Penyebaran Alkitab SDK ke Boven Digoel & Solidaritas Sulteng

Tiga buah kendaraan double gardan yang siap menemani Tim SDK LAI menyebarkan Alkitab di pedalaman Boven Digoel, Papua.

title

Pikiran dan hati terpecah antara Sulawesi Tengah dan Boven Digoel. Betapa tidak. Pemulihan kondisi pasca gempa Lombok belum pulih seratus persen, tiba-tiba gempa dahsyat dan tsunami secara mengejutkan melanda Palu dan Donggala. Jadwal pelayanan program penyebaran Alkitab Satu Dalam Kasih (SDK) ketiga 2018 (sesudah Sumba Timur dan Halmahera Barat) yang diarahkan ke Kabupaten Boven Digoel Papua harus tetap dijalankan. Belarasa dan solidaritas kepada para korban gempa dan tsunami Sulawesi Tengah juga harus terus digerakkan demi kemanusiaan.

Perjalanan SDK 30 September - 9 Oktober 2018 sudah dimulai. Perjalanan diawali dengan pesawat besar dari Jakarta-Merauke dan transit di Makassar pada tengah malam. Kemudian sesudah menunggu enam jam di Merauke disambung dengan pesawat kecil menuju Tanah Merah Ibu kota Kabupaten Boven Digoel. Dari Jakarta tanggal 30 September malam dan sampai Tanah Merah tanggal 1 Oktober sore. Sekira 18 jam. Malamnya diadakan acara kebaktian pembukaan SDK di GKI Di Tanah Papua Jemaat Sion Tanah Merah dan dilanjutkan dengan pemberian Alkitab secara simbolik kepada perwakilan 8 denominasi Gereja yang menjadi sasaran penyebaran Alkitab. Acara yang juga dihadiri wakil Pemda Boven Digoel sangatlah mengharukan, karena ada seorang penginjil yang bercerita bahwa umat di daerah penginjilannya sudah menunggu puluhan tahun untuk mendapatkan Alkitab. Puji Tuhan kali ini ada dermawan para mitra LAI yang dikirim Tuhan untuk membawa Alkitab.

Hari ini 2/10/2018 pengiriman Alkitab ke pedalaman Boven Digoel tepatnya ke daerah Nenati yang melewati Timbutka dan Waropko akan ditempuh sekira 5 jam dengan mobil double gardan dan berjalan kaki beberapa kilometer. Kembali besoknya melewati Yetetkun dan lanjut ke Tanah Merah lagi. Perjalanan ke Kouh, Bomakia, dan Fofi akan ditempuh dengan kapal kecil menyusuri sungai Digoel dan dilanjutkan dengan sepeda motor plus berjalan kaki. Dalam perjalanan kali ini Tim terdiri atas 6 orang dari Jakarta dan 2 orang dari Perwakilan Jayapura yang membawa 13.600 Alkitab dan 40 paket buku-buku plus media belajar Sekolah Minggu.

Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan kebangsaan, setelah usai pengiriman semua Alkitab, pada hari terakhir Tim SDK merencanakan untuk mampir ke Rumah Tahanan Bung Hatta yang digunakan pada tahun 1940an di Pinggiran Sungai Digoel. Ada perpaduan nuansa religiusitas, kemanusiaan dan kebangsaan dalam perjalanan SDK kali ini. Medan yang tidak mudah, hati yang terpecah dan kenangan akan perjuangan kemerdekaan Indonesia menjadi bagian perjalanan 10 hari ke wilayah paling timur Indonesia. LAI akan terus mewujudkan "Alkitab Untuk Semua" sampai ke pelosok Nusantara agar FirmanNya hadir bagi setiap orang. Salam Alkitab Untuk Semua. []

Sigit Triyono (Sekum LAI)

LAI, ACA, dan FKS 2018

Sigit Triyono, Sekum LAI mewakili Pengurus LAI tengah memberikan sambutannya dalam kegiatan Aku Cinta Alkitab 2018 di BPK Penabur International, Kelapa Gading, Jakarta Utara, 29 September 2018.

title

Sabtu (29/9/2018) adalah hari yang sangat istimewa bagi Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Betapa tidak, ada dua acara besar yang sangat mendukung terwujudnya Alkitab Untuk Semua di Indonesia. Acara pertama adalah Aku Cinta Alkitab (ACA) yang diselenggarakan oleh Kelompok Kerja Pelayanan Anak (KKPA) LAI bekerjasama dengan Yayasan BPK Penabur yang bertempat di BPK Penabur International School, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Kegiatan ACA berisi: (1) Lomba Paduan Suara Anak antar Gereja, (2) Olimpiade Alkitab, dan (3) Pertandingan Futsal For Bible. Total ada sekitar 300 anak usia SD dan SMP di Jakarta dan sekitarnya yang berpartisipasi dalam acara ini.

Diawali kebaktian pembuka dengan kotbah interaktif yang disampaikan oleh Pdt. Obertina Johanis, tampak betapa percaya dirinya anak-anak sekarang. Ketika ditanya mengapa Alkitab perlu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa daerah? Banyak sekali anak yang angkat tangan untuk mengutarakan pendapatnya. Ketika diberi kesempatan bicara, jawabannya sangat cerdas: “Agar mudah dipahami,” “Karena di dalam Alkitab ada perintah Tuhan.” Luar biasa!!

Ketika ditanya siapa yang sudah punya Alkitab? Hampir semua anak angkat tangan. Pertanyaan dilanjutkan, siapa yang mempunyai lebih dari satu Alkitab? Hampir semua anak mengangkat tangan juga. Ketika ditanya siapa yang mau berbagi Alkitab untuk sahabatnya yang belum punya Alkitab? Lagi-lagi hampir semua anak angkat tangan tanda mau berbagi.

Saat saya memberikan sambutan untuk membuka ACA ini, saya menceritakan bahwa Lembaga Alkitab pertama di dunia (Lembaga Alkitab Inggris) yang berdiri 7 Maret 1804, diinspirasi oleh kegigihan gadis kecil berusia 8 tahun bernama Mary Jones. Mary yang tinggal di sebuah desa Peannat di sebelah utara Wales-Inggris, sangat terpukau pada cerita-cerita Alkitab yang dibacakan setiap Minggu di kapel kecil dekat rumahnya. Itu sebabnya ia ingin memiliki Alkitabnya sendiri. Tetapi pada masa itu, harga Alkitab sangatlah mahal, dan ayahnya hanyalah seorang penenun.

