Digital Tanpa Sinyal

Pembagian Alkitab bahasa Yali Angguruk kepada umat

“Bagaimana kesan Bapak sesudah tiba dan menginap di Lembah Yali Angguruk ini?” tanya seorang jurnalis gereja yang mewancarai saya pagi sebelum matahari terbit (kamis, 18 Mei) di saat prosesi “bakar batu” menjelang acara peluncuran Alkitab  dalam Bahasa Yali Angguruk, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua.

“Saya benar-benar merasakan di sinilah terjadi paradoks ekstrem, yaitu ‘digital tanpa sinyal’!” jawab saya. Betapa tidak, para Pejabat Pemerintah, Pejabat Gereja, Wartawan, pilot, para turis, juga saya, dan Pdt Anwar Tjen,. Ph.D (Kepala Departemen Penerjemahan LAI) serta Bung Hendrik (staf Pengembangan Digital) semuanya membawa HP dan peralatan serba digital. Tapi ironisnya di lembah Yali Angguruk yang lokasinya terpencil dikepung oleh banyak gunung terjal, belum ada fasilitas listrik PLN dan apalagi sinyal HP.

Saya hadir di Yali Angguruk mewakili LAI atas undangan panitia peluncuran Alkitab bahasa Yali Angguruk (yang selesai diterjemahkan dalam kurun waktu 27 tahun) sekaligus perayaan lahirnya Klasis Yalimo GKI Di Tanah Papua yang ke 57 tahun. Saya tinggal satu malam di Yali Anggruk seperti menemukan suasana masa kecil saya di awal tahun 70an di perkampungan selatan Pulau Jawa. Listrik tidak ada, televisi dan radio belum musim, koran tidak pernah jumpa, jalan raya masih berlumpur dan sering banjir, sehari-hari pergi dengan telanjang kaki, mandi pun juga jarang karena sulit menemukan air bersih.

Saat ini sudah tahun 2018, tapi suasana di perkampungan Pulau Jawa tahun 70an tersebut masih saya jumpai di sini, dan malah lebih parah karena ada beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak yang masih setengah telanjang. Artinya ada ketertinggalan kemajuan hampir 50 tahun. Saya mendapat ceritera dari berbagai sumber kalau Lembah Yali Angguruk baru dijamah para misionaris pada tahun 1957. Pada tahun 1961 para misionaris bersama masyarakat berhasil membangun lapangan terbang perintis di antara gunung-gunung yang ada. Pada tahun 1963 baru ada satu guru sekolah dasar yang merangkap Guru Injil yang juga didatangkan oleh misionaris. Beliau adalah Onesimur Usior (73 tahun) dari Gereja Kristen Injili Di Tanah Papua yang saat itu baru berusia 18 tahun dan baru menikah satu minggu.

“Karena syarat untuk dapat dikirim menjadi guru harus sudah lulus sekolah guru dan sudah menikah, maka sesudah lulus sekolah guru dan seminggu sebelum saya berangkat ke Yali Angguruk, saya menikah dulu”, jelas Pak Usior. Dengan adanya isteri yang mendampingi maka dia bisa bekerja lebih tenang dan betah di tempat yang masih sangat sunyi serta terpencil itu. Saat itu dia bekerja bersama Bapak Siegfried Zollner seorang misionaris dari Jerman.

“Saat saya datang pada tahun 1963, semua orang di Yali Angguruk tidak ada yang berpakaian”, kata Pak Usior yang sudah pensiun dari Guru sejak 2005 namun hingga saat ini masih aktif sebagai Guru Jemaat di Biak Timur, yang juga hadir di Yali Angguruk untuk menyaksikan peluncuran Alkitab dan Ulang Tahun Klasis Yalimo. Dulu masyarakat di sini masih suka berperang dengan masyarakat lainnya dan saling “memakan” pihak yang kalah. Sesudah mereka mengenal Injil dan dibaptis di tahun 1970 an, maka mereka bisa hidup damai, rukun dan tidak ada lagi peperangan. Namun demikian kemajuan masyarakat disini memang sangat lambat oleh karena lokasi Lembah yang sangat sulit dijangkau kecuali oleh pesawat perintis.

Adalah Bapak Freiderich Tometten, misionaris dari Jerman, Bapak Linus dan Bapak Esau (pengguna bahasa Yali Angguruk) yang menerjemahkan Perjanjian Lama. Juga Bapak Arnold Mohi, Bapak Kornelis Mohi, serta Bapak Tomas Ambolon yang menulis Perjanjian Baru. Pada tahapan akhir pekerjaan penerjemahan Alkitab ini, LAI terlibat dalam mensupervisi semua naskah yang ada untuk diterbitkan dan dicetak pada akhir tahun 2017 serta diluncurkan pada bulan Mei 2018.

