah organisasi, sehingga tak salah jika ada anggapan yang menyebut pemimpin dan manajer merupakan sumber daya utama dan aset penting bagi suatu organisasi ataupun perusahaan.

Lalu bagaimana Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) melihat diskursus ini? Apa ikut salah satu mahzab itu? Atau mengikuti keduanya. Apakah LAI memandang para manajer dan pemimpin-pemimpin unit kerjanya sebagai sebuah aset? Dalam sambutannya Bendahara Umum LAI menyampaikan, ada 2 teori soal kepemimpinan, yaitu pemimpin yang lahir dari pengalaman dan pemimpin yang dipersiapkan. Lewat pelatihan “SMART Leadership” ini, LAI “concern” kepada para manajer dan pemimpinnya dapat mengembangkan kreativitas dan dinamika kepemimpinannya agar dapat terus ditingkatkan , sehingga mereka dapat menjalankan wewenangnya yang muaranya adalah tercapainya tujuan LAI sebagai sebuah organisasi.

Lalu apa yang dimaksud dengan “SMART Leadership” sendiri? Apakah seorang pemimpin semata-mata harus “smart”? Sebenarnya SMART yang dimaksud disini adalah agar tujuan organisasi dapat tercapai, maka seorang pemimpin dalam menjalankan tugas-tugasnya harus meliputi lima unsur ini, yakni: Spesifik, Motivating, Attainable, Relevan, dan Trackable. Jika pemimpin dalam menjalankan tugasnya memiliki kelima unsur ini, maka tujuan organisasi dapat dicapai.
Firman Allah hadir untuk semua orang adalah mimpi besar LAI. Agar mimpi ini dapat dicapai, maka diperlukan visi yang sama dari para pemimpinnya. Untuk itu Pelatihan “SMART Leadership” ini sebagai salah satu media pembelajaran bagi seluruh Kepala Departemen, Kepala Bagian, dan Supervisor yang ada di LAI untuk menyelaraskan visinya dengan visi LAI. Harapannya setelah mengikuti pelatihan ini mereka akan ditingkatkan keterampilan “leadership"nya sehingga dapat membantu tugas-tugas manajerialnya.

Agar dapat berjalan efektif, maka pelatihan yang difasilitasi oleh Josh Lie dari Komunitas Tempo ini dibagi menjadi 2 gelombang, yaitu: gelombang yang dilaksanakan pada Senin, 22 Oktober 2018 dan gelombang kedua, Senin, 29 Oktober 2018. Diharapkan dari pelatihan akan menjadi stimulus untuk melahirkan para pemimpin-pemimpin terbaik yang akan dapat mewujudkan Alkitab Untuk Semua.[]

Tuhan, Manusia Menemukan Sepotong Kecil Kebenaran Lalu Memperdebatkannya, Seolah-olah Itulah Seluruh Kebenaran. Tolong Kami Menjadi Bijaksana Ya Tuhan.

title

Sebab pengetahuan kita terbatas dan samar-samar, tetapi suatu saat akan menjadi sempurna, bukan di sini di dunia ini, tetapi di sana di surga nanti.

Adanya penyebaran ajaran yang berbeda yang dilakukan oleh beberapa orang Yahudi membuat perdebatan di dalam jemaat Kristen yang mau tidak mau menarik Titus di dalam perdebatan itu juga, namun Paulus mengingat agar Titus tidak usah membawa diri dalam perdebatan itu melainkan menguatkan iman jemaat dengan ajaran yang benar dan membuat mereka benar-benar yakin akan kebenaran itu. Dan lebih dari itu juga mengamalkan apa yang telah mereka yakini sebagai kebenaran.

Sahabat Alkitab, firman Tuhan adalah kebenaran yang harus kita pedang sebagai dasar dari iman Kristen kita. Kita harus benar-benar meyakini akan kebenarannya dan ketidakbersalahan firman (Alkitab) itu. Dalam keyakinan kita akan kebenaran itu memang banyak hal yang belum kita pahami seutuhnya bahkan mungkin tak terpahami. Sebab Allah adalah Allah yang Mahabesar melampaui akal manusia yang sangat terbatas. Masuk dalam perdebatan yang tidak terpahami tidak akan membawa kemajuan dalam kesaksian iman Kristen kita di tengah-tengah dunia. Seperti yang Paulus katakan bahwa firman yang kita dengar haruslah kita yakini kebenarannya lalu melakukan pekerjaan baik yang di kehendaki-Nya. Inilah kebenaran mutlak bagi kita; Yesus Kristus adalah Tuhan dan Allah, dan Alkitab adalah firman Allah.