Mary menabung selama kurang lebih 7 tahun. Ia menjual kayu bakar, telur ayam, bahkan mencari pekerjaan pada tetangga-tetangganya. Setelah terkumpul cukup uang, Mary berangkat untuk membeli Alkitab. Setelah berjalan sejauh kurang lebih 41 kilometer, Mary yang saat itu berusia 15 tahun mencari rumah Pak Thomas Charles. “Pak, saya mau membeli Alkitab, saya sudah menabung selama 7 tahun, ini uangnya, silahkan hitung,” kata Mary. Setelah mendengar cerita perjuangan Mary yang bekerja keras dan menabung dengan setia untuk dapat membeli sebuah Alkitab, Pak Charles sangat terkesan dan tergerak hatinya. Alkitab yang tinggal satu-satunya, yang sebenarnya sudah ada pemesannya, akhirnya diberikan kepada Mary Jones. Dari kisah inilah Pak Charles Thomas mengajak teman-temannya di London mendirikan Lembaga Alkitab agar dapat menolong Mary-Mary yang lain yang tersebar dimana-mana.

Melalui kegiatan ACA ini diharapkan anak-anak semakin mencintai Alkitabnya dengan selalu membaca, merenungkan dan menerapkan perintah Tuhan dalam hidup sehari-hari. Lebih lanjut melalui kegiatan ini bukan semata-mata mencari kemenangan, tapi terlebih terbangun solidaritas, belarasa untuk membantu orang lain yang belum memiliki Alkitab di pelosok negeri.

Dari Jakarta Utara saya meluncur ke Jakarta Timur, tepatnya Taman Mini Indonesia Indah, dimana sedang berlangsung Festival Kitab Suci (FKS) 2018 yang diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Jakarta. LAI diberi kesempatan untuk membuka dua booth: (1) pameran produk-produk LAI, dan (2) pameran program Sejuta Mitra LAI. Di samping itu, LAI juga diberi waktu untuk tampil dalam Talkshow bersama dengan tiga pembicara lain yang dimoderatori oleh artis Donna Agnesia.

Acara yang sangat meriah yang dihadiri oleh 2.500-an peserta bertujuan untuk meningkatkan kecintaan umat Katolik terhadap Kitab Suci (Alkitab). Seminar, talkshow, pentas seni dan pameran-pameran menjadi forum sosialisasi pentingnya membaca, merenungkan dan menerapkan ajaran Kitab Suci di kehidupan sehari-hari umat Katolik. LAI diberi kesempatan untuk memperkenalkan jatidirinya sebagai lembaga yang diberi mandat oleh seluruh Gereja Protestan dan Katolik di Indonesia. Meskipun waktunya sangat singkat, kesempatan ini cukup efektif untuk menjelaskan bahwa LAI adalah milik bersama Gereja-Gereja interdemoniasi dan interkonfesi di seluruh Indonesia. Mandat yang diberikan kepada LAI dalam penerjemahan, produksi dan penerbitan, penyebaran serta upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat perlu didukung bersama seluruh umat Katolik dan Protestan di Indonesia. Kesehatian melahirkan sinergitas ekumene. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Sejuta Mitra LAI Dalam Festival Kitab Suci 2018

title

September adalah salah satu bulan penting bagi umat Katolik Indonesia, di mana pada bulan ini mereka merayakan salah satu perayaan besar, yakni Bulan Kitab Suci. Pada bulan ini umat Katolik diajak untuk menjadi lebih akrab dengan Kitab Suci melalui berbagai cara, sehingga dengan demikian iman mereka semakin tangguh dan teguh dalam menghadapi kerumitan dan kesulitan. Ungkapan syukur akan kehadiran Kitab Suci dalam kehidupan mereka mampu menggerakkan seluruh umat melalui perwakilan komisi-komisi di Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). Festival Kitab Suci (FKS) 2018 adalah puncak dari seluruh rangkaian perayaan Bulan Kitab Suci 2018.

Perayaan yang diadakan pada Sabtu, 29 September 2018 di Sasono Utomo Taman Mini Indonesia Indah, disambut dengan antusias oleh umat Katolik di Jabodetabek. Sejak pukul 07.00 pagi umat Katolik dari berbagai wilayah-wilayah Keuskupan Agung Jakarta. Terlihat jelas sejak sebelum dimulainya acara, kursi-kursi untuk umat/peserta sudah terisi semua, dan proses registrasi hampir semuanya terpenuhi.

Perayaan semakin meriah karena melibatkan beberapa artis terkenal untuk mengungkapkan kesaksian pujiannya. Adalah Donna Agnesia bertindak sebagai pembawa acara yang memandu mulainya acara pagi itu. Dengan didampingi oleh Rocky Pasadena, mereka menjelaskan garis besar tentang kegiatan FKS KAJ, mulai dari mengumumkan hasil kuis dan berbagai acara lainnya yang diadakan sebelum puncak perayaan tersebut.

Undangan yang hadir juga berkesempatan untuk menyaksikan video sambutan mulai dari Mgr. Ig. Suharyo, Ketua Keuskupan Agung Jakarta dan beberapa Imam-imam yang memimpin umat Katolik di Wilayah Keuskupan Agung Jakarta, yang tersebar di 5 wilayah di Jakarta. Di samping itu, turut hadir bersama mereka adalah komunitas-komunitas katolik yang berkaitan dengan penggiat kitab suci (Alkitab).

Pada kesempatan ini Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diundang dan diberikan kesempatan untuk menjelaskan visi-misi dan program kerjanya, melalui Departemen Komunikasi & Pengembangan Kemitraan dan Departemen Penyebaran & Pemasaran yang juga diberikan kesempatan untuk berpameran dan berpromosi. “Semua harus bersinergi. Di sini berbagai komunitas hadir, beberapa adalah penggiat Kitab Suci. Ini pasti akan berdampak bagi LAI. Untuk itu keberadaan LAI dan komunitas penggiat Alkitab sangat diharapkan di sini.“ ujar Bpk Wandi, Anggota Dewan Komisi di Keuskupan Agung Jakarta. Menurut beliau. ada setidaknya 22 komunitas penggiat Alkitab yang ada dan hadir dalam acara FKS 2018 bersama komunitas Katolik lainnya yang ternaung di bawah payung Keuskupan Agung Jakarta. Menurut Bapak Wandi, umat katolik dapat dikatakan jarang untuk membaca Alkitab. Ini menyebabkan timbulnya komunitas-komunitas penggiat dan pencinta Alkitab.