Pekerjaan penerjemahan yang memakan waktu 27 tahun menghadirkan sukacita besar bagi masyarakat pengguna bahasa Yali Angguruk di Lembah Yahuli Atas, Tengah dan Bawah dari Lembah Ubahak. Juga dari Lembah Sibi, Pondeng, Hine/Korasarek. Tentu juga masayarat di Apahapsili: Lembah Habiye, Kulet, Pong, Werenggikma dan Lembah Welaek serta Elelim.

Bertemu dan berkomunikasi dengan Tuhan sangat dimudahkan bila menggunakan bahasa Ibu. Selain itu pelestarian bahasa Ibu juga sangat penting bagi identitas sebuah bangsa. Penerjemahan Alkitab ini adalah sebuah karya maha besar yang mencakup keutuhan hidup sebuah suku bangsa Yali Angguruk. Saya sangat bangga dan terharu dapat hadir dan menjadi bagian yang sangat kecil dalam karya kebersamaan ini. Saya terhenti sejenak dan hampir menangis saat memberikan sambutan.

Acara peluncuran Alkitab dan Ulang Tahun klasis yang diawali dengan prosesi “bakar batu” (memasak ubi-ubian, sayur-sayuran dan puluhan daging babi menggunakan batu-batu yang dibakar) berlangsung sangat meriah. Diiringi berbagai atraksi tarian khas masyarakat Yali, berdoa, menyanyi refleksi dan pembagian Alkitab serta sambutan-sambutan. Acara ini dihadiri oleh ribuan umat anggota GKI Di Tanah Papua, Plt Gubernur Papua dan rombongan, Bupati dan Pimpinan DPRD Yahukimo serta rombongan, Pimpinan Sinode GKI Tanah Papua dan rombongan, para Wartawan, para Turis, tentu juga saya, Pak Anwar dan Bung Hendrik dari LAI.

Digital tanpa sinyal adalah pertanda perjuangan masih sangat panjang. Termasuk perjuangan menerjemahkan, menerbitkan, dan menyebarkan Alkitab ke dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia.
Salam Alkitab Untuk Semua.

Sigit Triyono (Sekum LAI)

Aksi Paskah : Diutus Untuk Memberi

GKI Kwitang

Sungguh merupakan satu anugerah kalau pada Minggu pagi ini LAI mendapatkan dukungan sebesar 45 juta rupiah atau 600 eks Alkitab untuk program Satu Dalam Kasih (SDK) 2018, khususnya kepada umat Tuhan yang ada di wilayah Boven Digoel, Sumba, Karo, dan Pak-pak Dairi.

Dukungan ini diberikan oleh jemaat GKI Kwitang melalui aksi Puasa Paskah yang diwakili oleh Pdt. Litos Panne.

Kiranya semakin banyak umat Tuhan, gereja, dan lembaga-lembaga kristiani yang digerakkan oleh Tuhan untuk mendukung pengadaan Alkitab bagi saudara-saudara kita yang ada di pelosok bumi Nusantara.

Salam Alkitab Untuk Semua

Cepat, Jika Tidak Ingin Tertinggal

Pelatihan Pendeta Berkesinambungan GKMI, Semarang, 18-19 April 2018.

Pengejawantahan Nota Kesepakatan Kerjasama Kemitraan antara Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) dengan Sinode Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) tidak membutuhkan waktu lama untuk diimplementasikan. Hanya dalam hitungan jam, LAI bersama Sinode GKMI langsung mewujudkannya dalam bentuk pelatihan bagi para pendetanya.

Lewat pelatihan yang bertajuk “Appreciative Inquiry” dan “ST Rocket Model Strategic Management” para pendeta GKMI langsung mendapatkan manfaatnya. Adalah Dr. (Cand) Sigit Triyono – Sekretaris Umum LAI yang bertindak sebagai narasumber dalam Pelatihan Pendeta Berkesinambungan GKMI yang diikuti 32 Pendeta di Semarang 18-19 April 2018. Forum ini adalah salah satu perwujudan kemitraan LAI – GKMI.

Adapun metode yang digunakan dalam forum pelatihan ini bukan bersifat “top-down” tapi lebih bersifat “adult learning edutainment” yang sangat mengutamakan partisipatif para pesertanya. Hal ini bisa terlihat dari peran serta seluruh peserta, dimana rata-rata peserta merasakan manfaat untuk selalu berpikir positif, “ vision driven”dan lebih strategis dalam mengelola jemaat.