Selama pagi. Apa yang Tuhan izinkan untuk tidak terpahami biarlah menjadikan kita semakin mengagungkan akan kebesaran-Nya dan tetap menjadi misteri ilahi.

SalamAlkitab Untuk Semua

Tuhan, Tumbuhkanlah Sifat-sifat Yang Baik Dalam Diri Kami, Dan Matikanlah Sifat-sifat Yang Buruk

title

Alah bisa karena biasa. Sifat dan karakter baik tidak terjadi begitu saja, tetapi melalui niat yang dibukti nyatakan secara terus-menerus hingga menjadi kebiasaan.

Titus diminta untuk terus mengingatkan kepada jemaat-jemaatnya agar tunduk pada otoritas pemimpin, tidak saling fitnah, tidak bertengkar, bersikap lemah lembut. Sifat-sifat baik harus terus ditanamkan selanjutnya Allah yang akan mengerjakan pertumbuhannya. Paulus mengajak Titus untuk melihat ke belakang kepada kehidupan masa lalu mereka, bahwa dahulu mereka juga termasuk orang yang bodoh, sesat, tidak taat, budak nafsu, penuh dengan niat jahat, iri hati, dan saling membenci. Namun karena kasih dan kebaikan Allah-lah mereka diselamatkan dan dilahirkan menjadi pribadi-pribadi yang baru.

Sahabat Alkitab, Allah memberikan kita benih yang baru, yaitu benih kebaikan dan kebenaran. Allah akan menumbuhkan benih itu dalam kita sehingga pelan tapi pasti karakter Kristus akan nyata dalam sifat dan karakter kita. Allah akan mengerjakan itu hingga kita menjadi sempurna seperti gambar Anak-Nya. Kita tahu bahwa Allah tidak akan meninggalkan pekerjaan tangan yang telah dimulai-Nya sendiri. Dipihak kita, kita harus "bekerjasama" dengan Allah dalam menumbuhkan benih baik itu dan sambil mematikan segala benih jahat yang masih ada. Caranya adalah dengan melakukan hal-hal baik dan benar yang dinyatakan Allah dalam firman-Nya, melakukannya terus menerus, hingga menjadi karakter diri.

Selamat Pagi. Tidak ada karakter baik yang instant, kita perlu belajar untuk melakukannya, dan melakukannya terus menerus.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Engkau Telah Memberikan Kekuatan Kepada Kami Untuk Menolak Dunia. Ajar Kami Untuk Percaya Dan Yakin Bahwa Kami Dapat Melakukannya.

title

Karena Roh yang diberikan-Nya jauh lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia. Maka jangan membawa diri dalam kekalahan atas keinginan dunia yang membinasakan.

Rahmat Allah itulah keselamatan yang dinyatakan-Nya di dalam Yesus Kristus yang sanggup menjangkau semua orang di seluruh dunia dari segala suku bangsa dan dari segala zaman, yaitu mereka yang percaya kepada-Nya. Rahmat Allah tidak akan membiarkan orang terus berkanjang dalam dosanya, melainkan mendidik dengan firman kebenaran serta memampukan untuk melakukannya. Kematian Kristus dan kemenangan-Nya atas maut adalah sebuah jaminan pasti akan kemenangan orang percaya dari segala keinginan duniawi. Bukan hanya itu saja, Rahamat Allah juga memampukan orang percaya untuk melakukan pekerjaan baik yang telah Allah sediakan.

Sahabat Alkitab, jika kita tahu bahwa Allah telah memberikan kemenangan kepada kita atas segala kuasa dosa dan keinginan duniawi, masakan kita mau menyerahkan diri untuk dikalahkan olehnya. Godaan dunia memang tidak akan ada hentinya untuk membujuk dan merayu kita, dan tidak ada seorang pun yang benar-benar imun dengan itu. Namun kepastian anugerah Allah memampukan kita untuk melawan dan mengalahkannya.

Selamat Beribadah. Bersyukur dan bersukacitalah di dalam Tuhan, karena kita telah menang. Marilah kita merayakannya dengan puji-pujian kepada Allah kita.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Dengan Apa Kami Bersyukur, Telah Memperoleh Kesempatan Belajar Dari Teladan-Mu ? Dengan Menjadi Teladan Bagi Orang Lain, Ya Tuhan.

title

Bukankah pelita itu harus diletakkan di atas meja agar dapat menerangi seluruh ruangan? Begitu juga kehidupan kristen harus terpancar melalui keteladanan.