“Bapak, Ibu mari ikut dan dukung Sejuta Mitra LAI...,” seru Selviana Bangun, Staf DepKom LAI saat memperkenalkan program Sejuta Mitra LAI kepada kepada undangan yang hadir. Sejuta Mitra LAI adalah program donasi yang mengajak berbagai macam orang untuk ikut menjadi Mitra Lembaga Alkitab Indonesia. Program ini juga untuk menggalang dana membantu penyebaran Alkitab ke seluruh pelosok negeri, bagi masyarakat pedalaman yang rindu dan haus akan Firman Tuhan, serta mengalami kesulitan untuk mendapatkan Alkitab. Sangatlah tetap apabila program menghadirkan Firman Tuhan bagi semua orang patut digaungkan bahkan dirayakan oleh umat Katolik seluruh Indonesia, karena ini semua erat kaitannya dengan Kitab Suci.

“Kami melihat bahwa Tuhan itu begitu baik untuk kita semua. Ia sangat mengasihi kita dan menyelamatkan kita semua. Jadi, kita perlu melanjutkan kasih Tuhan ini kepada mereka yang membutuhkannya.” ungkap Paulina, salah seorang yang mendatangi booth Sejuta Mitra LAI dan mendaftarkan diri menjadi Mitra LAI. Paulina menjelaskan dengan semangat mengapa ia turut serta menjadi bagian dari program ini. Ada banyak umat lain dengan pemahaman dan mimpi yang sama seperti Sdr. Paulina. Mereka dengan antusias dan gembira mengikuti program Sejuta Mitra LAI. Dan menjadi bagian di dalamnya. Apa yang menjadi kerinduan mereka sama , yaitu menghadirkan Firman Allah, juga membuat seluruh umat di pedalaman negeri ini dapat membaca dan memahami Alkitab beserta isinya.

Sampai pukul 13.00 siangg, sudah lebih dari 50 orang yang mendaftarkan diri sebagai Mitra. Ada pula yang belum mendaftar, namun membawa flyer program Sejuta Mitra pulang untuk dipelajari lebih lanjut. Namun walau begitu, terlihat kebahagiaan di wajah mereka saat memahami tentang program ini.
Festival Kitab Suci Keuskupan Agung Jakarta pagi itu telah mencapai apa yang mereka impikan bagi seluruh umat katolik, yaitu umat lebih rajin membaca serta menjadi penggiat Firman Tuhan. Tetapi, sesungguhnya lebih dari itu. Dengan tidak saja menjadi penggiat, namun juga ikut andil langsung dalam pengadaan Firman Tuhan itu sendiri, sebenarnya dalam acara perayaan ini umat katolik telah menjadi garam bagi sahabat-sahabat di pedalaman yang kesulitan mendapatkan Alkitab. Menjadi Mitra LAI, mereka semua telah melakukan dan menjadi bagian dari visi dari LAI sendiri, “Firman Allah hadir bagi semua orang dalam Bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti.”

“…Saya umat Kristen Protestan. Tapi saya juga membaca kitab-kitab Deutrokanonika. Saya pun senang memahami isinya. Karena sekarang semua sudah tidak ada perbedaan.” ujar Bp. Sigit Triyono, Sekum LAI yang mewakili Pengurus LAI dalam Mini Talkshow – Komunitas Kitab Suci dan mendapat sambutan antusias dari umat yang hadir. Kehadiran LAI hadir dalam FKS 2018 sebagai bagian dari impian akan sinergisitas yang diharapkan oleh kaum penggiat Alkitab dan kaum awam. LAI bukan saja menjaring penggiat tapi juga mereka yang ingin terkait langsung dengan proses penyebaran Alkitab melalui Program Sejuta Mitra LAI. Semoga sinergitas ini terus berlanjuta dan berkembang dalam pelayanan bersama di waktu mendatang. [hizkia]

Tuhan, Ketika Kami Berhenti Menjadi Egois, Maka Saat Itulah Kami Bisa Dengan Tulus Berbuat Baik Bagi Orang Lain.

title

Jangan diketahui oleh tangan kirimu apa yang telah dilakukan oleh tangan kananmu.

Dalam konteks surat Galatia ini kebaikan yang dimaksudkan oleh Paulus adalah pemberian berupa materi kepada pertama-tama para pengajar yang telah mengajarkan mereka tentang Kristus, kedua kepada saudara seiman mengingat kesusahan yang banyak dialami oleh orang Kristen mula-mula saat itu, lalu melakukan kebaikan juga kepada semua orang tanpa terkecuali. Paulus menganalogikan berbuat baik seperti orang yang menanam. Kebaikan yang terus kita lakukan seolah kita sedang menabur benih, suatu saat kelak benih itu akan bertumbuh dan menghasilkan buah, lalu kita akan menuai hasilnya. Intinya, lakukan kebaikan dengan tidak jemu-jemu, kepada semua orang, dengan tidak mengungkit-ungkit.

Sahabat Alkitab, kita tidak akan pernah mampu untuk melakukan kebaikan kepada orang lain sampai kita berhenti untuk memikirkan kepentingan diri kita sendiri. Kita hanya mampu untuk memberi saat kita mampu untuk melihat kebutuhan dan kepentingan orang lain di atas dan lebih utama daripada kepentingan diri kita sendiri. Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak jemu-jemu berbuat baik kepada orang lain, dan harus didasarkan oleh motivasi yang murni dan tulus, tanpa mengharapkan balasan. Paulus tidak bermaksud dengan mengatakan,"... sekali kelak kita akan menuai hasilnya" bahwa kita harus mengingat atau mengharapkan balasan dari kebaikan yang kita lakukan, melainkan bahwa melakukan kebaikan itu seperti menabur benih di mana suatu hari benih itu akan bertumbuh dan menghasilkan buahnya untuk kita nikmati. Kebaikan akan kembali kepada pemberi tanpa diminta dan diharapkan sekalipun. Sebab Tuhan Mahamelihat, adil, dan penuh kasih.

Selamat Pagi. Marilah kita mulai melakukan kebaikan hari ini dimulai dengan hal yang sederhana; memberi senyum, salam, dan sapa yang ramah dan hangat kepada orang disekitar kita.