Salam Alkitab Untuk Semua. []

Bersinergi Dengan Kerjasama Kemitraan

Penandatangan MOU antara LAI dengan Sinode GKMI

Sekali dayung, dua , tiga pulau terlampaui, kata pepatah itu tepat untuk menggambarkan aktivitas Sekretaris Umum LAI di Jawa Tengah sepanjang hari pada rabu, 18 April 2018. Di mana di tanggal tersebut pada pukul 13.00  telah ditandatangani Nota Kesepakatan – MOU antara Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) yang wakili oleh Sigit Triyono, selaku  Sekum LAI, dengan Ketua Sinode Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) Pdt. Paulus Sugeng di Kantor Sinode GKMI, Semarang.

Adapun butir kesepakatan kerjasama kemitraan tersebut meliputi bidang-bidang penerjemahan, penerbitan, penyebaran, dan penggalangan dukungan. Dalam kesempatan tersebut LAI memberikan terbitan terbarunya Alkitab Hidup Sejahtera Berkeadilan yang diserahkan langsung oleh Bp. Sigit Triyono dan diterima langsung oleh Pdt. Paulus Sugeng. Buah tanda mata tersebut biarlah menjadi bentuk lain dari  perwujudan dukungan GKMI untuk mendukung gerakan Alkitab Untuk Semua, khususnya dalam menyebarkan Alkitab ke seluruh pelosok nusantara.

Selepas penandatangan tersebut Tim LAI yang terdiri dari Sekum LAI, Saefudin, Kadep Penyebaran & Pemasaran LAI, dan staf promosi melanjutkan perjalanan dari Semarang ke Salatiga untuk melakukan pertemuan dan penandatanganan Nota Kesepakatan Kerjasama Kemitraan dengan pimpinan Sinode Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU) di Kantor Pusat Sinode GKJTU.

Sama seperti penandatangan MOU sebelumnya dengan GKMI,  pada penandatangan tersebut Pengurus LAI diwakili oleh Sigit Triyono, Sekretaris Umum LAI, sedangkan dari Sinode GKJTU langsung diwakili oleh Ketua Sinode GKJTU, Pdt. Heru Purwanta. Penandatangan Nota Kesepakatan tersebut dilakukan sekitar pukul 19.30 WIB.

Sebenarnya kerjasama LAI dengan GKJTU sudah berjalan cukup lama, khususnya di bidang penerjemahan Alkitab. Saat ini LAI dengan gereja-gereja berbahasa Jawa sedang melakukan proyek revisi Kitab Suci bahasa Jawa. Salah satu sinode gereja yang terlibat adalah GKJTU, bahkan Pdt. Daniel Iswanto (GKJTU) bertindak selaku ketua Tim Perevisi Kitab Suci bahasa Jawa. Selain itu kerjasama dalam bidang-bidang lainnya dapat terus diperbaharui, sehingga MOU bukan jadi sekadar macan kertas tetapi menjadi berkat bagi kehidupan bergereja dan berjemaat.

Proses penandatangan kedua MOU antara LAI dengan Sinode gereja tersebut  akan diikuti dengan MOU-MOU berikutnya, baik dengan Sinode Gereja/Keuskupan maupun dengan Yayasan/Lembaga/Pemerintah, karena sejatinya jika ingin Firman Tuhan hadir untuk setiap orang, maka kehadiran LAI harus bisa dirasakan oleh setiap insan. Untuk itu lewat gerakan Alkitab Untuk Semua sebenarnya LAI ingin menyapa dan menjalin kemitraan yang saling bersinergi dengan semua pihak, termasuk Sinode Gereja.

Salam Alkitab Untuk Semua. []

Tuhan Ajar Kami Mengendalikan Diri Agar Tercipta Damai Sejahtera

Rut 3 : 11-14

Kencangkanlah ikat pinggangmu agar tidak liar keinginanmu dan nafsumu.

Boas memiliki kewajiban untuk menebus Rut, tetapi dia bukanlah yang satu-satunya dan bukan juga yang paling berkewajiban untuk itu, sebab masih ada kerabat yang lebih dekat dengan Elimelekh. Karena itu, sekalipun Boas ingin namun dia tetap bijaksana mendahulukan dia yang lebih berkewajiban dalam melaksanakan pernikahan levirat ini. Jika memaksakan keinginannya, ia tidak hanya melanggar hukum levirat, tetapi juga bisa merusak relasi kekerabatan di antara mereka.

Sahabat Alkitab, tidak semua keinginan atau hasrat kita harus dipenuhi. Akal sehat dan kebijaksanaan harus memimpinnya agar tidak liar dan menabrak segala aturan atau merusak segala bentuk relasi sosial. Mintalah kepada Tuhan, hikmat dan penguasaan diri, untuk mengendalikan segala keinginan dan menaklukkannya di bawah kaki Tuhan.

