Rencana Tuhan Selalu Sempurna. Cuma Saja Kita Yang Kadang Tidak Cukup Sempurna Untuk Bertahan Didalamnya.

title

"... tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yes. 59:2)

Sebagai anak yang sulung, Esau berhak untuk menerima berkat dari kesulungannya itu. Karena itu Ishak memintanya untuk membuatkan makanan kesukaannya, seperti yang selalu Esau buat untuknya, setelah itu Ishak akan memberkatinya. Tetapi kehidupan Esau membuatnya tidak dapat menerima itu, pernikahannya dengan gadis suku bangsa Het adalah salah satu penyebabnya. Ia tidak memelihara hukum dan perintah Tuhan (bdk. 26:5). Juga karena ia menganggap remeh keistimewaan yang melekat padanya sebagai anak sulung, ia lebih memilih hal yang sifatnya sesaat (25:32)

Sahabat Alkitab, ingatlah ini: Tuhan tidak pernah gagal dalam rencana dan rancangan-Nya. Kitalah yang menghalangi dan menggagalkan rencana itu dalam diri kita. Dengan cara apa? Dengan cara hidup yang tidak sesuai dengan kehendak-Nya. Allah telah memberikan kebebasan untuk kita hidup di dunia ini, namun kebebasan itu adalah kebebasan yang berada dalam wilayah hukum dan ketetapan-Nya. Saat kita hidup di luar dari itu, maka tidak ada berkat bagi kita. Kelemahan-kelemahan yang kita hidupi terus dalam diri kita menjadi penghalang bagi rencana-Nya yang sempurna

Selamat Pagi. Mintalah dalam doa agar dimampukan untuk "bekerjasama" dengan Allah dalam mewujudkan rencana-Nya bagi kita, melalui kehidupan yang berkenan kepada-Nya.

Salam Alkitab Untuk Semua

Ketika Kita Telah Memutuskan Mengikuti Iman, Seberapa Jauh Kita Dapat Meninggalkan Logika ?

title

Iman tidak boleh mematikan logika, iman harus membuat logika tahu ada kuasa dan hikmat yang jauh melebihinya, lalu menyembah-Nya.

Meskipun mengikuti kehendak Allah untuk tetap tinggal di Gerar, negeri orang Filistin, namun Ishak tidak sepenuhnya mempercayakan dirinya kepada Allah sekalipun dengan tegas Allah telah berjanji akan melindungi dan memberkatinya (3). Ishak melakukan kesalahan berulang seperti yang pernah dilakukan oleh Abraham, ayahnya (Kej. 12:13). Ia tidak percaya bahwa Allah sanggup melindunginya, karena itu dengan logika berpikirnya yang sesat, ia menyembunyikan separuh kebenaran bahwa Ribka adalah isterinya. Ia berpikir dengan berkata Ribka adalah adiknya, nyawanya akan selamat dan akan tetap hidup di negeri Filistin itu.

Sahabat Alkitab, dalam kehidupan beriman, kita diajar untuk mempercayakan diri sepenuhnya kepada Allah. Dalam situasi tertentu, kita perlu benar-benar menundukkan logika kita pada cara dan kehendak Allah. Memaksakan untuk menggunakan pemikiran sendiri hanya akan membawa pada kesesatan berpikir malah bisa jadi berbuah pada tindakan yang keliru, merugikan diri sendiri, orang lain, dan membawa kita dalam dosa. Seperti yang dilakukan oleh Ishak, dia menyembunyikan separuh kebenaran yang sama artinya dengan berbohong, demi keselamatan pribadinya. Tindakannya itu hampir saja mengorbankan istrinya sendiri. Ketika logika mengajak kita untuk melakukan sebuah tindakan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan, moralitas, nilai-nilai kepatutan, dan melanggar hukum, maka tinggalkanlah itu lalu bergantunglah sepenuhnya kepada Allah. Ia paling tahu cara untuk melindungi dan memberkati Anda.

Selamat Pagi. Lebih baik menderita sengsara atau menjadi miskin sekalipun karena mengikuti tuntunan iman kita, daripada berada dalam kebahagiaan semu atau kaya dengan cara yang culas.

Salam Alkitab Untuk Semua

Betapa Menenangkan Mendapat Sebuah Kepastian Ditengah-tengah Ketidakpastian.

title

Janji-Nya adalah "Ya" dan "Amin", mengapa menghabiskan waktu dan tenaga untuk mengejar perkara yang tidak pasti?

Terjadilah kelaparan di Kanaan, karena itu Ishak pergi ke daerah orang Filistin untuk tinggal sementara di situ, tujuan utamanya adalah dapat pergi ke Mesir, negeri yang terkenal karena kesuburannya, dengan begitu ia dan keluarganya tidak akan menderita kelaparan. Namun Tuhan melarangnya, Ishak harus tetap tinggal di negeri Filistin itu, karena di situlah Tuhan akan menyertai dan memberkatinya, yaitu menepati janji-Nya kepada Abraham, karena semasa hidupnya, Abraham taat kepada firman Tuhan.

Sahabat Alkitab, sekali lagi, apa yang kita pikirkan dapat bertolak belakang dengan pikiran Tuhan. Hitung-hitungan yang kita pakai untuk "meramal" masa depan kita meleset jauh dari yang dikehendaki-Nya. Banyak kali, kita merasa bahwa jalan yang kita lalui adalah jalan buntu, dan memang buntu. Tapi jika Tuhan menginginkan kita untuk tetap berjalan, maka berjalanlah, karena Tuhan mampu untuk mendobrak jalan buntu itu. Ketika Tuhan sudah mengatakan akan menyertai dan memberkati maka percayalah, Ia pasti melakukannya, seberapapun kita merasa bahwa itu berat dan situasi yang serba tidak pasti. karena Tuhan bukan pemberi harapan palsu. Ia memberi jaminan pasti atas setiap yang Ia janjikan bagi kita.

Selamat Pagi. Nyanyikanlah "Tenanglah kini hatiku, Tuhan memimpin langkahku, ditiap saat dan kerja, tetap kurasa tangan-Nya. Tuhanlah yang membimbingku, tanganku dipegang teguh, hatiku berserah penuh, tanganku di pegang teguh." He Leadeth Me, He Leadeth You, He Leadeth Us.

Salam Alkitab Untuk Semua