Salam Alkitab Untuk Semua

LAI dan Generasi Milenial

 

 

Sigit Triyono (Sekum LAI) tengah memberikan sambutannya kepada 200-an pemuda-pemudi milenial yang hadir dalam Ibadah Hari Doa Alkitab LAI 2018 di GPA Lt.10 Jl Salemba Raya 12 Jakarta
Tadi malam (14/9/2018) saya memberikan sambutan pada acara kebaktian Hari Doa Alkitab (HDA) untuk kaum Milenial di Gedung Pusat Alkitab Jl Salemba 12 Jakarta Pusat. Sehari sebelumnya saya membawakan satu sesi “sharing” di hadapan peserta Kongres GMKI XXXVI di Bogor, dimana pesertanya adalah para mahasiswa Kristen dari seluruh wilayah Indonesia (ada 93 cabang dan 10 calon cabang GMKI se Indonesia).
 Dua forum di atas dihadiri oleh generasi milenial Kristen dari berbagai interdemoniasi dan interkonfesi  Gereja. Generasi yang sangat sibuk dengan gadget di tangan dan sangat fasih ber-sosial media. Secara umum di dunia ini jumlah anak muda seperti mereka sekitar 30% dari seluruh penduduk dunia. Di Indonesia, dalam beberapa tahun ke depan mereka akan menjadi tulang punggung negara sehubungan dengan “bonus demografi” dimana anak-anak milenial mendominasi angkatan kerja.
Mandat yang diberikan Gereja-gereja di Indonesia kepada Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dalam hal (1) penerjemahan, (2) produksi dan penerbitan, (3) penyebaran dan, (4) upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat, diharapkan juga dapat menjangkau mereka.  Generasi  milenial atau generasi “zaman now” memiliki pikiran, perkataan dan perilaku yang sungguh berbeda dengan generasi “jadul” seperti saya. Pendekatan yang dilakukan untuk melibatkan mereka dalam arak-arakan bersama di berbagai program layanan LAI juga harus berbeda.
Dari diskusi dan tanya jawab dengan para peserta di dua forum di atas, ternyata aspirasi dan minat mereka untuk dapat terlibat dalam program-program LAI sangat tinggi.  Mereka sangat mengapresiasi terdahap apa yang sudah dilakukan LAI selama 64 tahun melayani umat di Indonesia. Mereka juga bersedia untuk berperan aktif sesuai dengan kapasitas kemudaan mereka terutama dalam penyebaran Alkitab ke pelosok negeri dan upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup.
Mereka juga menyadari bahwa pekerjaan LAI adalah pekerjaan berjangka sangat panjang mengingat peluang penerjemahan Alkitab ke berbagai bahasa daerah masih sangat banyak, juga dalam hal penyebarannya. Untuk itu mereka melontarkan beberapa ide yang dapat membantu LAI melangkah ke depan.
Dalam acara kebaktian HDA dimana peserta diberi kesempatan menyampaikan berbagai usulan dan komitmen, mereka antara lain melontarkan beberapa ide: (1) akan memilih program yang fokus, misalnya menyebarkan sepuluh ribu Alkitab, (2) menggerakkan donatur melalui media sosial untuk pengadaan Alkitab, (3) mengajak komunitas-komunitas muda untuk terlibat dalam pekerjaan ini, (4) ikut aktif dalam pengiriman Alkitab ke pelosok negeri, (5) siap menjadi nara sumber sesuai dengan kompetensinya untuk pekerjaan yang ada hubungannya dengan LAI.
Dari kongres GMKI XXXVI yang dibuka resmi oleh Presiden Joko Widodo, aspirasi yang muncul dari peserta adalah tentang perjuangan mengaktualisasi nilai-nilai Alkitab dalam kehidupan berbangsa di negeri ini. Anggota dan para senior GMKI tetap berjuang mewujudkan nilai-nilai “tinggi iman, tinggi ilmu dan tinggi pengabdian”, di tengah tantangan keberagaman bangsa Indonesia dan berbagai tantangan kemajuan teknologi. “Ut Omnes Unum Sint” masih tetap menjadi doa bersama tiada henti.
Idiom-idiom di era digital: “Mission possible, why not?”, “F4: Friendship, Fellowship, Food, Fun”  menjadi magnet tersendiri untuk menggandeng generasi milenial. Dengan demikian mereka akan masuk dalam langkah bersama Sejuta Mitra LAI yang terus menghidupi gerakan DWD: Doakan, Wartakan dan Donasikan berkat-berkatNya, untuk mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Salam Alkitab Untuk Semua.
Sigit Triyono (Sekum LAI)

LAI dan Kongres GMKI: “Ut Omnes Unum Sint”


Tanggal lahir Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia(GMKI) sama-sama jatuh pada tanggal 9 Februari. GMKI lebih tua 4 tahun karena lahir 9 Februari 1950, sedangkan LAI lahir 9 Februari 1954. Meski lebih tua 4 tahun, sampai saat ini dunia GMKI tetaplah “dunia mahasiswa”. Sedangkan LAI adalah “dunia Alkitab”

Sebagai sesama organisasi Kristen yang menyandang nama Indonesia, yang dilahirkan di era 1950an dalam konteks negeri yang baru merdeka, nafas nasionalisme memberi warna yang sangat dominan. “GMKI jadilah pelopor dari semua kebaktian yang akan dan mungkin harus dilakukan di Indonesia. GMKI jadilah suatu pusat, sekolah latihan (“leerschool”) bagi orang-orang yang mau bertanggungjawab atas segala sesuatu yang mengenai kepentingan dan kebaikan dari negara dan bangsa Indonesia. GMKI bukanlah merupakan “gesselschaft”, melainkan ia adalah suatu “gemeinschaft”, persekutuan dalam Kristus Tuhannya, dengan demikian ia berakar baik dalam gereja, maupun dalam nusa dan bangsa Indonesia. Sebagai suatu bagian daripada iman dan roh, ia berdiri di tengah-tengah dua proklamasi: proklamasi kemerdekaan nasional dan proklamasi Tuhan Yesus Kristus dengan Injil kehidupan, kematian dan kebangkitanNya.” (Dr. Johanes Leimena, 9 Februari 1950, saat pembentukan GMKI).

Dalam perjalanannya, LAI mampu membangun kompleks percetakan Alkitab sendiri. Hal ini didorong dan dijiwai oleh “semangat nasionalisme” dimana semua Alkitab dalam bahasa Indonesia untuk umat kristiani di Indonesia tidak bolah dicetak di luar negeri. Suatu tindakan yang heroik yang membutuhkan upaya sangat keras dan penuh tantangan.

Kredo GMKI Ut Omnes Unum Sint (UOUS) atau supaya semua menjadi satu sesuai dengan doa Tuhan Yesus yang tertera dalam Yohanes 17:21. Kredo ini memberi arti bahwa : “adalah suatu perintah atau pernyataan yang mutlak tentang semua manusia supaya menjadi satu.” Hal ini ditujukan terutama kepada orang–orang yang telah menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Mereka wajib menjadi satu sama seperti Yesus Kristus dengan Bapa-Nya yang adalah satu. Kata kuncinya adalah “satu“. Ini lebih lanjut dimengerti sebagai persatuan, kesatuan (unity).