Selamat Pagi. Kendalikanlah! Agar keinginanmu tidak membawamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Ajar Kami Untuk Tidak Membeda-Bedakan Sesama

Rut Naomi Boas Lembaga Alkitab Indonesia BIMK Tidak Membeda-bedakan
Rut 3: 6-10

Tuhan melihat hati manusia melihat apa yang apa yang dapat ditangkap oleh inderanya. Namun kita dapat belajar dari cari Allah memandang.

Kebaikan hati. Inilah yang dimiliki oleh keduanya, yaitu Rut dan Boas. Karena kebaikan hatinya Rut mau saja mengikuti permintaan dari mertuanya untuk “mengikuti” Boas yang sebenarnya lebih pantas untuk menjadi ayahnya. Begitu juga dengan Boas, karena kebaikan hatinya, mengizinkan Rut bekerja diladangnya dan memberikan perhatian khusus. Motivasinya murni, Boas melihat pengorbanan Rut terhadap mertuanya, mulai dari Rut meninggalkan tanah airnya sampai pengorbanan yang lebih besar lagi, untuk menikah dengannya.

Sahabat Alkitab, kelemahan kita memang ada di sini, yaitu cara kita memandang orang lain. Hanya karena perbedaan yang sifatnya lahiriah, kita bisa memandang orang lain dengan sebelah mata. Ini serius, Tuhan tidak suka dengan itu. Tapi kita bisa belajar, sebab kita berasal dari Allah. Rut dan Boas dipertemukan bukan oleh pandangan mata, tetapi oleh kepekaan hati. Ketika kebaikan hati dan kerendahan hati saling bertemu maka terbangunlah sebuah hubungan yang disenangi oleh Tuhan.

Selamat Pagi. Orang baik diperuntukkan bagi orang baik. Jika menginginkannya, jadilah orang baik terlebih dahulu, selanjutnya serahkan kepada Tuhan.

Salam Alkitab Untuk Semua

Tuhan, Aku Bersyukur Atas Kesulitan & Kebaikan Yang Kau Ijinkan

Rut 2: 19-23 BIMK, Lembaga Alkitab Indonesia, Daily Scripture Reading, Bacaan Alkitab Harian,

Tidak selalu hari akan terus panas, tidak juga hujan terus-menerus. Keduanya datang silih berganti, agar terjadi keseimbangan. Oleh karena Tuhan, Rut dan Naomi mengalami titik balik dalam kehidupannya. Ratap dan tangisnya, Tuhan ubahkan menjadi sukacita. Hari berkabung telah lewat, saatnya mereka menangis dalam ucapan syukur. Rupanya Boas adalah salah satu kerabat dekat dari Elimelekh yang mana menurut hukum Yahudi salah satu yang wajib untuk bertanggungjawab atas mereka (2:20 bnd. Im. 25:25Ul. 25:5-10). Bukan kebetulan jika Rut ikut pulang bersama Naomi, bukan juga kebetulan jika Rut bekerja di ladang milik Boas. Apa yang akan terjadi selanjutnya pun bukanlah sebuah kebetulan. Semua ada dalam grand design dari Allah Yang Maha Kuasa. Allah mengizinkan Naomi dan Rut mengalami masa-masa pahit kehidupan, sebelum mereka menikmati buahnya yang manis. Naomi yang tidak mampu untuk moveon dari kepahitannya, terus melihat kesulitan sebagai hukuman Allah, sementara Rut dapat segera menemukan anugerah Allah Israel di dalam segala perkara yang dialaminya.

Sahabat Alkitab, kehidupan yang sedang kita jalani pun demikian. Seperti gelombang yang memiliki puncak dan lembah, tidak selalu kita di atas dan tidak untuk selama-lamanya kita ada di bawah. Tuhan mengizinkan semuanya itu terjadi untuk menguji sekaligus melatih iman kita, supaya ketika kita berada di puncak kehidupan, kita tidak menyangkal Allah, dan ketika berada di dalam lembah kehidupan, kita tidak mencemarkan nama Allah. Kisah Rut memberi kita pelajaran berharga dari sikap pesimis Naomi dan Optimis dari Rut yang tidak hanya mampu melihat ke depan tetapi juga dapat melihat ke atas, yaitu kepada Allah Israel.

Selamat Pagi. Mari untuk terus bersyukur kepada Tuhan, saat susah maupun saat senang. Sebab Dia adalah Allah yang bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi-Nya.

Salam Alkitab Untuk Semua