Perkataan ini khusus kepada pribadi Titus. Sebagai pemimpin, pengajar, dan pemberita Injil di Kreta, jelas bahwa ia sekarang adalah role model bagi semua jemaat dan semua orang. Setiap tindakannya akan menjadi perhatian dan sorotan siapapun yang melihatnya, karena itu Paulus menekankan agar TItus sungguh-sungguh dapat memberikan teladan yang baik. Ia harus jujur dan tulus dalam pengajarannya, memberikan pengajaran yang sehat dan berkualitas sehingga tidak ada cela bagi para pemfitnah untuk menggugatnya. Ia juga harus memiliki dan menunjukkan motivasi yang murni dalam memimpin dan mengajar.

Sahabat Alkitab, pesan Paulus kepada TItus berlaku juga bagi kita orang-orang Kristen masa kini dan sepanjang masa. Ada begitu banyak orang yang sesungguhnya kagum dengan pengajaran Kristen, mereka itu sedang menunggu-nunggu praktik hidup yang dapat dijadikan teladan dari orang-orang Kristen. Sayangnya kadang mereka menjadi kecewa karena melihat apa yang kita tampilkan tidak seperti berita yang mereka dengarkan. Ibaratnya jauh panggang dari api. Firman yang telah disampaikan oleh Tuhan Yesus adalah firman yang hidup, hidup dalam teladan yang Yesus tunjukkan sendiri kepada begitu banyak orang. Tuhan ingin kita menjadi sama dengan-Nya, yaitu menjadi teladan bagi orang lain juga. Tuhan sudah memberikan kita Roh Kudus-Nya, karena itu kita pasti mampu untuk hidup seperti Yesus hidup, untuk memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan-Nya.

Selamat Pagi. Nyalakanlah pelita kita dengan terangnya di semua tempat, agar orang-orang dapat melihat Kristus dengan jelas, lalu datang menyembah-Nya.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Biarlah Kebaikan Kami Terus Bertumbuh Tidak Pernah Berujung Seperti Rambut Kami Yang Memutih Atau Kekuatan Kami Yang Menjadi Layu.

title

Rambut putih adalah lambang kebijaksanan. Semakin lanjut usia manusia seharusnya menjadi semakin kaya dalam kebaikan dan kebajikan.

Kali ini Paulus secara khusus berbicara menganai perempuan yang telah berusia lanjut dan perannya dalam masyarakat, jemaat, dan keluarga. Ada begitu banyak pengalaman yang telah mereka lewati sebagai seorang perempuan, sebagai seorang istri, dan sebagai seorang ibu. Karena itu, Titus kiranya dapat menasehati mereka agar hidup seperti orang yang mengkhususkan diri bagi Allah, yaitu hidup dalam kekudusan, menjauhkan diri mereka dari cerita-cerita yang mengandung fitnahan kepada orang lain, juga tidak mabuk-mabukan (mungkin pada masa itu banyak perempuan yang juga gemar minum anggur dan mabuk). Sebaliknya mereka harus menjadi contoh dan teladan yang baik sekaligus pendidik bagi perempuan yang lebih muda untuk menjadi pengurus rumah tangga yang baik, dalam hal mengasihi suami dan anak-anaknya. Pada mereka jugalah kesaksian hidup kristiani harus hidup di tengah masyarakat.

Sahabat Alkitab, kita tidak dapat memungkiri bahwa pengalaman hidup telah mampu membentuk manusia menjadi lebih baik. Secara umum, mereka yang telah jauh lebih berumur memiliki sifat yang bijaksana dan baik hatinya. Perempuan tua yang biasa kita panggil nenek atau oma (atau apapun sebutannya dalam berbagai bahasa) telah menjadi ibu bagi semua orang. Mereka begitu kita hormati dan kasihi. Pengalaman hidup telah mengajarkan mereka tentang kesabaran, ketabahan, kemurahan hati, kebaikan, kelemahlembutan, dan kasih yang besar. Demikianlah hendaknya semua orang, menjadi bertambah-tambah dalam segala hal yang baik seiring dengan pertambahan usia. Sehingga sekalipun waktu kita telah habis, namun kebaikan kita terus hidup dalam ingatan orang-orang yang masih ada.

Selamat Pagi. Marilah kita menaruh perhatian yang lebih lagi kepada mereka yang kita hormati sebagai seorang ibu.

Salam Alkitab Untuk Semua