Lembaga Alkitab Indonesia turut mewujudkan Kredo GMKI dengan bukti: semua Gereja yang terdaftar di Indonesia dalam beragam denominasi dan konfesi sudah menggunakan Alkitab (Kitab Suci) terbitan LAI. Doa Tuhan Yesus terjawab di Indonesia bukan dalam bentuk organisasi Gereja yang bernaung dalam “satu atap”, tetapi menyatu dalam semangat penggunaan Alkitab (Kitab Suci) satu terjemahan dan satu terbitan, yaitu Alkitab LAI.

Tanggal 12-17 September 2018 GMKI menyelenggarakan Kongres ke-36. Salah satu tanda agar eksistensi organisasi seperti GMKI dapat terjaga adalah dengan melaksanakan kongres sebagai kegiatan wajib sesuai periode yang ditetapkan. Melalui kongres akan dilaporkan seluruh implementasi keputusan kongres sebelumnya melalui semua program kerja yang dijalankan. Ajang ini sebagai arena pertanggungjawaban Pengurus Pusat GMKI. Selanjutnya sesudah pertanggungjawaban dilaksanakan, dilanjutkan dengan perumusan program kerja Pengurus Pusat GMKI periode berikutnya. Tentu juga dilahirkan keputusan tentang sikap GMKI menghadapi isu-isu terkini. Pada bagian akhir sebuah kongres, yang paling “seru” adalah pemilihan Pengurus Pusat periode berikutnya.

GMKI sebagai organisasi kader mahasiswa Kristen ditopang terus oleh para seniornya. Topangan dalam bentuk ide-ide, dorongan, jaringan, kesempatan berdialog, tenaga, sampai aspek finansial. Sinergi antara anggota dan Pengurus GMKI dengan para seniornya mencerminkan juga kebersatuan dalam semangat Ut Omnes Unum Sint. Betapa tidak, para senior GMKI (yang sudah aktif di Gerejanya masing-masing) masih banyak yang terus rajin membantu GMKI sebagai ladang pelayanan bersama.

Lembaga Alkitab Indonesia yang memiliki mandat utama: menerjemahkan, memproduksi, menerbitkan, menyerbarkan dan mengupayakan agar Alkitab menjadi pedoman hidup umat, turut mendukung GMKI sebagai organisasi kader yang berbasis pada Alkitab. Sepanjang usia perjalanan LAI, sudah banyak kader GMKI yang terbukti sukses melayani dan memberikan pengaruh signifikan terhadap keberadaan LAI.

Jaman terus berubah. GMKI dan LAI juga perlu terus berubah. GMKI dan LAI harus mempersiapkan diri menyambut masa depan dengan penuh optimis. Titik simpul yang dapat mempertemukan GMKI dan LAI adalah pada aktivitas dan program yang dapat memfasilitasi umat untuk mengakses Alkitab. Titik simpul lain ada pada program yang berhubungan dengan “bible engagement” – Alkitab dipakai sebagai pedoman hidup sehari-hari umat.

GMKI dapat memanfaatkan peluang-peluang di dalam kelas-kelas “pendidikan Alkitab” yang diselenggrakan LAI. Dengan mengikuti kelas-kelas ini maka kualitas kader GMKI akan lebih kompeten dalam penguasaan isi Alkitab dan menerapkannya dalam hidup sehari-hari. Juga para kader GMKI dapat menjadi relawan dalam mewujudkan Alkitab Untuk Semua dengan mendoakan, mewartakan serta mendonasikan berkat-berkatnya ke LAI. Kualitas kader GMKI seharusnya dapat diukur dari kemampuannya dalam mengimplementasikan nilai-nilai Alkitab.

Selamat berkongres ke-36 Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia. Semoga semuanya berjalan lancar, aman dan damai. Semoga semua keputusan kongres GMKI ke-36 dapat semakin membawa GMKI berjaya dan mampu melahirkan kader-kader bertaraf nasional serta internasional berlandaskan nilai-nilai Alkitab. Salam Alkitab Untuk Semua. Salam Ut Omnes Unun Sent.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Tuhan, Kasih-Mu Mengubah Karakter Yang Buruk dan Menguatkan Yang Baik. Terimakasih, Kami Akan Menggunakannya Demi Kemuliaan Nama-Mu

Galatia 1: 10-15

Sejak kita mengalami kelahiran kembali secara rohani, maka harus ada yang berubah dalam hidup kita, dari yang buruk menjadi baik (benar), yang sudah baik menjadi semakin baik.

Dari pembacaan kita, terlihat bagaimana Paulus mengungkapkan dualisme dalam karakternya sebelum mengikut Yesus. Ia adalah seorang yang sangat agamawi, setiap hukum dan adat istiadat Yahudi ia jalankan dengan begitu teliti dan totalitas, tidak bercacat, melebihi orang-orang Yahudi sebayanya. Namun di saat yang sama ia begitu haus untuk dalam menyiksa dan memperlakukan dengan kejam pengikut Kristus. Semua menjadi berbeda ketika ia “ditarik” oleh Kristus.

Sahabat Alkitab, tidak semua karakter masa lalu Paulus buruk. Kita harus belajar bagaimana totalitas seseorang dalam mengikuti dan menjalankan apa yang dipercayainya. Apa yang baik dalam dirinya disempurnakan oleh Allah untuk pemberitaan Kabar Baik. Kita juga memiliki benih baik dalam diri kita – Allah yang menanamnya. Ketika kita mengalami kelahiran baru, Allah akan semakin mengasah itu dan menjadikannya semakin sempurna untuk memulihkan-Nya. Sementara apa yang buruk dan tidak berkenan, akan dimatikan. Dalam kedua hal itu, Allah berkenan untuk “bekerjasama” dengan kita.

Selamat Pagi. Marilah menyerahkan diri kita untuk dibentuk, dipakai, dan disempurnakan oleh Tuhan.

#lembagaalkitabindonesia #alkitabuntuksemua #dsr #september #2018 #perjanjianbaru #Galatia #Paulus #Timotius #Tuhan #kasih #mengubah #karakter #buruk #menguatkan #baik #kemuliaan #namaMu #inspirasi #medan #jakarta #manado #makassar #jayapura #indonesia

Ekspektasi Tinggi Terhadap LAI

Selasa malam (21 Agutus 2018) saya menjadi pembicara di sebuah forum diskusi yang pesertanya kaum Bapak Kristiani di sebuah permukiman Kota Bekasi. Forum diskusi ini bernama Persekutuan Doa Kaum Bapak (PDKB) yang keberadaannya sama sekali tidak berhubungan dengan partai politik di masa lalu (meski memiliki singkatan yang sama).

Kegiatan PDKB berfokus pada diskusi bulanan dengan topik-topik yang berhubungan dengan iman Kristiani dan dengan semangat oikoumene, karena anggotanya berasal dari latar belakang gereja yang beraneka ragam. Berdasarkan kesepakatan dengan pengurus PDKB, selasa malam itu saya membawakan topik Bible Life Cycle yang tentu berhubungan dengan keberadaan layanan Lembaga Alkitab Indonesia.

Sesuai dengan siklus yang menjadi pedoman kerja lembaga-lembaga Alkitab yang tergabung dalam Perserikatan Lembaga-lembaga Alkitab Dunia (United Bible Societies), ada enam tahapan aktivitas yang tidak terputus: (1) Penerjemahan Alkitab, (2) Penerbitan Alkitab, (3) Penyebaran Alkitab, (4) Upaya menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup umat, (5) Advokasi berbasis Alkitab, dan (6) Pelayanan serta kesaksian Alkitab.

Lembaga Alkitab Indonesia yang sudah berusia 64 tahun di Indonesia menjalankan keenam tahapan aktivitas di atas yang selalu bermitra dengan gereja-gereja interdenominasi dan interkonfesi di Indonesia. Seluruh sinode Gereja Kristen di Indonesia (yang menurut data Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Kristen Departemen Agama RI ada 323 Sinode Gereja), bersama dengan umat Katolik di Indonesia semuanya menggunakan Alkitab terbitan LAI. Umat Katolik di Indonesia menggunakan Alkitab terbitan LAI oleh karena sejak 1968 proses penerjemahan Alkitab di Indonesia dilakukan bersama-sama oleh seluruh ahli penerjemahan Alkitab Gereja Kristen Protestan dan Gereja Katolik.

Dari tanya jawab, diskusi dan ramah tamah yang berlangsung sampai pukul 23.50 WIB tampak pemahaman mayoritas peserta diskusi terhadap LAI masih sangat terbatas. Bahkan ada satu bapak yang setengah bergurau mengungkapkan kalimat demikian: “Saya pikir selama ini LAI itu punya HKBP.” Saya menjawab bahwa LAI adalah milik semua Gereja di Indonesia, karena semua produk LAI ditujukan untuk membantu seluruh Gereja. Setelah berdiskusi soal penerjemahan, Bapak ini juga menyadari bahwa HKBP selama ini memakai terbitan Alkitab terjemahan bahasa Batak Toba yang sudah berusia sangat tua. Ini berarti HKBP membutuhkan revisi terjemahan Alkitab agar bahasanya dapat lebih dipahami oleh generasi muda.

Sejalan perubahan jaman, terjemahan Alkitab memang membutuhkan revisi secara periodik dari waktu ke waktu. Lazimnya setiap 30-50 tahun terjemahan Alkitab diterbitkan, sudah banyak perubahan yang menuntut adanya revisi terjemahan Alkitab. Ada beberapa alasan mengapa terjemahan Alkitab perlu direvisi, sebagai contoh Alkitab TB (Terjemahan Baru) yang terbit tahun 1974 perlu direvisi. karena: (1) Adanya perkembangan dalam bahasa Indonesia. Ada kata-kata yang sudah usang, berubah arti, kata-kata baru. (2) Adanya perkembangan penelitian teks sumber (Ibrani, Aram, Yunani). Ada penemuan-penemuan baru yang memberikan penguatan kepada metode terjemahan Alkitab. (3) Adanya perkembangan ilmu tafsir (exegese), dan (4) Adanya perkembangan ilmu penerjemahan (science of translating).

Setelah diskusi dan dialog intensif peserta diskusi banyak memberikan masukan dan mengungkapkan ekspektasi yang tinggi terhadap LAI. Misalnya tentang pentingnya LAI mengkomunikasikan lebih gencar kepada gereja-gereja agar lebih banyak umat yang paham tentang berbagai program LAI. Juga masukan tentang pentingnya lebih menjabarkan informasi tentang berbagai pembiayaan yang dibutuhkan agar semakin banyak pihak yang terpanggil mendoakan, mewartakan dan mendonasikan berkat-berkatnya.

Karena Bapak-bapak ini memiliki profesi yang bermacam-macam maka masukan-masukannya untuk LAI sangatlah komprehensif. Mereka juga mengungkapkan ekspektasinya terhadap LAI yang cukup tinggi mengingat keseharian mereka terbiasa dengan standar profesionalisme yang tinggi. Sangat bersyukur dalam 64 tahun pelayanan LAI di Indonesia semua prinsip profesionalisme sudah diterapkan dengan prima. Salah satu tandanya adalah LAI sudah memiliki sertifikat ISO 9000 : 2001, ISO 9001 : 2008 dan sedang berproses dengan ISO 9001 : 2015.

Dengan pemahaman yang lengkap terhadap Bible Life Cycle dan keberadaan LAI, para anggota PDKB yang memiliki jaringan sangat luas ini berpotensi untuk menggerakkan jaringannya dalam mendukung mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Ekspektasi tinggi dibayar dengan dukungan yang tinggi terhadap LAI, sangatlah impas.
Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Pergumulan Umat Kristiani di Vietnam dalam Menghadirkan Alkitab Untuk Semua

Peserta “Catholic Affinity Group” dari 11 utusan Lembaga Alkitab Asia Pasifik & UBS bertemu dengan Romo Kardinal Pierre Nguyen Van Nhon, Pimpinan Gereja Katolik di Hanoi

Meskipun paham sosialisme atau komunisme mati dan sudah lama ditinggalkan para penganutnya di dunia, namun Vietnam adalah salah satu negara di dunia yang masih menerapkan paham komunisme dalam sistem politiknya. Pemerintah Vietnam sangat membatasi pertumbuhan umat Kristennya, namun Negara masih memberikan ruang kepada 7 persen penganut Katolik dan 2 persen penganut Protestan untuk beribadah. Pergumulan yang dialami umat Kristen di negeri yang jumlah total penduduknya berjumlah 91,7 juta jiwa ini mirip dengan Indonesia, dalam arti Gereja di Vietnam mendapat tantangan besar justru dari luar gereja, terutama tekanan dari Pemerintah.

Pemerintah Vietnam lewat pengurus Partai Komunisnya terus bergiat merekrut anggota baru, terutama dari para penganut Katolik. Di daerah pedesaan banyak umat Katolik yang bergabung dengan Partai Komunis karena diberi insentif uang untuk datang ke gereja yang dikelola pengurus Partai Komunis. Di gereja ini mereka menyanyikan lagu-lagu pujian, sementara di latar belakang ada spanduk logo partai, lambing komunisme, dan bendera Vietnam. Beribadatan ini dihadiri pula oleh pejabat pemerintah setempat, para pengurus partai komunis dan sejumlah pejabat polisi berseragam. Para pejabat tersebut menyebut komunitas Katolik ini ‘Paroki Katolik Damai’ atau gereja Pemerintah.

Melihat kenyataan ini pemerintah ‘sepertinya ingin menjauhkan umat Katolik dari gereja dan bergabung ke gereja yang dikelola pemerintah’.Jika pemerintahan yang lalu ‘selalu mengawasi pemeluk agama, terutama Katolik dan Protestan’ dan ‘menganggap agama sebagai alat kapitalis’,maka dengan dihidupkannya gereja yang dikelola Negara, pemerintah ingin menunjukkan bahwa pemerintah tidak menerapkan diskriminasi terhadap pemeluk agama tapi terus gencar mempromosikan ideologi komunisme kepada para umat Kristiani, khususnya penganut Katolik. Itulah sebabnya Gereja Katolik di Vietnam terpecah: “Gereja Pemerintah” dan “Gereja Vatikan”. Akan tetapi jumlah umat “Gereja Pemerintah” jauh lebih sedikit dibandingkan “Gereja Vatikan.” Bapa Kardinal Pierre Nguyen Van Nhon di Hanoi mampu mempertahankan independensi dan sikap kritis terhadap pemerintah serta tetap setia kepada Vatikan.

Persoalan lain muncul ketika Pemerintah tidak memberikan izin kepada Kardinal baru di Saigon yang dicalonkan menggantikan Kardinal yang sudah pensiun dan tidak menjabat lagi sebagai pemimpin Gereja Katolik di Saigon. Padahal Gereja Katolik di Vietnam dipimpin oleh dua orang Kardinal yang masing-masing memimpin Gereja Katolik di Saigon dan Gereja Katolik di Hanoi, tetapi hanya Kardinal di Hanoi yang “diizinkan” oleh pemerintah untuk memimpin Gereja Katolik di Hanoi.

Kontrol ketat pemerintah juga membuat keberadaan “Lembaga Alkitab Vietnam” masih berbentuk perusahaan (berbisnis di bidang Alkitab). Karena bentuknya perusahaan komersil, maka pemerintah Vietnam memberikan ijin operasi karena (mungkin) lebih mudah mengontrol keberadaannya. Salah satu akibat dari kontrol ketat ini adalah upaya menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa di Vietnam masih terkatung-katung. Entah kapan akan selesai tidak ada yang tahu, karena masih menghadapi tantangan soal pengakuan dari Gereja dan terutama dari Pemerintah.  Kontrol ketat dari Pemerintah juga kami rasakan selama persidangan di Vietnam, di mana seluruh peserta sidang selalu diingatkan oleh panitia agar sangat berhati-hati dengan dokumen dan identitas yang berhubungan dengan acara rapat ini. Bahkan setiap istirahat makan siang di restoran hotel tempat kami bersidang, “name tag” kami pun perlu dilepas agar tidak terbaca identitas kami masing-masing oleh orang lain.

United Bible Societies (UBS) khususnya perwakilan Lembaga-lembaga Alkitab yang ada di kawasan Asia Pasifik. Pada persidangkan “Catholic Affinity Group” kali ini ada  11 negara Asia Pasifik yang tergabung dalam pertemuan di Hanoi, 17-18 Juli 2018 untuk membahas berbagai tantangan dan peluang yang ada di Asia Pasifik sehubungan dengan optimalisasi pelayanan Lembaga Alkitab untuk umat Katolik. Bahkan masih ada beberapa Lembaga Alkitab di kawasan Asia Pasifik yang belum memiliki pengurus maupun karyawan dari unsur Gereja Katolik. Akibatnya banyak peluang pelayanan Alkitab kepada umat Katolik kurang dapat dimanfaatkan dengan baik.

Sebagai contoh, sejak dua tahun terakhir secara global, Gereja Katolik menekankan perhatian kepada kaum muda.  Hal ini didorong oleh data keberadaan 30% penduduk dunia yang berusia di bawah 18 tahun. Sesungguhnya mereka juga sangat membutuhkan layanan dari Lembaga Alkitab agar lebih cinta dan menyatu dengan Alkitab dalam keseharian hidup. Perhatian kepada kaum muda ini kurang dimanfaatkan oleh Lembaga-lembaga Alkitab sehingga sangat sedikit program-program yang paralel dan seazas dengan semangat di atas.

Produk-produk yang khusus untuk memenuhi kebutuhan kaum muda haruslah segera dikembangkan oleh Lembaga-lembaga Alkitab. Proses kerja yang selalu melibatkan banyak pihak (terutama Gereja Katolik lokal) perlu selalu dioptimalkan. Selanjutnya kegiatan-kegiatan promosi harus memakai cara-cara “zaman now” agar kaum muda Katolik bersemangat dalam upaya menyatu dengan Alkitab.

Setelah dua hari mengikuti persidangan yang sangat padat ini, pekerjaan rumah Lembaga Alkitab Indonesia bertambah lagi. Hal ini menandakan bahwa peluang bertambah banyak demi mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Terpujilah Tuhan. Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Firman Tuhan Untuk Apahapsili

Erna Yulianawati, Kadep Komunikasi & Pengembangan Kemitraan LAI (memegang obor) saat Ibadah Peluncuran KBB bahasa Yali Angguruk di Ahapsili, 27 Mei 2018.

 

Seminggu setelah peluncurkan Alkitab bahasa Yali di Yali Angguruk, Papua, 25 Mei 2018 Tim Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) kembali menuju tanah Papua untuk meluncurkan Buku Kabar Baik Bergambar (KBB) bahasa Yali Angguruk dan menyerahkan Alkitab bahasa Yali di Apahapsili, salah satu distrik di Kabupaten Yalimo, Papua.

Apahapsili terletak di lembah yang diapit oleh empat gunung yang mengelilinginya, yakni Gunung Wenahik Pumbukon, Gunung Esin, Gunung Nambuk Poik, dan Gunung Fubuheyu. Selain gunung, wilayah Apahapsili juga diapit oleh 4 aliran sungai besar yang mengelilinginya, yakni: Sungai Habiye, Sungai Wol, Sungai Payerek, dan Sungai Lek. Apahapsili bagaikan Lembah Taman Eden. Namun jika dilihat dari arti kata Aphapsili, maka arti tempat itu sangat bertolak belakang dengan taman eden. Apahapsili dalam bahasa Yali berasal dari 3 suku kata. “Ap” artinya manusia, “Ahap” artinya kulit, dan “Sili” artinya tempat/halaman/lokasi, jadi Apahapsili artinya tempat menguliti kulit manusia. Sangat menyeramkan memang. Namun nama tempat itu hanyalah simbol dari kehidupan suku Yali di masa lalu yang masih primitif dan kanibal. Saat ini suku Yali sudah hidup dalam terang Kristus.

Untuk masuk Apahapsili dari Sentani kami menggunakan pesawat Cessna 208 Caravan, pesawat kecil berpenumpang 10 orang milik MAF. Dalam pesawat itu selain pilot, kami ber- 9 orang dipimpinan oleh Bp. Nathan Pahabol, selain duduk sebagai anggota DPRD Provinsi Papua, beliau juga sebagai koordinator peluncuran KBB Yali Angguruk dan penyerahan Alkitab Yali Angguruk. Tak terasa kami sudah mengudara selama 45 menit ketika roda pesawat menyentuh landasan di Apahapsili, di Pegunungan Yalimo.

Kami disambut secara antusias oleh masyarakat Apahapsili yang berasal dari Rayon Jemaat Elelim, Jemaat Apahapsili, 17 bakal jemaat Gereja Kristen Injili di Tanah Papua(GKITP). Selain itu kami disambut oleh Pdt. Yahya Walianggen, Ketua Klasis Yalimo Elelim beserta pengurus klasis, Pdt. Piet Usior, Badan Pekerja Am Wilayah Sinode GKI di Tanah Papua, Pdt. Fredrick Tommeten, Koordinator Penerjemah bahasa Yali Angguruk, Ketua Majelis Jemaat GKITP Lachairoi Apahapsili, para guru jemaat, tua-tua adat, dan para penginjil, serta penduduk setempat. Mereka semua menggunakan pakaian adat Humi dan Kem/Salu menyambut kami sambil menari dalam gerak dan nada. Sebagai ucapan selamat datang masyarakat Yali,  penduduk mengalungkan noken di leher kaum ibu dan kalung dari biji rumput hilimbak untuk kaum bapak.

Pagi-pagi benar kami dikejutkan dengan suara yang dinyanyikan secara bersahut-sahutan oleh kaum laki-laki yang dinyanyikan dari belahan bukit dan suara kaum perempuan yang dinyanyikan dari sudut gunung yang lain yang berasal dari kampung sebelah. Semangat gotong royong juga terlihat dimana penduduk desa tetangga sengaja datang untuk membangunkan tuan rumah agar segera cepat-cepat ambil batu dan rumput untuk acara bakar batu.

Sambil penduduk menyiapkan batu, rumput, dan mengolah makanan, kami melaksanakan lokakarya di gedung sekol ah YPK Lachairoi Apahapsili, dimana sebelumnya dimulai ibadah singkat yang dipimpin oleh Bp. Yunus Walilo, seorang Guru Jemaat dan juga menjadi salah satu tim penerjemah bahasa Yali. Sesi pertama diawali dengan penyampaian materi tentang Profil GKITP Klasis Yalimo Elelim dengan tema Sebagai Hasil Pekabaran Injil Selama 54 Tahun. Selanjutnya, Ibu Erna Yulianawati menyampaikan Visi-Misi LAI dan Program Kemitraannya LAI. Kemudian Pdt. F. Tommaten memberikan sesi tentang Asal Usul dan Proses Penerjemahan Alkitab Bahasa Yali. Pada sesi keempat giliran Bp. Nathan Pahabol yang akan menjelaskan Penggunaan Bahasa Yali Angguruk dalam keseharian. Dan pada sesi terakhir dipimpin oleh Pdt. Willem Rumbiak yang akan menjelaskan  Visi Misi GKI di Tanah Papua.

Setelah sepanjang hari berlokakarya, sore itu kamipun diminta untuk mengikuti prosesi Bakar Batu atau Barapen di mana semua makanan yangg terdiri dari babi, sayur-sayuran, ubi-ubian dimasak di dalam kolam yang dibawahnya diletakan batu panas dan kemudian ditutup kembali dengan batu panas yang sudah dibakar berjam-jam.

Hari ketiga di Apahapsili, pagi itu kami masih disambut oleh nyanyian bersahut-sahutan tanda mereka akan menjemput kami dengan tari-tarian dan kegembiraan. Prosesi ibadah peluncuran tepat dimulai pukul 10.00 WIT, yang diawali oleh rombongan para guru jemaat, majelis dan hamba Tuhan dengan pembawa Alkitab yang diangkat seperti “Tabut Perjanjian”. Setibanya di tempat ibadah, tepat di depan gedung Gereja Lachairoi yang lama, “Tabut Perjanjian” diletakkan, dan dilakukan pembakaran obor bambu oleh Pdt. F. Tometten, BP Am Sinode GKI di Tanah Papua, Wakil LAI, dan Ketua Klasis. Ini sebagai simbol terang Kristus terus menyala di Tanah Apahapsili. Ibadah Minggu dimulai dengan puji-pujian bahasa Yali Angguruk dengan pembawa liturgi Ibu Agustina Faluk, Wakil Ketua MJ GKITP Lachairoi dan Pdt. Piet Usior, sebagai Pembawa Firman.

Saat peluncuran Alkitab dan KBB bahasa Yali disampaikan dalam bentuk fragmen oleh Pdt Fredrik Tommeten dan diserahkan bersama oleh wakil LAI kepada Sinode GKI di Tanah Papua. Kemudian oleh Pdt. Daniel Kaigere, S.Si, Sekum GKITP  menyerahkan secara simbolis kepada perwakilan gereja-gereja yang ada di Apahapsili. Diikuti penyerahan oleh LAI, pemerintah, dan klasis. Alkitab dan KBB Yali Angguruk diserahkan kepada orang tua dan anak2 serta para pengasuh. Tuhan luar biasa. Jelas terlihat sukacita dan kegembiraan umat menerima Alkitab dan KBB Yali Angguruk. Dengan gemuruh teriakan dan tarian disambut terang matahari seakan memandang dari langit ikut menyambut Kabar Baik. Antusiasme umat terlihat ketika berhari-hari mereka jalan kaki bahkan sampai 3 hari dari kampung Gilika dan Welare 2 hari perjalanan. Sayangnya umat Tuhan terlalu banyak, sementara Alkitab dan KBB yang ada masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan umat berbahasa Yali. LAI harus terus bergumul agar firman Tuhan terus tersebar sampai wilayah terpencil, semoga banyak jiwa tergerak untuk melihat kerinduan mereka di Apahapsili. Tuhan mampukan kami untuk terus bersaksi dan melayani umat Tuhan untuk Tanah Papua. [ma]